Disclaimer plot © kimsangraa

Cast : Kim Jongin, Do Kyungsoo, dll~

N.B : Kai is a property of Kyungsoo / Kai is Kyungsoo's, dan sebaliknya.

Oke, tanpa banyak omong, happy reading!

.

.

Keluarga Jung juga diundang ternyata.

Gedung lantai dua, dimana tempat jamuan makan itu diadakan, terlihat mewah sekali. Di sudut-sudutnya ada taman kecil dengan banyak batu hias berwarna putih, lalu bunga plastik yang berwarna-warni juga terlihat indah. Krystal berjalan perlahan melewati tamu-tamu yang lain, sambil sesekali tersenyum. Sosoknya yang tidak mengumbar kecantikan malah justru terlihat bersinar diantara gadis lainnya.

Keluarga Jung berada satu meja dengan keluarga Lee. Ia melihat meja paling depan yang berjarak dua meja darinya, terdapat tulisan Choi dan Kim. Krystal membetulkan ujung dress-nya sebelum duduk. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling gedung. Ia tidak membawa earphone, jadi ia merasa bosan.

Krystal memutuskan bertanya pada kakak perempuannya yang juga ikut jamuan makan ini. "Eonni, ini sebenarnya acara apa?" bisiknya.

Kakaknya, Jung Jessica, menghela nafas. "Aku tidak tahu. Aku juga bernasib sama denganmu tadi; begitu pulang kuliah, Mom menyuruhku langsung mandi dan ganti baju. Aku sempat melihat undangannya di mobil. Acara jamuan makan biasa."

"Oh…" Krystal menganggukkan kepala. "Siapa tuan rumahnya?" tanyanya lagi.

"Keluarga Choi. Mungkin yang dimaksud adalah keluarga Sulli." jawab Jessica sembari melirik jam tangan peraknya. Krystal mengernyit. Untuk apa keluarga Choi mengadakan jamuan makan tiba-tiba seperti ini?

"Krystal, duduk yang rapi. Keluarga Kim selaku tamu utama sudah datang." bisik Nyonya Jung yang berada di samping kanannya. Krystal mengangguk. Ia menegakkan tubuhnya dalam posisi yang anggun untuk seorang gadis.

Hei, tunggu sebentar, 'keluarga Kim selaku tamu utama'?

Krystal melihat pintu masuk besar yang dibuka dengan lebar, menyambut sebuah keluarga. Kepala keluarganya tampak tersenyum, begitu juga dengan nyonyanya. Seorang lelaki di belakang mereka juga tersenyum, tapi Krystal tahu senyum itu begitu dipaksakan. Orang itu, Kai.

Ini buruk sekali, batin Krystal. Benar-benar buruk.

Lalu ia menatap Kai. Tidak diduga, lelaki itu balas menatapnya. Untunglah Krystal dapat membaca apa yang berusaha disampaikan Kai lewat tatapan mata.

Kita harus bertemu dan berbicara.

.

.

Ketika tamu lainnya sedang menikmati hiburan yang ada, Krystal dan Kai masing-masing keluar diam-diam. Kelihatannya mereka hanya akan ke toilet, tapi langkah keduanya sama-sama menuju sebuah tempat. Selanjutnya, mereka bertemu di atap gedung mewah berlantai delapan itu.

Krystal mendengus. "Jika aku sedang berada di permainan tornado atau jet-coaster mungkin tidak apa-apa. Tapi tempat tinggi seperti ini…aku tidak suka."

Kai meliriknya. Ia sedang menumpukan setengah berat badan ke lengan yang disandarkannya pada pagar pembatas berpernis hitam mengkilap itu. "Kalau begitu duduklah. Kau tidak bisa melihat kebawah kan jika duduk." balasnya. Krystal menggeleng.

"Lantainya kotor."

"Kalau begitu berdirilah di belakang."

"Hmm…" Krystal membawa tubuhnya beberapa langkah ke belakang. Ia dapat merasakan angin malam berhembus melewati tubuhnya. Untunglah ia membawa kardigan milik Jessica ke tempat ini, jadi Kai tidak perlu membuka jasnya untuk—hey, hey, apa yang ia pikirkan?

"Jadi, dari awal kau sudah tahu perjodohan ini?" tanya Kai memulai.

"Begini, aku memang salah satu teman dekat Sulli. Tapi, aku hanya tahu Sulli akan dijodohkan dengan cucu keluarga Kim. Dan aku tidak bisa memastikan siapa 'Kim' yang dimaksud." sanggah Krystal. Kai tidak menjawab langsung, ia memandang hampa ke kejauhan yang hanya terlihat gedung-gedung lain.

"Dengar, aku tidak bermaksud menyalahkanmu." kata Kai setelah terdiam beberapa detik. Suara seraknya membuat Krystal terdiam sejenak, mencoba mendalami karakter seorang lelaki tampan yang sedang bingung ini.

"Kalau begitu, apa yang kau mau bicarakan denganku di sini?" tanya Krystal seraya merapatkan kardigan. Ia tahu, angin malam tidak baik untuk tubuhnya yang cenderung mudah sakit.

"…aku tidak tahu. Mungkin meminta saran."

Krystal terdiam. Ia mendengar Kai menghela nafas sembari menunduk, membuat surai coklatnya menutupi sebagian wajah Kai. Krystal lantas mendekatinya, mengambil tempat di sebelah Kai sembari ikut menyenderkan lengan dipagar.

"Ini bukan saran, tapi aku tahu, ini berat." katanya sembari menatap ke langit.

Kai mengangguk perlahan.

"Tapi aku ada pertanyaan. Kau sudah tahu sejak kapan kalau kau akan dijodohkan?" tanya Krystal.

"Seminggu yang lalu sepertinya. Yah, sejak aku tidak masuk sekolah." jawab Kai, tetap menunduk. Tapi hal itu membuat Krystal bisa menatapnya dengan leluasa, karena gadis itu jadi tidak perlu mendongak.

"Lalu… kenapa kau hari ini tetap jalan-jalan dengan Onii-chan kalau kau tahu selanjutnya seperti ini? Bukankah rasanya lebih berat?" tanya Krystal.

"…"

"Apa kau tidak bisa melepasnya? Apa kau tidak rela?"

"…ya… mungkin seperti itu."

"Apa kau tahu jika Sulli adalah gadis yang tidak mudah menyerah demi mendapat apa yang diinginkannya?"

"Jadi, maksudmu, hidupku akan terus dihantui olehnya sampai aku menerimanya?"

Kai menatap langsung pada iris coklat terang milik Krystal. Gadis berambut coklat tua itu langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain. Walaupun ia tidak punya rasa pada Kai, toh ia tetap mengakui kalau bertatapan dengan sosok tampan itu agaknya mempengaruhi kecepatan detak jantungnya.

"Iya… Tapi sejak kemarin aku sudah punya ide untuk ini…" jawab Krystal, kalimat akhirnya memberi Kai setitik harapan.

"Apa?"

"Hmmm… Tergantung seberapa besar kepercayaanmu padaku dalam menjalankan siasat ini." jawab Krystal, tersenyum percaya diri. Ia mengatakan tentang rencananya dalam intonasi pelan. Kai mengangguk-angguk mendengarnya. Ia berharap besar pada rencana ini.

.

.

Jamuan makan resmi ditutup oleh Tuan Choi. Para tamu sudah pada pulang, tinggal beberapa lagi yang masih duduk dan mengobrol santai. Sulli mengibaskan rambut hitam panjangnya, lalu meminum cocktail yang masih tersisa sedikit di gelasnya. Selanjutnya, ia menatap Kai sambil tersenyum.

"Kapan kita bisa bertemu lagi, Kai-ssi?" tanyanya dalam intonasi lembut. Kai—yang berusaha keras untuk tidak mengeluarkan tatapan kesal—menatap Sulli dengan pandangan sedikit datar.

"Aku tidak tahu. Tapi mungkin tidak bisa sering-sering. Gadisku akan marah jika aku bertemu sering-sering dengan gadis lain." jawab Kai, tersenyum kecil. Sulli mengernyitkan dahi. Berdasarkan informasi yang ia dapat, Kai sedang tidak memiliki kekasih. Tapi… ini?

"Kai-ssi sudah punya kekasih?" tanya Sulli. Harapannya sedikit ternodai oleh retakan.

"Iya, tentu saja aku punya kekasih." jawab Kai, setengah mati berharap agar kebohongannya sama sekali tidak terlihat.

Tubuh Sulli agak menegang. Gadis itu mengeratkan kepalannya yang berada di bawah meja. "Tapi kata… well, asisten pribadimu, kau sedang tidak punya kekasih."

"Ah, itu…" Kai memaksakan sedikit tawa. "Itu kan masalah pribadi. Mungkin bagi sebagian orang, mereka akan nyaman bercerita tentang kekasihnya di depan orang tua. Tapi aku tidak."

"Jadi, siapa kekasihmu?" tanya Sulli tanpa aba-aba. Matanya menatap onyx Kai langsung, tapi Kai malah mengalihkan pandangan ke bagian belakang yang masih ramai.

"Ah, itu. Ia kekasihku, cantik ya?" tunjuknya. Sulli mengikuti arah yang ditunjuk Kai. Gadis yang ditunjuk sedang tertawa. Manis sekali, manis. Sulli terdiam kaget, melihat Kai tersenyum ke arah gadis itu, dan gadis itupun membalas senyuman dari Kai.

Gadis itu berambut coklat tua, panjang dan agak ikal. Ia memiliki wajah idaman semua gadis—yang bahkan Sulli sendiri mengidamkannya dalam hati—good looking at all. Siapa sangka, heh, gadis itu adalah Jung Krystal?

.

.

Setelah acara jamuan makan itu benar-benar selesai, Kai harus sedikit berakting. Ia mengobrol dengan Krystal sejenak, sembari mencoba memunculkan sinar antusias di matanya. Ia juga berusaha mengabaikan tatapan Sulli yang sepertinya tidak suka, atau bagaimana. Saat berpisah dengan Krystal, ia terpaksa mengecup dahi Krystal demi jalannya siasat dari gadis itu.

"Aku pulang dulu, ya, manis?" katanya, seraya dikeraskan agar Sulli mendengar. Krystal mengangguk sambil tersenyum.

"Hati-hati di jalan." jawab Krystal, lalu Kai mengangguk. Lelaki itu segera berjalan keluar gedung dimana mobil sport Sehun yang sudah menunggu, karena sebelumnya Kai sudah menelepon Sehun agar menjemputnya.

Kai melihat dari luar jendela mobil, Sehun memakai kaos merah tanpa lengan yang menampakkan kulit putih pucatnya. Ketika Kai masuk, Sehun menyalakan mobil.

"Jadi… apa yang sudah kau rencanakan dengan gadis bernama Krystal itu, Jong?" tanya Sehun.

"Hmm, apa maksudmu?" tanya Kai perlahan. Sehun menggerakkan kopling dan mobilnya mulai meninggalkan halaman gedung itu.

"Seseorang yang detik sebelumnya tersenyum cerah lalu sesudahnya kembali terlihat lemah bukankah orang yang sedang memainkan kebohongan?" tanya Sehun balik. Ia dapat melihat Kai melepas jas hitamnya.

"Yah… kau benar. Sejak kapan kau jadi pintar begini?" tanya Kai. Sehun tertawa.

"Sejak aku lebih membuka mata tentang dunia luar—"

"—karena di sana ada Luhan?"

"Eung… diamlah. Jadi apa yang kalian rencanakan?"

Kai menghela nafas berat. "Dia memintaku berpura-pura menjadi kekasihnya. Karena Sulli adalah teman dekatnya, ia sedikit yakin Sulli tidak akan tega mengambilku darinya."

"Mmmm…" jawab Sehun, masih meletakkan fokus pada jalanan di depannya. "Kita mau kemana?"

"Aku ingin bertemu Kyungsoo." jawab Kai pelan.

"Aku akan meneleponnya kalau begitu. Mungkin ia bisa ikut kita jalan-jalan sebentar malam ini." kata Sehun, lalu menyalakan road sign ke kiri, untuk berhenti sebentar.

Kai mengangguk, sembari memijat dahinya yang terasa penat, ia melihat Sehun mengambil ponselnya. Kemudian, saat Sehun menelepon Kyungsoo, Kai melihat keluar seraya menghela nafas datar. Ia melihat majalah otomotif di atas dashboard dan membukanya, membacanya sekilas.

"Oke, dirumahnya ada ia dan Luhan. Orang tuanya sedang keluar kota. Kita ke sana?" tanya Sehun. Kai mengangguk pelan.

"Tentu…" ia menguap. "Kita ke sana."

.

.

Sehun memencet bel rumah keluarga Do. Sekali, tidak ada jawaban. Baru ketika ia memencetnya dua kali berturut-turut, suara lembut menyahuti.

"Yaaa~ Tunggu sebentar~!"

Ia yakin itu suara Luhan. Sehun tersenyum sendiri mendengarnya. Kemudian ia menoleh ke arah Kai. Bukan apa-apa, hanya jarang-jarang ia dapat melihat Kai memakai pakaian formal seperti ini. Lelaki itu terlihat tampan sekali, apalagi dengan mata yang terpejam lelah. Sehun yakin Kyungsoo akan merona melihatnya.

Pintu terbuka, memperlihatkan Luhan yang manis hanya dengan kaos putih dan celana selutut, dengan senyuman juga.

"Silahkan masuk, Sehun, Kai-ssi. Kyungsoo sedang membuat makanan untuk kita, jadi ia sekarang ada di dapur." kata Luhan lembut.

"Oh, tapi Kai baru saja dari jamuan makan." kata Sehun, reflek. Luhan membulatkan mulutnya—matanya ikut membulat lucu, imut sekali sampai-sampai Sehun ingin menculiknya.

"Benarkah?"

"Iya… Tapi di sana aku hanya makan sedikit. Tenang saja, aku masih bisa makan. Apalagi yang membuatnya Kyungsoo." sahut Kai, tersenyum. "Ah iya, panggil aku Kai saja."

"Oke. Masuklah dulu." kata Luhan, tangannya terbuka untuk mempersilahkan Sehun dan Kai masuk. Mereka berdua melepas sepatu dan menaruhnya di rak dengan rapi, lalu memasuki rumah Kyungsoo yang rapi.

"Bagaimana kau bisa di sini, Lu?" tanya Sehun. Luhan mengangkat bahu.

"Tadi saat aku sampai di rumah, ibuku sudah siap mengantarku ke rumah Kyungsoo yang sendirian malam ini untuk menemaninya." jawab Luhan.

"Apa memang selalu begitu? Kalian kan sudah besar, dan tentunya sudah bisa mengurus diri sendiri jika sendirian di rumah." sela Kai.

"Emm… Biasanya memang saling menemani, sih." jawab Luhan seraya menggaruk rambut belakangnya.

Kai terdiam, lalu menuruti nalurinya—langsung menuju bagian dapur, meninggalkan Sehun dan Luhan berdua di ruang tamu. Kai dapat menghirup aroma spaghetti yang sudah matang, dan juga kimchi. Ia melihat sosok mungil Kyungsoo yang membelakanginya, dalam balutan apron yang membuatnya tampak keibuan.

Astaga, betapa ia mencintai sosok ini.

"Kyungsoo…"

Sosok bermata bulat itu menoleh. Ia mendapati Kai dengan kemeja putih dan celana hitam dengan ikat pinggang hitam. Ditambah matanya yang sayu—terlihat lelah—demi Tuhan, Kai terlihat sangat, sangat tampan.

Tapi Kyungsoo tidak mengatakan apapun. Ia hanya diam, lalu mematikan kompor yang diatasnya ada panci mengepul, selanjutnya ia melepas apron dan menggantungnya. Kyungsoo mendekati Kai, meletakkan tangannya di sekeliling dasi hitam yang dipakai Kai, melepasnya dengan perlahan.

"Apa kau lelah?" tanyanya kemudian.

"Ya, aku merasa sangat lelah." jawab Kai, ia menghela nafas. Kyungsoo mengangkat bahu, lalu dengan mata bulatnya yang tampak bersinar lembut, ia berkata.

"Aku tahu ini bukan Kai yang biasanya. Tapi ketika kau merasa lelah seperti ini, kau bisa memelukku."

Serta-merta, Kai menggerakkan lengannya untuk memeluk Kyungsoo. Untuk mendapatkan kehangatan lebih dari sosok ini. Kai membenamkan wajahnya tepat di lekukan antara leher dan bahu Kyungsoo, mencoba menghirup aroma khas yang dimiliki sosok bermata bulat ini.

"Bagaimana? Apa kau merasa baikan?" tanya Kyungsoo setelah beberapa detik. Kai mengangguk setelah menjauhkan wajahnya dari lekukan yang menggoda itu.

"Lebih dari baikan," jawab Kai, tersenyum lembut. "Bagaimana kau bisa semanis ini, hm?" lanjutnya, seraya menggesekkan pucuk hidungnya dengan pucuk hidung Kyungsoo yang lucu. Lelaki manis itu tertawa dengan merdunya.

"Sekarang makan dulu, ne? Luhan-hyung dan Sehun sudah mengintip kita dari tadi." kata Kyungsoo. Luhan dan Sehun muncul dari balik tembok dengan cengiran tak berdosa. Kai mengangguk.

"Tentu, sayang." ujarnya, memberikan kecupan sekilas di kening Kyungsoo.

Selanjutnya, Luhan membantu Kyungsoo menyiapkan makanan. Spaghetti kimchi yang dibuat Kyungsoo dituangkan ke piring besar. Mereka makan bersama, dengan sesekali gurauan dan pujian atas lezatnya makanan yang dibuat Kyungsoo.

.

.

Beruntunglah Luhan menyimpan beberapa bajunya di rumah Kyungsoo, jadi Kai bisa meminjam salah satu bajunya yang terlihat longgar dan memakainya setelah ia mandi dengan air panas yang dibuat Kyungsoo.

Sehun sendiri sedang asyik bermanja-manja dengan Luhan di depan televisi yang menyiarkan acara variety. Kyungsoo menghela nafas, sesekali melihat pintu kamar mandi dimana Kai sedang membersihkan tubuhnya.

"Kalau kau mau, masuk saja, Kyung." goda Luhan yang menyadari sepupunya ini terus mencuri lirik.

"A—apa-apaan!" kata Kyungsoo keras. Wajahnya sedikit merona ketika kelakuannya tertangkap basah.

"Oh iya, kau kan belum pernah melihat Kai shirtless. Kapan-kapan kuajak kau dan Kai ke pantai, hahaha." kata Sehun, ikut-ikutan menggoda. Kyungsoo mendecih.

"Kau juga belum pernah melihat Luhan-hyung shirtless kan, Hun? Kukira kau akan mimisan melihatnya. Dadanya begitu putih mulus." balas Kyungsoo cuek. Sehun terdiam, melirik canggung ke arah Luhan yang menunduk malu. Pipinya merona lucu, menggemaskan sekali.

"Ah, Luhan! Kenapa kau lucu sekali!?" teriak Sehun sembari memeluk Luhan erat. Yang dipeluk hanya membulatkan matanya menyadari tubuh Sehun begitu hangat.

"Sudahlahhhhh! Jika kalian mau bermesraan, ke kamarku saja!" kata Kyungsoo. Sehun menyeringai.

"Jadi tidak apa jika kami baru keluar besok dan kamarmu sudah sangat berantakan?" tanyanya, terdengar sangat menyebalkan ditelinga Kyungsoo.

"Jaga omonganmu, Sehun. Kau masih sekolah menengah." bisik Luhan. Sehun merengut lucu seraya melepaskan Luhan dari pelukannya.

"Maaf, aku hanya bercanda." kata Sehun. Kyungsoo menjulurkan lidah melihatnya, disusul suara pintu terbuka. Kai keluar dengan kaos longgar milik Luhan dan celana selutut warna hitam yang juga dipinjamnya dari orang yang sama.

"Cukup kan?" tanya Luhan. Kai mengangguk.

"Terimakasih, hyung. Ini pas untukku." jawab Kai seraya mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk.

"Syukurlah. Berarti dugaanku benar, karena kaos itu terlalu besar untukku." kata Luhan sambil tersenyum senang. Saat itu pula, Kyungsoo sadar ia telah memerhatikan Kai dalam waktu lama. Ia mengalihkan pandangannya seraya mendengus—dan tiba-tiba matanya sudah bertemu dengan mata Sehun.

"Ehem, jadi…" Kyungsoo mengabaikan tatapan menyebalkan Sehun. "Kalian mau menginap di sini?"

"Tentu saja." jawab Kai dan Sehun, serempak. Kyungsoo membentuk mulutnya menjadi huruf 'o', sementara Luhan menahan tawa mendengar jawaban polos dari dua orang teman Kyungsoo itu.

"Apa kalian gila? Besok kan sekolah!"

"Apa kau lupa? Besok kan sekolah diliburkan karena ada seminar guru-guru." kata Sehun sambil menjilat bibir merah jambunya—Luhan menganggapnya seksi—dan Kyungsoo termangu dengan mulut membuka.

"Oh? Begitu?"

"Jadi, kami bisa menginap di sini, kan?" tanya Kai. Kyungsoo mengangguk, malu ketika Kai menatapnya dengan senyuman maklum.

"T-tentu." jawab Kyungsoo.

.

.

-TBC-

.

.

Author's babbling :

Alright, part 6 selesai.

Di sini saya nggak buat Krystal jahat lho ya. Jadi yang Krystal-biased nggak usah khawatir, saya juga suka Krystal soalnya, kkk.

Saya pengen tanya nih, enaknya siapa yang jadi pacar aslinya Krystal? Masa Amber? Kok saya agak gimana gitu ya •^• saya juga nggak begitu tau f(x) dan couple-nya sih -_-.

Ya sudahlah… *nyanyi.

Review, pretty please?:) Karena akhir-akhir ini saya melihat lebih banyak orang yang semangat kalo disuruh nge-bash daripada review, anda masuk bagian mana?:)