DF!

Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto

Cerita ini hanya untuk hiburan semata. Tidak ada keuntungan komersial yang kami dapat dari membuat cerita ini.

Genre : parody/ friendship

Rated : T

Chapter 11.

DIVINER

.

.

.

Lelah.

Ya—bisa dibilang, Sakura dan Ino merasa lelah.

Selain akibat pekerjaan sebagai shinobi, akhir-akhir ini banyak sekali kejadian kurang menyenangkan yang mereka alami, meskipun mereka bisa mengatasinya.

"Orang-orang aneh itu membuatku pusing," gumam Sakura sambil mengambil tempat duduk di sebuah kursi yang kemudian diikuti Ino.

"Yeah … apa kita masih akan berhadapan dengan mereka?"

"Hai!" Belum ada yang sempat menjawab pertanyaan Ino, tiba-tiba dari arah belakang, seseorang menepuk pundak Ino dan Sakura. "Aku tahu, lho!"

"Huh?" jawab Sakura sambil menolehkan kepalanya hingga ia bisa melihat seorang kunoichi dengan rambut cokelat yang dicepol dua. "Tahu apa, Tenten?"

Tenten menyeringai sambil menyandarkan tubuhnya ke bangku panjang yang sedang diduduki Sakura dan Ino. "Turut bahagia atas makin banyaknya fans fanatik, ya! Yang terbaru itu yang berinisial 'H', 'kan?" ujarnya riang.

Sakura tertawa datar. "Ha … ha … ha…. Sialan. Kau tahu dari mana?"

Tenten tersenyum sejenak sebelum ia berjalan memutar hingga kini ia berhadap-hadapan dengan Sakura dan Ino.

"Nggak perlu tahu dari mana-mana, selain sebagai kunoichi andal, aku kan peramal hebat!"

"Yeah, yeah," jawab Ino malas sambil semakin menyandarkan posisi duduknya.

"Nah, kalian mau dengar saranku sebagai pembaca nasib?"

"Yah…."

Belum sempat ada seorang pun yang menjawab, Tenten mengambil kesimpulan bahwa kedua temannya mau mendengarkan masukannya. "Apa pun harus disyukuri. Baik, buruk, ambil hikmahnya. Itulah hidup. Gak enak kalo flat, kayak lampu redup. Hidup nggak, mati nggak. Sekali-kali jadi lampu harus kedip-kedip! Saran dariku selaku miko uhukgadunganuhuk, ambil hikmah yang ada. Paling nggak, kalian akhir-akhir ini banyak ketawa, 'kan?" ceramah Tenten panjang lebar dengan bersemangat.

Ino melotot melihat Tenten yang bisa begitu bijaksana sementara Sakura jadi heboh sendiri.

"TERNYATA SELAIN SEBAGAI KUNOICHI DAN PERAMAL, LO SELAMA INI JUGA BERPROFESI SEBAGAI MIKO?!" teriak Sakura sambil kemudian menunduk hormat ke arah Tenten dengan gerakan lebay. Tenten menjitak pelan kepala Sakura sebelum gadis berambut merah muda itu cekikikan. "Tapi kau benar, sih. Akhir-akhir ini aku jadi banyak tertawa. Pokoknya, kejadian-kejadian yang terjadi belakangan ini sesuatu banget untukku, Bu Miko."

"Iya, iya, iya," ujar Tenten sambil menepuk pelan kepala Sakura. "Well … alasan kenapa aku selama ini nggak bilang-bilang kalau aku seorang miko uhukgadunganuhuk … biasalah, nggak mau nyombongin profesi. Semua tugas mulia harus di-undercover-kan," jawab Tenten lagi dengan bangga hingga hidungnya terlihat kembang-kempis.

Sakura masih mengangguk-angguk geli saat kemudian Tenten menoleh ke arah Ino.

"Ketawa juga bikin kulit muka awet muda lho," ujar Tenten sambil mengangkat jari telunjuknya ke depan hidung Ino.

Kali ini, Ino yang terlihat histeris. "WHOAAA! Selain sebagai kunoichi, peramal, dan miko, ternyata kau juga ahli kecantikaan!" ujarnya dengan semangat yang terkesan lebay. Kali ini, Tenten menjitak pelan kepala Ino hingga gadis itu menjulurkan lidah. "Tapi, yaaa … mungkin kau benar! Karena sering ketawa aku jadi merasa makin awet mudaaa," ujar Ino lagi sambil mengelus-ngelus pipinya sendiri.

"Betul, 'kaaaan?" Sekali lagi hidung Tenten kembang kempis karena bangga. "Kalau stress, aura nggak enak bisa muncul dari mana saja. Dari wajah kalian paling terlihat. Ngomong-ngomong, aku juga seorang ahli aura, lho?" ujar Tenten yang membuat Ino dan Sakura semakin cekikikan.

Tenten melanjutkan, "Stress juga membuat hidup jadi kurang balance, dongkol menumpuk, hati jadi dagdigdug nggak tenang. Dan tenang saja, meski banyak orang buruk datang pada kalian, banyak pula orang baik yang akan datang pada semangat jaya menghadapi segala problematika yang ada! Sekian ceramah dariku. Terima kasih telah mendengarkan saran dari pemilik klinik Ten Fang ini."

Sakura dan Ino bertepuk tangan dengan heboh seolah mereka baru saja melihat pertunjukan yang sangat luar biasa.

"Nah, sebagai bonus, sini kubacakan garis tangan kalian," ujar Tenten sambil langsung menarik tangan Sakura dan Ino. "Hmmm…. Mmmm…." Tenten mengangguk-anggukan kepalanya.

"Kenapa, kenapa?"

"Ini…." Tenten melihat ke arah Sakura. "Fans fanatikmu akan bertambah dan saking stress-nya, kau mencoba tertawa keras-keras. Tapi pada akhirnya jahitan di gusimu malah akan terbuka kembali! Menakutkan, menakutkan!"

"WHA—"

"Dan kau," Tenten berpaling pada Ino, "menghadapi Sakura yang stress, kau akan ikut stress dan saat kau mencoba tertawa, kau malah kelepasan memasukan banyak makanan ke dalam mulutmu. Kemudian berat badanmu akan naik beberapa kg! Hiiii! Seraam!"

"NANI?!"

"Ah, tapi tenang saja, jika kalian membeli jimat ini, segala nasib sial akan pergi dan hilang, kalian bisa tertawa dengan senang dan kemudian—err…. Kenapa wajah kalian seram begitu?"

"Ten~ selain sebagai kunoichi, peramal, miko, ahli kecantikan, dan ahli aura, pemilik klinik Ten Fang, kau juga merangkap sebagai salesgirl, eh?" ujar Sakura dengan perempatan yang mulai muncul di dahinya.

"Apa nanti kau juga akan menawarkan produk-produk kecantikan macam krim anti gendut dan lain-lain…."

Glek!

"Aha … hahaha~ sebenarnya memang begitu," aku Tenten sambil menggaruk-garuk kepala belakangnya. "Tapi karena niatku sudah ketahuan, aku nggak jadi nawarin ke kalian, deh! Hinata mungkin lebih gampang dibujuk! Yo, ah! Aku permisi dulu! Sukses yah dengan fans fanatiknya!" Tenten pun berlari secepat kilat sebelum ia menerima amukan Sakura dan Ino.

"Ternyata semua cuma bohong," ujar Sakura lagi sambil cekikikan.

"Tentu saja! Apa-apaan itu berat badanku dibilang akan naik segala?" Ino mengibaskan poninya.

"Tapi, tunggu dulu!"

"Ng?"

"Turut bahagia atas makin banyaknya fans fanatik, ya! Yang terbaru itu yang berinisial 'H', 'kan?"

"Dari mana dia tahu soal Hikaru?" Sakura mendelik mengerikan pada Ino. "Kita kan tidak pernah cerita pada siapa pun?"

Ino memucat.

Sejenak kemudian, mereka pun berteriak ketakutan setelah mereka bisa mengingat ramalan terakhir Tenten untuk mereka.

"TIDAAAAAAAAAAAAAAAAAKKK!"

Meanwhile….

"Eh? Aku tahu dari mana soal Hikaru? Ah, mudah saja. Ino dan Sakura itu suaranya toa banget, sih? Waktu mereka membicarakan soal Hikaru itu, aku ada di dekat mereka, tapi merekanya saja yang tidak sadar. Hahaha."

Okay, Tenten, ternyata selain sebagai kunoichi, peramal, miko, ahli kecantikan, ahli aura, pemilik klinik Ten Fang serta salesgirl, kau juga berpotensi sebagai stalker rupanya.

Dan yang lebih mengejutkan, ternyata klinik T*ng Fang pun sudah santer terdengar ke seluruh penjuru Konoha!

Hebat, bukan?

***chapter 11. Owari***


Update kilat~! XD

Wkwkwk, nggak tahu yang jadi sumber inspirasi chapter ini bakal masih inget apa nggak. Tapi nasihat-nasihatnya waktu itu dipakai untuk chapter ini dengan sedikit perubahan di sana-sini. *lirik seseorang* XD

Nee, terima kasih buat semua yang udah mau baca chapter-chapter sebelumnya. Moga-moga masih berkenan baca yang chapter ini juga. Jangan lupa review lagi, ya~ XD

Arigatou,

Devil Foxie