PRANG!
Terdengar lagi suara beling yang pecah. Entah sudah berapa kali malam ini. Aku menutup telingaku dengan bantal. Sebisa mungkin, aku tidak ingin mendengar kedua orangtuaku bertengkar.
"Kau itu egois! Kau bebas bermain bersama wanita-wanita simpananmu! Sementara aku, hanya makan siang bersama teman lamaku saja kau berontak!" Yuri, wanita itu, ibuku, menangis histeris.
"Aku tahu ia bukan hanya temanmu, Yuri. Kau menyimpan sesuatu yang lebih padanya kan?!" Siwon, ayahku, membentak ibuku semakin keras.
"Aku bersumpah ia hanya temanku! Aku tidak pernah melakukan hal apapun dengan pria lain, Siwon. Tidak sepertimu! Aku tahu kau memiliki banyak wanita simpanan! Kau egois! Egois Siwon! Kau menyakiti hatiku!" perih. Itulah yang dapat didengar dari tangisan dan perkataan ibuku.
Aku rasanya ingin menangis mendengar tangisan ibuku sendiri, wanita yang telah melahirkan dan membesarkanku selama ini. Aku benar-benar tidak tega. Rasanya ingin kabur, tetapi apa daya, umurku baru 14 tahun. Mau kabur bagaimana? Masih terlalu kecil. Tidak punya SIM, tidak punya kendaraan. Belum lagi, sekarang sudah larut malam.
"Aku tidak peduli lagi dengan urusan hati, Yuri. Kita sudah dewasa, bukan saatnya lagi memikirkan masalah hati! Cih, kau seperti remaja saja." ayahku mengeluarkan kata-kata yang pedas.
"Kau memang tidak pernah mencintaiku, Siwon." Ibuku berkata lirih.
PLAK!
Suara tamparan terdengar. Disusul suara tangisan ibuku yang menggores hati siapapun yang mendengarnya.
Aku mulai menangis. Aku terisak, dan berusaha meredam tangisanku dengan bantal. Memang memalukan mengingat bahwa aku adalah seorang laki-laki. Tetapi ini sangat menyakitkan. Ibuku, wanita yang paling kusayangi, disakiti oleh ayahku sendiri. Mengapa ayahku sejahat ini pada istrinya? Bukankah mereka saling mencintai?
"Appa! Sudah hentikan!" Aku mendengar suara Kim Joonmyun, kakakku, sepertinya Joonmyun Hyung berusaha menenangkan suasana. Aku ingin keluar juga, memeluk ibuku. Tetapi aku belum siap melihat keadaan ruang keluarga yang kacau. Barang yang pecah, serta wajah ibuku yang terluka dan penuh tangisan. Aku tidak mau melihatnya. Mendengarnya saja hatiku sudah remuk.
"Kau tidak mengerti apa-apa tentang hal ini, Joonmyun-ah! Jangan sok tahu! Kembali ke kamarmu dan tidur!" kali ini, ayahku membentak kakakku.
"Bagaimana aku bisa tidur sementara kalian bertengkar terus? Pertengkaran kalian sangat mengganggu! Bagaimana jika Jongin mendengar pertengkaran kalian? Ia masih kecil, kalian bisa-bisa merubah pandangannya terhadap keluarga! Ia bisa-bisa berpikir bahwa tidak ada hal yang membuat keluarga sebagai sebuah rumah untuk pulang." Aku mendengar kakakku mengeluarkan segalanya yang ia simpan dalam hati. Lalu kudengar suara ibuku yang semakin terisak. Isakannya memang pelan, tetapi sakit sekali mendengarnya.
"Kau pikir kau sudah dewasa sehingga dapat menasehatiku seperti ini, Joonmyun-ah? Umurmu bahkan baru 16 tahun! Belum dewasa! Berani sekali kau menasehati ayahmu sendiri!" ayahku membentak kakakku lagi.
"Appa tidak mengerti perasaan kami berdua! Kami takut! Aku tidak menemukan kehangatan, apalagi kebahagiaan dalam keluarga ini, Appa! Untuk apa mempunyai harta jika keluarga kita isinya kosong? Dingin?" benteng yang Joonmyun Hyung bangun sepertinya sudah runtuh.
PLAK!
Terdengar tamparan lagi. Kali ini, ibuku menangis sangat kencang. Ya, kali ini Joonmyun Hyung yang terkena tamparan ayahku.
Apa itu cinta? Tidak ada cinta. Di dunia ini hanya ada nafsu. Lihat ayahku. Jika memang cinta itu ada, ia tidak mungkin menampar istri dan anaknya begitu saja kan?
Ya, cinta memang tidak ada. Aku bahkan tidak mencintai ayahku sendiri.
Your Smile.
A Kaisoo Fanfiction.
I don't own anything but the storyline.
Genderswitch.
Don't like don't read. As simple as that.
Jongin terbangun dari tidurnya. Lagi-lagi, ia memimpikan hal itu.
"Aku benci pagi ini." Gumam Jongin.
Jongin masih teringat kejadian apa yang menimpa keluarganya setelah itu. Orangtuanya tidak bercerai, tetapi Siwon jarang pulang ke rumah. Ia lebih senang menghabiskan waktunya di kantor, mengurus perusahaannya. Ia tidak peduli lagi terhadap keluarganya sendiri.
Yuri, ibunya, menangis setiap malam. Membuat Jongin dan Joonmyun selalu menemaninya dan memeluknya sampai ibunya tertidur pulas, dan melupakan ayahnya yang tak kunjung pulang.
Keadaan itu berlangsung selama satu tahun. Siwon akhirnya memutuskan untuk bercerai.
Orangtua Jongin bercerai pada saat ia berumur 15 tahun. Sungguh bukan waktu yang tepat. Jongin belum sedewasa Joonmyun yang dapat mengerti keadaan, tetapi bukan anak kecil yang samasekali tidak mengerti apa-apa.
Semua hal yang terjadi pada keluarganya mengubah pandangannya terhadap sebuah kata, yaitu cinta. Ia tidak lagi percaya pada apapun yang berhubungan dengan cinta. Cinta itu omong kosong.
Jika memang cinta ada, orangtuanya tidak akan berpisah. Jika memang cinta ada, ibunya akan membawanya pergi juga kan? Mengapa ibunya hanya membawa Joonmyun? Mengapa Jongin tidak dibawa juga? Mengapa ibunya membiarkan Jongin tinggal bersama ayahnya? Jongin samasekali tidak mencintai ayahnya, seharusnya ibunya tahu hal itu.
Awalnya, Jongin hanya tidak mencintai ayahnya. Tetapi sekarang, ia juga tidak mencintai ibunya. Hatinya memberontak. Ia sangat mencintai ibunya. Mengapa ibunya tidak memilih Jongin untuk dibawa bersamanya? Mengapa Jongin harus ikut tinggal bersama ayahnya?
Semenjak itu, Jongin membenci keluarganya. Benar-benar benci. Ia tidak ingin ada orang yang menyebut-nyebut nama ibunya dan kakaknya. Bagi Jongin, mereka berdua sudah lenyap.
0-0-0-0-0-0
"Baekhyun, ke mana kau kemarin sepulang sekolah?" Kris menghampiri Baekhyun ke kelas gadis itu.
"Oh, kemarin aku pergi ke ke kedai kue di ujung komplek dengan Daehyun. Oppa mencariku?" tanya Baekhyun.
"Dengan Daehyun? Untuk apa?"Kris bertanya lagi tanpa menjawab pertanyaan Baekhyun sebelumnya.
"Untuk makan dan minum. Untuk apalagi memangnya?" Baekhyun tertawa mendengar pertanyaan Kris yang menurutnya konyol.
"Maksudku, mengapa kau pergi ke kedai itu bersama Daehyun? Kenapa tidak denganku saja?" Kris bertanya dengan nada yang tidak suka. Namun lagi-lagi Baekhyun tidak peka.
"Ooh, aku mentraktirnya makan siang karena ia telah mengajariku matematika. Kemarin Daehyun menyuruhku untuk mencoba cheese cake yang dijual di sana, ia bilang rasanya enak sekali. Dan kau harus tahu Oppa, rasanya memang sangat enak! Nanti kita harus pergi ke sana bersama Kyungsoo dan Sehun!" Baekhyun berbicara dengan semangat yang penuh.
Kris tidak akan pernah bisa memarahi dan memaki gadis yang ada di hadapannya saat ini. Apalagi, jika ia harus memakinya demi ego nya yang merasa memiliki Baekhyun. Lelaki itu tidak akan tega.
"Ya… tentu saja kapan-kapan kita akan ke sana." Kris memaksakan senyumnya.
0-0-0-0-0-0
"Jongin."
"Hai Hyung, ada apa? Tumben sekali." Jongin sedikit kaget saat mendapati Kris yang menghampirinya di pinggir lapangan basket.
"Apakah kau memperhatikan Baekhyun dan Daehyun bila sedang di kelas?" Kris bertanya pada Jongin dengan pandangan penasaran.
"Tidak. Untuk apa aku memperhatikan mereka berdua?"
"Untukku. Mulai sekarang, tolong perhatikan mereka berdua untukku." Kris menatapnya. Kali ini dengan pandangan memohon.
Jongin tertawa mendengar permintaan Kris, yang sangat konyol.
"Mengapa menertawakanku?" Suara Kris melambangkan nada tidak suka.
"Kau cemburu? Pada Daehyun?" Jongin bertanya di sela-sela tawanya.
"Bukan cemburu. Aku hanya takut Daehyun berbuat hal yang tidak-tidak terhadap Baekhyun."
"Hyung, Daehyun itu salah satu murid paling pintar di angkatanku. Ia tidak akan berbuat yang tidak-tidak pada gadismu itu." Jongin tertawa lagi.
"Tetap saja…" Kris menatap ke depan dengan pandangan kosong.
Jongin tidak tega melihat temannya putus asa seperti itu, "baiklah, aku akan memperhatikan mereka berdua untukmu." Kata Jongin pada akhirnya.
Raut muka Kris seketika berubah menjadi lebih senang dari sebelumnya, "terimakasih Jongin. Ternyata kau memang anak yang baik."
Jongin mengangkat kedua bahunya.
"Hyung, mulai besok aku akan mencoba agar dapat duduk sebangku dengan Kyungsoo." Jongin tiba-tiba mengutarakan rencananya.
"Oh? Kau sudah mau mendekatinya secara terang-terangan?"
"Ya. Aku sebenarnya masih belum tahu apa yang sebenarnya aku rasakan padanya. Tapi, kurasa lebih baik jika aku mendekatinya dulu. Agar perasaanku dapat terungkap lebih jelas."
"Baguslah. Asal jangan sakiti Kyungsoo. Gadis itu terlalu rapuh dan lembut." Kris menepuk pundak Jongin.
"Akan kuusahakan."
0-0-0-0-0-0
"Boleh aku duduk di sini?" Jongin menempatkan tas nya di bangku sebelah Kyungsoo. Hari masih pagi sekali, di kelas baru hanya ada mereka berdua. Tentu saja kita tahu apa yang membuat Jongin datang ke sekolah sepagi ini. Ya, ingin duduk bersama Kyungsoo.
Kyungsoo mengalihkan pandangannya dari novel yang ia baca, dan tersenyum ketika mendapati Jongin yang sedang berbicara padanya.
"Baekhyun duduk di mana jika kau menempati tempatnya?" Kyungsoo sebenarnya ingin duduk dengan Jongin, tetapi bagaimana dengan Baekhyun?
"Biar saja ia uduk dengan orang lain. Ayolah, Soo. Aku harus duduk dengan orang yang pintar. Aku sudah melewatkan banyak pelajaran. Kau mau kan mengajariku? Aku harus duduk bersamamu."
Kyungsoo berpikir sejenak, "baiklah. Lagipula, Baekhyun bisa duduk dengan Sehun."
Jongin tersenyum senang dan langsung duduk di bangku sebelah Kyungsoo.
"Kau baca novel apa?" tanya Jongin.
"Looking for Alaska." Jawab Kyungsoo sambil menunjukkan cover depan novelnya.
"Oh, karangan John Green." Jongin berkata seolah ia sudah sangat tahu siapa John Green itu.
"Iya! Aku sangat sangat suka semua buku karangan John Green. Ini sudah ke lima kalinya aku membaca Looking for Alaska. Kau suka membaca novelnya juga?" Kyungsoo bertanya dengan antusias.
Jongin terdiam. Sebenarnya ia tidak suka membaca, sama sekali tidak. Ia hanya sering mendengar nama John Green karena Yixing yang cerewet sekali menceritakannya tentang novel-novel John Green.
"Ya, aku tahu. Aku sudah baca The Fault In Our Stars." Jongin menyebutkan salah satu karya John Green yang terkenal. Berterimakasihlah pada Yixing yang telah menceritakanmu tentang novel-novel John Green, Kim Jongin.
"Benarkah? Aku tidak menyangka ternyata kau tipe orang yang suka membaca!" Kyungsoo tersenyum lebar. Ia senang sekali, ternyata Jongin sudah membaca novel yang sangat ia suka.
"Ya begitulah…" Jongin jadi kikuk.
"Lalu, bagaimana pendapatmu tentang Hazel Grace?" Kyungsoo bertanya dengan semangat. Gadis itu menanyakan tentang tokoh utama di novel The Fault In Our Stars.
"Ia…" Jongin memikirkan lagi cerita-cerita yang Yixing sering dongengkan padanya. Sial ia tidak ingat. Tetapi, ia ingat cerita yang baru-baru ini Yixing ceritakan. Tentang seorang gadis yang mempunyai penyakit kanker thyroid. Apakah yang itu?
Akhirnya Jongin memutuskan untuk asal sebut saja, "ia sangat kuat. Hazel Grace adalah gadis yang kuat."
"Benar! Ia memang sungguh kuat. Aku kagum pada sosoknya." Kyungsoo memuji sosok Hazel Grace lagi.
Jongin mengangguk-anggukan kepalanya, sok mengerti.
Sepertinya Jongin harus segera membaca buku-buku karangan John Green. Terutama, The Fault In Our Stars.
"Jongin?! Mengapa kau duduk di tempatku?" Baekhyun yang baru datang terkejut mendapati bangkunya sudah terisi orang lain.
"Aku ingin duduk dengan Kyungsoo. Aku ingin mengejar materi yang ketinggalan, Baekhyun. Selama ini kan, aku sering ketiduran di kelas." Jongin membuat alasan.
Baekhyun sepertinya tahu apa yang sedang terjadi di sini, ia menyunggingkan senyum sok tahunya pada Jongin, dan berkata, "Oh begitu ya? Baiklah, kau boleh duduk di tempatku. Tapi aku duduk di mana?!"
"Duduk bersamaku saja, Baekhyun!" Daehyun yang berada di bangku jajaran paling depan, melambaikan tangannya.
"Hei, lalu aku duduk di mana?" Junhong, yang berada di sebelahnya berbisik pada Daehyun.
"Kau pindah dulu ya, Junhong? Please? Ini adalah kesempatanku, kumohon." Daehyun mengeluarkan muka memelasnya yang membuat Junhong, sahabatnya, tidak tega.
"Kau berhutang padaku." Junhong mengangkat tasnya dan pindah tempat duduk.
"Kau memang sahabatku yang terbaik." Daehyun memuji Junhong.
"Daehyun? Boleh aku duduk di sini?" Baekhyun datang ke tempat duduk Daehyun.
"Boleh. Kebetulan Junhong sedang malas duduk di depan." Kata Daehyun.
Baekhyun menoleh ke arah Junhong yang posisinya ada di barisan paling belakang.
"Kau duduk saja di situ, aku sedang tidak mood belajar hari ini." Junhong mendukung perkataan Daehyun.
"Terima kasih Junhong!" seru Baekhyun. Akhirnya, ia pun duduk di sebelah Daehyun yang tersenyum sangat lebar.
Kyungsoo menatap mereka dengan pandangan yang sulit diartikan, "sudah kukira." Gumamnya pelan.
Jongin yang memperhatikan mereka, diam-diam bergumam juga, "Kris Hyung tidak akan suka ini."
0-0-0-0-0-0
"Ini novelnya, Jongin. Jangan sampai hilang!" Keesokan harinya, Yixing memberikan Jongin novel John Green, The Fault In Our Stars.
"Iya, tidak akan hilang kok."
"Kau yakin mau membacanya? Memangnya bahasa inggrismu sudah cukup bagus?" Yixing tertawa meremehkan.
"Kau tidak tahu saja, bahasa inggrisku ini bagus sekali, Noona. Aku pasti akan segera menamatkan novel ini hanya dalam waktu satu hari."
"Oh ya?"
"Iya!"
Yixing tertawa. Kim Jongin. Orang ini sangat berbeda dengan kakaknya. Jongin kekanakkan, walau kadang bisa dewasa. Tapi, tetap saja berbeda dengan Kim Joonmyun.
"Jongin," Yixing hendak bertanya sesuatu.
"Apa?"
"Apakah kau sudah mendengar kabar tentang—"
"Jika kau ingin membicarakan tentang kakakku, lebih baik jangan dilanjutkan, Noona. Aku pergi dulu." Mood Jongin langsung berubah seketika. Ia meninggalkan Yixing sendirian.
Yixing terdiam, seharusnya ia tidak membawa masalah Joonmyun lagi di hadapan Jongin. Tapi ia sangat rindu pada lelaki itu. Ke mana lagi ia harus mencari?
Jongin pulang ke rumahnya.
Ia langsung membaca novel yang Yixing baru saja pinjamkan kepadanya.
Jongin ternyata adalah pembaca yang cepat. Baru saja 2 jam, ia sudah mencapai chapter 12.
"Mereka berciuman di museum juga?!" Jongin membaca paragraf di novel itu dengan kaget. Matanya membesar. Untung saja ia sedang berada di kamarnya, jadi tidak ada yang mendengar ia berteriak dengan norak seperti tadi.
"Wah, orang ini mencuri ideku ya?" Jongin terkekeh geli.
"Aku tidak menyangka, ternyata yang berciuman di museum bukan hanya aku saja." Jongin terkekeh sekali lagi.
"Berarti otakku sama jeniusnya dengan John Green. Berciuman di museum memang ide yang bagus." Jongin tertawa sangat keras kali ini.
"Jongin?" pintu kamar Jongin diketuk oleh seseorang.
Jongin hafal betul suara itu. Suara Kim Siwon, ayahnya. Tumben sekali ayahnya sudah berada di rumah sore-sore begini.
"Ya?" Jongin menjawabnya ketus.
"Boleh Appa masuk?"
"Buka saja, pintunya tidak dikunci."
"Appa dengar kau tertawa," Siwon masuk ke kamar Jongin dengan senyum yang mengembang. Sudah lama sekali ia tidak mendengar suara tawa anak bungsunya itu.
"Kenapa? Aku tidak boleh tertawa?" Jongin bertanya ketus. Nada bicaranya memang selalu seperti ini jika dengan ayahnya.
"Sebenarnya ada apa denganmu, Jongin? Appa selalu berusaha untuk membuat kita rukun layaknya ayah dan anak seperti dulu, tetapi kau tidak pernah bersikap hangat pada Appa." Siwon berkata pada Jongin. Nadanya sendu.
Jongin hanya diam, dan melanjutkan membaca novelnya. Sebenarnya ia hanya pura-pura membaca. Mana bisa ia membaca novel dengan keadaan seperti ini, dan dengan adanya Siwon di dekatnya? Sungguh tidak nyaman.
Siwon mendesah pelan. Sungguh berat menangani anaknya ini. Ia lebih memilih untuk bertemu dengan klien-klien dan bekerjasama dengan mereka dibanding dengan menghadapi Jongin. Karena anaknya ini sangat susah dimengerti.
Oleh karena itulah, Siwon jarang berada di rumah. Menurutnya, menangani klien-klien jauh lebih mudah dibanding menangani anak lelakinya yang keras kepala. Siwon paham betul apa yang diinginkan klien-kliennya. Sementara Jongin, Siwon tidak tahu lagi harus melakukan apa.
"Jongin, kau harus tahu, aku merindukanmu. Aku ingin memiliki hubungan Appa dan anak yang rukun dan hangat, Jongin," katanya dengan suara yang masih terdengar sedih.
"Keluarga kita hanya terdiri olehku dan juga kau, Jongin. Aku harap kau mau membuka dirimu denganku. Aku sebenarnya sangat iri dengan teman-temanku yang memiliki hubungan baik dengan anak-anaknya." Lanjut Siwon lagi.
Jongin terus terdiam sambil berpura-pura membaca novel yang ada di genggamannya.
"Aku ingin menjadi seperti ayah pada umumnya. Aku selalu ingin tahu, apa kegiatanmu di sekolah akhir-akhir ini? Siapa gadis yang kau kencani? Pelajaran apa yang menurutmu sulit?" Siwon berkata dengan suaranya yang lirih, "tetapi kau tidak pernah mau berbicara denganku lagi. Kau hanya mengucapkan hal yang penting-penting saja padaku." Siwon melanjutkan.
Tangan Jongin bergetar pelan.
"Aku menyayangimu Jongin." Siwon menyelesaikan ucapannya, dan pergi ke luar kamar Jongin, lalu menutup pintunya pelan.
Siwon tidak akan pernah tahu, bahwa mata anak lelakinya sudah meneteskan bulir-bulir airmata.
0-0-0-0-0-0
"Omong-omong, kau ingat saat kita berciuman di museum waktu itu?" Jongin tiba-tiba bertanya pada Kyungsoo. Saat ini sedang pelajaran kosong, orang-orang kebanyakan berhamburan ke kantin. Sehingga, tinggal tersisa Kyungsoo dan Jongin di kelas.
Wajah Kyungsoo seketika memerah.
Jongin menyeringai melihat rona merah itu.
"Kau ingat kan?" tanya Jongin lagi, dengan seringainya.
Kyungsoo sepertinya tak sanggup lagi untuk bicara, ia hanya menganggukkan kepalanya.
"Menurutmu, dari mana aku mendapatkan inspirasi untuk menciummu di situ?" Jongin ingin bermain tebak-tebakan rupanya.
"The Fault In Our Stars?" jawab Kyungsoo yakin.
"Yup! Benar!" Jongin tertawa senang.
"Aku suka adegan itu." Kata Kyungsoo.
Jongin menyipitkan matanya, "adegan antara Hazel Grace dan Augustus Waters, atau adegan antara kau dan aku?" tanyanya usil.
Kyungsoo spontan menutup wajahnya dengan kedua tangannya, "tentu saja adegan Hazel Grace dan Augustus Waters!" serunya di balik kedua telapak tangannya.
Entah sudah semerah apa wajah Kyungsoo, gadis ini tak mau membayangkannya.
Jongin tertawa renyah, "aku juga suka sekali adegan itu, Soo. Romantis sekali bukan, berciuman di museum?" Jongin terkekeh, "tetapi, berbeda denganmu, aku lebih suka adegan antara kau dan aku, dibandingkan Hazel Grace dan Augustus Waters." Lanjutnya, kali ini dengan nada yang serius.
Kyungsoo membuka kedua tangannya, dan menaruhnya di atas meja. Ia menatap Jongin malu-malu.
Jongin mengelus rambut hitam Kyungsoo yang halus dengan penuh kasih sayang, "aku lebih suka Do Kyungsoo daripada Hazel Grace." Ucapnya.
'Oh Tuhan, bisakah waktu berhenti, kali ini saja?' Batin Kyungsoo.
0-0-0-0-0-0
"Apa?! Sudah tiga hari ini, Baekhyun duduk dengan Daehyun?" Kris menatap Sehun dengan pandangan tak percaya.
"Ya, dan aku duduk dengan temannya Daehyun yang bernama Choi Junhong itu. Anaknya mengasyikkan, ia juga cukup pintar. Aku betah duduk dengannya." Kata Sehun.
Pandangan Kris menerawang, seolah ia tak mendengar lagi perkataan Sehun.
Sore ini, mereka berdua sedang duduk di kantin. Sambil menikmati minuman hangat. Sehun sedang menunggu Luhan yang ekskul paduan suara. Sementara Kris, ia menunggu Baekhyun dan Kyungsoo, yang ikut ekskul paduan suara juga.
"Sehun, apa kelebihan Jung Daehyun?" tanya Kris.
"Hmmm, dia pintar, lumayan tampan, dan suaranya bagus,"
"Suaranya bagus?" Kris tidak suka mendengar hal yang satu ini. Baekhyun pasti akan semakin tertarik pada lelaki itu.
"Mm-hmmm." Jawab Sehun cuek. Padahal, lelaki itu tahu betul, pasti Kris sedang cemburu berat.
Kris memasang ekspresi seriusnya yang terlihat sedikit menyeramkan.
"Oh iya, Hyung, apakah kau tahu? Daehyun juga mengikuti ekskul paduan suara." Sehun menambahkan daftar kelebihan Jung Daehyun lagi.
"Cari perhatian sekali orang itu." Kris berusaha tenang.
"Mm-hmmm, sepertinya ia sangat menyukai Baekhyun, sampai-sampai rela masuk ekskul yang anggota lelakinya hanya sedikit itu." Sehun, dengan sok cuek, memanas-manasi Kris.
Kris terdiam. Tetapi, tangannya sudah mengepal kuat.
"Semoga saja ia mendapatkan hati Baekhyun dengan cepat, ya kan Hyung?" Sehun, dengan polosnya, menambahkan lagi.
Kris sudah tidak dapat menahan emosinya, ia membentak Sehun, "Jangan bicara yang macam-macam!" ucapnya. Tidak begitu keras, tetapi tajam.
Sehun tidak terpengaruh sedikitpun oleh bentakan Kris, ia malah tertawa, "kau itu lucu sekali, Hyung. Kalau kau benar-benar mencintai Baekhyun, maka berusahalah! Tidak akan ada kemajuan jika kau diam di tempat seperti sekarang ini. Mungkin Daehyun sudah berada selangkah di depanmu." Sehun menasehati Kris.
Kris berpikir sebentar, "benar juga. Tapi, aku harus mulai dari mana?"
"Ajaklah ia ke luar, makan bersama?" Sehun menganjurkan.
"Aku rasa aku harus mengajaknya ke luar hari ini." kata Kris.
"Ya, aku rasa juga begitu. Lebih cepat lebih baik, Hyung."
Kris mengangguk.
"Sehunnie!" Luhan menghambur ke pelukan Sehun.
"Hai, Lu. Sudah selesai latihannya?" kata Sehun, seraya membalas pelukan kekasihnya yang cantik itu.
"Sudah Sehun. Ayo kita pergi! Kau ingat kan akan mengantarku untuk membeli beberapa buku hari ini?" ajak Luhan.
"Tentu saja aku ingat. Ayo!" Sehun berdiri dari duduknya.
"Kris Oppa, kami berdua berangkat dulu ya! Annyeong!" kata Luhan sambil menggandeng lengan Sehun.
Kris mengangguk dan tersenyum kecil. Sehun dan Luhan mulai berjalan menjauhi Kris, ke arah pintu gerbang.
"Good luck Hyung!" Sehun berseru dari kejauhan.
Kris tersenyum, dan memperhatikan mereka yang sedang mengobrol dan bercanda. Mereka saling mencintai. Mungkinkah ia dan Baekhyun juga akan seperti itu?
Tiba-tiba, kedua tangan kecil menutupi kedua mata Kris.
"Tebak aku siapa?" katanya, dengan suara yang diberat-beratkan. Tentu saja agar Kris tidak mengetahui siapa ia sesungguhnya.
Kris tersenyum lebar, "Baekhyun."
"Ah, tidak seru, kau seharusnya pura-pura tidak tahu Oppa." Kata Baekhyun yang mengerucutkan bibirnya. Ia duduk di sebelah Kris.
"Sudah beres latihan?" Kris mengalihkan topik.
"Iya, sudah. Kenapa?"
"Kau ada waktu sore ini?" tanya Kris penuh harap.
"Sayangnya, tidak, Oppa. Daehyun akan mentraktirku nonton film." Kata Baekhyun.
Kris terlihat kecewa, "Ooh, ke mana anak itu?"
"Ia ke toilet sebentar, nanti juga ia ke sini. Itu orangnya!" Kata Baekhyun ketika Daehyun menampakkan batang hidungnya.
"Aku lebih baik menghampirinya saja, bye Oppa! Jangan lupa antar Kyungsoo pulang ya! Ia ada di ruang musik!" kata Baekhyun yang mulai menjauh, menghampiri Daehyun.
Kris lagi-lagi hanya menganggukkan kepalanya lemah, tanpa semangat.
Lambat laun, bayangan Baekhyun dan Daehyun pun menghilang dari pandangannya.
Kris memutuskan untuk menghampiri Kyungsoo, menuju ruang musik.
"Kyungsoo." panggilnya, ketika ia sampai di ruang musik.
"Hai Oppa." Jawab Kyungsoo yang sedang membenahi tasnya. Ia adalah orang terakhir yang berada di ruang musik.
"Kyungsoo!" ada suara lagi dari pintu ruang musik.
Tebak siapa?
"Hai Jongin!" Kyungsoo membalas sapaan Jongin.
Kris menoleh ke belakang, dan mendapati Jongin yang tersenyum lebar.
"Kalian akan pulang bersama?" tanya Kris.
"Rencananya sih aku akan mengajaknya pulang bersama Hyung." Jawab Jongin.
"Kau… mau mengantarku pulang?" tanya Kyungsoo ragu-ragu.
Jongin menganggukkan kepalanya dengan semangat.
Tiba-tiba, sebuah ide terlintas di kepala Kris.
"Jongin, hari ini kau bawa motor tidak?" tanya Kris.
"Tidak Hyung, motorku sedang di bengkel. Ada apa?"
"Bagus. Aku akan mengantarkanmu sampa rumah, Jongin. Kalian berdua ada waktu kosong kan hari ini?" Kris bertanya pada Kyungsoo dan Jongin.
Keduanya mengangguk berbarengan.
"Kalau begitu, temani aku." Kris tersenyum.
"Temani Oppa ke mana?"
"Membuntuti Baekhyun dan Daehyun." Jawab Kris.
0-0-0-0-0-0
"Kau yakin, mereka berdua pergi ke bioskop ini, Soo?" tanya Jongin pada Kyungsoo, ketika mereka bertiga sudah sampai ke sebuah bioskop.
"Ya, aku yakin. Tadi aku mendengar Daehyun menyebutkan lokasinya di sini." Kata Kyungsoo yakin.
"Itu mereka!" Kris menunjuk dua orang yang mereka cari, yaitu Baekhyun dan Daehyun, yang sedang membeli popcorn.
"Ayo sembunyi!" Jongin mengusulkan. Akhirnya, mereka bertiga bersembunyi di belakang tiang terdekat.
Mereka bertiga memperhatikan kedua anak manusia itu dengan serius.
Kedua orang itu sudah selesai membeli popcorn. Mereka berdua duduk di salah satu kursi yang disediakan di situ.
Terlihat Daehyun yang sedang mengacak-acak poni Baekhyun yang berantakan, dan Baekhyun yang mengerucutkan bibirnya lucu.
Demi apapun, Kris sangat membenci apa yang ia lihat sekarang.
Tidak ada satu orang pun yang boleh menyentuh Baekhyun-nya seperti itu!
Kris benar-benar berusaha sabar. Ia mencoba menenangkan hatinya.
Jongin yang melihat emosi Kris yang mulai muncul, hanya bisa menepuk-nepuk pundak temannya itu. Sementara Kyungsoo, ia mengelus-elus lengan Kris, agar lebih tenang.
Baekhyun dan Daehyun kembali bercanda dan tertawa-tawa. Entah apa yang mereka bicarakan. Kris sungguh tidak ingin tahu.
Baekhyun memakan popcorn-nya. Lalu tiba-tiba… ya ampun.
Kris sungguh tidak dapat mempercayai apa yang ia lihat. Kali ini, ia tidak dapat menahan emosinya lagi. Ia baru saja melihat Daehyun mengecup pipi Baekhyun!
Kyungsoo kaget, ia menutup mulutnya. Matanya yang sudah besar semakin besar saja.
Jongin pun terkesiap. Ia tidak bisa membayangkan betapa marahnya hati Kris. Ia pasti akan sangat marah sekali jika ia melihat Kyungsoo dicium pipinya oleh orang lain selain dirinya.
Kris keluar dari tempat persembunyiannya, ia menghampiri Daehyun.
BUGH
BUGH
BUGH
Terdengar suara pukulan yang keras. Tentu saja itu Kris.
"Kau pikir apa yang baru saja kau lakukan, hah?!" Kris membentak Daehyun.
BUGH
Suara pukulan terdengar lagi. Kris memang sangat menyeramkan ketika ia marah. Apalagi ini menyangkut Baekhyun.
Baekhyun kaget. Ia tidak menyangka, Kris bisa bersikap sekasar ini. ia selalu berpikir bahwa Kris adalah orang yang berwibawa, dan menyelesaikan segala sesuatunya dengan tenang. Ia benar-benar tidak tahu, Kris dapat semarah ini. Terlebih lagi, hal ini menyangkut dirinya.
"OPPA CUKUP!" Baekhyun melerai mereka berdua. Gadis itu menarik tangan Kris, dan membawanya ke luar bioskop.
Sementara Daehyun, Jongin, dan Kyungsoo terdiam di situ. Masih bingung harus berbuat apa. Untung sekali, keadaan bioskop sepi. Sehingga, tidak terlalu memicu keributan yang besar. Dan juga, Kris dihentikan pada waktu yang tepat, sebelum security menghentikannya.
"Daehyun, lebih baik kau pulang. Tenangkan dirimu dulu di rumah. Obati luka-lukamu, kau butuh istirahat." kata Kyungsoo. Ia tidak tega melihat wajah Daehyun yang lebam-lebam.
Jongin menoleh ke arah Kyungsoo, sikapnya sangat keibuan. Membuat Jongin jatuh semakin dalam. Ia seolah menemukan sosok lain dalam diri Kyungsoo. sosok yang lebih dewasa.
"Ya, terima kasih Kyungsoo. aku akan pulang sekarang." Daehyun beranjak pergi meninggalkan bioskop itu.
0-0-0-0-0-0
"Oppa! Sebenarnya apa yang kau pikirkan?" Baekhyun membawa Kris ke belakang bioskop itu. Tempatnya sepi, tidak ada orang di sana.
Kris hanya diam saja. Tidak mau membalas pertanyaan Baekhyun.
"Oppa! Jawab aku!" Baekhyun mengeraskan suaranya.
"Aku tidak suka melihatmu disentuh orang lain." jawab Kris sambil melihat ke arah lain.
"Kenapa? Kita hanya sahabat, Kris! Kau tidak berhak melarangku disentuh siapapun!" Baekhyun terlihat marah.
Kris lagi-lagi diam saja.
"Aku tidak menyangka kau bisa sekasar itu. Aku kira kau adalah orang yang bersikap dewasa, selalu memikirkan segalanya dengan bijaksana. Aku tidak pernah mengira kau akan tega menyakiti orang lain. Kmenyakiti temanku, kau tahu itu, Oppa?!" Baekhyun terlihat marah dan kecewa, air matanya sudah keluar sekarang.
"Sudah kubilang, aku tidak suka melihatmu disentuh orang lain! aku tidak suka! Aku benci! Jangan-jangan kau senang dicium oleh temanmu itu?! Kau menyukainya?"Kris membentak Baekhyun dengan sangat keras. Baekhyun sampai kaget mendengar bentakannya. Kris tidak pernah memarahinya sekeras itu.
"Demi Tuhan, Oppa!" Baekhyun mulai terisak, "aku tidak pernah menyukai siapapun, melebihi rasa suka ku terhadap dirimu!" lanjut Baekhyun dalam tangisannya.
Kris terperangah mendengar hal itu keluar dari mulut Byun Baekhyun, gadis kesukaannya.
"Dan kau! Kau malah menuduhku menyukai orang lain! Kau menghajar temanku! Aku hanya sahabatmu Oppa! Sebatas sahabat! Aku bukan milikmu!" Baekhyun benar-benar marah. Ia sangat marah, sampai-sampai tenaganya habis. Ia hanya bisa menangis sekarang.
Kris memegang kedua sisi wajah gadis itu, dan menghapus jarak di antara keduanya.
Baekhyun hanya dapat memejamkan matanya pasrah. Ia lelah, dan ciuman Kris pada bibirnya, merupakan salah satu hal terindah yang pernah terjadi pada hidupnya.
Kris mulai melumat bibir gadis itu dengan penuh perasaan, tanpa nafsu sedikitpun.
Baekhyun memeluk leher lelaki tinggi itu, dan menenggelamkan dirinya pada kehangatan lelaki itu, seutuhnya.
Pelan-pelan, Kris melepaskan pagutan keduanya.
Mereka saling menatap, sampai akhirnya Kris bersuara.
"Aku mencintaimu. Mulai sekarang, kau adalah milikku, Byun Baekhyun."
0-0-0-0-0-0
a/n: HALO LAGI! Hehehehe gimana gimana pada suka chapter ini ngga? review nya yaaa jangan lupa! :D terimakasih untuk semuanya yang sudah review di chapter kemaren. sekarang review lagi ya!
Untuk yang lagi UAS, semangat yaaaa! semoga sukses :)
Makasih ya buat yang kemaren udah ngasih saran, saran sarannya aku tampung! Kasih saran lagi dooong hihihi :3
Jangan cuma jadi silent readers yaa okeeeee?
Ngomong-ngomong, yang punya twitter follow twitterku dong wkwkwk. biar kita bisa kenalan :D
