Title: Tuan Tampan Dan Nona Pemalu
Rating: T
Characters/Pairings: Sasuke-Hinata
Genre: Romance / Friendship
Warnings: AU. Agak OOC. Selamat membaca cerita ini sebagaimana saya menulisnya. Cerita ini hanya diperuntukkan untuk hiburan semata.
Summary: "Benar, lho. Si teme itu orangnya posesif, tapi jangan harap dia mau mengakuinya. Aku yakin, tak peduli siang atau malam, dia akan ke rumahmu, mengetuk pintu dan meyakinkanmu kalau dialah yang terbaik, bukan si Kakashi ini." AU

Disclaimer: Sekali lagi, Naruto bukan milik saya. Kalau saya yang punya, gak bakalan deh saya nulis fanfiksi.

Chapter 11

.

"Sabtu ini?" Hinata menimbang.

"Iya. Kita keluar, yuk. Tidak akan lama, kok. Jam satu aku akan mengantarmu pulang," bujuk Sasuke dari seberang.

Hinata mengecek, apa ada jadwal lembur hari Sabtu, yang tiba lusa. Setelah jadian mereka memang tidak sempat kemana-mana. "Aku sih mau saja, tapi kalau ada lembur mendadak…" Ucapan Hinata menggantung. "Biasanya lemburnya hanya setengah hari, sih."

"Hn!" Sasuke mendengus. Entah kenapa Hinata bisa merasakan seringai setan menyembul dari bibir tipis Sasuke. "Jangan khawatir soal itu," ujar pria itu meyakinkan. "Aku akan memastikannya pada Itachi." Hah, licik!

Hinata gugup. "Hei, jangan bawa-bawa Presdir, dong!" protesnya jengah.

"Hn, aku hanya memastikan saja," Sasuke menyeringai.

Kadang kalau malam dan Sasuke tidak ada shift malam, dia apel ke rumah gadisnya. Kemudian mereka akan makan di luar atau sekedar ngobrol saja. Kadang juga kalau Sasuke sedang longgar, dia akan menelpon Hinata, seperti yang sedang dilakukannya sekarang.

"Bagaimana kalau Minggu?" Hinata memberi alternatif.

"Tidak bisa. Shiftku tidak kenal hari," balas Sasuke.

"Baiklah." Hinata setuju.

Gadis itu jadi agak sungkan jika bertemu Itachi di kantor. Memang Hinata tidak menunjukkan secara terang-terangan bahwa dia sudah bersama adik pria itu, dan Itachi juga tidak menyinggungnya. Namun tetap saja ada rasa risih.

Hanabi benar-benar memanfaatkan traktiran dari kakaknya. Gadis belia itu meminta es krim, coklat, minuman isotonic, bekal makan siang yang cukup untuk memenuhi kapasitas perutnya yang luar biasa. "Pacarmu ini tampan sekali, Sista, jadi traktiranmu harus sepadan alias banyak dan meruah," kilahnya. Hinata tidak tega menolak mengingat selama ini Hanabi adalah salah satu suporter terbaiknya.

Sesuai janjinya, Sasuke menjemput Hinata jam sembilan lebih sedikit. Pria itu memakai kaus wool biru laut dan jeans hitam. Berbeda dengan aura serius yang kerap ditunjukkannya, Sasuke jarang berpakaian formal. Meski begitu, tanpa berusaha pun, apa pun yang dikenakan dokter muda itu selalu tampak serasi. Hinata ragu akan ada yang berani mencela sekali pun kekasihnya itu berpakaian karung beras dan bersandal jepit.

Menyadari bahwa Sasuke sudah terkesan dengan dirinya yang apa adanya, Hinata tidak berdandan berlebihan. Celana gelap dan gaun ungu sudah nyaman baginya. Lagi pula, kencan mereka tidak lama.

Mereka menuju arena permainan di sebelah bioskop. Game Zone itu pembunuh waktu yang manjur. Meski akhir pekan, pengunjung belum terlalu membludak. Setelah itu mereka memesan tiket dan nonton. Sasuke setuju dengan pilihan Hinata untuk menonton film bertema fantasi yang sudah ingin ditontonnya dari dulu.

Tadinya Hinata mengira Sasuke akan mengajaknya berbisik-bisik mesra. Bukannya gadis itu mengharapkannya, tapi melihat Sasuke, Hinata berpikir dia tipe pria yang tak akan duduk diam dan manis jika dekat ceweknya. Hinata mengira Sasuke adalah pria yang sedikit suka mengambil kesempatan dalam kesempatan.

Harry Potter seri terakhir itu luar biasa seru. Efeknya menawan, soundnya kencang dan akting para pemainnya keren. Hinata berdebar menontonnya.

Menyadari bahwa Sasuke diam saja sedari tadi, Hinata mencuri pandang. Suasana bioskop memang gelap sehingga agak susah menilik wajah seseorang. Tapi secercah sinar mata seseorang biasanya mudah ditangkap. Nyatanya Hinata terkesiap mendapati pemandangan yang dilihatnya.

Bila tadinya dia cemas Sasuke tidak suka dengan film yang dipilihnya, sekarang Hinata hanya bisa tersenyum simpul.

Sasuke Uchiha, kekasihnya, yang berprofesi sebagai dokter dan merupakan adik Presdir Hinata, tertidur lelap!

Hinata tak tega untuk membangunkannya. Ada gurat kelelahan di wajah tampan pria muda itu. Bibirnya sedikit terbuka. Matanya terpejam rapat. Kerutan kecil menghiasi alisnya. Pelan, Hinata mengulurkan tangan dan mengusapnya sampai kerutan itu hilang.

Hah, ngajak nonton, malah ninggal tidur!

Hanya satu alasan yang diketahui Hinata kenapa Sasuke sampai melakukannya. Pasti dokter itu habis bekerja semalaman, kemudian langsung kencan!

Hinata maklum. Dunia kerja memang tidak seperti saat dia masih sekolah. Ada banyak tantangan, tekanan dan masalah di lingkungan kerja. Jika tidak bisa menyikapinya dengan dewasa, yang ada hanya ngambek. Kekanakan banget!

Hm, sayang sekali, batin Hinata seraya mengalihkan matanya kembali ke depan. Film yang mereka (dalam hal ini hanya Hinata sendiri) tonton adalah salah satu film yang paling ditunggu-tunggu berjuta umat manusia, namun Sasuke lebih memilih melewatkannya. Tapi Hinata tak keberatan. Baginya, menghabiskan waktu bersama orang terkasih adalah yang terpenting. Meski ditinggal ke alam mimpi sih. Haha (tertawa miris)

Namun ada hal yang dipelajari Hinata. Bahwa ternyata wajah tidur Sasuke sama menawannya dengan wajahnya saat dalam keadaan terjaga. Hanya auranya yang berbeda. Wajah tidur ini kalem, tenang dan santai.

Iseng, Hinata mengulurkan tangan dan meraih tangan Sasuke, kemudian menyelipkan jari-jarinya di sela-sela jari besar Sasuke. Untung saja suasana bioskop gelap sehingga tak ada yang tahu wajah gadis itu panas dan merah.

Sentakan kecil membuat Hinata agak kaget. Ternyata Sasuke menggerutu kecil, tapi tetap pulas. Hanya saja, jari-jarinya balas menggenggam Hinata, seakan menemukan sesuatu yang selama ini hilang dan dicarinya, dan akhirnya menemukannya kembali.

"Maaf, aku tertidur," ulang Sasuke. Ketika film telah habis, dia dan kekasihnya menuju food court di lantai satu.

Hinata tertawa geli. "Duh, kau memaksaku keluar. Tapi begitu kita nonton, kau malah enak-enakan tidur," godanya.

Sasuke tampak malu. Ada sedikit rona merah di wajah pucatnya. Hinata membangunkannya ketika credit film bergulir dan petugas kebersihan gedung mulai masuk dan membersihkan bioskop supaya ketika film selanjutnya main, keadaan sudah bersih. "Hn!" gerutunya tak jelas.

"Apa karena film yang kupilih bukan kesukaanmu?" tanya Hinata sejurus kemudian.

"Bukan! Bukan karena itu!" sanggah Sasuke cepat. Dia mulai merutuk dalam hati.

"Kau habis dari rumah sakit?"tebak Hinata.

Enggan, Sasuke mengangguk.

"Kalau capek, kita keluar saat kau longgar saja," usul Hinata, yang disambut gelengan oleh Sasuke.

"Soalnya aku benar-benar ingin keluar denganmu," aku Sasuke jujur. Wajahnya serius.

Hinata terenyuh. Kelihatannya Sasuke benar-benar serius. "Aku juga, kok, ingin jalan-jalan denganmu. Meski akhirnya aku melek sendirian." Dia tertawa lagi.

Sasuke cemberut. "Ah, pasti aku menikmati wajahku," balasnya tak mau kalah.

Ketahuan, Hinata tergagap.

Sasuke tersenyum lebar.

"Eh, Sasuke, aku ingin tahu hari-harimu sebagai dokter," cetus Hinata.

Walau tampak kaget pada awalnya, Sasuke mengangkat bahu, senang. "Misalnya apa?"

"Yah…apa ya?" Hinata ikut mengangkat bahu.

Sambil makan, Sasuke bercerita. "Shiftku ada tiga, mulai pagi sampai siang, siang sampai malam, dan malam sampai pagi. Selain di rumah sakit, aku juga ke klinik. Kau sudah tahu partnertku yang berambut pink, bukan? Ya, kau benar, Hinata, tadi malam adalah shiftku, dan berakhir sampai sebelum aku menjemputmu. Makanya aku memang lelah dan mengantuk."

Hinata mengangguk, paham. "Begitu."

"Setelah ini, aku kembali ke rumah sakit."

Terkejut, Hinata membelalakkan mata. "Tapi kau tadi hanya tidur dua jam? Masa mau kembali bekerja?" serunya tak percaya.

Sasuke nyengir. "Aku sudah biasa. Kerja lama dan istirahat hanya dalam hitungan jam."

"Ah, Sasuke, aku jadi tidak enak sendiri," ujar Hinata, merasa sedikit bersalah.

"Jangan! Tapi pada intinya, semua lancar kan?" sergah Sasuke, tidak suka dengan ekspresi mendung di wajah sang pacar.

"Lancar jaya, terutama kalau si pacar sampai bisa tidur," sahut Hinata manis.

Gemas karena digoda terus, Sasuke membalas dengan satu-satunya tindakan yang bisa dipikirkan otaknya yang fresh. Pria itu tersenyum –campuran antara licik dan cerdik- kemudian mencondongkan badan dan menyarangkan ciuman di bibir Hinata. Tak peduli bahwa mereka berada di tempat umum dan berpasang-pasang mata yang sedari tadi memandang mereka kini nyaris melompat dari rongganya.

Pengharapan semua pasangan adalah bahwa kebahagiaan yang mereka raih akan berlangsung selamanya. Tapi seperti lirik lagunya Scorpion, Dust In The Wind; 'Nothing lasts forever but the earth and sky.'

TBC

A / N : Masih banyak yang bisa terjadi, jadi sepertinya Sasuke belum bisa tenang. Maap kalau ada salah ketik dsb. Saya ngetik sedang saat ini sedang black out alias mati lampu. Ih! Chapter ini saya khususkan untuk Sasuke dan Hinata. Karakter yang lain saya istirahatkan dulu. Terima kasih untuk teman-teman yang setia mengikuti cerita ini. Selamat membaca!