Kim Jongin menatap langit-langit kamarnya.

"Luhan…" gumamnya. Ia bisa membayangkan dengan jelas wajah gadis cantik itu.

"Luhan. Suaramu indah sekali." Kim Jongin tersenyum. Senyuman yang sangat jarang ia tunjukan pada orang lain.

0-0-0-0

Your Smile

A Kaisoo Fanfiction.

I don't own anything but the storyline.

Don't like don't read. As simple as that.

0-0-0-0

FLASHBACK.

Hari sudah semakin sore. Jongin malas pulang ke rumah. Dan ia sedang tak ingin ke mana-mana. Jadi dia memutuskan untuk pergi ke UKS. Hanya tidur-tiduran, tanpa melakukan apa-apa.

Ia senang berada di UKS. Letak ruang UKS berada tepat di sebelah ruang seni musik. Biasanya, ruang musik ini dipakai untuk ekskul paduan suara.

Jongin menyukai musik. Meskipun ia tidak bisa bernyanyi, mendengarkannya saja sudah cukup untuk membuat hatinya senang. Lagipula, bakat dan hobinya adalah menari. Tentu saja, menari membutuhkan musik. Musik membuat tarian memiliki nyawa.

Tapi sayang, hari ini adalah hari Kamis. Ekskul paduan suara hanya diadakan pada hari Rabu dan Jumat.

Ruangan UKS menjadi sangat sepi.

Jongin mulai memakai kedua earphone nya dan berniat menyalakan iPodnya untuk menyetel lagu dari alat itu.

Tapi tiba-tiba terdengar dentingan piano, dan suara seorang gadis dari ruang musik.

"You're in my arms, and all the world is calm. The music playing on for only two…"

Jongin langsung bangkit dari posisi tidurnya. Ini mungkin adalah suara terindah yang pernah ia dengar seumur hidupnya.

"So close together and when I'm with you. So close, to feeling alive…"

Jongin bertanya-tanya, siapa gadis yang bernyanyi itu. Suaranya lembut dan dalam. Seolah-olah ia bernyanyi dari lubuk hatinya.

Jongin segera ke luar dari ruang UKS. Ia membawa tubuhnya menuju ruang musik. Ingin sekali ia melihat gadis yang memiliki suara indah itu. Sayangnya, ruang musik tidak memiliki jendela. Hanya ada ventilasi. Dan pintunya tertutup rapat.

Pada akhirnya, Jongin terdiam di depan pintu ruang musik. Mendengarkan suara yang indah itu.

"All that I wanted… To hold you, so close…"

Ya Tuhan, indah sekali suaranya.

"So close, to reaching that famous happy end. Almost believing this was not pretend. And now you're beside me, and look how far we've come…"

Jongin menutup kedua matanya. Menghayati dan menikmati nyanyian gadis itu.

"So far… we are so close.."

So Close. Ini adalah lagu kesukaan Jongin sepanjang waktu. Mengapa orang ini bisa menyanyikan lagu So Close dengan sangat baik? Terlebih lagi, ia adalah seorang perempuan. Lagu ini termasuk lagu yang agak sulit untuk dinyanyikan perempuan. Dan gadis itu, berhasil menyanyikan lagu ini dengan sangat indah.

Jongin terus menutup kedua matanya hingga lagu berakhir.

"So close… So close… and still… so far…"

Ketika dentingan piano berakhir, Jongin tersadar kembali pada realita. Ia mempunyai firasat jika gadis itu akan keluar dari ruang musik. Ia segera masuk ke dalam ruang UKS dan mengintip ke luar.

Seorang gadis dengan rambut coklat panjang yang indah, menginjakkan kakinya ke luar dari ruang musik, dan menutup pintunya. Gadis itu lalu berjalan ke arah pintu gerbang sekolah. Sepertinya ia akan pulang.

"Gadis itu, Luhan." bisik Jongin pada dirinya sendiri.

Setelah gadis itu melewati ruang UKS, Jongin langsung ke luar dan mengikutinya dari belakang. Entah kenapa, karena nyanyian tadi, hati Jongin tersentuh. Dan ia ingin, orang yang memiliki suara indah itu, menjadi miliknya.

Bayangkan betapa kesalnya Jongin ketika melihat Luhan menghampiri seorang lelaki di gerbang. Apalagi lelaki itu langsung merangkul Luhan.

"Oh Sehun." Gumam Jongin.

Ia harus menjadikan Luhan miliknya. Itu berarti, ia harus menyingkirkan Oh Sehun.

Ia tahu siapa orang yang paling tepat, dan dapat membantunya.

0-0-0-0

Kyungsoo sedang bersiap-siap ke sekolah. Ia sedang menyisir rambut panjangnya yang berwarna hitam pekat.

"Kyungsoo!" Ibunya memanggil Kyungsoo dari lantai bawah.

"Ya, ada apa Eomma?" jawab Kyungsoo.

"Cepat turun! Kau harus sarapan!" Ibunya berteriak lagi.

"Eomma tahu kan, aku tidak suka sarapan." Kata Kyungsoo. Tapi ia segera turun ke lantai bawah sambil membawa tasnya.

"Kau ini, kebiasaan tidak sarapan. Sarapan itu penting Kyungsoo." Ibunya menatap anak gadisnya khawatir.

"Tapi setiap aku sarapan, perutku selalu sakit Eomma. Lebih baik aku tidak sarapan kan, daripada aku terlambat sekolah karena harus ke toilet dulu." Kyungsoo menjelaskan alasannya pada ibunya.

"Baiklah, tapi kau janji harus makan di sekolah ya, Kyungie." Kata ibunya.

"Tentu saja Eomma. Eomma tenang saja, meskipun badanku kecil tapi aku kuat kok!"

Ibunya terkekeh, "Ya sudah, sana berangkat. Appa sudah berangkat dari tadi. Nanti kau bisa telat jika tidak berangkat sekarang."

"Baiklah Eomma. Hati-hati di rumah. Aku berangkat!"

0-0-0-0

Kyungsoo tiba di sekolah tepat 10 menit sebelum bel masuk.

"Kyungsoo!" Baekhyun menghampiri Kyungsoo yang baru sampai di kelas.

Kyungsoo, Baekhyun, dan Sehun memang sekelas sejak kelas 1 SMA. Sekarang mereka kelas 2 SMA, dan sekelas lagi. Entah apa yang membuat mereka sekelas terus. Mungkin karena pada satu angkatan hanya ada empat kelas, jadi kesempatan mereka sekelas lagi sangat besar.

"Hai Baek. Ke mana kau kemarin?" Tanya Kyungsoo.

"Harusnya aku yang bertanya begitu, Kyung. Kau kemarin tidak ada dimana pun. Aku mencari-carimu tapi tidak ketemu." Keluh Baekhyun.

"Aku kemarin langsung pulang karena ingin menjenguk Sehun. Tadinya aku mau mengajakmu, tapi sepertinya kau sibuk menyalin catatan sejarah milik Jung Daehyun."

Jung Daehyun adalah salah satu anak pintar di kelas mereka. Tidak hanya pintar, anak itu juga pandai bergaul dan jago olahraga. Dan catatannya selalu lengkap. Jadi, jangan heran kalau anak-anak kelasnya suka melengkapi catatan mereka dengan melihat catatan milik Daehyun.

"Oh iya Kyungsoo, ngomong-ngomong tentang Daehyun… Aku kemarin diantar pulang olehnya." Baekhyun bercerita.

"Apa?! Lalu bagaimana dengan Kris Oppa?" Kyungsoo kaget mendengar cerita Baekhyun.

"Kris Oppa? Memangnya ada apa dengannya?" Baekhyun bertanya dengan polosnya.

Hmm, sepertinya Baekhyun masih belum sadar dengan perasaannya sendiri.

"Tidak, lupakan saja. Lalu bagaimana? Kau mengobrol apa saja dengan Daehyun?"

"Banyak hal yang aku bicarakan dengannya Kyung. Ia sangat asyik dijadikan teman ngobrol. Belum lagi suaranya ternyata sangat bagus Kyung! Aku mengajaknya masuk ekskul paduan suara, kebetulan kan ekskul kita sedang kekurangan anggota laki-laki." Ya, Baekhyun dan Kyungsoo memang anggota ekskul paduan suara. Hobi mereka memang sama, yaitu bernyanyi.

"Lalu, apakah ia mau?" Kyungsoo senang mengetahui ada lelaki yang mau masuk ekskul paduan suara. Ekskul paduan suara memang kekurangan anggota laki-laki. Hanya ada delapan orang anggota laki-laki, sementara anggota perempuannya ada dua puluh lima.

"Ya! Daehyun bilang ia akan datang ke ruang musik pada saat pulang sekolah nanti Kyung." Baekhyun senang ia dapat menambahkan anggota baru pada ekskulnya.

"Baguslah kalau begitu."

Tetapi, entah mengapa Kyungsoo merasa, ada alasan lain mengapa Daehyun ikut ekskul paduan suara. Entahlah, sepertinya Daehyun tertarik pada Baekhyun. Kalau tidak, untuk apa ia mengantar Baekhyun pulang ke rumah?

"Baek, kau tertarik dengan Daehyun?" Tanya Kyungsoo penasaran.

"Tidak juga. Aku tidak tertarik kok padanya. Memangnya kenapa Kyung? Kau menyukainya? Tenang saja, aku tidak tertarik kok padanya." Bekhyun sepertinya salah paham dengan maksud pertanyaan Kyungsoo.

"Bukan! Bukan itu. Aku tak tertarik padanya. Aku hanya memastikan dugaanku saja, Baek."

0-0-0-0

Pada saat makan siang, Kyungsoo makan sendiri di kantin. Sehun masih sakit, dan Baekhyun sedang mengerjakan PR matematikanya di kelas.

Tiba-tiba ada seseorang duduk di depannya.

Ya ampun.

Jantung Kyungsoo langsung berdebar lebih cepat dari biasanya. Lihatlah seragamnya yang berantakan. Rambut hitamnya yang tidak tertata rapi, dan dasinya yang melonggar dari lehernya.

Kyungsoo mengerjapkan matanya. Benarkah Kim Jongin sedang duduk di depannya?

Biasanya, anak itu duduk di kantin bersama temannya,Yixing. Entah ke mana Yixing pergi, hingga membuat Jongin duduk di depan Kyungsoo sekarang. Banyak orang yang merasa heran mengapa Jongin bersahabat dengan Yixing. Padahal, Yixing berada satu tingkat di atas mereka. Yixing berada di angkatan yang sama dengan Kris. Belum lagi, sifat mereka yang bertolak belakang.

Yixing adalah anak yang rajin dan sopan. Sementara Jongin, pemalas dan tukang membangkang.

Yixing selalu berpakaian rapi, seragamnya selalu terlihat bersih. Debu pun enggan menempel di sana. Sementara Jongin… entahlah. Susah mendeskripsikannya.

Intinya, Yixing dan Jongin sangat bertolak belakang. Tidak ada kesamaan sama sekali di antara mereka.

Tetapi, sebenarnya ada. Mungkin hanya Kyungsoo yang tahu.

Kyungsoo menatap Jongin yang duduk di depannya. Ia hanya menatap sekilas tanpa berkata apa-apa. Lalu melanjutkan memakan makanannya. Ia mencoba untuk bersikap senatural mungkin. Untuk menutupi debar jantungnya yang semakin cepat dan tak beraturan.

"Ke mana Sehun? Akhir-akhir ini aku tidak melihatnya." Tanya Jongin.

"Sehun sedang sakit." Jawab Kyungsoo.

"Baguslah. Sakit saja terus. Agar aku dapat mendekati Luhan dengan mudah." Kata Jongin sambil mulai memakan sandwich di tangannya.

"Tolong jaga ucapanmu Kim Jongin." Kyungsoo memberanikan diri untuk menatap Jongin lagi.

Jongin mengabaikan ucapan Kyungsoo.

Kyungsoo mendecih kesal. Enak saja mendoakan Sehun sakit.

"Ah itu Luhan, tolong ajak Luhan agar duduk di sini. Kau mengenalnya kan?" Jongin melihat Luhan yang baru selesai membeli makanan. Kebetulan Luhan sedang sendirian.

"Tidak… Aku tidak begitu mengenalnya." Kyungsoo mengelak. Ia takut. ia takut jika ia mengajak Luhan untuk duduk bersama mereka, ia akan menyaksikan Jongin yang sedang merayu Luhan atau semacamnya. Hatinya tidak akan pernah siap.

"Jangan bohong! Aku tahu kau cukup dekat dengannya. Kalian satu ekskul. Aku tahu itu Kyungsoo. Jangan bodohi aku."

"Mengapa bukan kau saja yang menyuruhnya duduk di sini? Kau pasti sudah mendekatinya kan?" Tanya Kyungsoo.

"Karena aku ingin kau yang menyuruhnya untuk duduk di sini Kyungsoo." Jongin menjawab dengan tegas.

"Tidak ma-"

"Jangan melawan ucapanku Kyungsoo!" Jongin memotong ucapan Kyungsoo.

Raut muka Jongin yang dingin dan tegas serta tatapannya yang tajam membuat Kyungsoo menunduk takut.

"Baiklah…" Kyungsoo akhirnya menyerah.

"Cepat panggilkan. Lihat Luhan, kasihan kakinya pegal kalau berdiri terlalu lama. Ia tidak akan dapat tempat duduk." Kyungsoo merasa hatinya nyilu ketika ia mendengar ucapan Jongin.

Tidak apa-apa Kyungsoo. kau sudah sering bukan melihat Jongin berganti-ganti pacar? Kyungsoo menyemangati dirinya sendiri.

"Luhan!" Kyungsoo melambai-lambaikan tangannya dan pura-pura tersenyum pada Luhan.

"Hai Kyungsoo!" Luhan menghampiri Kyungsoo dan melihat Jongin yang duduk juga di sana, "Hai juga Jongin! Emm, boleh kan aku duduk di sini? Sepertinya semua mejanya sudah penuh." Kata Luhan.

"Tentu saja boleh Luhan, sini duduk di sebelahku." Jongin menggeser kursi di sebelahnya agar Luhan bisa duduk di situ.

"Terima kasih Jongin, Kyungsoo." Luhan pun duduk di sebelah Jongin.

"Sama-sama, Luhan." Jongin tersenyum tulus ke pada Luhan.

Senyuman itu… Kenapa ia hanya memberikannya pada Luhan? Kenapa tidak padaku? Kyungsoo melihat pemandangan di depannya dengan hati yang sedih.

"Luhan, bagaimana jika hari ini aku mengantarmu pulang lagi?" Tanya Jongin.

Lagi? Berarti, sebelumnya Jongin sudah pernah mengantarkan Luhan pulang? Pikir Kyungsoo.

"Ah, tidak perlu repot-repot Jongin. Aku tidak akan langsung pulang hari ini, ada ekskul." Jawab Luhan dengan senyumnya yang cantik.

"Kalau begitu, aku akan menunggumu sampai ekskulmu usai." Jongin menoleh dan menatap Luhan.

"Tidak usah Jongin. Supirku akan menjemputku hari ini." Tolak Luhan dengan halus.

"Aa, baiklah."

Kyungsoo meletakan alat makannya di meja. Akhirnya makanannya habis juga. Ia benar-benar ingin segera pergi dari situ.

"Permisi, aku sudah selesai makan. Aku ke kelas duluan ya Luhan." Kyungsoo pamit sambil buru-buru berlari keluar dari kantin. Ia sudah muak menyaksikan Jongin yang begitu lembut pada Luhan.

Luhan menatap kepergian Kyungsoo dengan heran, "mengapa ia tidak berpamitan padamu juga Jongin? Bukankah kau duluan yang duduk bersamanya di sini?"

0-0-0-0

"Kyungsoo!" Kris memanggil Kyungsoo dari ujung koridor.

"Oppa!" Kyungsoo tersenyum senang melihat sahabatnya.

"Kyung, kau harus tahu! Aku baru dibelikan mobil oleh ayahku! Mulai sekarang, aku bisa mengantarmu pulang sekolah. Berhubung rumah kita hanya beda satu blok." Kris tersenyum senang.

"Serius? Wah selamat Oppa!" Kyungsoo menepuk-nepuk pundak sahabatnya senang, "tunggu sebentar, memangnya kau bisa menyetir mobil?" Tanya Kyungsoo dengan tatapan mengejek.

"Hei! Tentu saja aku bisa! Apa sih yang tidak bisa aku lakukan?" Kris terkekeh, "Kyung, bagaimana kalau hari ini kita menjenguk Sehun? Sepertinya sakitnya cukup parah, sudah dua hari ia tak masuk sekolah."

"Baiklah, seusai ekskul, tunggu aku di gerbang ya Oppa." Kyungsoo menyetujui ajakan Kris.

"Kau ada ekskul?"

"Iya Oppa, paduan suara."

"Lalu apa yang kau lakukan di sini Kyung? Ayo cepat ke ruang musik! Bisa-bisa kau telat latihan." Kris mendorong bahu mungil Kyungsoo.

Tiba-tiba, Kyungsoo jadi penasaran, apakah Kris sudah tahu kalau kemarin Baekhyun diantar pulang oleh Daehyun?

Sepertinya Kris belum mengetahuinya. Mukanya senang-senang saja dan tidak ada ekspresi sedih sedikit pun. Pikir Kyungsoo.

"Ini salahmu Oppa, kau yang mengajakku mengobrol." Protes Kyungsoo.

0-0-0-0

Ketika Kyungsoo sampai di ruang musik, teman-temannya sudah melakukan pemanasan suara.

"Kyungsoo! Akhirnya kau datang juga." Sapa Baekhyun yang sedang berdiri bersama Luhan di sebelahnya.

"Kau ke mana saja Kyungsoo? Kenapa telat?" Tanya Luhan. Luhan juga merupakan salah satu anggota dari ekskul paduan suara.

Sebenarnya, ia dan Luhan berteman cukup dekat. Mereka sudah menjadi anggota paduan suara sejak kelas 1 SMA, tentu saja mereka jadi dekat karena sering bersama-sama.

Tapi setelah ia mendapat ancaman dari Jongin, ia jadi kepikiran tentang ancaman itu jika melihat Luhan. Sampai sekarang, Kyungsoo masih bingung, apa yang harus ia lakukan agar lepas dari ancaman Kim Jongin.

Dan juga… Bukankah itu menyakitkan, berteman dekat dengan seseorang yang disukai oleh lelaki yang kau suka? Ditambah lagi, setelah kejadian di kantin pada saat makan siang.

"Tadi aku berpapasan dengan Kris Oppa di koridor, lalu mengobrol sebentar. Jadi saja telat." Jawab Kyungsoo.

"Kris Sunbae? Wah, sepertinya kau dekat sekali ya dengannya Kyung." Goda Luhan sambil menyenggol-nyenggol bahu Kyungsoo.

Kyungsoo panik. Ia melihat Baekhyun yang berada di sebelah Luhan. Kyungsoo takut Baekhyun jadi salah paham.

"I-ini tidak seperti yang kau bayangkan, Luhan," kata Kyungsoo, "kami hanya bersahabat." Jelasnya lagi,

"Aaah, awalnya bersahabat, tapi lama-lama bisa jadi lebih lho, Kyung." Luhan masih terus menggodanya.

Bisa Kyungsoo lihat, ekspresi Baekhyun berubah. Ekspresinya berubah, terlihat menegang.

"Ah! Tidak mungkin Luhannie. Lagipula, aku sudah memiliki orang yang ku suka." Kyungsoo terpaksa mengatakan hal itu agar tidak terjadi kesalahpahaman.

Tapi ekspresi Baekhyun tak kunjung menunjukkan perubahan. Sepertinya, Baekhyun tak mendengar apa yang Kyungsoo katakan barusan. Baekhyun terlanjur tenggelam dalam pikirannya sendiri.

"Oh, begitu? Lain kali kau harus cerita padaku ya Kyung!" kata Luhan.

Kyungsoo hanya menganggukan kepalanya.

0-0-0-0

Malam harinya, Kyungsoo sedang mengerjakan PR di kamarnya. Tidak seperti biasanya, kali ini ia tak dapat berkonsentrasi.

"Kim Jongin…" mulutnya secara tak sadar menggumamkan nama lelaki itu.

Kenapa ia harus suka dengan Luhan sih? Kyungsoo sering melihatnya berpacaran dengan perempuan lain, tetapi itu tak begitu menjadi masalah, karena Kyungsoo tak mengenal perempuan-perempuan itu. Sementara Luhan? Luhan adalah salah satu teman dekatnya.

Belum lagi, Luhan dan Sehun saling menyukai. Sehun itu sahabatnya. Mana mungkin Kyungsoo tega merusak kebahagiaan sahabatnya?

"Apa yang akan ia lakukan jika aku tidak memenuhi keinginannya?" pikirnya.

*DRRRT* *DRRRT*

Handphone Kyungsoo bergetar, menandakan adanya telepon yang masuk. Handphonenya memang selalu dalam keadaan silent.

Kyungsoo menjawab panggilan itu, yang ternyata berasal dari sahabatnya, Baekhyun.

"Halo?"

"Halo Kyungsoo, kau kenapa menghilang sih sepulang ekskul?" Tanya Baekhyun dari seberang sana.

"Bukannya kau yang tadi langsung pergi bersama Daehyun?"

"Oh iya ya? Aku lupa. Intinya, tadi pulang sekolah kau ke mana Kyung?" kenapa Baekhyun sepertinya begitu penasaran?

"Aku tadi ke rumah Sehun."

"Ooh, sendirian?"

"Bersama Kris Oppa."

Hening. Tak ada jawaban dari seberang.

"Baekhyun?" Kyungsoo memanggil nama Baekhyun.

"Ya? Oh, ya sudah Kyungsoo, aku lupa aku masih memiliki banyak tugas yang belum ku kerjakan. Selamat malam Kyung!" Baekhyun langsung memutuskan koneksi.

"Kenapa Baekhyun? Apakah aku salah bicara?" Kyungsoo terdiam. Berpikir. Apakah tadi ia mengatakan hal yang salah?

"OH! Dasar Kyungsoo bodoh! Tentu saja Baekhyun akan cemburu karena aku pulang bersama Kris Oppa. Ah bagaimana ini?" Kyungsoo baru menyadari kesalahannya.

Ia memutuskan untuk segera tidur. Pikirannya bercabang. Tidak mungkin ia dapat berkonsentrasi jika melanjutkan belajar.

0-0-0-0

"Sehun! Akhirnya kau masuk juga! Bagaimana rasanya berada di rumah terus?" Sambut Baekhyun senang melihat sahabatnya itu sudah sehat.

"Membosankan," Sehun membanting tasnya ke atas meja, "untung saja kemarin Kris Hyung dan Kyungsoo menjenguk ke rumah. Jadi tidak terlalu bosan."

"Berterimakasihlah padaku dan Kyungsoo." kata Kris yang sedang berada di kelas mereka. Kris memang sangat sering mengunjungi kelas mereka.

"Oh iya, Baekhyun. Ke mana saja kau? Mengapa tak menjenguk sama sekali?" Sehun bertanya dengan menampakan muka tidak suka.

"Hehehehe, maaf ya. Aku tidak sempat. Belakangan ini aku malas mencatat di kelas. Jadi harus mengejar catatan yang belum dicatat." Jawab Baekhyun seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal.

"Ngomong-ngomong, baguslah kau sudah masuk. Sepertinya Luhan sangat merindukanmu." Kris menaik-naikan alis matanya. menggoda Sehun.

"Luhan merindukanku?" Sehun mengerutkan keningnya.

Baekhyun, Kris, dan Kyungsoo serentak menganggukan kepala mereka.

"Tahu darimana?" Tanya Sehun heran.

"Tuh." Tunjuk Baekhyun ke arah belakang Sehun.

Sehun menolehkan kepalanya ke belakang, ke arah pintu kelas.

Ternyata seorang gadis cantik yang telah mencuri hati Sehun tengah berdiri di sana sambil memasang senyum termanisnya.

Sehun langsung tersenyum lebar dan menghampiri gadis itu. Melupakan ketiga sahabatnya yang sedang geleng-geleng kepala melihat tingkah anak itu.

"Sehun! Lama sekali kau tidak masuk. Aku sampai lupa rupa wajahmu." Kata Luhan ketika Sehun menghampirinya.

"Kau ternyata begitu merindukanku ya?" goda Sehun sambil terkekeh. Ia menggandeng tangan Luhan dan membawanya ke taman belakang sekolah.

"Siapa bilang aku merindukanmu?" pipi Luhan memerah.

Sehun melihat rona merah itu. Ah, senangnya jika sudah berhasil membuat rona merah itu muncul. Batin Sehun senang.

"Kalau kau begitu merindukanku, kenapa tidak datang menjenguk?" Tanya Sehun.

"Maaf ya Sehun, aku tidak sempat menjengukmu. Kau tahu kan, aku les hampir setiap hari. Dari kemarin aku sangat sibuk. Padahal aku ingin sekali menjengukmu."

Sehun tersenyum, "tidak apa-apa Lu."

"Ngomong-ngomong, untuk apa kita ke sini?" Luhan baru menyadari bahwa mereka sedang berada di taman belakang sekolah yang selalu sepi.

"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu, Luhan." Sehun berkata dengan serius.

Luhan tersenyum malu, "apa itu?"

"Aku sangat merindukanmu. Dua hari tak bertemu denganmu saja sudah dapat membuatku rindu padamu, Lu." Sehun menggigit bibir atasnya. Itu yang ia lakukan jika sedang gugup.

"Aku juga merindukanmu, Sehun. Sangat merindukanmu." Luhan lagi-lagi tersenyum dan menatap mata Sehun yang dapat meneduhkan hatinya.

Beberapa saat, mereka hanya saling menatap.

Sampai akhirnya, Sehun memecah keheningan, "Luhan," katanya.

"Ya, Sehun?"

Sehun menggenggam kedua tangan Luhan, "aku mencintaimu."

Luhan mengerjapkan matanya tak percaya, "a-apa?"

"Aku mencintaimu, Luhan. Sangat mencintaimu." Kali ini, Sehun mengatakannya dengan tegas. Tanpa keraguan sedikit pun.

Luhan tersenyum, ia membalas, "Aku juga sangat mencintaimu, Oh Sehun."

Sehun membalas senyuman Luhan, dan merengkuh tubuh gadis itu penuh dengan kasih sayang.

"Aku rasa kita adalah sepasang kekasih sekarang." Kata Sehun saat melepas rengkuhannya.

Luhan mengangguk senang.

Hening tercipta lagi di antara mereka. Lagi-lagi tatapan mereka terkunci.

Sehun mengelus rambut Luhan dan berkata, "Kau sangat cantik, Lu."

Wajah Sehun pelan-pelan mulai mendekat ke arah gadis itu. Luhan memejamkan matanya, dan Sehun mencium bibir Luhan dengan lembut.

Ah, ciuman pertama yang indah.

0-0-0-0

"KYAAA! AAAH MEREKA LUCU SEKALI! AKU SAMPAI GEMAS MELIHATNYA!" Baekhyun berteriak heboh, melihat sahabatnya Sehun, yang sedang mencium kekasih barunya.

Ya, Baekhyun, Kris, dan Kyungsoo memang sudah mengintip Sehun dan Luhan daritadi. Mereka mengintip dari balik pohon, agar tidak ketahuan.

"Aku tak menyangka Sehun bisa menjadi semanis ini. Uri Sehun ternyata sangat romantis!" ujar Kyungsoo gemas melihat sahabatnya itu.

"Aku bisa lebih romantis daripada itu." Kris tibatiba ikut berbicara.

"Mana mungkin." Cibir Baekhyun.

"Hei! Jangan meremehkanku." Kris menatap Baekhyun galak.

"Aku tidak takut dengan tatapan mematikanmu itu Oppa!" ejek Baekhyun lagi.

Kris hanya tertawa dan mengacak-acak rambut Baekhyun.

Kyungsoo tertawa melihatnya. Tak lama lagi, Baekhyun dan Kris pasti akan menjadi sepasang kekasih. Pikir Kyungsoo.

Ia senang melihat sahabat-sahabatnya bahagia.

'Lalu bagaimana denganku?' batinnya sedih.

0-0-0-0

Sehun, Kris, Baekhyun, Kyungsoo, dan Luhan sedang berada di kantin. Mereka sedang makan siang. Spesialnya, makan siang kali ini, Sehun yang traktir.

"Terima kasih banyak Sehun! Kebetulan sekali, uang sakuku habis untuk membeli album SNSD kemarin." Kata Baekhyun sambil makan dengan lahap.

"Pelan-pelan makannya Baekhyun. Makanannya tidak akan lari kemana-mana kok." Kyungsoo menasehati Baekhyun yang makan terlalu cepat.

"Biar saja, yang penting-uuuukhhkhk." Baekhyun tersedak makanannya.

"Tuh kan… apa aku bilang." Kyungsoo menepuk-nepuk pundak Baekhyun. Dan Kris langsung menyodorkan air putih untuknya.

"Hahaha! Dasar Baekhyun! Selalu saja ceroboh." Sehun menertawakan sahabatnya.

"Sehun, jangan ditertawakan, kasihan Baekhyun." Kata Luhan yang duduk di sebelahnya.

"Dengarkan apa kata pacarmu Sehun! Kasihan sekali nasibmu Luhan, kau punya pacar yang suka meledek seperti Sehun." Ucap Baekhyun.

"Tentu saja aku tidak akan jahat pada Luhan," Sehun merangkul pundak kekasihnya.

"Huh dasar pilih kasih." Cibir Baekhyun.

"Oleh karena itu, kau harus cepat mencari pacar Baek. Agar ada yang membelamu jika kau diledek terus olehku." Sehun memberi saran.

"Hei! Kau jangan sombong ya! Mentang-mentang punya pacar!" Baekhyun merajuk.

Mereka semua tertawa karena sifat Baekhyun yang kekanakkan.

"Do Kyungsoo." tiba-tiba sebuah suara menghentikan tawa mereka.

Jantung Kyungsoo kembali berdetak lebih cepat ketika mendengar suara orang itu menyebut namanya. Tentu saja orang itu adalah Kim Jongin. Siapa lagi yang dapat membuat jantung Kyungsoo berdetak lebih cepat selain orang itu?

"Ada apa?" Kris bertanya. Mewanti-wanti akan apa yang akan Kim Jongin lakukan.

"Aku ingin berbicara sebentar dengan Do Kyungsoo," jawabnya sambil terus menatap Kyungsoo. Pandangannya tak dapat diartikan.

"Ayo ikut aku." Jongin menarik paksa lengan Kyungsoo.

Kyungsoo hanya pasrah mengikuti keinginan Jongin.

Kris, Baekhyun, dan Sehun menatap kepergian mereka dengan heran.

"Memangnya Kyungsoo mengenal Jongin?" Baekhyun bertanya-tanya.

"Lho? Kemarin aku makan siang bersama Kyungsoo dan Jongin. Ketika aku datang ke kantin, mereka sedang makan berdua." Kata Luhan.

"APA?!" Baekhyun, Kris, dan Sehun sangat terkejut dengan apa yang Luhan katakan.

Setahu mereka, Kyungsoo dan Jongin tak saling mengenal. Mereka memang teman sekelas, tapi tidak pernah berbicara satu sama lain.

"Ada urusan apa ya mereka? Aku jadi khawatir…" ucap Kris.

Baekhyun menoleh ke arah Kris, mendapati raut wajah Kris yang resah.

'Kris sangat mengkhawatirkan Kyungsoo, ya?' entah kenapa, Baekhyun merasa hatinya nyilu.

'Ada apa sih denganku?' batinnya lagi.

0-0-0-0

a/n: halo! terimakasih ya yang udah review! ayo terusss review lagi biar aku tambah semangat lanjutinnya hehehe. oiya, aku minta maaf ya, di sini Kyungsoo nya dibikin menderita dulu di awal. huhuhuhu. terus maaf juga, kaisoo moment nya belum ada. tunggu terus chapter selanjutnya yaa :)

review jangan lupa yaa! satu review itu artinya banyak banget loh buat aku :)

makasih udah baca! :D

-Tatiana12