Nobody Knows—

Author: Rin

Chapter: 4/?

Disclaimer: All casts is belong to themselves.

Rated: T

Pair: WonKyu (Siwon – Kyuhyun), slight KiWook, YeHae.

Genre: Romance, a bit (failed) humor. Lol. ._.

.

Warning: AU, Shonen-ai/BL, OOC, Crack Pair, fluff gagal karena saya biasanya nulis yang nyerempet(?) angst atau minimal hurt/comfort -,-v, dll.

.

For: KyuKi Yanagishita and All WonKyu Shipper.

.

DON'T LIKE DON'T READ

.

.

Kyuhyun membolak-balikkkan badannya, berguling dari sudut ranjang ke sudut lainnya. Sesekali seulas senyum lebar—yang terlihat bodoh kalau saja Kibum melihatnya—terlihat di wajahnya. Wajahnya merona, hanya garis merah tipis yang hampir tidak terlihat, tapi tetap saja. Membayangkan wajah Siwon sedekat itu dengannya, ditambah dengan semua tindakannya tadi, Kyuhyun semakin tidak dapat menyembunyikan rasa senangnya.

Tingkahnya kali ini benar-benar seperti gadis remaja yang baru merasakan cinta pada pandangan pertama… -_-

Duagh.

"Aww…"

Dan bahkan sampai ia jatuh dari tempat tidurnya pun, senyum itu masih juga belum lepas dari wajahnya.

Kyuhyun menumpukan kepalanya di sisi ranjang. Ia menghela nafasnya. Senyum di wajahnya agak memudar. Baiklah, ia akui kalau tindakan Siwon tadi padanya benar-benar membuatnya terkesan, dan sempat membuatnya berpikir kalau orang itu mungkin sedikit menaruh perhatian padanya. Tapi… Siwon baik pada semua orang di sekolah, bahkan pada siswa yang benar-benar tidak ia kenal. Artinya… perlakuan Siwon padanya jelas bukan sesuatu yang istimewa. Ia pasti pernah melakukannya pada orang lain.

Yah, ia hanya berpikir rasional, bukan pesimis. Toh Siwon juga tidak mengenalnya, selain statusnya yang merupakan sepupu Kibum. Ia tidak seperti Kibum, yang walaupun dingin dan reaksinya selalu datar minta ditabok seperti itu, tapi setidaknya dia masih bisa bersosialisasi dengan orang lain. Tidak seperti dirinya yang memang sengaja mengisolasi dirinya dari dunia luar.

Kyuhyun hanya tidak ingin, ketika ia dilambungkan oleh harapan yang tinggi, ia akan jatuh saat itu juga dan mungkin… tidak akan bisa kembali seperti semula. Tapi… sedikit berharap tidak masalah kan?

"Aish… apa yang kupikirkan…?"

.

.

.

"Dia jadi mirip orang gila kalau seperti itu, hyung. Tadi senyum-senyum sendiri sekarang malah mendadak murung. Kau yakin sepupumu itu baik-baik saja?" Donghae menatap Yesung yang berdiri di sebelahnya, sedikit mengintip apa yang tengah dilakukan oleh Kyuhyun di dalam sana.

Harusnya mereka berdua ada kuliah hari ini… harusnya. Tapi apa yang dilakukan oleh Kyuhyun justru membuat mereka lebih penasaran dan akhirnya memilih untuk tidak mengikuti kelas hari ini.

Yesung diam, memilih untuk tidak memberikan tanggapan apapun, karena toh ia juga tidak tahu apa yang tengah terjadi dengan anak itu—walau ia bisa sedikit menebaknya. Hanya sedikit. Yang pasti kelihatannya berhubungan dengan Siwon.

"Sudahlah, ayo pergi. Diam di sini dan ketahuan anak itu kalau kita sedang mengintipnya justru berbahaya. Kajja~"

Namja berkepala agak besar itu langsung menarik tangan kekasihnya dari tempat itu. Bukannya ia takut dengan Kyuhyun, hanya saja ia tidak ingin mencari masalah. Kyuhyun yang marah bukan tipe orang yang ingin ia hadapi. Anak itu bisa melakukan sesuatu yang aneh kalau moodnya sedang buruk.

.

.

.

"Mengerti kan?" Kibum tersenyum—walau mungkin jika Kyuhyun melihatnya dia pasti akan menyebutnya seringai—pada yeoja di hadapannya. Ia sudah menjelaskan apa yang Kibum ingin Yoona lakukan, dan alih-alih menolaknya yeoja itu malah tertarik dan setuju untuk membantunya.

"Cuma itu saja kan. Kalau itu kurasa aku bisa melakukannya…" Yoona membalas senyum Kibum—yang sebenarnya lebih terlihat seperti seringai seorang fujoshi yang seperti mendapat mangsa yang momennya harus ia abadikan. -_-

"Usahakan senatural mungkin. Kyuhyun bukan orang bodoh, sedikit saja ia merasa ada sesuatu yang mencurigakan ia pasti akan bisa menebak apa yang tengah terjadi. Ne?"

"Arraseo~ Kau bisa mengandalkanku untuk itu~"

Detik berikutnya Yoona beranjak dari ruangan itu. Toh tujuan awalnya juga untuk mencari Siwon, tapi justru malah membuatnya menemukan sesuatu yang menarik.

Kibum menatap kepergian yeoja itu. Selanjutnya ia mengambil ponselnya yang ia simpan di saku celana. "Nah, sekarang tinggal Seohyun-ssi…"

.

.

.

Kyuhyun tidak tahu, apa yang membuatnya malah berangkat sekolah hari ini padahal jelas kakinya masih sakit. Memang tidak terlalu sakit jika dibandingkan dengan kemarin, tapi tetap saja cukup untuk membuatnya sesekali meringis dan menghentikan langkahnya hanya untuk sekedar mengistirahatkan kakinya.

Namja itu benar-benar menghentikan langkahnya ketika ia melihat pantulan dirinya di kaca jendela sekolah. Iris gelapnya membulat, ketika ia sadar kalau ada yang dilupakannya hari ini.

Ya Tuhan, aku lupa dengan kacamataku!

Kyuhyun merutuki kecerobohannya. Ia memang agak terburu-buru pagi ini, selain karena ia bangun terlambat, ada hal lainnya yang membuat waktu perginya menjadi terhambat. Dan hal itu malah membuatnya melupakan hal yang biasa ia lakukan. Memakai kacamata, dan membuat penampilannya serapih mungkin.

Sekarang?

Well, kelihatannya ia melupakan kalau hari ini ia pergi ke sekolah dan—tanpa sadar—malah menggunakan contact lensnya. Dan seragamnya… ini bahkan jauh dari kesan nerd yang biasa ia tunjukkan. Ia lupa dengan dasinya dan blazer yang ia kenakan tidak terkancing sama sekali.

Ini jelas bukan dirinya—yang biasa ketika berada di sekolah.

Bagaimana ini?

Kyuhyun panik. Berpenampilan seperti ini memang wajar baginya—tapi itu kalau ia berada di luar lingkungan sekolah jadi orang-orang jelas tidak akan mengenalinya. Tapi di sekolah… ini jelas bukan dirinya.

"Kyu—aahhh…"

Namja berkulit agak pucat itu menoleh—agak ragu. Ia mendesah lega ketika yang didapatinya adalah Kibum.

"Hyung~"

"Kau sedang gila atau apa? Ada apa dengan penampilanmu yang biasa?" Kibum mengernyit heran. Ia memang ingin melihat Kyuhyun datang ke sekolah dengan dandanan yang agak normal, bukannya tampang kutu buku yang tidak ada menariknya sama sekali. Tapi… mendadak seperti ini?

"Hyung, eottokhae? Aku lupa dengan kacamataku."

Ah, begitu ya, kelihatannya anak ini terburu-buru hingga melupakan hal—yang menurut Kyuhyun—penting itu. Tapi… bukannya ini ada bagusnya juga? Setidaknya agar rencananya bisa berjalan lancar. Toh akan aneh juga kalau rencana itu tetap berjalan dengan Kyuhyun yang masih berpenampilan nerd.

Kibum berjalan mendekati Kyuhyun—berusaha agar ia tidak sampai mengeluarkan seringai yang sedari tadi tak tahan ingin ia keluarkan. Ia menepuk bahu Kyuhyun perlahan, memasang wajah pura-pura prihatin—yang sebenarnya bohong itu. "Sudahlah, tidak ada salahnya kau berpenampilan seperti ini. Lagipula kau tidak akan mati hanya karena berpenampilan beda dari biasanya kan~"

Kyuhyun merutuk. Bicara pada Kibum saat ini jelas bukan opsi yang tepat, mengingat entah sudah berapa kali sepupunya ini selalu memintanya untuk mengubah penampilannya menjadi lebih normal.

"Tapi…"

"Lagipula ini bisa jadi hal yang bisa kau manfaatkan untuk mendekati Siwon-hyung kan…"

Kyuhyun diam. Ada benarnya juga, tapi kalau tanpa persiapan seperti ini jelas itu berbahaya. "Tapi, hyungmwo?"

Kibum sudah menghilang. Tanpa jejak. Herannya kenapa ia bisa tidak menyadarinya? Apa jangan-jangan barusan sebenarnya aku bicara dengan hantu?

Kyuhyun menelan salivanya—agak sulit. Ia ragu, inginnya sih ia pulang ke rumah lagi, dan sekalian tidak usah sekolah hari ini. Tapi… tanggung juga…

Ia menarik nafasnya perlahan. Ayolah, ini hanya masalah kecil. Toh tidak akan ada yang menyadarinya. Ia kan bukan orang yang selalu diperhatikan oleh penghuni kelasnya yang lain—kecuali kalau mereka sangat membutuhkan dirinya.

"Huft... semoga tidak ada yang mengenaliku..."

Ia melangkahkan kakinya perlahan, merutuki waktu yang menunjukkan kalau lima menit lagi bel masuk akan berbunyi. Oh my, ia benar-benar ingin mengutuk hari sial ini. Kalau saja ia tidak telat bangun, jelas ia tidak akan mengalami kejadian ini.

Kyuhyun melangkahkan kakinya masuk ke dalam kelas—dengan ragu jelas saja. Tak ada yang menaruh perhatian padanya dan Kyuhyun benar-benar bersyukur akan hal itu. Setidaknya untuk sementara ia aman.

Cklek.

Sonsaengnim masuk. Ah, kelihatannya karena terlalu lama berpikir di luar kelas, Kyuhyun tidak menyadari kalau bel masuk sudah berbunyi. Dan sekarang… ia benar-benar berharap kalau sonsaengnim itu tidak menyadari keberadaannya.

"Kita punya murid baru, ya?"

Oh baiklah, doanya ini tidak terkabul sama sekali. Kyuhyun menggigit bibirnya. Ia benar-benar panik ketika perhatian seluruh kelas tertuju padanya.

Namja berambut coklat itu menelan salivanya. Setidaknya ia harus mengeluarkan suaranya atau ia akan terus menjadi pusat perhatian saat ini. "A-aniyo…"

"Mwo? Cho Kyuhyun?"

Terdengar bisikan halus—walaupun halus tapi tetap saja terdengar sangat jelas di telinganya. Nah kan… kalau seperti ini ia tidak akan lagi pergi ke sekolah dengan penampilan normal, lebih baik berpenampilan nerd dan tidak akan ada seorang pun yang memperhatikannya.

"Aslinya ternyata tampan…"

Kembali sebuah bisikan terdengar. Kali ini Kyuhyun hanya bisa memutar matanya bosan. Ayolah sonsaengnim, cepat mulai pelajarannya…

"Bukannya manis ya?"

What the…!?

.

.

.

Kyuhyun benar-benar merutuki kecerobohan bodohnya hari ini. Ia tidak menyangka kalau sedikit kesalahannya di pagi hari malah membuatnya harus kerepotan seperti ini. Ia benci keramaian, lebih benci lagi kalau pusat keramaian itu adalah dirinya. Orang-orang memang tidak mengerumuninya, hanya saja mereka—teman sekelasnya—membuat kerumunan hanya untuk membicarakannya. Oh, baiklah… itu hanya dilakukan oleh yeoja saja. Memangnya mana ada namja yang bisa tertarik padanya—

—kecuali namja tiang listrik bernama Shim Changmin yang tadi sudah memanggilnya manis.

"Kyuhyun-oppa…"

"Eh?"

Kyuhyun mendongakkan kepalanya. Seorang yeoja, cukup manis walau jelas tidak membuatnya tertarik. Salah satu teman sekelasnya. Kalau tidak salah namanya… Seohyun—err, setidaknya ia pernah mendengar temannya memanggil yeoja ini seperti itu. Baiklah, baiklah, ia akui ia memang tidak terlalu mengenal baik teman-teman sekelasnya ini—bahkan nama pun belum tentu ingat semuanya.

"Ne?"

Yeoja itu tersenyum—atau setidaknya itu yang dilihat oleh Kyuhyun karena nyatanya gadis manis ini malah berusaha menahan diri untuk tidak mengeluarkan senyum fujoshinya. -_-

"Boleh aku minta bantuannya?"

"Aaa… bantuan?"

"Ne~! Kajja, oppa~"

Seohyun langsung menarik tangan Kyuhyun dan membawanya keluar kelas—lebih tepatnya ke arah perpustakaan. Berdasarkan informasi yang didapatnya dari Kibum, Kyuhyun tidak akan tertarik dengan apapun, kecuali hal-hal yang berhubungan dengan pelajaran, perpustakaan, musik dan game. Seohyun tidak tahu soal game, musik pun ia tidak tahu apa yang menjadi kesukaan Kyuhyun, maka dari itu ia menggunakan dua opsi pertama.

Tanpa disadari oleh keduanya—atau mungkin hanya Kyuhyun saja yang tidak menyadarinya, Kibum mengamati dari balik lorong yang memisahkan antara wilayah kelas dua dan kelas satu. Ia menyeringai perlahan, lalu mengambil ponselnya dan mengetik sesuatu.

"Nah, rencana pertama—dimulai~"

.

.

.

Siwon tidak tahu apa yang membuatnya sampai harus mengikuti Im Yoona—yah, kecuali dengan kenyataan kalau gadis itu membutuhkan bantuannya, dan ia yang pada dasarnya adalah orang yang tidak tega pada orang yang meminta bantuannya—terutama pada yeoja—jelas tidak akan hanya diam saja dan pasti akan membantunya.

Itu tujuannya.

Lalu kenapa seperti ini?

Yoona terus saja memeluk sebelah lengannya sejak ia keluar dari kelas dan setuju untuk membantunya. Posisi ini terlihat seperti ini jelas terlihat seperti sepasang kekasih. Siwon agak risih sebenarnya, selain karena mereka kini menjadi pusat perhatian (penghuni sekolah ini sering menganggap kalau mereka adalah pasangan yang serasi) juga karena… bisa saja kan Kyuhyun melihat ini dan jadi salah paham—

mwoya?

Kenapa malah jadi Kyuhyun? Mereka jelas tidak punya hubungan apapun. Ia memang menyukai namja yang membuatnya tertarik hanya dalam waktu beberapa detik saja, tapi Kyuhyun? Namja manis itu memang menunjukkan reaksi yang menarik—baginya—sejak kejadian tabrakan kemarin, tapi… bisa saja kan kalau itu reaksi itu memang biasa saja ia keluarkan…

Yaak, Choi Siwon! Jangan melamun seperti itu! Siwon menggelengkan kepalanya, berusaha menghalau pikirannya sebelum itu berubah ngaco dan malah membuatnya berpikir yang tidak-tidak.

"Wae, oppa?"

Yoona menatap Siwon, sedikit aneh karena sejak tadi namja yang pernah disukainya itu malah diam dan kadang menggeleng tidak jelas. Jangan bilang kalau saking stres dengan ketampanannya, namja ini malah jadi mulai gila? -_-

"Aaa… gwaenchana…?"

"Yaak, oppa. Kan aku yang bertanya, kenapa malah dibalikkan dengan pertanyaan juga?" Yoona menatap Siwon, facepalm. Apa karena orang ini sedang jatuh cinta makanya dia jadi agak linglung seperti ini? Aish… oppa, cepat jadian dengan Kyuhyun-oppa sana. Aku malah jadi khawatir kalau kau menundanya terlalu lama malah membuatmu makin terlihat gila… -_-

Darimana Yoona tahu soal perasaan Siwon? Sudah jelas seorang Kim Kibum lah yang berbaik hati memberitahunya.

.

.

.

Kyuhyun benar-benar bosan. Dari tadi yeoja di dekatnya ini mengeluarkan pertanyaan yang berputar di subyek yang sama. Ia sudah berkali-kali menjelaskannya tapi Seohyun tidak juga mengerti. Well, itu hanya akting sebenarnya, karena Seohyun bukan orang yang sebodoh itu. Peringkatnya di kelas hanya berselisih dua peringkat di bawah Kyuhyun. Jika Kyuhyun peringkat pertama, maka Seohyun ada di peringkat ketiga. Yang kedua itu Changmin, by the way.

Yang sangat disayangkan adalah… Kyuhyun terlalu fokus pada dunianya selama ini hingga ia tidak pernah memperhatikan fakta itu sejak ia bersekolah di tempat ini.

Kyuhyun kembali fokus pada materi yang berusaha ia ajarkan pada Seohyun. Ia bahkan tidak menyadari posisi mereka berdua yang sangat dekat sekarang, bahkan terlihat seperti mereka sepasang kekasih yang saling memeluk dari samping.

Keduanya saat ini berada di perpustakaan. Seohyun semakin menambah intensitas kedekatannya dengan Kyuhyun—ketika sebuah pesan dari Yoona masuk ke ponselnya.

From: Yoona-eonnie

Sebentar lagi kami sampai di perpustakaan.

Oh, yeah… ini jelas sebuah persekongkolan… -_-

Dan jangan lupakan pula Kim Kibum yang berada di sisi lain perpustakaan, memperhatikan Kyuhyun dari sudut tak terlihat tapi dapat dengan jelas memandangi sepupunya itu.

.

.

.

Siwon membuka pintu perpustakaan perlahan. Yoona memintanya untuk membantunya mengerjakan tugas—

yang sebenarnya sudah ia kerjakan beberapa hari sebelumnya. Keduanya melangkahkan kedua kakinya masuk ke dalam perpustakaan.

Namja bertubuh tegap itu menghentikan langkahnya, melihat seorang namja yang duduk tak jauh dari pintu perpustakaan. Ia mengerjapkan kedua matanya. Itu… Kyuhyun kan? Tapi kemana kacamata yang biasa membingkai iris gelapnya yang indah itu? Penampilannya juga agak… lain…

Lalu…

Siwon menatap Kyuhyun yang sedang berdekatan dengan seorang yeoja. Baginya… keduanya malah terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang bermesraan. Apa mungkin yeoja itu kekasihnya? Atau gadis yang disukainya?

Bukankah itu artinya perasaannya ini sia-sia?

Sadar ada orang yang memperhatikannya, Kyuhyun mendongakkan kepalanya. Kedua matanya membulat kaget melihat Siwon yang masih berdiri di dekat pintu dengan… Yoona yang masih memeluk lengannya. Tatapan kagetnya berubah menjadi datar—lebih tepatnya merasa sakit.

Hyung… jadi kau sudah punya yeojachingu ya?

.

To Be Continued—

.

a/n Well, saya tahu saya udah menelantarkan ff ini cukup lama, gara-gara mood saya buat ff ini rada turun. ^^ Tapi thanks buat yang selalu ngingetin di fb untuk lanjutin ff ini. Btw, jangan bash cast yeoja di sini ya~ :) Yoona sama Seohyun cuma punya sifat jail kayak Kibum aja. -.-

Ff ini bakalan berakhir di chapter depan. Tapi saya gak bisa janji kapan saya bakalan publish, jadi… kalau mau cepet update, silahkan teror saya aja via fb atau twitter ya~ ._.v

Thanks buat semuanya, readers, reviewers (mian reviewnya gak bisa kubales .), dan untuk orang-orang yang ngerasa pernah nagih saya fia fb~ xD THANKS ALL~

See You~

.

BEST REGARDS

RiN—

.