Disclaimer © kimsangraa

Cast : Kim Jongin, Do Kyungsoo, dll~

N.B : Kai is a property of me of Kyungsoo / Kai is Kyungsoo's, dan sebaliknya, kkk.

Annyong, yeorobeun! Di sini reader pada pinter2 semua yaa [amin!] langsung bisa nebak apa yang terjadi di ff ini. Tapi di part ini saya perjelas kok masalahnya, hehe. Ini kayanya bisa sampe berchapter2, soalnya konflik baru muncul di sini-_-.

Anyway, happy reading!

.

.

Kyungsoo menghela nafas sesudah kepergian Tuan Choi dan Sulli.

Ia berjalan ke lantai atas dengan wajah biasa, berniat menuju ke kamarnya yang ia yakin Krystal masih ada di sana. Pintu kamar itu terbuka sedikit, kemudian Kyungsoo memasukinya tanpa minat, ia merasa bosan sekali di rumah.

Ia langsung melihat Krystal dengan rambut acak-acakannya, tubuh yang masih telungkup di atas kasur Kyungsoo, serta komik bertumpuk di sebelahnya, lalu Kyungsoo mendengar lagu pop-rock terputar dengan keras dari ponsel Krystal. Kyungsoo menghela nafas lagi—saudaranya yang satu ini memang 'sesuatu'.

"Jadi, apa Sulli bicara banyak?" tanya Krystal seraya berguling untuk menghadap Kyungsoo yang lalu mengangkat bahu. Lelaki berpipi sedikit tembam itu duduk di kursi depan meja belajarnya yang rapi.

"Dinilai dari sudut pandangku, lumayan banyak." jawab Kyungsoo. Krystal membalik tubuhnya—beberapa helai rambut menempel di lehernya. Alisnya terangkat heran. Seraya mengatur rambutnya, ia mengeluarkan pertanyaan lagi.

"Oke… Jadi, apa saja?"

"Perjodohan?"

"Wah," Krystal tersenyum kecut, "bahagia sekali sepertinya si Sulli."

"Iya, ia mengatakan kalau lelaki itu juga mencintainya." sela Kyungsoo, tertawa kecil dengan nada sedikit meremehkan, sementara Krystal dengan wajah blank-nya terdiam.

"Apa aku tidak salah dengar?" tanya Krystal.

"Tidak tahu. Mungkin iya, mungkin tidak. Aku hanya berkata kalau Sulli bilang lelaki itu juga mencintainya." kata Kyungsoo, dengan asal meminum jus melon dingin yang ada di atas meja belajarnya.

"Mwo? Hei… Tunggu dulu," jemari Krystal terangkat ragu di udara. Mulutnya membuka sedikit, tanda bahwa ia sedang berpikir; mungkin menyatukan berbagai informasi tidak sengaja yang selalu ia dapatkan. "…Onii-chan, apa ada temanmu yang… aneh belakangan ini?"

Kyungsoo berpikir. "Tidak. Tapi Kai sedang sakit dan ia telah tidak masuk selama beberapa hari. Tapi aku yakin ia hanya sedang lelah saja."

Krystal terdiam, lalu tiba-tiba ia berlari ke kamar mandi, meninggalkan Kyungsoo yang mengernyit heran. Krystal selalu beruntung, ia mendapatkan informasi dan selalu hanya ia yang tahu dari berbagai pihak. Keluarga Kim… Sekolah di tempat favorit… Tampan… Perjodohan…

Mendadak Krystal tidak ingin mengetahui apapun sekarang.

.

.

Pertama-tama, ia memang harus menenangkan dirinya. Jadi yang dilakukannya selama lima menit terakhir masuk kelas adalah mengambil nafas, lalu menghembuskannya dengan pelan. Menarik lagi… menghembuskan lagi. Tangannya memegang erat pada masing-masing sikunya.

Krystal tahu ia harus membicarakan hal ini dengan seseorang. Ia sangat tidak mungkin berbicara pada Sulli—karena gadis itulah yang membuatnya terkena getah. Ia bisa berbicara pada Victoria atau Amber, tapi Krystal tidak begitu yakin. Jadi ia memutuskan untuk membicarakannya dengan Luna.

Sepanjang yang ia tahu, Luna adalah orang yang enak diajak bicara. Krystal selalu datang pada Luna ketika ada masalah, dan topiknya pun tidak jauh-jauh dari Sulli.

"Jadi, ada apa, Krystal?"

"He?"

Luna tertawa renyah—sampai-sampai Krystal berpikir tidak ada yang tidak menyukai gadis manis yang satu ini.

"Dari tadi kau melihat ke arahku, Kryst. Aku yakin ada yang mau kau bicarakan denganku." kata Luna, melanjutkan sketsa tokoh komik yang digambarnya. Krystal sempat tertawa kecil.

"Memang ada. Sebaiknya kapan kita bisa bicara?" tanya Krystal. Luna tersenyum cerah.

"Kenapa tidak sekarang saja?"

"Apa… Miss You-Know-Who ada di sini?" tanya Krystal. Kalimat terakhirnya ditekan dalam intonasi yang perlahan, membuat Luna tertawa. Jelas Luna tahu siapa gadis yang dimaksud Krystal di sini—dipembicaraan mereka ini.

"Sepertinya ia ke perpus. Hei, memang kau pikir dia relasi Voldemort? Tapi tidak apa-apa. Di beberapa 'kesempatan' bahkan ia lebih seram dari Voldemort, hahaha~"

Krystal mencoba tertawa lepas, tapi pikirannya tidak bisa lepas dari hal-hal yang akan diceritakannya pada Luna, jadi ia tertawa dengan wajah terpaksa.

"Baiklah. Begini… Kau tahu Sulli akan dijodohkan?" tanya Krystal. Luna menghentikan kegiatannya sebentar—matanya menatap intens mata Krystal, lalu ia mengangkat bahu.

"Tidak. Ia yang minta dijodohkan atau memang ia dijodohkan?" Luna bertanya balik. Krystal meringis.

"Kau begitu baik dalam hal ini; ia minta dijodohkan dengan cucu keluarga Kim yang terkenal." mulai Krystal. Ia menghela nafas panjang, sembari berharap cemas akan reaksi Luna. Tapi ia hanya melihat Luna mengangguk, jadi Krystal melanjutkan. "Aku mempunyai saudara. Kemarin aku berkunjung ke sekolahnya untuk menjemput saudaraku."

"Oke… Lalu?" tanggap Luna. Krystal melirik gambarnya—sepertinya Luna menggambar tokoh komik Shinichi Kudo.

"Lalu aku berkenalan dengan sahabatnya. Sahabatnya, menurut prakiraanku, ialah lelaki yang dimaksud Sulli. Aku tidak tahu kenapa, tapi aku mempunyai feeling kalau saudaraku dan sahabatnya itu saling merasakan ketertarikan…" intonasi Krystal melemah. Luna menatapnya.

"Aku punya pikiran jika… Sulli dijodohkan dengan sahabat saudaramu itu?" tebak Luna. Krystal mengangguk-angguk.

"Daebak, kau pintar sekali. Itu benar. Sementara… ayah Sulli adalah relasi kerja ayah saudaraku itu." kata Krystal. Luna mengangguk paham—ia telah mengarsir rambut Shinichi.

"Jika A adalah kau, B adalah Sulli, C adalah saudaramu, dan D adalah sahabat saudaramu, lalu?"

"B dijodohkan dengan D, ayah B adalah teman ayah C, C dan D saling memiliki ketertarikan, aku dan D bisa dibilang teman."

"Complicated—" komentar Luna. "Apa kau tahu bagaimana perasaan sahabat saudaramu itu pada Sulli? Atau ia tahu ia dijodohkan? Atau…"

"Aku belum tahu pasti. Satu-satunya informasi yang bisa kupegang di sini adalah, cucu keluarga Kim itu tidak tahu dengan siapa ia dijodohkan." kata Krystal, dengan kepastian di wajahnya.

Luna menatapnya lagi. "Apa kau yakin sahabat saudaramu itu cucu keluarga Kim?" tanyanya.

"Yakin. Aku sudah mengecek website yang memuat pohon keluarga Kim, dan foto keluarganya, dan… oke, aku percaya itu dia." jawab Krystal, wajahnya jelas menyiratkan ia begitu lelah dengan pikiran ini. Luna tertawa.

"Jangan dianggap serius. Bagaimana kalau besok Minggu kita ke taman bermain?" ajak Luna—senyum cerah terpampang di wajahnya.

.

.

Hari ini membosankan, gumam Kyungsoo dalam hati. Ia menatap keluar jendela, lapangan basket penuh siswa yang sedang asyik memperebutkan sebuah bola berwarna oranye ditengah terik matahari. Kyungsoo menggelengkan kepalanya, apa mereka tidak kepanasan? Bahkan di dalam ruang kelasnya yang teduh saja ia masih merasa kepanasan.

Kyungsoo menolehkan kepalanya ke samping kanan, dimana seorang lelaki sedang nyamannya menumpukan kepala pada lipatan tangan, tertidur pulas sepertinya. Kyungsoo memandang lagi buku paket sejarahnya, mencoba membaca dengan konsentrasi. Usahanya hampir berhasil kalau saja Sehun tidak masuk sambil berteriak.

"Jadi, kita akan melakukan double date di taman bermain!"

Lelaki berkulit putih pucat itu mengelilingi kelas yang hanya berisi dirinya dan dua orang lain—Kai dan Kyungsoo—lalu melonjak-lonjak gembira. Kyungsoo mengangkat pandangan dari buku sejarah tebal dihadapannya.

"Kau habis menelepon Luhan?" tanya Kyungsoo. Sehun mengangguk kuat-kuat, sembari menggoda Kai yang tidur di mejanya.

"Yap, Luhan! Hei, bagaimana dengan kalian? Ikut kan?" tanya Sehun, kali ini menjawil pipi Kai. Lelaki berkulit kecoklatan itu mengeluh malas seraya mendorong Sehun menjauh.

"Sebentar, tadi kau bilang 'kita akan double date', itu menunjukkan kau sudah meresmikanku dan Kyungsoo ikut. Sekarang, kau bertanya 'bagaimana dengan kalian'? Maksudmu apa?" balas Kai dengan suara serak.

"Hehe~ Maksudku adalah, kalian pasti bisa kan?" tanya Sehun. Kyungsoo tidak menemukan alasan apapun yang membuatnya tidak mengikuti kencan ganda ini, jadi didalam hati ia memutuskan ikut saja. Tapi sebelum ia sempat mengiyakan, ia dapat mendengar Kai berbicara.

"Mungkin bisa, mungkin tidak."

"Lho, kenapa?" tanya Sehun bingung.

"Aku tidak tahu, tapi jangan berharap terlalu tinggi, Sehun. Nanti jatuhnya sakit." kata Kai, ekspresinya terlihat mengejek. Sehun mempoutkan bibirnya dengan gerakan lucu. Ia mengalihkan pandangannya dan ia menyadari ekspresi Kyungsoo yang tampak kecewa.

"Hei, lihat, Kyungsoo ingin ikut, Kai. Bagaimana bisa kau mengecewakannya dengan berkata begitu?" goda Sehun dengan smirk menyebalkan di wajah tampannya. Kai menatap Kyungsoo sejenak—wajahnya terlihat penuh makna.

"Jangan menatapku begitu, Kai." protes Kyungsoo dengan intonasi tinggi.

"Aku punya ide," kata Kai, bibirnya membentuk seringai. "Ide yang bagus."

Kyungsoo memutar bola matanya. "Oh, tidak."

.

.

Luhan terpana. Dari awal, ia sudah mendapat informasi dari Sehun jika Kai dan Kyungsoo resmi ikut. Tapi sekarang… Ya, Kai memang ada, bahkan ia terlihat super tampan. Tapi di samping lelaki itu, seorang gadis berambut coklat tua dengan dress warna aprikot?

"Nngg… Ia Kai, kan? Kenapa ia malah membawa gadis itu? Mana Kyungsoo?" tanyanya, kebingungan.

"Ia Kyungsoo, Hanie-hyung. Kami melakukan permainan, ia kalah dan mendapat hukuman. Kai memutuskan untuk mengubahnya menjadi seorang gadis dalam kencan ini," Sehun menjelaskan sembari terkikik.

Luhan mendapati dirinya menahan tawa ketika bertemu pandang dengan mata bulat Kyungsoo yang memancarkan rasa malu sekaligus kesal. Luhan mendekati Kai dan Kyungsoo sembari berpikir kemeja warna biru jeans yang dipakai Kai tampak mahal.

"Siapa namamu, manis?" tanyanya, bermaksud menggoda Kyungsoo. Tapi yang ia dapatkan hanyalah pukulan keras di punggungnya.

"Ini semua gara-gara Kai, hyung! Ia menyebalkan!" ujar Kyungsoo—memberikan sebuah pukulan lagi di lengan Kai yang selanjutnya mengaduh.

"Tapi, lihatlah! Kau cocok sekali dengan dress ini! Aku tidak pernah menyangka seorang Kyungsoo yang jarang berolahraga bisa memiliki pinggul dan bahu sesempit ini!" tawa Luhan, terdengar mengenaskan ditelinga Kyungsoo. Lelaki yang dengan terpaksa berdandan seperti seorang gadis itu menghela nafas.

"Diamlah, Luhan." ucapnya lirih. Tapi Luhan mencari mati.

"Kakimu barusan di-wax? Halus sekali sepertinya~"

"Menyedihkan sekali! Aku tidak akan mau diajak main seperti itu!" balas Kyungsoo, sengit.

"Ah, si manis marah rupanya." goda Luhan lagi. Alis Kyungsoo membentuk lengkungan marah. Betapa ia tidak suka diejek oleh saudaranya sendiri. Ia hampir saja melangkahkan kakinya yang dibalut flat shoes meninggalkan tempat itu, tapi tangannya ditahan oleh seseorang.

"Biarkan saja, Kyungsoo. Kenapa kau begitu marah? Toh, kau terlihat benar-benar manis." bisik Kai tepat ditelinganya. Yah, ia mampu menenangkan Kyungsoo yang sekarang terdiam malu. Luhan tersenyum.

"Darimana kita mulai? Jet-coaster?" tanyanya, terdengar sangat riang diantara pengunjung dan suasana yang ramai.

.

.

Di sisi lain, Krystal dan Luna juga sedang di taman bermain. Mereka melepaskan segala masalah, tertawa lepas dimana saja. Beruntungnya Krystal mengenal seorang Luna yang bisa mengerti segala situasi. Seperti kali ini, Luna terlihat sangat santai, itu membantu perasaan Krystal juga.

Mereka melakukan sesuatu sesuai kehendak hati mereka di sini. Mereka membeli berbagai aksesoris, membeli dua lolipop besar, membeli apapun yang mereka suka. Mereka berdua sedang menertawakan badut ketika lalu Krystal menabrak seorang gadis.

"Ah, maaf, aku tidak melihat jalan—?"

"Krystal?!"

"Onii…chan? Luhan-oppa! Kai-ssi! Dan…" Krystal menunjuk Sehun dengan senyuman ragu.

Sehun membungkuk sedikit. "Oh Sehun imnida."

"Jung Krystal imnida. Ini temanku, Park Luna. Jadi, apa yang terjadi di sini, Oppa?!" tanya Krystal, dengan brutal menggoyangkan kedua lengan Luhan—membuat Sehun berpikir apa Krystal lebih kuat dibanding Luhan.

"Berhenti, Krystal! Kami sedang double date. Kai-ssi dan Kyungsoo memainkan sesuatu—aku tidak tahu apa—dan Kyungsoo kalah, maka hukumannya ia menjadi seorang gadis dalam kencan ini." jelas Luhan. Krystal menatap Kyungsoo.

Kyungsoo menatap Krystal.

Krystal tertawa terbahak-bahak sampai ia terpaksa berjongkok untuk menahan tawanya. "Tunggu, jadi Kyungsoo-ssi seorang lelaki?" tanya Luna. Kai, Sehun, dan Luhan mengangguk bersamaan.

"Ia terlihat manis, aku bersumpah!" kata Krystal, di sela-sela tawanya yang tidak kunjung berhenti. "Tapi… ia terlihat aneh karena matanya terlihat kesal!"

Mereka tertawa bersama—kecuali Kyungsoo yang masih mengerucutkan bibirnya. Luna tidak kelupaan satu hal.

Dengan cara Krystal memanggil, aku yakin Kyungsoo dan Luhan adalah saudaranya. 'Kai-ssi'? Ia pasti teman mereka semua. Sehun? Ia terlihat baik-baik saja. Berarti masalah di sini adalah Kai dan Kyungsoo. Melihat wajah Kai, aku merasa—

Lamunan Luna berhenti ketika Krystal menepuk bahunya. Ia kembali tersenyum seperti biasa—mengabaikan apa yang berputar-putar dalam otaknya.

"Ayo kita kembali bermain," ajak Krystal. Luna mengangguk, menyadari ternyata Kyungsoo, Kai, Luhan, dan Sehun sudah menuju arah yang berlawanan karena mereka akan kembali bermain. Tapi Luna benar-benar harus menyampaikan ini pada Krystal.

"Krystal, aku rasa, Sulli adalah permasalahan serius."

.

.

Setelah hari menyenangkan mereka di taman bermain, Kai memutuskan akan langsung pulang ke rumahnya karena merasa sangat capek. Sehun, satu-satunya orang yang membawa mobil, mengantar Kyungsoo pulang terlebih dahulu, lalu Luhan, baru Kai yang akan diantarnya. Ia menghela nafas, mencuri lirik ke arah Kai yang memejamkan matanya.

"Sehun… Bagaimana ini? Mereka mau mengajakku ke jamuan makan malam dengan keluarga Choi…" desah Kai malas. Sehun dapat menangkap rasa lelah yang sangat tersirat diucapannya.

"Aku juga tidak tahu. Aneh, jaman sekarang kenapa masih ada perjodohan? Apa enaknya sih dijodohkan?" tanya Sehun seraya menjilat bibirnya. Ia melambatkan laju mobil ketika melihat lampu merah.

"Tambahkan satu pertanyaan lagi, kenapa harus aku yang ikut? Sehun, bisakah kau bawa aku ke tempat yang lain?" tanya Kai. Sehun mengetuk-ngetukkan jari ke setiran mobil sport-nya yang berwarna hitam itu.

"Bukankah kau akan dikecam banyak pihak jika tidak datang? Kurasa ini jamuan besar, sampai mengundang juga pemilik perusahaan manufaktur terbesar keempat di Korea," kata Sehun terdengar ragu.

"Ah, benar juga… Sial…" dengus Kai, pandangannya terlihat hampa. Sehun menghela nafas diam-diam. Jika keadaannya membantu, ia bisa saja membawa Kai keluar dari Seoul. Masalah di sini adalah keluarga Kai yang sangat disegani. Jadi jika Kai bertindak seenaknya, ia akan mendapat banyak masalah.

"Kau sebenarnya terkenal. Jika kau mau mengecek emailmu, mungkin sudah banyak manajemen artis yang menawarkan kerjasama. Apalagi tampangmu tidak bisa dibilang jelek, dan kau memiliki bentuk tubuh yang bagus untuk menjadi model." kata Sehun seraya menyalakan road-sign ke kiri.

Kai meneguk softdrink miliknya. "Terimakasih, Sehun. Omong-omong, itu tidak membantu sama sekali."

"Lalu… Bagaimana dengan Kyungsoo?" tanya Sehun pelan, berharap pertanyaannya tidak salah untuk kondisi seperti ini. Jika salah toh, Kai memang harus menghadapi ini, kan?

"Aku tidak tahu, Hun. Yang pasti, ialah yang ada di hatiku sekarang. Sialan, ini sudah masuk kawasan rumahku. Lambatkan jalannya, Sehun." ujar Kai malas.

Sehun menginjak kopling untuk mengganti ke gigi yang lebih rendah. Mobilnya melaju pelan dikeheningan sore. Tidak terasa, mereka berdua sudah berada di depan rumah Kai yang mewah. Dari luar pagar, Kai bisa melihat garasinya tertutup. Berarti kedua orang tuanya sudah di rumah.

"Terimakasih, Hun. Aku duluan," kata Kai seraya membuka pintu. Sehun mengangguk, ia memperhatikan Kai yang berjalan lemas ke pagar tinggi. Kasihan Kai, kasihan, batinnya. Tapi ia tidak dapat berbuat apa-apa dalam situasi ini, karena ia bukanlah seseorang diantara dua pihak itu.

Sehun menghela nafas. Tidak sampai semenit kemudian, mobilnya sudah menjauhi rumah Kai.

.

.

"Jongin! Eomma kira kau akan pulang malam!"

Kai menoleh malas. Eommanya dalam balutan blus bergaris tampak sangat menyebalkan. "Hm." jawabnya, tetap dalam intonasi malas.

"Cepat siap-siap! Jas, kemeja, dan celanamu sudah ada di dalam kamar," ujar Nyonya Kim. Ia tidak sabar melihat kelakuan anaknya yang seperti membuang-buang waktu. "Cepatlah, Jongin!"

"Eomma tidak tahu!" teriak Kai tiba-tiba. Ia berhenti di tangga paling bawah. Nyonya Kim terkejut.

"Apa maksudmu? Apa yang Eomma tidak tahu?" tanya Nyonya Kim. Ia mendekati Kai perlahan, sosok anaknya itu masih membelakangi.

"Eomma tidak tahu bagaimana perasaanku! Eomma selalu bilang ini semua demi kebaikanku!" intonasi Kai masih tinggi. Ia tidak mau membalikkan tubuh, ia ingin menyembunyikan matanya yang berkaca-kaca.

"Bukankah semua ini memang baik? Kau akan dapat warisan yang sangat banyak!" balas Nyonya Kim. Nadanya terdengar memaksa.

"Uang! Itulah yang kalian semua bicarakan! Uang, uang, dan uang! Apa Eomma pikir kebahagiaanku bisa dibeli dengan uang?!"

Nyonya Kim tertegun. Ia melihat bahu anaknya yang tampak lemas. Tapi ia tidak mau menolak, perjodohan ini akan menjadi peristiwa yang menjanjikan bagi masa depan anaknya. Bukan, bukan hanya bagi Jongin, tapi bagi perusahaan mereka juga.

"Eomma tidak ingin berdebat denganmu, Jongin. Tapi yang kau katakan tidak benar. Kami melakukan ini benar-benar demi masa depanmu." jawab Nyonya Kim seraya menahan emosinya.

"Ya, ya, ya! Teruslah membeberkan kebohongan! There's no place for liar in the last!" teriak Kai pada akhirnya. Ia berlari ke lantai atas. Ia ingin meninggalkan semuanya dibawah. Ia ingin menginjak-injak semuanya dibawah.

Sayangnya, ia tidak bisa melakukan semua itu.

.

.

TBC

Author's babbling :

Yaaay, part ini selesai~ gimana, udah mudeng masalahnya? Kalo belum mudeng, coba deh ditulis di kertas. A itu gimana, B itu gimana, terus C sama D-nya. Hehehe. Saya agak khawatir soalnya banyak temen yang saya coba ceritain lewat omongan nggak mudeng-_-.

Kalo saya sendiri mungkin ganti kalimatnya itu jadi, there is no place for betrayal, kkk *bermaksudmenyindirseorangteman*. And… Lagunya Jay Park yang Joah bagus ya? Wahaha.

Well, kayanya itu aja deh. Review, gimana?