Hangat. Pikirnya. Ia menarik selimutnya naik, menutupi mulutnya untuk menghentikan udara dingin yang masuk dan membuat tenggorokannya terasa beku. Tapi tunggu. Bagaimana bisa—?
Ia terbangun. Disibakkannya selimutnya dan dengan segera tubuhnya mengigil karena dingin. Ditariknya selimut bulu yang tadi ia singkirkan dan dengan buru-buru diselimutinya kembali tubuhnya. Tubuhnya penuh dengan balutan perban dan ia sedang berada di sebuah ruangan dari kayu, di atas sebuah kasur dari bulu yang hangat. Di depannya, ada sebuah keluarga yang sedang memandanginya. Ayah, Ibu, dan kedua anaknya itu sedang duduk di sebuah meja dan kursi yang terletak tepat di depan sebuah perapian besar. Beberapa ekor Felyne yang sedang memasak di dapur sebelah atau mengantarkan makanan juga diam sesaat memandanginya.
"Ah, kau sudah bangun rupanya." Sang Ayah melambaikan tangannya, mengisyaratkan padanya untuk ikut bergabung bersama mereka. "Ayo, mari. Ini saatnya makan malam."
Ia ragu apakah ia harus menerima tawaran tersebut. Tapi disaat itu pula perutnya mengeluarkan suatu bunyi yang aneh, meski entah kenapa familiar baginya. Perutnya kosong dan sekarang minta diisi. Pelan-pelan, ia berjalan turun dari kasur dan duduk di sebuah tempat duduk yang sudah disediakan baginya. Seekor felyne mengeong, meletakkan sebuah piring dan garpu dan sebilah pisau makan di depannya.
"Tidak usah malu-malu." Kata si Ibu, yang mendorong sebuah piring berisi daging panggang yang baunya enak mendekat padanya. "Kami sudah selesai makan."
Ia mengangguk, lalu perlahan-lahan memotong dan mengambil potongan daging yang tersedia dan meletakkannya ke piringnya. Ia mulai makan, sementara keluarga itu mulai membuka pembicaraan.
"Namaku Jacob." Sang Ayah memperkenalkan diri. "Istriku, Amie. Yang sulung, di laki-laki adalah Ein sementara yang bungsu Monica."
Sang Ayah berdiri dari tempat duduknya, berjalan ke arah sebuah tas kulit berwarna hitam kecoklatan yang diletakkan di sebuah meja kayu yang letaknya tidak jauh dari tempat mereka makan sekarang. Ia mengeluarkan sebuah kalung. Sebuah gigi yang ukurannya mungkin sejempol orang dewasa, diikat dengan sebuah tali yang nampak tebal dan kuat.
"Aku menemukan ini." Jacob menyerahkan kalung ini padanya. "Milikmu, mungkin?"
Ia meraih kalung itu, memperhatikan gigi yang terpasang itu dan mengusap ukiran di gigi tersebut. Ia memperhatikan ukiran itu dengan seksama. "Alia..."
Pikirannya terasa hampa. Kepalanya terasa pening. Ia mengenggam gigi itu dengan erat, nyaris meremasnya. Jantungnya berdegup dengan kencang. Ia tidak percaya ini. Dadanya terasa sesak. "Alia... Apa-Apa itu namaku?"
Jacob memandangnya dengan wajah yang luar biasa terkejut. Ia cepat-cepat memberikan isyarat tangan pada Amie. Amie dengan cepat mengerti. Ia berdiri, lalu membisikkan sesuatu pada anak-anaknya. Ein dan Monica tidak membantah. Mereka berdiri dan berjalan mengikuti Ibunya masuk ke ruangan yang lain. Monica melambaikan tangan ke arahnya. Para Felyne datang mengambil piring-piring kotor, lalu cepat-cepat masuk kembali ke dapur dan menutup pintu dapur rapat-rapat. Hanya ada ia dan Jacob di ruangan itu sekarang, dan Jacob sekarang sedang duduk di hadapannya.
"Kau... Tidak ingat apapun?"
Aku menelan ludah, lalu menggeleng. Jacob mendesah.
"Siapa aku?" tanyaku. Jacob menggeleng.
"Sayangnya, aku pun tak tahu. Tidak ada yang tahu." Jacob menarik nafas. "Aku menemukanmu, tergeletak pingsan dan nyaris mati baik karena lukamu maupun karena beku ditimbun salju. Orang-orang di Guild mengobatimu. Tidak ada yang tahu siapa kau, tidak ada yang mengenalimu."
Hening. Jacob bertanya, "Apa yang kau ingat?"
"Aku-Aku tak tahu." Aku memandang kalung itu. "Aku ingat semua mengenai dunia ini... Tapi siapa aku, siapa temanku, kapan ulang tahunku, dimana tempatku lahir— Dimana ini?!"
"Pokke Village." Jacob menjawab pertanyaan tiba-tiba itu dengan cepat. "Lalu, kalung itu?"
Aku mengenggamnya erat. "Aku tidak tahu. Tapi hal ini terasa... penting."
"Alia... Apa itu namamu?"
"Entahlah."
"Bagaimanapun, kita akan tahu besok." Jacob mengangguk, lalu tersenyum untuk menenangkannya. "Guild Master disini sedang pergi untuk suatu urusan antar desa di Yukumo. Besok ia seharusnya sudah pulang."
Aku mengangguk mengerti. Jacob berdiri dari tempat duduknya.
"Silahkan gunakan tempat tidur tamu ini. Anggap saja rumah sendiri."
Ia mengangguk, "Terima kasih."
Jacob tidak menjawab. Ia sudah pergi terlebih dahulu, keluar dari ruangan itu untuk tidur di kamar lain, mungkin. Ia lalu merebahkan dirinya ke kasur bulu yang hangat dan lembut itu, menarik selimut menutupi tubuhnya. Sekali lagi, ia melihat kalung misterius itu.
Ada suatu perasaan hangat di dadanya. Ia dapat mengingat sosok beberapa orang, meski ia tidak dapat ingat dengan jelas siapa nama mereka dan bagaimana penampilan mereka. Ia mengenggam erat kalung itu, sementara dirinya mulai terlelap masuk ke dunia mimpi.
