Sycamore Tree

Hunkai Slight KrisKai, ChanKai, HunHan

Story by dimpleXING

End Chap!

..

..

Jongin terus memiliki perasaan yang campur aduk ketika mengetahui bahwa Sehun menjadi salah satu calon ketua OSIS diantara lima lainnya. Dia mendengar bahwa Luhan, berencana untuk memberikan buket bunga nya—sebagai pertanda bahwa ia berada di pihak seseorang yang menerima buket bunga itu—kepada Sehun.

Sementara itu, Sehun berpikir bahwa Jongin berencana untuk memberikan buket bunga miliknya kepada Sehun karena ia mendengar desas desus dari orang-orang. Namun ternyata Jongin sama sekali tidak ada niat untuk mempergunakan buket itu untuk Sehun.

Sehun mulai berpikir macam-macam. Ia pikir dirinya sudah mengambil satu poin dari Kris. Namun saat itu, ia baru sadar bahwa Jongin menaruh buketnya pada keranjang nomor satu di suatu pagi. Yang berarti keranjang milik Kris.

Hatinya terasa seperti di remas kuat oleh tangan-tangan jahat saat mendapati hal itu. Hatinya sakit. Ia ingin menanyakan kenapa Jongin berada di pihak Kris, namun urung saat ia menyadari kebodohannya. Tentu Jongin memihak Kris, karena sudah seharusnya seperti itu. Dirinya belum juga sadar oleh keadaan. Namun ia tidak berpikir jika dirinya kalah. Masih ada poin selanjutnya.

..

Saat akan pulang sekolah, Sehun sengaja memperlambat pekerjaannya membereskan buku-buku hanya untuk bisa mengajak Jongin pulang bersama. Namun ia melupakan sesuatu bahwa Kris masih menjadi tembok penghalangnya.

Sehun selesai membereskan kemudian membalik badan dan menatap Jongin lama. Anak itu terkejut namun berusaha untuk tidak memperdulikan Sehun dan terus memasukkan buku-bukunya ke dalam ransel.

"Jongin-ah, aku menunggumu." Ujarnya sembari tersenyum. Jongin melihat itu dan dada nya berdenyut tidak karuan. Sehun tersenyum—untuknya. Kemudian kalimat lembut yang keluar dari bibir Sehun itu.

"...Oh, Sehun? Tapi aku akan pulang bersama—"

"Aku ingin kau pulang bersamaku hari ini, Jongin." Potongnya cepat sebelum Sehun mendengar nama Kris didalam kalimat Jongin.

Jongin menggigit bibir bawahnya setelah mendengar kalimat Sehun. Tangannya bergerak mengusap belakang kepala. Ia berpikir jika seharusnya tidak bersikap seperti ini lagi di depan Sehun. Harusnya ia bisa tidak memperdulikan Sehun seperti waktu lalu.

"Kai, kau sudah selesai?" Kris memutuskan untuk mendekati kedua anak itu karena tidak puas jika hanya mendengar pembicaraan mereka dari kursi belakang. Kris mengetahui tentang Sehun dan Jongin. Dan Kris menyadari bahwa dirinya masuk di antara keduanya. Ia pikir jika Jongin tidak lagi menyukai Sehun dan dirinya berhak untuk memiliki Jongin. Dirinya memiliki poin lebih dari Sehun.

"Kai?! Siapa maksudmu, hah?" Sehun tidak bisa untuk tidak berteriak karena Kris tiba-tiba menginterupsi mereka dan memanggil Jongin-nya dengan nama seperti itu. Memangnya Kris itu siapa. Dirinya sudah mengenal Jongin lebih dari enam tahun. Meskipun selama itu ia berlaku tidak baik kepada Jongin.

"Kai, ayo pulang." Kris menghiraukan kicauan Sehun dan memilih untuk mengambil tangan kiri Jongin kemudian menariknya berdiri.

Sehun berdiri saat itu juga dengan wajah yang sudah memerah karena emosi yang ia rasakan. Tangannya bergerak menahan tubuh Jongin kemudian menariknya mendekat. Tidak memperdulikan tatapan tajam yang ia dapat dari Kris. "Kau pulang bersamaku, Jongin." Tegasnya.

Jongin menundukkan kepalanya dan memejamkan matanya sejenak sebelum ia mendongak dan menatap mata Sehun—yang masih indah seperti pertemuan awal mereka enam tahun lalu.

"M-maafkan aku, Sehun. Hari ini aku dan Kris berjanji untuk menonton bersama. Jadi aku tidak bisa pulang bersamamu." Balasnya pelan.

"Sehun, lepaskan tanganmu darinya." Kris memperingati. "Kau tidak mau pulang bersamaku, Jongin?" Sehun bertanya—lagi-lagi tidak memperdulikan Kris. Jongin mengangguk kemudian mendorong tubuh Kris untuk berjalan pergi bersamanya.

Sehun melihati mereka dan menghela napas kasar setelah itu.

..

"Untukmu," Kris menyodorkan sebuah cola kepada Jongin dan mendudukkan tubuhnya di samping anak itu.

"Terimakasih, Kris." Jongin tersenyum membalas dan menerima cola itu.

Keduanya duduk di sebuah peron kereta api saat ini. Masih berseragam sekolah. Kris mengenggak cola nya kemudian menoleh untuk melihati Jongin yang sedang memutar-mutar cola miliknya.

"Kau tidak minum?"

Jongin tersentak kemudian menoleh, "Ah, iya." Kemudian anak itu meminumnya. Kris tersenyum kecil dan tangannya tidak tahan untuk tidak mengacak surai lembut milik Jongin.

Terkejut, Jongin menatap Kris dan hanya di balas dengan senyuman lagi.

"Kenapa harus berbohong?" Tanya Kris.

"Tidak apa. Hanya ingin menghindari anak itu. Aku tidak mau di ganggu olehnya." Jongin menjawab.

"Jadi, kau menggunakanku sebagai alasan untuk menghindari Sehun?"

Jongin tersentak dan gelagapan mendengar kalimat dari Kris. Sementara itu Kris hanya tertawa dan mengacak surai Jongin lagi. Kai itu manis sekali ya. Pikirnya.

"T-tidak,Kris. Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya—"

"Aku tahu, Kai. Tidak perlu merasa seperti itu." Tenang Kris.

Jongin sebenarnya masih tidak mengerti dengan Kris. Apalagi panggilan itu. Kris seolah menenangkan dirinya disaat-saat dirinya sedang kalut dengan perasaannya sendiri.

"Menonton, hm? Tipuanmu boleh juga, Tuan aktor."

"YA! Aish,"

Kris mencoba menggoda Jongin. Ia suka saat Jongin mengerucutkan bibirnya kemudian berakting marah seperti sekarang. sangat menggemaskan.

..

Bagaimanapun, Sehun begitu mengkhawatirkan Jongin. Ia tidak tahu apa yang mereka lakukan selama acara menonton itu berlangsung. Ia tidak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan namja burung hantu itu kepada Jongin di tempat gelap seperti gedung bioskop.

Pikiran buruk mengancamnya. Ia berjalan kesana kemari seperti pikiran kosong sedang merasukinya. Menghentak-hentakkan kaki berharap perasaan mengganggunya itu pergi. Namun yang ada justru perasaan gelisah yang semakin menggila.

"Menyesali sesuatu, Sehun?"

Langkahnya terhenti saat Chanyeol menginterupsi kegelisahannya. Ia berbalik kemudian menatap sepupunya itu dengan pandangan yang aneh. Chanyeol berjengit selama Sehun menghela napasnya kasar dan berjalan mendekati dirinya.

"Ya, Hyung." Balasnya. Chanyeol sudah akan membalasnya lagi sebelum—

"A-aku, menyayanginya."

Sehun mengakui, meskipun begitu terlambat.

Chanyeol menepuk pundak Sehun dan membisikinya, "Kau ingin mendapatkan Jongin? Berjuang keras, Sehun."

Setelah kalimat itu, Chanyeol beranjak dan meninggalkan kamar Sehun sementara Sehun terdiam berpikir tentang kalimat Chanyeol.

..

Esoknya adalah hari pemungutan suara untuk menentukan ketua dan wakil OSIS periode selanjutnya Yeungjin Daegu High School.

Sejujurnya, Sehun tidak mempunyai minat sama sekali untuk pemilihan ini. Benar-benar sebuah cara untuk menarik perhatian Jongin lagi. ia tidak tahu itu berhasil atau malah sebaliknya.

Kris, Head Class XII A. Berada di urutan pertama pemilihan ini. Mengingat buket yang di terimanya melebihi target yang di tentukan. Sebanyak 105 buket ia terima. Sedangkan Sehun berada di urutan ketiga dan juga mewakili kelas XII A.

Sementara itu calon yang lainnya adalah Kim Jongdae, wakil XII B. DO Kyungsoo, Wakil XII C, dan terakhir Kim Minseok yang juga wakil XII C.

Dengan waktu yang ditentukan, lima orang tersebut bergantian mempromosikan diri dengan segala kicauan mereka yang tidak lebih menarik dari pidato seorang bapak negara. Hanya yang membuat para murid-murid itu bertahan dan duduk manis di tempatnya adalah karena hadirnya seorang idola baru di tengah-tengah mereka. Siapa lagi jika bukan Kris.

Jongin tertawa kecil saat menyadari itu. teman yang duduk di sebelahnya bilang jika ia mengenal Jongin karena Kris dekat dengannya. Dan ia bilang bahwa dirinya begitu beruntung akan hal itu. sementara dalam pemikiran Jongin, anak itu tidak merasakan apapun seperti yang di maksud orang-orang itu kecuali moment-moment menyenangkan yang ia habiskan bersama Kris.

Kris melihatinya kemudian tersenyum, dan dibalas dengan senyuman yang lebih manis dari Kim Jongin. sehun mencibir dan membuang muka untuk sesaat sebelum ia merogoh sakunya dan mengambil ponsel.

Tangannya bergerak mengetik pesan singkat dan tersenyum setelah tanda send ia terima. Setelah itu ia alihkan pandangannya kedepan dan melihati anak itu.

.

1 message received

Jongin memiringkan kepala saat mendapati satu pesan yang terlampir di layar ponselnya kemudian membaca pesan itu sembari mengerutkan dahi karena begitu terkejut dengan apa yang didapatnya.

From : Tuan tidak butuh teman

Jongin-ah, bisa kau berikan aku senyuman seperti itu juga? Setelah ini giliranku mempromosikan diri dan aku akan bersemangat jika kau memberikannya.

Oh Sehun.

Received on Thursday, 11.45 KST

.

Jangan berharap banyak untuk Kim Jongin, karena anak itu justru tidak mengangkat kepalanya sama sekali setelah menerima pesan dari Sehun. dan dengan helaan napas kasar, Sehun berdiri kemudian melangkahkan kakinya menaiki podium untuk memulai promosinya. Matanya tidak lepas menatap Kim Jongin. anak itu tidak melihatnya sama sekali dan perasaan berdenyut itu kembali ia rasakan saat ini. Bertahan di atas podium dan tidak memilih berlari kemudian memeluk anak itu sekarang juga karena ia masih memiliki akal sehat. Hanya memutuskan untuk tetap pada posisinya dan melanjutkan promosi dengan perasaan yang begitu kacau.

..

Seminggu kemudian saat pengumuman ketua OSIS di sebar, Sehun hanya tertawa kecil seolah menertawakan langkah yang ia ambil saat itu. bukan menyesal, hanya saja dirinya bingung harus berlaku seperti apa lagi.

Kris menang dan berhasil menjadi ketua OSIS untuk masa jabatan satu satu tahun kedepan hingga mereka lulus.

Semantara itu prestasi yang di dapat Sehun adalah menjadi wakil nya. Hell? Sehun bahkan tidak pernah berpikir jika ia harus menjadi wakil si burung hantu yang menyebalkan seperti Kris.

Ia melihat Kim Jongin bersorak atas itu. Jongin tersenyum kepada Kris dan menepuk pundak pemuda jangkung itu dengan berkali-kali tepukan sehingga membuat Kris tertawa gemas kemudian mengacak rambutnya.

"Jongin, mau makan siang bersamaku?" Sehun menawari Jongin dengan sedikit berteriak dari bangkunya.

Jongin berhenti tertawa kemudian menoleh untuk melihat Sehun dan membalas, "Aku akan makan siang bersamanya." Jongin menunjuk Kris untuk memberitahu Sehun. Sepertinya, Jongin sudah bisa mengontrol sikap saat berhadapan dengan Sehun. Mungkin anak itu sudah cukup lelah untuk berfikir dan memilih mengambil keputusan untuk bersikap biasa saja kepada Sehun.

..

Selama makan Siang, Sehun dan Luhan bersama Yixing duduk di meja seberang milik Jongin dan Kris. Jongin duduk menghadap Sehun dan Sehun tidak bisa jika tidak menatap Jongin sepanjang waktu. Sementara anak itu harus berusaha mencari topik pembicaraan yang menyenangkan bersama Kris agar tidak terganggu oleh sikap Sehun yang membuatnya begitu tidak nyaman.

Hati Jongin masih tetap berdesir hebat setiap kali Sehun berusaha untuk menarik perhatiannya. Namun, ia masih tidak percaya dengan semua sikap Sehun yang tiba-tiba selama ini.

"Kau terganggu?" Kris mengusik isi pemikiran Jongin ketika anak itu tidak sengaja melamun memikirkan Sehun.

"—Eh?"

"Sehun, matanya tidak pernah lepas darimu sedikitpun. Apa kau terganggu?"

Jongin tertawa aneh kemudian menggeleng dan menggeser sedikit posisi duduknya, "Ah, tidak. Aku bahkan tidak peduli jika dia memandangiku seperti itu." Balasnya. Namun Kris hanya tertawa. kemudian tangannya bergerak mencoba untuk meraih bibir Jongin. mengusapnya pelan karena Kris melihat sisa makanan yang tertempel disana. Jongin melebarkan mata dan terdiam kaku saat Kris menggerakkan jarinya-jarinya dengan lembut.

"Bagaimana bisa selembut ini." Kris membatin. Ia memandangi mata Jongin lama hanya untuk melihat sesuatu disana.

Sehun melihat itu. kemudian ia berdiri dan berjalan menuju meja Jongin, lalu menggeret anak itu menjauh dari meja untuk berbicara dengannya. Menghiraukan tatapan terkejut dari orang-orang disekitarnya, termasuk kris.

Beberapa saat mereka tidak saling bicara dan Jongin berusaha untuk memprotes sebelum Sehun memutuskan untuk mencium Jongin di depan banyak orang.

Jongin begitu terkejut dan memberontak namun tangan Sehun menahan tubuhnya. "A-nhh Sehun, apa yangh—"

"Diam." Bisik Sehun di sela ciuman mereka. Kedua tatapan matanya begitu menusuk Jongin dan anak itu hanya terdiam saat Sehun berusaha untuk melumat bibirnya. Tanganya merangkul pinggang Jongin dan mencoba mengusapnya untuk memberitahukan apa yang ia rasakan terhadap Jongin.

"Aku mencintaimu, Jongin." Sehun berbicara tanpa mengalihkan pandangannya dari Jongin Sedikitpun saat ia melepaskan pagutan dari bibir Jongin.

Jongin hanya terdiam selama itu. Jongin berpikir jika hal terakhir yang ia yakini selama ini akhirnya ia dapatkan. Sehun menciumnya. Sehun mencium bibirnya. Namun bukan dengan cara yang seperti ini.

Tidak menghiraukan pernyataan dari Sehun, Jongin menangkis tangan anak itu dan buru-buru pergi keluar. Sehun mengejarnya namun Jongin berkata bahwa ia tidak mau diganggu.

"Beri aku waktu," Jongin berucap teramat dingin kepada Sehun, sebelum anak itu benar-benar pergi.

..

Sehun sampai dirumah dan melempar tas nya dengan begitu kasar. Chanyeol melihat itu kemudian mendekatinya, "Apa yang terjadi?"

Sehun menghiraukan suara sepupunya dan memilih untuk pergi tidur tanpa melepas seragam sekolahnya.

Chanyeol mengernyit tidak mengerti melihat sikap Sehun yang begitu aneh. Namun perhatiannya segera teralihkan saat layar ponsel nya menyala menunjukkan sebuah pesan singkat.

Kau ada waktu, Hyung? Aku ingin berbicara denganmu.

Chanyeol memasukkan ponsel nya kemudian berjalan keluar sambil tersenyum untuk menemui anak itu.

..

Keduanya sedang terduduk di peron kereta. Jongin memintanya untuk menemani berjalan kesini. Chanyeol bertanya apakah Jongin sudah memiliki tempat lain setelah pohon Sycamore itu di tebang, dan jawabannya adalah peron kereta ini.

Chanyeol bertanya kenapa dan Jongin bilang di peron kereta kau bisa melihat bermacam-macam orang yang berlalu lalang dan kau bisa menangis tanpa seorang pun peduli karena semua orang disana sibuk dengan urusan mereka masing-masing.

"Jadi, kenapa kau membawaku kesini?" Chanyeol bertanya setelah Jongin bercerita tentang peron-nya.

Jongin tersenyum tipis kemudian menoleh menatap Chanyeol beberapa detik dan menghela napas pelan. "Hyung, bagaimana menurutmu jika Sehun berkata bahwa dia mencintaiku? Apa kau percaya?"

Chanyeol tidak menjawab untuk beberapa saat karena terkejut sebelum akhirnya kebiasaan lama jika ia sedang bersama Jongin muncul. Mengusuk rambut milik Jongin. "Kenapa harus tidak percaya? Apa yang kau takuti?"

"Aku tidak takut apapun. Aku hanya tidak percaya dengan semua ini. Aku mengenal Sehun dan Sehun berubah hanya dalam jangka waktu beberapa bulan setelah aku memutuskan untuk tidak mengejarnya lagi."

Jongin mencoba menjelaskan kepada Chanyeol tanpa memperlihatkan bahwa hatinya terluka saat mengingat masa lalunya selama mengejar Sehun.

"Begini saja, aku akan menanyaimu satu hal, Jongin."

"—Ya?"

"Apa kau masih menyukai Sehun?"

"..."

..

Beberapa minggu setelah kejadian mencium Jongin di kantin waktu itu, Sehun tidak pernah lagi melihat Jongin tertawa. Bahkan jika anak itu bersama Kris sekalipun. Dirinya berpikir, apakah sudah melakukan kesalahan sehingga membuat Jongin berlaku seperti itu. Sehun mencoba mengontak Jongin bagaimanapun caranya. ia memencet bel pintu, menelpon, mengirimi anak itu banyak pesan singkat, bahkan menggedor jendela kamarnya.

Namun hanya balasan dari ayah Jongin yang ia terima. Ia berkata bahwa anak nya meminta waktu untuk Sehun agar memberinya privasi.

Sehun berteriak frustasi dari dalam kamar dan membuat ibu nya balik berteriak karena Sehun sudah mengganggu acara menonton drama favoritnya di sore hari.

..

Suatu hari, Jongin melihat Sehun menggali lubang di halamannya. Ia ingin keluar dan memergoki anak itu namun di cegah ayah Jongin dengan berkata bahwa beliau mengijinkan Sehun melakukan hal itu.

Setelah Sehun menggali lubang, ia pergi dan membawa Sycamore yang masih kecil untuk ia masukkan kedalam lubang kemudian menutupnya dengan tanah.

Jongin hanya melihatinya dari balik jendela. Sehun berlaku seperti anak kecil berusia tujuh tahun saat tangannya berusaha mengusap wajah yang gatal tapi malah tanah-tanah itu jadi menempel. Jongin tidak bisa untuk tidak tertawa saat melihat itu.

Sehun berlari dari rumahnya ke halaman rumah Jongin berkali-kali untuk mengambil sesuatu. Jongin melihat Sehun menggantungkan beberapa kertas di batang Sycamore. Dan pergi setelahnya.

..

Malam hari, Jongin memutuskan untuk keluar dan mendekati pohon itu saat melihat lampu di rumah Sehun sudah padam. Hembusan angin yang lewat menggerakkan kertas-kertas yang tergantung itu. jongin mengambil satu dan membacanya.

Untuk seseorang yang manis seperti Kim Jongin.

Jongin menahan tawanya saat membaca tulisan pertama itu. Demi tuhan, ia tidak habis pikir kenapa Sehun bisa menuliskan kalimat seperti ini. Dan selama enam tahun mengenal anak itu, apakah ia tidak berusaha untuk memperbaiki cara menulisnya? Buruk sekali.

Tangan Jongin mengambil kertas yang lainnya.

Maafkan aku, bagaimana? Kau setuju? Aku akan memberimu sepuluh gelas bubble tea yang enak jika kau bersikap manis kepadaku.

Apa maksudnya itu? meminta maaf atau mengharapkan sesuatu yang lain? Jongin mencibir kemudian meraih kertas selanjutnya.

.

Aku tidak tahan setiap kali melihatmu berdekatan dengan si burung hantu bodoh itu. menjauh darinya atau aku akan menciummu lagi, Jongin!

.

Aku bodoh dan aku tahu. Mengabaikan perasaan anak manis seperti aku sudah menyadari itu sekarang.

.

Berhenti mengabaikanku! Kumohon?

.

Kim Jongin, apa aku harus mengatakannya lagi? aku mencintaimu.

.

Jadilah namjachinguku, otte? Aku tidak menerima penolakan.

.

Begitu yang di tulis Sehun dalam kertas-kertasnya. Jongin tertawa kencang setelah itu dan memegangi perutnya karena sakit.

Air mata mengalir di sela tawanya saat itu.

"Jongin, hey!"

Jongin berjengit kaget dan menghentikan tawanya saat mendapati Sehun sudah berdiri di depannya. Tangannya masih memegang kertas terakhir dari Sehun dan menggengam itu erat-erat.

"Kau menangis?" Sehun terkejut saat mendapati Jongin menangis. Jongin segera menghapus air matanya dan tertawa kecil. "—Aku tidak menangis!"

Beberapa saat keduanya saling terdiam, lalu Sehun dengan tiba-tiba meraih tubuh Jongin kemudian memeluknya erat.

jongin lagi-lagi terkejut namun hanya memilih untuk diam dan merasakan bagaimana tubuh Sehun merengkuhnya.

"Maafkan aku," Bisiknya.

Jongin mengangguk, "Tidak apa-apa."

"Jangan abaikan aku, Jongin."

"...Baiklah."

"Berhenti mendekati anak itu."

"—Siapa?"

"Kris."

"Kau cemburu?"

"..."

"Sehun, Kau cemburu?"

"Aku tidak suka melihatmu bersamanya. Hatiku sakit."

"..."

"Jongin?"

"Apa?"

"Aku mencintaimu."

"Aku tahu...aku juga."

Sehun melepas pelukannya dan melihat Jongin dengan mata yang berbinar, "Apa itu artinya kau menerimaku?"

Jongin menangguk lagi, "Karena aku mencintaimu jadi aku menerimamu. Kau jangan jadi bodoh seperti itu, Sehun."

dan bersamaan dengan itu Sehun meraih dagu Jongin kemudian menatap mata anak itu beberapa detik.

"Apa itu juga berarti aku boleh menciummu?"

"Ya! Aku menggunakan bibirku untuk berbicara, bukan untuk kau jilati, dasar maniak!" Sehun tertawa setelah Jongin meneriakinya seperti itu. "Sedikit saja, Jongin?"

"Tidak-mau!"

..

"Begini saja, aku akan menanyaimu satu hal, Jongin."

"—Ya?"

"Apa kau masih menyukai Sehun?"

Tidak. Aku bukan menyukai Sehun, aku mencintainya, Hyung.

..

..

FIN

..

..

Akhirnya fic ini KELAR! WAHAHAHA, serasa terbebas dari hutang satu karena hutang dua belum lunas(Re: other fic) jadi, sebenernya kalo alur di chap ini aku panjangin bisa jadi end nya di chap depan tapi karena mengingat jadwal kerja aku yang on terus dari senin-sabtu disertai berbagai kegiatan yang tidak bisa ditinggal, jadi aku percepat agar readers segera menemukan titik endingnya(?) halah banyak alasan. Oke, kerena ini end chap, siders tolong tunjukkan diri kalian(?)

Balas review—

Ririn : aku juga gasuka misalnya sehun dijadiin rebutan karena sehun itu milikku(?)

Eli tekaje : di chap ini kekekeke, btw km anak smk kah?/apa urusan lu thor

Sayakanoicinoe : sudah nih, review lagi ya

Ayumkim : sycamore nya mau dijadiin kayu bakar, kamu benar XD

Ichigo song : melihat orang kurang ajar di balas dengan balik menyakitkan itu menyenangkan(?) /jahat

BluePrince14 : karena di cuekin itu gaenak, karena kita semua tau rasanya dicuekin /curhat hehe

Askasufa : karena karma itu masih berlaku sehingga sehun harus merasakan apa yang di rasakan jongin(?) tukang pohonnya hanya mencoba profesional XD

Penghulu kaisoo : sehun dari dulu nyebelin, sehun terlahir sebagai orang yang pantas untuk di sebal-sebalkan(?) terimakasih ya

Ika zordick : ini sudah ada lanjutannya,hehe

Putrifibrianti96 : aku kalo lagi mood pasti post nya cepet ko, tinggal gimana ide ngalir di otak aja pasti langsung semangat ngetik hehe, yg diatas sudah so sweet belum?

LM90 : kan jongin jago gelantungan jadi tiba2 aja nongol di pohon gede itu(?) km harus nonton film nya biar engga penasaran lagi hehe

Myungkai : terimakasih banyak ya hehehe kris Cuma nongol bentaran doang(?)

Uthienz keykimkibum : di chap ini sudah sesuai request belum? Keke

Kim love : terimakasih ya, km setia ngomenin fic absurd bin abnormal ini(?) ini sudah end review lagi boleh dong/keke

Yoon hee : terimakasih banyaak /terharu sehun sudah dpt karmanya wkwkwk

Thiefanie fha : karena di film aslinya 'flipped' seperti judulnya film ini mengusung tema kebalikan(?)

Chilay : hwaaah terimakasih ya /terharu,peluk chilay/ hehehehe ini end chap review lagi ya

Wahyuthetun : sudah^^

HanRii03 : aduh ngakak asli baca review punyamu kekekekeke, terimakasih banyak ya

Momo : terimakasih^^

Banzaianime80 : sudah ^^

Seojin : request kamu dipending(?) sayangnya kai masih sayang-cinta-mati-sampe-mampus sama sehun kkkkk

Keepbef Chiken Chubu : sepertinya km suka jika sehun tersakiti/?

PS : Terimakasih ya, sudah nih kk

ShinersBaek : wah terimakasih reviewnya, di kasih kesan pula /berasa tugas / semua pertanyaan km sdh terjawab di chap ini ya, hehehehe^^

Jongin48 : kasian yak si sehun(?) sudah nih hehe

.

BYE