Disclaimer plot © kimsangraa
Cast : Kim Jongin, Do Kyungsoo, dll~
N.B : Kai is a property of Kyungsoo / Kai is Kyungsoo's, dan sebaliknya.
Oke, tanpa banyak omong, happy reading!
.
.
"Apa?" tanya Kyungsoo. Matanya yang bulat tampak seperti menyelidik pikiran Sehun. Peluh mulai mengalir di sisi wajah pucat Sehun.
"Apa? Aku tak bilang apa-apa," balasnya, kikuk. Kyungsoo menegakkan tubuhnya, kemudian menarik nafas sejenak. Matanya terpejam. Suhu dalam kamar Kyungsoo meningkat, membuat Luhan yang duduk di kursi putar milik Kyungsoo pun memutuskan menutup mulut.
"Kau tadi bilang sesuatu. Apa maksudmu dengan 'memang begitu'?" tanya Kyungsoo lagi. Suaranya terdengar makin keras dan jelas di telinga Sehun.
"K—kau tahu maksudku. Memang begitu, m—maksudku, memang jika ibunya Kai over-protective, ia akan menjodohkan Kai. Tapi—"
"Jangan bertele-tele, Sehun. Kau jelas menyembunyikan sesuatu." suara Kyungsoo terdengar dingin, seiring matanya yang menelisik mata sipit Sehun.
"Tidak... A—aku tidak menyembunyikan sesuatu," jawab Sehun, tapi ia melakukan usaha yang buruk. Matanya malah menari gelisah, menghindar dari tatapan Kyungsoo.
"Katakan padaku, Sehun!" bentak Kyungsoo. Sehun terdiam kaget di tempatnya. Selama ini belum pernah Kyungsoo membentaknya dengan nada marah seperti ini. Luhan terdiam, jelas tak bisa melakukan apapun untuk memperbaiki keadaan.
"Tidak ada apapun!" balas Sehun. Suaranya terdengar lebih lemah.
Sejurus kemudian, satu hal yang tak bisa dipikirkan Sehun dan Luhan sebelumnya terjadi. Tangan Kyungsoo bergerak dengan cepat menuju bagian leher Sehun dan menggenggam kerah kemeja lelaki berkulit putih pucat itu dengan pandangan marah.
"Jelaskan padaku apa yang terjadi!"
Sehun bernafas terengah. Ia tidak mengira sosok Kyungsoo yang cenderung mungil jika marah dapat seperti ini. Kasur Kyungsoo yang didudukinya tampak 'roboh'. Bukan—bukan roboh, tapi tubuh Sehun yang bahkan telah terangkat.
"Aku—hh—akan menjelaskannya—hhh—tolong le—lepaskan aku—"
Kyungsoo hampir membanting Sehun ke lantai, jika saja ia tidak ada hubungan yang dinamakan persahabatan dengan lelaki berkulit putih pucat itu. Kyungsoo mencoba menetralkan emosinya, nafas diaturnya seraya ia mendudukkan diri di kursi satunya. Luhan memundurkan kursi putarnya hampir ke pojok, takut.
"Aku… aku minta maaf." perkataan Sehun masih diselingi engahan.
"Untuk apa minta maaf?! Cukup jelaskan padaku apa yang terjadi, Oh Sehun!"
Sehun terdiam di antara suara detik jam dinding yang terus bergerak. Tadi Luhan bertanya, 'jika ibunya seprotektif itu pada Kai, bukankah pendampingnya akan diputuskan melalui perjodohan?' dan secara tidak sengaja Sehun berkata 'memang begitu'. Kesalahan besar.
Dan di sinilah ia, terjebak dalam kesulitan dan tak menemukan celah keluar kecuali membuka pintu yang ada. Ia memutuskan untuk jujur.
"Yang terjadi adalah seperti ini, Kyungsoo…"
Satu jam berikutnya diisi dengan cerita detail dari Sehun, mulai dari awal ia pura-pura tidak tahu Kai kenapa—yang membuat Kyungsoo makin jengkel—sampai rencana lelaki berkulit kecoklatan itu dengan Krystal.
Kyungsoo memutuskan menelepon Krystal, untuk memintanya bercerita lebih jelas lagi. Ia dapat mendengar suara parau Krystal yang meminta maaf dengan sangat. Tapi Kyungsoo sudah terlanjut diam. Kecewa kenapa mereka menutupi ini semua darinya.
Kecewa.
Mereka terdiam sampai hujan akhirnya turun. Deras, dingin, dan langitnya suram. Persis seperti suasana dalam hati Kyungsoo sekarang.
.
.
Hari ini adalah dua hari sejak Kyungsoo tidak keluar dari rumah, dan mengurung diri di kamar. Sekolah bahkan tidak didatanginya, tapi ia selalu punya alasan untuk absen. Ibu Kyungsoo bahkan bertanya pada Luhan apa yang terjadi, tapi Luhan—yang setiap berkunjung selalu tidak diijinkan oleh Kyungsoo masuk kamarnya—tentu saja tidak tahu. Setiap ia berpapasan dengan Kyungsoo, Luhan hanya dapat menemukan mata sembabnya.
Ia menghentikan Kyungsoo sebentar ketika lelaki itu berjalan menuju kamar mandi.
"Kyung, kau tahu aku tidak memihak siapapun di sini. Jadi, kalau mau, kau bisa bercerita padaku. Oke?" tawar Luhan, senyum di wajahnya tulus melebihi apapun.
Kyungsoo tersenyum miring. "Ya, datanglah ke kamarku setelah tidur siang nanti."
Luhan menarik nafas lega. "Ya, aku berjanji."
Maka ia benar-benar menepati janjinya. Pada siang hari—tidak begitu siang sebenarnya, itu sudah pukul empat sore, jadi suasananya tidak begitu panas. Dan waktu yang dipilih Kyungsoo lumayan bagus. Setelah tidur siang.
Luhan mengetuk pintu kamar Kyungsoo.
"Masuklah, hyung," sebuah suara menyahut dari dalam. Luhan membuka pintunya perlahan. Matanya berkeliling, kamar Kyungsoo tampak seperti biasa. Hanya lantainya sedikit lebih berantakan karena kertas-kertas sketsa bercampur dengan partitur asal-asalan tergerai begitu saja.
"Halo, Kyungie," sapa Luhan seraya menyeret kursi putar milik Kyungsoo. Sekelebat ingatan tentang Kyungsoo yang membentak Sehun menyelip di pikirannya. Ia menghela nafas sejenak.
Si empunya masih setia meniduri kasur, enggan beranjak atau bahkan untuk duduk saja. Kyungsoo menjawab lamat-lamat sapaan Luhan, seraya mengutak-atik ponselnya. "Hmmm."
"Jadi," Luhan mengangkat alis, menunggu Kyungsoo membalas. Lima detik kemudian dipenuhi keheningan. Luhan berkata lagi, dengan suara lebih keras, "Jadi?"
"Aku akan melepaskan Kai kalau memang tidak ada jalan lain."
Luhan terdiam. Begitu saja? Sepengecut itu? Tidak ada keputusan lainkah yang Kyungsoo ambil?
"Hei, kau sudah memikirkannya? Ini akan susah untuk Kai, kau tidak melihat bagaimana menderitanya ia selama ini?" tanya Luhan. Kyungsoo menatapnya dengan mata seperti biasa, hanya saja Luhan lebih menemukan kilat sedih di sana.
"Apa lagi yang harus kuketahui?"
"Apa lagi?" intonasi Luhan meninggi. Kyungsoo memundurkan tubuhnya, sepertinya sedikit terkejut dengan reaksi Luhan. "Ia sangat mencintaimu, Kyung!"
Alis Kyungsoo terangkat sedikit. Ia melepaskan ponsel yang menyala di tangannya, menaruhnya di atas nakas. Rautnya kembali kelam. "Kau tahu, ia tak pernah memintaku menjadi kekasihnya. Status kami apa? Hanya saling suka kan? Perasaan seperti itu lemah."
Luhan mengernyit. Jadi, Kai tidak pernah me'nembak'nya, begitu? Sehun juga belum. Tapi Luhan tahu, Sehun akan menjaganya. Sehun akan melindunginya. Jadi Luhan rela. Masalahnya, apa Kai melakukan hal yang sama pada Kyungsoo?
Ah, Luhan mulai berpikir, Kai diam. Mungkin seperti itu caranya melindungi Kyungsoo.
"Perasaan itu memang bisa dibilang lemah. Tapi… kau juga sekaligus merasa itu kuat sekali kan?" ujar Luhan pelan. Kyungsoo menatapnya. Luhan tahu dibalik mata yang mengurai lelah itu, Kyungsoo menyimpan harapan.
"Mungkin." hanya itu jawaban Kyungsoo. Luhan menghela nafas.
"Ia melindungimu, Kyung. Kau merasa, kan? Ia diam karena ia ingin melindungimu. Kalau ia memunculkanmu di awal, mungkin ia juga sudah diusir dari keluarga Kim. Jika begitu, pandangan orang kepadamu akan menjadi jelek," jelas Luhan.
Kyungsoo mulai membelakangi Luhan. Mungkin ia ingin menangis lagi, batin Luhan. Tapi kemudian Luhan berdiri, lalu beranjak mendekati kasur Kyungsoo. Ia mengelus surai halus milik adiknya itu sembari tersenyum.
"Tapi kau tahu, Kyung. Kami semua ada di pihakmu."
Dan setelah itu tangis Kyungsoo pecah.
.
.
Ia merasa tidak minat untuk masuk sekolah hari ini. Padahal kawanan burung gereja di langit sudah bersiul-siul, berusaha membangunkan para anak manusia yang masih menggelung nyaman di kasurnya masing-masing. Kyungsoo menggeleng-geleng; secara tak langsung menolak panggilan burung gereja itu.
"Kyungsoo sayang, apa kau mau masuk sekolah?"
Itu suara ibunya. Jika boleh jujur, Kyungsoo sangat tidak berniat untuk masuk sekolah. Memikirkan sekolah saja sudah membuatnya lelah dan mengerang, apalagi menjalankan rutinitas seperti biasa dengan banyak tugas dan pekerjaan rumah. Kyungsoo membenarkan perkataan Luhan, kadang-kadang yang membuatmu lelah itu perasaanmu.
"Ya… Eomma bisa mengantarku?" balas Kyungsoo. Suaranya serak, tenggorokannya terasa berdahak.
"Hari ini Eomma naik mobil. Jadi kau tahu, sayang, Eomma bisa mengantarmu. Nah, sekarang ayo siap-siap." kata ibunya sambil melongokkan kepala dari pintu kamar Kyungsoo yang sedikit terbuka. Sang anak berdiri, lalu menjauhi tempat tidurnya untuk mengambil handuk dan akhirnya masuk kamar mandi.
Kyungsoo siap dengan seragam dan wajah sembabnya. Ranselnya hanya berisi beberapa buku tulis dan bolpoin, lalu ia menuju dapur untuk mengambil dua potong sandwich yang sudah disiapkan ibunya.
"Kyungsoo, jika batuk ini sudah Eomma siapkan obatnya. Setelah makan diminum," kata ibunya. Kyungsoo mengangguk perlahan, lalu mengambil botol sirup obat itu untuk diletakkan di dekatnya.
"Ya, Eomma," jawab Kyungsoo. Ibunya menatap Kyungsoo dengan pandangan heran.
"Hanya perasaan Eomma atau kau memang habis menangis?" tanya ibunya. Kyungsoo mendongak, lalu menatap ibunya yang terbalut apron dengan pakaian kerja di dalamnya.
"Tidak… Aku hanya lelah saja. Tugas akhir-akhir ini banyak sekali," jawab Kyungsoo. Suaranya terdengar ragu, membuat sang ibu menatap anak semata wayangnya dengan pandangan lebih menyelidik. Kyungsoo menghela nafas. "Oke, tapi aku memang tadi malam menangis."
Sang ibu mengangguk-angguk puas. Sambil melepas apron dan menggantungnya, ia bertanya pada Kyungsoo. "Ini termasuk karena seorang anak bernama Kai itu?"
Kyungsoo terdiam. Luhan sialan, kutuknya langsung dalam hati.
"Tidak apa-apa, Kyungsoo. Eomma memang diberitahu Luhan jika kau punya sedikit masalah dengan Kai, tapi tidak apa-apa. Eomma tidak marah padamu," kata ibunya sambil ikut menyantap roti isi itu.
"Ya… ada sedikit masalah, tapi Eomma tidak perlu khawatir. Aku rasa… Aku rasa aku bisa menyelesaikannya sendiri," jawab Kyungsoo.
"Memang harusnya begitu. Seusiamu harusnya sudah bisa memanajemen perasaan sendiri. Kau pasti tahu dimana kau harus mengalah dalam situasi, atau malah egois, begitu. Ya, kan?"
Kyungsoo mengangguk perlahan. Kali ini ia harus mengalah.
.
.
"Kyungsoo~!"
Baekhyun menghambur ke pelukannya. Bahkan Chanyeol juga menepuk-nepuk bahunya, dengan tentunya senyum lebar terplester di wajahnya.
"Kau kemana saja? Banyak yang menanyakan tentangmu, ternyata. Bahkan Junmyeon-sunbae juga. Kau beruntung sekali, ia kan galak," jelas Baekhyun, senyumnya tampak seperti aegyo. Kyungsoo menggeleng.
"Kau hanya belum mengenalnya, Baek. Sebenarnya ia orang yang baik," ujar Kyungsoo. Baekhyun mengerucutkan bibirnya lucu.
"Ya… Tapi sikap umumnya membuat adik kelas berpikir ia itu galak," sanggah Baekhyun.
Kyungsoo mendengarkan tanpa minat. "Terserah." katanya, lalu berjalan ke bangkunya dan duduk, lalu membenamkan kepala di antara lengannya. Kursi di sebelahnya masih kosong, yang berarti Kai belum datang.
"Selamat pa—Kyungsoo! Hei, kau akhirnya masuk!"
Tanpa mendongak pun Kyungsoo tahu suara childish itu milik Sehun. Tapi bagaimanapun juga, Kyungsoo akhirnya menempatkan dagu di lengannya jadi ia bisa melihat Sehun yang hampir melompat ke arahnya diikuti Chanyeol dan Baekhyun di belakangnya.
"Bagaimana kabarmu? Wajahmu terlihat lelah," kata Sehun. Kyungsoo berpikir mungkin Sehun sudah lupa kejadian yang lalu.
"Tidak begitu baik."
"Kau harusnya bilang pada kami. Kami bisa membuatmu merasa baik," kata Sehun. Kyungsoo menghela nafas.
"Umurku belum cukup untuk pergi ke bar," katanya dengan nada setengah menyindir.
"Hei, siapa bilang kita ke bar? Karaoke! Tapi tanpa alkohol. Kita bisa memesan jus saja untuk minumnya. Jadi apa kau mau?" tawar Chanyeol. Kyungsoo memejamkan mata, ia memutuskan mengikuti ide mereka.
"Baiklah… Sabtu sore."
"Oke~!" Sehun menepuk bahunya agak keras, membuat Kyungsoo sedikit meringis. "Aku akan menjemputmu." kata Sehun. Kyungsoo mengangguk mengiyakan, lalu menguap, lalu ia membenamkan kepalanya ke lengan lagi.
Ada perasaan aneh yang menyelimutinya seiring ia memejamkan mata. Perasaan itu membuat sesak hatinya—ia merindukan Kai.
.
.
Kaki Kyungsoo menapak pada tangga yang akan mengantarkannya pada atap sekolah siang itu. Setiap langkahnya terasa berat karena lelah memang, tapi Kyungsoo tidak peduli. Ia tidak tahu kenapa, ia hanya ingin menuju ke atap. Mungkin menikmati semilir angin yang disertai sengatan matahari yang panas.
Kyungsoo membuka pintunya, walaupun di sana sudah ada tanda bahwa siswa dilarang masuk ke atap. Ia memijakkan kaki di lantai atap sekolah yang berupa paving, lalu berjalan menuju sisi dimana ia bisa melihat seluruh bangunan di daerah sekolahnya. Tapi belum sampai di sana, ia melihat sosok lelaki sedang berdiri sendirian, dengan lengan yang menyandar di pagar atap.
Kyungsoo mengernyit heran. Rambut hitam lelaki itu tampak berkilau terkena paparan sinar matahari.
Punggungnya membelakangi Kyungsoo yang terdiam. Dari tempat Kyungsoo berdiri, ia dapat melihat mata kanan lelaki itu tampak menerawang memandang kejauhan. Sesaat, Kyungsoo merasa familiar sekali.
Hei, bukankah ini Junmyeon?
"Junmyeon-hyung?" tanyanya ragu.
Lelaki itu menoleh ke belakang—poni hitamnya berdesir sesaat lalu ia memunculkan senyum malaikat.
"Kyungsoo? Akhirnya kau masuk juga," jawab lelaki itu, tampak tetap tenang. Kyungsoo ikut tersenyum mendengar suaranya yang familiar. Mereka berdiri bersebelahan, lalu Junmyeon menepuk bahu lelaki yang lebih muda. "Kenapa kemarin?"
"Mmm…" Kyungsoo tidak menjawab, tapi senyum Junmyeon tetap bertahan dan itu cukup membuat Kyungsoo merasa lega karena begitu tenangnya wajah Junmyeon ketika tersenyum.
"Sakit?" tanya Junmyeon lagi.
"Ya… Bisa dibilang begitu," jawab Kyungsoo seraya mengangguk perlahan. Sudut matanya mencuri lirikan ke arah Junmyeon yang lagi-lagi menatap kejauhan, hobi yang Kyungsoo tahu sejak dulu, pertama kali mereka bertemu di atap.
"Kau yakin tidak akan cerita? Aku ini pendengar yang baik, lho." goda Junmyeon. Kyungsoo menghela nafas sambil tersenyum, tumben sekali sunbae-nya ini memuji diri sendiri.
"Yah, aku punya alasan. Lagipula apa Hyung punya hak untuk mengetahuinya?"
Tapi Junmyeon hanya tertawa. "Kau jelas-jelas sedang sakit karena bicara seperti ini. Santai saja, Kyungsoo. Aku memang tidak punya hak tapi jika kau mau, aku jadi memiliki hak penuh untuk mendengarnya. Kai tidak masuk?"
Kyungsoo mengangguk perlahan, karena memang hari ini Kai tidak datang ke sekolah, dan Kyungsoo sama sekali tidak tahu ia kemana, jadi ia menjawab jujur saja.
Kyungsoo menghela nafas, lalu mendengar bel berbunyi tanda masuk kelas. Ia menguap, sama sekali mengacuhkan suara mirip peluit panjang itu. "Hyung tidak masuk kelas?"
"Masuk? Oh, iya, sudah bel. Hmmm… Aku berpikir akan membolos dua jam setelah ini." ujar Junmyeon. Kyungsoo membelalakkan mata bulatnya.
"Membolos? Dengan masih mempunyai embel-embel sebagai ketua osis?"
Junmyeon tertawa lagi. Kyungsoo baru menyadari seniornya ini bisa dibilang memiliki eye-smile walaupun tak begitu kentara. Tawanya pun terdengar merdu di telinga Kyungsoo.
"Memang kenapa? Ketua osis tidak boleh membolos?" Junmyeon malah balik bertanya. Kyungsoo terdiam sejenak, membiarkan bibirnya saling terpisah karena heran dengan sikap Junmyeon yang bisa dibilang 'seenaknya'.
"Bukan begitu… Itu berarti kan kau memberi contoh yang tidak baik bagi adik kelas, Hyung," jawab Kyungsoo.
"Mereka kan tidak tahu aku begini," Junmyeon mengerling. Mulut Kyungsoo makin terbuka lebar.
"Hyung… Kau yakin? Kau… Hei, kau berubah," celetuk Kyungsoo. Junmyeon mengangkat bahu.
"Yah, mungkin. Aku hanya mencari waktu untuk bersantai sejenak sebelum ujian akhir," kata Junmyeon. "Jadi apa kau mau keluar mencari es krim?"
Kyungsoo tersenyum. Mungkin ini bisa membuatnya lupa masalah sejenak, lagipula ia ditemani seorang Junmyeon yang bisa membuatnya nyaman.
"Boleh,"
.
.
-TBC-
Author's babbling :
Halooo halooo akhirnya setelah hiatus lama, update lagi sama part baru walaupun pendek gini (maafin saya). Oke jadi di sini si kyung udah tau ya kalo kai dijodohin. And… Hoh-hah, karena saya udah kelas 3 dan entahlah, kehidupan rasanya makin melelahkan dengan banyaknya ulangan dan peer dan tugas, saya cuma bisa buka laptop dengan santai di hari sabtu.
Semangatin saya boleh dong, ya? TT TT
Udahlah itu aja. Review lagi, ya? Masih mau nggak? Hiks u.u
