Title: Tuan Tampan Dan Nona Pemalu
Author: Firenze Firefly
Rating: T
Characters/Pairings: Sasuke-Hinata
Genre: Romance
Warnings: AU. Agak OOC. Selamat membaca cerita ini sebagaimana saya menulisnya. Cerita ini hanya diperuntukkan untuk hiburan semata.
Summary: "Aku tidak akan membuka baju!". "Aku tidak bisa memeriksamu kalau terhalang kain!"."Me-mesum!". "Duh, aku dokter! Kau pasien yang sulit!". AU
Disclaimer: Sekali lagi, Naruto bukan milik saya.
Fire's Note: Trims buat teman-teman yang sudah membaca cerita saya dan memberikan feedback. Yup, cerita saya ini agak OOC karena kali ini para tokohnya bukan lagi remaja berusia dua belas atau enam belas tahun. Mereka sudah dewasa dan memasuki dunia kerja, jadi ada banyak perubahan yang terjadi. Terima kasih atas pengertiannya (smile). Salah saya memang, yang lupa mencantumkan warning OOC di Chapter 1 kemarin. Selamat membaca!
…
Chapter 2
.
Pantas saja Hinata merasa pernah melihat Sasuke sebelumnya. Belum pernah bertemu sebenarnya, hanya saja gadis yang baru saja berusia dua puluh tiga tahun itu melihat adanya kemiripan dokter itu dengan orang terpenting di perusahaan tempatnya bekerja. Wajar saja, karena ternyata Sasuke adalah adik Presiden Direkturnya, Itachi Uchiha. Dua pria itu sama-sama berambut legam dan bermata sewarna jelaga. Mereka sama-sama magnet bagi kaum hawa. Hanya sedikit perbedaan di antara Uchiha bersaudara itu. Itachi berambut panjang dan dikuncir, garis wajahnya lebih tegas dan ada dua garis di pipinya. Sang adik berambut pendek, seperti pantat ayam, dengan garis wajah yang lebih halus.
Tak pernah sekali pun Hinata menyangka bakal berurusan dengan keluarga Presdirnya selain untuk urusan pekerjaan. Mendadak dia gemetar. Itachi Uchiha termasuk Presdir yang hebat. Di usianya yang masih muda dia sudah mampu membawahi ratusan karyawannya. Kebijakan yang diusungnya menguntungkan karyawannya. Hinata bersyukur bekerja di Uchiha Inc. Bila ada karyawan yang berobat ke rumah sakit, seluruh biayanya ditanggung oleh perusahaan. Karena perusahaannya termasuk kelas wahid, gaji yang diterima pun sangat memuaskan. Memang Hinata sering pulang melebihi jam kerjanya, dan sebagai pekerja dengan jabatan agak tinggi, tidak ada uang lembur. Namun di akhir pekan jika terpaksa dia bekerja, barulah ada uang lembur yang setengah hari saja setara dengan gaji orang kebanyakan selama dua hari. Memikirkan bahwa dia berakrab ria dengan Sasuke membuat Hinata merasa janggal.
"Tumben sendiri," sapa Naruto Uzumaki. Pria itu duduk di depan Hinata. "Tidak keberatan, kan?" Kantin memang ramai saat istirahat tiba.
Hinata segera tersenyum. Siapa sih yang tidak akan ikut-ikutan gembira bila bertemu Naruto? Si Pirang itu selalu terlihat sumringah. Suaranya lantang dan pembawaannya ceria. Bagi Hinata, pria itu ibarat cahaya: terang dan kadang menyilaukan. Matanya seperti langit, rambutnya keemasan dan kulitnya coklat. Tidak semua orang cocok dengan penampilan fisik seperti itu, dan Naruto termasuk sedikit orang yang beruntung. Dia pria yang menyenangkan. Dulunya Hinata menyangka Naruto dan Ino bersaudara. Mereka memiliki ciri fisik yang nyaris sama. Seraya tertawa lebar, keduanya menampik hal itu.
"Tidak," sahut Hinata pelan. "Kau sudah duduk sebelum kupersilahkan."
Naruto terkekeh. "Ino mana?"
"Mungkin istirahat di kantornya," jawab Hinata, menduga keberadaan kawannya.
Naruto manggut-manggut. Dia menyesap kopi yang dibawanya. Pertanyaannya hampir membuat Hinata tersedak cappucinonya. "Kau dekat dengan Sasuke?"
Hinata menunggu cairan coklat yang diminumnya benar-benar sampai di tenggorokan sebelum menyeka sudut mulutnya dengan sapu tangan ungunya. "Be-berita dari mana, tuh?" Dia balik bertanya.
"Jawab dong!" pinta Naruto. Wajahnya tampak tertarik.
Hinata berusaha mencegah warna pink menjalari wajahnya. "Aku tidak tahu kau dapat berita itu dari mana," alis Hinata terangkat. Meski begitu Naruto tahu bahwa Ino-lah yang dimaksud secara halus. "Tidak, aku tidak dekat dengannya." Hinata membuat tanda kutip dengan jari-jarinya. "Memang kau kenal Sasuke Uchiha?"
Naruto tergelak. Beberapa orang di meja lain ikut tersenyum melihat polahnya. "Tidak hanya kenal," jawabnya disela tawanya. "Waktu kecil kami rival. Sering bertengkar dan berkelahi. Yah, begitulah. Kami saling mengenal sejak masih kanak-kanak. Dia anak menyebalkan, tahu tidak? Sok dan cuek, tapi banyak cewek yang suka."
Hinata tersenyum mendengar cerita Naruto. "Jadi, kau, Ino dan Sasuke berteman?"
"Yap, kami sudah berteman sejak masih sekolah," Naruto mengangguk. "Dulunya Ino ngefans banget padanya."
Hinata terbelalak. "Benarkah?"
"Heeh, sama seperti cewek lainnya. Tapi akhirnya dia memilih cowok lain, tak kalah jenius dari Si Menyebalkan Sasuke, tapi malasnya minta ampun," jelas Naruto. Mata indahnya menerawang.
Sasuke tetap mengirimnya pesan. Kadang dia menelpon. Kadang Hinata tak ingin membalas pesannya, tapi mengingat dokter itu adalah adik bosnya, dengan segan Hinata mengurungkan niat. Hinata takut sikap acuhnya bakal berimbas pada pekerjaan. Yah, siapa tahu Sasuke mungkin akan cerita pada kakaknya…
"Hatchi!" Hinata bersin. Matanya segera berair.
"Musimnya memang tidak mengenakkan," ujar Naruto.
"Betul," Hinata mengangguk, membuat kepalanya terasa berat.
"Hati-hati, jangan sampai sakit," kata pria yang lebih tua dari Hinata itu mengingatkan.
"Aku juga tak ingin sakit. Cukup Ino saja minggu lalu," tegas Hinata.
"Tapi jangan khawatir," cetus Naruto mendadak. Rautnya serius.
Hinata heran. Barusan saja Naruto memperingatkannya soal kesehatan, detik berikutnya dia meminta Hinata supaya tenang. "Kenapa?"
"Kalau kau sakit, ada Sasuke yang akan mengobati," tukas Naruto. Ada gurauan dan kelicikan dalam seringainya.
"Ah-ah, ti-tidak!" sanggah Hinata merah padam.
…
Sebagai supervisor di departemen perencanaan produksi, pekerjaan yang ditangani Hinata sangat banyak dan menuntut ketelitian dan pikiran. Jam kerjanya dimulai dari jam setengah delapan pagi sampai jam lima sore, namun seringnya dia baru pulang jam tujuh. Bahkan pernah juga dia baru selesai bekerja setelah lewat tengah malam. Meski begitu toh dia tidak mengeluh. Bagi warga Jepang, bekerja harus sungguh-sungguh dan berdedikasi. Hinata sadar bahwa para manager tiap departemen pulang ke rumah jauh lebih larut daripada karyawan dengan status atau posisi di bawah mereka.
Sering pula, Hinata berangkat ke peraduan dengan segudang pekerjaan berkelebatan di kepalanya. Besok kerjaan mana yang harus diselesaikan? Kalau dipikir-pikir, kerjaan di kantor tidak ada habisnya. Bahkan tidur pun serasa tidak tidur. Mimpi-mimpinya didominasi oleh urusan perusahaan. Jika esoknya ada rapat yang mengharuskan diadakan teleconference, gadis Hyuuga itu akan terjaga sampai larut untuk mempelajari materi.
Pernah sekali dia membuat kesalahan fatal.
Uchiha Inc. memproduksi kabel dan piranti untuk mobil, baik untuk dalam negeri mau pun ekspor. Email dari perusahaan mana pun akan sampai terlebih dahulu pada Hinata, dengan tembusan pada managernya. Dia akan membuat perencanaan, mengirimkannya ke bagian produksi, kemudian ke departemen Quality Control (QC) untuk diuji kualitasnya, dan pada akhirnya kembali lagi padanya. Suatu hari ada pesanan dari Australia, tapi Hinata keliru mengirimkannya ke Amerika. Tentu saja managernya memarahinya habis-habisan.
"Kau ceroboh sekali!" hardik Deidara, managernya. Dari bagian wajahnya yang tidak tertutup rambut pirangnya, Hinata melihat wajahnya merah karena murka.
"Maafkan saya," ujar Hinata takut-takut. Dia sadar kesalahannya memang keterlaluan.
"Seharusnya pesanan itu hanya sampai seminggu, sekarang molor jadi hampir tiga minggu," cerocos Deidara pedas.
Hinata berjengit. "Sa-saya akan lebih berhati-hati," janjinya.
"Perusahaan harus mengeluarkan uang ekstra gara-gara kecerobohanmu, Nona Hyuuga! Bayangkan kalau biaya pengiriman diambil dari gajimu! Kau mau bekerja tanpa digaji?" semprot sang manager.
Hinata terdiam. "Saya resign saja, kalau begitu. Saya tidak mau bekerja ta-tanpa digaji," balasnya memberanikan diri.
Deidara berdecak. "Itu tidak bertanggung jawab namanya!"
Hinata tahu Deidara tidak akan memangkas gajinya. Managernya luar biasa muntab, tapi tentu saja ada batasan antara mengeluarkan muntahan kemarahan dengan keputusan yang diambil untuk menyelesaikan masalah. Jangan mengambil keputusan ketika sedang marah, dan jangan berjanji dalam keadaan bahagia. Prinsip itu benar-benar diterapkan dalam perusahaan itu. Untungnya Hinata tidak sampai harus menghadap Presdir. Walau nyentrik, Deidara manager yang baik. Tak seperti manager pemalas yang jika ada keluhan atau masalah langsung meminta si karyawan untuk langsung menghadap Presdir.
Perpaduan beban kerja yang tak ringan dan cuaca yang tidak bersahabat membuat Hinata ambruk. Sepulang kerja dia ke klinik Haruno. Keluarganya punya dokter pribadi, namun tak ingin menunggu dan karena ingin segera mengobati flunya, Hinata mampir ke klinik yang pasiennya datang dan pergi itu. Klinik itu memiliki pasien yang banyak. Hinata tak terlalu ambil pusing. Dia tak keberatan berobat di mana pun asal cepat sembuh.
Hinata sengaja tidak membawa mobil. Dia tak ingin menyetir dalam kondisi yang kurang baik. Pagi tadi dia berangkat naik taksi, begitu pula ketika ke klinik sekarang. Setelah mengambil nomor antrian, dia menunggu. Ketika gilirannya tiba, Hinata beranjak dan menuju ruang periksa klinik…
Dan mendapati dokter yang selalu mengiriminya pesan tiap hari.
"Hinata?" Sasuke tak kalah terkejut. Di bawah sinar lampu kulitnya yang putih terlihat bagai porselen. Walau malam tiba, dia tetap kelihatan sesegar saat Hinata bertemu dengannya di pagi bersama Ino. Hinata semakin menyadari bahwa Sasuke memang dikaruniai ketampanan yang dahsyat.
"Sa-" Hinata nyaris berkata 'Sasuke'. Namun dia menahan diri. "Malam, Dokter Uchiha."
Sasuke mengerutkan dahi mendengar sapaan gadis yang kerap dikiriminya pesan. Dalam pesan atau telpon, Hinata selalu memanggilnya 'Sasuke'. Dia menghampiri Hinata yang mematung. "Haruskah aku memeriksamu sambil berdiri?"
Hinata tersadar. Dia terlalu kaget sampai terpaku di dekat pintu. Gadis muda itu segera duduk di kursi depan meja Sasuke. Dia hanya berharap semoga wajahnya tidak bersemu merah. Hinata tidak menyimpan perasaan tertentu pada adik bosnya –kecuali sebal karena pesan yang bertubi-tubi. Tapi kikuk karena bertemu dengannya lagi dalam keadaan yang tidak direncanakan membuat Hinata canggung dan malu.
"Apa keluhanmu?" tanya Sasuke. Walau suaranya terdengar resmi, pandangannya lembut.
"Pusing, badan rasanya tidak enak," jawab Hinata langsung.
"Kuukur tekanan darahmu dulu," pungkas Sasuke. Dia membebat lengan Hinata. Pria itu sengaja berlama-lama. Hinata mengernyit ketika lengannya tertekan. "Rendah sekali," ujar Sasuke. "Hanya sembilan puluh."
"Ah, iya. Aku sering begadang akhir-akhir ini," kata Hinata. Tanpa sadar dia memegang perutnya. Sasuke melihatnya.
"Berbaringlah di dipan, aku periksa perutmu," kata Sasuke.
Hinata menegakkan kepala, mulai gugup. "Perut…ku…?" Dia tak beranjak sampai Sasuke berdiri di sampingnya. "Aku tidak apa-apa, kok."
"Kalau baik-baik saja, kau tidak akan sampai di klinik ini," ucap Sasuke dengan nada sabar.
"Berikan saja aku obat," Hinata mulai panik.
"Aku tidak bisa sembarangan memberimu obat," balas Sasuke tegas. "Ayolah, Hinata."
"Maksudmu, aku harus mem-membuka blazerku?"
Sasuke mendengus. "Apa ada cara lain?"
"Ti-tidak mau!" Hinata bangkit.
"Apa?"
"Aku tidak akan membuka baju!"
"Aku tidak bisa memeriksamu kalau terhalang kain!"
"Me-mesum!"
"Duh, aku dokter! Kau pasien yang sulit!"
"Wah wah, ada apa ini?" Seorang wanita cantik berambut pink masuk lewat pintu dalam. Seperti Sasuke, dia juga seorang dokter.
"Hanya seorang pasien yang menolak diperiksa," jawab Sasuke datar.
Hinata malu. Sepertinya dokter yang baru muncul itu maklum keadaan Hinata. "Aku saja yang memeriksamu, bagaimana? Namaku Dokter Sakura Haruno."
"I-iya, kau saja, Dokter Haruno."
Sakura memerintahkan Hinata berbaring di dipan. Sasuke mengucapkan beberapa patah kata padanya, yang dibalas anggukan oleh Sakura. Dia menangkap pandangan panik Hinata. Sekali lihat gadis berambut panjang itu, Sakura tahu Hinata tipe wanita pemalu. "Jangan mencuri lihat, lho, Sasuke," tuturnya, tak tahan untuk tidak menggoda pasien dan dokter lainnya.
Sasuke menggerutu.
Dokter berambut unik itu mengalihkan perhatiannya pada Hinata. Dia mulai menekan perut atas Hinata. "Siapa namamu? Temannya Sasuke?" tanyanya ramah.
"Hinata Hyuuga," Hinata mencoba kooperatif. Lagi-lagi dia berjengit saat perutnya ditekan. "Iya, aku temannya." Kalimat terakhir diucapkan dengan sedikit keraguan.
"Ah, aku pernah dengar namamu," kata Sakura. Tiba-tiba dia tersenyum jahil. "Eh, kulitmu bagus, Nona Hyuuga," ucapnya keras-keras. "Seputih susu, mulus lagi. Bikin iri, deh."
Wajah Hinata lebih menyala dari rambut Sakura. "Dok-dokter!" serunya.
Telinga Sasuke tegak. Sekuat tenaga dia tidak mengerling ke arah dua wanita itu. Dia tahu Hinata berkulit putih, jauh lebih putih dari Sakura mau pun Ino. Sebenarnya mendengar komentar Sakura tentang betapa mulusnya gadis yang lebih muda itu membuatnya sedikit tersiksa. Sasuke ingin melihat dan menyentuhnya sendiri!
"Sakura!" tegurnya.
Sakura tertawa pelan. "Darah rendah dan maag. Jangan makan yang pedas dan masam. Kurangi kopi. Aku akan memberimu vitamin. Biar Dokter Uchiha yang menyiapkannya."
"Terima kasih," cetus Hinata, lega. Dia turun dan memakai sepatunya. Sakura sudah menghilang ke balik pintu dalam. Tak punya pilihan lain, Hinata menuju kursi. Dia merasa kikuk.
"Minum obat ini tiga kali sehari," Sasuke memberi instruksi. "Setelah makan. Jangan sampai telat."
"Baik."
Sasuke mengangguk. Ketika Hinata bangkit, dia juga ikut bergerak. "Aku tak mengira akan bertemu dengamu di sini."
"Kukira kau dokter full time di Konoha Hospital," gumam Hinata.
"Hn! Kadang aku membantu Sakura. Lagi pula, aku di sini saat shift di rumah sakit berakhir." Sasuke mengikuti Hinata sampai depan klinik. Ketika berpapasan dengan Sakura, dia melambai. "Naik apa ke sini?"
"Taksi."
"Kuantar kau pulang, kalau begitu," putus Sasuke.
"Eh?" Hinata terhenyak. "Tidak usah, terima kasih," tolaknya segera.
"Tak apa. Pasiennya tidak banyak. Sakura dan seorang perawat magang mampu menangani mereka."
"Dokter Uchiha, aku bisa pulang sendiri naik taksi atau minta jemput sepupuku," protes Hinata, tak enak dengan tawaran Sasuke.
Sasuke berhenti tepat di depan gadis itu. Wajahnya tenang namun matanya berkilat. Tubuhnya yang menjulang menaungi profil kecil gadis yang menatapnya bingung. "Kau bekerja di Uchiha Inc.?"
Seketika Hinata pias. "Betul," sahutnya gelisah, tidak suka ke mana Sasuke membawa arah pembicaraan ini.
"Itachi pernah cerita tentang seorang supervisor baru. Katanya dia manis dan rajin. Hn, sepertinya kakakku juga cerita tentang Amerika dan negara di benua lain, tapi aku tak ingat detilnya," cerita Sasuke santai. "Lho, kau makin pucat. Aku tak bisa membiarkan karyawan perusahaan Itachi begitu saja. Nah, itu mobilku."
Retoris! Tentu saja Hinata pucat bukan karena tak enak badan. Benar-benar deh, menolak atau menerima tawaran Sasuke untuk mengantarnya pulang sama dengan makan buah simalakama. Sama-sama menyeretnya ke situasi tak nyaman. Rasanya tak berdaya dengan seekor harimau culas membimbingnya. Hinata bersedia bersumpah bahwa kedua Uchiha yang diketahuinya sama-sama cerdas dan licik. Mereka tahu bagaimana meraih yang diinginkan.
"Omong-omong, yang konsisten, Hinata. Panggil aku dengan namaku saja, tidak usah pakai embel-embel gelar atau nama keluarga."
Ugh!
…
TBC
.
Khirishima-sama, yuuaja, Ichaa Hatake Youichi ga login, hinatalovers, nuttchan = ini sudah saya update kilat. Soft-purple = Yap, kalau Sasuke tidak tertarik pada Hinata, dia tak akan minta nomornya. Trims ya atas review panjangnya : ) . Ai HinataLawliet = Heeh, mereka sudah gede di sini, jadi agak gimana gitchu… #lebay. ulva-chan dan papillonz = nah, sekarang tahu kan, kenapa Hinata kaget denger nama lengkap Sasuke. Soal OOC sudah saya jelaskan di author's note di atas.
.
Preview untuk chapter selanjutnya:
"Ini, ada titipan dari Sasuke yang tak sempat diberikannya tadi malam," ujar Itachi kalem. "Sabun?" Hinata takjub. Jadi, Presdirnya yang terhormat memanggilnya hanya untuk memberinya sabun sehat? Berurusan dengan Uchiha diluar kepentingan pekerjaan bisa jadi mimpi buruk!
