Title: Tuan Tampan Dan Nona Pemalu
Author: Firenze Firefly
Rating: T
Characters/Pairings: Sasuke-Hinata
Genre: Romance / Friendship
Warnings: AU. Agak OOC. Selamat membaca cerita ini sebagaimana saya menulisnya. Cerita ini hanya diperuntukkan untuk hiburan semata.
Summary: Hidup ini tidak melulu soal romance. Ada yang tak kalah penting, yaitu friendship. Itulah yang dikatakan Naruto sebelum menitipkan Gaara pada Sasuke dan Hinata
. AU

Disclaimer: Sekali lagi, Naruto bukan milik saya. Judul-judul seri yang saya sebutkan di chapter ini juga bukan milik saya. Kalau saya yang punya, gak bakalan deh saya nulis fanfiksi.

Chapter 5

.

"Kelihatannya kau capek," tegur Naruto di kantin.

Hinata mengangguk lemah. "Aku baru datang dari propinsi sebelah kemarin," balasnya.

Naruto maklum. "Berapa hari?"

"Dua hari," jawab Hinata singkat.

Tak jarang dia ikut ke kota lain untuk kirim barang. Dunia kerja memang berbeda dengan saat Hinata masih sekolah. Tanggung jawab yang dipikul bertambah berat. Gadis itu sampai susut berat badannya. Namun begitu, Hinata menjalaninya tanpa keluh kesah. Meski pernah dimarahi habis-habisan karena salah kirim barang ke negara lain dan berteman dengan biang gosip level wahid, Hinata bangga bisa jadi bagian Uchiha Inc.

"Aku yakin kau karyawan yang hebat," tukas Naruto, membesarkan hati kawannya itu.

Hinata tersenyum samar. "Yap, supervisor yang dalam masa percobaan setahun ini harus jadi karyawan hebat," sambungnya.

Naruto nyengir. Dia menyendok sup merahnya. Belum sampai makanannya habis, Naruto menguap. "Ehehe," tawanya kecut melihat Hinata menatap heran padanya.

"Siang bolong begini kau sudah mengantuk," ujar Hinata takjub.

"Aku menjaga Gaara," cerita ayah muda itu. "Dia susah tidur, apalagi kalau demam. Hampir semalaman aku terjaga," sambungnya, lagi-lagi sambil menguap.

"Oh." Hinata teringat dengan anak adopsi Naruto. Berbeda dengan laki-laki pirang yang ceria itu, Gaara berkulit pucat dan kelihatan pendiam. Sekilas bocah kecil berambut merah itu memberi kesan bahwa dia bukan anak kecil yang ramah dan terbuka.

"Kau menitipkannya di tempat penitipan anak?" tanya Hinata, penasaran. Menurutnya menakjubkan sekali bahwa pria periang ini adalah seorang ayah.

"Iya," jawab Naruto. Mendadak wajahnya agak kelam. Mata biru lautnya gelap. "Akhir-akhir ini dia sedikit manja. Yah, maklum, sih, namanya juga anak kecil."

"Ibumu pasti dengan senang hati bersedia menjaga Gaara untukmu," cetus Hinata.

"Wah, memang orang tuaku sayang sekali padanya. Sayangnya, mereka tinggal di kota lain, jadi malah merepotkan kalau membawa Gaara keluar kota," terang Naruto. "Omong-omong, kau dapat salam dari Sasuke."

Hinata berusaha mendelik, tapi susah jika yang dipelototi setengah hati adalah pemuda menyilaukan yang tak pernah gentar seperti Naruto.

Ketika pulang dari Suna Central Park, Sasuke menggantikan Iruka duduk di samping Hinata. Sepanjang perjalanan itu dia dan gadis Hyuuga itu tidak ngobrol banyak karena dokter muda itu malah tidur pulas. Bisa dimengerti, karena setelah shiftnya berakhir di rumah sakit, Sasuke ikut rombongan Uchiha Inc. rekreasi.

"Aku malu pada Presdir," gumam Hinata pelan, yakin bahwa Naruto tidak akan mendengar kalimatnya.

"Malu kenapa?" tanya Naruto heran. Sesaat kemudian seuntai senyum selebar lapangan bola memakan wajahnya. "Malu-malu, ya?"

"Bukan!" Hinata gemas. "Ya malu. Habis, Sasuke sering titip sesuatu ke Presdir. Rasanya seperti tidak sopan menghadap dia hanya untuk menerima pemberian adiknya. Menurutku, Presdir seperti pak pos saja."

Naruto terkikik. Matanya menyipit. "Sasuke Bastard itu memang tidak bisa ditebak. Yah, selamat deh."

"Selamat untuk apa?" tanya Hinata jengah.

"Selamat mendapatkan Sasuke."

"Bukannya dia yang malah mendapatkanku," sergah Hinata, yang kemudian disesalinya.

"Oh, artinya kau sudah menerimanya?" Naruto takjub.

"Na-naruto!" Hinata berusaha terdengar geram.

"Si Teme itu lebih beruntung dariku, rupanya," lanjut Naruto. Dia mengusap mata letihnya.

"Kenapa?"

Hinata terus penasaran ketika Naruto terkekeh. Herannya laki-laki pirang itu malah tertawa malu-malu.

"Saat belasan tahun, kalau ada yang mendekat," Naruto menggerakkan kepalanya dengan pongah, "Huh, siapa sih kamu? Ketika berusia dua puluhan, jadi, 'Ah, siapa dia?' Dan ketika sudah tiga puluhan, Hinata," Naruto merentangkan tangan seolah menyambut seseorang. "Siapa saja mau, deh."

Hinata terbahak. Naruto memang humoris. Ada saja polah dan ucapannya yang membuat orang terhibur dan tertawa. "Kau belum tiga puluh," katanya mengingatkan, sekaligus geli.

Naruto mengangkat bahu. "Dulu saat masih remaja, aku bersemangat sekali kalau lagi naksir cewek," akunya. "Tapi begitu kerja dan punya anak, pikiran itu terasa jauh. Aku minta ibuku saja mencarikanku pacar. Pilihan seorang ibu kan pasti yang terbaik."

Hinata melongo.

Yang diinginkan Hinata hari Sabtu itu hanyalah tinggal di rumah. Minggu itu pekerjaan di kantor menumpuk. Dia capek. Rencananya adalah tidak keluar rumah dulu. Apalagi Hanabi juga tidak ada cram school hari itu. Hm, gadis itu berpikir untuk mengaduk perpustakaan pribadinya, mencari bacaan ringan supaya tidak stress. Atau mungkin mencari film di rak CD dan menonton film bertema keluarga. Sambil tersenyum, Hinata bergumam dalam hati, bahwa rencananya sangat sempurna.

Dia baru mau keluar kamar ketika ponselnya berdering. Ternyata Naruto. "Ada apa?" tanya Hinata.

"Ehem…" Naruto berdehem, sepertinya berusaha menyampaikan sesuatu yang penting namun agak tak enak mengatakannya. "Tahukah kau, hidup ini tidak melulu seputar romance? Ada hal lain yang tak kalah penting, yaitu friendship."

Hinata memutar otak. Naruto, si HRD ini, dulunya kuliah mengambil jurusan Psikologi. Sama seperti umumnya HRD lain. Pria itu bisa memahami karakter seseorang ketika pertama kali bertemu: dari raut wajah, tatapan mata, cara berjalan, dan hal-hal yang hanya mampu dicermati orang yang mengerti lika-liku kepribadian. Naruto cerdas. Dia pintar menyelami hati orang. Jadi, Hinata menggigit bibir, kali ini Naruto tidak hanya iseng ketika menyatakan bahwa hal-hal menarik tidak hanya melulu soal asmara, tapi juga persahabatan.

"Aku tahu," balas Hinata kalem. "Kau temanku, jadi kau juga penting, Naruto." Hinata bisa membayangkan senyuman lebar Naruto.

"Kalau begitu, aku boleh minta tolong?" akhirnya Naruto sampai pada tujuannya. Jelas sekali ada udang di balik batu.

"Kalau aku bisa, oke." Hinata memang gadis canggung tapi dia rela membantu temannya.

"Tolong jaga Gaara, ya? Aku ada urusan kantor hari ini, tidak lama kok. Hanya tiga jam," pinta Naruto, jelas sekali dia terdengar benar-benar membutuhkan bantuan kawannya itu.

"A-apa?" Hinata kaget. "Aku harus ke rumahmu?" tanyanya ragu.

Sedari tadi Naruto tidak bicara lantang seperti biasanya. Dia mengucapkan kalimatnya pelan-pelan. Ada suara bising di belakangnya. "Tidak, aku yang ke rumahmu. Buka gerbangnya, ya, aku sudah sampai."

Secepat kilat Hinata menuju jendela kamar dan menatap keluar. Dia ternganga. Mulutnya terbuka. Sungguh tidak elegan. Kalau Mister Hyuuga tahu, pria itu bakal menegur putri sulungnya. Tersadar, Hinata melesat keluar rumah dan membuka gerbang.

Naruto tidak sendiri. Ada seorang pria menyetir mobilnya. Setelah Hinata sampai di depan mobil, Naruto keluar. Dia menggendong Gaara yang sedang tertidur. "Jaga anakku, Hinata, please?" Naruto terlihat sungguh-sungguh. Cengiran khasnya tidak tampak sama sekali. Wajahnya yang dihiasi tanda lahir atau luka –Hinata tidak tahu- menunjukkan keseriusan.

Semua pertanyaan di kepala Hinata menguap begitu saja melihat pemandangan rekannya menggendong anaknya itu. "Baiklah. Tapi bagaimana kalau dia bangun nanti?"

"Jangan khawatir, aku sudah memberitahunya kemarin. Tapi, dia sudah mengenalmu, jadi aku tak perlu risau," jelas Naruto pelan.

Hinata mengangguk. Dia menyuruh Naruto mengikutinya masuk. Gadis muda itu mengambil tas berisi pakaian Gaara di tangan Naruto. Gaara masih tertidur pulas. Sang ayah mengusap kepalanya dengan tangan besarnya, membuat Hinata tak bisa menyembunyikan senyum.

"Ke kamar tamu saja," cetus Hinata. "Ada di lantai bawah, sedang kamarku di lantai atas."

Naruto mengangguk. "Maaf merepotkan," ujar Naruto tak enak. "Aku sudah janji padanya bakal main-main hari ini, tapi lagi-lagi aku mengingkarinya. Gaara pasti kecewa." Naruto mencium anak angkatnya dengan sayang sebelum merebahkannya di kasur.

Hanabi yang berpapasan dengan mereka di ruang tamu mengekor di belakang. Dia terpaku mendapati seorang laki-laki pirang, berkulit kecoklatan dan berpakaian rapi hendak kerja membawa seorang anak laki-laki berumur lima tahun masuk dalam rumah.

"Hai, kau pasti adik Hinata," sapa Naruto ramah. "Sayang aku tergesa-gesa, jadi tidak sempat beramah-tamah."

Hinata mendorong Naruto keluar. "Nanti saja sesi akrab-akrabnya," sergahnya lembut.

"Yo, thanks Hinata." Naruto memberi Hinata tatapan penuh terima kasih sebelum melompat ke mobilnya.

Setelah menyelimuti Gaara dan memastikan bocah itu masih terlelap, Hinata dan Hanabi berjalan pelan keluar kamar tamu. Tentu saja si sulung itu harus menjelaskan detailnya pada sang adik. Hanabi manggut-manggut.

"Anak angkatnya temanmu, Sista," gumamnya. Si bungsu itu sekali lagi melongok Gaara. "Anaknya imut, tapi kok sepertinya tidak seramah temanmu itu."

Hinata tertawa. "Aku tidak bisa lebih setuju lagi."

Untungnya Gaara tidak terbangun. Hinata baru saja menarik napas lega ketika Hanabi menarik lengannya dengan rupa antusias. "Ada apa?" tanyanya heran.

"Ada temanmu lagi. Cakep banget, Sista," jelas Hanabi terkikik.

Siapa lagi? Hinata bertanya-tanya. Seingatnya tidak ada temannya yang mau mampir. Matanya membulat ketika melihat Sasuke keluar dari mobilnya. Melihat sang kakak yang sepertinya tidak akan beranjak dalam waktu dekat, Hanabi mengambil inisiatif pintar. Dia mendorong Hinata kuat-kuat sampai di depan batang hidung Sasuke.

"Sasuke…"

"Tadi Naruto menelponku, katanya dia menitipkan Gaara di tempatmu dan memintaku datang juga," terang Sasuke sebelum diminta.

"Dia tidak mengatakan kau juga datang," gumam Hinata. "Omong-omong, kau tampak tidak segar," celetuknya.

"Sista!" desis Hanabi keras-keras. "Setidaknya biarkan temanmu masuk," serunya mengingatkan.

Sasuke mengalihkan tatapannya pada Hanabi. "Adikmu jauh lebih pengertian," komentarnya datar.

Hanabi nyengir. Dia belum pernah bertemu Sasuke sebelumnya, tapi pria tampan itu cocok dengan deskripsi Hinata tentang adik Presdirnya. "Ah, Kakak ini yang memberi Kak Hinata sabun dan foto?"

Sasuke duduk sambil menyunggingkan seulas senyum tipis. Sasuke bukan orang yang suka mengobral senyum, tapi untuk Hinata dan adiknya, dia membuat perkecualian. "Benar. Hinata cerita?"

"Selalu! Hihi," Hanabi cepat-cepat menghindar sebelum Hinata sempat mencubitnya.

"Aku menunggu shifku selesai sebelum ke sini," tukas Sasuke, mengalihkan perhatian Hinata.

Gadis di depannya terkejut. "Kau dari rumah sakit?" Sasuke mengangguk. Pantas saja dia terlihat capek. "Aku buatkan kopi. Atau kau mau yang lain?"

"Kopi boleh. Jus tomat kurang pas untukku saat ini," sahut Sasuke. Pria itu mengucapkan terima kasih ketika Hinata kembali dengan secangkir kopi panas yang pekat.

Diam-diam Hinata panas-dingin. Dia tidak mengharapkan Sasuke akan duduk santai di rumahnya. Dokter itu memang kelihatan lelah tapi sudah berpakaian rapi. Rambutnya yang masih basah menunjukkan kalau dia sempat mandi tadinya.

"Naruto kelihatannya tergesa-gesa," kata Hinata.

Sasuke mengangguk. "Hn. Mungkin karena itu dia tak sempat memberitahumu kalau aku diminta datang."

Suara tangis menyentak mereka berdua. Hinata lekas ke kamar tamu. Dia mendapati Gaara sudah terduduk. Wajahnya bersimbah air mata.

"Gaara, kau sudah bangun," Hinata meraih tisu dan menyeka pipi halus bocah itu.

"Papa," ujar Gaara singkat.

"Papa Gaara sedang keluar sebentar," hibur Hinata.

Gaara semakin keras menangis. Sebentar saja matanya sudah sembab. Tidak ada bagian pipinya yang kering karena air mata sudah menganak sungai di sana. Dia menggeleng kuat-kuat saat Hinata berusaha menggendongnya. "Aku mau Papa!" jeritnya.

"Sebentar lagi dia pulang, makanya jangan menangis ya, Gaara," pinta Hinata. Dia menyibak selimut yang dipakai Gaara dan mengangkat tubuh mungilnya. Untungnya kali ini bocah berambut merah menyala itu tidak melawan.

"Papa…" Gaara terisak. Dia terus menangis. Hinata bingung sendiri. Dulu dia juga ikut mengasuh Hanabi, menyuapinya dan menenangkannya saat sang adik menangis. Tapi itu sudah lama sekali. Hinata sekarang kelimpungan. Dia mengusap punggung Gaara. Baju yang baru saja dipakainya beberapa waktu sudah basah oleh air mata bocah di dekapannya.

Sasuke bangkit ketika Hinata muncul.

"Lihat, ada Om Sasuke," tunjuk Hinata.

"Sini, sama Om, Gaara," Sasuke mengelus rambut berantakan anak angkat sahabatnya itu.

Gaara menoleh sebentar sebelum menyambut uluran tangan Sasuke. Adik Itachi itu bukan orang asing baginya. "Ayo ke Papa, Om," pintanya memelas. Dia mencengkeram baju Sasuke dengan jari-jari kecilnya.

"Lho, Papa lagi di jalan, kok," Sasuke berusaha menenangkan anak kecil itu.

"Pokoknya ke Papa!" Gaara menangis lagi.

Hinata lega ketika Sasuke meraih Gaara darinya. Dia hendak berganti baju namun urung. Sasuke yang menggendong Gaara terlihat sangat menarik, seolah-olah mereka memang ayah dan anak.

Gaara masih menangis. Rupanya dia termasuk anak yang susah berhenti kalau sudah menangis. Yang membuat Hinata panik, bocah itu menangis seolah-seolah disiksa atau disakiti. Mantap sekali tangisannya. Bujukan yang dialamatkan padanya tidak mempan. Pada akhirnya Gaara diam dengan sendirinya.

Ibu Hinata yang baru pulang dari belanja tentu saja terkejut bukan kepalang mendapati Sasuke di rumahnya, apalagi melihatnya menggendong seorang anak yang kini cegukan karena habis menangis dengan hebat. Wanita itu bertemu Sasuke pertama kali sewaktu dokter itu mengantar Hinata pulang dari klinik.

Memberi Sasuke kesempatan untuk bertegur sapa dengan ibunya, Hinata gantian yang menggendong Gaara. Bocah itu memang berhenti menangis, namun belum mau kooperatif. Semua pertanyaan yang dilontarkan Hinata untuk mengalihkan perhatiannya sama sekali tidak digubris. Ck, anak yang sulit! Dia hanya diam. Kepalanya menyender pada bahu Hinata. Mata hijaunya berkedip namun mulutnya terkunci rapat. Barulah ketika Hanabi iseng menyodorkan roti di depan hidung Gaara, bocah itu mau membuka mulut dan melahapnya. Hinata tersenyum lebar sampai bibirnya sakit. Dia ingin tertawa melihat polah Gaara, tapi tidak mau mengambil resiko dia menangis lagi. Sasuke nyengir melihatnya.

Gaara menggambar didampingi ibu Hinata. Mrs. Hyuuga itu senang dengan kehadiran Gaara. Dia membuatkan pudding, menyuapi Gaara dan menyisir rambut ikal bandelnya. Dia bahkan menciumnya berkali-kali.

Sasuke menyesap jus tomat kalengan yang baru saja dibelikan Hanabi di convenient store terdekat. Dia ikut bergabung dengan keluarga Hyuuga di ruang keluarga.

"Mengasuh anak kecil menyenangkan," usik Hinata.

"Menyenangkan kalau sudah terbiasa," Sasuke memberi pendapat. Dia duduk di meja makan bersama Hinata, sedang Mrs. Hyuuga, Gaara dan Hanabi di karpet depan televisi. "Apalagi kalau ada yang membantu."

"Naruto merawatnya sendirian?" tanya Hinata penasaran.

"Begitulah," jawab Sasuke. "Susah, Hinata, jika single parent seperti Naruto merawat anak sekecil Gaara. Karena itu rumah kedua Gaara adalah tempat penitipan anak, karena Naruto sendiri bekerja."

Hinata menatap Gaara yang kini asyik berceloteh.

"Kadang Naruto menitipkan anaknya di rumah kalau ada situasi mendadak seperti ini. Tapi ternyata dia menemukan sahabat lain." Sasuke menatap tajam gadis Hyuuga itu. "Kau boleh membantunya tapi jangan jadi Mrs. Uzumaki, lho!"

Hinata tergagap. Hyaa…

Sesuai janjinya, begitu kerjaan kantor tuntas, Naruto segera ke kediaman Hyuuga. Dia menenteng sekantung besar camilan dan minuman sebagai tanda terima kasih. Sasuke ikut berpamitan bersamaan dengan Naruto. Malamnya, Hinata menerima pesan dari Naruto.

'Maaf kalau di hari Sabtu yang indah ini kau tidak jadi kencan dengan Sasuke dan malah mengasuh anakku. Tapi hidup itu tidak seperti di Twilight dimana yang terpenting adalah memiliki pacar. Ada saatnya kita seperti di Harry Potter. Kita menemukan persahabatan, teman dan membuat keputusan yang tidak mudah. Terima kasih, Hinata.'

TBC

Fire's Note : Akhirnya setelah seminggu berlalu sejak update-an terakhir, saya bisa menulis lanjutan kisah ini dengan santai mulai dari setelah saya selesai menonton Narnia di salah satu stasiun televisi kita sampai lewat tengah malam ini. Btw, ada kicauan di Twitter yang tidak bisa saya lupakan begitu saja, tentang Twilight dan Harry Potter, dari Lord Voldemort atau Severus Snape(saya belum dapat menemukan di twit siapa, tapi kalau sudah nemu, saya bakal menyebutkannya), yang saya pakai di pesan dari Naruto untuk Hinata. Saya pikir ada benarnya juga . Pembaca dua seri itu berbeda dan saya harap komentar itu disikapi dengan perasaan ringan saja. Terima kasih pada teman-teman yang membaca cerita ini dan memberi feedback. Wah, saya tidak bisa membayangkan seandainya saya bertemu dengan salah seorang anggota FFn di dunia nyata, karena saya orangnya pemalu. Saya pasti kelimpungan dan malu, ehe. Selamat berlibur di Malang, deh. Kalau Arema asli, sekalian mampir ke Batu Night Spectacular ya. Lampu yang berkelap-kelip di malam hari terlihat sangat cantik lho. Eniwei, selamat membaca!