Your Smile

A Kaisoo Fanfiction.

I don't own anything but the storyline.

Don't like don't read. As simple as that.

0-0-0-0-0-0

Jongin membawa Kyungsoo ke luar hotel. Masih terdapat bau tanah sehabis badai. Sungguh menenangkan. Tetapi tidak untuk Kyungsoo.

Jantungnya berdebar kencang.

"Sebenarnya kita mau ke mana?" Kyungsoo mengulang pertanyaan yang sama.

"Aku juga tidak tahu. Hanya ingin mengajakmu jalan-jalan saja. Memangnya tidak boleh?" Jongin berkata seolah itu adalah hal paling wajar sedunia.

"Boleh sih…" Kyungsoo menjawab setengah berbisik.

Jongin tersenyum kecil mendengar cicitan gadis mungil itu.

"Bagaimana kalau kita ke kedai itu?" Jongin menunjuk sebuah kedai kopi yang mereka lewati.

Kyungsoo hanya mengangguk.

Mereka berdua pun berjalan menuju kedai tersebut.

Setelah mendapat kopi yang mereka pesan, mereka berdua memilih tempat duduk yang berada di luar kedai. Dari sini, mereka dapat melihat suasana malam jalanan Gyeongju.

Kyungsoo menyukai hal ini. Menghirup aroma kopi yang ada di genggamannya, melihat orang-orang yang berjalan di sekitarnya, dan juga bau tanah yang baru saja selesai terkena air langit. Ditambah lagi, lampu-lampu jalan yang sudah menyala. Berlomba-lomba menunjukkan keindahannya.

Dan tentu saja, Kim Jongin yang ada di hadapannya.

Tanpa sadar Kyungsoo tersenyum.

Beruntungnya, Kim Jongin melihat senyuman yang tersembunyi itu. Ia jadi ingin tersenyum juga.

"Aku suka suasana seperti ini." Jongin memecahkan keheningan di antara mereka.

Kyungsoo lagi-lagi hanya menganggukan kepalanya.

"Kau juga suka?" Jongin bertanya. Ingin mendengar gadis itu mengeluarkan suaranya.

"Tentu saja." Jawab Kyungsoo pada akhirnya.

"Kenapa kau jarang berbicara?" tanya Jongin penasaran.

"Aku lebih suka mendengarkan."

"Ku kira kau tidak sependiam ini." Jongin mengutarakan pikiran awalnya.

"Ku kira kau tidak secerewet ini." Kyungsoo membalas perkataan Jongin, lalu tertawa.

Jongin menatap Kyungsoo yang sedang tertawa. Kenapa gadis ini selalu membuatku ingin tersenyum? Pikirnya.

"Memangnya aku cerewet?" Jongin bertanya lagi.

"Hmmm yaa tidak secerewet Baekhyun sih…"

"Tentu saja aku tidak akan pernah menjadi secerewet sahabatmu itu. Ia berisik sekali. Teriakannya sungguh memekakan telinga."

Kyungsoo terbahak mendengar perkataan Jongin. Ia sendiri setuju dengan apa yang Jongin katakan. Tapi, sebenarnya hal itu adalah salah satu hal yang Kyungsoo cintai dari Baekhyun.

"Jangan begitu. Itu sebenarnya kelebihan Baekhyun. Kau harus mendengarnya bernyanyi. Suaranya sangat indah dan merdu." Kyungsoo memuji sahabatnya.

"Oh ya? Aku jadi penasaran."

Hening lagi.

Kyungsoo menyeruput kopinya yang masih panas.

"Teman-temanmu memiliki suara yang indah. Apakah kau juga?" tanya Jongin.

"Teman-teman? Siapa saja? Maksudmu Kris dan Sehun juga?"

"Maksudku, Baekhyun dan Luhan."

Kyungsoo terdiam lagi. Ia tidak suka mendengar nama Luhan keluar dari mulut Jongin.

"Soo?"

"Kau pernah mendengar Luhan bernyanyi?" tanya Kyungsoo. ia jadi penasaran di mana Jongin mendengar suara Luhan.

"Ya. Jujur saja, aku sangat menyukai suara Luhan. Suaranyalah yang membuatku menyukainya dulu. Itu yang membuatku ingin menjadikannya sebagai kekasihku," Jongin menjelaskan. "Tetapi, Yixing Noona bilang, aku hanya sebatas kagum padanya. Yixing Noona bilang, cinta bukan perasaan yang semudah itu." Lanjut Jongin.

"Cinta memang bukan perasaan yang semudah itu. Terkadang, butuh waktu lama untuk menyadari bahwa kau sedang jatuh cinta. Tidak secepat itu." Kyungsoo menambahkan.

Jongin menatap Kyungsoo lama.

"Beritahu aku, Soo. Apakah kau memiliki suara yang indah, seperti Baekhyun dan Luhan?"

"Tidak, menurutku." Jawab Kyungsoo.

"Tetapi, bukannya kau anggota paduan suara?"

"Bukan berarti suaraku indah kan?"

"Entah kenapa aku tidak percaya." Jongin sedikit tertawa, lalu meminum kopinya yang sudah mulai dingin.

Kyungsoo hanya tersenyum kecil.

"Berjanjilah, suatu saat kau harus menyanyi untukku, Soo. Ketika kita sudah lebih dekat daripada ini." Jongin menatap Kyungsoo penuh arti.

Kyungsoo hanya bisa menunduk malu, lalu meminum kopinya.

Tentu saja Jongin masih bisa melihat dengan jelas pipi gadis itu yang merah merona.

0-0-0-0-0-0

Kurang lebih, sudah seminggu terlewati semenjak mereka pulang dari Gyeongju.

Tugas mereka sudah selesai. Dan, tahukah? Mereka mendapat nilai paling tinggi dari Cho Kyuhyun. Tentu saja, laporan mereka sangat lengkap. Gambar-gambarnya juga banyak.

Tapi itu bukan hal yang penting.

Semenjak kepulangan mereka dari Gyeongju, Jongin seolah berusaha mendekati Kyungsoo. Tidak secara terang-terangan. Entah bagaimana, ia begitu pandai membuatnya seolah-olah hanya kebetulan.

Setiap kali istirahat makan siang, Jongin selalu tidak mendapat tempat duduk. Pada akhirnya, ia akan berada pada satu meja yang sama dengan Kyungsoo, Baekhyun, Kris, Sehun, dan tentu saja Luhan.

Yixing memang jarang makan di kantin. Ingat kan, bahwa ia selalu meluangkan waktunya untuk menatap langit?

Mungkin, hanya Baekhyun yang sadar dengan tingkah laku Jongin yang mencurigakan akhir-akhir ini.

Mungkin juga tidak.

"Melakukan pendekatan secara tersirat, ya?" Kris menepuk pundak Jongin yang sedang berjalan di koridor. Hanya ada mereka berdua saat ini.

"Siapa?"

"Tentu saja kau, bodoh." Kris tertawa. Menurutnya hal ini sangatlah lucu.

Jongin hanya diam. Tak akan ada gunanya jika ia mengelak.

"Jadi, kau sudah berstatus single selama berapa lama sekarang?" tanya Kris.

"Entahlah. Tiga minggu mungkin?" Jongin mengira-ngira.

"Apakah itu termasuk lama?"

"Ya, biasanya hanya seminggu." Jongin mengakui tingkahnya yang suka bergonta-ganti kekasih itu.

"Apakah Kyungsoo penyebabnya?"

Jongin hanya menatap Kris tanpa berbicara apa-apa.

"Tentu saja Kyungsoo, bodohnya aku." Kris berucap. Lebih ke pada dirinya sendiri.

"Terserahmu saja lah, Hyung."

"Jika kau benar-benar menyukainya, katakan saja. Sepertinya Kyungsoo menyukaimu juga." Kris memberi saran.

"Ya, aku tahu hal itu. Terlihat sangat jelas."

"Lalu kenapa? Ayolah, Jongin. Jangan sakiti yeodongsaeng-ku."

"Aku tidak berniat menyakitinya. Lagipula, ia pasti tidak mengharapkan apa-apa dariku bukan? Ia terlalu polos untuk hal seperti itu." Jongin menarik kesimpulan.

"Tetapi kau telah menciumnya dua kali, Jongin. Dua kali." Kris memberi penekanan terhadap dua kata terakhirnya.

"Apakah aku ciuman pertamanya?"

"Bodoh. Tentu saja iya."

"Oh tidak. Ini akan menjadi sangat merepotkan." Jongin menghentikan langkahnya.

"Oleh karena itu, Kim Jongin. Aku mohon dengan sangat—" ucapan Kris terpotong.

"Iya, Hyung. Lihat saja nanti. Aku sendiri bingung dengan apa yang aku rasakan padanya. Biarkan aku memahami perasaanku sendiri." Ucap Jongin.

Kris menganggukan kepalanya. Setuju.

0-0-0-0-0-0

"Baekhyun, apakah kau sudah mengerti soal yang ini?" Daehyun menghampiri meja Baekhyun.

"Tidak. Sama sekali tidak. Kau tahu, aku ini tidak pintar seperti Kyungsoo. Jangan tanyakan hal ini padaku." Baekhyun merengut kesal.

"Aku hanya ingin menawarkan bantuan. Barangkali kau mau aku ajari? Aku bisa menjadi guru privatmu. Tanpa bayaran." Daehyun menawarkan jasanya.

"Kau yakin? Kau harus sangat bersabar bila mengajariku, Daehyun. Otakku ini sangat lemah bila sudah menyangkut matematika. Apalagi trigonometri." Jelas Baekhyun.

"Aku selalu bisa bersabar dalam segala hal, Baekhyun. Apalagi dalam menghadapi seseorang yang lemah dalam matematika." Daehyun menggodanya.

"Sialan kau! Ikhlas tidak sih, menawariku jasa sebagai guru privat?" Baekhyun mencibir.

Daehyun hanya terkekeh, lalu berkata, "jadi, mau belajar kapan? Ulangannya lusa. Apa kau sudah siap?"

"Tentu saja belum, bodoh."

"Kau baru saja meledek guru privatmu bodoh." Daehyun menginformasikan.

"Ya, maafkan aku Jung Songsaengnim."

Daehyun terbahak. Ah, gadis ini selalu berhasil membuat hatinya bahagia.

"Baiklah, Daehyun, bagaimana jika hari ini kau ke rumahku? Hari ini aku ada waktu luang. Besok tidak bisa, karena ada ekskul." Usul Baekhyun.

"Siap, muridku."

"Berhentilah menggodaku!"

Daehyun tertawa lagi.

Dari bangkunya, Zelo menatap sahabatnya itu. Ia dapat melihat dengan jelas tawa Daehyun, dan mimik muka Daehyun yang terlihat bahagia. Sangat berbeda dengan minggu lalu.

'Yah, semoga saja ia berhasil mendapatkan gadis itu.' Lelaki itu berdoa dalam hati. Jika sahabatnya senang, maka ia akan turut senang juga.

0-0-0-0-0-0

"Hai, Kyungsoo." Jongin menyapa Kyungsoo yang baru saja menutup pintu lokernya.

"Hai Jongin!" Kyungsoo membalas sapaannya dengan senyumannya yang, seperti biasa, manis.

"Apakah setelah ini kau ada kegiatan lain?" tanya Jongin.

"Tidak, sepertinya aku akan langsung pulang."

"Bolehkah aku mengajakmu ke suatu tempat?" Jongin menawarkan.

"Boleh," Kyungsoo menganggukan kepalanya berulang kali. Menggemaskan sekali gadis satu ini. "Memangnya mau ke mana?" Kyungsoo bertanya pada Jongin.

"Ke tempat yang paling aku sukai." Jongin tersenyum.

Kyungsoo terpana sejenak melihat senyuman Jongin yang lebar. Biasanya, Jongin hanya tersenyum kecil, atau menyeringai.

Lelaki ini memang sangat mempesona.

"Dan, di manakah tempat yang paling kau sukai?" Kyungsoo bertanya lagi.

"Sudahlah, jangan banyak bertanya. Ayo ikut aku!" Jongin menggandeng lengan Kyungsoo dan berjalan ke luar gedung sekolah, menuju tempat di mana ia memarkirkan motornya.

Jongin sudah siap di motornya, ia bahkan sudah menyalakan mesinnya.

"Ayo naik, Soo." Suruh Jongin.

Kyungsoo pun naik di boncengan motor Jongin.

Mereka pun berangkat. Dengan kecepatan tinggi, Jongin mengendarai sepeda motornya.

"Pelan-pelan Jongin!" teriak Kyungsoo. Jujur saja, ia tak begitu suka naik motor. Apalagi dalam kecepatan tinggi.

"Peluk saja aku jika kau takut!" kata Jongin. Ia sama sekali tidak menurunkan kecepatan motornya.

Pelan-pelan, Kyungsoo memegang seragam yang Jongin kenakan.

Jongin tidak ingin hanya dipegang saja oleh Kyungsoo. Ia ingin dipeluk. Bagaimana pun caranya, ia ingin dipeluk!

Lalu, muncul ide yang cemerlang di otak Jongin. Ia langsung mempercepat laju motornya. Membuat Kyungsoo terkejut, dan langsung memeluk Jongin, serta membenamkan kepalanya pada punggung lelaki itu.

Jongin tersenyum penuh kemenangan.

Ah, Do Kyungsoo. Kau benar-benar membuatku tertarik.

0-0-0-0-0-0

Kris berjalan menuju kelas Baekhyun. Ia ingin mengantar gadis itu pulang.

Sayangnya, ia melihat gadis itu sedang berjalan di koridor, bersama lelaki lain.

Jung Daehyun.

"Oppa!" Baekhyun menghampiri Kris.

"Hai. Kau mau ke mana?" Kris bertanya, sambil sesekali melirik ke arah Daehyun.

"Aku mau pulang. Aku pulang bersama Daehyun, ia akan menjadi guru privatku untuk ulangan trigonometri yang diadakan lusa." Baekhyun memberi tahu Kris.

"Ooh…" Kris mengangguk, mengerti.

"Oppa belum kenal Daehyun kan? Sebaiknya kalian berdua berkenalan. Daehyun, ini Kris Oppa, sahabatku. Kris Oppa, ini Daehyun, guru privatku." Baekhyun memperkenalkan mereka berdua.

Ada tekanan yang tidak enak di antara mereka. Hawa udara pun menjadi tidak enak.

"Salam kenal, Sunbae." Daehyun dan Kris berjabatan tangan.

"Ya, salam kenal juga." Kris membalasnya.

"Oppa, sudah dulu ya. Aku harus buru-buru. Nanti keburu sore, aku harus belajar dengan giat! Doakan aku ya Oppa. Semoga aku cepat menyerap pelajaran." Pamit Baekhyun.

"Ya, semangat Baekhyun!" Kris masih sanggup memberikan senyum terbaiknya untuk Baekhyun.

Baekhyun melambaikan tangannya pada Kris, dan mulai berjalan menjauhinya. Bersama Daehyun.

Kris sangat tidak suka akan hal ini.

0-0-0-0-0-0

"Selamat datang di tempat kesukaanku." Jongin membuka ruangan itu.

Kyungsoo terpana melihatnya. Mulutnya bahkan terbuka.

"Ini studio tari tempat aku biasa menghabiskan waktu."

Studio tari ini cukup besar. Seperti layaknya studio tari, terdapat cermin di sekeliling ruangan itu.

"Studio ini milikmu?"

"Bukan, ini tempat kursus-ku. Hari ini emang tidak ada jadwal. Jadi kosong dan tidak dipakai. Yang kursus di sini hanya sedikit. Tempat kursus ini hanya memiliki tujuh orang siswa. Termasuk aku dan Yixing Noona. Jadi, tempat ini sudah seperti milik kami." Jelas Jongin.

"Oooh…" Kyungso menganggukan kepalanya. Sepertinya, ia masih terpana melihat studio tari ini. Ia tidak bisa menari. Jadi, wajar saja jika ini adalah kunjungan pertamanya ke studio tari.

"Kau… apakah kau mau melihatku menari?" Jongin bertanya.

"Tentu saja!" Kyungsoo menjawab dengan semangat.

"Baiklah, tunggu sebentar." Jongin berjalan menghampiri music player yang ada di salah satu sudut ruangan dan mulai menyetelnya.

Nada-nada indah mulai mengalun di ruangan itu. Kyungsoo sendiri tidak tahu ini lagu apa. Tetapi, musiknya begitu megah.

Jongin mulai menggerakkan badannya, menari mengikuti irama nada-nada yang mengalun indah.

Jongin terlihat bebas, bersemangat, dan mengagumkan.

Kyungsoo jadi teringat ketika pertama kali ia mengagumi lelaki itu.

FLASHBACK

Sekitar enam bulan lalu, Kyungsoo sedang menemani sepupunya, Victoria, untuk menonton pertunjukkan dance. Victoria memang sangat suka dengan apapun yang berhubungan dengan tarian. Jadi, setiap ada pertunjukan dance apapun, Victoria akan selalu mengusahakan untuk dapat menghadirinya.

"Kali ini, pertunjukannya bertema apa, Eonni?" Tanya Kyungsoo ketika mereka sudah sampai di stadium tempat berlangsungnya pertunjukan dance kali ini.

"Entahlah, Kyung. Aku tidak tahu. Yang pasti, ada penari kesukaanku yang tampil di sini pada hari ini!" ucap Victoria sangat antusias.

"Oh ya? Siapa namanya?" Kyungsoo penasaran.

"Nama panggungnya Kai." Victoria menyebutkan nama penari itu dengan ekspresi yang berbinar-binar. Sepertinya ia sangat mengagumi orang yang bernama Kai itu.

Lampu diredupkan, menandakan bahwa pertunjukan akan segera dimulai. Musik mulai bermain, dan seseorang telah berdiri di atas panggung.

"Kyungsoo, lihat penari ini. Ia prempuan, tetapi gerakannya sangat bertenaga. Namanya Lay." Victoria menunjuk-nunjuk penari yang sedang berdiri di atas panggung itu.

Ia sepertinya mengenal penari itu.

Kyungsoo terus menerus memperhatikan Lay. Wajah dan tubuhnya terasa sangat familiar bagi Kyungsoo.

Lama kelamaan, Kyungsoo makin mengenal si penari itu. Dan akhirnya, ia teringat wajah seseorang.

Zhang Yixing. Tak salah lagi.

"Eonni, apakah nama asli Lay adalah Zhang Yixing?" Kyungsoo memastikan perkiraannya pada Victoria.

"Iya, kau tahu darimana, Kyungie?"

"Ia satu sekolah denganku Eonni! Tetapi beda tingkat, ia satu tingkat di atasku, satu angkatan dengan Kris Oppa." Jelas Kyungsoo pada Victoria.

"OMO! Benarkah? Berarti kau satu sekolah juga dengan Kai!" Victoria berteriak senang.

"Kai?" Kyungsoo mengerutkan dahinya.

"ITU KAI!" Victoria berteriak sambil menunjuk penari yang baru saja bergabung dengan Lay.

Kyungsoo melihat orang itu, dan matanya melebar.

Tentu saja ia tahu orang itu. Kai adalah teman sekelasnya.

"Kim Jongin…?" gumam Kyungsoo.

"Iya Kyung! Kai itu Kim Jongin! Kau mengenalnya?"

"Jongin… ia teman sekelasku, Eonni." Kyungsoo menatap Kai yang sedang menari dengan indah di atas panggung.

Kyungsoo tak mendengar apa yang Victoria katakan selanjutnya. Ia sudah tenggelam pada penampilan Kai.

Kai sangat berbeda dengan Kim Jongin. Kai sangat bersemangat. Sementara Jongin pemalas. Tidak bersemangat sama sekali.

Lihatlah Kai yang ada di panggung sekarang. Gerakannya yang mulus, tubuhnya yang bergerak lincah, dan tariannya yang bernyawa. Kyungsoo yakin, walaupun tanpa musik, pasti tarian Kai akan tetap memiliki nyawa.

Terlihat dengan jelas, bahwa Kai sangat menyukai apa yang sedang ia lakukan sekarang. Menari adalah jiwanya. Ia memang dilahirkan untuk menari.

Kyungsoo terpana melihatnya. Ia tak pernah tertarik pada sesuatu yang berhubungan dengan tarian. Tapi Kai berhasil menarik perhatiannya.

Kyungsoo rasa, ia jatuh cinta untuk pertama kalinya. Pada Kai dan tariannya. Tentu saja bukan pada Kim Jongin yang berantakan itu.

FLASHBACK END

Kyungsoo lagi-lagi terpesona dengan tarian Jongin yang sempurna.

Kali ini, Kyungsoo yakin, ia bukan saja hanya menyukai Kai. Tetapi ia menyukai Kim Jongin. Kim Jongin seutuhnya.

Perlakuan Jongin akhir-akhir ini tentu saja membuat Kyungsoo menyukainya lebih dan lebih dalam lagi.

"Hey, tarianku sudah selesai. Jangan melamun terus." Jongin terduduk di sebelah Kyungsoo sambil meminum air mineral.

"Tarianmu benar-benar indah." Puji Kyungsoo tulus.

"Terima kasih." Jongin tersenyum lebar. Lagi.

Sudah dua kali hari ini. Ya Tuhan. Betapa mempesonanya senyuman makhluk ciptaanmu yang satu ini.

"Soo, bagaimana jika kau ikut menari bersamaku? Di sini? Mau kan?" tawar Jongin.

"Yang benar saja? Kemampuanku menari itu nol persen, Jongin. Aku hanya akan mempermalukan diriku sendiri." Kyungsoo menolaknya.

"Ayolah… Hanya ada aku di sini. Kau tak perlu malu." Jongin membujuk gadis itu.

"Ti-dak." Jawab Kyungsoo tegas.

"Pleaseee?" Jongin menatap Kyungsoo dengan pandangan memohon. Sungguh, Jongin ingin merasakan bagaimana rasanya menari dengan gadis satu ini.

Kyungsoo tak bisa mempertahankan ketangguhannya lagi. "Baiklah, satu kali saja, oke?"

Jongin bangun dari duduknya dan menarik tangan Kyungsoo untuk membantunya berdiri.

"Kau mau lagu apa?" tanya Jongin.

"Kau saja yang pilih. Aku tidak tahu lagu yang pas untuk menari."

Jongin mengangguk dan cepat-cepat menuju music player.

Lagu dengan nada romantis pun langsung memenuhi ruangan.

Kyungsoo terkejut dengan lagu yang Jongin pilih.

"Ayo, Soo. Jangan malu-malu, oke? Hanya ada aku di sini." Jongin berbisik pada telinga Kyungsoo, dan mulai memeluk pinggang gadis itu. Menuntunnya menari.

Kyungsoo hanya bisa diam.

"Taruh tanganmu di pundakku." Jongin meraih sebelah tangan Kyungsoo, dan menaruhnya di pundaknya.

Lalu, menggenggam satu tangannya lagi. Dan mulai menggerakan badan mereka berdua.

Kyungsoo tidak tahu apa yang sebenarnya sedang ia lakukan. Tak pernah terpikir dalam benaknya bahwa ia akan berada di dalam studio ini, berada di pelukan Jongin, sambil menari bersamanya.

Pelan-pelan, Jongin menuntunnya untuk menari.

Selama mereka menari, tidak ada salah satu dari mereka yang melepaskan pandangan dari satu sama lain. Hal itu memperkuat koneksi batin mereka.

Jongin seolah tahu apa yang sedang Kyungsoo rasakan. Karena, sungguh, ia merasakannya juga.

Lagu berakhir. Ruangan itu hening. Kyungsoo masih berada di pelukan Jongin.

Mereka masih saling bertatapan.

"Jongin, aku—"

"Sssh," Jongin menaruh jari telunjuknya pada bibir Kyungsoo.

Seolah mengerti, Kyungsoo memejamkan matanya.

Ya, Jongin memang hendak mencium Kyungsoo, untuk yang ketiga kalinya.

"ASTAGA! KIM JONGIN APA YANG SEDANG KAU LAKUKAN?" teriak seseorang yang baru saja membuka pintu ruang studio.

Jongin mendecih kesal. Tinggal sedikit lagi, ia sudah hampir dapat merasakan kehangatan bibir Kyungsoo. Tapi gagal.

Kyungsoo langsung menutup kedua matanya malu. Jika Baekhyun yang memergokinya, ia tidak akan semalu ini, karena ia sudah sangat dekat dengan Baekhyun. Tetapi kali ini? Kasusnya berbeda.

"Noona, untuk apa kau ke sini?" Jongin menyiratkan nada tidak suka.

"Tidak usah marah begitu, Jongin. Biasanya juga aku selalu kesini." Kata prempuan itu, yang ternyata adalah Yixing.

"Setidaknya jangan langsung masuk. Ketuk pintu dulu." Jongin menjawab ketus.

"Untuk apa aku mengetuk pintu studio tari?" Yixing membalikkan keadaan.

Sial. Jongin tidak bisa menjawab apa-apa lagi.

"Hai, kau Do Kyungsoo kan?" sapa Yixing ramah.

"I-iya, Yixing Sunbae." Kyungsoo menjawabnya dengan terbata-bata. Maklum, ia masih malu perihal kejadian tadi.

"Tidak usah malu seperti itu, Kyungie. Dan, panggil aku Eonni saja. Aku tidak suka dipanggil Sunbae. Kaku sekali." Suruh Yixing.

Kyungsoo hanya menganggukan kepalanya pelan.

"Aigoo, kau manis sekali. Tidak heran Jongin meninggalkan kebiasaannya bergonta-ganti pasangan karena dirimu." Yixing mencubit gemas pipi Kyungsoo yang gembil.

Jongin menatap Yixing tajam.

Kyungsoo terhenyak mendengar perkataan Yixing. Benar juga, Jongin belum berpacara lagi, dan ini sudah lebih dari seminggu. Tidak biasanya.

'Ah tidak. Aku tidak boleh berharap apapun padanya.' Kyungsoo menampik dalam hati.

"Sudah sore, Soo. Aku akan mengantarmu pulang sekarang." Jongin menarik Kyungsoo dari genggaman Yixing.

"Huh, dasar anak kecil. Digoda sedikit saja marah." Yixing mengomentari sifat Jongin yang sudah menghilang dari pandangan.

0-0-0-0-0-0

"Terimakasih sudah mengantarku sampai rumah, Jongin." Kata Kyungsoo ketika mereka sudah sampai di kediaman Do.

"Sama-sama, Soo." Jawabnya.

"Ehm… Baiklah, kurasa, aku akan masuk ke dalam sekarang. Hati-hati di jalan ya." Kyungsoo melambaikan tangannya pelan.

"Ya, kau masuk saja dulu. Aku akan menunggumu sampai kau selamat masuk ke dalam rumah." Kata Jongin yang masih terdiam di motornya.

Kyungsoo mengangguk dan membuka pintu pagar rumahnya, lalu berjalan masuk.

Jongin memperhatikan Kyungsoo dari belakang. Hanya dilihat dari belakang saja, gadis itu sudah terlihat cantik dan menggemaskan. Batin Jongin.

Mungkinkah Jongin benar-benar menyukai Kyungsoo?

0-0-0-0-0-0

"Daehyun! Terimakasih banyak! Berkat dirimu, aku dapat mengerjakan ulangan tadi dengan sangaaat lancar tanpa hambatan." Setelah ulangan selesai, Baekhyun langsung menghampiri Daehyun untuk berterimakasih.

"Sama-sama. Kau itu memang pada dasarnya pintar, hanya saja gampang menyerah. Kau selalu bilang semua hal yang berhubungan dengan matematika susah. Padahal sebenarnya kau bisa." Kata Daehyun.

"Ah, bisa saja. Ini semua gara-gara kau yang pintar mengajariku. Omong-omong, aku tidak enak nih, tidak membayarmu apa-apa sebagai gantinya. Kau mau apa sebagai gantinya?" tanya Baekhyun.

"Tidak usah, aku ikhlas mengajarimu. Tak usah diganti segala."

"Tidak bisa begitu!"

"Hmmm, jika kau memaksa, ya sudah. Bagaimana kalau kau mentraktirku sepulang sekolah? Kita makan siang bersama." Daehyun akhirnya mengusulkan ide itu pada Baekhyun.

"Oke! Dasar rakus, pikiranmu itu makanan terus ya." Baekhyun meledek temannya itu.

"Biar saja, tanpa makanan kau tidak bisa hidup." Daehyun menjulurkan lidahnya.

Baekhyun balas menjulurkan lidahnya.

"Kalian sedang apa sih?" Sehun yang sedari tadi ada di situ menatap kedua temannya bosan.

"Tidak ada apa-apa Sehun." Jawab Baekhyun.

"Kau pikir dengan menjulurkan lidah seperti itu kau tambah cantik? Malah semakin jelek, tau!" Sehun meledek Baekhyun.

Daehyun tertawa terbahak-bahak mendengarnya, "aku setuju denganmu Sehun!"

"Sekarang kau sudah resmi menjadi temanku, Daehyun. Baguslah, kita bisa meledek Baekhyun sepuas hati kita. Aku senang, akhirnya aku punya teman." Sehun tersenyum jahil.

"Hai Baekhyun, Sehun! Ah, dan kau juga Daehyun." Sapa Kris yang baru saja memasuki kelas mereka. Ia ingin mengajak teman-temannya ke kantin bersama.

"Hai Oppa!" mata Baekhyun berbinar-binar ketika melihat Kris.

"Hai. Kyungsoo di mana?" tanya Kris yang tidak melihat keberadaan Kyungsoo di situ.

"Tadi Kyungsoo ke toilet Hyung." Jawab Sehun.

"Kau ke sini hanya untuk mencari Kyungsoo ya, Oppa?" tanya Baekhyun sedikit khawatir.

Sehun menatap Baekhyun dengan pandangan penuh arti. Sepertinya gadis itu hanya ingin ia yang ada di mata Kris. Terlalu jelas.

'Oh, tunggu dulu. Apa itu yang ada dalam sorot mata Daehyun? Kenapa aku melihat seolah dirinya sedang terluka?' Sehun memperhatikan Daehyun.

"Tidak, aku ingin mengajak kalian makan ke kantin." Jawab Kris.

"Oh, kalau begitu, ayo! Aku lapar!" Baekhyun langsung menarik-narik tangan Kris dengan semangat.

"Sabar sedikit, Baek. Sehun, kau mau ke kantin?" Kris bertanya pada Sehun.

"Tidak, kau ke kantin saja sana. Aku sedang tidak ingin makan."

"Baiklah."

"Sehun, Daehyun, aku ke kantin dulu yaa!" Pamit Baekhyun.

"Ya…" jawab Daehyun.

Daehyun terus memandangi kepergian Baekhyun dan Kris. Bahkan, setelah mereka berdua menghilang dari balik pintu, ia masih terus memandangi pintu kelas.

Sehun sedari tadi memperhatikan tingkah laku Daehyun.

Hmmm, sepertinya Sehun dapat menyimpulkan sesuatu.

TBC.

a/n: halo lagi! Terimakasih banyak untuk yang sudah review! Semoga puas dengan chapter ini yaa ^^

Karena banyak yang minta KrisBaek, aku banyakin nih KrisBaek-nya. Udah banyak belum? Kalau belum, tenang aja, chapter depan banyak banget lho KrisBaeknya hihi.

Ada yang mau request HunHan? Atau Kaisoo moment lagi? Kira-kira mau yang kayak gimana?

Kalau mau ngasih saran atau kritik bisa langsung review aja. Satu review dari kalian, berarti banyak banget buat aku :D

Sekali lagi, makasih yah buat yang udah baca. Tapi usahain review juga ya hehehe :3 :3 paypay salam kaisoo!

-Tatiana12.