Title: Tuan Tampan Dan Nona Pemalu
Rating: T
Characters/Pairings: Sasuke-Hinata
Genre: Romance / Friendship
Warnings: AU. Agak OOC. Selamat membaca cerita ini sebagaimana saya menulisnya. Cerita ini hanya diperuntukkan untuk hiburan semata.
Summary: "Nanti tidak usah pulang naik taksi. Akan ada yang menjemputmu," jawab Mister Hyuuga. Hinata menebak. "Neji? Atau Ayah sendiri?" Mister Hyuuga terdiam beberapa saat. "Bukan," ujarnya lambat-lambat. "Bukan kami. Kau tahu Kakashi Hatake?
". AU

Disclaimer: Sekali lagi, Naruto bukan milik saya. Kalau saya yang punya, gak bakalan deh saya nulis fanfiksi.

Chapter 8

.

Sepanjang sisa hari itu Hinata tidak bisa tenang. Untungnya pekerjaan yang musti ditanganinya hari itu tidak berat. Walau matanya fokus pada layar komputer, benak gadis itu terus melayang pada sesosok pria yang hanya diketahuinya dari foto. Dia gelisah. Berkali-kali ditengoknya jam di tangan kecilnya. Waktu terasa lama dan singkat sekaligus.

Ketika keluar ke pelataran parkir Uchiha Inc. gadis itu melihat seorang laki-laki jangkung menyenderkan tubuh pada mobil. Hinata agak ragu, apakah benar pria itu yang dimaksud ayahnya. Ada beberapa orang di parkiran, tapi hanya pria itu yang memperhatikannya sejak dia keluar dari pintu. Sembari berjalan lambat-lambat, Hinata menilik profil pria yang diyakininya Kakashi itu. Rambutnya mencolok. Warnanya putih keperakan atau saking peraknya sampai terlihat putih. Tubuhnya tinggi dan tegap. Dia sama dengan pria yang pernah dilihatnya di foto.

Laki-laki itu tidak lagi bersandar pada mobilnya. Dia mengambil langkah panjang-panjang dan tegas. Tak diragukan Hinatalah yang ditujunya.

"Selamat siang. Kau Hinata Hyuuga?" sapanya dengan suara dalam. Dia terdengar resmi.

Hinata menarik tali tas di bahunya. "Benar," katanya, gugup.

"Aku Kakashi Hatake," pria itu mulai berwajah ramah, tidak lagi tampak serius seperti sebelumnya. "Mungkin Mr. Hyuuga sudah mengatakan kalau aku yang akan menjemputmu."

"Iya, Ayah berkata begitu," sambung Hinata, tidak lagi merasa takut. Kelihatannya Kakashi ini tidak berbahaya. Bayangan buaya langsung sirna dari kepala Hinata.

Kakashi tersenyum. Hinata tahu itu bukan dari pergerakan bibirnya, karena entah kenapa Kakashi menutup separuh wajahnya, yang bagian bawah. Hinata tahu pria itu tersenyum karena sudut-sudut matanya berkerut.

Walau Kakashi mengajaknya ngobrol dalam perjalanan pulang, tak urung Hinata merasa tegang. Ada kegugupan dan perasaan tak nyaman. Seperti ada banyak kupu-kupu beterbangan dalam perutnya.

"Senang bekerja di Uchiha Inc.?" tanya Kakashi.

Hinata melirik pria di balik setir itu. "Iya…"

"Kau terdengar ragu."

"Ti-tidak!"

Kakashi tersenyum simpul. "Aku percaya. Mr. Hyuuga berkata kau krasan di tempatmu bekerja."

"Betul. Pekerjaannya memang agak berat tapi karyawan lain tak segan membantu," cetus Hinata, teringat Ino dan Naruto. "Kau akan menetap di Konoha?"

Kakashi menggeleng. Matanya tetap menatap jalanan. "Tidak. Sebenarnya aku berpindah-pindah. Jarang menetap di satu tempat."

Tidak ada pembicaraan berarti menurut Hinata. Kadang dia bertanya balik tentang Kakashi. Tapi semua obrolan mereka hanya seputar permukaan, tidak mendalam seperti layaknya orang yang berada dalam perjodohan. Gadis itu lega tak terkira ketika mobil Kakashi sampai di rumah. Berada dalam lingkungan yang sudah dikenal dan akrab dengan Hinata membuatnya relaks. Sejujurnya dengan kedatangan Kakashi yang tiba-tiba dan implikasi bahwa ada yang diinginkan kawan ayahnya itu menimbulkan kebingungan dan keengganan.

Hiashi Hyuuga yang akhirnya bercakap-cakap dengan Kakashi. Wajah tua sang ayah tampak santai namun serius. Hinata tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Dia menuju kamarnya dan mandi. Walau tubuhnya segar, kepalanya mulai dilanda pusing. Dia mendongak ketika Hanabi masuk dengan wajah penuh teka-teki. Hinata hafal dengan ekspresi itu. Benar saja, tak lama kemudian sang adik sudah berceloteh bak biang gosip.

"Sepertinya kau bakal melangkah keluar dari rumah ini, Sista," ujar Hanabi penuh konspirasi.

"Kenapa begitu?" Hinata menyimak tampang adiknya yang berseri-seri. Kalau sudah begini, kelihatannya Hanabi malah jauh lebih peduli dengan apa yang terjadi atau bakal terjadi daripada mengkhawatirkan keadaan kakaknya. Hinata geli sekaligus sebal.

"Kau akan menikah dengan laki-laki bernama Kakashi," tukas Hanabi dramatis. Dia mengguncang lengan sang kakak. Matanya membulat.

Hanabi adik yang setia. Tapi sering pula dia bersikap bagai seorang presenter yang menyajikan berita terhangat selebritis, tak pandang bulu bahwa kakaknyalah artis yang cerita kehidupannya sedang dibeberkan.

"Jangan bicara yang tidak-tidak!" balas Hinata lemah.

Hanabi tidak bergeming. "Aku akan merindukanmu, Sis. Tapi oke, sih. Aku bakal menikmati perhatian satu-satunya di rumah ini, hihi." Hanabi terkikik. Cewek yang mirip sekali dengan Neji itu makin tertawa menyimak tampang pucat dan cemas kakaknya.

"Kakashi ini teman Ayah, tapi kelihatannya tak terlalu tua," gumam Hinata.

Sang adik menepuk bahu Hinata keras-keras. "Tidak mungkin, dong, Ayah akan menyerahkanmu pada laki-laki uzur!"

Hinata meringis. "Oh, kau mengakui kalau Ayah sudah uzur."

Pria yang sedang dua bersaudara bicarakan itu muncul di pintu. "Hinata, temani kami makan malam," ujarnya datar. Namun Mr. Hyuuga tak perlu sampai menaikkan oktaf suaranya untuk membuat semua orang paham bahwa kalimat-kalimat datarnya bernada perintah yang tak bisa dibantah.

"Baik, Ayah." Hinata mengangguk sembari menelan ludah yang terasa pahit.

Hanabi menatap kakaknya, memberi simpati. Walau suka menggoda Hinata, Hanabi tidak sungguh-sungguh senang memikirkan bahwa dia akan jadi anak tunggal di rumah besar itu.

Setelah merapikan rambut dan baju, Hinata segera turun ke ruang makan. Orang tuanya sudah duduk. Kakashi meliriknya ketika gadis itu masuk ruangan. Ketika mengambil piring, tak sengaja tangan Hinata bersinggungan dengan jari-jari Kakashi. Gadis berambut indigo panjang itu tidak asing dengan tangan manusia. Kadang dia menjabat klien Uchiha Inc., bersalaman dengan Deidara atau Itachi. Tapi kali ini dia merasa risih dengan sentuhan tidak sengaja itu. Berkali-kali dia memandang Hinata, sedang gadis itu memilih menatap ayahnya atau gelas yang dipegangnya.

Kakashi langsung pulang setelah itu. Dia mengangguk pada orang tua Hinata dan gadis itu, kemudian menaikkan kaca jendela mobil dan melaju meninggalkan kediaman Hyuuga.

"Bagaimana?" tanya Hiashi.

"Aku…tidak tahu, Ayah," jawab Hinata jujur. Dia gelisah.

Sang ayah menyeruput tehnya kemudian melanjutkan. "Sebenarnya minggu depan Kakashi sudah tidak berada di Konoha lagi. Dia akan keluar negeri."

Hinata memainkan jari-jari, mengulang kebiasaan lama yang dikiranya sudah hilang. Setelah makan malam, dia dan Hiashi ke ruang keluarga. Si ayah mulai mengungkit maksudnya. "Uh, singkat sekali di sini," sahut si sulung itu.

Hiashi tersenyum kecil. Walau sudah separuh abad, pria itu masih tampak tampan. Rambutnya tetap panjang, seperti saat dia masih muda dulu. Hanya saja, kini kerut mulai menghiasi sudut-sudut mata dan bibirnya. "Sebenarnya lagi, dia bermaksud mencari istri, yang akan diboyongnya sebelum dia berangkat."

Hinata benar-benar tersentak. Dia kaget. Sepupu Neji itu mendongak dan menatap ayahnya, tak percaya. "Dalam waktu seminggu? Itu… Sulit diterima."

"Kakashi tidak muda lagi," tukas si ayah. "Dia berusia awal tiga puluhan."

"Dan dia percaya dengan Ayah? Maksudku, anak Ayah atau siapa pun pilihanmu?" Hinata ternganga.

Walau sadar anaknya sudah dewasa, Hiashi tak bisa menepis perasaan bahwa bagaimana pun, Hinata yang sekarang duduk di kursi sampingnya dengan gugup, khawatir dan ragu masih tetap putri kecilnya yang pemalu dan penakut. "Ayah hanya punya satu calon," ujarnya setengah tertawa. "Tapi Kakashi tidak memaksa. Kau belum punya pacar, kan?"

Hinata terpekur. Dia menggigit bibir. "Tidak, Ayah. Tapi…"

"Hm?" Hiashi menunggu kata-kata Hinata selanjutnya, sabar.

"A-aku tidak kenal Kakashi. Apalagi jika hanya punya waktu seminggu kemudian –kalau kami jadi- aku akan jadi istrinya. Itu… Aku tidak bisa, Ayah. Maaf."

Dulu sekali Hiashi memang keras pada putri sulungnya itu. Tapi seiring berjalannya waktu, dia berubah. Hinata memang terlihat lemah lembut, namun dia kuat dengan caranya sendiri. Sebagai seorang ayah, Hiashi jelas lebih memprioritaskan anaknya. Dia mengangguk maklum. "Tidak apa. Tapi, apa tidak terlalu cepat untuk menolak?"

Hinata memucat. "A-aku tidak ingin bersama dengan orang asing, Ayah. Apalagi jika bersamanya karena terburu-buru."

Sang menghembuskan napas keras-keras. "Baiklah, biar aku sendiri yang mengatakannya pada Kakashi."

Dengan gontai Hinata kembali ke kamarnya. Dia mendapati adiknya di tempat tidurnya, membaca majalah yang terbalik. "Bagaimana, Sista?" Hanabi terlihat kaget dan langsung menanyai kakaknya.

Hinata menggeser Hanabi supaya sang adik minggir dan dia bisa merebahkan tubuh penatnya. "Kau sudah tahu akhirnya."

"Eh, tidak, kok."

Hinata melirik si adik. "Bukannya tadi kau sudah menguping aku dan ayah?"

Hanabi meringis tanpa rasa bersalah. "Uh, ketahuan, ya?"

"Tidak juga," kata Hinata datar. "Tapi sebelum aku kembali ke kamar, aku dengar suara gedebuk menuju ke sini. Apalagi kemudian kau membaca majalah dengan tidak semestinya, sampai terbalik begitu."

Hanabi tidak lagi pura-pura membaca dan tidak tahu. "Ah, Kakak pintar, deh."

Hinata termenung. Malam mulai larut, tapi gadis itu tidak bisa memejamkan mata. Hanabi yang tidur di sebelahnya mulai bernapas teratur, menandakan gadis SMA itu tidur dengan damai. Sebenarnya ibu mereka tadinya berkeras supaya menemani si sulung tidur, tapi Hinata menolak dan berdalih sudah ada Hanabi di sampingnya.

Hari itu Hinata tidak masuk kerja. Bahkan untuk bangkit dari tempat tidur pun dia musti susah payah. Dibuat bangun, rasanya pusing. Dibuat tidur, badan jadi super dingin. Sampai-sampai Mr. Hyuuga sendiri yang mengantar si sulung itu ke dokter. Cuaca yang tidak kondusif ditambah beban pikiran membuat gadis itu ambruk.

Kakashi memang mengunjunginya, namun Hinata tidak bisa menemuinya lama-lama. Selesai berbasa-basi sebentar, Hinata naik lagi ke kamarnya. Gadis muda itu masih tak enak pada Kakashi. Bukannya jadi tenang, Hinata malah semakin gelisah. Kakashi memang tidak mengungkit soal keinginannya mencari pendamping, tapi melihat laki-laki itu saja sudah cukup membuat Hinata tambah sakit.

Gadis Hyuuga itu ingin curhat. Ino adalah orang pertama yang muncul di kepalanya. Rekan sekantornya itu teman yang menyenangkan, tapi kemudian muncul keraguan, bisakah Ino mengerti permasalahan yang dihadapi Hinata? Ino orang yang oke, itu tak perlu diragukan. Tapi kalau curhat padanya, mampukah gadis pirang itu memberi solusi atau bahkan sekedar menyimpan rahasia? Hinata mencoretnya dari daftar orang yang bisa diajak curhat.

Sasuke? Wah, jelas tidak mungkin curhat soal ini pada pria yang naksir padanya. Mau bilang pada managernya, Deidara? Uh, no way! Pria flamboyan itu akan mengibaskan tangannya dan menyarankan, "Terima saja, un."

Hinata menyikut Hanabi. Adiknya itu tetap mendengkur halus. Setelah memastikan Hanabi masih pulas, Hinata menekan keypad di ponsel yang menghubungkannya pada orang terakhir yang dirasanya bisa diajak bicara dari hati ke hati.

"Naruto?"

TBC