Title: Tuan Tampan Dan Nona Pemalu
Author: Firenze Firefly
Rating: T
Characters/Pairings: Sasuke-Hinata
Genre: Romance
Warnings: AU. Agak OOC. Selamat membaca cerita ini sebagaimana saya menulisnya. Cerita ini hanya diperuntukkan untuk hiburan semata.
Summary:
Jadi… Si Presdir, pria dengan tampuk jabatan paling top di perusahaan, memanggilnya hanya untuk memberikan sabun titipan adiknya? Duo Uchiha bersaudara ini membuat Hinata tak habis pikir. AU

Disclaimer: Sekali lagi, Naruto bukan milik saya.

Chapter 3

.

"Kyaa… Gimana dengan Sasuke, sudah sejauh mana?"

Hinata tercengang. Baru saja waktu istirahat tiba, Ino sudah menghambur ke departemennya dan membombardirnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat Hinata takjub. "Sejauh apa, maksudnya?" tanyanya tak mengerti.

Mata Ino berkilat-kilat, pertanda sedang bersemangat. "Duh, pura-pura tidak tahu, lagi! Kau dan Sasuke sudah lebih dari teman, kan? Kemarin dia mengantarmu pulang, kan?" cetus gadis pirang itu tanpa jeda.

Hinata mulai mengerti. "Tidak, Ino, kami tidak lebih dari teman," tandasnya tegas. "Dan bagaimana kau tahu kemarin aku diantar?" Gadis muda itu mulai curiga. Tapi sebagai seorang Hyuuga, Hinata tidak menampakkannya. Kecurigaan dan penasarannya tertutupi oleh wajah kalemnya. "Sasuke bilang padamu?"

Ino terkikik. Beberapa bulan dia mengenal Hinata, sedikit banyak dia tahu karakter gadis itu. Pemalu tapi lugas. "Bukan Sasuke. Sakura yang mengatakannya."

"Dokter Haruno?" Hinata teringat dokter yang memeriksanya kemarin. "Yang berambut pink?"

Ino memutar mata. "Mana lagi!"

"Kau kenal?" tanya Hinata.

"Aku, Sasuke dan Sakura teman seangkatan saat sekolah dulu," jawab Ino, mengangkat bahu. "Sasuke populer, lho," sambungnya, menggoda Hinata.

Kalimat Ino menggugah ingatan Hinata: sama persis dengan komentar Naruto. "Kalau begitu, aku tak tahu apa yang dilihatnya padaku," gumam Hinata pelan. Tanpa sadar dia merapikan blazer ungu mudanya.

Ino mendelik, membuat bola matanya makin terlihat besar. "Hei, tak perlu rendah diri begitu! Kau girly banget, Hinata. Tipe perempuan Jepang tradisional yang anggun," tambahnya tulus.

Hinata tertawa kecil. "Begitu, ya."

Ino terlihat berpikir. "Yah, pendapat tiap orang beda, sih. Mungkin Sasuke tertarik padamu karena kau tampak tidak tertarik padanya. Baginya kau menarik."

"Ino, dia tidak menyatakan tertarik atau apa," potong Hinata cepat, tidak ingin Ino menganalisa bermacam-macam.

"Percayalah! Kalau tidak tertarik, dia tak akan membanting harga dirinya dengan meminta nomormu padaku, agresif melakukan kontak denganmu atau bahkan nekat mengantarmu pulang saat sedang kerja membanting tulang," tukas Ino panjang lebar.

Menurut Hinata, Ino terdengar mendramatisir dan hiperbolis! Kedengarannya Sasuke Uchiha, adik Presdirnya ini, termasuk angkuh dan dingin.

"Pokoknya, kalau ada perkembangan, kasih tahu aku, lho," Ino mengedipkan mata jenaka.

Barulah Hinata sadar. Ino Yamanaka, si supervisor bertampang yahud dan cerdas dari departemen sebelah, adalah biang gossip hebat.

"Miss Hyuuga, kali ini mungkin kita akan pulang telat seperti biasa," kata Deidara memberitahu.

Hinata mendongak dari laptopnya. Dia mengangguk. Order piranti dan kabel yang masuk perusahaan memang luar biasa tinggi akhir-akhir ini. Email Hinata selalu penuh oleh pesanan. "Baik, Mister Deidara," balasnya singkat. Dia sudah maklum. Bagian produksi yang selalu tepat waktu. Sama seperti supervisor lain, jam kerjanya dari pagi sampai sore. Tapi karena makin tinggi jabatan, tugas yang diemban juga semakin berat. Dia tak kaget kalau dia pulang terlambat.

"Nanti ada acara di rumah Presdir," ujar sang manager. "Makan malam. Seluruh manager dan supervisor diundang."

Kali ini Hinata mengalihkan mata dari laptop sepenuhnya. "Kok saya baru tahu," gumam Hinata.

Deidara melambaikan tangan. "Mendadak memang. Mungkin ada yang akan disampaikan oleh Presdir sendiri."

Hinata melirik jam tangan mungilnya. Masih ada beberapa jam sebelum jam 7. Dulu sekali dia selalu gugup berada di ruangan yang sama dengan Itachi Uchiha, terlebih ketika gadis itu yang mengadakan rapat sekaligus teleconference. Sang Presdir adalah pria yang berwibawa. Tatapan mata hitamnya seolah menembus kalbu. Air mukanya selalu tenang. Walau begitu, dia tampak penuh perhatian tiap Hinata atau representative lain menyampaikan materi atau pesanan pelanggan yang meminta piranti baru untuk mobil mereka.

Kali ini Ino dan Hinata menumpang mobil Naruto.

"Aku kelihatan cantik, tidak?" tanya Ino entah untuk yang kesekian kali.

"Sempurna seperti biasanya," jawab Hinata, lelah.

"Bohong, tuh," cetus Naruto ceria.

Ino cemberut. Sekali lagi dia memeriksa cermin kecilnya, memastikan maskaranya menempel sempurna pada bulu mata, warna eye shadow sudah tepat dan akhirnya melirik kaca depan Naruto. Hinata tak mengerti kenapa Ino heboh soal penampilan. Gadis itu yakin, memakai apa pun, tanpa make-up atau tidak, Ino tetap cantik.

"Uchiha bersaudara luar biasa ganteng," Ino mendesah.

Hinata setuju dalam hati. "Kuperhatikan, Presdir dan Sasuke sama-sama berambut dan bermata hitam."

"Keturunan," Ino mengibaskan tangan. "Mereka keren semua."

"Kecuali Sasuke," gerutu Naruto.

"Itu karena kau iri," tunjuk Ino.

"Maaf saja!" elak Naruto cepat.

"Kalian semua kelihatan akrab," kata Hinata menimpali. Dia senang melihat mereka saling melempar celaan dan gurauan.

"Teman lama, sih," Ino nyengir.

Kata 'besar' terasa sangat tidak cocok dengan ungkapan untuk kediaman Uchiha. Mengatakan bahwa rumah yang mereka tuju sangat besar terdengar seperti mencemoh, karena kediaman itu layaknya istana. Megah. Taman indah yang luas, gerbang yang terkesan angkuh. 'Wow!' kira-kira adalah seruan yang pas.

Sudah ada staff lain di ruang yang memang sepertinya khusus untuk menjamu tamu. Buket mawar dan lilin menghiasi tiap meja. Jelas sekali linen terbaik yang dihamparkan di meja dan kursi.

"Tuh, orang tua Presdir," bisik Ino, menunjuk ke meja di ujung.

Hinata menoleh. Ada seorang pria separuh baya sedang bercakap-cakap dengan Itachi. Dia tampak tegas, wajahnya yang masih tampan matang oleh umur dan pengalaman. Di sampingnya duduk dengan anggun seorang wanita cantik berambut hitam legam. Wanita itu perwujudan impian tiap wanita yang menginginkan masih tampak belia dan cantik diusia yang mencapai separuh abad. Nyonya Uchiha itu menatap sayang pada…

Sasuke!

Nyaris saja Hinata batuk karena tersedak ludah sendiri. Karena judul acara itu adalah makan malam bersama Presdir, Hinata berpikir nantinya hanya ada staff Uchiha Inc. Nyatanya keluarga sang bos hadir semua.

Naruto melambai pada Sasuke. Dokter itu mengangguk, kemudian mengalihkan mata pada gadis di sebelah Naruto. Sayangnya saat itu Hinata ngobrol dengan Iruka. Sasuke memutar mata. Sebagai sahabat karibnya, Naruto tahu maksudnya. Ogah-ogahan dia menjawil pundak Hinata dan mengacungkan jari.

Hinata memaksakan senyum ketika mata putih-lavendernya bertemu Sasuke. Pria itu melambai. Yang membuat Hinata kaget, Sasuke menoleh pada ibunya, menunjuk Hinata dan menggumamkan sesuatu. Nyonya Uchiha tersenyum pada putra bungsunya.

Cepat-cepat Hinata mengalihkan mata, tak ingin menebak apa yang diceritakan Sasuke pada sang ibu. Namun perasaannya mengatakan dia sedang diamati. Jika benar yang dikatakan Naruto dan kawan-kawannya bahwa Sasuke adalah a cold bastard, maka gadis itu sangsi dengan tujuan Sasuke yang mengajaknya berkorespondensi melalui pesan. Hinata sadar, seumuran Sasuke bukan saatnya untuk main-main atau iseng. Pria dua puluh enam tahun itu pasti memiliki maksud padanya. Hanya saja Hinata tak yakin, terlebih pria idamannya jelas bukan yang anteng sepertinya. Gadis itu melirik Naruto. Pria pirang itu sudah menarik perhatiannya semenjak dia masuk Uchiha Inc. Ceria dan riang, itulah yang dicari Hinata.

Hinata mencuri pandang ke meja Presdir. Nyonya Uchiha melayangkan senyum tipis. Terhenyak, Hinata hampir memekik. Dia lekas menganggukkan kepala.

"Kelihatannya Nyonya Uchiha menyukaimu," goda Naruto. "Siap-siap masuk ke keluarga Uchiha," imbuhnya, membuat Hinata memerah.

Ino nyaris membuka mulut, ikut menimpali kawannya, ketika Itachi berdiri. Otomatis semua perhatian terarah padanya. Pria berkuncir itu menatap meja dengan puluhan staffnya sebelum membuka mulut.

"Selamat malam. Terima kasih atas kesediaan hadirin di acara ini. Saya sadar undangan untuk makan malam ini datang tiba-tiba, tapi ada beberapa hal yang perlu saya sampaikan," ucapnya. Suaranya dalam dan halus. Ketika dia bicara, tak ada gerakan tak berarti yang dilakukan karyawannya, sekecil apa pun. Itachi mengedarkan pandangannya. "Selama beberapa pekan ini, pekerjaan yang harus dikerjakan datang bertubi-tubi, sedang kita tahu bahwa jam kerja kita lazimnya adalah delapan jam."

Tanpa sadar Hinata mengangguk pelan. Suasana yang tadinya penuh celoteh itu sekarang khidmat. Semua kepala memandang Itachi. Yang perlu dilakukan Presdir itu untuk mendapatkan perhatian adalah mengucapkan beberapa kata dan mengedarkan mata.

"Karena itu, perusahaan memutuskan memberi reward pada hadirin, staff Uchiha Inc. Hari Sabtu pekan depan, kita akan mengadakan wisata ke Central Park."

Seruan pelan segera terdengar. Jelas sekali para staff itu gembira.

Itachi menyunggingkan senyum sejuta Yen-nya. Dia tidak pelit senyum, tapi hanya ada sedikit orang yang beruntung mendapatkannya. "Silahkan ajak anggota keluarga. Karena wisata ini diperuntukkan bagi staff dan keluarga, maka perusahaan memutuskan tidak akan mengadakan perjalanan jauh dan tidak menginap."

Tepuk tangan antusias bergema di ruangan luas itu. Setelah Itachi memberikan ucapan terima kasih dan pemberitahuan mengenai perjalanan bertema keluarga, hidangan makan malam kemudian tersaji.

"Siapa yang kau ajak, Hinata?" tanya Ino bersemangat.

"Uhm…" Hanabi, adiknya, adalah orang yang pertama kali muncul di kepala Hinata. "Mungkin adikku."

"Ajak saja ayahmu," usul Naruto disertai cengiran, membuat Hinata terkesiap. Jelas sekali taman hiburan bukan tempat yang bakal didatangi Mister Hyuuga dengan senang hati. Membayangkan sang ayah memekik kencang-kencang di roller coaster, bertahan di arena rodeo atau bergelantungan di flying fox sungguh sama besar kemungkinannya dengan Presdir memotong rambut panjangnya. Hinata bergidik sendiri.

"Kalau kau, Naruto?" Hinata bertanya sembari berusaha mengusir imajinasinya jauh-jauh.

Naruto tersenyum lebar. Matanya bersinar. Bahkan lampu di atas mereka terpantul di mata jernihnya. "Aku mengajak Gaara," jawabnya bahagia.

Belum sempat Hinata berkata lagi, Iruka bangkit. Yang membuat Hinata menoleh dengan kecepatan yang membuat lehernya berderak mengkhawatirkan adalah penghuni baru kursi pria berambut coklat itu.

"Yo, Teme!" sambut Naruto lantang.

Sasuke menarik sudut-sudut bibirnya. "Dobe." Dia menoleh dan menyapa gadis yang terpana di sebelahnya. "Hinata."

Sesaat Hinata terdiam, tidak menyangka Sasuke bakal menghampiri meja mereka. "Kau…tidak kerja?" tanyanya berbasa-basi. Bukan kalimat itu yang hendak diucapkannya. Seharusnya tadi dia berkata 'Hai' saja. Hinata merutuk dalam hati. Melihat Sasuke bersama keluarganya saja sudah membuat Hinata tak nyaman, terlebih mendapatinya di meja yang sama, entah kenapa Hinata merasa gugup.

Sasuke menggeleng. "Hn. Shiftku berakhir jam dua lalu."

"Jangan bilang kau ke meja kami hanya untuk mendekati Nona Hyuuga ini," pancing Ino. Walau lagaknya tenang, radar penangkap berita untuk digosipkan di kepalanya sudah menyala sedari tadi, sejak menyadari kawan lamanya itu ikut acara makan malam.

Si bungsu Uchiha itu mengirimkan tatapan yang mampu membelah pohon bambu. Hinata yakin dia akan mengkerut ketakutan jika menerimanya, namun sepertinya Ino sudah kebal. Nona Yamanaka ini memiliki nyali baja!

Hinata bersyukur suasana di mejanya tidak canggung. Sasuke tak hanya ngobrol dengannya, melainkan juga dengan dua kawan lamanya.

"Lho, kau tak mengenalkan Hinata pada orang tuamu?" cecar Naruto tanpa ampun.

Hinata hanya berdoa semoga tidak ada yang repot-repot memperhatikannya karena dia yakin, wajahnya seperti kepiting matang.

"Jangan membuatnya takut, Dobe!" bantah Sasuke tenang.

Hinata menghembuskan napas lega. Dia balas menatap Sasuke. Matanya yang unik menyampaikan terima kasih. Duo pirang itu memang kompak mengejarnya dengan gurauan mengenai Sasuke.

Sasuke tersenyum, membuat Ino dan Naruto melotot tak percaya. Sasuke, si Sasuke yang waktu sekolah sehangat freezer itu mampu tersenyum manis? Oh oh, mungkin Global Warming akan segera berakhir.

"Ibuku sudah tahu tentang Hinata, kok," lanjut Sasuke ramah.

Hinata memucat.

Sepanjang koridor menuju kantor Presdir, mulut Hinata terkatup rapat dan hatinya komat-kamit, melantunkan doa supaya tidak terjadi apa-apa. Hari masih pagi namun Itachi sudah memintanya menghadap. Gadis itu menimbang-nimbang, apakah ada kesalahan yang akhir-akhir ini dilakukannya. Dia berani bersumpah sebelum mengirimkan pesanan ke negara yang dituju, dia sudah membaca email pemesanan paling tidak delapan kali, sudah memeriksa piranti dari departemen Quality Control berulang-ulang. Dia tak lagi keliru mengirimkan pesanan ke negara lain. Meski gugup luar biasa dan sudah melakukan flash back tentang memorinya mengenai pekerjaan, Hinata tak juga menemukan kesalahannya.

Langkahnya makin terasa berat. Jelas sekali baginya menghadap Itachi bagaikan momok di tengah malam. Hinata menyilangkan jari, mengharap keberuntungan. Seraya menghirup napas sampai paru-parunya sesak, dia mengetuk pintu.

"Masuk!"

Itachi mengangkat mata dari laptopnya. Menyimak raut mukanya yang kalem membuat Hinata merasa sedikit lega. Tampang bosnya itu bukan tampang bos yang marah atau akan memarahi karyawannya. Tapi, Hinata mengingat-ingat, Sasuke kemarin juga berwajah tenang namun mampu membuat Hinata pucat, merona dan malu silih berganti. Semoga, doanya, rupa Presdir tidak menipu seperti rupa adiknya.

Hinata duduk, takut-takut. "Mister Uchiha," sapanya.

Itachi mengangguk. "Miss Hyuuga…"

Aduh, jangan ada teguran. Jangan ada.

"Ada yang musti kusampaikan."

Tanpa sadar tangan Hinata terkepal erat-erat.

"Tidak perlu gugup," Itachi melanjutkan. Suaranya terdengar santai namun tetap berwibawa. "Aku memanggilmu bukan karena ada kesalahan. Omong-omong, kau sudah tahu bedanya Amerika dan Australia?"

Wah wah.

Itachi meraih tas karton di samping kakinya dan meletakkannya di meja. "Ini untukmu."

Terkejut, Hinata mengambilnya. Dia penasaran, kira-kira apa yang diberikan sang Presdir. "Sabun?" serunya takjub. Di tas itu ada berbagai sabun. Ada sabun mandi, sabun tangan dan sabun kesehatan. Walau merknya berbeda, perusahaannya sama. "Anda memberi saya sabun?"

Kali ini Itachi menatapnya dengan mata penuh tawa. "Bukan, itu dari Sasuke. Dia lupa memberinya padamu tadi malam."

Jadi… Si Presdir, pria dengan tampuk jabatan paling top di perusahaan, memanggilnya hanya untuk memberikan sabun titipan adiknya? Duo Uchiha bersaudara ini membuat Hinata tak habis pikir.

"Terima kasih," Hinata hampir terbata. Hanya saja, yang membuatnya terkesiap luar biasa adalah mendapati Itachi melayangkan senyumnya. Bukan senyum seorang Presdir pada salah satu supervisornya, melainkan senyum seseorang yang menyambut keluarganya.

"Kenapa kau memberiku sabun?" tanya Hinata langsung ketika Sasuke menelponnya saat jam istirahat.

"Aku ingin kulit putihmu yang seperti susu itu terawat dengan baik," jawab Sasuke ringan.

Hinata tidak berani memandang kaca di depan kursinya. Tidak mau melihat wajahnya yang pasti sudah lebih menyala dari Dokter Haruno. "Kau!" Yang membuat Hinata malu, Ino tahu kiriman dari Sasuke dan meledeknya habis-habisan. "Jangan bicara seperti ku-kulitku tidak terawat!" cecarnya kemudian, malu soal komentar tentang kulitnya.

"Hn!"

Hinata yakin ada tawa dalam suara Sasuke.

"Aku malu pada Presdir," sambung Hinata, ingat dengan rupa Presdirnya yang hendak tertawa, senyum atau dua-duanya tadi.

"Itachi mempermalukanmu?"

"Kau tahu sendiri kenapa!"

"Itachi tidak masalah, tuh."

Hinata mengeluh.

TBC

Fire's Note: Feedback yang saya terima di cerita ini luar biasa. Saya gembira sekali menerima email berisi notif story alert, favorite dan review. Terima kasih (bow down) karena teman-teman sudah membaca cerita saya. Eniwei, untuk ulva-chan dan teman-teman, saya tidak marah atau tersinggung karena ada kritik mampir ke cerita saya, entah tentang plot, OOC, dsb. Karena komentar, concrit yang sportif dari teman-temanlah yang membuat author seperti saya berkembang. Oke, cukup soal itu.

Cerita ini sudah saya garap dari kemarin-kemarin, tapi karena saya sakit mata dan jalan-jalan ke Malang Tempo Dulu, akhirnya cerita ini tertunda. Selamat membaca, Kawan.

Preview chapter depan: "Hinata tidur terus, sih, dari Konoha sampai Suna," ujar Iruka yang tadinya duduk di sebelah Hinata di bis. "Aku juga mau, lho, lihat wajah Hinata yang sedang tidur," imbuh Sasuke dengan seringai. Nyatanya di perjalanan pulang Sasuke-lah yang terus tidur.