Jongin masih terpaku. Ia bertanya-tanya, untuk apa kakak dan ibunya datang lagi? Begitu banyak pertanyaan yang ingin ia sampaikan. Hanya saja, lidahnya menolak untuk berfungsi.
"Jongin… Eomma sangat merindukanmu." Yuri, ibunya, memeluk Jongin dengan penuh kasih sayang. Wanita itu benar-benar merindukan anak bungsunya.
Jongin tidak membalas pelukan ibunya. Ia masih bingung dengan apa yang terjadi. Mengapa tiba-tiba mereka berdua ada di sini? Apa saja yang mereka lakukan selama beberapa tahun ke belakang tanpa Jongin? Kenapa baru sekarang mereka datang?
Your Smile.
I don't own anything but the storyline.
Genderswitch.
"Kyungsoo?"
"Hmm? Ada apa Jongin?" Kyungsoo menyahut, walaupun perhatiannya masih terpusat pada sesuatu yang sedang ia tulis. Mencatat rangkuman pelajaran hari ini, mungkin?
"Kau… maukah kau mendengarkan ceritaku?"
Kyungsoo meletakkan bolpoinnya. Kini, perhatiannya terpusat sepenuhnya pada Jongin.
"Tentu saja. Ceritakan apapun padaku, Jongin. Ceritakan semuanya. Aku akan dengarkan." Kyungsoo menjawabnya dengan senyumannya yang lembut dan dewasa.
"Bisakah kita pindah ke tempat lain? Aku takut ada yang mendengar ceritaku. Karena, ini benar-benar rahasia." Jongin berucap setengah bercanda. Tetapi, Kyungsoo bisa melihat dari sorot mata Jongin, hal ini bukanlah sesuatu yang sepele.
"Di kelas ini hanya ada kita berdua, Jongin. Orang-orang sudah pulang dari tadi. Lihat saja sekelilingmu. Sudah kosong, bukan?"
Jongin melihat ke sekelilingnya. Benar, sudah kosong. Mengapa ia tidak menyadarinya? Tentu saja karena di mana ada Kyungsoo, maka hanya gadis itu yang mendapat seluruh perhatiannya.
"Bagaimana? Cerita di sini saja ya? Aku benar-benar sudah tidak sabar untuk mendengar ceritamu. Ini pertama kalinya kau mau bercerita padaku." Kata Kyungsoo.
"Hmmm, baiklah, aku akan mulai bercerita." Jongin mendesah sebentar, menghela nafas. Bersiap-siap untuk memulai ceritanya.
Kyungsoo mengantisipasi cerita dari Jongin. Pandangan mata Kyungsoo yang lembut dan penuh perhatian serta kedewasaan, membuat Jongin mudah percaya.
"Aku tidak memiliki keluarga yang sempurna, Soo. Orangtuaku sudah bercerai ketika aku berumur lima belas tahun." Jongin mendesah pelan.
"Aku sendiri tidak tahu apa penyebab mereka berdua bercerai. Mungkin bercerai memang jalan yang paling baik bagi mereka berdua, dan bagi keluargaku. Tapi, masalahnya adalah…" Jongin menghela nafasnya lagi. Berat rasanya menceritakan hal ini ke pada orang lain yang belum terlalu lama dikenalnya. Hanya Yixing satu-satunya orang yang mengetahui masalah keluarga Jongin.
"Masalahnya adalah…?" Kyungsoo menanti Jongin untuk melanjutkan ceritanya.
"Aku membenci ayahku, Soo. Aku sangat menyayangi ibuku. Sebelum mereka bercerai, mereka berdua selalu bertengkar setiap malam. Ayahku sering sekali menyakiti ibuku. Hatiku sakit mendengar tangisan ibuku sendiri. Aku benci ayahku semenjak itu."
Kyungsoo masih mendengarkan cerita Jongin. Tatapannya menunjukkan rasa simpati yang besar terhadap lelaki di hadapannya. Tidak heran sifat Jongin selama ini agak berantakan.
"Awalnya, aku hanya benci ayahku. Tapi, setelah mereka bercerai, aku membenci ibuku juga, Soo. Bahkan aku membenci kakakku juga, yang waktu dulu aku anggap sebagai panutan." Suara Jongin mulai bergetar. Kyungsoo dapat melihat hal ini begitu menyakitkan untuk lelaki itu.
"Kenapa kau jadi membenci mereka juga?" tanya Kyungsoo sambil mengelus pundak Jongin, memberi tenaga dan semangat untuknya.
"Ibuku hanya membawa pergi kakakku, Soo. Ia tidak membawaku juga. Padahal ia tahu betul aku membenci ayahku. Benci sekali. Kenapa ia tidak membawaku juga?" Jongin meneteskan setitik air mata dari mata kirinya.
" Kenapa hanya kakakku? Jadi selama ini ia hanya menyayangi kakakku? Tidak tahukah ia, bahwa aku sangat menyayanginya? Ibuku adalah orang nomor satu di hatiku, Soo. Aku sangat sangat sangat menyayanginya. Tapi ia tega meninggalkanku dengan ayahku. Ia tidak sedih berpisah denganku." Tubuh Jongin mulai bergetar.
Kyungsoo sungguh tidak tega melihat Jongin yang berada di depannya. Ia tidak pernah menyangka Jongin adalah orang yang rapuh. Ia sama sekali tidak tahu bahwa Jongin menyimpan kepedihan yang mendalam.
"Ia bahkan tidak menjengukku selama beberapa tahun ke belakang. Tetapi, tiba-tiba kemarin ia dan kakakku kembali lagi ke rumah kami. Ia kembali lagi pada saat aku sudah begitu terbiasa hidup tanpa adanya mereka. Ayahku juga selalu tidak ada di rumah. Tidak ada yang menginginkanku, Kyungsoo. tidak ada yang menyayangiku." Jongin menahan isakannya, walaupun air mata sudah membanjiri wajahnya.
"Ayahku bahkan tidak mengizinkanku menari lagi, padahal itu adalah hal yang sangat kusukai… Untuk menari saja aku harus sembunyi-sembunyi di belakangnya." Jongin akhirnya tak kuat lagi, ia mulai menangis.
Kyungsoo memeluk Jongin yang terlihat lemah dan rapuh. Kyungsoo memeluknya erat. Berharap pelukannya dapat meringankan sedikit beban yang dipendam Jongin. Berharap pelukannya dapat membawa sedikit pengaruh baik untuk diri Jongin. Berharap pelukannya dapat menunjukkan betapa sayangnya Kyungsoo pada lelaki di pelukannya.
"Kenapa mereka tiba-tiba datang lagi… kenapa?" Jongin menangis, meluapkan segala emosinya di pelukan Kyungsoo.
Untuk sesaat, Jongin hanya terisak di pelukan Kyungsoo. Tidak ada suara lain, hanya ada suara isakan dari lelaki itu.
"Jongin, aku tidak tahu aku harus melakukan apa untuk meringankan bebanmu. Tetapi, jika kau beranggapan bahwa tidak ada orang yang menyayangimu, kau salah besar, Jongin." Kyungsoo berkata sambil terus memeluk dan mengelus punggung Jongin.
"Aku yakin, ibu, ayah, dan kakakmu sangat menyayangimu. Mana mungkin ada keluarga yang tidak menyayangi satu sama lain? Mereka hanya belum dapat menunjukannya, Jongin. Pasti ada sesuatu yang menghambat mereka untuk menunjukkan rasa sayang mereka terhadapmu."
Jongin mulai diam, walaupun air mata masih terus memenuhi pelupuk matanya.
"Aku mohon, kali ini percayalah padaku. Mereka pasti menyayangimu. Hanya saja, ada sesuatu yang membuat mereka terpaksa menyembunyikannya. Setiap orang memiliki masalah masing-masing, Jongin."
Kyungsoo melepaskan pelukannya dari Jongin.
Dengan lembut, gadis itu menghapus air mata yang masih tersisa bekasnya di pipi Jongin.
"Aku bisa menyayangimu dengan nyata, Jongin. Aku bisa menunjukkan bahwa aku menyayangimu." Kyungsoo berkata tanpa ragu sedikitpun. Ia ingin meyakinkan Jongin bahwa ia menyayangi lelaki itu. Bahwa Jongin tidak sendirian. Bahwa Jongin diinginkan. Bahwa ada yang menyayangi Jongin.
Masa bodoh dengan harga diri, dan peraturan di mana laki-laki harus mengungkapkan rasa sayangnya terlebih dahulu. Kali ini Kyungsoo sudah tak peduli lagi. Jongin harus tau bahwa dirinya diinginkan, bahwa dirinya disayangi. Bahwa Kyungsoo, menyayanginya.
Jongin melebarkan matanya kaget. Ia tidak menyangka Kyungsoo dapat menyampaikan perasaannya dengan frontal dan tanpa keraguan.
"Aku akan selalu ada di sini, di sisimu setiap kali kau kesusahan. Aku akan mendengarkan segala ceritamu. Aku akan selalu siap sedia mendengarkan ceritamu, dan menjadi tempat kau mengungkapkan segala emosi serta keluh kesahmu, Jongin." Kyungsoo tersenyum, tetapi sorot matanya menunjukkan kesedihan dan simpati yang mendalam.
"Aku menyayangimu, Jongin. Apakah kau mempercayaiku?" tanya Kyungsoo dan memandang mata Jongin penuh harap. Ia hanya ingin Jongin meyakini bahwa Kyungsoo menyayanginya. Kyungsoo tidak berharap Jongin membalas rasa sayangnya. Terlalu jauh.
Jongin tersenyum lembut, dan memeluk Kyungsoo. Tubuh Kyungsoo yang mungil memang sangat terasa pas berada di pelukan Jongin.
Kyungsoo balas memeluk Jongin, walaupun gadis itu masih belum mengerti apa yang sebenarnya Jongin pikirkan ketika memeluk tubuhnya.
Jongin melepas pelukannya, lalu memegang kedua bahu mungil milik Kyungsoo, seraya berkata, "Mengapa bisa ada manusia sesempurna dirimu, Kyungsoo?"
Kyungsoo mengerjapkan matanya tidak mengerti.
"Orang-orang bilang, tidak ada manusia yang sempurna. Tetapi mengapa kau begitu sempurna?" Jongin tersenyum lembut. Suaranya pelan sekali, nyaris seperti bisikkan.
"Kau sangat cantik," tangannya kanannya menyentuh pipi Kyungsoo.
"Bukan hanya parasmu, tetapi hatimu juga, Kyungsoo. Aku bersumpah, kau adalah hal paling indah dan sempurna yang pernah kutemui." Kali ini, kedua tangannya sudah memegang kedua pipi Kyungsoo.
Kyungsoo masih kebingungan. Tatapannya menunjukkan kalau gadis itu sedang mencari-cari maksud sebenarnya dari setiap kata yang Jongin ucapkan.
"Masih belum mengerti juga?" tanya Jongin dengan senyumannya yang jahil.
Kyungsoo menggelengkan kepalanya berkali-kali.
Jongin tersenyum lebar, dan mendekatkan wajahnya ke wajah Kyungsoo yang terlihat kaget. Ia sama sekali belum mempersiapkan hal ini.
"Aku amat sangat menyayangimu, Do Kyungsoo." ucap Jongin dengan penuh ketulusan, lalu mengecup sudut bibir gadis itu. Hanya kecupan ringan, namun membuat seluruh tubuh Kyungsoo lemas.
0-0-0-0-0-0
"Sudah lama sekali bukan?"
"Joonmyun Oppa?" Yixing nyaris menjerit ketika melihat Joonmyun yang berada di halaman rumah gadis itu.
"Hai, Yixing. Apakah kau merindukanku?" tanya Joonmyun dengan senyumannya yang sangat lembut, seperti malaikat.
Yixing tak bisa berkata-kata. Sulit mengekspresikan perasaannya saat ini. Ia begitu merindukan Joonmyun. Lebih dari apapun.
Joonmyun mendekat, menghampirinya. "Masih senang menyirami tanaman rupanya."
"Begitulah…" hanya itu jawaban yang bisa Yixing keluarkan dari mulutnya.
"Kau tidak bertanya mengapa aku baru menghampirimu lagi? Tidak bertanya mengapa tiba-tiba aku bisa berada di kota ini lagi? Tidak bertanya aku ke mana saja selama beberapa tahun ke belakang?"
Yixing masih diam.
"Kau benar-benar tidak merindukanku ya?" kata Joonmyun tanpa menatap Yixing. Ia tersenyum sedih.
Yixing menatap Joonmyun dari atas sampai bawah. Ia masih sulit mempercayai kalau Joonmyun ada di sini bersamanya, setelah bertahun-tahun menghilang tanpa kabar. Lalu melanjutkan pekerjaannya yang masih belum selesai. Ya, menyiram tanaman.
Joonmyun menatapi Yixing yang sedang menyiram tanaman dengan penuh kasih sayang. Lelaki itu benar-benar merindukan Yixing, gadis yang sekarang berada tepat di depannya. Rasanya ingin ia langsung merengkuh gadis itu ke dalam pelukannya yang hangat Tetapi, mengapa gadis itu bersikap seolah tidak merindukannya? Yixing tidak mengatakan banyak hal.
Joonmyun mendesah pelan. Kecewa. "Baiklah kalau memang kau tidak menginginkanku berada di sini, Yixing. Sepertinya aku hanya akan mengganggumu jika terus berada di sini. Lebih baik aku pergi…"
Yixing masih diam.
"Sampai nanti Yixing-a…" Joonmyun berkata sekali lagi sebelum membalikkan badannya dan mulai berjalan menjauh.
Sebelum Joonmyun tersadar, telah ada sepasang tangan kecil yang memeluk tubuhnya dari belakang.
"Kau bodoh Oppa! Kenapa tidak menghubungiku sama sekali? Kau ke mana saja? Bodoh bodoh bodoh!" Yixing menangis sambil terus memeluk Joonmyun dari belakang.
Joonmyun tersenyum senang. Ternyata Yixing merindukannya. "Maafkan aku Yixing, aku tidak bisa mengabarimu." Katanya sambil melepas pelukan Yixing dan akhirnya berbalik menghadap gadis itu.
"Kenapa tidak bisa? Hiks… kau tidak tahu betapa khawatirnya aku terhadap dirimu." Kata Yixing yang masih menangis. Kini Yixing berusaha membersihkan bekas air mata yang berada di pipinya.
"Jika aku menghubungimu, aku makin tidak bisa menahan rasa rindu yang amat sangat. Akan semakin susah bagiku untuk tidak menemuimu." Joonmyun berkata dengan senyumannya yang membuat Yixing tenang dan berhenti dari tangisannya.
"Kau juga merindukanku?" tanya Yixing penuh harap.
"Bagaimana mungkin aku tidak merindukan mata ini," Joonmyun menyentuh mata indah Yixing dengan tangannya. "Hidung ini," Joonmyun menyentuh hidung Yixing. "Dan juga…" Joonmyun menatap Yixing dengan amat lembut. "Bibir ini."
Nafas Yixing tercekat. Kali ini, bukan tangan Joonmyun yang menyentuh bibirnya. Melainkan, bibir lelaki itu sendiri.
0-0-0-0-0-0
"Sungguh sulit dipercaya. Kau sudah pacaran dengan kakakku?" kata Jongin. Yixing meneleponnya tiba-tiba.
"Iya… Kau harus mengikuti jejak kakakmu, Jongin. Ia sangat romantis. Jantungku jadi berdebar lagi jika mengingat saat-saat sore tadi." Yixing berkata dari seberang sana.
"Ajaib. Aku tidak menyangka kalian bisa jadian secepat dan semudah itu. Noona langsung memaafkannya begitu saja? Padahal ia sudah mengabaikanmu selama bertahun-tahun."
"Ia memiliki alasan, Jongin. Semua pasti ada alasannya. Dan ia bilang, ia sangat menyayangiku. Begitu pula aku. Aku sangat menyayanginya. Jadi, harus tunggu apa lagi?" Kata Yixing, disertai kikikan centil.
"Astaga… apakah ini benar Yixing Noona yang kukenal?" Jongin geleng-geleng kepala. Menurutnya, Yixing kali ini adalah Yixing yang sangat out of character. Sangat bertentangan dengan Yixing yang ia kenal.
"Hei, apa maksudmu? Hahaha, sudahlah. Lebih baik kau makan malam Jongin. Sudah waktunya makan. Sampai nanti." Yixing mematikan sambungan telepon.
Jongin memikirkan ucapan Yixing barusan.
Dan ia bilang, ia sangat menyayangiku. Begitu pula aku. Aku sangat menyayanginya. Jadi, harus tunggu apa lagi?
"Kyungsoo menyayangiku… Aku juga sudah sangat yakin bahwa aku menyayanginya. Haruskah aku menjadikan Kyungsoo sebagai kekasihku?" Gumamnya pelan.
"Jongin…" TOK TOK TOK.
Terdengar ketukan pintu dan juga suara Yuri.
"Ada apa?" jawab Jongin ketus. Hampir saja ia lupa bahwa di rumahnya sedang ada kakak dan ibunya.
"Eomma sudah menyiapkan makan malam. Ayo makan…" Ajak Yuri.
"Tidak lapar." Padahal Jongin lapar setengah mati.
"Ayolah, sayang. Eomma sudah membuat makanan kesukaanmu. Dan juga… eomma ingin menyampaikan sesuatu." Yuri membujuk putra bungsunya.
Pada akhirnya, Jongin mengalah. Ia membuka pintunya dan mendapati Yuri di depan kamarnya dengan senyuman dan tatapan hangat khas seorang ibu yang ia rindukan. Jongin sangat merindukan kehangatan ibunya itu.
Tak tahan lagi, Jongin akhirnya memeluk ibunya yang ia sayangi.
"Eomma…" katanya sambil membenamkan kepalanya di leher ibunya. Ia menghirup wangi khas ibunya dalam-dalam. Mencoba meraup seluruh hal yang berada di dalam diri ibunya. Ia sangat merindukan ibunya.
"Jongin… anak Eomma." Yuri pun melakukan hal yang sama. Ia memeluk Jongin dengan segenap kasih sayang yang seharusnya Jongin rasakan selama beberapa tahun ini.
"Ehm," terdengar suara dari ujung tangga.
Jongin dan Yuri melepas pelukannya dan melihat ke sumber suara. "Appa…" ucap Jongin.
"Sudah dulu ya temu kangennya. Bagaimana kalau sekarang kita makan bersama? Sudah lama sekali bukan, semenjak kita makan bersama yang terakhir?" usul Siwon.
Yuri tersenyum manis dan langsung menanggapi, "Benar. Ayo Jongin, Eomma tahu pasti kamu sangat lapar kan?"
Jongin menatap kedua orangtuanya dengan heran. Apa mereka berdua sudah berbaikan? Jangan-jangan… alasan Yuri dan Joonmyun ke sini itu adalah…..
"Ayo sayang." Genggaman lembut Yuri di tangannya menyadarkannya dari seluruh khayalan dan harapan di otaknya.
Mungkinkah?
Tak lama kemudian, mereka semua sudah duduk manis di meja makan. Yuri dan Siwon duduk bersebelahan, di seberang mereka terdapat Joonmyun dan Jongin yang sedang mengambil makanan mereka masing-masing.
"Jadi, apa yang akan kalian sampaikan? Sepertinya hanya aku sendiri yang belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi." Jongin membuka suara. Ia sudah tak sabar untuk mendengar kabar apa yang akan Eomma-nya sampaikan. Ia penasaran setengah mati.
"Aku juga belum tahu, Jongin." Kata Joonmyun, lelaki itu pun melihat ke arah Eomma-nya, meminta jawaban.
"Ehm…" Yuri terlihat gugup.
Jongin mengerutkan keningnya heran saat melihat Siwon menggenggam erat tangan Yuri. Apa maksudnya?
"Sebaiknya aku saja yang mengumumkan." Siwon berbisik pada telinga Yuri. Meskipun Siwon bermaksud untuk berbisik, tetapi Jongin masih dapat mendengarnya dengan jelas.
Yuri mengangguk setuju.
"Ehm, jadi…" Siwon menatap Yuri sekilas, sepertinya ia juga gugup. Padahal, ia hanya berbicara di tengah tengah keluarganya.
Jongin menajamkan telinganya.
"Kami sudah berbaikan, dan berencana untuk… ehm, menikah lagi. Dan mengembalikan keluarga ini seperti semula." Ucap Siwon senang. Ia tersenyum sangat lebar, begitu juga Yuri.
Sementara Joonmyun dan Jongin menganga.
"Apa?! Kalian berdamai dan akan menikah lagi? Eomma mengapa tidak pernah cerita padaku?" Joonmyun langsung bertanya. Tentu saja ia sangat heran.
Jongin, lelaki itu hanya diam.
"Hehehe, maafkan Eomma, sayang. Eomma hanya ingin membuat kejutan bagi kalian berdua." Yuri tersenyum manis.
"Yah, bagaimana lagi? Mana bisa aku marah pada Eomma…" kata Joonmyun pada akhirnya. "Omong-omong, selamat untuk kalian berdua! Aku sangat senang mengetahui kalian berdamai. Akhirnya keluarga kita utuh lagi. Aku sangat merindukan kehangatan keluarga kita."
Yuri dan Siwon hanya tersenyum senang dan mengacak-acak rambut Joonmyun. Setelah itu, mereka berdua mengalihkan pandangan pada anak bungsu mereka.
"Jongin," Siwon memanggil nama Jongin.
Jongin yang tadi melamun langsung menjawab, "Ya?"
"Bagaimana denganmu? Apakah kau senang?" tanya Siwon dengan pandangan khawatir. Ia takut anak bungsunya itu tidak senang dan menolak semua ini.
"Tentu saja aku sangat senang! Aku sangat rindu dengan Eomma, Joonmyun Hyung, dan keadaan rumah ini ketika kita semua damai. Aku harap Appa tidak akan jahat lagi terhadap Eomma. Aku sayang kalian, aku tidak ingin kita terpecah belah lagi…" kata Jongin dengan senyumannya yang sangat tulus. Baru kali ini Siwon melihat anaknya tersenyum setulus itu.
"Appa berjanji tidak akan melukai Eomma-mu lagi, Appa sungguh menyesal." Siwon mengelus rambut Yuri penuh kasih, dan melanjutkan, "oh iya Jongin, kau boleh menari lagi. Maafkan Appa waktu itu melarangmu. Sebenarnya, Appa benci melihatmu menari karena mengingatkan Appa pada Eomma-mu ini ketika menari. Kau benar-benar mirip dengannya, sehingga Appa marah. Sebenarnya Appa sudah ingin mengizinkanmu menari lagi sejak lama. Hanya saja, Appa malu mengatakannya."kata Siwon diselingi tawanya.
"Kau melarang anak kita menari?" Yuri menatap Siwon tak percaya.
"Iya…" Siwon tersenyum kikuk.
"Sungguh tidak dapat dipercaya. Bagaimana bisa? Jongin sangat suka menari, bagaimana bisa kau larang-larang?" Yuri menatap Siwon dengan tatapan kesal.
"Sudahlah Eomma… Lagipula aku masih sering menari meskipun tanpa izin Appa." Kata Jongin.
"Iya, dia bahkan sering mengadakan konser. Aku sering menonton konsernya." Kata Siwon.
"APPA MENONTONKU?!" Jongin menjerit kaget, hilang sudah image cool nya.
Siwon terlonjak, "Iya… Appa menontonmu."
"Benarkah? Appa…" Jongin bangkit dari kursinya dan memeluk Siwon erat.
"Sulit dipercaya, bagaimana bisa Appa menontonku? Bagaimana bisa Appa tidak bilang apa-apa? Seharusnya Appa bilang kalau Appa akan menontonku, agar aku bisa berlatih lebih keras lagi untuk Appa…" kata Jongin sambil memeluk Siwon.
"Menurut Appa kau sudah menampilkan yang terbaik. Kau sudah sangat keren. Appa bangga padamu, Jongin."
Jongin sangat terharu. Ia tidak menyangka ternyata selama ini Siwon diam-diam sering menonton pertunjukan dance nya.
"Sudah Jongin, lebih baik habiskan makananmu." Yuri menyuruh Jongin untuk kembali ke tempatnya.
"Lihat, Eomma-mu cemburu melihatmu terlalu lama memelukku." Kekeh Siwon.
Mereka berempat tertawa senang.
Ah, betapa hangatnya suasana ruang makan malam ini.
"Oh iya, kenapa Eomma dan Appa bisa berdamai? Bagaimana ceritanya?" tanya Joonmyun.
"Oh itu…" Yuri melirik Siwon, seolah menyuruh Siwon untuk menceritakan semuanya.
"Jadi, sekitar enam bulan lalu, Appa sedang duduk di bangku belakang mobil, sementara supir menyetir. Saat itu sedang lampu merah, dan lumayan lama, karena lampu merahnya berada di perempatan." Siwon berhenti sebentar, dan meminum minumannya.
Lalu ia melanjutkan, "Saat itu hujan besar. Appa menengok ke sekeliling jalanan karena bosan. Lalu melihat orang yang mirip Yuri –yang ternyata memang Yuri- yang sedang berpayungan berdua bersama seorang lelaki. Appa merasakan hal tidak mengenakan di hati Appa, awalnya Appa biarkan saja. Tetapi, melihat gelagat lelaki itu, Appa jadi tidak percaya. Ia seperti memiliki tujuan yang lain yang tidak baik terhadap Yuri, gelagatnya menjelaskan semuanya. Ia pasti berniat macam-macam."
"Akhirnya, Appa keluar mobil tanpa memedulikan hujan dan menarik Yuri dari rangkulan lelaki itu. Appa membawa Yuri ke dalam mobil dan mengajaknya menghangatkan diri di kafe. Kami lalu menyadari bahwa kami masih saling mencintai, dan memutuskan untuk kembali bersama. Pada malamnya, kami menghabiskan malam yang hangat dan penuh cinta di hotel bintang lima."
"SUDAH APPA CUKUP AKU TIDAK INGIN MENDENGAR BAGIAN AKHIRNYA." Joonmyun menutup telinganya heboh. Begitu pula Jongin.
Siwon terkekeh geli, "biarlah, kalian juga sudah dewasa kan. Yang pasti, setelah itu kami selalu bersama selama enam bulan terakhir. Dan, karena menyadari kami benar-benar mencintai, kami memutuskan untuk menikah lagi." Siwon menutup ceritanya.
"Kapan kira-kira pernikahannya diadakan?" tanya Jongin.
"Bulan depan." Jawab Siwon.
"Baguslah, lebih cepat lebih baik." Joonmyun menanggapi.
"Jongin, sudah lama tidak bertemu, Eomma jadi penasaran… Apakah kamu sekarang mempunyai yeojachingu?" Yuri menatap Jongin dengan pandangan menggoda.
Jongin langsung kikuk seketika.
"T-tidak.." jawabnya.
"Kata Yixing, Jongin sedang mendekati gadis teman sekelasnya, namanya Do Kyungsoo." Joonmyun memberitahu orangtuanya.
"Benarkah? Jongin, kau harus membawanya ke rumah dan memperkenalkannya pada Eomma dan Appa." Suruh Yuri.
"Tapi, kami bahkan belum berpacaran, Eomma… tidak seperti Joonmyun Hyung yang sudah meresmikan hubungannya dengan Yixing Noona."
"Kau dan Yixing udah berpacaran? Hebat Joonmyun, kau memang benar-benar anak Appa!" kata Siwon bangga.
"Yak! Lalu aku anak siapa?" kata Jongin tidak terima.
"Hahahaha, tentu saja kau anak Appa juga. Ayolah Jongin, Joonmyun saja sudah berpacaran dengan gadis yang ia sayangi selama ini. Masa kau kalah dengan Hyung mu sendiri?" kata Siwon.
Jongin jadi berpikir, sepertinya, ia harus segera meresmikan hubungannya dengan Kyungsoo.
0-0-0-0-0-0
"Kyungsoo!" Panggil seorang gadis yang ternyata adalah Luhan.
"Hai Luhan! Ada apa?"
"Luna Sunbae menyuruhmu duet bersama Daehyun untuk acara di Pekan Kreatifitas nanti." Luhan melaporkan.
"Aku? Bersama Daehyun?" Kyungsoo kaget mendengar berita yang tiba-tiba ini.
"Iya, kau dan Daehyun akan menyanyikan lagu One Year Later." Kata Luhan.
"One Year Later? Sebentar, Luhan, mengapa aku tiba-tiba dipilih? Mengapa tidak Baekhyun saja?" Kyungsoo masih dilanda kebingungan. Masalahnya, bagaimana Luna Sunbae bisa tahu suaranya? Ia bahkan sangat jarang bernyanyi solo, tidak seperti Baekhyun.
"Awalnya, Luna Sunbae menyuruh Baekhyun. Tapi kau tahu kan bagaimana protektifnya Kris terhadapnya, apalagi partnernya adalah Daehyun. Otomatis, tawaran itu ditolak oleh Baekhyun. Sebenarnya bukan Baekhyun sih yang menolaknya, melainkan Kris. Jadi, aku pun mengusulkan dirimu untuk menjadi pengganti Baekhyun, dan Luna Sunbae setuju!" cerita Luhan panjang lebar.
Kyungoo diam, berpikir. "Tetapi, aku jadi tidak enak pada Baekhyun, Lu."
"Jangan khawatir, Baekhyun memiliki penampilan solo juga kok. Ayolah Kyungsoo… sudah saatnya kau menunjukkan bakatmu pada semua orang. Masa hanya dipendam begitu saja?" Luhan membujuk Kyungsoo.
"Aku lebih nyaman bernyanyi dengan iringan pianomu di ruang musik, Lu…" kata Kyungsoo sambil tersenyum manis. Berusaha menolak.
"Kyungsoo, pada pertunjukan itu, aku juga akan bermain piano untuk mengiringimu dan Daehyun. Ayolah… masa iya kita hanya akan memainkan lagu So Close lagi hanya berdua di ruang musik? Sudah seharusnya kita menunjukkan kemampuan kita, Kyung. Kumohon…" Luhan memohon-mohon pada Kyungsoo.
"Baiklah…" Kyungsoo akhirnya mengalah.
"YESS! Terimakasih Kyung! Aku sudah menghubungi Daehyun lebih dulu. Nanti kalau mau latihan, hubungi aku ya! Kita latihan bersama!" kata Luhan dengan penuh semangat.
Kyungsoo tersenyum lembut, "Iya…"
"Aku pergi dulu ya, Kyung! Dadaaah!"
Kyungsoo terdiam lagi setelah kepergian Luhan. Baiklah, sepertinya ini kesempatan bagus. Jongin pasti senang kan? Ia sudah lama ingin mendengar suara Kyungsoo.
0-0-0-0-0-0
Luhan berjalan menuju ruang musik. Ia senang, Kyungsoo menyanggupi permintaannya. Luhan mulai memainkan piano dan memainkan lagu One Year Later, lagu yang akan ditampilkan bersama Kyungsoo dan Daehyun.
Jika sedang sendirian begini, Luhan suka bernyanyi. Tetapi kalau sedang bersama Kyungsoo atau Baekhyun, ia lebih nyaman memainkan piano saja. Ia lebih suka mengiringi mereka bernyanyi dengan pianonya.
Luhan mulai bernyanyi dengan syahdu. Suaranya indah. Tak kalah indah dengan suara Kyungsoo dan Baekhyun.
Setelah selesai bernyanyi, perempuan itu mendengar suara tepuk tangan dari arah pintu ruang musik.
Ternyata, sedari tadi ada yang memperhatikannya.
"Jongin?" kata Luhan setengah kaget.
Jongin terpaku di depan pintu. "Luhan." Panggilnya.
"Ya? Kenapa Jongin?"
"Waktu itu, aku pernah mendengar seseorang bernyanyi di ruangan ini, ia menyanyikan lagu So Close. Aku menunggu orang itu sampai ia keluar, karena aku sangat terpesona dengan suaranya. Dan ternyata, yang keluar adalah kau, Lu." Ucap Jongin.
"Hal itu yang membuatku dulu terobsesi denganmu. Tapi… ternyata setelah mendengarmu menyanyi kali ini, itu suara yang berbeda. Maksudku, suaramu bagus dan tak kalah indah, tetapi… suara kalian berbeda. Suara orang yang menyanyi itu seolah-olah menyihirku dan membuatku jatuh cinta. Siapa orang itu Lu? Kau waktu itu ada bersamanya kan?" Jongin menghujam Luhan dengan pertanyaan.
Luhan tersenyum penuh arti. "Tidak seru kalau aku memberi tahu siapa pemilik suara indah itu, Jongin. Tunggu sebentar lagi… Kau akan menemukannya."
TBC
HAPPY BIRTHDAY DO KYUNGSOO & KIM JONGIN!
Semoga Kyungsoo semakin lucu dan semakin jago nyanyinya. Semoga Jongin semakin tampan dan semakin sexy (?) hehehe pokoknya semoga kaisoo semakin langgeng dan mesra tanpa hambatan! amin!
Aduuuh lama banget ya aku update nya :(
Maaf ya... kemarinnya kena writer's block (gaya banget)
Hehehehe tapi udah update kan nih? Chapter depan aku janji bakal cepet update kok! Tugguin aja yaa!
Makasih banyak untuk yang kemarin sudah review.
Chapter ini jangan lupa review lagi ya!
Untuk readers yang baru baca, selamat datang ^^
Selamat membaca ceritaku yang masih abal ini hehehehe.
Untuk yang nanya kenapa Kaisoo gak jadian jadian juga tenang aja... sebentar lagi mereka bakal jadian kok (spoiler abis).
Pokoknyaaaa jangan lupa review, oke? Review dari kalian bikin aku semangat banget untuk lanjutin cerita ini loooh :D
Makasih sudah nyempetin baca ceritaku!
-Tatiana12
