Renn di sini :D

Chapter sebelumnya aku memotong di saat yang penting ya hehehehe

Updatenya juga agak lama... udah mulai sibuk sekolah lagi soalnya

Gomen ne~~

Ini kelanjutannya ^^

.

.

Chapter sebelumnya..

.

.

Ting Tong...

Dare? Batinku. Tidak biasanya ada tamu jam segini, apalagi sedang turun salju. Aku segera mengganti pakaianku dengan yang setidaknya pantas (?) untuk dipakai. Jujur saja, bajuku baru saja dicuci karena aku lupa. Yah yang ada hanya celana pendek dan kaos milik aniki-ku yang sudah kekecilan.

Aku membuka pintu rumah. Tak disangka seorang pria berdiri di depan pintu rumahku. Aku mengedip-ngedipkan mata sedikit tak percaya. Bagaimana Itachi-senpai dan Uchiha-san berkunjung ke rumahku?

"A-ano... Uchiha-san Itachi-senpai... Silahkan masuk.."

Mereka berdua masuk dan duduk di sofa dekat perapian. Rumahku tidak terlalu besar dan tidak juga terlalu mewah. Keluargaku hidup berkecukupan. Aku segera membuatkan teh hangat untuk mereka.

"Apa yang membuat senpai berdua kemari?" tanyaku sambil meletakan cangkir dan duduk di hadapan mereka.

"Begini, Sakura-chan," Uchiha Fugaku memulai pembicaraan. Aku diam mendengarkan.

"Otou-san dan Okaa-san Sakura-chan mengalami kecelakaan pesawat. Pesawat mereka gagal mendarat karena roda pesawat macet saat akan mendarat. Aku turut berduka cita. Sayangnya seluruh penumpang dan awak pesawat tak ada satupun yang selamat."

.

.

(Bukan) Waktu yang Tepat untuk Cinta

Chapter 2

.

.

Aku menelengkan kepala. Merasa aneh dan tak siap dengan apa yang Uchiha-san katakan.

"Anda bercanda kan. Otou-san dan Okaa-san tidak bilang apa-apa tentang kepulangan mereka. Kalian pasti salah orang."

"Sakura..." Itachi-senpai memanggilku, semuanya benar adanya."

"Uso..."

Aku masih tak bisa percaya. Semua ini begitu tiba-tiba. Jantungku bahkan masih berdetak cukup normal. Hanya saja pikiranku kosong. Sebuah tangan hangat menyentuh bahuku. Membimbing tubuhku untuk bersandar padanya. Aku hanya mengikutinya karena aku tak bisa menggerakan tubuhku. Aku ingin bertanya lagi, namun lidahku terasa kaku untuk mengucapkan kata-kata. Perlahan air mataku mulai menggenang dan turun membasahi pipiku. Apa ini? Aku menangis?

BRAAKK

Pintu rumahku terbuka dengan sangat keras. Aku mengetahuinya namun tak punya kekuatan untuk melihat siapa yang memaksa masuk.

"Sakura!" suara itu... Aku mengenalinya, suara milik Uchiha Sasuke. Ya, Uchiha Sasuke, baru kemarin dia menyatakan perasaannya padaku.

"Sakura!... Lihat aku," sepasang tangannya mengelus kedua pipiku. Aku menatap kedua mata onyx nya. Mata milik orang yang aku sayangi sejak dulu. Terpancar kekhawatiran di mata itu yang membuat pertahananku hancur. Semua emosiku mengalir dengan deras meski sudah aku tahan sebelumnya.

"Hiks... Kaa-san dan Otou-san... Hiks... Hwaaaa~~"

Dia memelukku. Hangat... Terasa sangat hangat. Tangan milik Itachi aku rasakan mengelus punggungku. Sasuke berusaha menenangkanku tapi aku tak bisa berhenti. Kedua kakak beradik ini berusaha menenangkanku namun emosiku tak dapat dibendung lagi.

Apa ini? Emosi macam apa ini? Aku sendiri pun bertanya-tanya pada diriku. Sudah terlalu lamakah aku menyimpan semua kesedihanku sehingga berakhir seperti ini? Mungkin benar. Selama ini aku rasa aku tak pernah menangis saat kesedihan menimpaku. Aku memilih untuk tersenyum. Aku tak ingin orang lain melihatku lemah. Tapi kenapa hari ini berbeda? Aku merasa dapat menuangkan semuanya pada Sasuke. Merasa terlindungi oleh Sasuke seperti ada sepasang sayap yang melindungiku.

Aku berusaha untuk mengontrol emosi lagi, "Ba-bagaimana dengan... aniki?"

"Menurut informasi dari perusahaan penerbangan, kakakmu yang mengoperasikan pesawat itu," jelas Uchiha-san.

Dadaku terasa sangat sesak. Sakit. Nafasku mulai tidak teratur. Aku terbatuk-batuk cukup keras. Sudah tak ada air mata lagi namun kenapa ini terasa lebih sakit. Pandanganku mulai mengabur. Memori demi memori yang aku alami bersama keluargaku terulang kembali.

Normal POV

Flasback

Langit senja terbentang luas. Burung-burung mulai kembali ke sarang mereka masing-masing. Salju putih lembut turun secara perlahan menutupi atap-atap rumah dan jalanan. Sesosok gadis kecil berambut merah muda menatap lurus ke arah horizon dari balkon kamarnya. Dia menutup mata emeraldnya. Angin lembut menerpa rambutnya. Gadis kecil itu bernama Haruno Sakura. Anak bungsu dari keluarga Haruno yang cukup sukses dalam dunia perdagangan. Umurnya menginjak 10 tahun pada hari ini.

"Sakura?"

Sakura menengok ke belakang dan mendapati kakaknya sedang bersandar pada daun pintu. Semburat merah menghiasi pipinya yang mungil. Kakaknya mengelus rambut Sakura. "Ayo kita masuk. Kaa-san dan Tou-san sudah menunggu di dalam."

"Memangnya ada apa, Gaara-nii?"

"Bukankah ini hari ulang tahunmu? Kita rayakan bersama hari ini," ucap kakak Sakura dengan senyum manis yang terukir di wajahnya. Rambut merahnya yang tumbuh cukup panjang menutupi tato bertuliskan "ai" di dahinya.

Sebuah pelukan hangat datang dari Sakura yang berlari ke arahnya. Sakura menggembungkan pipinya saat melihat ada yang berbeda dengan kakaknya itu, "Rambut nii-san jelek! Sakura lebih suka rambut nii-san yang pendek seperti dulu. Jangan seperti kakaknya si pantat ayam."

"Iya, iya. Nanti Nii potong kok rambutnya."

"Janji ya?"

"Iya."

.

.

"Tou-san, Kaa-san, Garaa-nii dimana? Sakura takut gelap,... Hiks... hiks..." Sakura kecil yang baru berumur 7 tahun berdiri di depan pintu kamarnya. Malam itu sangat gelap dan Sakura sangat takut gelap. Tak ada tanda-tanda bahwa ketiga orang yang Sakura panggil datang sehingga membuat Sakura semakin ketakutan.

Lalu tiba-tiba saja lampu di rumah itu kembali menyala. Wajah Sakura terlihat sangat kebingungan dengan air mata yang masih menggenang di matanya. Di depannya berdiri Haruno Mebuki , Haruno Kizashi, dan Gaara yang membawa hadiah untuk Sakura.

"Selamat Sakura-chan! Kamu menjadi juara kelas di seluruh pelajaran," ujar Kaa-san nya.

Mata Sakura yang besar berbinar-binar gembira. Dia berlari menuju mereka bertiga dan disambut pelukan oleh semuanya. Tawa dan tangis gembira terdengar dari bibir mungil Sakura. Untuk pertama kalinya dia mendapatkan penghargaan ini. Dia sangat gembira. Terlebih lagi Gaara membelikannya sebuah boneka beruang berwarna emerald.

.

.

"Gaara-nii..." gumam Sakura pelan. Matanya tertutup dan air matanya telah kering namun tubuhnya menggigil. Sakua berkali-kali mengucapkan nama Aniki nya. Hubungan mereka sangatlah dekat. Orang yang selalu menghapus air mata Sakura, orang yang selalu bersedia menjadi tempat mencurahkan perasaan Sakura, orang yang melindungi Sakura, orang yang berusaha selalu membuat adiknya berbahagia, dan orang yang sangat menyayangi Sakura melebihi apapun di dunia ini. Orang tersebut adalah Gaara, sosok yang sangat berarti bagi Sakura, yang selalu menempati posisi khusus di hatinya sebagai seorang kakak.

Tak berapa lama kemudian tubuh Sakura lemas. Air matanya kembali mengalir perlahan dan Sakura kehilangan kesadarannya. Sasuke belum mengetahui hal itu sedari tadi memeluk Sakura dengan erat dan membisikan kata-kata yang sekiranya dapat menenangkan hati Sakura. Namun kata-kata seperti apapun itu, Sakura tak mendengarkannya.

"Sakura... Sakura... Sakura!" panggil Sasuke yang mulai sedikit panik karena Sakura tak merespon dirinya.

"Dengarkan aku Sakura!"

"Sakura."

"Aku ada di sini. Aku akan selalu disampingmu, karena itu bertahan.. cherry.."

Tak ada respon apapun dari Sakura. Dia kini telah kehilangan kesadarannya sepenuhnya dan benar-benar pingsan. Tubuhnya mulai panas.

"Itachi menyingkirlah!"

Sasuke melepaskan pelukannya. Diusirnya Itachi dari sofa itu lalu dia membaringkan Sakura di sana. Wajah Sakura terlihat sangat pucat. Bibirnya berwarna putih. Sasuke mengusap pipi Sakura dan menciumnya pelan.

"Sasuke, lebih baik kita membawa Sakura ke rumah sakit segera," ucap Fugaku.

"Dia terlihat sangat terguncang," tambah Itachi.

Sasuke menggendong Sakura dengan pelan-pelan. Dia takut menyakiti Sakura. Kemudian mereka akhirnya membawa Sakura ke rumah sakit.

.

.

Rumah Sakit Konoha

Sakura masih dalam penanganan dokter. Itachi dan Sasuke duduk menunggu berita dari dokter dalam diam. Apa berita dari dokter itu menggembirakan atau berita yang sangat tak ingin mereka dengar. Apapun itu mereka tetap menunggu. Uchiha Fugaku terlihat sibuk menerima telepon entah dari siapa. Kemudian Fugaku mendekati kedua anaknya.

"Tou-san pergi dulu ada kepentingan menyangkut kecelakan pesawat itu," ucap Fugaku.

Kedua anaknya hanya mengangguk singkat dan Fugaku meluncur ke Tempat Kejadian Perkara kecelakaan itu. Tak berapa lama kemudian, Ino datang sambil berlari. Napasnya tersengal-sengal, sangat terlihat bahwa dia terlihat kelelahan akibat berlari. Beberapa tetes keringat mengalir di pelipisnya.

"Bagaimana... dengan Sakura?" tanya Ino sambil mengatur napasnya.

"Belum ada kabar. Masih dalam penanganan," ucap Itachi singkat.

Itachi berdiri dan membimbing Ino untuk duduk di samping Sasuke, kemudian Itachi memakai jaket hitamnya dan berkata, "Aku akan membantu Tou-san mengurus jenazah para korban, termasuk keluarga Sakura."

Tertinggal Ino dan Sasuke duduk berdua bersebelahan. Ino memandang sosok Itachi hingga tak terlihat lagi.

"Sasuke, ngomong-ngomong kenapa Anikimu pergi ke sana? Apa dia boleh masuk ke pesawat itu?" tanya Ino.

"Aniki ahli di bidang forensik. Jadi untuk semua kasus yang ditangani kepolisian hampir semua urusan yang berhubungan dengan bidang forensik dipegang olehnya," jelas Sasuke.

Kedua tangan Sasuke mengepal erat. Semua kegelisahannya berusaha dia tutupi. Seorang Uchiha Sasuke tidak akan menunjukkan emosinya kepada sembarang orang. Dia berusaha untuk tetap tenang dan bersikap seperti tak terjadi apa-apa.

Tak lama kemudian dokter keluar dari ruangan.

"Bagaimana keadaan Sakura?" tanya Ino.

"Dia baik-baik saja. Hari ini sudah boleh pulang."

"Syukurlah~~" kata Ino lega.

Tanpa sepengetahuan Ino, Sasuke berjalan menuju loket pembayaran untuk membayar semua biaya Sakura. Sedangkan Ino sudah menerobos duluan ke dalam ruangan di mana Sakura ditangani.

Di ruangan serba putih itu Sakura terduduk lesu. Di sekelilingnya yang dapat dia lihat hanyalah alat-alat kedokteran. Dia menduga dirinya berada di rumah sakit. Lalu pintu yang terbuka mengalihkan perhatian Sakura. Sakura mendapati sahabatnya, Ino, yang berdiri di pintu tersebut. Segera saja Sakura menerima pelukan dari Ino.

"Sakura-chan, aku sangat mengkhawatirkanmu," ucap Ino dengan mata yang berkaca-kaca.

"Aku tak apa Ino... Semuanya dapat aku terima..." bisik Sakura menenangkan.

Selang beberapa menit Sasuke datang menghampiri Sakura. "Ayo kita pulang."

Sakura hanya mengangguk kecil. Dia tak dapat berbicara banyak kali ini. Yang ada di pikirannya hanyalah keluarganya. Keluarga yang telah merawatnya sejak dia lahir hingga mereka menghembuskan napas terakhir tanpa mengucapkan kata-kata perpisahan. Air mata Sakura sudah mengering. Dia tidak ingin menangisi keluarganya kembali. Dia tak ingin membenai mereka. Dia merasa harus merelakan mereka semua pergi. Dan kini, Sakura hidup seorang diri. Tanpa orang tua ataupun sanak saudara.

.

.

Kabar duka tentang keluarga Haruno dengan cepat menyebar ke seluruh penghuni Konoha Akademi. Hari demi hari Sakura mendapat tamu yang mengucapkan bela sungkawa terhadapnya. Selama hari-hari yang panjang itu, Sakura selalu ditemani oleh Sasuke hingga dia menutupkan matanya untuk beristirahat malam hari. Sasuke memberi Sakura perhataian yang sangat lebih semenjak dia mengutarakan perasaannya sehingga membuat Sakura merasa nyaman dan terlindungi. Keberadaan Sasuke membuat Sakura semakin tegar menghadapi kenyataan yang ada.

Kematian dari orang tua Sakura membuat bisnis keluarga itu bangkrut sehingga Sakura kini tak mempunyai penghasilan apa-apa kecuali dari tabungan milik keluarganya. Jika diteruskan maka Sakura akan jatuh miskin. Berhari-hari dia dibebani masalah keuangannya sekarang. Hal itu dia tutupi dari Sasuke karena dia yakin jika Sasuke mengetahui permasalahan ini, pasti Sasuke akan memaksa untuk membiayai hidupnya. Sakura tidak ingin merepotkan orang lain. Sehingga pada suatu hari Sakura membuat suatu keputusan yang tidak pernah terduga sama sekali di hidupnya.

"Aku akan keluar sekolah dan mencari pekerjaan. Mungkin bukan pekerjaan yang layak namun aku harus tetap mencarinya. Dan dari hasil kerjaku nanti sedikit demi sedikit aku ingin membangun kembali bisnis Tou-san dan Kaa-san," kata Sakura pada dirinya sendiri.

Ya, keputusannya memang sudah bulat. Surat yang berisikan permintaan untuk keluar dari sekolah sudah berada di tangannya. Hari ini dia akan menyerahkan surat itu pada Tsunade. Tak ada orang lain yang boleh mengetahui hal ini. Karenanya Sakura menyembunyikan surat itu dari Sasuke ataupun sahabatnya, Ino.

"Ohayou, Sasuke-kun," sapa Sakura ketika dia keluar dari kamarnya dengan mengenakan seragam lengkap.

"Ohayou."

"Gak biasanya bangun sepagi ini.."

"Hn.."

"Berangkat sekarang yuk!"

Sasuke memilih menurut pada Sakura. Setelah kecelakaan pesawat itu, Sasuke tak pernah meninggalkan Sakura sendirian. Dia sudah memutuskan untuk tinggal bersama Sakura. Tak peduli dengan apa yang akan dipikirkan oleh orang-orang dan apa reaksi keluarganya. Sekali Sasuke memiliki keinginan, hal itu tak dapat dipatahkan oleh sembarang orang.

Tidak perlu waktu lama hingga mereka berdua sampai di Konoha Akademi. Sudah tiga bulan lamanya setelah orang tua Sakura meninggal dalam kecelakaan sehingga keadaan di Konoha Akademi sudah berjalan seperti biasanya. Sudah tak ada orang yang mengucapkan rasa turut berduka kembali. Sakura malah menyukai hal itu. Dia tak terlalu suka menjadi pusat perhatian.

"Sasuke, kau ke kelas saja. Aku ada urusan sebentar," ucap Sakura.

"Hn," Sasuke segera meninggalkan Sakura dan berjalan ke kelas.

Sakura menutup matanya dan menarik napas panjang. Memantapkan kembali keputusan dan langkah yang akan dibuatnya. Dengan langkah tegas dia menuju ruang kepala sekolah. Diketuknya ruangan itu kemudian dia masuk.

"Ada apa, Haruno Sakura?" tanya Tsunade.

"Saya ingin menyerahkan ini."

Sakura menyerahkan surat itu. Tsunade membukanya dan terkejut.

"Kau serius dengan ini?"

"Iya, ekonomi saya saat ini semakin menipis. Jadi saya memutuskan untuk berhenti sekolah dan mencari pekerjaan."

"Baiklah kalau itu memang maumu."

Sakura mundur diri dengan hormat dan dia keluar dari ruangan itu. Urusan sekolah sudah selesai dan sekarang dia harus mencari pekerjaan. Keadaan sekolah sudah sepi karena pelajaran sudah dimulai. Sakura pergi menuju kamar mandi untuk berganti pakaian. Kemudian dia meninggalkan sekolah itu.

.

.

Pelajaran sudah dimulai namun Sakura tak kunjung masuk kelas. Hal itu membuat pria yang memiliki rambut emo mirip pantat ayam itu sedikit cemas. Dia memainkan pulpennya berkali-kali. Sesekali dia menghentakan meja di depannya sehingga membuat Naruto kesal.

"Kenapa, Teme?!"

"Diam, Dobe."

"KALIAN BERDUA DIAM!" bentak Kurenai-sensei.

Kelaspun menjadi sepi kembali. Hingga bel istirahat pun Sakura belum juga masuk. Hal itu membuat Sasuke nekat bolos sekolah di tengah hari. Dia mengelilingi Konoha Akademi dan hasilnya nihil. Sakura tak dapat dia temukan dimanapun. Tanpa pikir panjang dia menemui Tsunade untuk menanyakan Sakura.

Apa yang Sasuke dengar dari Tsunade membuatnya terkejut. Dia baru mengetahui Sakura keluar dari sekolah. Sasuke pun keluar dari ruangan kepala sekolah dengan kasar. Dia berlari tanpa memedulikan kakaknya atau siapapun yang dia temui di tengah perjalanan.

Apa yang dipikirkan Sakura, batin Sasuke.

Sasuke pulang ke rumah Sakura dengan keringat yang membasahi tubuhnya. Dan di rumah itu dia mendapati Sakura sedang memasak dengan raut muka gembira terpancar di wajahnya.

"Sasuke-kun? Hari ini pulang cepat?" tanya Sakura.

"Jelaskan padaku, Sakura. Apa maksudmu keluar dari sekolah?" tanya Sasuke balik tanpa basa-basi.

Keheningan langsung tercipta diantara mereka. Sakura menarik salah satu kursi dan duduk di sana. Dia menghela napasnya.

"Aku sudah tak punya cukup uang lagi. Aku tak sanggup membiayai sekolah dengan uang sisa tabungan keluargaku. Aku sudah mendapat pekerjaan, jadi kau tak perlu khawatir."

Sasuke terdiam. Tak disangka kekasihnya ini menyimpan masalah seberat itu di pundaknya. Dipeluknya erat Sakura dan berbisik, "Kau hanya perlu mengatakan padaku sejak awal. Aku kekasihmu, bukan? Aku sudah berjanji akan menemanimu selamanya."

"Aku hanya tak ingin merepotkanmu, Sasuke.." ucap Sakura.

Butir-butir air mata mulai terbentuk di pelupuk matanya. Sasuke mengelus kedua pipi Sakura dengan lembut.

"Kau tak perlu khawatir."

"Tapi-... Hiks.."

"Jangan menangis lagi," ucap Sasuke menenangkan Sakura dengan memeluknya kembali.

Kemudian Sasuke berlutut di hadapan Sakura. Dia mengeluarkan sebuah cincin mainan yang dia beli dulu saat berada di sebuah toko.

"Sakura, ijinkan aku berjanji padamu. Aku akan tetap berada di sampingmu selalu. Ketika kau bersedih ataupun bahagia, aku akan selalu ada. Meski cincin ini tak seberapa harganya namun biarkan ini menjadi lambang kesetiaanku padamu. Aku berjanji, Sakura."

Sakura menutup mulutnya tak percaya.

"Meskipun bukan waktu yang tepat untuk mengatakan ini namun aku akan mengatakannya. Aku mencintaimu, bersediakah kau menjadi mempelai wanitaku suatu saat nanti?"

Kata-kata yang Sasuke ucapka terakhir membuat Sakura sangat terharu. Membuatnya meneteskan air mata kebahagiaan. Tanpa kata-kata yang keluar dari bibir mungil Sakura, dia mengangguk menerima permintaan Sasuke. Cintanya kepada Sasuke semakin besar. Meski mereka masih sangat jauh untuk bersatu sebagai keluarga namun dia yakin Sasuke akan menepati janjinya.

Kebahagiaan Sakura ditutup dengan sebuah kecupan hangat dan manis yang mendarat di bibirnya. Cincin itu menjadi saksi bisu atas apa yang terjadi pada hari itu. Siang yang cerah dan angin yang berhembus pelan membuat kedua insan itu akan selalu mengingatnya. Meskipun masih belum saatnya namun mereka yakin suatu saat akan tiba masanya. Kebahagiaan akan selalu ada di balik semua peristiwa buruk yang menimpa. Pelajaran itu yang dapat Sakura terima. Saat tangis datang, percayalah tawa akan selalu berada di balik tangis itu dengan hal yang lebih membahagiakan.

.

.

.

The End

Wah ternyata chapter 2 yang sebelum ini mengecewakan ya. Sengaja dibuat seperti itu. Kalau ada yang protes, ngomong langsung aja. Aku pengen nyoba bikin fic yang gaje.

"Aku bukan orang yang normal. Jadi kalau ada yang gak normal di fic ku harap dimaklumin. Aku lebih suka keluar dari batas normal buat ngecoba hal yang baru. Meski terkadang hasilnya mengecewakan."

Kalau ada yang bilang aku egois, gapapa. Semua orang punya sisi egois. Aku emang egois.

Well, ini chap 2 yang aku bikin ulang lagi.

Maaf sebelumnya.