Disclaimer plot © kimsangraa
Cast : Kim Jongin, Do Kyungsoo, dll~
N.B : Kai is a property of Kyungsoo!
Oke, tanpa banyak omong, happy reading!
.
.
Junmyeon tidak bermaksud apa-apa padanya. Junmyeon hanya menghiburnya agar ia tak teringat terus pada Kai. Junmyeon bilang sendiri, ia kasihan pada Kyungsoo yang kelihatan tidak punya semangat untuk hidup. Junmyeon bilang sendiri, bawah mata Kyungsoo terlihat hitam dan hazelnya terlihat sembab. Kyungsoo mengerti, ia mengangguk dan berjanji tidak akan kelihatan menyedihkan lagi.
.
.
"Kai sudah keluar dari rumah sakit," kata Sehun pada Sabtu sore ketika mereka akan pergi ke tempat karaoke. Kyungsoo menatapnya, lalu mengalihkan pandangan ke langit yang berwarna reddish purple karena matahari hampir terbenam seutuhnya.
"Ia ingin bertemu denganku?" tanya Kyungsoo. Sehun memanaskan mobilnya sebelum mengangguk perlahan.
"He-em. Katanya, ia sudah berbicara dengan Sulli. Untunglah gadis itu tidak keras kepala lagi. Entahlah, mungkin ia sudah menemukan lelaki baru yang lebih-lebih dari Kai," kata Sehun, yang—entahlah—membuat Kyungsoo tersenyum sesaat mendengarnya.
"Ibunya bagaimana?" tanya Kyungsoo sambil memperhatikan bagaimana Sehun memutar mobilnya di depan rumah Kyungsoo lalu mulai menjalankannya dengan kecepatan stabil.
"Sepertinya beliau juga sudah mulai melunak. Ini mungkin juga karena Sulli sendiri yang membicarakannya bersama beliau. Yang penting, sekarang Kai bisa sedikit bebas," jelas Sehun. Mendengar kata itu, Kyungsoo menghela nafas lega. Sambil menghempaskan tubuhnya di sandaran mobil, ia menatap Sehun.
"Sehuna, gomapta,"
"Hoh? Kenapa berterimakasih padaku?" Sehun balas melirik Kyungsoo yang wajahnya beribu-ribu kali terlihat lebih rileks. Lelaki dengan mata doe itu tersenyum.
"Karena informasi itu kudapat darimu. Rasanya menyenangkan saja mendengarnya. Yah, yang pasti aku sangat berterimakasih." ujar Kyungsoo. Sehun menggaruk tengkuknya ragu, lalu menampilkan senyum miringnya—mungkin tidak tahu harus bilang apa. Kyungsoo paham, Sehun bukanlah orang yang sering menerima ucapan terimakasih, jadi lelaki itu pasti merasa canggung.
"Sudahlah, lupakan saja. Aku malah merasa tidak enak," balasnya pelan. Kyungsoo tergelak, lalu dengan tiba-tiba memeluk Sehun sekilas dan memberikan padanya sebuah kecupan ringan di pipi, yang tentu saja membuat si empunya terkejut.
Tidak—bukan begitu maksudnya—Sehun hanya milik Luhan tentu saja. Kyungsoo hanya merasa terlalu lega dan senang sampai-sampai rasanya ia sanggup mengangkat semua orang di dunia. Mencium pipi Sehun berefek baik, rasa leganya sedikit tersalurkan dan Kyungsoo merasa nyaman.
"Itu hanya untuk ucapan terimakasihku yang kupikir tidak cukup. Sungguh, Sehun. Jangan salah paham atau kubunuh kau," ujarnya sambil mengepalkan tangan dan berpura-pura hendak meninju Sehun.
Namun, Sehun hanya tertawa. Ia mengangguk-angguk dan membalasnya dengan ringan. "Oke, oke. Aku pikir itu juga karena kau tidak sabar bertemu dengan Kai, ya, kan?"
Kyungsoo menjitak kepala belakang Sehun ketika mendengar itu—dan ia tak pernah merasa sebahagia ini menjadi seorang dirinya.
.
.
Rumah Kai tidak berubah, tentu saja. Kyungsoo memandang atapnya yang dihiasi beberapa merpati dan balkonnya yang ditempati tiga sangkar berisi burung kenari kuning yang sedang bersiul-siul merdu. Sementara Sehun sedang mengabarkan pada sang pemilik rumah jika mereka sudah di depan gerbang.
"Hei, aku sudah di luar," ujar Sehun. Sekilas ia menekan tombol loudspeaker.
"Ya, ya, tunggu sebentar," suara singkat yang tertangkap di pendengaran Kyungsoo membuat ia merasa jantungnya melompat. Ia berusaha untuk menetralkan jantungnya yang berdetak di atas kata normal, tapi usahanya sedikit-banyak gagal. Walaupun sudah menghela nafas berkali-kali pun ia tetap merasa seperti baru melakukan lari jarak jauh.
"Kuharap nanti suasananya tidak canggung," kata Sehun. Kyungsoo mengangguk dan jika Sehun tahu, ia mati-matian mengharapkan hal yang sama.
"Semoga iya," ia menjawab lirih hampir seperti bisikan. Ketika lembayung di langit teratas sudah hampir pudar, Kyungsoo mendengar suara gerbang dibuka; ia menahan nafas. Kai. Dan ia tersenyum pada Kyungsoo.
"Halo,"
Ia memegang sisi kepala Kyungsoo dan sedikit menariknya, untuk meletakkan sebuah kecupan di kening Kyungsoo. Untuk sejenak, lelaki dengan mata bulat itu terpejam erat, menikmati feromon yang menguar dari tubuh maskulin milik Kai. Lelaki itu masih beraroma green-tea, aroma yang pertama kali Kyungsoo hirup ketika ia berada di belakang Kai yang memainkan piano waktu itu.
"Miss you so much, dear,"
Kata-katanya gentle sekali, Kyungsoo pikir. Ia jadi merasa seperti gadis cilik yang baru mengerti soal perasaan memabukkan ini. Tapi ia menjawabnya dengan halus. "Miss you too,"
Mereka terdiam sejenak, saling berpandangan sebelum Sehun menyahut dengan deheman khasnya, membuat Kai dan Kyungsoo melempar senyum geli sekaligus sedikit merasa bersalah. Kyungsoo tetap berada di tempatnya—sebelah Sehun—ketika Kai masuk mobil dan duduk di bangku belakang. Kyungsoo pikir ini lebih baik daripada harus merelakan jantungnya kelelahan karena terlalu banyak berdebar.
"Luhan-hyung mana? Chanyeol, Baekhyun?" tanya Kai.
"Ia langsung ke tempat karaoke setelah dari rumah bibinya. Katanya rumah bibinya dekat dengan tempat yang kita datangi untuk karaoke. Lalu couple satu itu berangkat berdua." jawab Sehun. Lalu dilihatnya dari spion dalam, Kai mengangguk-angguk tanda paham, lalu ia meluruskan atensinya pada jalanan yang lengang.
Suasana hening setelah itu, membuat Kai mengeluarkan PSP dan bermain dengan benda itu. Ia tidak menyadari jika Kyungsoo memperhatikannya dari spion luar yang masih memantulkan bayangan Kai.
Batin Kyungsoo menggumam, aku kenapa?
Karena dari tadi pandangannya tak bisa lepas dari fisik Kai yang begitu tampan. Sebenarnya, ia hanya mengenakan kemeja biru tua dengan garis-garis hitam yang tidak teratur, lalu ia memakai jeans dengan warna kehitaman, lalu topi hitam yang diputar sehingga tepinya berada di belakang, tapi masih memperlihatkan poninya yang—
Oh, rambutnya lebih kecoklatan sekarang—Kyungsoo tersenyum menyadarinya. Lelaki itu berpakaian sederhana tapi karismanya luar biasa. Entah untuk keberapa kalinya, Kyungsoo membatin lagi sambil tersenyum, Kai tampan.
.
.
"Itu—lagu yang barusan—"
Sehun menunjuk layar touch-screen yang berada di depan Kyungsoo, sementara lelaki bermata bulat itu sedang memilih lagu. Kyungsoo mengangkat alis dan ia menggeser layarnya kebawah. "Yang ini? Don't Go?"
"Yap yap yap yaaaap! Ini lagu yang akan kita nyanyikan bersama!" jawab Sehun semangat, menunjuk semuanya secara bergantian. Kyungsoo mengernyit heran, tapi tetap memilih lagu itu dan mengambil mic yang lalu ia bagikan pada semua yang ada di ruangan itu.
"Okeeeeee!" ujar Baekhyun, yang lebih tepat disebut teriakan. Ia menggandeng tangan Chanyeol lalu mengayun-ayunkannya dengan brutal. Kyungsoo kembali duduk dan ia disambut lengan Kai yang siap memeluknya. Sementara, Luhan dan Sehun membuat keributan dengan tepuk tangan.
"Kyungsoo! Kau yang pertama!" teriak Luhan.
Suara Kyungsoo yang lembut mengawali dengan keras. "Jogeuman nalgaetjit neol hyanghan ikkeullim naege ttaraora sonjitan geot gataseo~"
Lalu setelah itu Chanyeol yang bernyanyi sambil dijahili Baekhyun—lelaki dengan ujung mata turun itu meniup-niup leher Chanyeol agar kekasihnya itu kegelian. Tapi tetap saja, suara berat tapi merdu milik Chanyeol menghiasi ruang karaoke mereka. "Aejeolhan nunbitgwa mueonui iyagi gaseume hoeoriga morachideon geunal bam~"
Lalu setelah itu Kai mengangkat tangannya tanda ia ingin menyanyikan bagian selanjutnya. "Omyohan geudaeui moseube neogseul noko hanappunin yeonghoneul ppaetgigo~"
Dan ia menunjuk Sehun yang sudah siap dengan mic-nya—bergaya layaknya ia artis dunia. "Geudaeui momjise wanjeonhi chwihaeseo sum swineun geotjocha ijeobeorin nainde~"
Setelah itu Baekhyun melompat-lompat mengitari meja yang diatasnya sudah tersedia berbagai makanan. "Walcheucheoreom sappunhi anja nuneul ttel su eobseo siseoni jayeonseure georeummada neol ttaragajanha~"
Kyungsoo tersenyum menatap Baekhyun yang bergaya berlebihan. Lalu ia merasakan nafas Kai di telinganya—membuatnya merinding—lalu ia mendengar bisikan Kai yang lembut. "Ayo, kita bernyanyi sama-sama. Jangan ditahan, dilepaskan saja untuk malam ini."
Kyungsoo mengangguk, lalu ia tersenyum dan memberi kecupan pada pipi Kai. Lalu ia melihat semuanya sudah siap dengan mic namun Kyungsoo hanya tertawa. Lalu pada refrain, suaranya terdengar sangat keras karena ia terlalu semangat—mengalahkan suara Luhan yang mendapat giliran menyanyi pada part ini.
"Nal annaehaejwo~"
Mereka larut dalam kesenangan.
.
.
Mereka terjebak dalam satu posisi awkward, persis saat pertama kali mereka bertemu. Auranya terkesan enggan. Yang gadis masih menatap ponselnya, acuh tak acuh pada sang lelaki yang duduk di seberangnya, kelihatan bimbang hendak meminum latte-nya atau menunggu si gadis memulai pembicaraan.
Beberapa menit kemudian, si gadis meletakkan ponselnya di atas meja kafe, lalu sedikit menyesap milkshake stroberinya. Ia terdiam, dan si lelaki hanya memperhatikannya. Mungkin gadis itu bingung apa yang akan dikatakannya pertama kali pada sang lelaki bermata bulat.
"Ehm,"
Kyungsoo pikir, itu sebuah tanda agar dirinya menaruh atensi penuh atas apa yang hendak gadis berambut panjang ikal itu katakan. Maka ia menegakkan tubuhnya dan menyandarkan punggung kecilnya di kursi.
"Aku akan pindah ke Brazil. Mempelajari ornithologist di sana, aku tertarik dengan itu sejak lama."
Ilmu yang mempelajari tentang burung, batin Kyungsoo. Kyungsoo belum mengerti sebenarnya apa maksud Sulli mengatakannya. Ia hanya diam sambil terus menunggu Sulli yang sama sekali kelihatan enggan mempertemukan pandangannya dengan mata bulat Kyungsoo.
"Kau—" Sulli menahan nafas, sebelum mengeluarkannya dengan keras bahkan sampai Kyungsoo bisa mendengarnya. "—kau tahu, kau bisa mengambil Kai-oppa. Karena aku sudah tak akan ada di sini dalam waktu yang lama."
Kyungsoo bersumpah dapat mendengar sirat keengganan yang terdapat di sela ucapan Sulli. Gadis itu menetapkan pandangannya pada dasar gelas berisi es dengan cairan soft pink miliknya. Seperti tadi, tampak enggan menatap Kyungsoo.
"Itu… saja?" tanya Kyungsoo, terdengar ragu. Tapi Sulli hanya mengangkat bahunya, kembali bersikap acuh tak acuh.
"Yaaah, hanya itu. Tidak penting, 'kan?"
"Itu… Itu berita yang bisa dibilang penting. Jadi kenapa kau tidak memutuskan untuk bersikap egois dan membawa Kai ke Brazil?" tanya Kyungsoo, sedikit menyindir tapi juga bersikap polos. Sulli meliriknya sekilas dan Kyungsoo tahu gadis itu tengah memainkan jarinya sendiri di bawah meja.
"Aku tidak bisa selamanya egois. Awalnya aku sudah bilang sekilas rencanaku pada Kim-ahjumma, tapi tampaknya beliau tidak rela Kai-oppa meninggalkan Korea secepat ini. Kau tahu, ekspresinya sangat obvious." jelas Sulli. Ia sedikit mengerucutkan bibirnya.
"Kau sudah mencari lelaki lain?" tanya Kyungsoo. Sulli menyesap milkshake-nya lagi lalu mengibaskan tangan.
"Itu perkara gampang. Diluar sana banyak, dan aku bisa mendapatkan siapa yang kumau."
Kyungsoo menghela nafas. Gadis muda jaman sekarang…, batinnya menggeleng heran tapi maklum—ia melupakan umurnya yang hanya satu tahun di atas Sulli. Untuk sekilas, ia menatap gadis itu. Perawakannya masih sangat kekanakan, tapi pikirannya sungguh sulit ditebak. Kyungsoo menghabiskan latte-nya dan menatap Sulli.
"Jadi kau benar melepaskan Kai?" ujarnya perlahan. Sulli sempat terdiam, ini sedikit banyak melesakkan enggan dalam hatinya.
"Ya. Aku akan melepasnya. Maaf, Kyungsoo-ssi, perbuatanku banyak yang tidak menyenangkan akhir-akhir ini. Kau bisa mengambilnya kembali. Di awal 'kan ia sudah jadi milikmu." kata Sulli. "Aku juga akan bicara pada Kim-ahjumma soal kau dan Kai-oppa."
Kyungsoo tersenyum tipis melihat Sulli mengatakannya sambil sedikit menunduk. Ia menatap gadis itu dan berujar. "Tidak terlalu susah kan untuk berbuat kebaikan?"
Sulli tersenyum dalam tundukannya. Ini kali pertama Kyungsoo melihatnya setulus ini dan ia menganggap Sulli akan menjadi gadis yang manis sekali jika selalu berbuat baik.
"Ada banyak rasa malu, tapi… well, kau benar. Tidak susah juga."
.
.
Kyungsoo tengah terdiam di ruang tengah, memandang televisi yang menampilkan acara variety show biasa tapi pikirannya melayang. Ia ingin bertemu Kai lagi—apa itu perasaan yang salah? Kyungsoo juga berpikir apa ibu Kai mengizinkannya membangun hubungan dengan Kai, atau malah ibunya berencana menjodohkan Kai dengan gadis selain Sulli.
Ia bertanya-tanya dalam hati ketika didengarnya bel rumah berbunyi dua kali.
Kyungsoo terhenyak dan menunggu sang ibu membukakan pintu. Sejenak kemudian Kyungsoo ingat jika ibunya sedang pergi keluar kota, jadi ia berdiri dan mematikan televisi. Langkah membawanya ke ruang tamu untuk membukakan pintu. Tangannya menggapai handel dan membukanya dengan perlahan.
"Ya?"
Ia melongokkan kepalanya. Mata bulatnya memandang satu orang yang bertamu ke rumahnya. Kyungsoo diam sebentar, rasanya orang ini familiar. Sedetik kemudian degup jantungnya menambah spontan. Ini Kai!
"Kyungsoo-ya, annyong!"
"Kai?"
Lengan kuat Kai merengkuh tubuh mungilnya dalam sejenak dan Kyungsoo dapat merasakan pucuk hidung lelaki berkulit kecoklatan itu menyentuh lehernya yang meremang. Ia mengelus punggung Kai dan ia menghirup aroma green tea lagi.
"Sendirian?"
"Yap."
Kyungsoo tersenyum. Ekspresi lelah seperti habis menangis itu tak terpampang lagi di wajah Kai yang kelihatan cerah. Ia mempersilahkan Kai masuk dan memberitahunya jika di rumah tidak ada orang sama sekali—hanya dirinya, dan ia juga memberitahu Kai kalau ia baru menonton televisi.
"Kau menonton Pororo?" tanya Kai, senyumnya kelihatan meledek. Kyungsoo menoleh hanya untuk menemukan layar sudah terisi dengan gambar penguin dan dinosaurus hijau yang lucu. Kyungsoo menggeleng dengan wajah malu.
"Tadi acaranya masih variety show, aku bersumpah."
"Kalaupun kau memang menonton Pororo juga tidak apa-apa,"
Kyungsoo mengabaikannya dan ia berjalan menuju dapur untuk membuat dua lemon squash untuknya dan untuk Kai. Lima menit kemudian, ia sudah duduk di depan televisi bersama Kai, menikmati kue bolu rasa keju yang dibuat Kyungsoo sendiri tadi malam.
"Kyungsoo," celetuk Kai. Kyungsoo yang sedang mengunyah bolu menoleh untuk menaruh atensi pada Kai.
"Hm?"
Lelaki dengan rambut kecoklatan itu menghela nafas lalu tersenyum. "Kau tahu, Eomma mengizinkanku berhubungan denganmu."
"Kebetulan sekali tadi aku beru berpikir tentang—mwo? Mworago?"
Kai tertawa. Kyungsoo yang sedang bingung dengan mulut membuka dan mata membelalak adalah hal yang lucu baginya. "Kubilang, Eomma mengizinkanku berhubungan denganmu."
Ini mimpi, Kyungsoo hampir tidak percaya. Kebaikan datang padanya secara beruntun dan ini membuat nafasnya seringan angin.
"Benarkah?" tanya Kyungsoo, keraguan sedikit menyelip dalam hatinya walaupun suara Kai terdengar yakin ketika mengatakannya.
"Tentu."
"Astaga, terimakasih, Kai!"
Ia melompat ke arah Kai untuk memberinya pelukan erat dan kecupan terimakasih. Dilingkarkan dua lengannya di leher Kai, lalu bibirnya menyentuh bibir Kai, dan dirasanya tangan Kai menekan tengkuknya untuk memperdalam kegiatan mereka. Kyungsoo sampai harus mendorong bahu Kai agar ia dapat terlepas.
Nafasnya memburu, tapi ia tetap tersenyum.
"Terimakasih, Jongin-a. Gomapta." lirihnya dan ia memberi kecupan ringan di pipi Kai. Matanya bertemu dengan mata Kai yang menyiratkan kekanakan, lalu mereka berdua tersenyum dan mengaitkan bibir satu sama lain lagi.
.
.
Hari ini mendung.
Awan menghias langit dengan kelabunya yang terkesan berat, ingin menumpahkan air yang dikandungnya ke bumi. Lelaki berkulit putih pucat itu mendesis merasakan angin menembus pori-porinya, dan ia menggenggam tangan lelaki di sebelahnya dengan erat.
"Luhan-hyung, kau kedinginan?" tanyanya, ragu. Tapi lelaki berparas manis yang mengikuti langkah Sehun di sebelahnya itu menggeleng sambil tersenyum manis.
"Ada Sehun, 'kan?" suaranya melirih untuk menjawab pertanyaan Sehun. Sementara lelaki yang dimaksud hanya menyengir tertahan—merasa malu. Hanya Luhan yang bisa membuatnya seperti ini, selain cinta pertamanya saat berumur delapan tahun itu.
Ini sudah kesekian kalinya mereka kencan, tapi Sehun sama sekali belum mengutarakan perasaannya. Padahal seluruh manusia yang melihat pasti berpikiran hal yang sama; mereka berdua adalah sepasang kekasih. Luhan juga tidak ada masalah dengan ini—ia menunggu dengan sabar.
Ia menunggu dengan sabar tapi tak ada penyesalan, karena sikap manis Sehun selalu bisa membuatnya bersemu merah. Misalnya, sekarang, tanpa Luhan sadari, tangannya sudah ada di dalam saku mantel milik Sehun, dalam posisi dalam genggaman jemari Sehun.
"Luhan-hyung, kita ke kafe di sana, mau?" tanya Sehun. Ia menunjuk sebuah kafe yang tampak glamour di seberang jalan. Luhan terdiam ragu, hendak berpikir dulu, namun jemari Sehun yang menggenggam tangannya erat mengganggu konsentrasi.
"Itu… tampak mahal." lirihnya.
"Tak apa, Hyung. Aku yang bayar. Kau mau, 'kan?" tanya Sehun, kedengarannya memaksa agar mereka segera masuk ruangan hangat dan tak terkena angin dingin terus menerus. Luhan sedikit geli mendengar perkataan Sehun. Tentu saja lelaki itu yang membayar, jika Luhan hendak membayar saja selalu tidak boleh.
"Well, aku tak ada masalah dengan kafe manapun, sih." jawab Luhan.
Dan mereka berakhir dengan duduk saling berhadapan di ujung kafe. Tempat yang agak bahaya bagi Luhan, karena suasana di ujung sini remang dan Sehun kelihatan seksi di tempat yang kurang pencahayaan. Bahaya karena Sehun kelihatan seksi baginya.
Bahaya karena mata tajam Sehun yang bening memantulkan cahaya oranye dan tampak sayu—bahaya! Luhan menjerit dalam hati tapi nyatanya ia hanya diam menunggu pesanan mereka berdua. Tapi ada untungnya juga, semu merah di pipi Luhan tak begitu kelihatan karena ia duduk membelakangi lampu.
Oh, ya. Ada satu hal yang hendak ditanyakannya pada bocah tampan ini.
"Hun, aku mendengar rumor jika kau memasang gantungan Hello Kitty di tasmu. Benarkah itu?" tanya Luhan setelah pesanannya datang. Ia bukan bermaksud cemburu, ia hanya benar-benar heran atas bagaimana kebenarannya.
Sehun menunduk malu, bahkan ia belum sempat menyesap coklat panas mengepul yang dihiasi whipped cream-nya. "I—iya. Aku memang memasangnya di tasku."
Luhan tak dapat menyembunyikan tawa merdunya. Ia menepuk-nepuk pipi agar tawanya berhenti. Apa yang tidak lucu dari lelaki sekolah menengah yang memasang gantungan Hello Kitty di tasnya?
"Apa Hello Kitty itu penting?" tanya Luhan. Sehun mengangguk kuat-kuat.
"Sebenarnya aku sudah lupa. Yang kuingat hanya ketika aku diajak berlibur ke China waktu kecil, lalu aku lepas dari orang tuaku di tempat wisata dan aku menangis. Ada anak lebih besar dariku yang mendatangiku dan memberiku gantungan itu. Aku langsung berhenti menangis. Ia membawaku ke bagian informasi dan di sana aku bertemu orang tuaku kembali. Aku… aku jatuh cinta padanya padahal aku baru berumur delapan tahun."
Kalau mendengar cerita ini, bolehlah Luhan jujur sedikit jika ia merasa agak iri dan cemburu.
Tapi rasanya cerita ini familiar.
Familiar sekali.
Luhan tersenyum. Ini mungkin hanya perasaannya saja, tapi kenapa kepalanya terasa sedikit tertekan dengan hasrat menyeritakan pengalamannya?
Ia menyesap mocca-nya dan berdeham, sebelum mengatakan apa yang ia ingin katakan.
"Aku juga pernah menolong seorang anak kecil manis di tempat wisata. Ia menangis karena lepas dari orang tuanya. Ia juga berumur delapan tahun saat itu. Dan aku memberinya gantungan Hello Kitty—"
Luhan membeku. Matanya membelalak, persis seperti mata Sehun yang juga membelalak.
Hei, jangan katakan—
Nafasnya agak tidak beraturan, karena otaknya sedang merangkai mozaik satu kenangan. Anak manis itu… Tidak, anak itu tampan… Tidak juga, manis sekaligus tampan… Ia memberinya gantungan Hello Kitty berwarna biru…
"Apa Hello Kitty-mu berwarna biru?" Luhan bertanya dengan takut-takut, tapi sekaligus berharap. Yang dilihatnya adalah Sehun mengangguk dengan perlahan tapi pasti—wajahnya masih termangu karena kaget.
"Jadi itu… Luhan-hyung?"
"Itu kau?"
Mereka tersenyum tidak percaya. Keheningan masih menyelimuti selama dua menit setelahnya dan Luhan menyibaknya dengan suara tawa.
"Aku tidak percaya tapi—wow, itu benar-benar kau, 'kan?"
"Iya, saat itu Hyung memakai kaos lengan panjang dengan gambar robot? Celana jeans biru? Lalu aku memakai kaos hitam dan celana selutut," jawab Sehun.
Luhan masih tertawa. Itu benar-benar Sehun dan dirinya!
Mereka tidak menyadari benang merah mengikat kelingking mereka, sudah menyatukan mereka dari dulu. Sehun menggenggam tangan Luhan dengan malu-malu, pipinya bersemu tapi itu tak menghilangkan kesan seksi dari wajahnya—menurut Luhan.
"Nan neol joahaeyo."
Mungkin Luhan perlu membersihkan telinganya dulu karena didengarnya Sehun mengucapkan jika ia suka pada Luhan. Apalagi suara yang terdengar di telinganya adalah suara lembut, dan berat, dihiasi serak yang seksi.
"Nan neol joahaeyo."
Luhan jadi sempat berkilas balik ketika Kyungsoo menanyakan padanya bagaimana jika Sehun me'nembak'nya dan Luhan menjawab mungkin ia akan mati.
"Nan neol joahaeyo, Luhan."
Ketika Luhan menyadari ini bukanlah suatu candaan atau salah satu imajinasi gilanya. Ketika Luhan menatap orbs Sehun yang—untuk kesekian kalinya kata ini muncul—seksi. Ketika orbs itu balik memandangnya dengan pandangan seolah tak ada hari esok.
Luhan bisa gila. Ia harus menjawab pernyataan itu atau Sehun akan mengatakan tiga kata ajaib itu terus menerus dengan pandangan dan suara yang sama. Luhan menunduk, menatap jemarinya yang tertaut dengan milik Sehun dan ia melirih dengan suara yang tetap bisa didengar Sehun.
"N—na ddo joahae…"
Sehun tersenyum, sebuah kecupan kecil ia hadiahkan pada kening dan kedua pipi Luhan yang tampak memanas. Dari sekarang ia tahu, cinta pertamanya sudah berada di rengkuhannya setiap saat.
.
.
TBC
Author's babbling :
Minta maaf, ini telat banget. Tiga bulan lebih ya kayaknya 'O' maaf maaf maaf! /nangisdipojokanbarengsehun/
Ini tinggal satu chapter lagi, moga-moga begitu. selanjutnya saya mungkin nggak nulis chapter lagi sampai segala try out dan UN selesai. stories paling diisi one-shot doang. dan saya mempertimbangkan pindah ke wp, walopun saya tau soal review dan publish tu mudah di ffn. tapi saya masih 'mempertimbangkan' doang.
Review ya, please… I'm begging for your review…
(moga-moga rencana saya untuk mengetikkan semua yang telah review, fav, dan follow di chapter akhir bakal terlaksana)
