Title : To Follow You
Cast : Eunhyuk, Donghae and other Super Junior members
Genre : Friendship, Humor *gagal
Length : twoshoot
Disclaimer : Super Junior milik SMent, this story originally belongs to me
Warning : typo(s), gaje, aneh, dan lain lain
nb : Latar waktu adalah Super Junior di tahun 2015
.
.
Pagi datang. Matahari sudah tinggi. Namun namja itu masih asik bergelung di bawah selimutnya. Seakan-akan hal itu menjadi aksi balas dendam akan sebagian waktu istirahat yang terenggut darinya selama 10 tahun terakhir.
Eunhyuk benar-benar menikmati tidurnya. Bahkan meski ia sudah terbangun sekarang.
Sampai ia merasakan ada yang aneh.
Merasa terusik, Eunhyuk membuka mata dan menyaksikan sepasang tangan melingkar di pinggangnya.
"Apa yang kau lakukan di sini, hah?!" teriaknya ketika mendapati sosok Donghae tengah memeluknya dengan wajah bahagia.
"Membangunkanmu."
"Tak perlu, aku sudah bangun," Lalu menjauhkan wajah Donghae dari punggungnya.
"Hei, ayo kita ke Tous Les Jours lagi."
Eunhyuk menatap Donghae sambil bersilang dada. "Katakan padaku, kenapa aku harus menurutimu?"
"Karena kau akan pergi."
Kata-kata Donghae menusuknya. Benar juga. Dia akan pergi. Mereka akan berpisah, tidak bertemu dalam waktu lama. Entah kenapa Eunhyuk semakin gamang akan keputusannya jika mengingat kenyataan pahit itu.
"Baiklah Lee Donghae kau menang."
"Yess…" Donghae mengangkat kedua tangannya. "Hey, bagaimana kalau kita melakukan sesuatu yang lebih gila?" Wajahnya antusias.
Eunhyuk mengangkat alis, "Contohnya?"
"Menikah. Kau dan aku."
Hening. Eunhyuk menatap horror wajah Donghae.
"HAHAHA!" Eunhyuk tergelak setelah hening singkat itu. "Bercandamu lucu!"
Tapi ia tak mendengar respon apa pun dari Donghae.
"Apa aku terlihat sedang bercanda?" tidak ada senyum di wajah Donghae, hanya wajah datar yang Eunhyuk sendiri tidak berani menebak apa maksudnya.
Kali ini Eunhyuk menatap Donghae lebih horror dari sebelumnya.
"Kau serius?"
.
"TENTU SAJA TIDAK! HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA!"]
Eunhyuk kesal setengah mati melihat Donghae tertawa bergulingan di atas tempat tidur. Sialan.
"YA! BERHENTI TERTAWA ATAU AKU AKAN MENYUMPAL MULUTMU!"
.
.
"Terimakasih semua, oppa pergi dulu! Annyeong!" Eunhyuk melambaikan tangan meninggalkan toko roti itu. Tidak terasa ini sudah waktunya untuk meninggalkan toko. Rasanya waktu berjalan begitu cepat saat ia menikmati setiap detiknya. Apalagi jika itu bersama ELF dan si ikan Donghae.
"Setelah ini kau mau ke mana?" tanya Donghae yang berjalan sambil merangkul Eunhyuk.
"Aku mau ke pet shop, Choco kehabisan snack favoritnya."
"Aku ikut."
Mendengar jawaban Donghae, membuat Eunhyuk menghentikan langkahnya heran, "Ya! Kau tidak ada schedule, huh?"
"Tidak ada."
Eunhyuk menatap Donghae tak percaya. Hebat sekali ia bebas jadwal selama dua hari.
"Aku tidak akan memaafkanmu kalau kau sampai tidak professional."
"Arasseo," Donghae tersenyum samar.
.
.
Mereka sedang makan malam di ruang tengah keluarga Lee. Seperti biasa, kehadiran Donghae membawa energi positif entah bagaimana. Namja itu seperti bisa membuat dirinya disayang oleh orang tua mana pun.
"Donghae-ya, cobalah ikan ini. Aku memasaknya spesial untukmu." Ibu Eunhyuk meletakkan piring berisi ikan itu ke dekat Donghae.
"Terimakasih Eomma." Donghae mengambil sepotong dengan sumpitnya. "Hmm... enak."
Eunhyuk melihat pemandangan itu dengan tatapan iri. Kenapa Donghae mesti disodori ikan sedangkan di dekatnya hanya ada touge dan sayuran lainnya. "Eomma! Siapa anakmu sebenarnya!"
"Ya, kau mau?" Donghae mengacungkan sumpitnya.
"Lupakan." tolak Eunhyuk ngambek.
Tiba-tiba suara dering ponsel menginterupsi kegiatan mereka. Eunhyuk yang menyadari ada panggilan di ponselnya segera memisahkan diri dengan pergi ke kamar.
"Siapa itu? Yeojachingu?" selidik Donghae.
"Aku tidak tahu. Tapi yang pasti bukan pacarnya. Eunhyuk kami masih seperti 10 tahun yang lalu kalau berhadapan dengan yeoja," jelas Sora.
Donghae mengangguk dan tersenyum.
Setelah sekitar 5 menit, Eunhyuk keluar dari kamarnya. Semua orang masih menikmati hidangan saat itu. Tidak ada yang sadar akan ekspresi wajah Eunhyuk yang telah berubah.
Ibu Eunhyuk melihat anaknya berdiri di depan pintu kamar, sayangnya ia tak menyadari ada hal lain yang salah. "Dari siapa itu?"
"Hyung manager."
Donghae membeku.
"Mwo? Bukannya statusmu saat ini sedang vakum di Suju sampai dua tahun ke depan?" Ibu Eunhyuk masih belum menyadari hawa dingin di ruangan itu.
Eunhyuk tak menjawab pertanyaan Ibunya. Ia hanya menatap sosok Donghae yang enggan kontak mata dengannya. Dan sikap keduanya membuat Ayah Eunhyuk dan kakak perempuannya ikut merasakan ketegangan yang ada.
"Pergi, Lee Donghae."
Donghae menggenggam sumpit erat-erat. Tapi ia masih diam di tempat, tidak mengindahkan perintah Eunhyuk yang justru membuatnya semakin tersulut emosi.
"PERGI KUBILANG!"
Semua orang dikejutkan oleh teriakan penuh amarah itu. Tapi khusus untuk Donghae, ia merasa hatinya dihujani ribuan jarum.
"Kau ini kenapa, Eunhyuk-ah? Jika ini karena ikan itu, Eomma akan memasak daging untukmu besok! Kau tidak perlu semarah ini pada Donghae, eoh?"
Tapi sekali lagi, Eunhyuk mengabaikan ibunya.
"Ya! Kau tidak dengar!"
Dengan langkah tegas Eunhyuk mengambil lengan Donghae dan membuat namja itu berdiri. Tapi dengan kasar Donghae langsung menarik tangannya untuk bebas.
"APA AKU SALAH!"
Eunhyuk tertawa ditahan mendengarnya. "Mwo? Kau masih bertanya? Kau pikir mengabaikan jadwal fanmeeting dan pemotretan demi untuk bersenang-senang adalah tindakan yang benar?"
"AKU HANYA MERINDUKANMU!" teriak Donghae emosi. "Apa aku salah?!"
"Inilah kau Lee Donghae! Tidak dewasa sedikit pun! Bukankah kusuruh kau untuk belajar tanpaku? Kenapa kau tidak mendengarnya? Kau ini bodoh, hah?"
Donghae diam saja membiarkan dirinya dihina. Toh, itu semua benar.
"Aku memutuskan untuk mengahabiskan waktu satu bulanku di rumah sebelum pergi militer. Aku ingin kau menganggap itu sebagai latihan. Tapi apa? Baru tiga hari tidak bertemu, setelah bertemu kau malah terus-terusan menempel padaku seperti permen karet. Bagaimana jika 2 tahun, hah?!"
"Aku tidak akan sanggup!" Air mata Donghae menggenang. "Aku akan sangat merindukanmu. Merindukan bernyanyi satu panggung denganmu. Merindukan couple dance denganmu. Merindukan kau yang menyetir untukku. Merindukan mengganggumu. Merindukan memelukmu."
"Tidakkah kau merindukanku?" Kristal bening itu jatuh menembus matanya yang indah namun sarat kesedihan.
Eunhyuk mengepalkan tangan. Rahangnya yang tegas semakin menegas. Hatinya berkecamuk. Banyak emosi yang saling beradu di dalam, dan semua itu membuat ia kesulitan menjawab.
"Pulanglah. Aku sudah memberitahu manager hyung. Ia dalam perjalan menjemputmu." Suara Eunhyuk melembut. Ia lalu memutuskan pergi ke kamar dan meninggalkan Donghae dalam kekecewaan.
.
.
"Dia baik-baik saja."
"Syukurlah," Eunhyuk tersenyum lega.
Ngomong-ngomong mereka ada di sebuah restoran sekarang. Heechul menghubungi Eunhyuk untuk bertemu. Ia merasa ada banyak hal yang perlu diceritakan.
"Tapi dia sempat mengurung diri di kamar. Menjadi pemurung dan tidak bersemangat. Dan itu berlangsung selama hampir seminggu," lanjut Heechul tak lama kemudian.
"Benarkah? Lalu?"
"Dia bertanya padaku, bagaimana aku melewatinya," cerita Heechul merujuk pada masa terberatnya ketika menghadapi salah satu orang terpenting di hidupnya pergi tak terjangkau matanya.
"Lalu, aku bilang bahwa aku menemukan cara. Dan dia pun harus bisa menemukan caranya sendiri."
"Hanya itu?" Eunhyuk mengangkat alisnya tidak mengerti. "Itu sama sekali tidak membantu, hyung! Dia itu kan bodoh! Dan hyung malah mengatakan padanya hal-hal yang abstrak."
"Ya! Kau tidak tahu, eoh! Karena kata-kataku itu Lee Donghae kembali! Bahkan menjadi lebih baik! Dia sekarang dua kali lipat lebih bersemangat dari sebelumnya! Ia sangat rajin dan tidak pernah terlihat lelah! Padahal setahuku jadwalnya sedang padat-padatnya. Hah! Donghae sepertinya sudah menemukan caranya."
Eunhyuk tersenyum. Akhirnya…
Tapi kenapa ia merasa tak rela? Apa ini berarti ia sudah terlupakan dan dianggap tidak penting?
"Hyung, apa kau melupakan Hankyung-hyung?"
Heechul merasa hatinya bergetar mendengar nama itu disebut. Potongan-potongan kenangan yang tercecer kembali bersatu di otaknya. Rasanya sudah lama sekali…
"Aku belum lupa. Tidak akan pernah." Matanya menerawang sambil memainkan gelas soju di tangan.
.
.
Eunhyuk mendesah. Ia banyak merenung belakangan. Memikirkan apakah Donghae melupakannya atau tidak. Memikirkan apa Donghae merindukannya atau tidak.
Tapi berkali-kali ia yakinkan dirinya, berkali-kali ia mencoba ber-positive thinking, namun nyatanya keraguan di hatinya masih saja membesar.
Bayangkan. Jangankan bertemu, Donghae sama sekali tidak menghubunginya. Sejak hari di mana ia menyuruh Donghae pergi dari rumahnya, namja itu seperti benar-benar lenyap tanpa kabar. Selain kabar yang diberitakan Heechul tentu saja.
Jadi bagaimana mungkin hatinya yakin bahwa Donghae tidak melupakannya?
Tiba-tiba Eunhyuk seperti teringat sesuatu. Mungkin Donghae mengirimkan sesuatu di akun dunia mayanya. Segera saja ia mengeluarkan smartphone-nya, berniat men-stalk tiap-tiap akun yang dimiliki namja bernama lengkap Lee Donghae.
Pertama twitter. Tidak ada kiriman sejak satu bulan yang lalu.
Kemudian weibo. Postingan terbaru hanya berisi 'selamat malam' dan itu pun sudah tiga hari yang lalu. Disertai foto blur seorang namja yang berpose tangan-V menutupi mulutnya.
"Donghae sekali," Eunhyuk tersenyum geli. Tapi ia tak memungkiri bahwa perasaannya mengembang melihat sosok itu.
Terahir Instagram. Dan kali ini, Eunhyuk tak bisa menahan buncahan di hatinya kala melihat Donghae dalam video berdurasi singkat itu.
Tidak puas hanya satu video, ia terus menggeser layar smartphone-nya ke bawah. Tapi yang dia dapati selanjutnya malah video Donghae bersama seseorang. Dan orang itu adalah dirinya.
Tanggal di video itu sudah hampir dua bulan yang lalu. Mereka saling berangkulan, terkadang saling mendorong dan bahkan saling menjambak. Tapi satu hal yang terus terjadi, mereka tertawa. Betapa dua orang dalam video itu tampak bahagia.
Eunhyuk terkejut saat mendapati pipinya basah. Sejak kapan?
Tapi Eunhyuk tak melawan, ia membiarkan tangisannya pecah malam itu, membiarkan dirinya hanyut dalam kesedihan. Hanyut dalam kerinduan.
.
.
Wanita paruh baya menyambut kedatangan tujuh namja itu dengan senyum keibuannya. Ia mempersilahkan para namja itu masuk setelah mereka berpelukan singkat.
"Eunhyuk-hyung!" teriak Ryeowook ketika mendapati sosok namja berperawakan kurus berdiri di ruang tengah, seakan ia memang menunggu kedatangan rombongan itu.
"Ya! Kau tetap keren bahkan tanpa rambut, Hyukjae-ya," puji Leeteuk menyebut nama asli Eunhyuk. Sedangkan yang disebut namanya hanya tersenyum sambil mengelus kepalanya yang plontos. Sedikit aneh, pikirnya.
"Baguslah, kalian semua menepati janji," Eunhyuk menatap wajah para member satu-satu.
"Ya, kami semua… kecuali satu orang." Kangin mengoreksi.
"Kalau dipikir-pikir waktu itu Donghae kan tidak bersama kita, jadi dia memang tidak berjanji apa pun," Eunhyuk tersenyum, berusaha menyembunyikan rasa kecewanya.
.
Eunhyuk terus memandangi jalanan dari balik kaca mobil. Ia dalam perjalanan menuju pangkalan militer di Gyeonggi-do sekarang.
"Hyung, apa Donghae benar-benar tidak datang? Kau sudah mencarinya di basement? Terakhir kali aku menemukan anak itu di sana," Eunhyuk menatap Leeteuk penuh harap.
"Tidak ada."
"Kalau begitu kau sudah mencarinya di tempat lain? Di kamar mandi mungkin? Atau di pembuangan sampah barang kali? Dia sedikit bodoh hyung kau tahu, mungkin dia tersesat di suatu tempat?"
Leeteuk tampak tertawa. "Tidak, Eunhyuk-ah. Aku sudah menghubungi hyung manager. Hyung bilang Donghae ada schedule hari ini jadi tak bisa ikut mengantarmu."
"Mwo?" Eunhyuk tak percaya.
Dan seluruh member paham benar akan situasi saat ini. Pasti berat bagi Eunhyuk. Donghae –yang semula tak pernah terpisahkan dari Eunhyuk, sekarang lebih memilih kesibukannya daripada mengantarkan Eunhyuk wamil.
"Aissh… aku tahu dia sangat sibuk akhir-akhir ini. Tapi tidak bisakah ia meluangkan satu harinya? Awas anak itu… aku akan membunuhnya!" sungut Heechul.
"Jangan lakukan itu, hyung. Itu tugasku." Eunhyuk tak mau kalah.
"Kalau begitu sekedar memukulnya tak masalah kan?"
"Asal jangan di kepala. Otaknya sudah parah."
"Arasseo."
Mereka tergelak. Suasana menjadi sedikit lebih cerah setelah candaan mereka.
"Oh iya, Eunhyuk-hyung." Kyuhyun memulai pembicaraan baru.
"Wae, Kyuhyun-ah?"
"Kalau kau bertemu Sungmin-hyung, katakan bahwa Cho Kyuhyun merindukannya."
Eunhyuk menatap sinis sambil berdesis, iri.
.
.
Mereka akhirnya sampai. Eunhyuk bisa mendengar hysteria para fans ketika ia baru turun dari van. Ia melihat banyak banner yang bertuliskan janji akan menunggu Lee Hyukjae kembali. Dukungan dari fans ini tidak main-main. Dia sungguh tersentuh melihatnya.
Semua member berkumpul dengan Eunhyuk di tengah. Mereka memberi salam dengan gaya khas Super Junior.
"Terimakasih kepada semua fans yang sudah datang untuk mengantarku. Aku akan berusaha keras selama dua tahun. Lalu akan kembali menjadi seorang lebih baik. Kalian akan menungguku kan?"
"NE~"
Eunhyuk tersenyum. Ya, ia percaya itu.
"Kyaaa!" Tiba-tiba fans berteriak histeris.
"Ada apa? Apa yang terjadi?"
Eunhyuk tampak kebingungan pada keadaan yang tiba-tiba ricuh. Seperti ada hal lain yang memancing mereka. Ia mengedarkan matanya, mencari-cari sumber keributan.
"Donghae-oppa!"
Ya ampun… Eunhyuk merasa lututnya lemas.
Sosok itu tampak berlari menghampiri barisan Super Junior. Senyumnya terlihat jelas, tak terhalang topi yang ia kenakan.
"Ya! Kau di sini? Bukannya kau ada schedule, eoh? Kau meninggalkannya demi mengantarku? Itu tidak professional namanya!" ceramah Eunhyuk panjang lebar. Sebenarnya ia hanya terlalu bahagia hingga tak bisa mengungkapkannya dengan gamblang.
"Jangan salah paham, Hyukjae-ya." Donghae berkilah. "Pertama, aku tidak meninggalkan schedule. Kedua, aku ke sini bukan untuk mengantarmu," Donghae membuka topinya, memperlihatkan rambutnya yang sudah terpangkas habis "tapi untuk pergi bersamamu."
Eunhyuk merasa seperti kehilangan kemampuan bicara.
"Schedule-ku dua tahun ke depan adalah menjalani wajib militer," ujar Donghae bangga.
"Ya! Bagaimana kau tidak memberitahuku hal sepenting ini?" Eunhyuk memukul lengan Donghae berlagak kesal, tapi yang ia lakukan malah memperlihatkan gummy smile-nya.
"Ya! Itu kata-kataku!" protes Donghae.
"Eunhyuk-ah, Donghae sudah bekerja keras demi bisa pergi militer bersamamu. Dia memohon pada Lee Sooman-seonsaengnim."
"Mwo Leeteuk-hyung sudah tahu? Jangan-jangan kalian semua juga sudah tahu?" tanya Eunhyuk keheranan. Dan dari wajah-wajah mereka, Eunhyuk yakin jawabannya iya.
"Kau bodoh! Siapa juga yang menyuruhmu melakukan ini semua!" akhirnya ia malah memarahi Donghae.
"Karena kau benar, Eunhyuk-ah. Aku memang tak bisa melakukan apa pun sendiri tanpamu." Donghae tersenyum. "Maka jika kau harus pergi, yang harus kulakukan hanya mengikutimu pergi."
Eunhyuk tak bisa menahan tangis harunya, "Kau bodoh tetap saja!"
Donghae membawa kepala Eunhyuk ke dalam rengkuhannya, membiarkan namja itu menangis di bahunya. Sedangkan dia sendiri mati-matian menahan air mata yang sejak tadi mendobrak keluar.
Sampai ia tak bisa. Akhirnya mereka menangis bersama.
Ah, dasar couple cengeng!
.
.
FIN
Waahh… akhirnya tamat~ *lap keringet* Ngomong2 sorry ya buat para ELFishy dan Jewelfs krn author ngatain mereka cengeng...Hehehehe… Oh iya sekali lagi ff ini genre-nya friendship, author gak bisa mikir lebih jauh tentang hubungan Eunhae. Tapi lagi-lagi author gak ngelarang kalo kalian punya pandangan berbeda di ff ini… kkkk
Special thanks to : diitactorlove , Chocoolatee , BluePrince14 , pumpkinsparkyumin , Jiae-haehyuk , Meonk and Deog , sweetyhaehyuk , Yunberryunochan , isroie106 , lee ikan and all guest *sorry kalo ada yang gak kesebut*
last,
RnR?
