Title: Tuan Tampan Dan Nona Pemalu
Author: Firenze Firefly
Rating: T
Characters/Pairings: Sasuke-Hinata
Genre: Romance / Friendship
Warnings: AU. Agak OOC. Selamat membaca cerita ini sebagaimana saya menulisnya. Cerita ini hanya diperuntukkan untuk hiburan semata.
Summary: "Tapi, Pa, kenapa aku tidak punya mama?"
. AU

Disclaimer: Sekali lagi, Naruto bukan milik saya. Kalau saya yang punya, gak bakalan deh saya nulis fanfiksi.

Fire's Note : Saya suka dengan Papa Naruto, hehe. Jadilah side story ini. Cerita ini terjadi beberapa lama setelah Naruto dan Hinata bertemu Hinata, Hanabi, dan The Hyuugas yang lain. Yup, cerita ini side story. Jadi tidak ada romance-nya. Oh, Gaara masih punya alis. Aneh sekali kalau ada anak kecil tapi sudah tidak beralis. Sebagai ayah, Naruto tidak memperbolehkan Gaara cilik bergaya yang aneh-aneh.

Chapter 7

(A Side Story)

.

"Papa, aku mau nonton film ini," ujar Gaara seraya menyodorkan sekeping DVD.

Sekuat tenaga Naruto membuka matanya. Sedari tadi dia ingin merem dan lepas landas ke dunia mimpi, namun tidak bisa tidur gara-gara anaknya masih belum mengantuk.

"Besok saja, Gaara," balas Naruto setengah mengeluh. Mata birunya terasa berat.

Gaara memandang papanya, cemberut.

Duo ayah dan anak itu berada di ruang tengah. Naruto menggelar kasur di depan televisi karena Gaara suka menonton tv sambil tiduran, sampai akhirnya bocah cilik berumur lima tahunan itu benar-benar tertidur pulas. Tidak ingin anaknya bermain atau menonton tv sendirian, jadilah Naruto menemani Gaara. Dia khawatir kalau-kalau terjadi sesuatu jika anak kecil berambut merah itu main sendirian tanpa penjagaan.

"Aku ingin nonton sekarang!" tegas Gaara keras kepala. Dia menepuk kasur keras-keras hingga Naruto terganggu. Mata hijaunya memancarkan kesungguhan.

Naruto menggosok mata. "Tidur, yuk!" Pria itu mengacak-acak rambut sang anak.

"Aku enggak ngantuk. Kan tadi sudah tidur siang," kilah Gaara.

"Besok Papa kerja. Kau juga harus ke penitipan anak pagi-pagi. Jadi, kita istirahat, ya?" tukas Naruto, dalam hati berdoa pada Yang Maha Kuasa supaya Gaara mau mengerti dan mengiyakan.

"Tidak mau!" Gaara menggeleng, menolak perkataan ayah angkatnya.

Naruto mengeluh. Sungguh-sungguh.

Beginilah kalau Gaara tidur siang lama. Malamnya bocah itu tidak bisa tidur. Ada saja yang dilakukannya. Entah nonton film, menggambar atau mengoceh. Tak heran ada lingkaran hitam di matanya.

Sadar bahwa Gaara masih akan terjaga, Naruto bangkit. Dia meraih DVD di tangan Gaara dan memutarnya di player. Setelah itu laki-laki berambut pirang menyala itu ke dapur dan membuat kopi.

Tidak mudah membesarkan anak seorang diri, apalagi jika si anak sedang aktif-aktifnya. Untungnya selama ini Naruto mampu mengimbangi Gaara. Walau capek, ketika dia pulang ke rumah bersama Gaara, Naruto merasa lengkap.

Naruto duduk di meja kopi dan melirik Gaara. Anak itu menonton tv dengan takjim. Seperti biasanya, Naruto tahu Gaara akan terjaga sampai kira-kira jam satu dini hari. Meski penat setengah mati, Naruto tidak ingin mengambil resiko anaknya tertimpa bahaya hanya karena kelalaiannya membiarkan Gaara bermain seorang diri.

Sambil mengucek matanya, Naruto meraih ponsel dan mengirim pesan pada ibunya. Naruto tahu malam sudah larut. Mungkin juga si ibu tidak akan membaca pesannya sampai keesokan harinya. Tapi Naruto tidak mempermasalahkan. Sekedar menulis pesan dan menumpahkan curahan hatinya membuat Naruto agak lega.

'Gaara begadang lagi, Bu.'

Begitulah isi pesannya pada Kushina. Tak dinyana sang ibu merespons. Bukan dengan pesan balasan, melainkan dengan panggilan telpon.

"Kukira Ibu sudah tidur," sapa Naruto ceria.

Kushina tertawa. "Tidak, Naruto. Kalau sudah tua seperti Ibu, sudah susah tidur," sahutnya beralasan.

Naruto tersenyum. Ibu dan ayahnya memang gemar tidur sore. Malamnya mereka bangun dan terjaga sampai lewat tengah malam. Rupanya pola tidur seperti itu juga menyerang banyak teman orang tuanya dan kerabatnya.

"Harus kuapakan agar Gaara mau tidur?" cerita Naruto. Menyadari bahwa dia minim pengalaman, Naruto tidak segan bertanya sesuatu pada ibunya atau orang lain kalau sudah menyangkut pengasuhan anak. Setelah mengadopsi dan mengurus Gaara, berat badan Naruto turun sampai beberapa kilogram.

"Jangan biarkan dia tidur siang," saran Kushina.

Naruto manggut-manggut meski sang ibu tak bisa melihatnya. "Susah juga, ya. Aku kerja seharian sedang Gaara juga di tempat penitipan anak. Susah mengawasinya. Apalagi, kasihan kalau mengantuk tapi tak boleh tidur siang."

"Yah, resiko. Tak bisa dihindari," tukas Kushina maklum. "Tidur siang memang mengembalikan tenaga anak, Naruto, tapi akhirnya jadi repot kalau menidurkannya. Dulu kau juga seperti itu, kok."

Naruto tertawa, membuat Gaara menoleh padanya.

"Kenapa Papa tertawa?" tanyanya heran.

"Tak apa," pungkas Naruto. Dia nyengir melihat keheranan di mata anaknya.

"Oh, Naruto, jangan memberinya makanan yang manis-manis kalau malam."

Naruto pucat. Sebelum menggosok gigi beberapa menit yang lalu Gaara makan sekeping coklat. Pantas saja dia jadi super aktif meski bulan sudah tinggi.

Gaara sudah meloncat dari kasur dan menghampiri Naruto. "Papa ngomong sama siapa?"

"Nenek," jawab Naruto singkat.

"Ahhh, aku mau ngomong sama Nenek!" pintanya. Bocah itu berjinjit dan berusaha meraih ponsel ayahnya. Dengan agak kesulitan dia memegang ponsel lebar Naruto dan mendekatkannya ke telinganya. "Nenek?"

Naruto menarik dan memangku Gaara. Pria itu merapikan piyama merah bata Gaara yang kusut. Ketika masih remaja dulu Naruto tak pernah membayangkan akan punya anak –meski anak angkat- di usia muda. Tapi sejak dulu, dia memang sudah populer dengan anak-anak. Tentu saja bermain dengan anak yang lebih kecil jauh berbeda dengan memiliki anak yang diasuh sendiri.

Dengan penuh sayang dia mencubit pipi Gaara.

Bosan menonton film, Gaara membalikkan badan dan mulai mengoceh. Dia melompat-lompat di kasur sebelum setengah meloncat ke pinggir, mendekat pada ayahnya.

"Pa, kalau sudah besar nanti aku mau manjangin rambut kaya Om Itachi," ocehnya.

Naruto mengalihkan mata dari koran yang dibacanya. "Ya ya…"

Merasa tak diacuhkan, Gaara menduduki koran tak bersalah yang terhampar di hadapan sang ayah.

"Gaara!" tegur Naruto, agak kesal.

Tapi Gaara tidak takut. "Aku ingin tato kaya punya Om Neji," lanjutnya bersemangat. Ketika main-main ke rumah Hinata dulu dia memang bertemu dengan Neji. Gaara kecil terkesima dengan sepupu Hinata itu. Sama seperti teman-teman si ayah, Neji juga berpenampilan unik. Rambutnya panjang dan di dahinya ada tato.

Kali ini Naruto mendelik. "Huh? Tidak, Nak, kau tidak boleh punya tato!" larangnya keras diikuti gelengan kepala.

"Kan cakep, Pa!" protes sang anak.

Naruto ingin menepuk dahi. "Aduh…" Siapa, ya, temannya yang berpenampilan normal? Pria itu bertanya-tanya sendiri. Nyaris semua kawannya memiliki gaya yang aneh dan tidak biasa. Ada yang bertato, berambut panjang (bagi pria) dan aneh, dan bertindik. Susahnya kalau mereka malah jadi role models bagi anaknya yang masih kecil itu.

"Aku ingin…"

Naruto memaksakan senyum kecut. Gaara terus melantunkan keinginannya yang bermacam-macam.

"Tapi…tapi, Pa," Gaara menarik-narik lengan ayahnya.

"Tapi apa?" tanya Naruto lelah.

"Tapi, aku paling ingin kaya Papa," ujar sang bocah polos. "Aku ingin cakep dan punya mobil bagus kaya Papa. Belikan, ya, Pa!"

Naruto tercekat. Gaara, anaknya yang kecil, bandel dan pemarah ingin jadi sepertinya? "Anakku…!" Terharu, Naruto mendekap Gaara erat-erat. Dia bisa membayangkan kalau saja sahabatnya, Sasuke, melihatnya saat ini, dokter itu pasti akan mengomentarinya sebagai ayah yang bodoh. Biar saja!

"Aduh, Pa, sesak!" Gaara mendorong Naruto. "Tapi, Pa," cetusnya lagi.

Naruto berdebar-debar. Tapi kenapa lagi? Hati Naruto dipenuhi haru. Oh, jangan-jangan Gaara akan memujinya lagi.

"Kok aku tidak punya mama?"

Naruto tertohok. Dia megap-megap di depan anaknya. Gaara memandangnya dengan penuh rasa ingin tahu. Kalau diperhatikan dengan seksama, ada sedikit pengharapan di wajah kecilnya.

"Ah, Gaara, itu…"

Di malam yang larut itu, Naruto mendadak tidak mengantuk lagi. Lebih lanjut, dia bingung, tidak bisa menjawab pertanyaan anaknya. Ternyata orang dewasa pun bisa dikalahkan anak kecil!

TBC