Disclaimer plot © kimsangraa
Cast : Kim Jongin, Do Kyungsoo, dll~
N.B : Kai is a property of Kyungsoo / Kai is Kyungsoo's, dan sebaliknya.
Oke, tanpa banyak omong, happy reading!
.
.
"Kai, kau tidak bisa lari dari kenyataan."
Kai melihat wajah seorang kakek-kakek yang terlihat serius. Kai menggeleng-geleng gelisah, kakinya berlari tapi langkahnya tidak kunjung sampai. Tiba-tiba bayangan Kyungsoo datang, ia meraung; suaranya menggema sampai di otak Kai.
"Kai… Jangan—hiks—tinggalkan aku… Kumohon…!"
Kai tidak bisa memilih akan kemana ketika dilihatnya dua lubang gua berada di depannya. Ia memilih lubang tanpa laba-laba di sisinya, ketika itu ia melihat ibunya dalam wujud sangat besar.
"Kim Jongin, turuti perintah Eomma atau Kyungsoo dalam bahaya!"
Kai terus berlari tanpa mendengarkan teriakan sang ibu. Langkahnya menjadi lebih pelan seiring dengan paru-parunya yang meminta oksigen lebih banyak. Wajahnya berpeluh tanda sangat lelah, tapi ada dinding mengejar di belakangnya. Ia melihat Sulli dengan topeng dan seringai.
"Hahaha, apa kau bisa lepas dariku, Kai…ssi?"
Ia ingin berteriak, namun suaranya tersendat-sendat. Yang ada malah air mata keluar dengan cepat dari kedua sudut onyx tajamnya. Tubuhnya terasa dingin saat ia keluar dari lubang itu, dihembus oleh angin yang bernyanyi kejam terhadapnya.
"Oppa… maafkan aku…"
Ia segera menoleh ke samping kanan dan terkejut melihat Krystal dalam balutan dress panjang warna putih, sedang diborgol ke sebuah tiang. Kai melihat bekas air mata di wajah lelah Krystal, serta darah-darah yang ada di sekitar gadis itu.
Kai berlari lagi merasakan angin mendorongnya. Ia terengah-engah dalam langkahnya menjauhi semua itu, tapi tiba-tiba ia melihat sosok Sehun yang tengah duduk di sebuah sofa panjang. Di sampingnya ada Luhan yang hanya ditutupi selimut, sedang memberikan kecupan-kecupan kecil di wajah lelaki berkulit putih itu.
"Kai, nikmati permainan kami! Hahaha!"
.
.
.
.
"JONGIN!"
Lelaki itu membuka matanya secara tergesa. Ia terengah-engah, peluh mengalir di pelipisnya yang berkeringat, sampai menetes melewati dagu dan jatuh ke bantal yang ada dibawahnya. Ia melihat Kyungsoo dengan tatapan khawatir sedang duduk di sampingnya.
"Kau… mimpi buruk?" tanya Kyungsoo cemas. Kai masih enggan berbicara—ia melihat Sehun dan Luhan yang ada di ruangan itu juga. Semuanya terlihat khawatir.
"Kau tadi terus menerus bergumam tidak jelas. Pasti mimpi buruk." kata Sehun pelan. Ia mendekati Kai yang masih terbaring. Luhan masih setia duduk di kursi yang ada di kamar tamu itu.
"Demam… Tiga puluh delapan koma tujuh derajat." ujar Kyungsoo, memerhatikan benda tipis panjang berisi air raksa itu. Kai tersadar Kyungsoo baru saja menarik lembut thermometer dari sela bibirnya.
"Astaga. Mau kubawa ke rumah sakit agar langsung mendapat infus?" tanya Sehun. Kai menggeleng perlahan, mencoba mendudukkan dirinya sendiri dengan susah payah karena kepalanya terasa bergoyang.
"Aku memang mimpi buruk." ia mulai menjelaskan dengan suara serak. "Semua orang mengecamku, kecuali Kyungsoo. Bahkan kau juga," ia menatap Sehun datar, lalu pandangannya mengarah ke Luhan.
"Aku…juga?" tanya lelaki berparas cantik itu. Kai menghela nafas, sembari menggeleng.
"Tidak. Tapi kau ada di sebelah Sehun saat itu. Kupikir kalian baru saja melakukan 'itu' karena tubuhmu hanya tertutup selimut dan kau sedang mengecupi wajah Sehun." jawab Kai, pelan. Ia melirik Luhan yang menunduk malu.
"Tidak usah kau ceritakan bagian itu kenapa?" sahut Sehun, tak dapat memungkiri wajahnya yang memerah padam sekarang. Kai tersenyum.
"Aku—euh…" lelaki berkulit kecoklatan itu memegang kepalanya yang terasa pusing. Kyungsoo segera menurunkan tubuh Kai dalam posisi tidur agar pusingnya tidak terlalu menekan.
"Aku akan membeli parasetamol dan antibiotik. Persediaan di rumah habis." kata Kyungsoo, seraya tangannya sibuk menyelimuti Kai yang meringis menahan sakit. Luhan segera mencegah.
"Jangan! Yang beli aku saja. Kurasa kau lebih baik menjaga Kai di sini. Ayo, Sehun, kau mau kan menemaniku?" tanya Luhan. Sehun mengangguk, tentu saja ia mau menemani Luhan.
"Jangan lama-lama." pesan Kyungsoo. Luhan dan Sehun mengangguk, lalu keduanya segera keluar kamar, meninggalkan Kyungsoo yang lalu menatap cemas pada Kai.
"…Kyungsoo…"
"Iya? Kau mau apa?" tanya Kyungsoo lembut. Ia sedikit mendekatkan dirinya pada tubuh Kai agar bisa mendengar lirihannya dengan lebih jelas.
"…peluk aku..."
Kyungsoo tercengang sejenak. Dalam faktanya, memeluk orang yang sedang kesakitan itu berakibat baik, hanya saja… kenapa walaupun dalam wujud seperti ini, permintaan Kai tetap terdengar… agak provokatif?
Kyungsoo menggeleng-gelengkan kepalanya, kembali lagi ke alam sadar ketika mendengar rintihan dari Kai. Tangannya mengambil handuk kecil untuk mengelap peluh Kai di sekitar pelipisnya.
Ya Tuhan, dalam keadaan sakit seperti ini saja ia masih terlihat tampan, batin Kyungsoo.
Setelah itu, ia menempatkan tangannya di antara lengan Kai, menyelipkannya ke belakang tubuh Kai yang basah. Itu bukan masalah. Ia menyandarkan dagunya di selangka milik Kai, secara langsung membuat hidungnya bersentuhan dengan bahu milik sang lelaki tampan.
Kyungsoo berusaha, agar ia tidak menumpukan berat badannya di tubuh Kai. Hal itu agak membuatnya bergetar, hanya saja tubuh Kai yang berangsur-angsur terasa tenang membuatnya sedikit lega. Ia hendak mendudukkan tubuhnya lagi, tapi ada lengan yang menahan punggungnya.
"Peluk aku lagi…" kata Kai parau. Kyungsoo terdiam sebentar, merasakan getaran suara Kai. Ia berbisik untuk menjawab perintah sepihak dari Kai.
"Tanganku bergetar, Kai, aku tidak kuat menahan tubuhku sendiri."
"Kenapa tidak bersandar padaku?"
"…tubuhku berat." jawab Kyungsoo berterus terang, setelah beberapa detik terdiam untuk mencari jawaban. Ia menggigit bibir bawahnya menahan rasa pegal di lengan atasnya karena terlalu lama menahan berat badan.
"Tidak apa-apa. Aku bisa menahanmu."
"T-tidak, aku—"
"Tolong, Kyungsoo. Sekali ini saja." bisik Kai. Kyungsoo dengan terpaksa menurutinya. Ia merendahkan tubuhnya, lalu ia perlahan menyandarkannya sehingga tubuh mereka berhimpitan. Aneh, Kai meminta tolong atas sesuatu yang akan memberatkannya.
"Bagaimana?" tanya Kyungsoo khawatir. Kai menggeleng perlahan, pipinya terkena surai halus milik Kyungsoo yang menyandarkan dagunya di selangka milik Kai lagi.
"Tidak berat. Apa kau habis minum susu? Kenapa tubuhmu baunya seperti susu?" tanya Kai, tetap membawa suaranya dalam bisikan. Kyungsoo menggeleng perlahan, pipinya sedikit memanas karena bahkan dalam keadaan sakit seperti ini Kai masih bisa menghirup aromanya.
"Aku tidak minum susu tadi. Mungkin… karena aku mandi dengan sabun beraroma susu…" jawabnya terdengar tidak yakin. Ia melirik ke atas, melihat mata Kai masih terpejam. Tangannya bergerak menggenggam tangan Kai yang terbuka. Tapi ia tak mendapat reaksi.
"Kai?"
Kyungsoo mendudukkan tubuhnya perlahan, memeriksa detak jantung sang lelaki tampan di lehernya. Pelan.
"Jongin… Kau bisa mendengarku?"
Tidak ada reaksi, tapi Kai masih bernafas. Kyungsoo menghela nafas, lelaki ini mungkin pingsan. Ia memutuskan menelepon Sehun, memintanya cepat pulang dan memintanya mengantarkan Kai ke rumah sakit.
.
.
"Apa kalian teman Jongin-ssi?"
Kyungsoo, Sehun, dan Luhan, mendongak bersamaan. Di depan mereka berdiri seorang dokter tinggi dengan rambut coklat kemerahan. Sehun berdiri. "Aku saudaranya."
Dokter itu mengangguk. "Mohon ikut saya."
Sehun mengangguk, meninggalkan Kyungsoo dan Luhan yang masih menikmati lemon tea kaleng yang mereka beli di mesin pendingin. Tidak sampai lima menit, Sehun mendapati dirinya duduk di depan dokter yang sedang melepas stethoscope-nya.
"Kau berakting baik dalam hal tidak-mengenal-seorang-Sehun, ya? Hoho." kata Sehun. Dokter muda itu, namanya Kris Wu, adalah teman akrab Kai dan Sehun dalam urusan keluarga. Ia menghela nafas menjawab perkataan Sehun.
"Apa yang terjadi, Sehun? Kai tidak biasanya seperti ini. Demam, tekanan darahnya rendah. Ia sedang banyak pikiran?" mulai Kris. Sehun mengangguk, lalu memajukan wajahnya.
"Ia dijodohkan." bisik Sehun. Kris mengernyit, seraya merapikan kertas-kertas—mungkin berisi daftar pasien baru—di atas mejanya.
"Dengan siapa?"
"Yah, kau tahu, cucu keluarga Choi." jawab Sehun, sambil mengangkat bahu. Kris menyandarkan dagunya di kepalan tangan.
"Kakek Choi yang ambisius itu? Kalau tidak salah, cucunya bernama Choi Sulli, kan? Hei, kau serius Kai dijodohkan dengannya?" tanya Kris. Sehun mengangguk-angguk, tanpa keraguan. Ia mengacak rambutnya sendiri.
"Iya. Kau tahu lelaki bermata bulat di sebelahku tadi?" tanya Sehun. Kris melirik ke langit-langit sejenak—mengingat, lalu mengangguk. "Ia kekasih Kai, namanya Kyungsoo."
"Benarkah? Manis sekali. Jadi, apa yang terjadi di rumah tadi?" tanya Kris.
"Ia mimpi buruk. Katanya semua orang mengecamnya, termasuk aku juga, tapi Kyungsoo tidak. Kyungsoo mengecek suhunya, tiga pulu delapan koma tujuh derajat. Aku tidak tahu kenapa, tapi saat aku dan Luhan-hyung membeli obat, ia meneleponku dan mengatakan Kai pingsan." jelas Sehun.
"Luhan?"
"Ah, itu lelaki di sebelah kananku tadi."
"Di sekeliling kalian banyak lelaki cantik, ya?" gurau Kris, sementara Sehun hanya tersenyum. "Baiklah, katakan pada Kyungsoo, kekasihnya tidak apa-apa, hanya lelah biasa. Kai sudah bisa pulang besok."
Sehun mengangguk. "Terimakasih, Dokter Tampan."
Kris tertawa. "Kau tahu apa kelebihanku, hahaha."
.
.
Sudah larut.
Sehun masih setia duduk bersilang kaki di atas sofa berwarna aprikot dalam kamar rawat inap Kai malam ini. Luhan duduk di sebelahnya, menyandarkan kepala pada bahu Sehun yang lebar, dalam keadaan setengah tidur. Kyungsoo masih duduk di sebelah tempat tidur Kai.
"Tidurlah,"
Celetukan Sehun terdengar letih. Kyungsoo merapatkan jaket yang dipinjamnya dari Luhan, lalu menggeleng-geleng. "Jika ada apa-apa bagaimana?"
"Tidak akan terjadi apa-apa, percayalah padaku. Kau tahu, suster akan mengeceknya tiap jam sekali." jawab Sehun, menepuk sofa di sebelahnya. "Kemarilah."
Kyungsoo terdiam, memperhatikan wajah Kai yang, walaupun sudah terlihat tenang dalam tidurnya, tetap saja membuatnya khawatir. Ia memberikan sebuah kecupan ringan di kening lelaki itu, lalu berjalan menuju sofa. Sehun memberinya bantal kecil, dan Kyungsoo menyamankan dirinya sendiri, lalu memejamkan mata.
"Kau tahu," bisik Sehun, ketika lelaki berkulit putih pucat itu melihat Kyungsoo sudah bernafas teratur, "Kai begitu beruntung mendapatkanmu, Kyungsoo. Terimakasih, kau mau menerimanya."
Kyungsoo mendengar bisikannya. Apapun yang terjadi, Sehun, aku akan tetap menerimanya, jawab Kyungsoo, dalam hatinya. Dan ia bersungguh-sungguh, karena ia pun merasa beruntung bisa memiliki seorang Jongin.
.
.
"Anak-anak, bangun…"
Luhan mengerang pelan ketika merasakan tepukan di bahunya. Ia melepaskan kepalanya dari bahu Sehun, lalu membuka matanya. Sedetik kemudian, ia menemukan tatapan Sehun dan Kyungsoo yang—kelihatannya—juga barusan bangun.
Ia menarik kemejanya ke bawah, dan menepuk-nepuknya. Setelah berusaha merapikan kemejanya yang terlihat kusut, ia melihat seorang wanita berdiri di sisi tempat tidur Kai. Wajahnya terasa sangat familiar.
"Ibunya Kai." bisik Sehun. Ah, benar juga jika wajahnya familiar. Ia ibunya—tunggu.
"Ibunya? Kau menelepon ibunya, Hun?" tanya Luhan pelan. Sehun menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu melihat ke tempat tidur Kai, dengan objek di atasnya sudah bangun.
"Jelas bukan aku yang menelepon. Kupikir mereka punya relasi di sini," jawab Sehun. Tatapannya bertemu dengan Kai yang tatapannya…
…bagai mayat hidup.
"Sekarang bagaimana? Aku tidak yakin jika mengenalkan Kyungsoo sebagai kekasihnya. Apalagi mengingat masalah perjodohan itu." kata Luhan.
"Kalau begitu, kita semua teman dari Kai. Begitu saja, kau tidak apa-apa kan Kyungsoo?" tanya Sehun sambil menatap Kyungsoo yang tampak linglung. Sedetik kemudian, lelaki itu mengangguk.
"Tidak apa-apa."
Sang wanita, setelah berkata beberapa hal pada anaknya, beralih menatap ketiga orang yang dari tadi masih duduk di sofa. Wanita itu tersenyum ragu sambil membetulkan letak tas tangannya yang tampak mahal.
"Sehun, dan…"
Sehun memperkenalkan dua yang lain, wajahnya terlihat lebih datar dari biasanya. "Ini Luhan, dan ini Kyungsoo."
"Salam kenal, Nyonya." ujar Luhan dan Kyungsoo bersamaan. Wanita itu, Nyonya Kim, masih menahan senyumnya.
"Terimakasih sudah menjaga Jongin. Ini… ada sedikit… em, uang untuk jajan." sahut Nyonya Kim, lalu merogoh tas tangan hitamnya. Sehun dengan segera menghentikan gerakan tangan wanita yang umurnya hampir setengah abad itu.
"Kami menjaga Jongin karena kami temannya, dan kami tidak menjaganya untuk dibayar." jawaban Sehun terdengar parau, tapi sekaligus tegas dalam saat yang bersamaan. Senyum sang wanita luntur, digantikan dengan ekspresi tidak jelas.
"Kalau begitu, terimakasih saja. Kalian bisa pulang sekarang. Jongin sudah ada yang mengurus setelah ini." kata Nyonya Kim. Ketiganya mengangguk kecil, dan merelakan senyuman tipis dalam wajah mereka.
"Baik, kami pulang dulu, Nyonya. Jika—"
"Kyungsoo."
Suara serak itu terdengar menyakitkan di tengah-tengah mereka. Kai, yang setengah tubuhnya bersandar di kepala tempat tidur, dengan mata terpejam, memanggil salah satu di antara mereka. Dengan langkah bergetar, Kyungsoo mendekati Kai.
"…iya?"
Sebuah senyuman letih, terpampang di wajah tampan sang pemilik suara. "Terimakasih. Aku mencintaimu." ucapan lirih itu hanya bisa terdengar mereka berdua. Setelah mengatakan itu, tangannya dengan segera menarik tubuh Kyungsoo lebih dekat agar bisa menempatkan bibirnya di pipi Kyungsoo yang menghangat.
Kyungsoo terperangah.
Ia tahu mimpi buruk sudah menyapa hidupnya, ketika dari sudut mata melihat Nyonya Kim termangu di depan Sehun, dan Luhan, yang terdiam tanpa bisa memberikan reaksi apapun.
.
.
"Bodoh, Jongin. Bodoh."
Kai sama sekali tidak menjawab. Jika memang ada orang yang bisa mendengar, nafasnya akan terasa lebih cepat dibandingkan sebelum ibunya melontarkan kata sindiran itu. Pejaman matanya mengerat, ia menurunkan tubuhnya hingga seluruhnya berada di atas tempat tidur.
"Jongin, tatap mata Eomma."
Sang lelaki tampan mengerang malas. "Eomma tidak dengar apa yang dikatakan suster tadi? Orang sakit harus banyak beristirahat."
"Eomma hanya memintamu membuka mata. Apa itu membuatmu lelah?"
"Secara pikiran… ya."
Ibunya menarik nafas dalam, lalu mengeluarkannya perlahan. Alih-alih rasa pening di kepalanya hilang, Nyonya Kim malah merasa makin berat. "Jongin, kau akan menikah dengan Sulli."
"Hm."
"Dan kenapa kau masih berhubungan dengan lelaki tadi? Kau seharusnya tahu kan itu akan membuatnya sakit hati?"
"Begitu?"
"Tentu saja. Kau mempertahankannya sama saja dengan kau membuatnya masuk dalam penderitaan."
"Oh."
"Jongin, apa kau mau Eomma ikut campur—"
"Menurut Eomma siapa yang menderita sebenarnya di sini?"
"…"
"Aku."
.
.
-TBC-
Author's babbling :
Aaa. How lucky are a-pink and girls day, mereka dibicarain exo ;_;
Ahem, oke saya bingung gimana ngakhiri ff ini. Sayang. sekali. memang. saya. tidak(re : belum). bisa. membuat. ff. dengan. rated. m. karena… belum siap mental(?). Pernah nyoba sih, cuma habis itu… ew, what is this? Aaaa I'm ashamed.
Lalu… oke, saya gk bisa hindarin kenyataan kalo saya sakit hati liat comeback f(x). Gk, saya gk benci kok, cuma –yeah, benar-benar– perlu waktu buat ngembaliin mood biar bisa ngelanjutin ff ini. Saya cuma bisa berharap Kyung gk sakit hati –well, soalnya KaiSoo is real, guys.
So, ok, terimakasih banyak untuk kalian semua, yang udah nunggu ff ini, yang udah review, yang udah baca, yang udah nge-fav atopun follow. Terimakasih banyak *bow*. (tenang, ff ini masih saya lanjutin kok'-')
