Vocaloid © Crypton Future Media, Internet, Yamaha, et cetera. I gain no commercial advantages.
Warning very cliché, possibly typo(s), plot rushed, et cetera. Kesamaan ide harap di maklumi.
Lunar
—Primarily refers to the Latin name for the Moon; Earth's only natural satellite—
#3
Mobil Yohio berhenti di sebuah dataran yang berbatasan dengan tebing-tebing berlapis bebatuan hitam di permukaan. Laut yang langsung berbatasan dengan tebing membuat pinggiran jalan beraspal diberi pembatas jalan setinggi satu meter untuk membuat jarak aman bagi para pelintas.
Aria membuka kaca jendela mobil dan langsung merasakan hembusan dingin dari deburan ombak. Sementara Yohio mengalihkan perhatiannya pada langit malam yang kelam.
Bulan yang berwarna putih pualam, terhimpit di balik sekumpulan awan, sesekali menampakkan diri, menyinari pohon-pohon nyiur dan karang kecil yang mendominasi kawasan tersebut. Suhu udara ketika itu sekitar pertengahan delapan puluh derajat Fahrenheit, perubahan yang menyenangkan dari musim dingin bulan Desember yang menggigit.
Seolah-olah bisa membaca pikirannya, Aria menyahut, "Suhu di sini hampir selalu sejuk setiap malam. Terutama jika ada hujan yang mengguyur pada siangnya." Dia mengerling Yohio singkat dengan senyum yang terulur pendek.
"Lihat, rupanya saat ini aku sedang duduk bersama seorang penulis novel dan peramal cuaca. Haruskah aku merasa terpukau?"
Aria melayangkan tinju main-main di lengan Yohio. "Aku bukan peramal cuaca, tahu," gerutunya. Kemudian dia kembali terpaku pada pemandangan di sampingnya. Laut, malam, dan bulan. Semesta begitu memukau di matanya yang biru jernih. Tanpa sadar, gadis itu tersenyum lembut. "Aku hanya sering ke sini. Makanya aku tahu."
"Aku tidak tahu kau suka ke tempat yang melankolis seperti ini."
Aria tertawa pelan. "Tempat ini memberiku banyak inspirasi."
Yohio memandang sekeliling sambil menaikkan sebelah alisnya. Kelereng merahnya menangkap sederet tebing bergerigi, jalanan beraspal hitam, karang kecil tajam, laut biru yang tenang dan dinding hening yang berdiri kokoh.
"Yah…. Aku bisa bayangkan inspirasi apa yang kau dapat dari sini," gumamnya sambil menyandarkan punggung besarnya di kursi kemudi. "Laut selalu menjadi tempat lari para pencari inspirasi, huh?"
Tawa Aria kembali mencerahkan suasana. "Sebenarnya aku menyukai tempat ini karena dari sini aku bisa melihat langit dengan jelas. Jauh lebih jelas ketimbang dari atap sebuah gedung yang tinggi," jelasnya.
Pria di sampingnya menoleh. "Langit?"
Aria mengangguk. Beberapa kerlip cahaya kecil tiba-tiba bermunculan di langit dan tertangkap oleh sepasang rubi. Sang pengacara muda pun menarik kesimpulannya.
"Bintang? Benda itukah yang selama ini jadi inspiratormu?"
Si novelis tertawa hampa. "Kenapa setiap orang selalu menyebut bintang jika sedang bicara tentang langit? Bulan pasti merasa dianaktirikan."
Ada sesuatu yang kelam dalam nada suara Aria yang membuat Yohio mengernyit ketika menyebut bulan. Namun, sekali lagi, pria dengan rambut sewarna tumpukan jerami itu berusaha untuk tidak terlalu peduli.
"Bukankah bintang memang pantas mendapat sorotan?" ucap Yohio.
Itu tidak sepenuhnya salah. Bintang memang pantas mendapat perhatian. Dia yang menjadi pusat tata surya. Semua kerlip cahaya yang bisa kita lihat saat biru malam turun ke horizon asalnya dari bintang.
Meski harus melalui jarak jutaan tahun cahaya dan sampai di bumi dengan sebentuk cercahan kecil, bintang tetap memesona setiap mata. Makanya jika membicarakan langit, pasti setiap orang akan mengaitkannya dengan bintang.
Aria tersenyum dari tempatnya, tak beranjak, bergeming. Mata safirnya yang mengintip di balik kelopak seakan ingin mengatakan sesuatu kepada Yohio, tapi yang bersangkutan lebih memilih menunggu Aria menyampaikannya secara literal.
"Tapi yang selalu ada di dekat bumi itu bulan, 'kan?"
"..."
Ombak menghantam karang kecil, menciptakan suara berdebum indah. Di atas langit, bulan mulai menyembunyikan diri di balik gumpalan awan hitam. Sadar eksistensinya tak lebih berarti dibanding kumpulan titik kecil yang saling pamer kemilau cahaya dengan begitu kekanakan dan egois.
Bintang boleh menjadi pusat tata surya, nadi bagi bumi. Dia mungkin bisa terlihat hampir setiap waktu di bumi. Siang, bintang datang berwujud matahari yang cantik. Dewi yang menyebar hangat dengan cahaya menyilaukan. Menyepuh inchi demi inchi sudut bumi dengan sinar kekuningan.
Ketika matahari harus turun dari peraduan saat senja datang menggiring malam, bumi pun diliputi kegelapan. Semua makhluk takut dengan hitam di penjuru horizon. Semua putus asa ditelan malam. Dan ketika semua mengharapkan matahari, dia kembali datang menghias langit dengan wujud baru. Bintang.
Bintang hadir menghias gelap. Cahaya yang hanya berupa titik kecil menyilaukan tak lantas membuat pesonanya memudar. Semua makhluk pun kembali ceria atas kehadirannya.
Berbeda dengan bulan. Meski dia selalu berada di sisi bumi, meski dia satu-satunya satelit yang ada kemana pun bumi berotasi, meski dia yang muncul pertama kali saat bumi dirundung gundah dalam gelap, tak satu pun perhatian pernah ia dapat. Bahkan bulan, meski eksistensinya berdiri sendiri dan tampak kuat, pada kenyataannya tetap tak berkutik tanpa kehadiran bintang.
Sinar putih pualam yang ia tunjukkan pada bumi sama sekali bukan miliknya melainkan milik bintang.
Bulan hanya sekedar memantulkan. Cahaya redup meneduhkan itu sejatinya milik bintang. Bulan tak memiliki apa pun. Ironis.
Interaksi antara bulan, bumi, bintang, dan langit ini lah yang selalu Aria sadari sebagai sesuatu yang rumit namun juga sangat menarik.
Bintang yang menarik semua planet ke dalam medan gravitasi. Bumi yang berpusat pada matahari selaku bintang. Bulan yang selalu ada di dekat bumi. Langit yang selalu menjadi tempat bernaung bagi bulan dan bintang. Semuanya menarik.
Ketertarikan itu pula yang mendorong diri Aria untuk mengangkatnya lewat cerita di buku keduanya.
"Jadi ... kau sedang menulis buku baru?" tanya Yohio ketika pemuda novelis itu selesai bercerita. Entah bagaimana caranya mereka, yang semula berbincang tentang bulan dan bintang, kini telah beralih topik membahas novel terbaru Aria. Sepertinya Aria jauh lebih pintar memutar topik dari Yohio duga.
"Ya," Aria menjawab, "sekuel dari buku pertamaku. Hanya saja ... ceritanya sedikit—err…. Bagaimana mengatakannya, ya?"
"Melankolis?"
"Mungkin begitu. Karena ... aku, 'kan, mencontek interaksi para benda langit yang semuanya terkesan bertepuk sebelah tangan." Aria nyengir, sementara Yohio menghela napas.
"Kenapa tiba-tiba banting stir? Mengikuti arus permintaan pasar?" Yohio bertanya, sedikit menyindir.
"Aku munafik jika bilang tidak mengikuti arus pasar," jawab Aria. Saat Yohio memasang tampang mengejek, gadis itu buru-buru menambahkan, "Tapi ini tidak sepenuhnya karena pasar."
"Lalu?"
Gadis pirang itu menyandarkan tubuh di sandaran kursi, kepalanya ia tempelkan pada pintu. Mata birunya menatap pantulan putih bulan di permukaan laut. "Karena aku ... ingin menulisnya saja."
Pengacara muda itu menaikkan sebelah alisnya. Tak sepenuhnya paham dengan perkataan gadis tersebut. Namun ia enggan bertanya.
Apa pun alasan yang Aria miliki, rasanya hal itu tidak terlalu penting untuk ia ketahui. Jika dia ingin menulis sesuatu, maka Aria tinggal menulisnya. Tak butuh banyak alasan untuk menulis.
"Oh ... begitu," tanggap Yohio datar.
Untuk sesaat, mereka terdiam. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Hanya bunyi gemerisik ombak yang saling berkejaran yang mengisi jalinan dinding sunyi di antara keduanya.
"Tapi, masalahnya...," tiba-tiba Aria kembali bicara, "aku sendiri malah bimbang dengan kelanjutan cerita itu."
Si pengacara muda mengerling gadis yang duduk di sampingnya. Matanya menetap sejenak pada mata Aria, setelah itu membuangnya ke sembarang arah.
"Kenapa?" Pertanyaan retoris.
Aria menyunggingkan senyum sedih. "Karena ... aku baru saja sadar bahwa aku tidak bisa mendeskripsikan perasaan bulan dengan benar."
Yohio memutar bola mata. "Ayolah, tidak akan sesulit itu. Kau ini hanya memakai personifikasi saja, bukan bulan sungguhan. Tentu akan jauh lebih mudah dalam menyusun setiap untaian kalimatnya."
"Walau aku memakai personifikasi, tapi tingkat kerumitannya tidak jauh berkurang, Yohio—malah makin bertambah." Aria menunduk. Wajahnya tertutup poni hingga emosinya tak terbaca.
"Menulis semua hal itu rasanya seperti mencoba menjelaskan bagaimana sebuah paradoks terjadi. Dekat tapi tak terlihat. Indah tapi tak punya pesona. Kuat tapi lemah. Paradoks.
"Bagaimana bulan bisa bertahan dengan kondisi seperti itu? Bagaimana bulan bisa tetap menjadi satelit dan berotasi di dekat bumi padahal eksistensinya terkubur bersama cahaya bintang? Kalaupun aku membuat personifikasi, apa bisa terbayang olehmu bagaimana perasaan si personifikasi? Itu adalah hal yang rumit, kautahu."
Sang pemuda terhenyak. Dia tak tahu jika masalah bulan bisa jadi sebegini rumitnya. Terlebih lagi, entah kenapa, semakin lama topik ini bergulir Yohio malah merasa jika pembicaraan ini mulai mengingatkannya pada kasus Neru.
Yohio ingat bagaimana kedua orangtua angkat Neru mendeskripsikan anak itu. Riang, ceria, dan bersinar. Persis seperti matahari. Bintang.
Mungkinkah analogi antara bulan dan bintang juga berlaku pada kasusnya?
Mungkinkah, bulan iri melihat matahari yang selalu jujur hingga berkonspirasi dengan langit untuk menutupi sinar menyilaukan yang ia pancarkan dengan sekumpulan awan besar?
Yohio menggeleng. Duh, kenapa pemikirannya jadi tidak logis begini, sih? Ini pasti karena dia terlalu lama berada di dekat Aria. Novelis ini memang berbahaya.
Aria kini telah menutup kaca jendela, mengatur posisi duduknya hingga sebelah pundaknya bersandar pada pintu dan membiarkan kepalanya tergolek ke jendela. Entah kenapa seluruh rasa lelahnya mencuat ke permukaan begitu saja. Mungkin ini karena pengaruh suasana yang hening dan nyaman. Benar-benar sangat pas untuk memejamkan mata dan tidur sejenak. Terlebih jam tidur Aria sudah terpotong lumayan banyak hanya untuk mengerjakan draft novel barunya….
Rasanya dia benar-benar ingin tidur.
"Yohio…."
"Apa?"
"Di antara bulan dan bintang, kira-kira kau lebih suka yang mana?" Aria bertanya lagi. Tidak menyadari suaranya melembut akibat kantuk yang menggelayut.
Yohio, yang bingung dengan maksud di balik pertanyaan si novelis, hanya bisa mengerjap. "Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?"
"Hanya ingin tahu saja." Aria mengembangkan senyum aneh yang membuat Yohio meragukan ucapannya. Ada sesuatu yang tidak dia sampaikan. Mungkin berkaitan dengan novelnya, atau mungkin sesuatu yang lain. Entahlah.
"Bagaimana jika aku tak memilih keduanya?"
Aria tertawa mendengarnya. Pengacara ini berusaha mencari jawaban yang membuat dirinya aman rupanya. Sayangnya, bagi Aria, jawaban semacam 'aku tak akan memilih keduanya' adalah jawaban paling munafik dan jahat.
Bagaimana bisa kau memutuskan untuk tidak memilih salah satu dari dua benda paling indah dan memiliki kharisma tersendiri seperti bulan dan bintang?
"Itu namanya kau jahat, Tuan Pengacara," jawab Aria lembut.
"Jahat?" Yohio menaikkan sebelah alisnya. Tak mengerti.
"Ya…. Jahat." Alih-alih menjelaskan, Aria hanya mengulang pernyataannya.
Yohio hanya menjawab dengan gedikan bahu tak acuh. "Dicap sebagai orang jahat karena tak bisa menjawab akan memilih bulan atau bintang adalah hal yang tidak menyenangkan, kautahu," kata pemuda berambut pirang itu. Kini bola mata merahnya kembali menatap jalanan. "Melihat langit mungkin bisa membuat orang sepertimu berubah melankolis, tapi aku tidak semudah itu."
Aria tertawa kecil mendengar jawaban Yohio. Benar, Yohio tidak terlihat seperti pria melankolis. Tidak mungkin akan mengerti dengan semua ini.
Perlahan, Aria menggerakan tangannya untuk menyentuh lengan Yohio. Dia bisa merasakan lengan milik pemuda itu lebih besar dari kelihatannya. Dan hangat. Yohio sangat hangat. Kehangatan yang melekat di badan Yohio rasanya begitu nyaman dan itu makin membuatnya makin mengantuk.
"Hei, Tuan Pengacara," IA memanggil. Suaranya berubah menjadi setengah berbisik.
Yohio menoleh ke arahnya. Rambut di belakang lehernya terasa meremang.
"Aku belum mengucapkan terima kasih telah mengajakku pergi 'kan?" Aria kemudian tersenyum. Lembut dan melankolis. "Terima kasih banyak, Yohio."
"Oh, sepertinya aku baru saja mendengar satu kata yang jarang sekali ke luar dari mulutmu." Nada yang ke luar dari mulut Yohio bermaksud mengejek.
Aria terkekeh pelan. Ia menarik tangannya kembali ke atas pangkuannya dan menarik napas panjang. Ini tidak bagus. Matanya terasa makin berat saja.
Aria, tanpa sadar, membiarkan kepalanya bersandar penuh pada kaca. Tiap detik berlalu, kantuknya makin menjadi. Tapi ia tidak boleh tertidur, setidaknya Aria belum akan mengijinkan dirinya tidur sebelum mendapat satu ide baru untuk ceritanya. Yohio sudah bersedia mengantarnya ke tempat persembunyiannya—di mana biasanya ide selalu datang menghampiri dan mengalir bak sungai yang tak kunjung kering meski kemarau menerpa, dan ia tak mau menyia-nyiakan hal tersebut.
"Lihat siapa yang mengantuk." Di saat semua inderanya terasa seperti akan luruh, Aria mendengar Yohio berujar dengan nada tertarik. "Jangan berusaha melawan. Tubuhmu tahu jika kau mengantuk."
"Mmm…. Yah…. Terserah…." Aria menggumamkan silabel tak jelas. Dia masih berusaha membuka mata, mempertahankan kesadarannya.
"Tidurlah," suara kasar Yohio terdengar melembut. Tapi Aria terlalu mengantuk untuk menyadarinya.
Aria hanya tahu bahwa selanjutnya sebuah tangan yang begitu besar dan hangat hinggap di puncak kepalanya. Mengelus rambutnya perlahan. Pelan-pelan, hati-hati. Seolah pemilik tangan itu menganggap Aria sebagai sebuah boneka porselen rapuh, yang akan hancur begitu saja saat ceroboh disentuh. Dan itu terasa sangat menyenangkan sekaligus menenangkan.
Aria terbuai dengan suara dan kelembutan tangan itu, hingga membiarkan matanya menutup sepenuhnya. Menyerah pada kantuk. Terbawa ke alam mimpi.
Dia sudah tidak peduli lagi dengan inspirasi dan naskah yang belum jadi.
Di atas langit, bulan mengintip kedua insan tersebut dalam diam. Sinar putih meneduhkan menghujam bumi dengan lembut, memantul di atas permukaan laut….
[ To Be Continued]
balasan untuk yang sudah review di chapter kemarin (boleh diskip bila tidak merasa perlu):
Hikari Kengo: Beeehhh... iya dong. pokoknya Yohio wajib nyarkas /heh/ hahaha oke, trims reviewnya 8))
YamiRei28: IA udah lelah manggil Yohio Pengacara Seksi soalnya. Hehe :P makasih reviewnya :)))
ErinMizuMizuna-Chan: hehe makasih banyaak... seneng deh ada juga yang ngerasa Yohio dan IA klop /terharu/ /wei/ tenang, tenang, ini udah update kok ;))
maaf atas update yang lama. karena plot chapter 4 ke atas berubah dari draft awal yang saya buat, jadi saya butuh waktu cukup lama buat ngerapihinnya. terima kasih yang sudah mau baca sampai sejauh ini 8""")
reviews are very welcome!
