Title: Tuan Tampan Dan Nona Pemalu
Rating: T
Characters/Pairings: Sasuke-Hinata
Genre: Romance / Friendship
Warnings: AU. Agak OOC. Selamat membaca cerita ini sebagaimana saya menulisnya. Cerita ini hanya diperuntukkan untuk hiburan semata.
Summary: "Benar, lho. Si teme itu orangnya posesif, tapi jangan harap dia mau mengakuinya. Aku yakin, tak peduli siang atau malam, dia akan ke rumahmu, mengetuk pintu dan meyakinkanmu kalau dialah yang terbaik, bukan si Kakashi ini." AU

Disclaimer: Sekali lagi, Naruto bukan milik saya. Kalau saya yang punya, gak bakalan deh saya nulis fanfiksi.

Chapters : 16 (complete)

Chapter 16

.

"Kenapa kau jadi sakit-sakitan begini?" cecar Ino.

Hinata memijit keningnya yang panas. "Sudah waktunya sakit, mungkin," balasnya lemah. "Makanya aku tidak masuk. Pusing kalau kubuat bangun dan ngapa-ngapain."

"Oh, begitu." Walau tak bisa melihatnya, Hinata yakin di seberang sana Ino manggut-manggut.

"Begitulah. Semoga tak ada sesuatu yang amat penting di kantor hari ini," ujar Hinata berharap.

"Jangan pikirkan soal kantor," kata Ino tegas. "Kau istirahat saja. serahkan semuanya pada Manager Deidara." Mereka tertawa. "Omong-omong, dulu aku juga sakit-sakitan, lho."

"Dulu?"

"Yup, dulu. Sampai akhirnya aku menikah," tukas Ino mantap.

Hinata tertawa lemah. Sedetik kemudian dia menyesal karena gerakan itu membuatnya tambah pening. Kepalanya seperti ditusuk-tusuk. "Jadi, menikah membuatmu sehat?"

Ino terkikik. "Betul, lho. Sejak menikah aku jadi lebih sehat. Jarang sakit. Menikah memang obat segala sakit." Ino mengatakannya seolah-olah dia sedang mengiklankan obat pelangsing mujarab super manjur yang tak usah dipertanyakan lagi khasiatnya. Menggebu-gebu dan meyakinkan.

"Rasa-rasanya aku juga pernah mendengarnya. Tak hanya darimu," balas Hinata.

"Kalau sudah menikah, pikiran kita jadi tenang karena sudah ada suami tempat kita berbagi. Suami yang menyayangi kita dengan segenap jiwa raga. Efeknya, penyakit pada menjauh. Teman-temanku yang lain juga seperti itu, lho."

Hinata tidak tahu apakah Ino hanya sekedar menggodanya atau memang dia serius. Sejak menikah setahun lalu, kawannya di Uchiha Inc. itu memang terlihat berbeda. Makin bersemangat, ceria tapi juga terlihat bijak dan lebih dewasa.

"Pacarmu kan dokter. Masa kau sakit-sakitan?"goda Ino.

Hinata cemberut. "Itu sih tak ada hubungannya."

Setelah menutup telpon, Hinata menatap langit-langit kamarnya dan berpikir. Gadis berumur dua puluh lima tahun itu memang diam-diam mulai berpikir tentang membangun keluarga. Sudah dua tahun dia dan Sasuke berpacaran. Selama itu, sudah banyak hal yang mereka lalui. Hinata tak bisa membayangkan bahwa suatu saat apa yang sudah mereka bina akan terputus. Memang usianya masih muda, tapi dia tak bisa mengenyahkan gambaran akan sebuah rumah, taman, suami dan anak-anak dalam masa depannya.

"Kubawakan bukunya," ujar Sasuke menawarkan. Dia meraih tas tempat buku-buku yang akan dibeli Hinata dan menentengnya ke kasir.

"Terima kasih," balas Hinata pendek. Setelah sembuh, dia dan Sasuke kencan di mall terdekat dari rumah mereka. Tempat pertama yang mereka tuju adalah toko buku. Ada beberapa novel populer terbaru yang ingin dibeli Hinata.

Sasuke tersenyum kecil.

Hinata melirik pacarnya itu. Menurutnya, Sasuke makin tampan saja. Wajahnya makin tegas, tangannya makin kokoh. Meski enggan mengakuinya, Hinata sadar dia semakin terpesona oleh pria yang lebih tua tiga tahun darinya itu.

Gadis berambut panjang itu tersentak ketika Sasuke mengeluarkan dompetnya, jelas akan membayar buku-buku Hinata. "Tak usah," tolaknya.

Sasuke menggeleng. "Tak apa." Dengan sigap dia mengangsurkan uang dan menerima buku-buku pacarnya yang sudah dimasukkan tas kresek. "Nah, kita ke mana lagi?"

"Kau semangat sekali," kata Hinata, geli. "Besok kan hari Minggu. Kita masih mau keluar lagi."

"Makanya aku senang sekali. Kan tidak tiap hari kita bisa kencan," balas Sasuke ringan. "Omong-omong, aku ingin beli sepatu. Kita ke toko sepatu saja sekarang."

Sementara Sasuke ke deretan sepatu pria, Hinata menuju rak-rak tas. Toko sepatu dan tas itu memang besar. Ada tas merah yang menarik minatnya. Dia mengambilnya, menyampirkannya di bahu dan menaruhnya lagi di rak. Gadis itu berjalan menghampiri Sasuke, yang sedang mencoba sepatu kulit hitam.

"Hinata," panggil dokter muda itu. "Kau pilih saja sepatu atau tas yang kau suka."

Hinata menggeleng pelan. Sepatu dan tas di toko itu lebih mahal dari toko-toko regular. Brand-nya memang local tapi kualitas dan harganya setara dengan barang branded desainer terkenal di luar negeri. Hinata memang senang mendapat barang gratis, tapi kalau barang mahal, dia agak pikir-pikir. Apalagi kalau itu dari pacarnya. Dia malu.

Pada akhirnya Sasuke membelikannya dua tas dan sepasang sepatu imut. Ketika Hinata protes dan ingin membayar sendiri, Sasuke menggeleng. Wajahnya serius dan agak tegang. Hinata tak bisa menampiknya jika Sasuke sudah seperti itu.

"Kau membelikanku banyak barang," kata Hinata berterima kasih. Mereka duduk di restoran out door dekat toko sports. Di dekat kaki Hinata beberapa kantong besar berjejer rapi.

"Aku suka, kok, membelikanmu sesuatu," sahut Sasuke kalem, yang dibalas Hinata bahwa yang diberikannya hari ini lebih dari sesuatu. "Mana mungkin aku perhitungan, karena aku sudah menganggapmu sebagai future wife."

Hinata tercekat. Di depannya, Sasuke memainkan sedotannya dengan gugup. "Calon istrimu?" Hinata memastikan.

"Be-benar." Sasuke terlihat sungguh-sungguh gugup. "Aku sudah yakin dengan hubungan kita. Dua tahun bukan waktu yang singkat. Aku ingin hubungan ini berlanjut ke tahap yang lebih serius. Kalau kau setuju?" Kalimat terakhir diucapkannya dengan nada agak mengambang. Bukan pernyataan seperti biasanya ketika pria muda itu yakin akan sesuatu, tapi meminta persetujuan sang kekasih.

Hinata meraih tangan Sasuke dan menghadiahinya senyumannya yang paling lebar. "Tentu saja aku setuju." Gadis itu gembira ketika dilihatnya sang pacar berwajah merah karena senang. "Aku juga menganggapmu sebagai calon suamiku."

Siapa pun yang lewat dan melihat mereka akan berpikir bahwa Hinata dan Sasuke adalah pasangan paling bahagia di muka bumi. Wajah keduanya berseri-seri dan seolah tak peduli pada siapa pun di sekitarnya.

"Kalau kau sudah resmi jadi istriku, cobaanku bakal berkurang," ujar Sasuke tiba-tiba.

"Jadi selama denganku, kau dapat banyak cobaan?" Hinata ikut berkelakar. Jika tadinya dia menggenggam tangan Sasuke, kini jari-jarinya yang berada dalam genggaman tangan besar Sasuke.

Sasuke memainkan jari-jari Hinata. "Kakashi, Naruto dan Gaara. Yang paling berbahaya adalah Gaara. Anak itu makin cerdik saja. Aku yakin Naruto akan kalah cerdas darinya."

Hinata tertawa kecil. Meski dua tahun sudah berlalu Gaara masih pada pendiriannya untuk menjadikannya sebagai mamanya.

"Orang tuaku ingin bertemu keluargamu," cetus Sasuke. "Membicarakan soal pernikahan." Ketika Hinata memandangnya terpana, Sasuke buru-buru melanjutkan, "Maaf, aku tahu ini mengagetkan. Atau terlalu cepat…"

Hinata menggeleng. "Tidak," potongnya. "Memang lebih cepat diresmikan, lebih baik," ujarnya malu-malu.

Akhirnya disepakati bahwa keluarga Hyuuga dan Uchiha akan bertemu dua minggu kemudian. Hinata merasa luar biasa gugup dan capek. Dia grogi akan bertemu orang tua Sasuke dalam acara resmi itu. Dia terbiasa menemani ibu Sasuke berbelanja dan menghadiri acara keluarga Sasuke, tapi dalam acara pertunangan? Itu lain cerita. Hinata juga capek memilih makanan dan kue yang akan dihidangkan di rumah mereka, gorden baru dan bunga-bunga yang ditambahkan ke taman.

Karena acara pertemuan itu diadakan pada hari Sabtu, banyak yang ikut hadir dari kedua belah pihak. Neji dan ayahnya datang. Itachi dan beberapa orang kerabat jauh keluarga Uchiha juga ikut.

Hinata berpikir bahwa jika diabadikan dalam lukisan, potret pertemuan keluarga itu akan sangat indah. Gadis itu mengakui bahwa raut wajah para tetua yang hadir sungguh mengesankan: tegas dan mempesona. Mereka adalah gambaran wajah asli Jepang yang kharismatik.

Pada pagi hari sebelum acara dimulai, Hinata duduk menunggu kedatangan keluarga Uchiha dengan jantung berdebar. Dia berharap bahwa apapun yang mereka suguhkan akan bisa memuaskan keluarga Sasuke. Ternyata keluarga pacarnya itu juga membawa banyak buah tangan, dari buah-buahan, ikan, kue sampai pudding.

Hinata tak ingat semua hal yang dibicarakan. Kegugupannya lenyap ketika Itachi mengajaknya ngobrol dan salah satu sesepuh Uchiha menggodanya. Mereka semua orang yang menyenangkan.

Memang benar bahwa mereka menyebut acara itu 'pertemuan keluarga' tapi ketika Fugaku berkata, "Saya meminta anak Anda, mewakili Sasuke," acara itu berubah jadi acara pertunangan. Terlebih ketika Sasuke mengeluarkan cincin emas besar bertahta berlian dan menyematkannya ke jari Hinata, putuslah status Sasuke sebagai pacar Hinata. Kini dokter ganteng itu resmi sebagai tunangannya.

Naruto dan Gaara datang ketika siang menjelang. Naruto sengaja menunggu sampai acara sakral pertunangan itu selesai dan hanya tinggal suasana santai yang diisi obrolan ringan.

"Jadi Tante tidak akan jadi mamaku?" Gaara cemberut.

"Tidak. Tante Hinata akan jadi istri Om," Sasuke menimpali, nyengir ketika Gaara memandangnya kesal.

Gaara turun dari kursi di samping ayah angkatnya dan memeluk Hinata. "Jadi mamaku saja," ujarnya berusaha meyakinkan Hinata. "Nanti kuajak main ke Game Zone tiap hari. Papa juga pintar bikin ramen. Tante pasti senang terus."

Naruto tersenyum masam. Karena itulah dia datang siang, supaya Gaara tidak mengganggu acara pertunangan sahabatnya. "Ibuku marah sekali," ujarnya. "Sudah dua kali rencananya untuk mengadakan pesta pernikahan untukku gagal."

Sasuke bersimpati pada pria berambut pirang itu. Naruto memiliki karir gemilang dan anak yang pintar, tapi kehidupan asmaranya menyedihkan. Kencan beberapa kali, tak ada satu pun yang bertahan dan berlanjut. "Semoga kau cepat menemukan jodoh," ujarnya tulus.

"Ibuku sampai mengancamku," kata Naruto ngeri.

"Kau tak sendiri, Naruto," gumam Itachi. Wajah tampannya dihiasi kengerian ketika sang ibu yang duduk tak jauh darinya melemparkan senyum dengan kilatan berbahaya di matanya.

"Kau juga sadar umur, dong, Nak. Sasuke lebih muda darimu tapi dia akan menikah lebih dulu darimu," cecarnya. Mikoto memang wanita lembut tapi sekarang dia tampak seperti beruang yang siap menerkam.

"Aku tak keberatan, Bu," tukas Itachi sesopan mungkin.

"Kalau kau tak segera menikah tahun depan, bagian sahammu hanya Ibu sisakan satu persen," kata sang ibu dengan nada manis. Sasuke tertawa ketika sang kakak tampak seperti kena serangan jantung.

"B-bu, jangan begitu, dong," cicit Itachi. Walau dia laki-laki dewasa dan kuat, nyatanya dia kalah ketika berhadapan dengan ibunya.

"Ibu heran. Kau tidak jelek. Bisa dikatakan pintar. Kenapa tidak ada yang mau padamu?" Mikoto berpikir. "Apa Ibu ikutkan di acara Take Me Out di tv?"

Naruto mengirimkan tatapan simpati. Kushina, sang ibu, juga mengancamnya. Wanita enerjik itu mengancam akan mengikutkan sang anak di situs kencan online. Naruto ketakutan sekaligus malu.

"Hinata, adikmu manis sekali," kata Naruto.

Hanabi yang barusan masuk dan makan es krim tersenyum manis. "Tapi aku tak mau denganmu, Naruto-san. Aku tak mau dijadikan pengganti kakakku." Gadis itu melirik Gaara yang tak mengalihkan perhatiannya dari Hinata.

"Bu, Hanabi terlalu muda untukku," sergah Itachi ketika ibunya mengamati Hanabi dari ujung kaki sampai ujung rambut.

Sang ibu menoleh pada calon menantunya. "Ada tidak sepupu atau adikmu yang lain?"

Hinata menggeleng. "Adik saya cuma satu. Sepupu saya juga hanya Neji," jawabnya seraya menunjuk sang sepupu.

Itachi mengerang dalam hati. "Bu, Neji laki-laki, lho."

Mikoto terkejut. "Lho, Ibu kira perempuan. Habis, cantik sekali, sih."

Neji tersenyum dipaksakan, malu dikatai cantik mirip perempuan.

"Bukannya aku tak ikut bahagia kau sudah bertunangan dan mau menikah tiga bulan lagi," bisik Itachi pada sang adik. "Tapi kebahagiaanmu jadi bencana buatku. Ibu," pria berambut panjang itu takut-takut ketika Mikoto meliriknya. "Ibu sudah kepingin sekali melihatku menikah juga sementara aku tak ada calon. Sampai mengancam pula."

Sasuke menepuk bahu kakaknya.

Meski tampak happy ever after, Hinata sadar ada beberapa hal yang harus dia korbankan. Esoknya ketika dia duduk santai menikmati matahari di beranda rumahnya, dia menyampaikan keinginannya pada sang tunangan.

"Aku ingin resign dari Uchiha Inc. Aku tak ingin berada di sana sebagai adik ipar Itachi-san," tukasnya.

Sasuke mengerutkan kening. "Itachi membuatmu tak nyaman?"

"Bukan begitu," tangkis Hinata. "Kau tahu, kan, pekerjaanku sebagai supervisor benar-benar menuntut waktu dan pikiranku. Bukannya aku tak ingin kerja keras, tapi ke depannya, aku ingin fokus pada keluarga."

Sasuke tersenyum maklum. "Aku juga ingin mengurangi shift-ku di rumah sakit. Dengan alasan yang sama."

Hinata lega. "Aku akan jadi job seeker lagi," katanya pelan.

"Bagaimana kalau jadi ibu rumah tangga saja?" usul Sasuke.

"Tidak, aku masih ingin bekerja. Tapi kalau nanti punya anak, aku belum tahu lagi," kata Hinata.

Bicara tentang masa depan memang kadang membuat gamang. Tapi Sasuke dan Hinata yakin akan pilihan mereka untuk menghabiskan waktu bersama. Hinata mengorbankan karirnya yang menjanjikan supaya bisa punya waktu lebih banyak dengan Sasuke.

Sebulan sebelum pernikahan mereka, Hinata mengundurkan diri dari Uchiha Inc. dan bekerja di sebuah perusahan ekspedisi yang mulai berkembang. Ibu Sasuke senang dengan keputusan calon menantunya. Wanita itu gemar mengajak Hinata merajut di kelas merajut yang diikutinya dan bertanya-tanya siapa tahu Hinata punya kenalan yang masih single. Untuk Itachi.

The End

Author's Note: Akhirnya cerita ini selesai! Tamatnya pun dua tahun dari saat apdet terakhir cerita ini: 2011. Terima kasih untuk teman-teman yang membaca, memberi feedback dengan caranya masing-masing dan mem-PM saya. Cerita ini untuk kalian yang menyukai pair SasuHina ini : ) Sampai jumpa.