Kris memegang kedua sisi wajah gadis itu, dan menghapus jarak di antara keduanya.

Baekhyun hanya dapat memejamkan matanya pasrah. Ia lelah, dan ciuman Kris pada bibirnya, merupakan salah satu hal terindah yang pernah terjadi pada hidupnya.

Kris mulai melumat bibir gadis itu dengan penuh perasaan, tanpa nafsu sedikitpun.

Baekhyun memeluk leher lelaki tinggi itu, dan menenggelamkan dirinya pada kehangatan lelaki itu, seutuhnya.

Pelan-pelan, Kris melepaskan pagutan keduanya.

Mereka saling menatap, sampai akhirnya Kris bersuara.

"Aku mencintaimu. Mulai sekarang, kau adalah milikku, Byun Baekhyun."

Your Smile.

I don't own anything but the storyline.

Genderswitch.

(a/n: aku bikin chapter ini sambil denger lagu Taeyeon yang judulnya Closer. Dengerin itu deh, biar dapet feelnya. Apalagi pas bagian kaisoo :D)

Bekhyun diam saja. Ia memandang mata Kris dengan bingung. Apa yang baru saja terjadi? Ia masih tidak dapat memproses semuanya. Terlalu rumit.

"Baekhyun?" Kris memanggil namanya.

"Oppa," Baekhyun menjawab, "apa yang baru saja terjadi?" lanjutnya bingung. Ia seolah-olah baru sadar dari hipnotis. Sebesar itukah efek dari ciuman Kris?

Kris tertawa pelan. Dasar Baekhyun.

"Oppa, aku binguuuung!" Baekhyun merajuk dan menarik-narik syal yang Kris kenakan.

"Dengarkan baik-baik," Kris memegang pundak gadis yang jauh lebih pendek darinya itu.

Baekhyun menatapnya dan menganggukkan kepalanya.

"Pertama, kau berkencan dengan namja bernama Jung Daehyun. Lalu, aku, Kyungsoo, dan Jongin mengikuti kalian berdua ke bioskop ini. Kyungsoo yang memberitahukan lokasi tempat kalian berkencan padaku," kata Kris.

Baekhyun membuka mulutnya, membentuk huruf 'o'.

"Lalu, aku menemukanmu sedang bercanda dan mengobrol dengan Daehyun. Aku, Kyungsoo, dan Jongin, memperhatikanmu sambil bersembunyi agar kau tidak sadar bahwa kau sedang diperhatikan," Kris mengehentikan ucapannya sebentar, menghela nafas.

"Awalnya, aku tidak berniat mencari keributan. Tetapi, Daehyun mencium pipimu. Aku tidak terima. Tidak ada lelaki lain yang boleh mencium pipimu seperti itu," ia menghentikan perkataannya sebentar, lalu melanjutkan, "kecuali aku."

Baekhyun tidak bisa menahan senyumannya.

"Lalu, aku menghajar Daehyun, dan kau marah-marah sambil menarikku ke tempat ini. Selanjutnya, aku tidak tahan lagi, dan menciummu, lalu menyatakan cintaku. Itu yang terjadi barusan, Baekhyun." Kris mengakhiri ceritanya.

Baekhyun terdiam dan memainkan syal yang dipakai Kris. Ia masih merasa canggung dengan lelaki itu.

"Baekhyun?" Panggil Kris pelan.

"Hmmm?" Baekhyun masih menolak menatap wajah Kris.

"Apakah kau setuju?"

"Setuju tentang apa?" Akhirnya Baekhyun menatap wajah Kris.

"Tentangmu… menjadi pacarku?" Kris bertanya agak ragu. Sepertinya ia malu. Lagi-lagi, hari ini Baekhyun melihat sisi lain pada diri Kris.

Baekhyun tersenyum kecil, hampir tertawa. "Menurutmu bagaimana?"

"Tidak tahu. Kau belum menjawabnya." Kris mengerutkan keningnya, sepertinya lelaki itu gugup sekaligus kesal karena Baekhyun tidak langsung menjawab pertanyaannya.

Tak disangka-sangka, Baekhyun berjinjit dan mengecup bibir Kris sekilas. Lalu gadis itu menundukkan kepalanya, malu sekali rasanya.

Kris terkejut, tetapi hanya untuk beberapa saat. Ia langsung tersenyum begitu tersadar bahwa Baekhyun yang mengecup bibirnya duluan.

"Jadi kau mau?" tanya Kris. Sebenarnya, Kris sudah tahu jawaban Baekhyun melalui kecupan itu. Ia hanya ingin menggoda gadis itu saja.

"Tentu saja aku mau bodoh!" Baekhyun memukul-mukul dada Kris yang sedang tertawa.

Kris memeluk gadis mungil itu dengan penuh kasih sayang.

"CUKUP! CUKUP! Kalian membuat Kyungsoo hampir pingsan!" tiba-tiba terdengar suara Jongin dari sebelah kanan mereka.

Kris dan Baekhyun menoleh ke arah mereka berdua. Terlihat Jongin dan Kyungsoo yang bersembunyi di balik punggungnya.

"Kalian sejak kapan ada di sana?!" Baekhyun berteriak panik.

"Sejak Kris mencium bibirmu." Kata Jongin santai.

Wajah Baekhyun langsung memerah seperti kepiting rebus. Bagaimana bisa Jongin berkata sesantai itu tentang ciumannya dan Kris? Betapa malunya Baekhyun sekarang.

Kyungsoo mengintip dari balik punggung Jongin. Gadis mungil itu sedari tadi memang bersembunyi di balik punggung Jongin. Ia tidak mau melihat adegan Kris dan Baekhyun yang sedang bermesraan. Rasanya, ia jadi malu sendiri melihatnya. Apalagi ia sedang bersama Jongin.

"Kyungie…" Kris memanggilnya, "mengapa kau bersembunyi di situ?"

"Ia malu melihat adegan kalian berdua yang sedang bermesraan." Jongin menjawab.

Kyungsoo menganggukan kepalanya.

"Ya ampun, Kyungsoo. Mengapa jadi kau yang malu?" Kris tertawa karena tingkah sahabatnya yang menggemaskan itu.

"Rasanya aneh, melihat orang yang dekat denganku, saling bermesraan satu sama lain." Kyungsoo menenggelamkan wajahnya ke punggung Jongin lagi. Bersembunyi pada jaket lelaki itu, lebih tepatnya.

Jongin menyeringai senang karena merasakan wajah Kyungsoo pada punggungnya.

"Kau juga sedang bermesraan. Lihat saja, kau terlihat seperti sedang memeluk Jongin dari belakang." Kata Kris.

Kyungsoo terhenyak. Ia langsung menjauh dari Jongin dan menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

Jongin tertawa renyah, "Hey apa yang kau lakukan di situ?"

Kyungsoo hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Tidak mau berbicara pada Jongin.

Baekhyun juga sama saja. Ia masih terlihat kikuk. Tentu saja efek salah tingkah itu masih berlangsung pada diri Baekhyun.

"Kyungsoo, lebih baik kita pergi dari sini. Kau mau nachos kan? Lebih baik kita menghangatkan diri sambil makan nachos di dalam bioskop." Ajak Baekhyun.

Kyungsoo setuju. Baekhyun langsung menarik tangan gadis itu, dan mereka berdua berlari segera ke gedung bioskop. Ingin segera menghilang dari pandangan Jongin dan Kris.

Jongin memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya, sambil memandangi kedua gadis yang sedang berlari itu. Tanpa ia sadari, bibirnya melengkungkan senyuman.

"Mereka menggemaskan bukan?" Kris terkekeh sambil terus memandangi Baekhyun dan Kyungsoo yang hampir tidak terlihat lagi.

"Sangat." Jawab Jongin dengan senyuman yang masih menempel di wajahnya.

"Aku beruntung, salah satu dari kedua gadis itu adalah pacarku." Kata Kris sambil membayangkan wajah Baekhyun yang merona akibat ciumannya tadi. Benar-benar menggemaskan.

Jongin terdiam. Ia juga ingin mengatakan bahwa Kyungsoo adalah miliknya.

0-0-0-0-0-0

"Selamat ya Baekhyun!" Kata Kyungsoo, ketika mereka sampai ke dalam gedung bioskop.

Baekhyun memukul-mukul bahu Kyungsoo, "Kyungieee! Aku masih malu!"

Kyungsoo tertawa, "Akhirnya kau dicium juga oleh Kris Oppa."

"Diaaam!" Baekhyun merajuk lagi.

Kyungsoo terkekeh melihat sahabatnya yang masih salah tingkah.

"Kira-kira, kau kapan meresmikan statusmu dengan lelaki hitam itu Kyung?" Baekhyun membalas godaan Kyungsoo dengan tatapan nakalnya.

"S-siapa yang mau berpacaran dengannya? Lagipula, Jongin tidak menyukaiku." Kyungsoo mengelak.

"Siapa yang tidak menyukaimu?" Kyungsoo mendengar seseorang berbicara di belakang tubuhnya.

"Jongin?!" Kyungsoo terlonjak kaget.

Baekhyun terbahak. Tentu saja ia sudah melihat kedatangan Jongin dan Kris sedari tadi. Gadis itu memang sengaja mengerjai Kyungsoo agar omongannya didengar Jongin.

"Kata siapa aku tidak menyukaimu?" Jongin bertanya pada Kyungsoo yang masih kaget. Jantung gadis mungil itu masih berdebar sangat kencang. Ia benar-benar kaget dan malu.

"Aku… aku tahu saja. Sudahlah, lebih baik aku pulang. Ada banyak tugas yang harus aku kerjakan. Sampai nanti semuanya!" Kyungsoo buru-buru pergi dari situ. Sungguh canggung dan memalukan! Begitu pikirnya.

Jongin terdiam lagi. Masih berpikir, ia harus melakukan apa.

"Apa yang kau lakukan di sini Jongin? Cepat kejar Kyungsoo!" suruh Kris yang sudah gemas melihat Jongin dan Kyungsoo.

Jongin seolah tersadar dan langsung berlari mengejar gadis mungil yang mungkin sudah berada jauh dari bioskop. Tapi tidak ada salahnya kan?

Untungnya, Jongin masih bisa menemukan Kyungsoo yang sedang duduk di halte bus. Menunggu bis nya datang.

Kyungsoo melamun, dan terus memandang ke depan. Entah apa yang sedang gadis itu pikirkan.

Jongin pelan-pelan duduk di sebelahnya.

"Kau memikirkan apa?"

Kyungsoo menoleh, dan mendapati Jongin yang tersenyum lembut padanya.

"Tidak memikirkan apa-apa." Jawab Kyungsoo.

"Memikirkanku ya?" Jongin menggodanya.

"Tentu saja tidak!" Kyungsoo menampiknya dan memandang lurus ke depan lagi.

Mereka terdiam sampai akhirnya bus yang ditunggu tunggu itu datang. Kyungsoo segera naik ke bus itu. Jongin juga tentu saja mengikuti.

Sayangnya, hanya tinggal tersisa satu tempat duduk lagi di dalam bus itu, sehingga Jongin terpaksa harus berdiri. Ia sengaja berdiri di sebelah tempat duduk Kyungsoo, agar bisa mengawasi gadis itu.

Kyungsoo mengeluarkan sebuah novel dari dalam tasnya, dan mulai membaca. Gadis itu bersikap seolah-olah Jongin tidak ada di dekatnya. Dan Jongin sangat benci akan hal itu. Ia tidak suka diabaikan.

Jongin memperhatikan Kyungsoo dalam diam. Kyungsoo tampak amat cantik saat ini. Wajahnya serius membaca novel yang ada di genggamannya. Hidungnya yang mungil, bibirnya yang tebal, matanya yang bulat, dan pipinya yang tembam menggemaskan. Gadis itu sebenarnya selalu terlihat cantik, tak peduli apa yang sedang ia lakukan. Tanpa Jongin sadari, ia jatuh semakin dalam dan semakin dalam pada pesona yang dimiliki Kyungsoo.

Pandangan Jongin teralihkan pada lelaki yang duduk di sebelah Kyungsoo. Rupanya, sedari tadi bukan hanya Jongin yang memperhatikan Kyungsoo. Lelaki itu juga. Jongin menatap lelaki itu tidak suka.

Lelaki itu sepertinya bukan orang baik-baik. Lihat saja, pandangannya seolah-olah menelanjangi Kyungsoo. Matanya menunjukkan, ia ingin memakan Kyungsoo bulat-bulat. Mata lelaki itu menjelajah mulai dari wajah Kyungsoo, dada, sampai paha Kyungsoo yang hanya ditutupi oleh rok seragamnya yang pendek. Tatapannya bagai singa yang lapar. Sementara Kyungsoo? Gadis itu tidak menyadari tatapan lelaki di sampingnya, ia terlalu sibuk membaca novelnya.

Jongin mengerutkan dahinya tidak suka.

Lelaki mesum itu mulai menggerakkan tangannya di paha Kyungsoo yang putih.

"Apa yang kau lakukan?!" Kyungsoo memukul lengan lelaki yang menyentuh pahanya.

"JAUHKAN TANGAN KOTORMU DARI PACARKU!" Jongin memaki lelaki mesum itu sambil menarik Kyungsoo keluar dari tempat duduknya.

Penumpang yang berada di dalam bus itu menyaksikan kejadian tersebut.

"Hei, santai sedikit lah. Pacarmu ini sangat cantik dan mulus. Dadanya besar, pahanya putih dan menggoda." Kata lelaki itu sambil menjilat bibirnya sendiri.

Penumpang yang ada di bus itu menatapnya dengan pandangan jijik.

Kyungsoo yang sekarang sudah berdiri di dekat Jongin hanya dapat menyembunyikan wajahnya di balik punggung Jongin. Kali ini, sambil memegang erat jaket Jongin. Ia sangat takut dan merasa terlecehkan.

Jongin menghajar wajah lelaki mesum itu tanpa ampun. Tentunya, lelaki mesum itu juga membalas perlakuan Jongin, ia menghajar wajah tampan Jongin sampai pipi Jongin lebam.

"Jongin, sudah hentikan, hiks.." Kyungsoo menarik lengan Jongin sambil terisak.

"Pelecehan seksual bisa dikenai sanksi yang berat! Seharusnya kau tahu itu brengsek!" Jongin menghentikan serangannya pada lelaki itu, tetapi masih terus memakinya.

Lelaki mesum yang wajahnya sudah bonyok itu hanya diam.

"Dasar mesum!"

"Lelaki tidak tahu diri ya, mesum sekali."

"Lebih baik lelaki itu turun di sini saja, aku tak mau satu kendaraan dengan lelaki mesum seperti itu."

"Seharusnya ia dikenakan sanksi yang berat sekarang."

"Apakah kita harus menelepon polisi?"

Terdengar banyak omongan-omongan yang terlontar dari para penumpang bis.

Lelaki mesum itu marah besar, dan mulai menghajar Jongin lagi.

BUGH BUGH BUGH!

"HENTIKAN! AKU MOHON!" Kyungsoo berteriak dan terus menangis.

Para penumpang bus mulai menggerubungi mereka dan melerai pertengkaran tersebut.

"Sudah! Sudah!" seorang pemuda melerai mereka, dan memperlihatkan kartu tanda identitasnya. Ternyata pemuda itu adalah seorang polisi.

"Jelaskan padaku, apa yang terjadi di sini? Mengapa terjadi keributan? Kudengar, ada yang melakukan pelecehan seksual?" tanya polisi itu.

"Ya, lelaki itu menyentuh pacarku! Awalnya ia hanya menatap pacarku yang duduk di sebelahnya, lalu ia mulai menyentuh pahanya." Jelas Jongin yang wajahnya sekarang sungguh sangat penuh dengan lebam dan darah yang terlihat dari sudut bibirnya.

Polisi itu mengangguk-anggukan kepalanya dan berkata, "hal ini tentu saja masalah serius. Pelecehan seksual merupakan hal yang menyangkut harga diri."

"Dengar itu, lelaki mesum? Jangan sentuh pacarku! Kau membuatnya takut dan melukai harga dirinya!" Jongin lagi-lagi memaki lelaki mesum itu.

"Siapa namamu? Kau harus diberikan sanksi, kau harus ikut aku ke kantor polisi." Kata polisi itu pada si lelaki mesum.

Kyungsoo masih terus menangis dalam diam. Jongin merangkul gadis mungil itu dengan seluruh rasa sayang yang ia miliki.

"Jangan menangis… tenang saja, ada aku di sini." Bisik Jongin di telinganya, lalu mengecup kepala gadis itu.

"Ooohhh betapa romantisnya lelaki itu."

"Lihat cara ia memeluk pacarnya!"

"Lelaki itu pasti sangat menyayangi pacarnya."

"Aku ingin punya pacar yang seperti itu!"

"Aku jadi teringat saat-saat mudaku dulu ketika berpacaran…"

Terdengar banyak omongan yang keluar dari mulut para penumpang di bis itu. Mereka semua dapat melihat betapa tulusnya cinta yang Jongin berikan pada Kyungsoo.

Kyungsoo memeluk Jongin erat, tak mau melepasnya lagi. Ia masih takut dan terluka, tetapi Jongin dapat menyembuhkannya. Pelukan Jongin begitu hangat, ia bahkan tidak ingin menangis lagi.

0-0-0-0-0-0

"Kau duduk dulu di sini ya, Jongin. Aku ambil P3K dulu, untuk mengobati luka-lukamu." Kata Kyungsoo sambil mendudukkan Jongin di sofa rumahnya.

Ya, mereka berdua pulang ke rumah Kyungsoo. Kyungsoo merasa bertanggung jawab atas kejadian yang terjadi di bis barusan. Ia harus mengobati Jongin.

Kyungsoo duduk di hadapan Jongin dan mulai mengobati wajah Jongin yang penuh luka.

"Ahhh," Jongin mendesis kesakitan.

"Maaf, ini pasti perih. Aku akan berusaha lebih pelan lagi." Kyungsoo memelankan gerakan tangannya pada luka-luka Jongin.

Jongin terus memandangi wajah Kyungsoo yang jaraknya sangat dekat. Ia tersenyum. Luka-lukanya tidak terasa sakit lagi.

"Ya ampun, wajahmu hancur total Jongin…" Kyungsoo berkata pelan. Dalam hatinya, gadis itu sangat khawatir dengan keadaan Jongin sekarang.

"Walaupun begini juga aku akan tetap tampan, Soo." Kata Jongin.

Kyungsoo tertawa, ia berhenti mengobati luka-luka Jongin sejenak, dan menatap mata Jongin. "Terima kasih banyak. Aku tidak tahu bagaimana jadinya jika kau tak ada."

Jongin tersenyum lembut, dan mengelus pelan kepala gadis itu, "lain kali, jika ada yang menggodamu lagi, katakan saja kau sudah punya pacar."

"Apakah mereka akan berhenti menggodaku jika aku berkata seperti itu?" tanya Kyungsoo tidak yakin.

"Hmmm, tidak." Jongin berpikir lagi, "Ah! Kalau begitu, kau harus terus bersamaku. Agar tidak ada yang mengganggumu lagi." Jongin mengusulkan ide briliannya.

Mereka berdua tertawa. Kyungsoo sama sekali tidak tahu bahwa Jongin serius dengan ucapannya.

"Ahh, mengapa hari ini penuh pertengkaran? Tadi sore Kris dan Daehyun, sekarang kau dan lelaki mesum itu."

"Tapi aku merasa beruntung." Kata Jongin.

"Beruntung?"

"Ya, hanya aku yang kau obati. Aku juga bisa berkunjung ke rumahmu gara-gara pertengkaran itu." Jongin menunjukkan seringaiannya yang tampan.

Kyungsoo melempar kapas yang ia pegang ke muka Jongin.

"Soal yang di bioskop tadi… mengapa kau berpikir aku tidak menyukaimu, Soo?" tanya Jongin dengan nada suara yang serius.

"Aku…" Kyungsoo terdiam sejenak, "kau tak mungkin menyukaiku. Aku masih ingat mantan-mantanmu. Semuanya cantik. Ada Naeun, Krystal, Yoona, Minah, dan masih banyak lagi,"

Jongin terdiam, masih menunggu kelanjutan dari omongan Kyungsoo.

"Aku sama sekali tidak sama dengan mereka, Jongin. Aku tidak cantik. Aku tidak mudah bergaul seperti mereka. Mantan pacarmu, semuanya pandai bergaul. Sementara aku? Teman-temanku hanya itu-itu saja."

"Mantan-mantan pacarmu juga terkenal di kalangan lelaki. Kau pasti bangga memperkenalkan mereka sebagai pacarmu… karena semua lelaki mengenalnya, dan… mereka semua memang sangat cantik." Kyungsoo tersenyum sedih. Ia tidak akan pernah bisa menggapai Jongin. Jongin terlalu susah diraih.

"Tidak seperti itu, Kyungsoo…" Jongin menggenggam tangan Kyungsoo yang halus.

"Tidak, Jongin. Kau tidak mengerti," Kyungsoo melepas genggaman Jongin dari tangannya.

"Aku mengerti, Kyungsoo." Jongin menggenggam tangan gadis itu lagi. "Kau berbeda, Soo."

"Ya, aku berbeda. Aku tidak cantik seperti mereka." Kyungsoo lagi-lagi tersenyum sedih.

"Kau cantik. Demi Tuhan, kau harus berhenti menjelek-jelekkan dirimu sendiri seperti ini!" Jongin meyakinkan Kyungsoo, "Kau memiliki pesonamu sendiri. Aku sudah dapat melihat dengan jelas pesonamu. Kau meluluhkanku, Kyungsoo. Kau bahkan tidak melakukan apa-apa untuk membuatku seperti ini, tetapi kau berhasil. Kau berhasil membuatku merasakan sesuatu yang aku sendiri tak yakin apa namanya."

Kyungsoo terhenyak. Ia tidak menyangka Jongin akan mengatakan hal ini padanya.

"Sepertinya aku menyukaimu, Kyungsoo."

Sepertinya?

Kyungsoo menatap Jongin dengan pandangan bertanya-tanya.

"Izinkanlah aku menjadi lebih dekat denganmu, Do Kyungsoo." Jongin menatap mata Kyungsoo dalam-dalam, "bantu aku meyakinkan perasaanku padamu. Aku ingin menjagamu. Aku tidak mau kau disakiti. Aku mau selalu ada di sampingmu, di sisimu, menemanimu."

Kyungsoo masih terlihat belum yakin.

"Percayalah padaku. Aku ingin mengenalmu lebih jauh lagi. Aku ingin tahu segala hal tentangmu. Aku mohon… Bolehkah aku mendekatimu, Kyungsoo?" Jongin melakukan pendekatan secara terang-terangan!

Lambat laun, bibir Kyungsoo melengkungkan senyuman yang luar biasa indah. "Baiklah, aku mengizinkanmu."

"Benarkah?" Jongin membelalakkan matanya tak percaya. Hei, Kim Jongin, ini baru tahap awal. Gadis itu belum menjadi pacarmu!

Kyungsoo mengangguk dengan yakin.

Jongin tak dapat menahan rasa senangnya. Ia memeluk Kyungsoo dengan erat. Dan yang lebih indahnya lagi, Kyungsoo membalas pelukannya. Sama eratnya.

"Eomma pulaaaang!" suara Boa, ibu dari Kyungsoo memenuhi ruangan.

Jongin dan Kyungsoo langsung melepaskan pelukan mereka.

"Eiii, sudah jangan panik begitu! Eomma melihat tadi kalian sedang berpelukan!" Boa menggoda mereka.

"Eomma!" Kyungsoo merajuk sebal.

Boa menghampiri mereka berdua, lalu bertanya pada Jongin, "namamu siapa?"

"Nama saya Kim Jongin." Jongin berdiri dari duduknya dan menundukkan kepalanya.

"Jongin? Kau pacarnya Kyungsoo?" tanya Boa.

Jongin menyunggingkan senyumnya, "sebentar lagi, tante."

Boa menatap keduanya dengan pandangan geli, seolah tahu segalanya.

"OMO! Aku baru sadar, wajahmu penuh lebam. Kau kenapa? Habis bertengkar?" tanya Boa sambil menyentuh wajah Jongin.

"Iya Eomma, ini semua gara-gara aku." Kata Kyungsoo.

"Memangnya apa yang terjadi?"

"Masalah lelaki. Tante tak perlu khawatir." Kata Jongin.

"Aaah, baiklah. Omong-omong, apakah kalian berdua sudah makan malam?" tanya Boa.

Kyungsoo menggelengkan kepalanya.

"Ayo Kyungsoo, bantu eomma memasak. Kita buat makan malam, sebentar lagi appa pulang kerja. Ia pasti belum makan juga. Jongin, nyalakan saja TV nya. Buat dirimu senyaman mungkin, anggap saja di rumah sendiri."

0-0-0-0-0-0

"Aku tidak menyangka prosesnya secepat ini! Selamat Hyung!" Sehun memeluk Kris senang.

"Selamat Oppa!" Kyungsoo ikut-ikutan. Gadis itu belum sempat mengucapkan selamat pada Kris.

"Selamat Hyung! Kemarin aku tidak sempat mengucapkan selamat untukmu." Jongin menambahkan.

"Terima kasih Sehun, Kyungsoo, dan juga Jongin. Ini semua berkat dukungan kalian juga." Kris tersenyum senang. Senyumannya kali ini lebih lebar daripada senyumannya yang biasa.

"Simpan semua terima kasihmu itu. Lebih baik kau wujudkan rasa terima kasihmu melalui makanan. Aku sangat lapar, ayo belikan aku makanan!" Sehun menyuruh Kris memesan makanan untuk mereka semua.

"Baiklah, tunggu sebentar." Kris menuruti permintaan Sehun dan pergi untuk memesan makanan.

"Semenjak kejadian kemarin, kau jadi pendiam, Baek. Sudah, jangan menjaga image seperti itu. Kris sudah menjadi pacarmu sekarang." Kata Sehun.

"Entahlah, aku masih malu mengingat ciumannya kemarin." Baekhyun menenggelamkan wajahnya pada bahu Kyungsoo.

"Tidak heran. Ciuman pertama." Ledek Sehun.

"Diam kau!"

"Halo semuanya!" Luhan yang baru datang menyapa mereka dengan suaranya yang ceria, seperti biasa.

"Halo sayang…" kata Sehun manja. Luhan pun duduk di sebelahnya.

"Apa yang aku lewatkan?" tanya Luhan.

"Kris dan Baekhyun sudah resmi menjadi sepasang kekasih!" Kata Kyungsoo senang.

"WAH! Selamat untukmu Baekhyun!" Luhan turut senang.

"Hei Luhan datang juga. Untung saja aku memesan makanan untukmu juga." Kris yang baru saja selesai memesan makanan duduk dan bergabung lagi dengan mereka.

"Hehe, terimakasih Oppa! Selamat atas keberhasilanmu mendapatkan Baekhyun!"

"Ya, terimakasih Luhan."

"Jika diperhatikan, di meja ini, kita semua pasangan ya." Sehun tiba-tiba berkata.

Kyungsoo tersedak minumannya.

"Oh iya, aku lupa. Kecuali Kyungsoo dan Jongin." Kata Sehun dengan cengirannya.

"Kami berdua juga sebentar lagi akan jadi pasangan." Kata Jongin.

"Apa katamu?!" Baekhyun bertanya.

"Jadi, sebenarnya, kemarin aku berkunjung ke rumah Kyungsoo," Jongin memulai ceritanya. Semua mata tertuju padanya, fokus mendengar ceritanya.

"Di sana, aku mendapatkan izin darinya. Ia bilang, aku boleh mendekatinya. Orangtuanya sudah setuju." Jelas Jongin.

"Orangtuanya? Kau bertemu orangtuanya juga?" tanya Kris.

"Ya, kami berempat bahkan makan malam bersama kemarin." Jongin berkata dengan santai, seolah hal itu sangat wajar.

"Wah, cepat juga ya prosesnya." Sehun takjub mendengar cerita Jongin.

"Semua itu benar Kyung?" tanya Baekhyun.

"Ya…" Kyungsoo mengangguk lemah.

"Ah! Ibumu pasti senang mengetahui kau didekati lelaki. Kau kan belum pernah pacaran Kyung! Akhirnya!" Baekhyun memeluk sahabatnya senang.

"Aku jadi ingin bertemu orangtuamu juga Lu…" kata Sehun. Sepertinya ia terpengaruh. Ia juga tak ingin kalah dari Jongin.

Luhan terkekeh geli melihat tingkah pacarnya yang menurutnya menggemaskan. Sehun ini sungguh masih bertingkah seperti anak kecil. Dan entah mengapa, Luhan makin mencintainya karena hal itu.

"Jongin, aku baru sadar. Mengapa wajahmu biru-biru begitu? Itu lebam?!"

"Astaga! Wajahmu kenapa Jongin?"

"Ceritakan pada kami apa yang terjadi kemarin!"

0-0-0-0-0-0

"Ibumu cantik sekali Soo. Kulitnya putih, sama sepertimu." Jongin membahas Boa, ibu Kyungsoo, ketika mereka sedang berjalan menuju halte bus. Jongin berencana mengantar Kyungsoo sampai rumah. Tetapi, berhubung motor Jongin masih di bengkel, terpaksa mereka berdua harus naik bus lagi.

"Ya, ibuku memang cantik sekali. Ayahku bilang, ibuku dulunya adalah perempuan paling populer di kampusnya."

"Hmmm, tak heran mengapa kau bisa secantik ini. Kau mewarisi kecantikannya." Jongin menatap Kyungsoo dengan senyumannya.

"Aku tidak secantik ibuku…" Kyungsoo tertawa, menganggap pujian Jongin hanyalah lelucon.

"Menurutku kau bahkan lebih cantik dari ibumu." Puji Jongin tulus.

Kedua pipi Kyungsoo memanas. Sebenarnya, kapan ia akan terbiasa dengan seluruh pujian Jongin terhadapnya? Ia benar-benar tidak tahan. Pipinya selalu memanas jika Jongin melakukan sesuatu yang manis.

Mereka sampai di halte bus dan duduk di kursi yang telah disediakan di situ.

"Ayahmu lumayan galak ya, tetapi lama kelamaan ia baik juga." Jongin tiba-tiba membicarakan ayahnya Kyungsoo, Do Yunho.

Kyungsoo terkekeh pelan, "ia memang seperti itu pada orang yang baru ia kenal. Lama kelaman juga kau akan terbiasa dengannya. Ia orang yang baik. Kau pasti akan senang mengenal orang seperti ayahku."

'Lama kelamaan juga kau akan terbiasa dengannya.' Jongin mengulang-ulang perkataan Kyungsoo itu di kepalanya.

Jongin menatap Kyungsoo dengan pandangan penuh arti. Bukankah perkataan Kyungsoo barusan merupakan tanda bahwa ia akan terus bersama Jongin?

"Aku senang melihatmu tersenyum, Soo. Teruslah tersenyum. Jangan pernah menangis lagi."

Kyungsoo terdiam sejenak, mencerna perkataan Jongin.

Sebelum ia tersadar dari pikirannya, bibir Jongin sudah menempel lembut di keningnya.

Kyungsoo memejamkan matanya. Gadis itu tersenyum.

Kali ini, Kyungsoo benar-benar jatuh cinta.

0-0-0-0-0-0

Jongin baru saja tiba di rumahnya. Ia tersenyum puas. Hari yang indah.

Jongin berharap, ke depannya akan terus seperti ini. Melihat senyum Kyungsoo setiap hari, berada di sisinya setiap hari, mendengar suaranya setiap hari.

Jongin sudah bahagia sekarang. Tidak pernah sebahagia ini selama empat tahun terakhir.

TV di hadapannya menyala, tetapi Jongin sama sekali tidak mau tahu. Ia masih memikirkan Kyungsoo dan senyumannya yang cantik.

TING TONG

TING TONG

Bel rumahnya berbunyi.

Siapa yang datang sore-sore begini? Tidak mungkin ayahnya kan?

Jongin memutuskan untuk membuka sendiri pintu rumahnya. Lagipula, para pelayannya sedang sibuk memasak untuk makan malam.

Jongin membuka pintu rumahnya.

"Jongin?" Sebuah suara yang sangat dikenal Jongin, menyapa gendang telinganya.

Jongin melebarkan matanya.

"Jongin?"

Tidak mungkin.

"Eomma? Joonmyun Hyung?" Jongin akhirnya bersuara.

Untuk apa mereka kembali lagi ke sini?

TBC

a/n: halo! maaf baru update lagi ya hehehe (kayak ada aja yang nungguin) maaf kalo chapter ini mengecewakan ya :( aku lagi seret ide nih gatau kenapa huhuhu. btw, udah liat exo yang christmas day itu belum? uhh kai nya ganteng banget ya #gapenting. yaudah, intinya, jangan lupa review yaa semuanya! makasih banyak yang di chapter kemarin udah review. maaf belum bisa dibales satu satu ^^ sekarang review lagi yaaa! makasih banyak loh! aku sayang kalian semua readers kuuu ({})