Vocaloid © Crypton Future Media, Internet, Yamaha, et cetera. I gain no commercial advantages.

Warning very cliché, possibly typo(s), ada bagian yang nyerempet er lapan belas (R-18), et cetera. Kesamaan ide harap di maklumi.


Mentari sudah melebarkan sinar kekuningan saat Aria membiarkan tubuhnya terguling kanan. Seprei putih yang menyampul tempat tidur itu kusut akibat gerakan gadis tersebut.

Aria masih sangat mengantuk. Tubuhnya lelah. Matanya seperti dilem, enggan membuka. Ini pasti gara-gara mimpi semalam, pikirnya. Iya, semalam Aria bermimpi indah—bertemu dengan pangeran tampan. Entah dari kerajaan mana dia datang, Aria tidak tahu.

Menurut Aria, mimpi seperti itu bisa digolongkan indah. Pasalnya, dia jarang sekali memimpikan hal-hal baik. Apalagi jika sedang dikejar deadline. Jangankan mimpi bagus, yang masuk dalam mimpinya cuma hal-hal absurd. Dililit ular sanca, naik paus raksasa, sampai dikejar mutan kaktus yang bentuknya seperti habis diberi sinar gamma berlebihan oleh seorang profesor gila.

Sekarang, yang datang dalam mimpinya adalah pangeran tampan. Ah, menyenangkan!

Yah, walaupun Aria tidak dapat memungkiri ada beberapa detil yang terasa janggal. Kendaraan yang dibawa sang pangeran, misalnya.

Dalam dongeng, seorang pangeran biasanya naik kuda putih. Tapi pangeran yang ada di mimpinya membawa mobil sport.

Uh, mungkin yang ada dalam mimpinya adalah pangeran yang terseret arus hedonistis. Mungkin.

Ada lagi satu keanehan. Pangeran itu wajahnya nyaris sama dengan si Tuan Pengacara Seksi—Tadayuki Yohio. Entah kebetulan, entah bagaimana. Dia sendiri tak mengerti.

Aria mendengus geli saat mengingat mimpinya sekali lagi. Benar-benar absurd. Tuan Seksi pasti tertawa jika Aria memberitahu hal ini.

Aria bangkit dari tempat tidur dengan malas-malasan, lalu melangkah ke kamar mandi dengan langkah gontai. Sebenarnya Aria masih ingin bergulingan di kasur sampai siang, tapi tidak bisa. Dia harus segera melanjutkan naskah novelnya. Ini sudah masuk deadline.

Haah. Dia menghela napas lelah. Memikirkan deadline yang makin dekat selalu membuatnya lemas.

Sebagai informasi, Aria tidak suka menjadi masokis yang suka begadang berhari-hari demi naskah. Tidak.

Dia. Super. Duper. Ultra. Tidak Suka.

Gadis berambut panjang itu melepaskan pakaian yang ia kenakan dalam sekali gerakan. Melemparnya asal-asalan ke lantai, kemudian melakukan hal yang sama dengan pasangan pakaiannya yang lain. Celana panjang khaki, kaus tanpa lengan, bahkan penutup dada. Semuanya dia buang sembarangan di lantai kamar.

Lima tahun hidup sendiri di apartemen membentuk sebuah kebiasaan baru pada diri Aria. Kebiasaan yang buruk: Dia selalu masuk ke dalam kamar mandi setelah tubuhnya polos.

Aria tahu kok itu tidak bagus. Tapi dia hanya tinggal seorang diri di sini. Sepertinya bukan masalah.

Setelah berada dalam kamar mandi, dia menyalakan keran air panas dan air secara dingin berbarengan. Sambil menunggu sampai bak mandi ukuran besar itu terisi penuh, Aria mulai memilih-milih serbuk mandi untuk ditaburkan ke dalam bak—wangi Lavender sepertinya enak—lalu mulai berendam ketika semuanya sudah siap.

Aria mendesah nyaman saat air beraroma Lavender menyentuh kulitnya. Ia jarang sekali melakukan ini. Berendam dengan air beraroma Lavender yang menenangkan dalam kamar mandi berukuran kelewat besar dan—

Tunggu sebentar.

Aria tiba-tiba saja bangkit. Matanya mengerjap. Sekali. Dua kali. Tiga kali.

Otaknya menangkap sesuatu yang tak wajar.

Sejak kapan dia punya bak mandi sebesar ini di apartemennya?


Lunar
—Primarily refers to the Latin name for the Moon; Earth's only natural satellite

#4


Dia sedang tidak berada di apartemennya, hanya itu yang ada di otak Aria saat ini.

Tentu saja. Hanya itu yang bisa menjelaskan mengapa tiba-tiba saja ada bak mandi besar dengan keran air panas yang berfungsi dengan baik di dalam kamar mandi—karena, demi semesta, kamar mandi apartemen (terlalu) murah Aria benar-benar sangat tidak layak!

Sudah sempit, dindingnya banyak ditumbuhi lumut, keran air panasnya tidak berfungsi pula. Tidak mungkin tempat mengerikan itu berubah dalam satu malam.

Kecuali jika semalam dia lupa telah menemukan benda misterius yang ternyata adalah lampu ajaib berisi jin kadut dan minta supaya ia mengubah kamar mandinya menjadi lebih luas dan mewah. Bahkan dengan logika semacam itu pun, sama sekali tidak mengurangi efek kejut yang Aria alami.

Oh, dan, ngomong-ngomong, novelis itu cukup yakin semalam dia sama sekali tidak menemukan lampu ajaib.

Jadi, dia sekarang ada di mana? Di mana?

Panik. Aria panik setengah mati. Dia ada di kamar mandi entah-milik-siapa. Dalam keadaan telanjang—wow!

Jangan-jangan semalam dia habis diculik om-om, dibawa ke hotel, diperkosa dengan biadab sampai hilang ingatan, lalu ditinggalkan begitu saja setelah puas. Yang tersisa hanya biaya check in semalam. Itu pun belum dibayar.

Gawat! Itu artinya dia sudah tidak perawan lagi! Dan yang lebih buruk, dia disuruh bayar hotel yang pastinya menguras uang tabungan.

Ah! Sejak awal Aria tahu jika punya wajah kelewat manis begini membuatnya jadi sasaran empuk om-om random kurang kasih sayang istri. Dia sudah tahu itu!

Aria makin panik saat otaknya menyusun asas praduga yang mirip plot sinetron kejar tayang di layar kaca. Dia bahkan tidak sadar sudah tidak sengaja narsis.

Oke, Aria. Tenangkan dirimu. Itu cuma prasangka buruk. Kamu tidak diculik om-om. Aria menanamkan sugesti pada diri sendiri.

Setelah agak tenang, barulah dia kembali berpikir. Mengingat-ingat apa yang terjadi semalam. Jika dia tidak berada di hotel dan menjadi korban perkosaan om-om, lalu sekarang dia ada di mana?

Aria meletakkan telunjuknya di bibir bawah. Pose berpikir.

Semalam dia dan Yohio pergi ke tempat dia biasa mengasingkan diri. Mereka membicarakan bulan. Lalu Aria tertidur. Lalu ... dia tidak tahu apa-apa lagi. Ingatannya terputus sampai di sana.

Jadi, apa sekarang dia ada di rumah si Pengacara Seksi itu?

"Hei! Apa kau sudah bangun?"

Bunyi pintu kamar yang terbuka disusul oleh suara khas lelaki yang tiba-tiba saja menghentak udara membuat Aria—yang tengah berada di kamar mandi dalam ruangan tersebut—membeku.

Dia kenal suara itu. Sangat kenal. Itu suara orang yang belakangan ini sering ia temui. Tadayuki Yohio.

Oke. Dia. Memang. Berada. Di. Rumah. Pengacara. Itu.

Die!


Tadayuki Yohio adalah orang disiplin.

Semua aktifitasnya sudah tersusun dengan baik. Bangun pagi (jam 6 tepat, matanya sudah otomatis terbuka), setelah itu dia langsung mandi, berpakaian, lalu sarapan. Setiap hari selalu begitu.

Rin pernah berkomentar, hidup kakaknya seperti robot—ter-setting sedemikian rupa. Yohio hanya membalas, ini namanya efisiensi waktu.

Ya, waktu tidak seharusnya terbuang percuma.

Jadi, hari ini pun dia melakukan hal yang sama. Bangun pukul 6 tepat, lalu pergi mandi dan berpakaian. Yah, walaupun hari ini ada yang berbeda, sih.

Hari ini dia bukan tidur di kamar, tapi di sofa ruang tamu. Dia juga tidak mandi di kamar mandi pribadinya, tapi di kamar mandi yang ada di sebelah ruang baca. Dan yang terakhir, dan cukup mengganggunya, dia tidak bisa langsung meneruskan kegiatannya dengan sarapan.

Jika ada yang tanya, mengapa orang seperti Yohio rela tidur di sofa dan tidak mandi di kamar mandi pribadinya yang nyaman? Itu karena Aria sedang tidur di sana.

Ya, semalam, setelah Aria tertidur lelap di mobilnya, Yohio membawa novelis itu ke rumahnya. Bukannya dia mau, tapi karena terpaksa.

Yohio tidak tahu di mana Aria tinggal dan dia tak tega membangunkan gadis itu. Hei, begini-begini Yohio juga punya perasaan! Dia tahu rasanya akan sangat tidak enak ketika sedang tidur lelap dan tiba-tiba saja ada orang yang membangunkan. Jadi, dia tak punya pilihan lain.

Yohio juga membiarkan Aria tidur di kamarnya sedangkan ia tidur di sofa. Toh, hanya satu malam saja. Apa ruginya?

Tapi rupanya Aria tidur terlalu lelap. Buktinya, sampai matahari sudah meretas sinar dan jarum pendek jam menunjukkan angka delapan, dia belum juga bangun. Yohio, yang saat itu memutuskan membawa laptop beserta dokumen-dokumen pekerjaannya ke ruang tamu sambil menunggu tamunya bangun untuk sarapan, lama-lama risih juga. Dia pun memutuskan untuk naik ke kamar, melihat apakah Aria sudah bangun atau belum.

Dan di sinilah Yohio. Di dalam kamarnya yang berukuran cukup luas dan didominasi oleh putih dan cokelat.

Dia tidak melihat tanda-tanda keberadaan Aria. Yang ada justru pakaian kotor yang tercecer di sana-sini. Samar-samar, Yohio bisa mendengar suara keran yang menyala. Apa Aria sedang mandi?

"Hei! Apa kau sudah bangun?"

Yohio tahu dia tidak seharusnya bertanya. Baju yang tergeletak anggun di lantai sebenarnya sudah cukup menjelaskan. Sekarang Aria pasti ada di kamar mandi. Tapi Yohio tetap melakukannya. Anggap saja sekalian memastikan orang yang ada di dalam sana benar-benar Aria, bukannya maling yang ingin mencuri bak mandi kesayangannya.

Beberapa saat setelah suara Yohio merambat di udara, pintu kamar mandi perlahan membuka. Sedikit. Di sana, Aria melongokkan kepala sambil memperlihatkan seulas senyum yang terasa canggung.

"Oh, hai, Pria Seksi." Aria tersenyum. Berusaha terlihat senatural yang ia bisa. "Eng ... selamat pagi?"

Yohio membiarkan otot-otot wajahnya membentuk ekspresi merengut.

"Tentu saja," pengacara itu berkata. "Dari sekian banyak kalimat yang bisa diucapkan. Selamat pagi."

Aria ber-he-he-he ria. "Maaf ya, Tuan Pengacara. Aku sembarangan saja memakai kamar mandimu. Sumpah, aku tidak tahu jika ini rumahmu."

Yohio menatap datar Aria yang masih melongokkan kepala, kemudian mengalihkan pandangan ke arah lantai. Baju dan celana berserakan. Dia mengernyit. Entah kaget, entah jijik. Yang mana pun membuat Aria grogi.

"Kelihatan sekali kau benar-benar menganggap tempat ini rumahmu."

"Ha-haha…. Makanya kubilang maaf, 'kan?"

"Maafmu tidak bisa membuat kamarku jadi rapi, tahu." Logis.

"Iya, iya. Nanti kubereskan. Tenang saja."

Yohio menghela napas panjang, matanya mengevaluasi sekali lagi baju-baju kotor Aria. Sebuah benda berwarna hitam masuk ke dalam visinya. Dia mengernyit. Ya, ampun. Apa novelis itu selalu sembarangan melempar pakaian kotornya seperti ini—bahkan juga bra-nya?! Ngomong-ngomong, kenapa ada banyak sekali renda-renda di sana? Bagaimana Aria bisa tahan mengenakan benda itu seharian? Yohio saja sudah gatal-gatal duluan. Tapi kalau dilihat-lihat, ukuran gadis ini—

"H-hei! Jangan dilihat, Yohio!" Aria gelagapan. Merah sudah naik sampai kepala.

Oh. Yohio tertangkap basah.

Jaga image, seribu satu alasan pun dikeluarkan Yohio.

"Che, siapa juga yang lihat-lihat!"

"Kamu!"

Yohio mengerjap cepat. Wajahnya menunjukkan ekspresi antara malu dan tidak terima. Memangnya ini semua salah siapa? Memangnya dia salah apa? Rasanya respon Yohio wajar-wajar saja. Dia 'kan laki-laki!

"Yang menyuruhmu menaruh benda-benda itu di lantai memangnya siapa? Kalau tidak mau dilihat, taruh yang betul!" seru pengacara muda itu.

Jackpot.

Memang sejak awal yang salah Aria. Seenak jidat melempar pakaian kotor di lantai kamar orang. Masih untung si pemilik rumah tidak langsung membuang barang-barangnya.

Aria menggerutu. Ini pertama kalinya dia kalah telak. Ugh!

"Lain kali, jangan melempar barang-barangmu sembarangan."

Suara dalam Yohio kembali mengalihkan perhatian Aria.

"O-oke."

"Kalau kau tidak keberatan, segera selesaikan mandimu dan turun ke ruang makan. Aku ingin cepat sarapan."

"Ba-baik."

Kemudian Yohio keluar dari dalam kamar.


"Jadi…," Yohio merengutkan alis saat mengamati novelis berambut pirang nyaris putih berdiri manis di hadapannya dengan kemeja warna krem panjang. Kedua lengannya sengaja digulung sampai batas siku dan dua kancing paling atas sengaja dibuka. Celana kain warna hitam membalut kaki-kaki jenjang. "Setelah semalam memonopoli kamar, memakai kamar mandi tanpa ijin, sekarang kau memutuskan untuk memakai pakaian orang lain—juga tanpa ijin?"

"Aku tidak punya pilihan. Bajuku kotor. Ini keadaan darurat. Kupikir kau tidak akan keberatan," Aria beralasan seraya mengangkat bahunya santai.

"Dan karena itu kau seenaknya saja memakai pakaianku?"

"Kau tidak ikhlas pakaianmu aku pakai?"

"Bagaimana kalau aku bilang: Ya?"

"Lalu, aku harus pakai apa, dong?"

Yohio mengedikkan bahu. "Entah. Pakai saja baju yang kemarin."

"Kau menyuruhku memakai baju yang sudah kotor?" Aria merengut tak senang. "Kau jahat sekali, Tuan Pengacara!"

Yohio mengibaskan tangannya. "Memang aku jahat."

Mereka hampir terjebak selamanya dalam perdebatan itu, kalau saja bel tidak berbunyi. Ada seseorang di depan pintu.

Aria mengernyit. Siapa yang berani bertamu pagi-pagi begini?

Yohio segera bangkit dari sofa. Berjalan membukakan pintu setelah memberi isyarat singkat pada Aria untuk tak bergeser dari ruang tamu.

Pintu besar berbahan kayu dan dicat cokelat gelap itu pun terbuka, menampilkan sosok gadis yang umurnya masih remaja. Gumpalan rambut sewarna biji jagung tumbuh subur di kepalanya. Sosok itu tersenyum lebar saat matanya memasukkan imej Yohio ke saraf memorinya.

"Selamat pagi, Kakak!" Dia menyapa. Riang.

"Ya, pagi."

"Kenapa tanggapannya datar begitu, sih!" Dia memberi Yohio tinju main-main di lengannya namun untungnya—atau, sialnya bagi gadis itu—Yohio bisa menangkap kepalan tangan gadis yang usianya beberapa tahun lebih muda itu.

"Ada apa tiba-tiba datang ke sini, Rin?"

Rin—gadis berambut pirang itu—mendelik tak senang. "Sejak kapan aku harus punya alasan untuk bisa datang ke rumah kakak kesayanganku?"

"Habisnya, kau jarang ke sini dan lebih senang langsung ke kantorku." Yohio membalas seraya menaikkan kedua bahunya singkat.

Yohio dan Rin memang tinggal terpisah saat ini. Rin di rumah ayah dan ibunya bersama Len, adik kembarnya. Sedangkan Yohio, setelah berhasil membeli sebuah rumah setengah tahun lalu, lebih memilih tinggal di rumahnya sendiri. Tapi bukan berarti dia lantas jarang bertemu dengan adiknya. Mereka masih sering bertemu. Kadang Rin datang ke kantornya, kadang juga Yohio menjemput adiknya yang masih sekolah.

Mereka memang dua saudara yang akur.

Rin tertawa kecil lalu maju selangkah dan merentangkan lengan selebar ia bisa, hanya untuk memeluk pemuda di hadapannya.

"Aku cuma kangen sama kakak dan ingin main ke sini. Memangnya tidak boleh, ya?"

Yohio tersenyum. Hampir tertawa, sebenarnya. Berapa pun umur Rin saat ini, di matanya, adiknya itu masihlah sosok yang sama. Anak kecil yang manja.

Ya, mereka memang saudara yang akur. Atau mungkin lebih tepat dibilang, dia hanya bisa akur dengan Rin. Tidak dengan yang lain. Bahkan keluarganya.

"Yohio, yang datang itu siapa?"

Suara yang muncul dari belakang Yohio membuat Rin tersentak. Dia refleks melepas pelukannya terhadap kakak laki-lakinya itu. Rin melongokkan kepala untuk melihat si pemilik suara. Yohio sendiri langsung berbalik.

Satu set kristal safir melebar melihat Aria berjalan ke arah mereka. Ia mengerjap beberapa kali. Berusaha meyakinkan diri dengan apa yang ia lihat.

Ada orang lain di rumah kakaknya. Sekali lagi, ada orang lain. Di rumah kakaknya. Di radius privasi milik kakak laki-lakinya—orang yang menurut Rin hampir tidak pernah mengijinkan orang asing masuk barang sejengkal pun ke dalamnya.

Apa setengah tahun hidup sendiri membuat Yohio mengubah persepsinya? Ataukah—

Rin menarik sudut bibirnya. Mata remaja itu berkilat penuh konspirasi. Pantas saja kakaknya tadi menanyakan alasannya datang kemari. Rupanya ini sebabnya.

"Ah, Kakak. Kenapa tidak bilang kalau kau sekarang sudah tidak sendiri lagi?" Rin seenaknya melangkah maju. Mendekat pada Aria.

Yohio mengernyit atas sikap adiknya. Begitu pula Aria—yang notabenenya adalah orang asing di rumah itu. Namun, seakan tak menyadari tatapan bingung dua orang itu—atau mungkin, Rin memang pura-pura tidak sadar—gadis manis itu kembali berkata, "Padahal, kalau Kakak bilang dari awal juga aku tidak akan merasa keberatan, kok."

Yohio makin bingung. Apa adiknya habis memakai obat? Kenapa bicaranya melantur begini? Yohio bahkan tidak mengerti apa yang dia bicarakan!

Rin kembali mendekat pada Aria yang sedaritadi melempar pandangan bingung pada Yohio—yang telak diabaikan karena Yohio sendiri terlihat sama bingungnya.

"Ehem," Rin berdeham pelan. "Jadi, perkenalkan. Namaku Kagamine Rin adik dari Tadayuki Yohio."

Dia meraih kedua tangan Aria dengan gaya sok akrab yang berlebihan.

Aria terhenyak dan membatu seperti habis bertatap mata dengan Medusa di detik berikutnya. Kalian tahu kenapa? Jawabannya adalah, karena Rin baru saja membunyikan sebuah kalimat sakti:

"Salam kenal ya, Calon Kakak Ipar!"


To Be Continued


Biasanya saya misuh-misuh sehabis ngubah karakter salah satu tokoh jadi luar biasa nista. Tapi buat kali ini, ijinkan saya mengeluarkan respon berbeda: YES! YOHIO TAMPAK PERVO DAN TSUNDERE! AKU SENAAANGGG /dirajam

(maaf, saya emang suka nistain karakter favorit saya atas dasar tdjinta~ /tersepak)

Btw, ada yang merasa janggal dengan marga Yohio dan Rin? (: /grinned

Sekedar pemberitahuan. Kasus Neru bukan main konflik di sini, jadi mungkin saya bahasnya samar-samar aja (lagian saya nggak ngerti hukum "orz). Konfliknya hanya berputar pada Yohio dan IA. Well, ada alasan sendiri kenapa saya memberi judul "Lunar" atau Bulan, tapi saya yakin kalian udah bisa pada nebak dong yah, atau paling nggak, punya bayangan. jawabannya sederhana aja kok ;)

Balasan review (karena multichap, saya bales di sini aja gapapa 'kan?):

Hikari Kengo: saya sebenernya bingung mau buat Yohio jawab bulan atau bintang, makanya saya bikin dia jawab nggak milih keduanya lol XD

nabmiles: d'aww mamaciiih :/) konfliknya belum berasa, ya? Weh, padahal saya udah coba kasih foreshadow dari awal chapter 1 loh 8'''D kayaknya foreshadowing saya belum mantep "orz chapter depan akan saya usahakan lebih jelas hehehe mohon bersabar dengan konflik yang sedang saya bangun ((:

YamiRei28: hmm…. Bintang yah, bintang emang lebih terang sih ketimbang bulan haha makasih reviewnya~

Haccha May: YA AMPUN! OTP? JANGAN-JANGAN DIRIMU JUGA SUKA YOHIOIA? AAAAAA AKHIRNYA AKU NGGAK KESEPIAN LAGI DI SINI! sini-sini kamu aku peluk! /haggu/ /kamusiapa/ /digiling/ wwww makasih banyak reviewnya~ ^/U/^

Ryuuna Hideyoshi: waaaaaa ada juga yang bilang Yohio romantis hahaha updated, ya ;D

Haruna Mori: eh? Rumit, ya? Wawawawa maaaf yaaa…. Terima kasih udah kuat baca sampe akhir ;;;A;;;)/ kasus Neru dan hipotesis IA tentang bulan berhubungan? Ya, ya, ya! Bisa jadi! /ditusuk payung/ :DDD

Emilia Frost awawawa arigatchu~ *u*)/ syudah di-update. Terima kasih review-nya (((:

Ps: Karena senin udah balik kuliah lagi, saya nggak bisa janji update rutin sebulan sekali. Sumimaseeeennn ;;;;A;;;;

Pss: kalo Role, Home Alone & Falling in Love saya discon, pada marah nggak?

Reviews are very welcome!