Title: Tuan Tampan Dan Nona Pemalu
Rating: T
Characters/Pairings: Sasuke-Hinata
Genre: Romance / Friendship
Warnings: AU. Agak OOC. Selamat membaca cerita ini sebagaimana saya menulisnya. Cerita ini hanya diperuntukkan untuk hiburan semata.
Summary: "Benar, lho. Si teme itu orangnya posesif, tapi jangan harap dia mau mengakuinya. Aku yakin, tak peduli siang atau malam, dia akan ke rumahmu, mengetuk pintu dan meyakinkanmu kalau dialah yang terbaik, bukan si Kakashi ini." AU

Disclaimer: Sekali lagi, Naruto bukan milik saya. Kalau saya yang punya, gak bakalan deh saya nulis fanfiksi.

Chapter 9

.

Naruto tertawa melihat anaknya berlarian mengejar neneknya. Ibunya, Kushina, wanita yang enerjik meski usianya sudah tidak muda lagi. Sama seperti anaknya, Kushina tipikal orang yang ceria dengan energi ekstra. Walau sudah malam, wanita itu tidak tampak lelah. Malah, dia asyik bergurau dengan cucunya. Sengaja Naruto tidak berpartisipasi supaya Gaara punya waktu lebih dengan neneknya. Dia hanya mengamati dari meja kopi.

Suara getar dan musik lembut berdesing tidak jauh darinya. Pria itu melirik ponsel yang tadi diletakkannya di meja. Dengan sedikit kerut di dahi, Naruto berpikir, siapa yang menelponnya di jam segini? Pelan, pria pirang itu mengulurkan tangan besarnya dan meraih ponsel pintarnya. Melihat nama yang tertera, tanpa pikir panjang Naruto menekan tombol 'answer' dan mendekatkan alat komunikasi itu ke telinga.

"Ada apa Hinata?" Naruto mendengar tarikan napas ragu di seberang.

"Naruto?"

"Ya?" Naruto mulai khawatir. Untuk gadis sekalem Hinata, tentu tidak lazim menelpon dirinya di jam seharusnya orang nonton TV dengan santai sambil tiduran. "Kau di mana?" tanyanya cemas.

"Aku di rumah. Naruto…Ano…Kau sedang apa?"

Naruto melirik anaknya dan ibunya. "Santai saja."

"Kedengarannya ramai. Aku mengganggu?"

"Tidak, tidak. Memang tidak sepi di sini. Aku sedang di rumah orang tuaku."

"Oh."

"Ada apa?" Naruto mengulangi pertanyaannya.

"A-aku mau cerita."

Naruto bangkit menuju kamarnya. "Oke. Cerita saja." Ayah muda itu berusaha membuat kawannya berani. Baru setengah jalan, Gaara berlari ke arahnya.

"Papa mau ke mana?" tanyanya.

"Sebentar, Papa mau telpon," ujar Naruto seraya membisikkan 'Sebentar, Hinata.'

Gaara menatap ayahnya dengan mata besarnya. Dia mendengar ucapan Naruto. "Oh, Tante Hinata, yang berbunga-bunga itu?" Gaara selalu mengasosiasikan Hinata dengan bunga karena tiap bertemu dengannya, gadis itu nyaris selalu mengenakan baju dengan motif bunga.

Kushina mengikuti cucunya. Jika ada yang melihatnya berjalan dengan Gaara, tidak akan ada yang menyangka bahwa tidak ada hubungan darah di antara mereka. Keduanya sama-sama berambut merah menyala. "Siapa Tante Hinata ini, Sayang?"

Gaara gantian menatap sang nenek. "Itu lho, temannya Papa. Aku pernah tidur di rumahnya."

Oh oh.

Yang dimaksud Gaara adalah ketika Naruto membawanya ke rumah gadis muda itu saat ada rapat, saat itu bocah itu masih tidur. Ketika terbangun, Gaara mendapati dirinya di tempat asing, yang bukan rumahnya, atau rumah Sasuke, atau tempat penitipan anak.

Naruto buru-buru menggelengkan rambutnya sampai acak-acakan. "Bukan seperti yang Ibu pikirkan!" sahutnya cepat.

Kushina menaikkan alisnya yang rapi. "Hoho, pacarmu?"

"Bukan!"

"Nenek, Tante Hinata cantik, lho."

"Wah, kau suka padanya, Gaara?"

"Iya, Nek."

Sebelum ada kekeliruan lebih jauh, Naruto melambaikan tangan, cepat. "Arg, bukan seperti itu, Bu!" serunya.

Kushina terkikik. Melihatnya, Gaara ikut tertawa. "Baiklah, Gaara, papamu sedang menelpon Tante Hinata." Ada penekanan pada nama itu. "Kita tidak akan mengganggu mereka. Setuju?" Sang ibu mengerling anaknya yang panik.

"Setuju!"

Setelah mendelik dan menyaksikan mereka menjauh, Naruto membuka pintu kamar. "Fyuuh." Dia mendesah, lega. "Maaf lama. Ibu dan anakku menggodaku."

Sepertinya Hinata tidak tahu apa yang terjadi karena gadis itu tidak menunjukkannya. "Memang akhir pekan, sih. Aku tak menyangka kau tidak di rumah."

"Sudah beberapa hari aku berangkat kerja dari rumah orang tuaku. Gaara sakit, jadi aku tidak bisa meninggalkannya di rumah atau tempat penitipan anak. Tidak ada pengawasan ekstra, Kawan. Jadi aku minta bantuan orang tuaku." Naruto menghidupkan lampu dan duduk di kasur. "Jadi, kembali ke persoalan."

Ada keraguan di seberang. "Maaf aku menelponmu malam-malam."

"Oke saja," potong Naruto.

"Aku butuh teman bicara."

Naruto menyadari bahwa apa pun yang akan disampaikan Hinata sepertinya bukan hal yang mudah. "Ceritakan saja. Siapa tahu aku bisa bantu. Omong-omong, ini bukan soal kerjaan?"

"Bukan, Naruto. Ini-"

"Sasuke?"

"Aduh, jangan bilang tentangnya!"

"Aku mengerti." Naruto benar-benar yakin kali ini pasti masalahnya serius.

"Kalau bisa bicara dengannya, aku tidak akan menelponmu saat ini."

Akhirnya Hinata bercerita tentang Kakashi. Naruto mendengarkan dengan penuh perhatian. Untuk orang yang susah diam sepertinya, butuh pengendalian diri untuk mendengarkan cerita yang ternyata agak panjang itu. Terlebih gadis yang bercerita itu orangnya kalem. Naruto manggut-manggut berkali-kali.

"Jadi, kau menolaknya?" tanyanya sekaligus menarik kesimpulan.

"…"

"Hinata?"

"Benar. Naruto, aku tidak tahu apakah keputusan ini tepat. Maksudku, aku tidak punya kekasih. Kini ketika ada pria yang mencari pendamping hidup, aku menolaknya."

"Hah, itu tipikal pemikiran wanita pada umumnya," cetus Naruto.

"Maksudmu?"

Naruto menarik napas. "Yah, kau tidak salah. Kau memikirkan untung ruginya. Tapi aku setuju dengan pengakuanmu bahwa pernikahan yang terburu-buru ini sungguh…overwhelming."

"Begitukah?"

"Sasuke tidak tahu?"

"Tidak, Naruto."

"Kalian tidak pacaran?"

"Tidak." Hinata menjawab setelah menarik napas panjang.

Naruto tersenyum, mengerti kebingungan gadis itu. "Hubungan asmara itu…penuh dengan pilihan. Orang luar mungkin melihatnya sempurna tapi pada akhirnya, hanya yang menjalaninya yang paham. Hanya kau sendiri yang lebih tahu, Hinata. Ingat pepatah kita, jangan memutuskan sesuatu ketika bingung, dan jangan berjanji ketika bahagia."

"Tapi aku sudah memutuskannya," ujar Hinata.

"Kalau begitu, tinggal bingungnya," canda Naruto. Ada dengusan yang menandakan Hinata mulai tertawa. "Seandainya Sasuke tahu, dia akan cemburu, lho."

"Ah, N-Naruto!"

"Benar, lho. Si teme itu orangnya posesif, tapi jangan harap dia mau mengakuinya. Aku yakin, tak peduli siang atau malam, dia akan ke rumahmu, mengetuk pintu dan meyakinkanmu kalau dialah yang terbaik, bukan si Kakashi ini. Hei, jangan pingsan Hinata!"

"Uh!"

Naruto meringis. "Solusi apa lagi yang bisa kuberikan, hm?"

"Aku tidak minta solusi, Naruto. Aku hanya ingin cerita dan didengarkan."

"Tapi beda bagi laki-laki, tuh. Wanita sudah lega saat sudah didengarkan, laki-laki harus memberikan solusi kalau ada yang curhat pada mereka," tutur Naruto menjelaskan.

"Aku sudah menolak Kakashi, jadi aku akan fokus pada… adik Presdir."

"Hubungan kalian, maksudmu?" Naruto mengangguk pada keputusan Hinata.

"Hm, bisa dibilang begitu."

"Kau memang tegas, Hinata," puji Naruto.

"Bukannya terdengar egois?"

"Ah, satu lagi Hinata," ujar Naruto serius. "Jangan lagi memandang dirimu tidak berarti. Hanya karena kau lembut, tidak seperti Ino atau siapa pun, bukan berarti orang akan memilihmu sebagai tempat pelarian."

Keheningan menyambut dua orang itu. "Kenapa kau berkata begitu?" tanya Hinata.

Naruto mengambil kuliah Psikologi. Dia mempelajari banyak hal. Karakter manusia berdasarkan tulisan tangan, bentuk wajah, gambarnya. Melihat Hinata, Naruto tahu prejudice atau anggapan yang kerap dialamatkan orang padanya. Pria itu ingin kawan baiknya itu lebih percaya diri. "Menurutku kau orangnya…lovable. Mudah dicintai. Meski suka gugup, pemalu dan pendiam."

Hinata tertawa pelan. "Pertama kau memujiku, kemudian menyebutkan kelemahanku."

Naruto nyengir. "Peluk pujian dan kritikan itu, sama seperti kau memeluk kelebihan dan kekuranganmu."

"Tak hanya pendengar dan pemberi solusi yang handal, kau juga bijak," gurau Hinata.

"Yep, aku bertahun-tahun mempelajarinya di bangku perkuliahan dan selama aku bekerja sebagai HRD. Jadi tahu, dong. Apalagi aku seorang ayah. Beberapa tahun ini aku banyak berubah."

"Terima kasih Naruto. Perasaanku jadi ringan."

Naruto teringat sesuatu. "Oh, semoga kau lekas sembuh, Hinata. Maaf tidak sempat menjenguk."

Hinata menutup telponnya tak lama kemudian. Naruto mendongak ketika ada ketukan di pintu. "Pa, sudah ya? Aku ngomong sama Tante Hinata, dong!" teriak Gaara dari balik pintu.

Naruto membuka pintu dan keluar. Dia mengantongi ponsel kemudian menggendong anaknya. "Tante Hinata sudah tidur."

"Ehem!"

Kushina tersenyum lebar, meminta penjelasan Naruto. Wanita itu duduk manis di depan TV.

"Ibu, Hinata rekan kerjaku." Naruto mengeluh. "Dia wanita yang ditaksir Sasuke."

"Ah, kan masih disukai sahabatmu. Belum jadi kekasih atau istri. Kesempatan masih terbuka lebar, Nak."

Naruto terbelalak. "Ini bukan kompetisi, Bu!"

Kushina mendengus. "Nah, kau kurang kompetitif, Naruto. Makanya kau masih single."

Ayah Gaara itu cemberut. Ibunya benar, tapi masih ada lagi alasan kenapa Naruto masih membujang. Dia melirik Gaara, yang memandangnya penasaran. Melihat bocah itu, Naruto teringat bahwa tidak semua wanita bisa menerima pria dengan seorang anak berumur lima tahun untuk jadi pacar mereka, apalagi suami.

Kushina paham itu. Tapi wanita itu tidak menyesal atau berkeluh kesah mengenai anaknya. Naruto bahagia dengan Gaara, dan dirinya dan Minato juga sangat menyayangi bocah itu. "Gaara, kau suka Tante Hinata?" tanyanya.

Gaara berhenti membuka buku cerita bergambar yang dibelikan kakeknya. "Suka," jawabnya singkat.

"Ibu!" Naruto memperingatkan.

"Nenek ingin ketemu dengannya," lanjut Kushina, tidak gentar.

"Nenek ikut ke kantornya Papa saja." Gaara nyengir seraya memberi usul.

Kushina menatap Naruto. Wajah cantiknya serius. Naruto menelan ludah. Jika sudah seperti ini, bukan saatnya main-main dengan ibunya. Bahkan pria itu gugup. "Naruto, pokoknya tahun ini kau harus menggelar pesta pernikahan!" ancamnya.

"Ta-tahun ini? Aduh, hanya tinggal beberapa bulan!"protes Naruto lemah.

Sasuke tidak memberitahu terlebih dahulu bahwa dia akan menjenguk gadis yang ditaksirnya. Hanabi membukakan pintu untuknya. "Kakakmu sudah sehat, kan?"

Hanabi membimbing Sasuke ke beranda di samping rumah. "Kakak sudah mendingan," jawab gadis SMA itu. "Dua hari tidak masuk kerja benar-benar dihabiskannya di tempat tidur."

Sasuke cemas. Shiftnya di rumah sakit tidak membolehkannya pulang. Posturnya kaku ketika seorang pria keluar dari ruang kerja.

"Kakashi-san," sapa Hanabi, gelisah menyadari ada getaran tidak mengenakkan menguar dari dua pria dewasa itu.

Sasuke tidak bergeming. Dia mengamati Kakashi dengan wajah selentur batu.

Kakashi menyunggingkan senyum yang jauh dari ramah. "Jadi, kau alasan Hinata menolakku?" Matanya menimbang Sasuke dari atas sampai bawah.

Dokter muda itu hanya balas menatap Kakashi dingin. "Maaf?"

Kakashi mengedikkan bahu setelah mengalami pertarungan mata dengan Sasuke. "Namaku Kakashi Hatake. Sampai jumpa." Kakashi mengangguk pada Hanabi sebelum keluar rumah.

"Siapa dia?" tanya Sasuke.

Hanabi meringis tidak nyaman. "Itu, kuceritakan kapan-kapan saja, ya?" Dia sendiri heran kenapa Kakashi memperkenalkan diri.

Sasuke mengangguk, namun dalam hati sedang mencocokkan puzzle yang diberikan sahabatnya tadi malam. Dia tahu.

Hinata merapikan jaket saat Sasuke masuk. Ada kekagetan dalam mata terangnya. "Sasuke?"

"Aku tinggal, oke? Kalau butuh apa-apa, panggil aku." Hanabi melesat secepat kilat. Bukannya dia tidak menyadari ketegangan yang menyesakkan itu. Hanya saja, sebagai seorang remaja dengan minim pengalaman, Hanabi menyerahkan semuanya pada kakaknya. Gadis itu yakin Hinata tidak selemah kelihatannya.

"Maaf aku tidak memberitahu, tapi aku ingin tahu keadaanmu," ujar Sasuke, mengambil tempat duduk di sofa samping gadis itu. Dia mengamati gadis yang tampak sangat pucat itu.

Hinata tersenyum lemah. "Kau dari rumah sakit?"

Sasuke mengangguk. Dia meletakkan kantung kertas yang dibawanya. "Aku membawakan vitamin. Kuharap bisa membantu."

"Terima kasih." Hinata terenyuh. Dia berdebar ketika Sasuke menatapnya. "Uh, Sasuke-"

"Kau sudah tidak lemas?"

"Eh? Tidak, aku sudah baikan."

Sasuke merasakan kekakuan sikap Hinata. Memang gadis itu pemalu tapi kali ini yang mengganggunya. Dia sadar dengan tatapan tidak nyaman yang diarahkan padanya.

"Sasuke," Hinata ragu. "Kau bertemu dengan laki-laki berambut perak tadi?"

Sasuke mengangguk. "Iya. Namanya Kakashi, benar?"

Hinata makin pucat. "Dia…"

"Aku ke sini untuk melihatmu, bukan untuk menuntut penjelasan atau keterangan," potong Sasuke menegaskan. Walau begitu, wajahnya tampak sedikit gusar. Ketika Hinata mengangkat kepala, tampang pria itu sudah netral lagi.

Ada ekspresi yang tak bisa dipaparkan di wajah putih Hinata. "Terima kasih atas pengertiannya," ujarnya pelan. Saat ini, sekedar mengulang cerita yang diterangkannya pada Naruto tadi malam terasa berat. Lidahnya mendadak pahit. Menelan ludah pun susah.

"Hei, kalau sudah sembuh, bagaimana kalau kita ke Konoha Tempo Dulu?" ajak Sasuke tiba-tiba.

"Apa?" Hinata agak kaget sebelum bisa menguasai diri. "Itu kan mulai minggu depan."

Ada seulas senyum di bibir Sasuke. Dia mencondongkan badan. "Sayang sekali kalau kita melewatkan perayaan yang hanya ada setahun sekali ini."

"Kita?" Hinata tercengang. "Kau bisa pergi sendiri."

Sasuke menggeleng. "Aku ingin pergi denganmu."

"Hanya berdua?"

"Kita bisa mengajak Naruto dan Gaara."

Hinata tersenyum.

Sasuke mengamati gadis itu dan berdehem. "Jangan-jangan kau mengharapkan hanya ada kita?"

Hinata mulai memerah. Segala galau karena Kakashi menguap. "Ti-tidak!" elaknya, terlalu keras.

Hinata tidak lagi tegang dan wajah Sasuke mencair. Kedua orang itu ngobrol ringan. Hanabi yang diam-diam bolak-balik berjingkat di luar bernapas lega. Tadinya adik Hinata itu was-was. Awas saja kalau Sasuke berani mencerca kakaknya yang sakit, Hanabi tidak kekurangan nyali untuk mengusirnya!

Hanya Naruto dan Sasuke yang tahu percakapan yang terjadi di antara mereka tadi malam. Setelah Kushina puas merecoki putra tunggalnya, Naruto menghubungi Sasuke. Untungnya saat itu sedang tidak ada pasien yang harus ditangani Sasuke. Secara garis besar Naruto memberitahu sahabatnya tentang Kakashi.

Sasuke bukan orang yang amat toleran, namun dia memilih untuk menunggu dan sabar, sampai Hinata sendiri yang akan menjelaskan. Sebagai pria yang lebih tua dari Hinata, Sasuke memang lebih bijak dan pengertian. Toh Naruto menyatakan bahwa Hinata lebih memilihnya daripada Kakashi. Dokter muda itu tidak merasa cemas lagi.

Hinata bingung ketika tiba-tiba Sasuke memalingkan wajah ke arah pintu.

"Hanabi, tidak perlu mondar-mandir. Aku bukan serigala yang akan makan gadis berambut indigo."

Takut-takut Hanabi muncul. "Kok tahu, sih?" sesalnya.

Sasuke nyengir. "Aku merasakannya."

"Sasuke bukan serigala, Hanabi," imbuh Hinata, geli.

Adik Itachi itu tampak berpikir. "Hn, aku hanya dokter yang bermaksud mengobati pasien berjaket merah."

TBC

A/N: Ehem, betul, Konoha Tempo Dulu terinspirasi dari Malang Tempo Dulu. Hihi. Sekedar intermeso dari The Librarian And The Godfather, karena cerita itu sudah tamat dan saya tidak akan menambahkan apa pun dalam cerita dengan lima chapter itu, saya akan menjelaskan beberapa hal. Hanabi, sebagai anak Hinata dan Kakashi, memanggil Itachi dengan sebutan 'Om' karena rentang perbedaan usia mereka yang jauh. Jadi bukan dengan 'Kakak'. Ya, setelah Kakashi menunjukkan wajah, ceritanya melompat beberapa tahun kemudian. Saya tidak merencanakan membuat cerita itu dengan jumlah chapter yang banyak. Jadi saya bisa fokus ke Tuan Tampan Dan Nona Pemalu. Begitu. Selamat membaca.