Title: Tuan Tampan Dan Nona Pemalu
Rating: T
Characters/Pairings: Sasuke-Hinata
Genre: Romance / Friendship
Warnings: AU. Agak OOC. Selamat membaca cerita ini sebagaimana saya menulisnya. Cerita ini hanya diperuntukkan untuk hiburan semata.
Summary: "Benar, lho. Si teme itu orangnya posesif, tapi jangan harap dia mau mengakuinya. Aku yakin, tak peduli siang atau malam, dia akan ke rumahmu, mengetuk pintu dan meyakinkanmu kalau dialah yang terbaik, bukan si Kakashi ini." AU

Disclaimer: Sekali lagi, Naruto bukan milik saya. Kalau saya yang punya, gak bakalan deh saya nulis fanfiksi.

Chapter 13

.

"Beneran, Kakashi-san, kau tidak perlu mengantar jemputku," ujar Hinata untuk yang ketiga ratus enam puluh lima kali.

Seperti yang sudah-sudah, pria yang dipanggil itu hanya tersenyum simpul. "Aku tidak keberatan. Lagi pula, kita searah," jawabnya sederhana.

Hinata meremas tangannya sambil menggigit bibir. Gadis itu gelisah. Dia tak bisa menyetir sendiri karena SIM-nya (beserta dompetnya) tertahan di tangan Kakashi. Pria itu menyimpan dompetnya yang tertinggal. Sayangnya, benda yang berisi tanda pengenal Hinata itu berada di rumahnya, di daerah antah berantah sana. Lebih malang lagi, pria itu baru akan pulang beberapa hari lagi. Hinata tidak keberatan naik kereta atau taksi. Malah, dia berencana berangkat pagi-pagi sekali agar tidak bertemu Kakashi. Entah pria itu punya bakat berhubungan dengan cenayang atau tidak, Kakashi muncul tepat ketika Hinata keluar mengendap-endap dari pintu depan.

"Takut dengan pacarmu?" tanya Kakashi kalem.

Hinata memerah. "Ti-tidak."

"Ya sudah," balas pria bermasker itu santai.

"Aku hanya merasa tidak enak," sambung Hinata. Dia melirik Kakashi, yang saat itu juga tengah meiriknya.

"Pada siapa? Aku atau dokter itu?"

Hinata terpojok karena sebenarnya dia merasa tidak nyaman dengan keduanya. "Uhm…itu…"

Kakashi tidak harus menggunakan otak jeniusnya untuk tahu yang ada di pikiran gadis yang pernah menolaknya itu. Tapi Kakashi hanya manusia biasa, terlepas dari kejeniusannya atau kepiawaiannya mengolah perusahannya. Dia manusia dengan perasaan kesal, jengkel, senang dan kadangkala pria itu juga licik.

Mr. Hyuuga bukan orang asing baginya. Mereka kerap bertemu untuk urusan bisnis. Tadinya Kakashi tidak berniat serius ketika minta dikenalkan Hinata. Tapi semenjak penolakan itu, egonya terbakar. Wushhh! Ada rasa suka cita di hatinya menyaksikan Hinata kebingungan, namun sisi lain hatinya juga gembira mendapati gadis Hyuuga itu akhirnya mau naik mobilnya.

"Nanti aku turun di gerbang saja," ujar Hinata, membuyarkan lamunan Kakashi.

"Lho, tidak etis membiarkan seorang gadis turun di gerbang," sanggah Kakashi, tak kalah lembut dari nada Hinata, namun tak kalah mematikan. "Aku bukan pria yang akan membiarkannya. Oke?" imbuhnya super ramah.

"Aku tidak ingin membuatmu repot." Hinata masih mencari alasan. Gadis itu gentar membayangkan akan ada rekan yang memergokinya naik mobil seorang laki-laki yang bukan Sasuke atau Neji atau ayahnya atau sopir taksi. Lebih mengerikan lagi bila ternyata yang bertemu dengannya di depan pintu adalah managernya Deidara atau bahkan Presdir. Duh, apa yang akan disangka Itachi? Bisa-bisa pria berkuncir itu mengira Hinata selingkuh dan menduakan adiknya!

Kakashi bergumam dan mengibaskan tangan kanannya sebelum kembali memegang setir.

Hinata tidak bercerita mengenai insiden dompet itu pada Sasuke. Jika si dompet ditemukan dan disimpan orang lain, perkaranya tidak akan pelik begini. Tapi jika orang itu adalah Kakashi? Hinata berpikir sejuta kali. Sasuke memang kalem, tapi Hinata mendapat perasaan bila marah, kekasihnya itu akan luar biasa menakutkan dan murka.

"Aku tidak pernah lagi melihat Sasuke," tukas Kakashi memecah keheningan.

"Dia sibuk. Jadwalnya kadang tidak bisa diprediksi," jawab Hinata singkat.

Begitulah. Shift Sasuke tidak memungkinkan bagi dokter itu untuk mengantar jemputnya seperti yang dilakukan Kakashi.

"Masa? Padahal aku sering ke rumahmu tapi tak sekali pun aku menjumpainya," lanjut Kakashi enteng. Ada ejekan dalam nada suaranya. Telinga Hinata tak luput mendengarnya. Pria jangkung itu memberi tatapan Hinata.

Supervisor muda itu mencelos hatinya. Rasanya ada sesuatu yang meluncur tajam ke perutnya. Tak nyaman. "Kami tak sering bertemu," ujar Hinata kemudian, jauh lebih pelan dari yang diharapkannya.

"Padahal kalian satu kota," Kakashi mengangkat alis, seolah kenyataan itu tidak bisa jadi alasan dua sejoli sampai tidak bisa bertemu sesering mungkin.

"Yah, jadwal kami tidak memungkinkan," bantah Hinata cepat. Dia semakin tidak nyaman dengan pembicaraan mengenai kehidupan asmaranya. Cepat-cepat dia mengalihkan pembicaraan. "Omong-omong, jangan lupa dompetku ya," pintanya.

Kakashi memelankan mobil. "Maaf Hinata, kepulanganku ditunda," ujarnya, terdengar sungguh-sungguh.

"A-apa?" Hinata terkejut. "Kenapa?" tanyanya lemas.

"Kerjaanku di sini belum selesai," jawab Kakashi. Sudut matanya berkerut, menandakan dia tersenyum dengan perasaan tidak enak.

"Tidak bisakah kau pulang lebih cepat?" Hinata mulai putus asa. Memang tidak sopan menanyakan hal ini, terlebih pada orang yang lebih tua, tapi Hinata tak bisa menahan diri. Dia memang dibesarkan dengan didikan yang ketat dan mendapat pelajaran sopan santun, namun Hinata juga manusia yang bisa khilaf.

"Tidak bisa."

Hinata ingin sekali memijat pelipisnya, frustasi.

Kakashi melirik Hinata. Wajahnya pucat dan matanya murung. Pria itu agak tidak tega. "Secepatnya kukembalikan. Maaf, ya." Tangannya menyentuh bahu Hinata selama beberapa detik, sampai gadis itu menoleh.

Hinata kesal dan sedih. Tanpa SIM dan KTP, dia tak bisa kemana-mana. Tapi sentuhan Kakashi dan raut wajah pria itu membuat hatinya melunak. Dalam hati gadis itu merutuk dirinya sendiri yang tak bisa menyimpan kemarahan dalam waktu agak lama dan tidak tegas. Menurutnya begitu.

"Wah, jangan sampai deh, Sasuke tahu," saran Ino ketika istirahat.

"Iya, aku tahu," sahut Hinata muram. Dia mengaduk-aduk jusnya tanpa semangat. "Dikiranya aku ceroboh. Terlebih, yang menemukannya Kakashi."

Ino menggeleng keras-keras. Ada binar aneh di matanya. Gadis cantik dan bohai itu mencondongkan wajahnya, sarat dengan spekulasi. "Bukan itu, Kawan," sergahnya. "Kalau tahu dompetmu ada padanya, Sasuke akan menyangka kalian tidur bersama."

Hinata tersedak. Dia batuk hebat, wajahnya seperti kepiting gosong. Ino menepuk punggungnya keras-keras. "I-Ino!" pekik Hinata ketika akhirnya dia bisa bicara. "Mana mungkin Sasuke akan berpikir seperti itu."

"Duh, kau terlalu polos, Hinata," Ino geleng-geleng. "Pikirkan saja: ada seorang laki-laki yang membawa dompetmu. Terlebih si dompet ada di rumahnya. Rumahnya jauh pula. Pasti siapa pun akan berpikir kalian teman istimewa. Kekasih, maksudku. Pasti yang dipikirkan sudah macam-macam."

Kelebatan warna merah, ungu dan kemudian pucat berseliweran di wajah Hinata. Oh tidak! Jangan sampai Sasuke berpikir sejelek itu! Tidur bareng? Tidaaakkk!

Tiap hari Hinata menagih dompetnya. Kalau ada sela, si sulung itu akan mengingatkan Kakashi supaya tidak lupa membawa dompetnya saat balik ke Konoha. Hinata kalang kabut sendiri. Terlebih, Kakashi seperti jamur yang selalu tumbuh di kayu lembab: bandel. Dibilang bolak-balik supaya berhenti jadi sopir pribadinya, laki-laki itu tidak menggubrisnya.

Hinata bertambah cemas. Selain khawatir dengan Sasuke, dia mulai was-was, takut jika ada yang memperhatikan dia selalu pulang-pergi dengan seorang pria yang sama, yang bukan pacarnya, sepupu, ayah atau sopir taksi.

Sialnya, sore itu Kakashi dan Sasuke menjemputnya pada saat yang bersamaan.

"Hai, Uchiha," sapa Kakashi ceria. Dia keluar dari mobilnya.

"Hn!" Sasuke hanya mengerutkan kening kemudian melengos. "Hinata, kuantar pulang." Pernyatannya terdengar dingin.

Hinata melangkah dengan takut-takut. Menghadapi dua pria ini bagai menghadapi macan dan naga sekaligus. Mengerikan!

"Aku yang akan mengantarnya pulang," sahut Kakashi tenang.

Sasuke menyipitkan mata. Wajahnya tidak tampak garang, tetapi ada kemarahan yang tersulut di matanya. "Tidak akan!" desisnya.

"Kakashi-san, maaf…" ucapan Hinata terputus ketika Kakashi menatapnya sungguh-sungguh.

"Kau tidak memberitahuku kalau Sasuke akan menjemputmu," tukas Kakashi, mengalihkan mata pada pria yang lebih muda darinya itu.

Karena Sasuke memang tidak memberitahunya lebih dulu. Tapi jelas Hinata tidak akan mengatakannya karena hal itu hanya akan memperkeruh suasana.

"Hinata tidak harus memberitahumu apa pun,"pungkas Sasuke dingin. Dia berdiri di depan sang pacar, menghalangi pandangan Kakashi.

"Oh?" nada Kakashi memancing Sasuke. "Hinata juga tidak harus memberitahumu sesuatu, bukan?"

Hinata terdesak. Wajahnya sudah pucat seperti bubur. Dia menyentuh lengan Sasuke, bermaksud menyeretnya sebelum Kakashi mengatakan hal yang dihindarinya. "Kita pulang, Sasuke. Kakashi-san-"

"Aku bawa dompetmu hari ini." Kakashi memotong Hinata sebelum gadis itu mengucapkan kalimatnya dengan lengkap.

Duo kekasih itu sama-sama terpaku.

Dengan santai Kakashi membuka pintu mobil, membuka dashboard dan mengambil sebuah benda yang dikenal Hinata dengan baik.

"Dompetku…" Hinata terperangah.

Kakashi mengacungkan tempat uang itu sembari tersenyum simpul. Dia mengayunkan dompet Hinata. "Yup, dompetmu. Kukembalikan." Kakashi tahu bahkan Sasuke tercengang mendapati dompet kekasihnya ada di tangan pria dalam daftar pertama orang yang tak disukainya. Ketika melewati Sasuke, Kakashi sengaja menyentaknya hingga dokter itu nyaris terjerembab. Laki-laki itu menarik tangan Hinata dan memberikan dompetnya di tangan kecilnya. "Ini."

Bahkan sekedar mengucapkan 'terima kasih' pun Hinata tak sanggup.

Sasuke tersadar. "Jangan sentuh Hinata!" bentaknya marah.

"Hanya tangannya," balas Kakashi. Ada api dalam matanya yang berlainan warna.

"Hanya…" Sasuke meraih kain lengan baju Kakashi dengan kasar. "Kau!"

Kakashi mengibaskan tangan Sasuke. "Ya?"

"Kenapa dompet Hinata bisa ada padamu?" gertak Sasuke. Dikepalkannya tangannya erat-erat sampai sakit. Kalau tidak, pasti Kakashi sudah menerima bogem mentah darinya. Hah, sebenarnya kali ini tidak ada bedanya dengan remaja, orang dewasa pun juga punya emosi kuat.

"Buktinya bisa." Kakashi menaikkan alis.

Sasuke tidak suka. Gerakan Kakashi menunjukkan bahwa ada sesuatu di antara dirinya dan Hinata yang tidak diketahui Sasuke. Ingin sekali adik Itachi itu menonjok Kakashi hingga tampang pria itu tak lagi congkak.

"Oh, kalau aku jadi kau, aku tak akan membentak pacarku dan membuatnya takut," lanjut Kakashi.

"Bukan urusanmu!"

Hinata ingin ditelan bumi. Mereka bertiga mulai menarik perhatian karyawan lain. Aduh, gawat kalau sampai ada adu jotos gara-gara dirinya. Di lingkungan Uchiha Inc. pula. Matanya yang putih memandang berkeliling, menyadari bahwa mereka sudah jadi tontonan gratis. "Kujelaskan Sasuke!" katanya keras, membuat dua pria itu terdiam. "Kakashi-san, terima kasih sudah mengembalikan dompetku. Tapi aku pulang bersama Sasuke."

Tanpa menunggu balasan, cacian atau kontak fisik yang membahayakan, Hinata lekas mendorong Sasuke ke mobilnya.

"Benar, Sasuke, tidak ada apa pun di antara kami. Tidak ada yang terjadi. Tidak… pokoknya tidak!" Sekuat tenaga Hinata berusaha meyakinkan Sasuke. Dia menceritakan bagaimana dompet kesayangannya itu sampai ada pada Kakashi.

Sasuke tidak mengalihkan matanya barang sekejab pun dari gadisnya. Dia tidak langsung mengantar Hinata pulang, melainkan memacu mobilnya ke parkiran di mall dekat tempat kerja Hinata. Dia menghentikan mobilnya dan mulai menuntut penjelasan.

"Tapi kau membiarkannya mengantar jemputmu tiap hari," tunjuk Sasuke, membuat Hinata pias. "Dan kau tidak mengatakan apa pun tentang hal ini padaku."

Hinata merasakan ada kegetiran dan sesal dalam suara Sasuke. Memang Sasuke marah, tapi ada pula kesedihan di wajah tampannya. "Karena kupikir aku mampu menyelesaikan masalah dompet ini sendiri," pungkas Hinata pendek.

"Sendiri? Tanpaku?"

"Sasuke!"

Sasuke mengusap wajahnya. Kemarahan di wajah gantengnya tergantikan oleh kelelahan dan sesal. "Aku tidak marah padamu," ujarnya pelan.

"Tapi aku merasa kau marah padaku," ungkap Hinata. Dia ingin menangis. Matanya memerah.

Sasuke meraih tangannya dan mencium punggung tangan kecil Hinata. "Maaf, Hinata." Dengan tangannya yang lain dia menarik leher kekasihnya sehingga gadis itu rebah di dadanya, tak peduli bahwa posisi mereka tak nyaman. "Aku kesal karena Kakashi bisa menjeratmu. Jengkel bahwa aku tahu soal ini belakangan."

Hinata menghirup napas dalam-dalam. Dia terisak kecil. Tidak ada air mata yang keluar. Gadis itu memejamkan mata. Aroma cologne dan rumah sakit menguar dari tubuh Sasuke. Herannya, dia merasa tenang.

"Lain kali, kalau ada apa-apa, beritahu aku. Kita selesaikan bersama-sama. Aku tak ingin kau menyembunyikan sesuatu dariku. Hinata?" Sasuke memintanya berjanji.

Hinata tak mampu berkata-kata. Dia menganggukkan kepala sementara tangan Sasuke tak berhenti menyisir rambut panjang indigonya.

Sasuke meminta Hinata supaya tidak lagi memakai dompet yang pernah hilang itu. Benda yang tertinggal sebenarnya, tapi kata 'hilang' dirasa lebih cocok. Sebagai gantinya, Sasuke memberi gadis itu sebuah dompet baru, lengkap dengan pembungkus dan sertifikat keasliannya.

Hinata terbelalak ketika dia membuka dompet berwarna merah muda lembut itu. LV alias Luis Vuitton? Dompet El-Vi itu malah lebih berharga jika ditilik dari harga daripada uang yang biasanya disimpan Hinata dalam dompetnya. Gadis muda itu jadi tidak ingin memakainya untuk kepentingan sehari-hari. Sayang, ujarnya. Tapi dengan kalem Sasuke mengatakan bahwa jika dompet mahal itu raib, dokter itu masih bisa membelikannya lagi.

TBC

A / N: Chapter ini saya dedikasikan untuk Kakashi, Sasuke dan Hinata. Dan untuk teman-teman yang setia membaca cerita saya. Terima kasih. Eniwei, selamat berpuasa dan selamat membaca! Jangan khawatir, cerita yang saya tulis masih dalam taraf 'aman' kok, hehe. Tetap layak 'dikonsumsi' di bulan Ramadhan ini. Kalau ada typo atau salah nama, maap.