Title: Tuan Tampan Dan Nona Pemalu
Author: Firenze Firefly
Rating: T
Characters/Pairings: Sasuke-Hinata
Genre: Romance / Friendship
Warnings: AU. Agak OOC. Selamat membaca cerita ini sebagaimana saya menulisnya. Cerita ini hanya diperuntukkan untuk hiburan semata.
Summary: "Nanti tidak usah pulang naik taksi. Akan ada yang menjemputmu," jawab Mister Hyuuga. Hinata menebak. "Neji? Atau Ayah sendiri?" Mister Hyuuga terdiam beberapa saat. "Bukan," ujarnya lambat-lambat. "Bukan kami. Kau tahu Kakashi Hatake?
". AU

Disclaimer: Sekali lagi, Naruto bukan milik saya. Kalau saya yang punya, gak bakalan deh saya nulis fanfiksi.

Chapter 6

.

Naruto memeriksa kening anaknya. Hatinya pilu menyaksikan Gaara menatapnya dengan mata merah dan wajah lesu. "Bagaimana perasaanmu, Nak?"

"Tidak enak," jawab bocah berambut merah itu singkat. "Papa, rasanya pusing," keluhnya. Dia menarik tangan ayahnya dengan jari-jarinya yang kecil.

Naruto menarik ponsel dari saku dan menelpon Itachi, memberitahunya bahwa dia akan terlambat masuk. Setelah meminta maaf dan ijin, dia mendudukkan Gaara di sofa dan menyisir rambutnya yang merah dan tebal. "Kita ke dokter," cetusnya.

"Papa tidak kerja?" tanya anak kecil itu.

"Habis ini," jawab Naruto pendek. "Nanti tidak boleh nangis di tempat penitipan anak, lho," kata ayah muda itu.

Gaara hanya mengangguk lemah.

Setelah memakaikan sabuk pengaman pada anaknya, Naruto melajukan mobilnya pelan-pelan. Hari masih pagi, matahari belum tinggi, sinarnya masih hangat. Suasana jalanan masih agak lengang. Naruto melirik anaknya. "Kenapa menunduk? Nanti pusing, Gaara," tegur Naruto.

Gaara tidak mengangkat kepala. Anak itu menunduk dan memejamkan mata. "Mataku sakit, Pa," balas Gaara.

Naruto jadi tergoda untuk tidak masuk kerja dan menjaga anak yang sangat disayanginya itu.

Ketika agak teduh, Gaara mengangkat kepala dan menatap jalanan. Saat sinar matahari menerobos mobil ayahnya, dia kembali menunduk. "Tisu…tisu…" Badannya condong ke depan, hendak meraih sekarton tisu di dashboard. Naruto mengambilkannya dan menaruhnya di pangkuan si anak. Gaara mengambil sehelai tisu dan membersit hidung, kemudian membuang tisu yang sudah belepotan ingus itu ke tempat sampah kecil yang sengaja disediakan Naruto di bawah kaki pendek Gaara. "Minum, Pa. Haus," serunya.

"Sebentar, ya." Naruto meminggirkan mobil kuning tuanya. Dia meraih sebotol air mineral yang tinggal separuh di dashboard. Sengaja laki-laki itu membeli botol air berukuran paling kecil agak Gaara tidak kesulitan memegangnya. Dia membuka tutupnya kemudian memberikannya pada Gaara.

Sang anak minum beberapa teguk. Ludahnya menempel hingga membentuk garis kecil dari bibirnya sampai bibir botol.

"Sudah?" Gaara mengangguk. Naruto menutup botol dan mengelap dagu anaknya dengan tisu baru. Dia menyingkirkan tangan Gaara saat bocah itu mengucek mata. "Kenapa?"

"Mataku sakit, Pa," rengek Gaara.

Naruto menghela napas. Wajah cerianya tidak tampak. Dia mengusap alis Gaara. Bocah itu demam. Badannya panas. Naruto juga pernah sakit, jadi dia tahu rasanya dalam posisi anaknya: kepala berat, mata panas karena demam. Dalam hati dia memutuskan, sudah saatnya dia minta bantuan. Jelas sekali dia tidak bisa meninggalkan anaknya yang sakit tanpa penjagaan lebih. "Bagaimana kalau nanti kita ke rumah nenek?" tanyanya.

Gaara mendongak. Ada sedikit keceriaan di mata hijaunya. "Mau…" jawabnya lemah.

Naruto melirik jam tangannya. Dia bakal benar-benar telat masuk kerja hari itu.

Hinata mengusap lehernya. Entah kenapa ada perasaan tidak nyaman menjalari leher belakangnya. Dia kenal perasaan ini: pertanda akan ada kejadian yang tak menyenangkan. Atau mungkin karena dinginnya AC, hiburnya sendiri. Dia memang menguncir rambutnya sehingga lehernya sedikit terkena udara. Gadis itu memijat leher putihnya dan menaikkan kerah baju dan blazernya.

Dia berdoa semoga tidak ada masalah dengan kerjaannya. Bahunya mulai pegal karena seharian menghadap komputer dan mengetik. Matanya juga letih.

Getaran di saku bajunya menyentak Hinata. Dia mengerutkan kening ketika membaca id sang penelpon. "Ya, Ayah?"

Suara Mister Hyuuga mengisi telinga anaknya. "Ada yang akan Ayah sampaikan," ujar pria itu dengan suara berat namun jernih.

"Ya?" Semakin detik berlalu, Hinata semakin tidak nyaman. Dia meremas jari-jari tangan kirinya.

"Nanti tidak usah pulang naik taksi. Akan ada yang menjemputmu," jawab sang ayah.

Hinata menebak. "Neji? Atau Ayah sendiri?"

Mister Hyuuga terdiam beberapa saat. "Bukan," ujarnya lambat-lambat. "Bukan kami. Kau tahu Kakashi Hatake?"

Hinata memutar otak. "Tidak, aku tidak kenal. Tidak tahu juga."

"Hm, kalian memang belum pernah ketemu langsung, tapi ada fotonya di rumah."

Meski begitu, rasanya Hinata pernah mendengar nama itu disebutkan di rumahnya. "Yah, apa dia berambut putih?" tanyanya, teringat dengan sesosok laki-laki di salah satu foto di album keluarga.

"Bukan putih. Perak, Hinata. Memang bukan warna yang lazim," tukas si ayah membetulkan. "Kakashi yang akan menjemputmu."

Hinata berdehem demi melegakan kerongkongannya yang mendadak kering. "Memang ada apa, Ayah?" Gadis muda itu heran, penasaran sekaligus cemas. Dia was-was sendiri.

"Akan Ayah jelaskan di rumah."

Hinata menutup ponselnya dengan perasaan campur aduk. Selama ini ayahnya tidak pernah membiarkan orang asing menjemputnya. Neji pun akan datang meninggalkan apa pun yang dikerjakannya daripada membiarkan sepupu perempuannya diantar pulang orang tak dikenal. Mengherankan sekali jika pria-pria Hyuuga yang biasanya garang dan galak itu malah tenang seperti sekarang.

Hinata hendak memencet speed dial yang menghubungkannya pada Neji, namun urung. Walau penasaran, dia tak ingin mengganggu sepupunya. Siapa tahu Neji sedang menghadiri rapat atau hal penting lainnya. Bagi Hinata, laki-laki yang setahun lebih tua darinya itu sudah dianggapnya seperti kakak sendiri.

Yah, dia punya waktu dua jam untuk menebak-nebak.

Baru saja supervisor itu memasukkan ponsel ketika ada pesan masuk. Bahkan pesan dari Sasuke yang mengingatkannya untuk menjaga kesehatan tidak membuat Hinata seratus persen tenang. Akhir-akhir ini Sasuke memang semakin intens memberikan perhatian.

Seulas senyum muncul di bibir Hinata. Setidaknya bayangan Sasuke membuat perutnya bergolak menyenangkan.

TBC

Fire's Note: Chapter ini memang pendek. Tapi saya sampai pada pemikiran bahwa dengan kesibukan yang akhir-akhir ini menggunung, mungkin lebih baik saya menulis chapter lebih pendek dengan jumlah word tidak sebanyak biasanya namun jadi agak sering update.

Terima kasih dengan respons di chapter lalu. Saya senang karena teman-teman mendukung cerita saya yang memang tidak bisa seratus persen tentang romance, karena memang ada sisipan family, friendship, drama dan humor. Sekian dulu. Sudah lewat tengah malam, ehem. Untuk yang menghadapi ujian kenaikan kelas, semoga sukses!