~Forever Sweet Chocolate~

Cast ADAMS &HIGHFeeL crew

Genre : Romance/Yaoi/M


Shota.

"Nnh... Ahh..."

Desahan Adam memenuhi ruangan ini, lidah ku tak berhenti memanjakan nya.

"Shota... nh!" Adam melepas ciumanku.

"Hmm?"

"Hah... hah, berhenti... sekarang..."

"... Kenapa? Kita baru mulai."

"Iya karena itu," Adam turun dari pangkuanku. "Sebelum terlalu jauh... kita... kembali ke pelajaran. Uwaah~?!"

Aku menarik tangan nya kembali ke kasur. "kita tidak akan melakukan itu hari ini."

"Ehh! Ta—tapi ujian nya sebentar lagi."

"Aku bilang, kita tidak akan melakukan itu hari ini."

"Unh!"

Aku mengunci bibirnya lagi, perlahan, ku dorong kepalanya dan tubuhnya terbaring ke ranjang.

"Aku ingin merasakanmu, seluruh tubuhmu... biarkan aku mencumbu mu hingga kita melupakan dunia..."

Adam.

Wajah tampan nya berkerut, bad mood, Ia tidak banyak bicara saat kami pulang bersama tadi. Entah apa yang dia pikirkan, wajahnya sampai terlihat kesal begitu.

'Tidak, tidak apa-apa' Katanya, saat ku tanya tadi. Ia hanya mengacak-acak rambut ku, lalu merangkul bahuku setelah mengatak an itu.


-ADAMS-

"Ah! Ah! Ahh! Pelan... pe—lan! Haa!"

'Demi tuhan! Apa yang membuatnya sekasar ini?!'

"Shota! Nh, ada apa dengan mu?! Ahh..."

Air mataku mengalir tak tertahan, ku cengkram punggung nya erat-erat. Namun, Ia tak menghiraukanku, ataupun memperlambat gerakan nya.

"Shota..."

Ia menatapku lembut, lalu mencium bibirku lagi.

"Maaf..."

"Shota?"

'GRAB!'

"Uwaah?!" Shota tiba-tiba menarik tanganku dengan kasar, kemudian membanting tubuhku keranjang dengan posisi terlungkup. "Shota! Apa yang kau—AHHH!"

Author.

Lelaki berambut hitam itu menahan kedua tangan kekasih nya di belakang punggung nya, menekan nya dengan sangat kuat, hingga suara tangis dan teriakan keluar dari sepasang bibir merah Adam yang gemetar.

Nafas mereka menguap memenuhi ruangan, keringat mengalir bagai lem yang dengan lengketnya merekatkan tubuh mereka.

Disini, atmosfer "Cinta" mulai menipis, tidak ada lagi rasa itu di setiap hentakan yang Shota lakukan, semua nya hanya terasa seperti emosi semata. Bahkan, tangisan lirih Adam tidak menyentuh hati kecilnya lagi.

"Hah... hah... hah..."

Shota melambat, ia menyadari kalau lawan main nya sudah tidak bergerak lagi.

"Hah... Adam..."

"... ... ..."

Hening, Adam tidak bereaksi.

"Adam?" Shota melepas tangan Adam, tangan-tangan itu lalu tergolek lemas, jatuh kekasur. "... Hei, ADAM?!"


-ADAMS-

"Tick, tick, tick, tick, tick, tick"

Suara jarum jam yang berulang-ulang memenuhi kepalanya. Semakin lama ia mendengarnya, semakin jelas, semakin besar juga keinginan nya untuk membuka mata, tetapi, rasa sakit yang amat sangat menusuk kepalanya bertubi-tubi. Hanya dengan sisa kekuatan yang terkumpul, lelaki itu membuka matanya perlahan.

Awalnya, semua terlihat kabur, belum jelas apa yang ia lihat. Sampai akhirnya, semua bayangan yang ia lihat lambat-laun menyatu, dan membuat suatu objek absolut.

Benda-benda yang ia lihat sekarang bukanlah benda asing, ia telah melihat nya berkali-kali, dan memainkanya berulang-ulang hingga ia tahu, bagaimana rasa getaran nya ketika senar-senar itu ia petik.

"Unh..."

Sakit kepalanya semakin terasa saat ia mencoba untuk mengingat apa yang terjadi sebelum ia tertidur. Dengan seksama, ia kembali menyisir ruangan itu sampai ujung matanya.

Ia melihat sebuah sosok, duduk memunggunginya di ujung tempat tidur. Disana terdapat garis-garis lecet yang memerah dan bersilangan melukai punggung itu.

"Uhh— ngh..."

"Adam?"

"Eh..."

Punggung itu berbalik dan menampakkan wajah yang familiar, wajah itu tersenyum namun, terlihat tidak bahagia.

Perasaan kesal datang bersamaan dengan semua ingatan yang sempat kacau tadi, Adam berpaling, ia benar-benar sedang tidak ingin melihat wajah itu sekarang .

"Adam..."

"... ... ..."

" Adam, aku minta maaf..."

"... ... ..."

"Adam... katakan sesuatu..." Shota mendekat.

"JANGAN MENDEKAT!"

"Adam, aku—"

"BERHENTI! JANGAN SENTUH AKU!"

Teriakan-teriakan Adam menggema, menghantar keheningan diatara mereka.

"Oke..." Shota bangkit, Adam terdiam dan masih menyembunyikan wajahnya. "Aku janji, aku tidak akan menyentuhmu lagi..."

"... ... ..."

"Tapi, izinkan aku bicara..." dengan lesu, Shota duduk dilantai, bersandar dikasur tepat disamping Adam. "Maafkan aku... aku tidak tahu kalau akan jadi seperti ini, aku... terbawa emosi... dan, akhirnya malah menyakitimu... kau pasti... membenciku kan sekarang? sepertinya, aku memang tidak pantas memilikimu..."

"... Un... ..."

"... Sudah larut, tinggal lah disini sampai besok pagi. Aku... akan tidur dibawah. Oyasumi." Shota berdiri, menjauh dari Adam.

"... Sho—Shota..."

"Ya?" Shota menahan langkahnya diambang pintu.

"Um... ba—badanku... sakit semua, tau!" wajahnya merona merah.

"Eh? ... Iya, maaf. Tapi, aku sudah membersihkan tubuhmu dan mengobati luka-luka nya."

"Ehh?!"

Adam baru menyadari kalau memang tidak ada setetespun keringat di tubuhnya, dan tubuhnya juga tidak lengket, di pergelangan tangan nya pun sudah tertempel plester luka dengan rapih.

"Tadi... kau kelelahan dan tak sadarkan diri, kau juga kekurangan nafas karena wajahmu tertutup bantal. Aku—akan pergi sekarang..."

"Tunggu!" Adam menghentikan langkah Shota lagi. "Kenapa- Kenapa kau melakukan ini? ada apa denganmu?!" ia mengangkat bahunya, berusaha bangun dengan tenaga yang tersisa.

"... ... ..."

"Shota, kalau kau tidak menceritakan nya padaku, aku akan benar-benar membencimu!"

"Tidak! Tunggu! Aku akan menjelaskannnya, itu karena..." tatapan Adam tidak pernah membuatnya segugup ini. "Setelah ujian, aku... harus pergi."

"EHH?!"

"Maaf, aku tidak pernah membicarakan hal ini sebelumnya."

"Ka—kau serius?!"

Shota mengangguk pelan, Adam hanya bisa menatapnya dengan tidak percaya, matanya mulai berkaca-kaca.

"Sebenarnya, aku tidak benar-benar tinggal sendirian. Orang tuaku pulang dua kali sebulan dari Tokyo, dan aku akan tinggal bersama mereka setelah ujian kelulusan, aku juga akan melanjutkan sekolahku disana..."

"Shota..." suaranya lirih, ia berusaha bangkit namun, rasa sakitnya memang tak tertahan. "Waahh—!" Adam hampir terjatuh dari tempat tidur, pinggul nya belum kuat untuk berdiri.

"Adam! Kau tidak apa-apa?!" Shota berlari menghampirinya, kemudian membantunya untuk bersandar diatas kasur. ia menatap dalam mata Adam yang siap menangis kapan saja.

"Aku telah merencanakan ini sejak dulu, tetapi semuanya berubah, sejak kau hadir..." Shota menggenggam tangan Adam, lalu menciumnya, dengan penuh perasaan. "Aku tidak ingin pergi sekarang. Karena itu, aku sangat kesal saat Ryota-sensei memberiku surat 'rencana masa depan' yang harus di isi, aku benci mengingat aku akan meninggalkanmu..." ia membelai rambut Adam. "dan Bodohnya aku, aku malah melampiaskan nya padamu... maaf, aku mencintaimu, Adam."

"... Ta—tapi," Adam melepas tangan Shota. "A—aku pikir, kalau... ini tentang masa depanmu..." ia terlihat ragu-ragu.

"Hm? Apa?"

"Ma—maksudku, kalau ini penting untuk masa depanmu... aku pikir, sebaiknya, kau pergi..." Adam mengatakan itu, tetapi, ekspresi wajahnya bertolak belakang dengan apa yang ia katakan.

"Kau ingin... aku pergi?"

"Tidak! Jangan! Ah... uh, maksudku..."

"Adam..." Shota mengelus pipi kekasihnya itu, mencoba menenangkan nya.

"Jangan pergi..." Setetes air mata Adam jatuh, mengalir ke tangan Shota yang langsung menghapusnya dengan lembut.

"... Jangan menangis, kita masih bisa berkirim e-mail, kan? Aku janji akan terus menghubungimu~" Shota tersenyum sambil mengacak-acak rambut kecoklatan bergelombang milik Adam. "yang Paling penting, kau tidak boleh pacaran dengan orang lain dibelakangku, Oke?"

"APA?" Adam mendorong bahu lawan bicaranya, lalu menghapus air matanya yang sempat penuh tadi. "Itu kalimatku!" Shota tercengang melihat reaksinya. "Kau akan bertemu wanita-wanita yang lebih cantik di Tokyo, harusnya aku yang bilang, kau tidak boleh pacaran dengan orang lain dibelakangku!"

Adam mengakhiri kalimatnya dengan terengah-engah, melihat itu, Shota yang tadi terdiam sekarang, tertawa terbahak-bahak sampai perutnya terasa keram.

"Sho—Shota! Berhenti tertawa!"

"Ahahaha~~~"

"Shota~!" Adam mencubit gemas pipi orang yang sedang terbahak itu.

"Aaa iya, ya! Sakit, sakit!"

Shota melepas cubitan Adam, lalu menarik tangan nya dan mencuri ciuman singkat dari bibirnya. Walaupun singkat, ciuman itu tetap membuat wajah Adam merah merekah dan mematung didepan mata Shota.

"Hatiku, sepenuhnya milikmu... dan kau, seutuhnya milik

milikku." Adam hanya bisa menunduk, ia paling tidak bisa melihat wajah Shota saat dia sedang berkata-kata romantis seperti ini. "Karena itu..." Shota mengangkat wajah Adam, memaksanya untuk bertatapan dengan matanya yang tajam. "bisakah kau... menungguku?"

Adam hanya bisa menggangguk pasrah, dan membiarkan bibir Shota mengunci dirinya sekali lagi. Mereka bisa merasakan rasa sakitnya satu sama lain melalui ciuman itu, andai saja mereka bisa seperti ini selamanya, tidak pernah lepas, atau saling melepaskan.

'Adam, Tunggu aku...'

-ADAMS-


SWEET CHAPTER EIGHT : END

Getting closer to the Final chapter~! 8D

thank you so much for following this story, please keep checking up my work and visit my blog .com ^^)/

don't forget to tell me your feelings and Review this chapter for me~ :3