Disclaimer © kimsangraa

Cast : Kim Jongin, Do Kyungsoo, dll~

N.B : Kai is a property of Kyungsoo/Kai is Kyungsoo's, dan sebaliknya, kkk.

Annyonggg! Back with me! Ini adalah part tiga, yang saya peringatkan, yang nggak mau baca ya back aja, hehe. No plagiat, no copas, dan no-no yang lainnya, oke?

.

.

Happy reading!

.

.

Siang itu, Sehun memasuki kamar Kai yang gelap. Ia membuka korden lebar-lebar agar cahaya terang matahari masuk ke kamar sahabatnya itu. Kai mengerang lalu melesakkan seluruh tubuhnya ke selimut bermotif segi-enam miliknya.

Suaranya yang parau memenuhi ruangan itu. "Eomma… Aku masih mengantuk…"

Sehun mendekati Kai. "Ini bukan Eomma, bodoh. Ini Sehun."

Beberapa detik kemudian, Kai membuka selimutnya. Dengan wajah yang malas, ia menatap ke arah Sehun yang tampangnya datar, lalu mengacak rambutnya sendiri.

"Kau sedang apa di sini, Hun?"

Sehun duduk di sisi tempat tidur milik Kai. "Aku tahu ada yang tidak beres. Seorang Kim Jongin yang hari Minggu pun masuk untuk latihan dance, tidak mungkin hilang dari sekolah tanpa keterangan."

Kai menyandarkan tubuhnya di sandaran tempat tidur. Pandangannya mengarah ke cahaya matahari, lalu jam dinding yang menunjukkan pukul setengah dua, dan jaket yang ia biasa gunakan selama latihan dance, lalu sepatu kets putih yang berada di dekat lemari.

"Aku lelah, Hun."

"Hm? Kau tahu kan kau bisa bercerita padaku?" balas Sehun. Kai perlahan mengangguk, tapi ia menggeleng dengan segera.

"Tidak ada yang bisa diceritakan. Kau bisa keluar."

Kai merasa perintah dinginnya percuma karena Sehun malah diam dan melihat-lihat tumpukan komik Top Blade di nakas. Namja itu menghela nafas, dan ia pun memutuskan untuk bercerita pada Sehun.

"Baiklah… begini…"

Setengah jam kemudian, Kai masih bercerita tentang masalahnya. Tentang bagaimana ia melawannya. Tentang bagaimana ia menentangnya. Tentang bagaimana ia lelah dengan hidupnya. Dan Sehun mendengarkan dengan sungguh-sungguh.

Sehun bukanlah teman biasa. Sehun adalah sahabat Kai dari kelas lima sekolah dasar, jadi ia sangat mengerti apapun tentang Kai. Bukan berarti Sehun menyukai Kai—ia menyukai Kai atas dasar persahabatan mereka yang sudah terjalin lama. Buktinya, Kai yang tertutup bisa menceritakan masalahnya ke Sehun.

"Aku tidak tahu bisa memberi saran apa," balas Sehun akhirnya. Kai hanya diam, ia tahu masalahnya berat.

"Tidak apa-apa. Aku tahu akan begitu akhirnya."

"Maaf."

"Hmm."

Hening menerpa mereka berdua. Kai melirik Sehun yang tengah memandangi kakinya sendiri. "Hun."

"Ya?"

"Boleh aku memelukmu?"

Sehun tertawa. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain menenangkan hati Kai. Jika ini bisa, maka ia akan membolehkannya dengan senang hati. "Tentu."

Ia merentangkan tangan, dan Kai memajukan tubuhnya untuk memeluk Sehun. Erat. Sama seperti dulu, pertama kali mereka saling meminta maaf. Rasa hangat sahabat itu masih ada, dan Kai sangat bersyukur ia memiliki Sehun di masa-masa berat seperti yang sedang dilaluinya ini.

Sehun sendiri tersenyum saat meletakkan dagu tajamnya di pundak Kai. Ia teringat sesuatu… Kyungsoo? Lelaki bermata bulat itu begitu khawatir atas keadaan Kai. Tapi Sehun menggeleng dalam hati. Ia memutuskan menyembunyikan masalah tentang Kyungsoo.

"Kai? Kupikir aku hendak pulang sekarang… Ini sudah hampir jam setengah tiga dan aku ada… tugas kelompok bersama Chanyeol."

Kai tertawa. "Tentu, pulanglah."

"Kau akan baik-baik saja?" tanya Sehun memastikan, dan Kai mengangguk. "Baiklah, aku keluar ya. Mungkin lusa aku akan ke sini lagi."

"Ya. Terimakasih, Sehuna." jawabnya seraya tersenyum.

Setelah keluar dari kamar Kai, Sehun berakting kembali menjadi Sehun yang tidak tahu apa-apa tentang keadaan Kai sekarang.

.

.

Jam istirahat adalah saat-saat paling menyenangkan di kelas bagi sebagian besar murid. Tapi Kyungsoo malah melamun di mejanya, menyadari, ternyata hari-hari berubah menjadi lebih hambar ketika Kai tidak masuk sekolah.

Catatan absennya alpa, namja itu telah tidak masuk selama lebih dari tiga hari. Dan Kyungsoo khawatir. Kyungsoo menanyakannya pada Sehun. Tapi Sehun menjawab, setiap ia menelepon Kai, selalu berakhir dengan mailbox. Hal itu sama saja pada Baekhyun, dan juga Chanyeol. Mereka juga tidak tahu.

Kyungsoo mencoba berpikir panjang. Mungkin Kai memang sakit dan tidak bisa diganggu. Atau mungkin Kai sedang keluar negeri. Tapi di hari keenam, rasa penasaran Kyungsoo memuncak dan dia memutuskan meminta nomor telepon Kai lewat Sehun.

"Kapan kau akan meneleponnya?" tanya Sehun.

"Mungkin sore ini?" Kyungsoo bertanya balik. Maka sore ini, ketika matahari beranjak turun dan orang-orang sudah memasuki rumah mereka untuk beristirahat, dan suasananya sedang sepi ketika Kyungsoo menekan tombol hijau untuk menelepon Kai.

Nada sambung terdengar. Jantung Kyungsoo mengalami percepatan. Tidak gila-gilaan, tapi cukup membuat namja itu berkali-kali menghela nafas untuk menetralkannya. Kyungsoo sama sekali tidak mengira telepon darinya akan diangkat setelah teman-teman yang lain berakhir dengan mailbox.

"Yeoboseyo? Ini siapa?"

Kyungsoo hampir menjerit ketika mendengar suara parau itu. Suara Kyungsoo harus terdengar biasa saja. Atau Kai akan berpikir Kyungsoo aneh.

"Ini aku, Kyungsoo. Kai-ie, kau kenapa?"

Kyungsoo dapat mendengar helaan nafas Kai. "Hmm? Memang ada apa?" jawab Kai. Kyungsoo mendengar nada lelah dalam intonasi Kai.

"Tidak… Kau sudah lama tidak masuk kan? Kau kenapa?" tanya Kyungsoo lagi—lebih gugup karena bahkan deru nafas berat Kai terdengar.

"Aku? Tidak apa-apa… Hanya merasa tidak enak badan."

Tapi perasaan Kyungsoo lebih peka. Dan dia tahu Kai merasa lebih dari tidak enak badan. "Bohong. Kau kenapa?"

"Kau kenapa tiba-tiba ingin mencampuri urusanku?" intonasi Kai meninggi.

Mereka terdiam sejenak. Kyungsoo tidak mengira Kai akan berkata dengan nada begini padanya. Namja itu hampir menangis, tapi air matanya tertahan ketika didengarnya lagi suara Kai yang melembut.

"Maaf. Aku benar-benar minta maaf, Kyungsoo-ie. Ada yang mau kau sampaikan padaku?"

Air mata Kyungsoo benar-benar mengalir. Banyak yang hendak disampaikannya pada Kai. Saking banyaknya, sampai-sampai semua itu terasa memenuhi hati kecilnya, tumpah ruah sampai Kyungsoo sendiri tidak bisa menahannya.

"Kyungsoo-ie… Aku minta maaf. Kau masih ada di sana?"

"Aku… aku khawatir padamu, bodoh! Aku ingin bertemu denganmu! Aku… Aku… kau ingat kan aku bilang apa kemarin?!"

Tut… tut… tut…

Kai menghela nafas ketika nada telepon ditutup terdengar di telinganya. Kai tidak tahu apa maksud Kyungsoo. Selain Kyungsoo menyanyikan lagu Into Your World, seingatnya Kyungsoo tidak mengatakan apapun.

Sungguh, Kai juga merasakan rindu pada Kyungsoo. Kai juga merasakan khawatir. Tapi masalah yang sedang menerpanya sekarang membuat Kai sama sekali tidak berniat pergi ke sekolah. Jadi dimana dia bisa bertemu dengan Kyungsoo tanpa harus ke sekolah dan mengikuti semua pelajaran membosankan itu?

Ditatapnya layar ponsel, lalu menyimpan nomor Kyungsoo dengan foto namja itu.

Jangan heran darimana Kai mendapat foto itu.

Kai meringkuk mendekati nakas, lalu mengambil buku sketsa berukuran lumayan besar dan sebuah pensil gambar, lalu mulai melanjutkan sebuah gambar yang sempat digambarnya tadi.

.

.

Kyungsoo menatap Baekhyun yang tampak terburu-buru memasukkan semua buku teori vokal ke tasnya, lalu Baekhyun menatap Kyungsoo dengan pandangan meminta maaf.

"Aku minta maaf, Kyungsoo! Aku harus pulang, sudah sore begini, dan Eomma pasti mencariku, aku sudah berjanji padanya untuk mengantar ke rumah Paman! Sudah yaaa~"

"Iya, hati-hati di jalan ya." jawab Kyungsoo sambil tersenyum, membalas lambaian Baekhyun untuknya. Masih dengan senyuman, Kyungsoo menatap jam dinding biru yang bertengger di ruang latihan itu, jam setengah empat sore, dan bergumam; merencanakan sampai pukul berapa dia akan latihan.

Senyum Kyungsoo memudar ketika melihat kalender. Hari ketujuh Kai tidak masuk sekolah, dan kerinduan Kyungsoo mencapai klimaksnya. Ingin rasanya namja itu menghirup lagi aroma milik Kai yang menenangkan.

Kyungsoo menghela nafas berat, lalu berdiri—hendak menyalakan microphone lagi, saat telinganya mendengar suara tapak kaki. Bukan suara orang berjalan, hanya saja… itu suara seperti orang sedang melompat-lompat.

Siapa?

Kyungsoo terdiam dan melihat sekeliling. Bulu romanya meremang, tapi beruntunglah pikiran positifnya masih berjalan.

Itu pasti orang lain, batinnya berkata, mencoba santai. Kyungsoo memutuskan untuk melangkah keluar. Sejenak namja itu terdiam, lalu menghela nafas lega ketika melihat ruang latihan dance masih dengan lampu menyala. Berarti masih ada orang.

Langkahnya pelan menuju ruang latihan itu. Sesungguhnya Kyungsoo tidak berniat mengintip sama sekali, tapi hal ini berbeda. Kyungsoo terdiam lagi saat mencapai pintu, lalu matanya menatap celah yang terbuka dan melihat ke dalam, lalu membelalak.

Kim… Jongin…

Seluruh tubuh Kyungsoo memanas. Jadi yang dia dengar tadi suara menapak sepatu Kai dengan lantai ruang latihan. Ini benar-benar sebuah seni—tangan Kai seolah membelai udara, membelah udara, melompat tinggi lalu jatuh lagi dengan gerakan yang memesona, lalu—

Diam begitu saja.

"Hah… hah…"

Keringat mengalir dipelipisnya yang menunduk, dan engahan nafasnya terdengar jelas. Dadanya naik turun menandakan butuhnya oksigen banyak bagi paru-parunya yang kelelahan. Ya, tampak sangat menarik perhatian Kyungsoo.

Tidak salah julukan Master of Dance itu melekat pada diri Kai. Dan juga tidak salah atas pendapat Baekhyun—tanpa musik, dia jadi lebih seksi dan auranya… auranya begitu memukau.

"Kai…" bisik Kyungsoo, tak berpikir bahwa suaranya itu terdengar oleh Kai. Namja tan itu menatap ke celah pintu. Sudut bibirnya tertarik perlahan menemukan seorang namja dengan mata melebar, mungkin masih terpukau atas serangkaian gerak yang dilakukannya tadi.

Tapi Kai tidak mengatakan apa-apa. Mata onyx-nya menatap mata bulat Kyungsoo yang masih memasang ekspresi andalannya—setengah melongo. Namja yang lebih tinggi itu mendekati Kyungsoo dan menangkup kedua pipi tembam pemilik suara terindah nomor dua di sekolah mereka itu.

"Kau melihatku?" bisik Kai. Kali ini atmosfirnya terasa melembut dan Kyungsoo mengangguk cepat.

"Ya, kau keren. Yang orang-orang katakan tentangmu tidak sepenuhnya salah. Kau terlihat lebih memukau tanpa musik." jawab Kyungsoo, suaranya agak lebih nyaring dibanding Kai.

"Aku tahu, Soo-ie." Kai mengelus lembut surai Kyungsoo. "Tapi mendengar pernyataanmu tadi, berarti tetap ada yang salah kata orang-orang?"

"Ah—itu, tidak. Maksudku, kata orang-orang kau sangat jarang menunjukkan tarian tanpa musik. Lalu banyak yang mengatakan kau itu sok dengan bersikap begitu. Tapi… barusan kau...melakukannya dan aku tahu orang-orang itu tidak pernah melihatmu menari tanpa musik…karena kau tampak berbeda."

Intonasi Kyungsoo melemah di akhir kalimat, jari-jarinya saling menggenggam gelisah dan kepalanya perlahan menunduk, matanya menghindari tatapan Kai. Kai tahu, namja itu merasa gugup.

"Ehm." Kai menahan tawa. "Kau lucu sekali. Aku suka. Biarkan aku memelukmu untuk beberapa saat dan biarkan dunia terhenti untuk kita berdua, Kyungsoo."

Tangannya menarik Kyungsoo ke pelukan yang hangat dan dagunya tersimpan di bahu Kyungsoo. Sebaliknya, hidung namja yang lebih mungil itu berhadapan dengan bahu Kai—Kyungsoo mencoba menghirupnya dan dia mendapati lagi aroma green tea yang menenangkan—Kyungsoo menyukainya.

Matanya membulat lagi ketika ia melihat sebuah gambar yang menempel di tengah papan di sebelah jendela, belakang tubuh Kai. Itu… bukan dirinya?

Sketsa pensil dengan garis-garis menawan itu…?

Mata yang dibentuk bulat dan bibir tersenyum… Serta rambut hitam yang kekanakan?

Itu bukan dirinya…? Atau—itu dirinya?

"Kai…"

"Hem?"

"Aku—"

.

.

Luhan menghela nafas.

Namja itu sedang berada di atap. Luhan sudah tidak ada jadwal apapun lagi. Kalau sore mendekati senja, biasanya memang Luhan suka merenung di sini—sangat tidak disangka Luhan bisa terdiam nyaris seperti orang bermeditasi dan berbanding terbalik dengan sifat yang ditunjukkannya pada orang banyak.

Luhan menimbang-nimbang apakah ia akan menelepon Sehun atau tidak.

Pertama Luhan melihat jam tangan yang melingkar di lengan kurusnya, sekarang jam empat sore dan dia yakin Sehun sudah pulang sekolah. Yang kedua, Luhan memang sedang ingin mengobrol dengan seseorang—dan itu Sehun. Luhan menghela nafas lagi, lalu jarinya menekan tombol hijau pada layar smartphonenya.

"Yeoboseyo?"

"Ah… Yeoboseyo, Sehun-ssi?" Luhan menggaruk tengkuknya—walaupun tentu saja Sehun tidak dapat melihatnya.

"Ah, Luhanie-hyung! Kukira siapa~ Ssssttt…"

"Kenapa? Ada apa, Sehun-ssi?" tanya Luhan, sedikit khawatir karena Sehun dalam keadaan bisik-bisik. Tapi mendengar panggilan Sehun untuknya, Luhan jadi senang setengah mati, walaupun Luhan tetap memanggil Sehun dengan sebutan sangat sopan.

Sejujurnya ia bukanlah seseorang yang gampang dekat dengan orang yang baru ia kenal.

"Aku masih di sekolah sekarang—dan aku melihat Kyungsoo dan Kai—salah satu temanku—berpelukan! Astaga, ternyata mereka memang menyembunyikan suatu hubungan dariku~" jawab Sehun tetap dalam volume rendah. Luhan jadi ingat sesuatu.

"Kai… Kim Jongin?"

"Iya…—eh? Kau tahu dia siapa?"

"Hmm. Kemarin setelah aku dan Kyungsoo bertemu denganmu, kami bertemu dengan seseorang bernama Kai itu dan dia—dia mencium pipi Kyungsoo saat pamit." jelas Luhan. Namja cantik itu tersenyum saat pikirannya dapat memperkirakan bagaimana kagetnya Sehun.

"Apa—? Mencium pipi Kyungsoo? Kau tahu sesuatu tentang mereka, hyung?"

"Aniyo. Satu kesimpulan saja—mereka berdua saling tertarik satu sama lain."

"Oh—ah, tidak tidaaak! Mereka berdua saling bertatapan dengan pandangan yang dalam… Oh astaga… Aku—kau tahu apa yang mereka mau lakukan, kan, hyung? Astaga, diamlah, Chanyeol-ah! Kau mengganggu acara bertelepon-ria-ku! Ah, maaf, hyung, tadi temanku."

Luhan tertawa kecil mendengar bisikan kesal Sehun pada salah satu kawannya. Sesungguhnya dia tidak mengira, pribadi berwajah datar seperti Sehun ternyata banyak omong juga didalamnya. Tapi Sehun menyenangkan.

"Iya, tidak apa-apa. Sebenarnya mereka berdua sekarang sedang—"

"Astaga~! Mereka ber-'ehem', hyuuuung~! MEREKA BER'EHEM'!" suara Sehun ditelinga Luhan seperti ikan kehabisan nafas. Namja berparas cantik itu mengernyit.

"'Ehem'?"

"Maksudku, kisseu. Kau tahu, Kai sudah tidak masuk selama tujuh hari—masukkan hari Minggu juga karena biasanya Minggu dia latihan di sekolah juga—dan pasti Kyungsoo sangat bahagia melihat pangeran berkuda putihnya itu datang lagi dan—"

"Sehun-ssi, maaf aku menyela, omong-omong tentang hari Minggu…"

"—he?"

"Apakah kau ada waktu di hari itu besok?"

.

.

Di waktu yang sama, Kyungsoo tidak bisa menemukan alasan kenapa Kai menciumnya. Saat bibir itu menyentuhnya, seluruh tubuh Kyungsoo bergejolak sekaligus tak berirama. Detakan jantungnya menjadi tidak stabil, dan tubuhnya memanas, nyaris seperti terkena penyakit demam.

Ya, dengan kadar yang lebih membingungkan.

Inilah kenapa walaupun kita menghindar, tetap saja sang playboy bisa menjerat kita. Karena mereka punya 'sesuatu'. Mungkin aura, mungkin karisma, mungkin—apapun yang membuat kita terlena menghadapi mereka.

Dan Kyungsoo merasakan hal itu sekarang. Mungkin Kai bisa dikategorikan sebagai namja playboy yang memiliki kebiasaan 'tembak'-bosan-buang-cari-lagi berulang-ulang. Tapi mungkin saja tidak. Kyungsoo tak tahu pasti, walaupun selama beberapa bulan di sini, tidak ada satu pun siswi yang dipedulikan Kai.

Dilihatnya lagi sosok bersurai kecoklatan itu, yang juga tengah terdiam memandangnya.

"Kenapa kau melakukan itu?" tanya Kyungsoo pelan, setengah berharap Kai akan mendengar suaranya. Tapi Kyungsoo langsung menyesal menanyakan itu, toh Kai sendiri tidak tahu kenapa ia melakukan itu.

"Kau…tidak suka?"

Namja yang lebih kecil mendecakkan bibirnya frustasi. Bukan maksud tidak suka, tapi…bahkan mereka tidak ada hubungan apapun selain 'teman' kan? Dan kejadian tadi memberikan sedikit harapan di hati Kyungsoo, kalau bukan hanya dia saja yang memiliki rasa ketertarikan itu.

Ia tertarik pada Kai, dan Kyungsoo ingin sebaliknya juga begitu.

"Kim Jongin…" bisiknya sembari terduduk di kursi yang berada di belakangnya, terlampau lelah atas segala pertanyaan tidak ternalar yang berputar di otaknya. Sekali lagi ia memandang tepat di onyx Kai yang berwarna gelap, dan ia memandang jendela yang berada beberapa meter di belakang Kai.

Senja ini lagi…

Kyungsoo tersenyum tipis.

Dia kembali menjadi saksi bisu atas kejadian antara aku dan Kai…

Kyungsoo hendak bicara, tapi kalimat Kai menghentikannya, membuat otaknya serasa hilang separuh. Ia tidak percaya Kai bisa berkata begitu. Kai adalah sosok yang gampang ditebak, tapi sekaligus membingungkan di waktu yang sama. Hidupnya penuh kejutan.

"Demi Tuhan… Aku begitu terpesona olehmu, Kyungsoo…"

Kai jatuh dengan tempurung lutut dulu yang menopang tubuh tingginya. Kyungsoo terdiam, dengan mata doe-nya yang menggemaskan, melihat Kai. Sebenarnya dia tak mau jatuh terlalu dalam atas pesona lyrical dancer ini, hanya…

Takdir mengambil alih. Kyungsoo memeluk Kai lagi… membenamkan hidung mungilnya di lekukan antara leher dan pundak Kai yang hangat. Tangan Kai melingkar di pinggang Kyungsoo, erat, seolah saat ini adalah waktu terakhirnya untuk bertemu Kyungsoo.

Kai tidak tahu setelah ini takdir akan berkata apa. Ia harus siap.

.

.

TBC

Oke, siap-siap ngumpet di dormnya exo biar nggak kena protesan reader gara-gara part ini pendek. I'm sorry juga buat sonewbamin, chanbaeknya nggak ada mehehehe *siap2 disiksa di skul

Ini cuma 15 halaman, guys! Pendek banget kan? Iya nggak sih? Ah tauk ahh.

Oke, review yoopppss! Dan berdoa juga moga2 EXO cepet comeback