"Sycamore Tree"

HunKai! Slight Hunhan, KrisKai, KaiYeol, LayHan || Romace, Family, AU!

Warning : This is HunKai! Miss Typo! Alur cepat! Don't like don't read!

..

..

"Hai, Sehun. Mau berangkat bersamaku?"

"Tidak, pergilah."—Sehun melanjutkan langkahnya yang tertunda karena mendengar suara Jongin dari atas pohon Sycamore.

Sehun benar-benar tidak mengerti dengan tingkah Jongin. Kenapa setiap hari pemuda itu berada di atas pohon. Bahkan ia pernah tidak pulang saat hari libur dan menghabiskan waktunya di atas pohon Sycamore dengan membawa kanvas dan kuas. Melukis di atas pohon? Sehun pikir anak itu sangat konyol.

Jangan berpikir bahwa Sehun peduli pada Jongin. Karena saat itu di pagi harinya, ia pergi ke minimarket dekat halte dan mendapati Jongin sedang di atas pohon, kemudian pada sore harinya saat ia bersepeda, ia mendapati pemuda itu masih berada ditempatnya.

BUK

Sehun berjingkat kaget karena tiba-tiba Jongin turun dari pohon dengan meloncat di depannya. "Apa yang kau lakukan, Bodoh?!"

"Hum, berangkat bersamamu?"

Sehun mendengus kesal dan melanjutkan langkahnya tanpa memperdulikan Jongin yang mengoceh disampingnya.

Ia mendudukkan tubuhnya di kursi halte dan memasang earphone untuk menghindari Jongin yang akan mengajaknya berbicara sepanjang penantiannya menunggu bus datang.

"Sehun, kau tahu? Kau tidak akan pernah menyesal jika kau mau memanjat pohon Sycamore bersamaku."

Sehun menghembuskan napasnya kesal.

Ia masih bisa mendengar suara Jongin. Itu mengganggunya.

"Kapan-kapan jika kau ada waktu, ikutlah bersamaku, oke?"

..

Jongin melihat dari balik jendela kelas. Ia tersenyum tipis. Kemudian mengunyah kue pie nya dengan begitu semangat.

Terkadang ia terkikik geli saat menyaksikan apa yang sedang terjadi di sebrang kelasnya.

"Aku tidak percaya bahwa kau hanya memanfaatkanku, Sehun!" Luhan meneriaki Sehun tepat di depan wajahnya. Beberapa murid yang lewat akhirnya mencuri-curi pandang dan itu membuat wajah Sehun memerah.

"Tidak, kau bisa mendengar penjelasanku, Lu. Aku—"

Tanpa basa-basi Luhan menginjak kaki Sehun dengan begitu keras dan membuat pemuda berkulit putih susu itu berteriak kesakitan.

"Kau lebih idiot dari kurcaci! Aku membencimu!"

"Kurcaci?!"

Saat itu Sehun menyadari bahwa memang—mungkin dirinya lebih idiot dari kurcaci. Sehun-baru-menyadari-bahwa-Yixing-menyukai-Luhan! Tentu saja pemuda Changsa itu akan membocorkan rahasianya.

..

Jongin terus tersenyum sepanjang hari. Terkadang ia menjahili temannya yang sedang serius membaca buku kemudian berakhir dengan beberapa benjolan di kepala Jongin.

Sehun berjalan memasuki kelas saat bel berbunyi.

Jongin meliriknya dengan seringaian dibibir. Sehun mendudukkan tubuhnya di bangku—tepat di depan Jongin, kemudian menidurkan kepalanya di meja.

"Kau habis putus dengan pacarmu, ya?"

Sehun menutupi wajahnya dengan buku dan mencoba menghiraukan suara jongin. "...Hei,Sehun. Tidak perlu bersusah payah membuatku menjauhimu. Karena kau sudah terikat denganku." Bisik Jongin dengan nada yang dibuat seram. Kemudian ia terkikik.

Sehun membuka matanya dan mengerang frustasi.

Dia memang tidak akan pernah lepas dari mahluk bernama Kim Jongin.

..

"Sehun..!"

Sehun menolehkan kepalanya untuk melihat seseorang yang—ia sudah tau siapa—sedang berlari mendekatinya yang saat ini berada di lapangan basket.

Sehun dengan tergesa membereskan buku-bukunya dan bersiap untuk pergi, namun Jongin sudah menarik tangannya duluan dan mendudukkannya di tempat semula.

Dengan kesal ia menatap Jongin yang sedang tersenyum lebar. "Mau apa kau?"

Jongin menunjukkan cengirannya dan menggerak-gerakkan tangan kanannya di atas udara. sehun melihat itu dan mengernyitkan alisnya saat mendapati ada dua buah tiket di tangan Jongin. Ia menghela napas pelan karena—

"Aku punya dua tiket konser Dream Theater! Dan aku ingin kau pergi bersamaku, Sehun."

Benar kan.

"Tidak. Lebih baik kau menyuruhku untuk mandi kembang daripada aku harus pergi bersamamu."

Jongin tertawa lebar mendengar itu.

"Hahaha, kau lucu sekali. Kau boleh saja mandi kembang sebelum pergi bersamaku agar kau terlihat semakin tampan. Tapi, oh! Itu buruk, nanti semakin banyak yang menyukaimu dan sainganku akan bertambah!"

Sehun berdecak kesal melihat tingkah Jongin dan ia bersiap untuk pergi dari situ sebelum—"Kumohon Sehun, pergilah bersamaku." Jongin memelas lagi.

Namun Sehun tidak perduli dan melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Jongin.

Sehun tidak tahu jika sebenarnya Jongin selalu menahan perasaannya setiap kali Sehun mengacuhkan dirinya. Hanya saja Jongin tidak ingin dirinya dikasihani. Jongin ingin Sehun benar-benar melihatnya.

..

..

29 Juli 2013, Daegu, Korea Selatan

..

Sehun berlari keluar dengan tergesa karena seseorang datang hari ini. "Chanyeol hyung!"

Chanyeol tersenyum lebar, menurunkan tas ranselnya kemudian berjalan mendekati Sehun—Sepupu kecilnya.

"Hei,Sehun! Kau makin tampan saja."

"Tentu, aku bahkan lebih tampan darimu, haha." Chanyeol tertawa dan mengusuk rambut Sehun dengan gemas.

"Kau akan menginap berapa lama?"

Sehun berjalan merangkul bahu Chanyeol menuju kamarnya. "..Sehunnie, biarkan Chanyeol istirahat dulu, jangan mengajaknya bermain!" Ibu-nya berseru dari dalam dapur.

"Arraseo, eomma!"

Tapi Sehun hanya basa-basi. Hanya untuk membuat Ibu-nya tidak berteriak lagi.

Di dalam kamar, Sehun menanyai banyak hal kepada sepupunya itu. Setelah dua tahun tidak bertemu, Sehun baru menyadari bahwa kini tinginya melebihi Chanyeol beberapa centi dan itu membuatnya tertawa keras karena berhasil mengalahkan Chanyeol. Sementara Chanyeol hanya membalasnya dengan cengiran lebar.

Chanyeol berasal dari Seoul. Dan kini ia menjadi seorang mahasiswa di salah satu universitas di Seoul.

Kedatangannya ketempat Sehun adalah untuk mengerjakan skripsinya. Ia harus tinggal beberapa lama di tempat Sehun untuk mendapatkan bahan skripsinya. Ia ingin mengetahui kehidupan disini. Maksudnya—kehidupan orang-orang yang tinggal di daerah pengunungan seperti tetangga-tetangga Sehun. Yang jauh dari kota.

"Ceritakan kepadaku mengenai Kim Jongin." Ujar Chanyeol tiba-tiba.

Sehun menoleh kaget saat mendengar ucapan Chanyeol. "Bagaimana kau tahu tentang anak itu?"

Chanyeol berjalan mengitari kamar Sehun untuk melihat-lihat isinya. Terkadang ia menampilkan cengirannya saat mendapati foto dirinya bersama Sehun ketika masih kecil. Ia baru sadar bahwa dirinya begitu konyol dengan berpose ala James Bond. Tangannya memegang buah pisang sebagai pistol-pistolan.

"Aku tahu dari Eomma-mu. Dia bilang Kim Jongin sangat manis."

Sehun mendecih sebal. Ibu-nya terlalu berlebihan mendeskripsikan anak itu. "Tidak ada yang spesial darinya."

"Benarkah?"

"Dia selalu menggangguku. Dia itu sangat tidak peka dan tidak tahu malu."

Sehun merasa sangat malas membicarakan Jongin. "...Kudengar,dia selalu mengikutimu kemanapun?"

"Benar!"

"Berarti dia menyukaimu."

"Dan aku tidak peduli."

Chanyeol hanya tertawa melihat sikap Sehun. Sepupunya tidak pernah berubah. Dingin dan kaku.

..

Sore hari di hari minggu.

.

"Hai, Hyung!"

Chanyeol menghentikan langkahnya saat mendengar suara seseorang dari atas pohon.

"Aku disini, hehe."

"Ya, apa yang kau lakukan di atas sana?!" Chanyeol berseru kepada Jongin yang tengah duduk sambil mengayunkan kakinya di pohon Sycamore.

Jongin turun dan menghampiri Chanyeol dengan cengiran di wajahnya. "Kau mau kemana, Chanyeol Hyung?"

"Hei, bagaimana kau bisa tahu namaku?"

Chanyeol sedikit kagum dengan anak depannya ini. Menurutnya Jongin sangat langka—karena dia memanggilnya hyung di pertemuan pertama mereka dan juga ia mengetahui nama Chanyeol.

"Dari eomma Sehun, hehe. Aku Kim—"

"Kim Jongin. Anak nakal yang suka mengganggu Sehun dan membuatnya kesal setiap saat."

Mata Jongin sedikit melebar saat Chanyeol mengatakan itu. "...Wow! Hyung, kau ternyata seorang stalker!"

"Yah! Aku bukan stalker. aku tahu dari Sehun—dan eomma Sehun."

"Benarkah? Aku tidak tahu jika ternyata Sehun suka membicarakanku." Ujar Jongin. Chanyeol tertawa dengan balasan Jongin. Ia pikir anak itu sangat lucu. Matanya selalu bersinar setiap ia berbicara. Apalagi saat tersenyum, begitu manis.

Ia tidak mengerti bagaimana Sehun bisa mengacuhkan anak semanis Jongin.

"Haha...Sehun tidak secuek itu, kau tahu." Chanyeol membalas perkataan Jongin dengan mengusuk rambut anak itu dan di balas dengan kerucutan di bibir oleh Jongin. Oh yatuhan, kenapa Jongin bisa selucu itu. Chanyeol hanya tersenyum tipis melihatnya.

"Hyung! Mau ku perlihatkan sesuatu?"

Meskipun bingung tapi toh Chanyeol mengangguk sebagai jawaban. Kemudian dengan cepat Jongin menarik lengan Chanyeol dan membawanya ke dekat pohon Sycamore.

"Kau mau apa, Jongin?" Chanyeol terlihat bingung. Dia hanya mengikuti arah gerak Jongin yang sekarang sudah mulai menaiki pohon itu.

"Hyung, ayo naik." Jongin berbicara dari atas dan mengulurkan tangannya untuk Chanyeol. Dengan ragu, Chanyeol menggenggam tangan Jongin kemudian mulai menaiki batang pohon Sycamore.

Mereka duduk bersebrangan di cabang pohon. Jongin menghadap utara sementara Chanyeol sebaliknya. Jongin tersenyum kemudian melihat Chanyeol yang masih memasang tampang tidak mengerti.

"Jongin—"

"Sst...sedikit lagi."

Chanyeol diam. Kemudian dengan perlahan memutar tubuhnya untuk melihat arah pandang Jongin. dan ia melihat itu. sang surya perlahan terbenam. Dan...pemandangan yang terhampar di depannya itu. Ya tuhan.

..

Sehun mengernyit tidak suka saat ia mendapati sepupunya berjalan dengan Jongin sambil tertawa-tawa. Lagi-lagi Jongin mengganggu hidupnya. Kali ini ia merebut perhatian Chanyeol.

"Apa yang kau lakukan bersamanya, Hyung?"

Chanyeol dan Jongin menoleh dan menatap Sehun dengan senyuman lebar yang masih terpasang di wajah mereka.

"Sehun, kau tahu? Aku mendapatkan sesuatu yang luar biasa hari ini!"

Sehun semakin tidak suka.

"Jongin sangat lucu. Dia anak yang baik sekali. Dia menunjukkan sesuatu yang tidak pernah kulihat sebelumnya selama hidupku! Harusnya kau mengetahui ini agar kau tidak menyesal,hahaha..."

Chanyeol kemudian tertawa diikuti Jongin yang juga tertawa.

Sehun merasa Jongin seperti sedang menertawakan dirinya karena berhasil merebut perhatian Chanyeol.

"...What the hell!"

Sehun menendang ember di dekatnya kemudian berjalan memasuki rumah dan membanting pintu dengan keras—yang membuat Ibu-nya berteriak frustasi karena Sehun berhasil merusakkan engsel pintunya.

"Ada apa dengannya?" Tanya Jongin.

"Jangan pedulikan dia, Jongin. Dia sedang PMS."

..

Semakin lama, Jongin semakin menginvasi kehidupannya. Dia tidak berhenti mengganggunya, merebut perhatian Ibu-nya, perhatian Chanyeol, bahkan sekarang Ayah-nya juga ikut-ikutan. Dan terakhir, Jongin menghabiskan harinya dengan membaui rambut Sehun yang beraroma semangka. Maksudnya benar-benar membaui. Jongin mengendus-endus rambutnya dari belakang saat mereka sedang berlajar di kelas.

"Aku suka rambutmu, Sehun. Baunya seperti semangka." Sehun berusaha bersabar beberapa saat untuk hal ini meskipun itu sangat mengganggunya.

Namun di hari berikutnya—"Sehun, Kau memakai shampoo apa? Rambutmu benar-benar lembut." Kali iniSehun hampir meledak karena Jongin mulai menyentuh rambutnya.

"Sehun, aku tidak bisa berhenti mengendus bau rambutmu! Aku sangat ! kalau bisa aku ingin menciumi rambutmu setiap waktu!" Dan Sehun kehabisan kesabarannya. Ia berdiri dengan tiba-tiba kemudian meneriaki Jongin untuk berhenti mengurusi rambutnya.

.

Mungkin Park Soensaengnim tidak mengerti keadaan Sehun. Sehingga ia harus menghukum Sehun untuk membersihkan gudang bersama seseorang yang benar-benar ingin di jauhinya.

Dia rasa, beberapa saat lagi jika Jongin tidak berhenti mengganggu hidupnya, maka ia akan berakhir seperti tokoh di dalam drama favorit Ibu-nya. Menjadi penghuni rumah sakit jiwa. Dan Sehun tidak mau itu terjadi.

"Kurasa ini adalah hari terbaik dalam hidupku!" Jongin berteriak keras sembari mengacungkan sapu di tangannya dengan senyuman lebar yang tak lupa ia tampilkan.

"Diamlah, idiot." Sehun membentak Jongin agar anak itu bisa tenang.

Jongin tertawa lebar. Ia sangat senang karena bisa berduaan—ehem dengan Sehun di dalam gudang. Bukannya kecewa, anak itu justru senang mendapat hukuman ini. Tentu saja!

"Bersihkan dengan cepat agar kita bisa keluar dari tempat sialan ini, Tuan Kim."

Jongin menoleh sejenak. "Lama-lama juga tidak apa." Jongin menjawab dengan sumringah. Sehun mencibir dan berusaha untuk tidak menghiraukan Jongin bersama sapunya—yang terus ia acungkan. Ia beranjak ke sisi lain gudang dan mulai membersihkan debu-debu yang mengumpul disana sementara Jongin tersenyum melihat Sehun.

..

Saat pulang kerumah, Jongin segera melempar tas nya sembarangan kemudian berlari seperti kesetanan menuju pekarangan rumah untuk menemui ayah-nya.

"Appa! Katakan padaku jika kau berbohong!" Jongin berteriak keras saat sudah berhadapan dengan ayah-nya.

"Jongin, tenanglah."

"Tidak, Appa! Kau harus menghentikannya! Aku tidak mau pohon itu di tebang! Kau tidak mengerti!"

Sang ayah tidak tahu harus melakukan apa. Pasalnya pohon Sycamore itu milik seseorang.

"Kita tidak bisa melakukannya, pemiliknya sudah berkata seperti itu, JONGIN!"

Jongin tidak memperdulikan kalimat terakhir ayahnya karena ia tiba-tiba berlari pergi meninggalkan ayahnya. Pasti ke tempat pohon itu.

.

.

TBC.

.

.

Adakah yang tidak suka pair HunKai disini? Melihat sedikitnya review buat fic ini kurasa readers kurang tertarik(?) well, thank you yg udah nge-fav ataupun ngefollow^^ review?

Putrifibrianti96 : lihat kelanjutannya ya hihihi makasih reviewnya

Thiefanie fhaa : yaps, ini Hunkai, tq reviewnya

Seojin : sabar ya, Kris masih di chap selanjutnya, hihihi tq reviewnya

Kim Love : lengkap sudah(?) hehehe sama nih aku juga suka, tq reviewnya ya

Septaa : knp anticipate? Wkwkwkwk tq reviewnya chingu

Kr4y24 : ini cepet banget kan? XD

ika zordick : hehe tq reviewnya ya

Rainrhainyrianarhianie : ini HunKai, maaf bgt ga bisa di ubah pair nya kekekeke tq reviewnya ya reader-nim

Keepbeef Chiken Chubu : tq ya reviewnya, review lagi?