Title: Tuan Tampan Dan Nona Pemalu
Rating: T
Characters/Pairings: Sasuke-Hinata
Genre: Romance / Friendship
Warnings: AU. Agak OOC. Selamat membaca cerita ini sebagaimana saya menulisnya. Cerita ini hanya diperuntukkan untuk hiburan semata.
Summary: "Benar, lho. Si teme itu orangnya posesif, tapi jangan harap dia mau mengakuinya. Aku yakin, tak peduli siang atau malam, dia akan ke rumahmu, mengetuk pintu dan meyakinkanmu kalau dialah yang terbaik, bukan si Kakashi ini." AU
Disclaimer: Sekali lagi, Naruto bukan milik saya. Kalau saya yang punya, gak bakalan deh saya nulis fanfiksi.
…
Chapter 15
.
Sasuke bukan gadget-freak. Dia bukan tipe orang yang merasa dunia kiamat tanpa ponsel, laptop, internet, telpon dan iPod. Namun bila melihatnya selalu menenteng kamera digital mau pun ponsel pintarnya, orang akan berpikiran lain, meski tentu saja yang sebenarnya terjadi bukanlah seperti yang mereka pikirkan.
Karena sebenarnya, seorang gadis yang bekerja di perusahaan kakaknyalah yang membuat Sasuke rajin membawa gadget itu. Gara-gara gadis kalem itu, Sasuke punya hobi baru: menjepret profil Hinata, mengabadikannya dalam potret dan mengoleksinya. Dalam waktu yang singkat, pria dua puluhan itu jadi fotografer amatir dadakan.
Tadinya Hinata hanya mengangkat alis mengetahui hobi anyar kekasihnya. Menurutnya, orang memang wajib punya kegemaran. Jika tidak, bisa dipastikan orang itu bakal gampang stress, depresi karena tidak punya wadah untuk menyalurkan apa yang mereka sukai. Namun setelah sadar bahwa ternyata semua foto-foto yang dikumpulkan Sasuke adalah semua gambar dirinya, Hinata risih dan protes.
"Sasuke! Mana ada orang mengambil foto saat orang lain sedang ke pasar?" tukas Hinata, geli sekaligus takjub.
Sasuke menaikkan bibir. "Ada! Buktinya ada tuh." Laki-laki itu menyahut dengan santai.
"Iya, cuma kamu!" pekik Hinata.
"Hn. Begitulah." Tanpa memedulikan komplain pacarnya, Sasuke malah mengarahkan kameranya pada Hinata.
"Jangan, dong! Aku kan berkeringat," cetus gadis itu lagi.
"Masih tetap cantik, kok."
"Hah!"
"Suer! Keringat tidak menghalangi keseksian parasmu."
Hinata terbelalak. Gadis itu berhenti kemudian melotot.
Di akhir pekan, bila Sasuke libur, dia akan mengajak Hinata lari pagi di taman kota. Atau mengunjungi Pasar Minggu yang tak jauh dari rumah Sasuke. Seperti hari itu, pagi-pagi Sasuke menjemput Hinata. Mereka berkeliling di kompleks pasar dadakan itu. Sama seperti yang selalu terjadi, pengunjung selalu membludak. Deretan stand makanan, baju, aksesoris dan hiburan berjejer, menunggu untuk dinikmati. Karena lokasi itu ramai dengan jalanan yang panjang, tak heran bila Hinata selalu bersimbah keringat tiap ke sana. Dan dengan cueknya, Sasuke tetap mengambil gambar Hinata di tiap kesempatan.
"Apa, Dear?" tanya Sasuke ringan.
"K-kau bilang wajah berkeringatku seksi?" ujar Hinata, tak percaya.
Sasuke tersenyum. "Yup."
"A-a-a…" Hinata tak mampu berkomentar balik, syok sekaligus malu. Wajahnya semakin merah.
Sasuke gemas. Dengan Hinata yang masih megap-megap, secepat kilat Sasuke melayangkan blits dan memotretnya.
"Kau objek yang sempurna, Hinata," kata Sasuke lembut. Merasa cukup, dia memasukkan kamera ke dalam sarungnya, kemudian menggandeng tangan gadisnya, layaknya kebanyakan pasangan yang memenuhi pasar itu.
Bagi Hinata, Sasuke benar-benar orang yang tak terduga. Dari luar, dia terlihat dingin, judes dan tak bersahabat. Bukan tipe orang yang mudah didekati. Namun semakin mengenalnya, Hinata sering dibuat takjub. Berbeda dengan penampilannya, Sasuke perhatian, posesif, pencemburu dan kadang romantis. Dengan caranya sendiri.
Sambil menunggu makanan yang mereka pesan, Hinata melihat-lihat foto di kamera Sasuke. "Kok semuanya aku, sih?" decaknya.
"Masa foto Itachi?" balas Sasuke, nyengir.
"Ya aneh bila semuanya aku."
"Tidak."
"Iya!"
Hinata geleng-geleng.
"Foto-foto dari bulan kemarin itu belum aku simpan di laptop," kata Sasuke setelah terdiam beberapa saat, baru ingat.
"Kau simpan di laptop?" Hinata membeo. Dia tercengang.
"Terus aku burn di DVD, aku upload di akun fotoku. Kalau ada yang kufavoritkan, kucetak," jelas sang dokter.
"I-itu…terlalu berlebihan!" Hinata berkomentar. Dia ternganga.
…
"Om, foto aku!" pinta Gaara. Bocah itu merengek demi melihat sahabat papanya sedang memegang kamera.
Sasuke mengangkat kepala. Tangannya tak berhenti menekan tombol-tombol di gadget-nya. "Tidak, ah. Kau belum mandi sih," tolaknya.
"Sudah! Pas mau ke sini aku mandi, kok!" pekik Gaara, sebal dikatai begitu.
Sasuke nyengir lebar. Dia memang sayang pada bocah itu, tapi juga gemar mengusilinya.
Saat senggang, Naruto dan Gaara kadang berkunjung ke rumahnya. Sejak Sasuke bisa mengingat, dia sudah bersahabat dengan Naruto.
"Om mau ngapain?" tanya Gaara penasaran. Dia mendekat.
"Mau mindah gambar," jawab yang ditanya singkat. Sasuke menghidupkan laptopnya kemudian menunggunya nyala.
"Gambar apa?" cecar Gaara. Dia mendesak Sasuke hingga pria itu bergeser, memberinya tempat.
"Hn!"
Tentu saja Gaara tidak puas dengan 'Hn' Sasuke.
Kamar Sasuke luas, namun dia tidak selalu berada di sana. Ruang keluarga di rumahnya lapang, dengan ceruk mau pun ornament dan furniture yang tetap memberi keleluasan bagi para penghuninya. Pria berkulit pucat itu senang berada di sana, seperti saat itu.
Sadar bahwa Gaara tidak akan diam sampai dia mengabulkan keinginannya, Sasuke mengarahkan kameranya dan memotretnya. Kegirangan, Gaara segera melihat hasilnya.
"Lho, kok banyak fotonya Tante Hinata?" tanyanya heran. Sasuke lagi-lagi menjawabnya dengan 'Hn'.
"Om ke belakang sebentar. Jangan tekan tombol selain ini," tukas Sasuke sebelum beranjak.
"Iya." Gaara ngotot ingin melihat semua gambar yang ada di kamera itu. Tahu bahwa anak Naruto itu keras kepala, Sasuke mengalah.
Ketika dia kembali, Sasuke tidak mendapati Gaara di meja sudut tempatnya tadi. Mungkin ke papanya, atau minta kue pada ibu Sasuke, pikirnya. Tanpa firasat apa-apa, dia menghampiri meja dan mengangkat kamera. Betapa kagetnya dia mendapati bahwa semua foto di MMC-nya lenyap. Raib. Hilang.
"Gaara!" Suara Sasuke menggelegar.
Di dapur, Gaara mengernyit dan sembunyi di balik tubuh ayahnya. Wajahnya yang biasanya terkesan tak acuh kini terlihat takut.
…
Bagaimana pun marah dan kecewanya Sasuke, dia tak bisa begitu saja muntap pada bocah kecil yang menginginkan Hinata jadi mamanya itu. Dia tahu Gaara pasti tak sengaja menekan 'Delete' kemudian memilih 'DeleteAll'. Anak itu sudah minta maaf, bahkan Naruto juga ikut merasa bersalah.
"Bagaimana kalau aku yang motret Hinata?" usulnya. Ada rasa tak enak terpampang jelas di wajah kecoklatannya.
"Maksudmu?" Sasuke bertanya balik, muram.
Naruto nyengir, masih campuran antara rasa bersalah karena anaknya sudah membuat sahabatnya itu berwajah mendung dan sebagian lagi karena ide yang akan dilontarkannya. "Hinata rekan kerjaku. Otomatis, intensitas kami bertemu jauh lebih banyak darimu. Saat itu deh, aku mengambil foto-fotonya."
Sasuke agak tidak suka. Dia setuju dengan usul Naruto, tapi ada bagian lain dalam dirinya yang dilanda cemburu. Dia menyadari betul bahwa Naruto memang punya kesempatan lebih besar daripada dirinya untuk bertemu gadis yang dimaksud.
Naruto bukan mindreader alias pembaca pikiran. Dia salah mengartikan ekspresi wajah Sasuke, yang tampak seperti orang menahan sakit perut. "Ino juga, Teme. Ino juga kumintai tolong," ujar pria itu cepat-cepat, tak ingin kawan baiknya itu makin muram.
"Hn. Baiklah," putus Sasuke, tak punya pilihan lain. "Foto Hinata dalam berbagai kesempatan!"
"Yes,Sir!" Naruto mengangkat jari-jarinya, menandakan salute.
…
Naruto menepati janjinya. Tiap makan siang atau ketika berpapasan di lift, koridor, ruang rapat atau di mana pun, ayah muda itu segera mengarahkan ponsel pintarnya, mengarahkannya ke wajah Hinata.
"Aku tidak butuh Sasuke Kedua!" tukas gadis itu, jengkel.
"Seingatku, namaku Naruto," balas pria yang kena getah kejengkelan Hinata itu.
"Ugh. Cukup Sasuke saja yang memotretku seperti orang kesetanan," keluh Hinata. Nafsu makannya jadi hilang.
Naruto tertawa. Tak dihiraukannya protes Hinata. Setelah menyeruput kopi dan memeriksa ponselnya, dia menyantap makan siangnya. "Aku membantu Si Setan itu," sahutnya.
Tentu saja Hinata tahu permasalahan yang terjadi. Diam-diam dia bersorak dalam hati ketika tahu foto-fotonya terhapus. Dia berpendapat Sasuke sudah punya terlalu banyak fotonya. Sayangnya, rasa senangnya menguap bak air yang jatuh ke gurun pasir begitu mengetahui solusi yang disodorkan Naruto.
Entah kenapa, dia dapat perasaan bahwa Naruto dan Ino geli dengan apa yang terjadi. Bukannya bersimpati, mereka malah tertawa. Tak hanya itu, kedua kawannya itu juga kompak. Hinata bahkan menjuluki Ino sebagai Sasuke Ketiga.
Hinata merasa dia bak selebriti yang dikuntit paparazzi menyebalkan bernama Sasuke, Naruto dan Ino. Gadis itu risih sekali. Jika dulunya dia berpikir jadi artis itu bikin iri, ke mana pun berada selalu ada kamera siap mengabadikan figur mereka, sekarang dia berpikiran sebaliknya.
Bahkan Hanabi juga ikut-ikutan. Saat Hinata nonton TV, makan camilan, membaca buku, dan nyaris di segala kesempatan, sang adik sudah siap dengan kamera standby di ponselnya. Dialah stalker aka paparazziinSasuke'sbehalf yang paling bandel.
"Sasuke Keempat!" Hinata bersungut-sungut.
Hanabi tertawa keras. Dia bahkan bergulung-gulung di sofa samping kakaknya.
"Kau dikasih apa, sih?" cecar Hinata, kesal.
"Naruto-san mau mentraktirku, lho," jawab Hanabi.
Hinata memutar mata. "Bukannya aku juga sering mentraktirmu?" sindirnya kencang.
Sang adik terkikik. Nadanya usil.
Hinata rebahan. Hari-harinya biasanya melelahkan. Ditambah menghindar dari Ino dan Naruto sebisa mungkin, dia makin capek. Gadis itu hanya ingin tidur. Dia membuka mata ketika mendengar nama Sasuke disebut adiknya.
"Sasuke-san? Bagaimana kalau foto Kak Hinata yang sedang tidur? Tapi bayarannya mahal, lho." Ternyata gadis yang lebih muda itu sudah menghubungi Sasuke. Ada keusilan di matanya.
"Hanabi!"
Hinata tidak sempat kalap karena Neji kebetulan lewat dan mendengarkan. Dialah yang memarahi Hanabi. Bahkan si adik tidak berkutik kalau Neji sudah dalam keadaan protective-mode-on.
…
Sasuke puas dengan foto-foto yang dikumpulkan Naruto, Ino dan Hanabi. Dia mengakui kalau ide Naruto ternyata bloody-brilliant (pinjam istilahnya Ron Weasley). Rasa sesalnya akan foto-foto Hinata yang tak sempat disimpannya terbayarkan sudah dengan foto-foto terbaru Hinata dari minion dadakannya.
"Hn, kenapa tidak dari dulu saja aku minta bantuan mereka," gumamnya.
…
TBC
A / N: Trims kawan-kawan yang sudah memberi saya support. Sekarang saya sudah tidak sakit-sakitan lagi, thankfully. Btw, entah kenapa judul, summary, dll plus author's note di chapter sebelumnya jadi tak ada spasinya. Padahal di archieve saya baik-baik saja. untung saja ceritanya tidak-tanpa-spasi begitu.
