Title: Tuan Tampan Dan Nona Pemalu
Rating: T
Characters/Pairings: Sasuke-Hinata
Genre: Romance / Friendship
Warnings: AU. Agak OOC. Selamat membaca cerita ini sebagaimana saya menulisnya. Cerita ini hanya diperuntukkan untuk hiburan semata.
Summary: "Benar, lho. Si teme itu orangnya posesif, tapi jangan harap dia mau mengakuinya. Aku yakin, tak peduli siang atau malam, dia akan ke rumahmu, mengetuk pintu dan meyakinkanmu kalau dialah yang terbaik, bukan si Kakashi ini." AU
Disclaimer: Sekali lagi, Naruto bukan milik saya. Kalau saya yang punya, gak bakalan deh saya nulis fanfiksi.
…
Chapter 10
.
"Miss Hyuuga adalah salah satu aset perusahaan, Little Brother." Itachi mengingatkan adiknya yang barusan masuk rumah dan menemaninya minum kopi. "Kalau sampai ada apa-apa dengan supervisorku itu, kau yang harus membereskan kekacauan yang terjadi."
"Hn?" Sasuke melotot. Dia menghempaskan pantatnya yang berbalut celana hitam di kursi. Dengan agak kasar pria itu membuka jus tomat kalengannya. "Aku tidak berbuat yang macam-macam dengan Hinata," tukasnya setengah jengkel.
"Kau mendekatinya." Itachi tersenyum simpul. Sasuke tahu senyum Itachi menandakan pria itu sedang menguji Sasuke. Itachi kakak yang hebat, tapi sering juga Sasuke berpikir bahwa laki-laki berkuncir itu adalah jelmaan setan dari neraka. Senyum Itachi pertanda banyak hal. Jika bibirnya sudah melengkung dan matanya berkilat, Itachi bisa jadi adalah orang terakhir yang ingin kau temui.
"Aku tidak menyangkal," balas Sasuke datar.
"Rasa ketertarikanmu dangkal?"
"Jangan bermain kata!"
Itachi tertawa kecil. Tanpa berusaha pun, pria itu mampu jadi jelmaan fantasi tiap wanita. Tampan, cerdas, sedikit licik. Kalau dia berkedip, nyamuk pun tak berani bernapas, cicak pun berhenti merayap.
Sasuke melepaskan jaket birunya, kemudian menyampirkannya di punggung kursi. Dia menghela napas dan menyisir rambut hitam kebiruannya dengan jarinya yang panjang dan besar. "Kenapa aku mendapat perasaan bahwa kau lebih membela supervisormu dari pada aku?"
Itachi mengedikkan kepala sedikit. Rambut panjangnya terayun. "Tentu saja. Hinata karyawanku."
"Karyawanmu lebih penting dari pada adikmu sendiri?" Sasuke melipat tangan, sedikit menantang kakaknya.
"Jelas, dong. Penting mana, aku atau Miss Hyuuga?"
"Tentu saja Hinata!"
Itachi nyengir. "Kurang istirahat membuatmu gampang tersulut." Dia mengamati adiknya, simpatik. Sebagai dokter, jam tidur Sasuke memang tidak seteratur dirinya. Jarang sekali ada kesempatan dua bersaudara itu duduk santai, bertukar pikiran atau bertengkar di rumah. Bukan berarti keduanya tidak akrab. Pria yang memakai sweater ungu dan bercelana wool itu tidak akan lupa bagaimana ketika kecil dulu Sasuke selalu mengikutinya kemana-mana seperti anak ayam.
"Omong-omong, aku tidak pernah melihatmu seserius ini," gumam Itachi.
Sasuke mengusap matanya. "Kapan aku pernah tidak serius?" Sasuke Uchiha yang dilihat orang selalu tampil cool, kadang dingin, sering acuh dan jarang berkepala panas. Pria berambut aneh itu tidak akan mengusap kepala, menjambak rambut karena frustasi atau berteriak. Para fansnya pasti akan berseru, "Omaigat, Sasuke melenceng dari karakter! Out of character abis!" Kalau sahabat Naruto itu tersenyum, para gadis bisa pingsan. Bila Sasuke tertawa, mereka akan menjerit, "Kyaa! Tidak mungkin! Impossible!" Dan ketika Sasuke bertampang bengis, dingin, mereka akan berkomentar, "Nah, ini Sasuke yang asli! Sepanas es, selembut iceberg dan selunak batu!" Hah, Sasuke dongkol setengah mati. Dia kan manusia, punya hati, perasaan dan emosi. Bisa senang, susah, senewen.
"Kok tahu aku dari rumah Hinata?" tanya Sasuke tiba-tiba.
"Intuisi," jawab Itachi enteng.
Sasuke nyaris melengos.
"Dik, ibu jadi menyindirku gara-gara kedekatanmu dan Hinata," cerita Itachi. "Ibu heran, apa aku kurang tampan sehingga tidak ada cewek yang nyantol."
"Uh, kau nyenggol saja tidak," balas Sasuke. Dia nyengir melihat Itachi agak muram. "Mungkin karena auramu menakutkan," tunjuk si adik.
"Padahal kukuku sudah putih, tidak lagi ungu," kata Itachi, berpikir.
…
Konoha Tempo Dulu merupakan perayaan tahunan yang paling dinanti di Konoha. Perayaan itu dilaksanakan selama beberapa hari. Sesuai temanya, maka jajanan yang dijual, pagelaran yang ditampilkan dan dress code yang dianjurkan juga bernuansa jadul alias jaman dulu. Acara itu dimulai dari sore hingga malam.
Hinata memakai yukata cerah. Rambutnya gelap sehingga cocok dengan warna bajunya. Dia dan adiknya berangkat bersama Neji. Trio Hyuuga itu berangkat setelah Neji dan Hinata pulang kerja. Mereka sepakat bertemu dengan kawan-kawan Hinata di tempat parkir.
"Om Neji, aku jadi ninja, lho," cetus Gaara. Bocah itu memakai sandal biru dan berbaju ala ninja warna merah, yang lebih gelap dari rambutnya.
Neji, yang beryukata coklat sewarna rambutnya, berjongkok dan mengusap rambut anak Naruto itu. "Kau cocok jadi ninja," ujarnya. "Nanti Om belikan boneka, deh."
Gaara nyengir. "Boneka rakun, ya?"
"Apa pun!"
"Enaknya jadi anak kecil," tukas Naruto. "Ditraktir sana sini, dibelikan ini itu."
"Kau terdengar cemburu, dobe."
Naruto mendengus. "Teme!"
Tidak semua pengunjung mematuhi dress code yang dianjurkan. Banyak juga orang yang memakai jeans, bersepatu, ber-high heels (entah para wanita ini menderita dalam hati atau memang terbiasa jalan dengan kaki berjinjit karena sepatu mereka, sungguh mengherankan) dan berbaju dengan style modern. Tapi, kapan lagi bisa mengitari jalanan panjang tempat KTD diadakan dengan memakai baju tradisional?
Naruto mendadak gugup. Dia celingukan sebelum mengarahkan matanya pada Hinata. Pria itu mengusap ujung lengan yukata oranye tuanya. "Ano...Hinata, nanti kalau ada wanita yang histeris melihatmu, kau jangan kaget. Jalan terus saja, oke?"
Hinata tentu keheranan. Tidak ada yang histeris melihatnya kecuali Hanabi, bila sang kakak pulang dari supermarket dan dia menuntut pesanannya. "Sista, es krimmmm!" Benar, selama ini hanya sang adik yang histeris.
Sasuke menatap kawannya. Mata hitamnya meminta penjelasan. Pria itu tahu bahwa Naruto tidak sebodoh yang disangka orang. Hanya lebih bodoh. Seringnya. Yah, kadang-kadang cerdiknya muncul, sih.
"Tidak kenapa-napa, teme!" Naruto menggeleng. Mencurigakan.
Sasuke tidak percaya. Diam-diam dia agak sebal pada Naruto. Mikoto, sang bunda tercinta, terang-terangan memuji keberanian Naruto untuk jadi ayah angkat dan mampu mengurus anaknya sendirian. Keputusan Naruto memang dianggap berani. Sasuke cukup kagum padanya, sebenarnya. Kalau ayah dan anak itu sudah mampir ke rumah, Sasuke dan Itachi terlupakan. Mikoto dan Fugaku hanya akan mencurahkan perhatian mereka pada si pirang dan si merah itu. Mikoto akan memasak dan membuat kue untuk Gaara. Bahkan Fugaku akan bermain-main dengan bocah itu. Sungguh luar biasa pengaruh Naruto dan Gaara!
Belum sempat Naruto menjelaskan, seorang wanita menghambur dan memeluk Hanabi. Hanabi menjerit. "Ini Hinata?" tanya Kushina antusias.
"Bu-bukan. Aku adiknya." Hanabi ngeri.
Kushina mengedarkan pandangan. Sampailah matanya pada Hinata yang terpaku. Tak mempedulikan kengerian di wajah putranya, keheranan di wajah Neji dan Sasuke, wanita berambut merah itu memamerkan senyum lebarnya. "Kau Hinata?"
Hinata mengangguk. "Benar." Nadanya mengambang.
"Yang telpon-telponan dengan Naruto beberapa malam lalu?" cecar Kushina.
"Ibu!" Naruto malu. "Kau mempermalukanku!" Dia menepuk wajahnya. Bahkan ibunya jauh lebih enerjik daripadanya. Lebih lebih lebih ceria. Uh!
"Teman spesialnya Naruto?"
Naruto tidak bisa lebih malu lagi. Dia berharap tanah yang dipijaknya akan membelah dan menelannya bulat-bulat. Atau lebih baik lagi, black hole menelannya dan memuntahkannya di dimensi lain di mana Gaara dan dirinya bisa hidup tenang dan ibunya akan jadi wanita kalem.
Sasuke melirik Naruto tajam. Dia mendesis. "Apa-apaan ini?"
Hinata memerah. Sayangnya, Kushina salah mengartikan reaksi gadis itu. "Hyaaa, jadi benar? Oh, betapa beruntungnya kau Naruto, ada gadis secantik dan sebaik nona ini yang bersedia menerimamu dan Gaara. Jangan membuat calon mantu ibu kecewa!"
Naruto ingin pingsan.
Sasuke siap menerjang Naruto.
Untungnya Gaara memanggil neneknya. Situasi yang nyaris tak terkendali itu tidak lagi memanas. Hinata terkaget-kaget. Menyadari bahwa gara-gara dirinya bisa jadi KTD ditutup, karena menimbulkan kericuhan dan pertumpahan darah, Hinata memutar otak. Dia tak ingin muncul di koran besok, dengan headline tebal dan besar-besar bernada 'Karena Ulah Seorang Gadis Berinisial HY (23), Konoha Tempo Dulu Ditiadakan.' Di bawahnya akan tertera berita yang membuat geram seisi Konoha:
HY (23), gadis yang meminta supaya namanya tidak disebut karena khawatir dengan keselamatan hidupnya setelah ini, kini meringkuk sebagai tahanan rumah. Karena kedunguannya, dua orang pemuda menumpahkan darah mereka. Malangnya, salah seorang pemuda itu adalah seorang ayah dengan anak kecil menggemaskan berusia lima tahun. Sedang pemuda lainnya adalah salah satu dokter terbaik yang dimiliki Konoha, yang hanya muncul sekali dalam satu generasi. Permasalahan apa yang menyebabkan event sehebat KTD berakhir sampai di sini? Baca kelanjutannya di halaman tengah. Full page! Special!
'Ayah…Huhuhu.' Putra angkat pemuda tampan berambut pirang itu menangis tersedu-sedu. Lolongan dan raungannya memilukan warga. Neneknya berusaha menenangkan cucunya. 'Sayang, tidak apa-apa. Marilah kita berdoa semoga papamu diberi keselamatan. Oh, bukan Nenek lho penyebab semua ini.' Sedang kakak pemuda satunya, yang merupakan salah satu pria tertampan yang ada di muka bumi, berkomentar dingin. 'Aku akan memastikan hal ini di resume Miss Hinata Hyuuga. Yah, gadis itu juga pernah salah kirim produk ke lain negara. Oh, maaf, dilarang menyebut nama, ya? Aku lupa.'
"Kau…lebih dekat dengan Naruto?" gumam Sasuke dengan suara tercekat.
Neji tanggap. Dengan tangannya yang terentang, dia mendorong orang-orang ramai dan cerewet itu supaya jalan duluan, meninggalkan Sasuke dan sepupunya.
Hinata berjalan dan menghadap Sasuke. Dia mengulurkan tangan takut-takut. Sasuke tampak tegang ketika lengannya disentuh gadis itu. "Naruto memang enak diajak curhat. Tapi kami hanya teman," jelas Hinata. Entah kenapa ada perasaan dia harus meluruskan semua ini.
Sasuke menghela napas. Dia tahu hal itu. Tapi Kushina membuatnya cemas. Kemarin Kakashi, sekarang Naruto. Oh, bukan, bukan sahabatnya itu, melainkan ibunya. Dia mengangkat tangan dan menyibakkan rambut Hinata. Jari-jarinya yang dingin merasakan panas kulit wajah gadis Hyuuga itu, entah karena Hinata malu atau gadis itu memang masih agak demam. "Aku menginginkanmu, Hinata."
Hinata terpana. Dia panas dingin. "Aku-" Sasuke menunggu kelanjutannya. Untungnya parkiran itu agak gelap. Orang yang lewat hanya berpikir sederhana. Paling-paling sepasang kekasih yang bermesraan. "Kau menginginkanku?" Hinata menemukan suaranya.
Sasuke mengibaskan lengannya sehingga tangan Hinata tergelincir. Namun kemudian dia menangkapnya dan menggenggam jari-jari kecil gadis itu. "Iya. Bukan sebagai teman. Aku tidak ingin kau hanya memandangku sebagai teman, kawan Naruto, adik Presdirmu." Suasana romantis itu buyar saat seorang pria pirang melintas dan berseru, 'Miss Hyuuga'.
Sasuke ingin mengumpat. Dia menarik tangannya dari wajah Hinata, namun tetap menggenggam tangannya.
Deidara berhenti. Dia menelan ludah menerima tatapan Sasuke yang menyerukan 'Mundur atau ini hari terakhirmu hidup!' Pria pirang beryukata merah itu meringis. "Oh, hai Miss. Bersama Sasuke, rupanya."
Hinata menoleh, memandang wajah Sasuke yang mengeras. Cepat-cepat dia menoleh dan balas berseru, "Iya, Sir, aku bersama pacarku."
Sontak Deidara dan Sasuke menoleh. Hinata, yang mendapati dua pria itu memandangnya lekat-lekat, memerah. Sasuke tersenyum lebar dan tanpa mengindahkan rekan kerja kakaknya, menarik Hinata dan merangkul gadis itu. Merangkul pacarnya.
…
Naruto lega ketika dia menoleh ke belakang dan melihat Sasuke dan Hinata menyusul rombongannya. Pria itu sadar ada yang berubah ketika melihat Sasuke melingkarkan lengannya dengan protektif ke pundak Hinata, melindunginya dari tabrakan dengan pengunjung yang semakin detik makin menyemut.
"Oi teme, sebentar lagi ada traktiran, lho!" seru Naruto. Dia mengerling kawannya dan Hinata bergantian. "Yang baru jadian harus mentraktir."
Sasuke nyengir. Di lain kesempatan dia akan mencela karibnya itu dan menyatakan bahwa traktiran itu hanya untuk pasangan saat masa remaja. "Boleh," balasnya, tak bisa menutupi rasa gembiranya. Laki-laki itu punya keinginan untuk mengatakan pada Kushina bahwa Hinata, yang katanya adalah (mantan) calon mantunya, sudah tidak available.
Hinata membalas tatapan Hanabi, yang terlihat syok sekaligus senang. Bibir adiknya itu melantunkan 'Traktiran. Es krim. Coklat.' Tanpa suara. Hah, dasar Hanabi!
Gaara berlari. Tadinya bocah itu menarik tangan Neji. Mereka ke stan yang menjual boneka. Ketika kembali ke rombongan, anak itu sudah memeluk boneka rakun yang sebenarnya jauh dari imut. "Papa, lihat!"
Naruto mengalihkan perhatian pada anaknya sepenuhnya.
"Papa, gendong, dong!" Rupanya baru jalan sebentar saja Gaara sudah agak kesal. Wajar saja, karena pengunjung banyak sekali. Tubuhnya pendek. Yang dilihatnya hanya betis manusia. Tanpa ragu Naruto menaikkan anaknya ke bahunya, kaki kecil Gaara di tiap sisi bahu bidangnya.
"Nah, pegangan ke kepala Papa, oke?"
"Oke, Papa."
Hinata terkikik menyaksikan ulah Gaara.
"Kau capek, Hinata? Aku gendong, ya?" Sasuke menawarkan. Ada seringai di wajah tampannya.
Hinata berhenti tertawa. Lagi-lagi wajahnya panas.
Gaara mendengarnya. Dia menarik rambut ayahnya supaya mau berbalik. Naruto menurut. "Nanti gantian sama aku," ujarnya dengan suara anak lima tahunnya. "Biar Papa menggendongmu, Mama Hinata."
Sasuke mendelik.
Hinata terperangah.
Gaara nyengir, polos.
Naruto menatap Sasuke, takut.
Oh oh!
…
TBC
Sasuke murka. "Kenapa kau buat aku seperti itu? Imejku runtuh!" tukasnya penuh kemarahan. "Aku tidak seromantis itu!"
Aqua hanya mengangkat bahu. Mata gelapnya balas menatap Sasuke dingin. "Kalau kau keberatan kubuat OOC, chapter ini kali terakhir kemunculanmu!" ancamnya sungguh-sungguh.
Sasuke mendengus. "Aku tak takut. Masih banyak pair yang akan memakaiku sebagai tokoh utama," sambungnya congkak.
"Oh, kau tidak mau kupasangkan dengan Hinata?" Aqua menaikkan alis.
Sasuke mendadak gugup. Wajahnya panik. "Bu-bukan begitu Hinata!" Dia celingukan, mencari Hinata, takut gadis itu mendengarnya.
Hinata muram. "Ah, maaf Sasuke. Aku memang begini, sih."
"No no!"
Sementara Sasuke meyakinkan Hinata, tanpa rasa bersalah Aqua (nee Fire) melanjutkan mengetik dan menulis A/N di bawah halaman.
A/N : Yup, dua chapter dalam dua hari berturut-turut. Hehe. Semoga teman-teman puas dengan porsi kemunculan Sasuke yang nyaris 99,9 persen (Apa Sasuke memuaskan? Hoho). Kalau ada typo, ada salah nama, maap. Trims atas kesetiaannya membaca cerita saya yang sekarang sudah mencapai chapter 10. Yap, saya juga suka Gaara dan Papa Naru. Saya bersenang-senang saat menulis chapter ini, semoga kawan-kawan suka. Selamat membaca!
