Your Smile
A Kaisoo Fanfiction.
I don't own anything but the storyline.
Don't like don't read. As simple as that.
0-0-0-0
"Baek, aku rasa aku harus menyusul Kyungsoo. Aku takut terjadi sesuatu yang buruk padanya." Kris berbisik pada telinga Baekhyun.
"Aku ikut Oppa." Kata Baekhyun. Ia juga khawatir dengan keadaan sahabatnya.
"Kalian mau ke mana? Menyusul Kyungsoo? Aku mau ikut!" Sehun menimpali.
Luhan hendak membuka mulutnya untuk berkata sesuatu, tetapi Sehun menghentikannya, "Luhannie, kau tidak boleh ikut. Aku takut hal ini justru membahayakanmu. Kau kan prempuan, sebaiknya kau ke kelasmu saja."
"Tapi Baekhyun juga prempuan!" protes Luhan tidak terima. Ia juga khawatir dengan keadaan Kyungsoo, "Lagipula, belum tentu Jongin dan Kyungsoo bertengkar. Siapa tahu mereka pacaran?" Luhan melanjutkan.
"Hah? Pacaran? Tidak mungkin Lu, ia tidak pernah bercerita apapun soal percintaan padaku." Baekhyun mengingat-ingat.
"Backstreet mungkin?" Luhan menerka-nerka.
"Sudahlah, lebih baik kita segera mencari Kyungsoo untuk mengetahui jawabannya." Kris menjadi penengah antara mereka berdua. Ia sendiri juga penasaran, apa sebenernya hubungan Kyungsoo dan Jongin?
"Tapi aku mau ikut juga ya, Kris Sunbae? Aku juga cukup dekat dengan Kyungsoo, aku khawatir padanya." Luhan memohon pada Kris.
"Baiklah, kau boleh ikut mencari. Lagipula akan ada Sehun yang menjagamu." Kris akhirnya mengizinkan Luhan untuk ikut.
"Sebaiknya sekarang kita bergegas untuk mencarinya. Sebelum terjadi hal yang buruk." Ajak Baekhyun.
"Menurutmu mereka ada di mana?" Tanya Sehun pada Kris.
"Hmmm, menurutku mereka ada di suatu tempat yang sepi, dan jarang ada orang melewati tempat itu. Untuk apa Jongin menarik Kyungsoo dengan paksa jika ia bisa membicarakannya di tempat terbuka?" Kris menganalisa.
"Benar kata Kris Oppa. Menurutku… mereka sekarang berada di toilet halaman belakang yang sudah tak terpakai. Atau di gudang penyimpanan?" Luhan menambahkan analisis Kris.
"Entahlah, tetapi firasatku mengatakan kalau mereka berada di toilet belakang." Jawab Baekhyun.
"Aku juga merasa begitu." Kris menyetujui omongan sahabatnya.
"Baiklah, ayo kita ke sana."
Mereka berempat pun segera berjalan menuju toilet belakang.
0-0-0-0-0-0
BRUK
Jongin mendorong tubuh Kyungsoo ke wastafel toilet yang sudah tak terpakai itu, seperti biasanya.
Lagi-lagi, jarak tubuh mereka sangat dekat, membuat Kyungsoo sulit untuk bernapas.
"Kau belum melakukan apapun untuk mencegah hubungan mereka ya?" Jongin meletakan kedua tangannya pada tembok di belakang Kyungsoo. Membuat jantung Kyungsoo memompa darah ke wajah putihnya.
Kyungsoo tak mampu melakukan apa-apa lagi. Jarak mereka terlalu dekat saat ini. Bisa dipastikan, ia akan terbata-bata bila mengeluarkan kata dari mulutnya sendiri.
Untuk beberapa detik, mereka hanya saling menatap.
"JAWAB AKU!" Bentak Jongin.
Kyungsoo tersentak dan membuka mulutnya, "y-ya, a-aku belum melakukan apa-apa."
"Kyungsoo, dengar," tangan Jongin mengelus rambut hitam Kyungsoo yang halus dan menyelipkannya ke belakang telinga gadis itu.
Jantung Kyungsoo hampir berhenti saat tangan lelaki itu tiba-tiba menyentuh kepalanya.
'Sadarlah Kyungsoo, kau ini sedang dimarahi. Bukan dicumbu. Jangan menikmati permainan serigala jahat ini, Do Kyungsoo. sadar.' Batinnya memaki dalam hati.
"Kau harus menuruti dan melakukan segala perintahku.." tangan Jongin pelan-pelan turun menuju pipi putih Kyungsoo.
Jongin diam-diam memperhatikan wajah Kyungsoo. Hidungnya yang mungil. Bibirnya yang penuh dan tebal, pipinya yang halus, dan matanya yang bulat, yang sekarang tengah menatap Jongin takut-takut.
'Prempuan ini cantik.' Jongin menggumam dalam hati.
Kyungsoo memberanikan diri untuk sekedar bertanya, "kenapa aku harus menurutimu?"
"Kenapa?" Jongin menaikkan sebelah alisnya, "karena Kim Jongin selalu mendapatkan apa yang ia inginkan."
"Tapi aku tidak mau!" Kyungsoo merasa ini adalah saatnya melawan lelaki tak berperasaan di hadapannya.
"Kau harus menurutiku!" Jongin membentaknya.
"AKU TIDAK MAU! AKU MENYAYANGI SEHUN, SANGAT MENYAYANGINYA. AKU TELAH MENGANGGAPNYA SEBAGAI ADIKKU SENDIRI!" Kyungsoo berteriak di hadapan muka Jongin. Ia telah menemukan keberaniannya. Ia tak mau kalah dengan serigala jahat ini.
Jongin membuka mulutnya, ingin membalas ucapan Kyungsoo dengan makian. Tetapi, ia melihat bayangan pada cermin di belakang tubuh Kyungsoo. da empat orang yang berjalan ke arah toilet belakang ini.
Ya. Kris, Baekhyun, Sehun, dan Luhan.
Sayangnya, Kyungsoo tak dapat melihat kedatangan mereka karena tatapan matanya terhalang oleh badan Jongin yang besar.
"Kenapa kau tak menjawab apapun Jongin? Kau takut padaku? Kau takut dengan teriakanku?" Kyungsoo menatap Jongin dengan pandangan meremehkan.
Jongin benar-benar ingin berteriak dan memaki Kyungsoo saat itu juga, tetapi empat orang itu sudah sangat dekat dengan tempat di mana ia dan Kyungsoo sedang berdiri.
'Aku tidak dapat membiarkan orang lain tahu tentang ini.' Jongin berkata dalam hati. Ia harus menjaga nama baiknya di depan Luhan. Dan ia juga tak ingin dihajar sampai babak belur oleh Kris dan Sehun.
Tidak, ia tidak boleh ketahuan bahwa ia sedang mengancam dan menghardik Kyungsoo.
"JAWAB AKU JONGIN!" Kyungsoo berteriak, dan itu membuat empat orang yang sedang menuju ke situ semakin mempercepat langkahnya.
"MENGAPA KAU DIAM SAJA KIM JONG—hhmmppph.."
Mata Kyungsoo melebar saat ia mendapati bibirnya sedang dicium oleh Kim Jongin. Lelaki tampan yang selalu jahat padanya. Lelaki yang diam-diam ia sukai.
Lutut Kyungsoo lemas. Ia tak bisa melakukan apa-apa untuk melawan Jongin. Ia hanya diam, membiarkan Jongin mencium dan melumat bibirnya.
Kyungsoo menikmati lumatan yang Jongin berikan pada bibirnya, ia mulai memejamkan matanya.
"KYUNGSOO!" Baekhyun berteriak kaget mendapati Kyungsoo, sahabatnya, sedang bercumbu dengan Kim Jongin.
Kyungsoo kaget ketika mendengar suara Baekhyun yang nyaring. Ia sontak melepas bibirnya dari bibir laki-laki kesukaannya.
"B-baekhyun.." Kyungsoo mengedarkan pandangannya, "Kris Oppa, Sehun, Luhan…"
Jongin seakan terhempas dari langit, ia baru kembali ke alam sadarnya. Entah kenapa, meskipun ia sering mencium prempuan, hanya Kyungsoo yang dapat membuatnya seperti terbang ke langit. Jongin tidak perduli lagi dengan adanya keempat orang yang baru saja masuk toilet ini, ia terus memperhatikan bibir merah Kyungsoo yang terlihat membengkak akibat ciumannya yang lumayan panas barusan.
Ia sangat ingin merasakan bibir itu lagi. Menciumnya dan melumatnya, lebih dari apa yang barusan ia lakukan.
"Mengapa kau tak pernah cerita tentang hal ini padaku, Kyungsoo? Kau tidak percaya lagi denganku?" Tanya Baekhyun. Ia merasa terkhianati.
"I-ini bukan seperti yang kau kira Baekkie…" Kyungsoo menengok ke arah Jongin, seakan memohon agar lelaki itu membantunya memberi penjelasan. Tetapi sepertinya Jongin tidak ingin membantu apapun, Jongin hanya menatapnya dengan pandangan kosong.
"Sudahlah, jangan memojokkan Kyungsoo seperti itu. Nanti ia pasti akan menjelaskan semuanya. Sepertinya sudah bel masuk, lebih baik kita kembali ke kelas." Kris menenangkan suasana yang tadinya sangat panas itu.
"Baiklah…" Baekhyun mendesah kecewa, lalu segera berlari menuju kelasnya. Entahlah, tetapi hatinya terasa sakit. Gadis itu merasa Kyungsoo tak lagi percaya padanya.
"Sudah kubilang kan… mereka backstreet." Luhan berbisik pada Sehun.
Sehun hanya mendesah kecewa. Ia juga tentu saja merasakan perasaan yang sama dengan Baekhyun. Merasa tidak dipercaya lagi.
Tanpa berkata apapun, Jongin ke luar dari toilet itu dan berjalan menuju kelasnya.
Kyungsoo semakin bingung melihat Jongin yang pergi, dan tak tahu harus melakukan apa.
"Lebih baik kita masuk kelas Lu, ayo." Sehun menarik lengan Luhan untuk pergi dari toilet itu.
Hingga hanya tersisa Kris dan Kyungsoo di ruangan itu.
"Oppa… apa yang harus aku lakukan?" Kyungsoo berkata lirih, seperti ingin menangis.
Kris, sebagai sahabat sekaligus sosok kakak yang baik bagi Kyungsoo, merangkul pundak Kyungsoo dan mengelusnya. Menenangkan sahabat mungilnya itu.
"Oppa tidak marah padaku kan?" Kyungsoo, dengan mata bulatnya yang berkaca-kaca, menatap wajah Kris yang ekspresinya sulit ditebak.
"Tentu saja tidak, Kyungie. Kau pasti memiliki alasan kenapa kau menyembunyikan semua ini dari kami. Take your time. Aku tidak akan memaksamu untuk segera memberi tahu segalanya pada kami." Kris berkata dengan bijaksana, disertakan dengan senyumnya yang selalu dapat menenangkan hati Kyungsoo sejak dulu.
"Terima kasih Oppa. Kau memang yang terbaik." Kyungsoo memeluk Kris. Kris membalas pelukannya dengan kasih sayang, ia sudah menganggap Kyungsoo sebagai adiknya sendiri. Adik mungil, yang manis, yang harus ia jaga dan tak boleh tersakiti oleh apapun.
0-0-0-0-0
Jongin mendecih kesal melihat adegan yang terpampang di kedua matanya. Sebenarnya Jongin tidak pergi terlalu jauh dari toilet itu, ia hanya ke luar dan bersembunyi di balik pohon besar yang ada di depan toilet bekas tersebut.
Tentu saja ia dapat melihat semuanya. Jongin melihat Kyungsoo yang- kelihatannya sedang bermesraan dengan Kris. Apa lagi namanya selain bermesraan? Jelas-jelas mereka berpelukan seperti itu. Mereka pasti sedang bermesraan kan?
"Cih, tingkahnya saja yang sok polos. Aslinya, dia bisa bermesraan dengan lelaki kan? Dasar muka dua." Gumamnya tak suka.
Jongin sangat benci melihat Kris dan Kyungsoo yang berpelukan. Ia tidak suka apapun yang menjadi miliknya, disentuh oleh orang lain.
Apa? Miliknya?
"Apa yang aku pikirkan? Aku pasti sudah gila." Gumamnya lagi.
Jongin memutuskan untuk menghampiri sahabat satu-satunya, Zhang Yixing.
Jongin segera menuju atap, tempat di mana Yixing selalu berdiam diri sambil menatap langit, yang menurut Yixing sangat menenangkan hati.
Jongin tidak mengerti kenapa langit dapat menenangkan hati. Memang ada apa di langit? Hanya awan yang bentuknya abstrak, tidak jelas. Sama seperti kehidupannya.
Apa yang membuat Yixing berpendapat langit itu indah? Gadis itu memang aneh. Begitulah menurut Jongin. Tapi tetap saja, hanya Yixing satu-satunya sahabat yang ia punya. Mau tidak mau, ia harus menerima segala keanehan sahabatnya itu. Lagipula terkadang, keanehan Yixing dapat menghiburnya. Seolah-olah ada yang lebih lucu dari semua lelucon kehidupan ini.
Ketika Jongin sampai di atap, ia langsung mendapati gadis itu yang sedang terlentang, dan seperti biasa, menatap langit.
"Noona," panggil Jongin.
Yixing tersadar dari entah apa yang ia pikirkan, dan menatap Jongin, "ada apa?"
"Aku bingung," Jongin menghampiri Yixing dan ikut terlentang di sebelahnya.
Yixing menatap Jongin heran.
Jongin menatap balik gadis itu, "kau mau mendengarkan ceritaku tidak?"
"Ceritakanlah apapun yang ada di pikiranmu Jongin. Kau tahu kan, aku selalu mendengarkan." Sahut Yixing, melepas pandangannya dari tatapan Jongin dan mulai menatap langit lagi. Langit yang mulai mendung. Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan.
"Ini semua aneh, Noona. aku belum pernah merasakan yang seperti ini sebelumnya. Aku… entahlah. Aku sudah sering mencium gadis. Tapi tidak pernah ada yang seperti ini. Ciuman pertamaku saja rasanya tak seperti ini," ucap Jongin.
Yixing tertawa kecil, "bicara yang jelas Jongin. Apa yang kau maksud dengan 'seperti ini'? Perasaan apa yang kau rasakan?"
Jongin terdiam, ia bingung harus mengumpamakan perasaan yang ia rasakan dengan hal apa.
"Baiklah," Yixing memahami situasi yang Jongin hadapi, "apakah rasanya seperti ada kupu-kupu yang mengepakkan sayapnya di dalam perutmu?" Tanya Yixing.
Mata Jongin melebar, "Ya! Ya! Persis seperti itu, Noona! Dan ketika ia melepas bibirku dari bibirnya, rasanya seperti jatuh dari langit."
Yixing tergelak dan tertawa, "Jongin, kau yakin kau belum pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya?"
"Ya, ini pertama kalinya aku seperti ini. Sebenarnya apa yang terjadi padaku?"
"Mmmhmm, jatuh cinta, mungkin?" Goda Yixing.
"Tidak! Aku tidak mungkin jatuh cinta dengan gadis bermata bulat dan besar sepertinya," Jongin mengelak.
"Oooh, jadi gadis ini matanya bulat dan besar." Yixing terus menggoda Jongin.
"Ah! Kau menyebalkan, Noona!" Jongin merajuk seperti anak kecil.
"Aku suka sekali menggodamu Jongin, kau itu hanya kelihatannya saja seperti bad boy, aslinya sungguh bertolak belakang. Sekarang saja kau merajuk seperti anak kecil. Ah, namdongsaeng-ku memang lucu."
"YA! Enak saja! Dan siapa tadi yang kau sebut namdongsaeng? Aku tidak sudi menjadi adik laki-lakimu, Noona. Lagipula kalau kau menjadi kakakku, kasihan sekali kau, tidak boleh menari dengan bebas," Jongin tertawa pahit.
"Hahaha, ya, aku beruntung aku tidak dilahirkan di keluarga kaya sepertimu. Sehingga aku tidak memliki kewajiban untuk meneruskan perusahaan orangtuaku, tidak sepertimu. Ya kan, tuan muda?" Yixing menggodanya lagi.
"Aish, kau memang benar-benar menyebalkan, Noona."
"Hahahaha," Yixing tertawa lagi, dan kemudian berkata, "percayalah Jongin, kalau kau memang benar-benar yakin, suatu saat ayahmu pasti akan mengizinkanmu menjadi penari. Asal kau tidak lupa semua tanggung jawab yang ia berikan padamu. Oleh karena itu, belajarlah yang benar, ne?" Yixing mengelus pundak Jongin, memberi semangat.
"Terimakasih Noona. Aku jadi terharu. Sudahlah, jangan bersikap menjijikan begini. Aku geli, jadi ingin muntah," Jongin terkekeh.
"Baiklah, jadi, bagaimana dengan Do Kyungsoo?" Yixing mengalihkan pembicaraan.
"Sudah kubilang, walaupun aku menikmati ciuman kami, bukan berarti aku menyukainya! Aku tidak menyukai Do Kyungsoo!" Jongin mengelak lagi, dan ia baru tersadar akan sesuatu, "tunggu, Noona, kau tahu darimana kalau gadis ini adalah Do Kyungsoo?"
"Tentu saja aku tahu Jongin. Belakangan ini kau membicarakan Luhan, Sehun, dan Kyungsoo melulu. Dan tadi kau berkata kalau gadis ini matanya bulat dan sangat besar. Siapa lagi kalau bukan Kyungsoo? Oh iya, setahuku, kau menyukai Luhan kan? Kenapa sekarang jadi Kyungsoo?" Tanya Yixing.
"Aku tidak menyukai Kyungsoo! Aku menyukai Luhan." Kata Jongin tak yakin.
"Tapi kelihatannya tidak seperti itu, Jongin. Lagipula, kau hanya menyukai Luhan dari suaranya kan? Hal itu tidak benar, itu namanya bukan suka, kau hanya kagum pada suaranya." Yixing menafsirkan perasaan Jongin yang sebenarnya.
"Tapi siapapun pemilik suara itu, harus menjadi milikku. Dan pemilik suara itu adalah Luhan, jadi, Luhan harus menjdi milikku."
"Lalu setelah itu apa? Paling setelah beberapa minggu kau akan mengakhiri hubungan kalian kan, karena bosan? Seperti gadis-gadismu yang sebelumnya."
"Mungkin iya, mungkin juga tidak. Sudahlah Noona. Kau malah membuatku semakin pusing." Jongin menghentian ocehan Yixing.
"Hahahaha, Jongin, aku rasa kau harus berhenti mengancam prempuan itu. Kasihan Kyungsoo. Bayangkan jika kau berada di posisinya, pasti tidak enak harus mengkhianati sahabat sendiri. Kau tidak mau kan, jika kau disuruh mengkhianatiku?" Tanya Yixing.
Jongin terdiam sesaat, "Benar juga ya," ia menyetujui perkataan Yixing.
"Ngomong-ngomong, kenapa kau bisa mencium Kyungsoo?" Tanya Yixing penasaran.
"Ceritanya panjang Noona. Nanti saja aku ceritakan. Sekarang aku ngantuk, aku mau ke UKS dulu." Jongin pun beranjak dari tempatnya dan berjalan menuju UKS, meninggalkan Yixing yang masih berada di tempatnya.
"Dasar anak aneh. Jelas-jelas dia menyukai Kyungsoo. Sensasi yang indah saat berciuman itu memang ada hanya ketika mencium seseorang yang disukai… ah, aku jadi merindukanmu Joonmyun Oppa," gumam Yixing sambil terus menatap langit di atasnya, yang semakin mendung.
0-0-0-0-0-0
Kyungsoo terduduk diam di kasurnya.
Ciuman pertamanya telah direnggut oleh orang yang ia sukai. Bukankah seharusnya ia senang? Tapi kenapa justru hal ini menimbulkan lebih banyak masalah lagi di hidupnya?
Baekhyun mendiamkannya, tidak mau berbicara padanya. Sehun juga sama saja. Meskipun tidak separah Baekhyun.
Kyungsoo benci didiamkan seperti ini. ia membutuhkan sahabatnya. Terutama Baekhyun.
"Aku harus melakukan sesuatu agar Baekhyun tidak marah lagi padaku…" gumamnya sedih.
"Lebih baik aku menghampirinya secara langsung," Kyungsoo memutuskan untuk menghampiri Baekhyun ke rumahnya. Gadis itu bersiap-siap pergi lagi. Sekarang baru jam lima sore, ia masih memiliki waktu sebelum hari berubah menjadi malam.
Ketika Kyungsoo sampai di rumah Baekhyun, ia langsung memencet bel dengan tidak sabar. Ia tidak ingin lebih lama lagi dimusuhi oleh sahabat prempuannya itu.
Tidak lama kemudian, pintu rumah itu pun terbuka. Dan menampakkan sosok cantik Byun Baekhyun.
"Baek…" Kyungsoo menyapa sahabatnya itu.
"Untuk apa ke sini?" Tanya Baekhyun ketus.
"Aku ingin menjelaskan semuanya padamu, Baek. Aku ingin bercerita semuanya padamu. Kau mau mendengarkanku kan?" Kyungsoo menatap Baekhyun dengan tatapan memelas.
Baekhyun tidak tega melihat tatapan Kyungsoo yang menggemaskan itu, "baiklah, ayo masuk, Kyung."
0-0-0-0-0-0
Kyungsoo baru saja selesai menceritakan semua ceritanya dari awal sampai akhir, pada Baekhyun.
Ya, ia menceritakan semuanya. Tentang Jongin yang suka pada Luhan, dan semua ancaman-ancaman yang Jongin arahkan padanya.
"Kyungsoo… mengapa kau tidak menceritakan semua ini padaku dari awal?" Baekhyun merasa menyesal, ia tidak tega membayangkan Kyungsoo yang dimarahi oleh Jongin.
"Maafkan aku Baekhyun, tapi aku takut dengan semua ancaman Jongin." Kyungsoo menundukan kepalanya.
Baekhyun langsung memeluk Kyungsoo dengan sayang, ia sangat menyayangi sahabatnya yang mungil itu. Ia merasa gagal sebagai sahabat karena tidak bisa menjaga dan melindungi sahabat mungilnya yang satu ini.
"Aku yang harusnya minta maaf Kyungie… Aku gagal sebagai sahabat, aku tidak bisa menjagamu dengan benar." Baekhyun terus memeluk Kyungsoo.
"Sudahlah, Baekhyun. Tidak ada yang salah di sini. Yang pasti, aku senang karena kau sudah tak marah lagi padaku," Kyungsoo melepas pelukannya dan tersenyum menatap Baekhyun.
Baekhyun tersenyum lebar dan matanya mulai berkilat nakal, "ngomong-ngomong… itu kan ciuman pertamamu Kyung! Selamat ya! Akhirnya kau dicium juga oleh lelaki! Bagaimana rasanya, Kyung?"
Pipi Kyungsoo merona merah mendengar pertanyaan Baekhyun, "a-aku, ehm i-itu… rasanya… rasanya aneh, Baekhyun."
"Aneh yang menyenangkan ya, Kyung?" Baekhyun terus bertanya. Ia sendiri penasaran bagaimana rasanya dicium. Ia belum mendapatkan ciuman pertamanya.
Pipi Kyungsoo semakin merona.
"AAAH KAU INI SANGAT MENGGEMASKAN KYUNGIE! Pantas saja Jongin tidak dapat menahan hasratnya untuk menciummu." Baekhyun mencubit kedua pipi Kyungsoo yang memang sangat menggemaskan.
"Baekhyun… Kau membuatku malu," Kyungsoo merengut.
"Apakah kau menyukai Jongin, Kyung?" Baekhyun bertanya penasaran.
Kyungsoo terdiam sejenak. Beripikir, apakah ia harus memberitahukan tentang rasa sukanya pada Jongin?
"Kyung?" Baekhyun memanggil nama Kyungsoo.
"Ya, sebenarnya aku sudah menyukainya sejak lama…" Kyungsoo akhirnya mengaku pada Baekhyun. Sudah terlalu banyak hal yang ia telah rahasiakan pada Baekhyun. Sekarang adalah saatnya untuk mengakui semuanya.
"Kau serius Kyung?! Ya ampun… Aku tidak menyangka, ternyata seleramu cowok nakal seperti Jongin, ya?"
Kyungsoo hanya menunduk malu.
"Ah, aku sangat menyayangimu, Kyungsoo. kalau ada apa-apa, langsung cerita saja padaku, oke? Jangan sembunyikan apapun dariku. Aku juga akan melakukan hal yang sama." Baekhyun merangkul pundak sahabatnya itu.
Kyungsoo mengangguk senang, "Baiklah, aku berjanji Baekhyun. Jangan menyembunyikan apapun lagi. Kita berdua harus menceritakan apapun yang terjadi."
Baekhyun memeluk sahabat mungilnya lagi.
"Lalu, bagaimana dengan Kris Oppa?" Tanya Kyungsoo.
"Hah? M-memangnya ada apa dengannya?" kali ini gentian, wajah Baekhyun yang merona.
"Sudahlah, Baek. Mengaku saja. Jangan tahan perasaanmu. Aku tahu kau menyayangi Kris Oppa, lebih dari seorang sahabat. Iya kan?"
"Aku… iya, baiklah Kyung, aku mengaku. Aku menyukai Kris Oppa." Baekhyun akhirnya mengakui perasaannya.
"Sudah kukira!" Kyungsoo berteriak kegirangan.
"Tapi kau jangan bilang siapa-siapa ya, jangan beri tahu Sehun, apalagi Kris Oppa." Baekhyun memperingati Kyungsoo.
"Ada apa? Sepertinya kalian sedang membicarakan aku dan Sehun, ya?"
Suara ini…..
Suara Kris.
"OPPA?! Sejak kapan kau ada di situ?" Baekhyun berteriak kaget.
"Baru saja aku sampai di sini. Tadi ibumu menyuruhku untuk langsung datang ke kamarmu, karena ada Kyungsoo juga di sini. Kalian sedang membicarakan apa sih? Aku mendengar namaku dan Sehun disebut-sebut," Kris masih penasaran tentang apa yang mereka bicarakan.
"Itu tidak penting Oppa, yang terpenting adalah, sekarang, aku dan Kyungsoo sudah bermaafan!" Baekhyun berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Syukurlah, lagipula aku sudah mengira, kalian tidak mungkin bertengkar lama-lama," Kris tersenyum melihat kedua sahabatnya sudah akur lagi.
"Ya, hanya tinggal Sehun yang belum memaafkanku." Kyungsoo mendesah lirih.
"Siapa bilang aku belum memaafkanmu, Kyung? Aku sudah memaafkanmu kok," Sehun datang tiba-tiba dari belakang Kris.
"Sehun? Kau juga datang ke sini?" Tanya Baekhyun.
"Ya seperti yang kau lihat. Aku tadi habis mengambil beberapa camilan di dapur. Ibumu yang menyuruhku mengambilkannya," kata Sehun.
"Sehun, kau benar-benar sudah tidak marah padaku?" Tanya Kyungsoo.
"Tentu saja tidak, Kyung. Mana mungkin aku tahan lama-lama arah padamu. Lagipula, setelah dipikir-pikir, itu adalah hakmu untuk menceritakan kisah hidupmu pada kami atau tidak," jawab Sehun.
"Tapi tadi Kyungsoo sudah menceritakan semuanya padaku! Bagaimana Kyung, apakah kau mau menceritakan semuanya pada mereka berdua juga? Lebih baik kau beritahu saja mereka," Baekhyun mengusulkan.
"Baiklah…"
Akhirnya, Kyungsoo menceritakan semua masalahnya pada Kris dan juga Sehun.
"Jadi, ia menyukai Luhan? Jongin menyukai pacarku?" Sehun kaget setelah mendengar cerita dari Kyungsoo.
"Ya, Sehun. Oleh karena itu, aku mohon agar kau terus menjaga Luhan.," kata Kyungsoo.
"Tentu saja Kyung, aku akan menjaga Luhan dengan seluruh tenaga dan perasaanku," kata Sehun sambil menampakkan senyumnya yang menawan.
0-0-0-0-0-0
Keesokan harinya, Jongin datang ke sekolah, dan bertemu Luhan di koridor. Jongin menatap Luhan. Ia lalu menyadari sesuatu.
Ia tidak ingin mendekati prempuan itu lagi. Perasaannya, entah suka atau kagum, semuanya telah hilang. Mungkin benar apa yang Yixing bilang, ini hanya kagum. Tak seharusnya Jongin ingin memiliki Luhan hanya karena suaranya yang sangat indah itu.
Dan, entah kenapa, sejak semalam, yang ada di pikirannya hanyalah gadis bermata bulat dan besar itu. Do Kyungsoo.
Jongin jadi ingin bertemu dengan gadis itu. Ia bergegas mempercepat langkahnya agar segera sampai di kelas. Agar dapat melihat gadis itu.
Ketika sampai di kelas, yang pertama Jongin cari adalah Kyungsoo.
Ia menemukan Kyungsoo yang sedang menulis sesuatu di mejanya. Mungkin catatan? Entahlah, Jongin tidak mau tahu. Ia hanya ingin melihat wajah cantik Kyungsoo dari dekat.
Jongin mendekat, menghampiri meja Kyungsoo.
Kyungsoo tersadar bahwa di dekatnya ada seseorang yang sedang berdiri dan mengamatinya.
Bayangkan betapa kagetnya Kyungsoo ketika melihat ke kiri dan yang didapatinya adalah Kim Jongin yang sedang menatap matanya intens.
"Hai, Kyungsoo.," sapanya datar. Raut mukanya tidak galak seperti biasanya.
Kyungsoo masih diam. Ia hanya memperhatikan Jongin yang sifatnya tidak seperti biasa.
"Kenapa diam saja?" Tanya Jongin.
Kyungsoo semakin merasa aneh. Jongin berbicara padanya dengan nada yang cenderung lembut.
"Aku hanya bingung kenapa kau tidak seperti biasanya," Kyungsoo menjawab pertanyaan Jongin. Ekspresinya masih sama, takjub. Dan bingung.
"Kyungsoo, aku ingin mengajakmu bicara. Aku janji tidak akan memarahimu lagi. Oleh karena itu, ayo ikut aku," Jongin menarik tangan gadis yang masih terbengong-bengong itu.
Mereka akhirnya sampai di tempat yang cukup sepi, yaitu kantin. (hei, ini masih pagi. Jadi wajar saja kantin sepi).
Jongin mengajak Kyungsoo duduk di salah satu bangku kantin.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya Kyungsoo yang sudah mulai bisa melepas kegugupan dan keheranannya.
"Aku ingin meminta maaf padamu, Kyungsoo. tidak seharusnya aku mengancam dan memarahimu seperti kemarin-kemarin. Dan Yixing telah menyadarkanku bahwa sebenarnya aku tidak menyukai Luhan, aku hanya kagum pada suaranya yang sangat indah. Aku rasa aku tidak menginginkannya unuk menjadi milikku lagi. Sekali lagi, maafkan aku Kyungsoo," Jongin meminta maaf dengan panjang lebar.
Kyungsoo mengangguk mengerti, "tentu saja aku memaafkanmu Jongin."
"Terima kasih," kata Jongin.
Lalu mereka terdiam.
"Ehm… dan tentang ciuman itu, aku juga minta maaf," Jongin kali ini meminta maaf dengan sedikit canggung.
Kyungsoo sontak menundukkan kepalanya, ia yakin wajahnya pasti sudah merah sekarang.
"Soo?" Jongin memanggil namanya.
Jongin memanggil namanya dengan cara yang berbeda. Hampir semua orang memanggilnya dengan sebutan 'Kyung', sementara Jongin memanggilnya'Soo'. Ia suka panggilan itu. Apalagi Jongin yang menyebutkannya.
"Iya, tentu saja Jongin, aku yakin itu pasti agar kau tidak dikeroyok oleh Sehun dan Kris yang waktu itu ada di situ kan? Oleh karena itu akan lebih aman jika mereka tahu kalau kita sedang, ehm bercumbu di situ. Karena kalau mereka tahu kita sedang bertengkar, pasti mereka tidak akan segan-segan untuk menghajarmu sampai babak belur," Kyungsoo tersenyum manis.
"Iya, maafkan aku ya, Kyungsoo."
"Tenang saja, aku mengerti, dan aku sudah memaafkanmu kok," jawab Kyungsoo, ia mengadahkan kepalanya dan menatap wajah Jongin.
Jongin melihat wajah cantik Kyungsoo yang dihiasi oleh rona warna merah di kedua pipinya.
Ck. Gadis ini memang benar-benar menggemaskan.
0-0-0-0-0-0
"Selamat pagi," Cho Sonsaengnim, alias Cho Kyuhyun menyapa murid-muridnya.
"Selamat pagi, Sonsaengnim," para murid membalas sapaan guru sejarah yang tampan itu.
"Pagi ini, saya akan membagi kalian ke dalam kelompok untuk mengerjakan tugas tengah semester," Kyuhyun mengedarkan pandangannya ke seluruh kelas.
Murid-muridnya mendesah kecewa ketika mendengar kata 'tugas tengah semester'.
"Silakan membuat kelompok sendiri, masing-masing kelompok beranggotakan empat orang," Kyuhyun menyuruh murid-muridnya.
Jongin melihat teman-temannya yang langsung membentuk kelompok. Jongin tidak pernah suka jika gurunya sudah membebaskan murid-murid gar memilih kelompok sendiri. Ia tidak punya teman di kelas ini. Jadi, yah, ia akan sekelompok sengan orang yang tersisa.
Di sudut lain, Baekhyun menghampiri Kyungsoo, "Kyung, kau harus sekelompok denganku dan Sehun ya!"
"Tentu saja, memangnya aku akan berkelompok dengan siapa lagi?" jawab Kyungsoo sambil tertawa.
Sehun menghampiri meja Kyungsoo sambil membawa kursi agar bisa langsung duduk di situ.
"Kalian sudah mendapatkan kelompok masing-masing? Ingat, satu kelompok harus berjumlah empat orang," Kyuhyun mengingatkan.
"Sonsaengnim, saya belum dapat kelompok," Jongin mengancungkan tangannya dan mengadu pada guru tampan itu.
"Siapa yang kelompoknya hanya berjumlah tiga orang atau bahkan kurang?" Kyuhyun bertanya pada kelasnya.
"Kelompok kami masih kekurangan orang pak!" Baekhyun memberi tahu gurunya.
Kyungsoo terkejut, "Baekhyun, lebih baik kita tidak usah sekelompok dengannya."
"Tidak apa-apa Kyung, lagipula dia sudah minta maaf padamu kan? Kurasa ia sudah berubah sekarang. Lagipula kau pasti senang kan dekat-dekat engannya? Hihihi," Baekhyun terkekeh sendiri.
"Kalian bicara apa sih?" Sehun bertanya. Tetapi, sebelum Baekhyun atau Kyungsoo menjawabnya, Kyuhyun memotong pembicaraan mereka.
"Kim Jongin, kau bergabung dengan kelompoknya Baekhyun. Segera duduk bersama kelompokmu," Kyuhyun menyuruh Jongin.
"Baiklah, Sonsaengnim," Jongin menghampiri kelompok Baekhyun dan duduk di situ.
"Hai Jongin,"Baekhyun menyapanya ramah.
Jongin hanya tersenyum canggung. Sama sekali tak tahu harus berbuat apa.
Sementara Sehun, hanya menatapnya dengan pandangan sinis. Ia masih belum tahu perihal Jongin yang meminta maaf pada Kyungsoo pagi ini. kyungsoo baru menceritakan kejadian itu pada Baekhyun.
"Kyung, kenapa orang itu ada di kelompok kita? Bukannya ia jahat padamu?" Sehun berbisik pada Kyungsoo. sepelan mungkin, supaya Jongin tak dapat mendengar mereka.
"Nanti akan kujelaskan padamu, Hun," jawab Kyungsoo.
"Tugas untuk kalian kali ini adalah, membuat makalah tentang Kerajaan Silla, yang pusat ibu kotanya pada zaman dahulu berada di Gyeongju." Kyuhyun menjelaskan, "batas pengumpulan tugasnya minggu depan," jelasnya.
"Sonsaengnim, apakah kami perlu mengunjungi museumnya untuk mendapatkan lebih banyak sumber?" Tanya Baekhyun. Entah mengapa, Baekhyun kelihatan semangat sekali untuk mengerjakan tugas kali ini. atau memang ia punya misi lain?
"Begitu lebih baik," jawab Kyuhyun.
"Baiklah teman-teman, hari Sabtu ini, kita akan pergi ke Gyeongju untuk mengunjungi Museum Nasional," Baekhyun berkata sambil tersenyum puas.
Sepertinya ada sesuatu yang direncanakan oleh Byun Baekhyun.
Apakah itu menyangkut Jongin dan Kyungsoo? Semoga saja begitu.
TBC
a/n: haai maaf yaa aku updatenya lama banget hehe habis belakangan ini sibuk sama ulangan dan tugas tugas.
maaf banget aku gak bisa balesin review nya satu-satu. yang pasti aku makasih bangeeeeet sama semua yang udah review cerita ini.
buat yang follow dan yang favorite, aku harap riview juga yaa. :-)
kali ini, aku nentuin target untuk review yang aku terima. kalau review nya gak memenuhi target, gak bakal aku lanjutin, karena itu berarti fic ini gak layak untuk dilanjutin.
jadi aku harap, semua yang baca pada review yaa biar aku tau apakah fic ini layak atau enggak untuk dilanjut.
sekali lagi, makasih semuanya yang udah nyempetin baca ceritaku :-)
-Tatiana12
