"Pada intinya, suara kalian berdua memang bagus dan saling melengkapi satu sama lain. Oh iya, gerakan kalian tadi masih sangat kaku. Aku rasa kalian harus lebih sering untuk menghabiskan waktu berdua, agar bisa lebih dekat dan tidak canggung. Ini hanya untuk keperluan pentas kok, jadi tidak usah gengsi dan malu-malu." Luhan memberi saran.

"Tentu saja. Lagi pula siapa yang malu dan gengsi? Aku tidak keberatan kok." Kyungsoo menyetujui usulan Luhan.

"Baguslah, bagaimana denganmu, Daehyun?" Luhan menanyakan pendapat Daehyun.

"Tentu saja aku tidak keberatan. Siapa yang akan keberatan jika disuruh menghabiskan waktu bersama perempuan secantik Kyungsoo?" kata Daehyun sambil tertawa.

Kyungsoo tertawa juga, menganggap itu adalah sebuah lelucon.

Tetapi, Luhan tidak merasa itu lucu. Luhan tiba-tiba mengkhawatirkan perasaan Jongin. Pasti Jongin akan sakit hati bila melihat Kyungsoo dan Daehyun sering menghabiskan waktu bersama.

Aduh bagaimana ini? Luhan jadi semakin gelisah.

Your Smile.

I don't own anything but the storyline.

Genderswitch.

"Kyung, bagaimana jika kau makan siang denganku mulai sekarang?" Daehyun mengajak Kyungsoo untuk makan siang bersama ketika waktu makan siang telah tiba.

Kyungsoo agak kaget ketika mendengar Daehyun menawarkan hal itu.

"Ehm, aku menawarkan ini agar kita menjadi lebih dekat dan penampilan kita semakin terasa emosinya saat kita tampil nanti." Jelas Daehyun dengan sedikit gugup.

"Oh!" Kyungsoo tersenyum cerah, menyadari maksud Daehyun. Ia jadi menyalahkan dirinya sendiri karena tadi ke GR-an sendiri. Gadis itu sepertinya lupa bahwa kemarin ketika latihan, Luhan menyarankan agar mereka berdua menjadi lebih dekat.

"Bagaimana?" Daehyun menyunggingkan senyuman khas-nya.

"Boleh juga idemu, Daehyun. Baiklah, aku akan makan siang bersamamu mulai dari sekarang sampai hari pementasan tiba." Jawab Kyungsoo. Ia akhirnya menerima tawaran Daehyun.

Daehyun terlihat sangat senang. Meskipun hanya beberapa hari, setidaknya ia dapat makan siang berdua dengan Kyungsoo.

"Haruskah kita ke kantin sekarang?" ajak Daehyun.

"Ayo! Aku sudah lapar."

Daehyun tersenyum sendiri melihat Kyungsoo yang menurutnya sangat lucu saat ini. Ia lagi-lagi mengacak sekilas rambut hitam Kyungsoo. Untungnya, gadis itu tidak keberatan sama sekali. Lalu, mereka berjalan menuju kantin sambil bercanda dan membicarakan hal tentang diri masing-masing agar lebih mengenal satu sama lain.

Sayangnya, Daehyun tidak tahu bahwa tindakannya ini membuat kemarahan seorang Kim Jongin naik sampai ke ubun-ubun.

Ya. Dari bangkunya, Jongin melihat dan mendengar percakapan mereka dari awal hingga akhir.

0-0-0-0-0

"Aku tidak mengerti. Memangnya, untuk membuat penampilan yang bagus, harus benar-benar dekat di kehidupan nyata ya?" Jongin marah-marah sendiri saat mereka berdua sedang berada di atap sekolah siang itu. Yixing menatapnya dengan pandangan geli.

Jongin menatap Yixing dengan galak ketika ia mendengar kekehan dari sahabatnya itu.

"Jangan mentang-mentang kau dan Joonmyun Hyung sudah resmi berpacaran kau jadi meledekku seperti itu ya, Noona!" Jongin menegurnya sebal.

"Hmm," Yixing menahan tawanya sejenak, mencoba untuk serius. "Yaaa, tidak harus sih. Tapi kau kan tahu, chemistry itu dibutuhkan sekali. Jadi lebih baik jika kedua penyanyi saling mengenal dekat di dunia nyata."

"Tinggal akting saja apa susahnya sih? Si Daehyun itu memang tertarik pada Kyungsoo-ku, sehingga ia menggunakan kedok 'lebih dekat untuk emosi saat tampil' sebagai modusnya. Aku yakin itu."

"Lalu, kau akan melakukan apa untuk mengatasi masalahmu ini?" Tanya Yixing, ia lama-lama merasa kasihan juga pada Jongin.

"Entahlah," Jongin menatap ke depan dengan pandangan kosong. "Kyungsoo masih menghindariku. Di kelas, ia tidak duduk bersamaku lagi. Ia benar-benar menghindariku."

"Kau sendiri, apakah sudah yakin dengan Kyungsoo? Kau sudah benar-benar tidak akan mencari-cari gadis dengan suara indah itu?" tanya Yixing penasaran.

Jongin kali ini menjawab dengan yakin, "Tentu saja sudah. Kyungsoo selama ini telah membuktikan, ia selalu ada untukku. Aku telah mengenalnya, sampai ke dalam-dalamnya. Sementara gadis bersuara indah itu... aku bahkan tidak tahu siapa dia, bagaimana wajahnya, apalagi sifatnya. Tentu saja Kyungsoo pemenang hatiku." Kata Jongin bangga dengan pilihannya.

Yixing tersenyum senang. "Kalau kau memang sudah yakin, tinggal hampiri Kyungsoo dan jelaskan semua kesalahpahamannya tentangmu dan Luhan waktu itu. Jika seandainya aku berada di posisi Kyungsoo pun, aku tentu akan menghindarimu, Jongin." Yixing memberi saran untuk Jongin yang sudah ia anggap sebagai adik sendiri.

"Apakah Kyungsoo mau mendengarkan penjelasanku?" Jongin merasa ragu untuk mengikuti saran dari Yixing.

"Kalau kau berusaha untuk menghampiri dan menjelaskan semuanya padanya, mungkin dia mau. Tidak ada salahnya untuk dicoba kan? Kau benar-benar menyayanginya kan?"

Jongin terdiam. Ia tenggelam dalam pikirannya sendiri.

0-0-0-0-0

"Kyung, kau kenapa jadi sering terlihat berduaan dengan Daehyun sih?" Baekhyun bertanya ketika mereka berdua sedang berada di rumah keluarga Byun untuk mengerjakan tugas bersama pada malam itu. Oh iya, ditambah Kris juga, karena ia sekarang selalu ada di manapun Baekhyun berada.

"Kami berdua sengaja mendekatkan diri agar pada saat tampil nanti, emosi kami bisa tersampaikan dengan baik, Baekhyun-ah." Jawab Kyungsoo sambil sibuk menulis tugasnya.

"Ya tapi tidak begitu juga Kyung. Kuperhatikan kau terus bersama dari makan siang, saat ekskul, belum lagi ketika kalian latihan bersama untuk pentas. Kalian terlihat begitu dekat. Bisa-bisa, orang lain menyangka ada sesuatu yang lebih di antara kalian berdua."

"Hahahaha, tentu saja tidak akan ada sesuatu yang lebih di antara kami, Baekhyun. Kau kenapa tiba-tiba peduli padanya? Kau baru sadar kalau ternyata kau menyukainya?" Kyungsoo bertanya dengan nada bercanda.

Kris menatap Kyungsoo tajam ketika mendengar pertanyaan Kyungsoo.

"Ampun, Oppa." Kata Kyungsoo, lalu gadis itu tertawa. "Jadi, kenapa kau tiba-tiba peduli sekali pada Daehyun, Baek?"

"Aku bukan peduli pada dirinya, Kyung. Tapi pada dirimu." Ujar Baekhyun.

Kyungsoo mengerenyitkan dahinya heran. Untuk apa Baekhyun repot-repot mempersalahkan soal dirinya dan Daehyun?

"Aku rasa, kali ini Daehyun tertarik padamu, Kyung." Kris yang daritadi sedang menonton TV tiba-tiba ikut mengeluarkan pendapatnya.

"Yang benar saja?!" Kyungsoo melebarkan matanya. Membuat matanya yang besar itu tampak akan meloncat ke luar.

"Memangnya kau tidak merasa?" Kris bertanya. Apakah semua gadis diciptakan untuk tidak peka? Bukannya justru seharusnya para gadis yang peka? Kenapa di sekitar Kris, justru para lelaki yang peka?

"Aku tidak merasakan apa-apa." Jawab Kyungsoo polos.

"Hahhh, sudahlah, Oppa. Kyungsoo bukan jenis gadis yang mudah menyadari perasaan laki-laki yang tertarik padanya." Kata Baekhyun.

Kris hanya menggedikkan bahunya, dan mulai menonton TV lagi. Sebenarnya, Kris ingin membantu permasalahan yang dihadapi Kyungsoo, tapi ia merasa tidak memiliki hak apa-apa dalam hubungan Jongin dan Kyungsoo.

"Bagaimana dengan Jongin, Kyung? Apa kau tidak peduli dengan perasaannya padamu? Coba bayangkan betapa sakit hatinya dia melihatmu dan Daehyun yang selalu bersama." Baekhyun memberikan sedikit pencerahan agar Kyungsoo tidak bersikap bodoh. Karena Baekhyun tahu jelas Jongin dan Kyungsoo saling menyayangi.

Kyungsoo menghentikan gerakan tangannya yang sedang menulis itu. Gadis itu menghela napasnya. "Bukan hanya aku yang berduaan dengan lelaki lain, Jongin juga bisa berduaan dengan perempuan lain." Kyungsoo dengan pahit mengatakannya.

"Ya, aku sudah tahu. Luhan sudah menceritakannya padaku. Mereka berbicara berdua bukan karena hal-hal yang romantis, Kyung. Mereka membicarakan hal lain. Seharusnya kau tahu itu. Mengingat Luhan sudah mempunyai Sehun, dan Jongin secara terang-terangan sedang mendekatimu." Baekhyun mencoba meyakinkan Kyungsoo.

"Tapi kau tahu kan, Baek, Jongin pernah menyukai Luhan. Dulu, ia bahkan sampai mengancamku demi Luhan. Aku... aku rasa Jongin masih menyimpan rasa pada Luhan. Aku rasa... aku hanya dijadikan sebagai pelampiasan." Kyungsoo berkata lirih. Hatinya terasa sakit saat mengatakan hal itu.

Baekhyun mendesah pelan. Seandainya saja Kyungsoo tahu kebenarannya.

Ya, Baekhyun sudah tahu tentang kesalahpahaman waktu itu. Ketika Kyungsoo memergoki Jongin dan Luhan yang sedang membicarakan gadis bersuara indah yang tak lain dan tak bukan adalah Kyungsoo. Baekhyun juga sudah mengetahui semuanya tentang gadis bersuara indah yang ditaksir Jongin itu dari Luhan. Ia sudah tahu dilema yang dimiliki Jongin. Luhan sudah menceritakan semuanya yang terjadi pada Baekhyun.

Tentu saja Kris juga sudah tahu. Baekhyun kan selalu memberi tahu segalanya pada Kris.

Sebenarnya, Baekhyun merasa ini semua konyol. Jongin berada dalam sebuah dilema, di mana ia harus memilih seorang gadis di antara dua gadis yang sebenarnya adalah satu orang. Pusing kan?

Baekhyun tidak tahan ingin menceritakan semuanya pada Kyungsoo agar gadis itu tidak bersedih dan tidak mencurigai adanya hubungan macam-macam yang terjalin antara Luhan dan Jongin. Tapi, apa haknya untuk menceritakan itu semua? Ini adalah masalah Jongin dan Kyungsoo. Dan mereka bukan anak kecil lagi. Mereka harus bisa menyelesaikan masalah mereka sendiri tanpa bantuan Baekhyun dan yang lainnya. Begitulah pemikiran Baekhyun.

"Kau bukan pelampiasan, Kyung..." Pada akhirnya, hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Baekhyun. Sebisa mungkin, ia berusaha untuk menghibur sahabatnya.

Kyungsoo tersenyum sedih, "Terima kasih sudah menghiburku, Baekhyun. Tapi, kau tidak perlu mengatakan sesuatu yang belum kau ketahui pasti kebenarannya."

Baekhyun menatap Kris dengan pandangan putus asa. Kris juga hanya tersenyum lemas. Mereka berdua sama-sama tahu kebenarannya, tetapi tidak berhak untuk menyampaikannya pada Kyungsoo. Hal itu membuat mereka mual.

'Aaah Jongin! Cepat selesaikan masalah ini! Aku sudah tak tahan lagi melihat Kyungsoo yang bersedih.' Baekhyun menjerit dalam hati. Baekhyun benar-benar tidak tega melihat Kyungsoo yang seperti ini.

0-0-0-0-0

"Kyungsoo..." Jongin memanggil nama Kyungsoo ketika lelaki itu melihat Kyungsoo yang berjalan sendirian di koridor yang sepi. Tumben sekali gadis itu tidak bersama Daehyun. Sudah tiga hari terakhir ini, Kyungsoo dan Daehyun selalu bersama. Saat ini memang masih pagi, sehingga sekolah belum ramai. Sepertinya Daehyun juga belum datang.

"Kyungsoo!" Jongin memanggil lebih keras. Tapi sayang, Kyungsoo masih tidak mau menoleh.

"Kyungsoo, aku ingin berbicara denganmu." Jongin akhirnya berhasil meraih lengan Kyungsoo dan menariknya.

"Lepas!" Kyungsoo berusaha melepaskan genggaman Jongin dari lengannya.

"Soo, kita benar-benar harus berbicara." Jongin menatap Kyungsoo dengan pandangan memohon.

Kyungsoo terdiam cukup lama sambil terus menatap mata Jongin, mencari kesungguhan di sana.

"Baiklah, tapi sebentar saja." Kyungsoo akhirnya mengalah, dan membiarkan Jongin menariknya menuju taman sekolah, di mana di situ terdapat bangku-bangku tempat murid-murid menghabiskan waktu untuk bersantai dan beristirahat dari penatnya belajar.

Tentu saja taman itu masih sangat sepi. Belum ada orang, kecuali mereka berdua.

Jongin berencana untuk menjelaskan semua kesalahpahaman yang terjadi, sesuai apa yang Yixing sarankan padanya. Jongin benar-benar ingin masalah ini cepat selesai. Ia benar-benar rindu pada Kyungsoo. Ia tak yakin bisa menahan kerinduannya untuk waktu yang lebih lama lagi dari ini.

"Jadi... apa yang ingin kau sampaikan?" tanya Kyungsoo. Gadis itu masih belum ingin berlama-lama bersama Jongin. Ia masih merasa marah dan kecewa karena kejadian waktu itu. Ia juga masih mengira dirinya adalah pelampiasan.

Jongin tidak menjawab. Ia hanya memperhatikan wajah Kyungsoo. Sungguh, walaupun baru beberapa hari mereka bertengkar, Jongin sangat merindukan Kyungsoo. Ia rindu melihat wajah Kyungsoo dari jarak sedekat ini.

"Jongin?" Kyungsoo memanggil Jongin lagi. Berharap lelaki itu akan menjawab pertanyaannya dengan segera. Karena Kyungsoo merasa risih dipandangi oleh Jongin seperti itu.

"Jongin, jawab..." Kyungsoo berkata lagi.

Namun, bukannya menjawab, Jongin malah langsung memeluk Kyungsoo. Kyungsoo terbelalak kaget. Kedua tangan Jongin merengkuh tubuh mungilnya dengan penuh dan erat. Seolah tidak ingin melepaskan pelukan itu lagi.

Kyungsoo diam saja. Ia tidak melepas ataupun membalas pelukan Jongin.

"Aku benar-benar merindukanmu, Soo..." bisik Jongin di telinga Kyungsoo. Pelukannya masih belum lepas.

Napas Kyungsoo tercekat. Kyungsoo juga benar-benar merindukan Jongin.

Jongin pelan-pelan melepas pelukannya dari tubuh Kyungsoo. Lalu kedua tangannya menyentuh wajah cantik Kyungsoo.

"Aku rindu melihat wajahmu, Kyung. Aku rindu melihat matamu yang menatap padaku, aku rindu mendengar suaramu yang sedang berbicara padaku." Jongin berkata dengan tulus dan sepenuh hati. Kyungsoo juga dapat merasakan ketulusan hati Jongin. Tapi, otaknya menyuruh Kyungsoo untuk lebih menggunakan logika daripada perasaannya sendiri.

Kyungsoo tidak lagi menatap mata Jongin, ia mengalihkan pandangannya pada hal lain. Ia takut hatinya akan percaya dengan semua ucapan Jongin.

Tepat ketika Kyungsoo menundukkan kepalanya, Jongin menahan dagunya dan memaksa Kyungsoo untuk menatap wajahnya.

"Aku menyayangimu, Kyungsoo." Jongin berkata dengan cepat, lalu segera mencium bibir Kyungsoo yang merah merekah itu. Bibir yang sudah lama tidak ia kecup.

Satu tangan Jongin berada di belakang kepala Kyungsoo. Menahannya, agar gadis itu tidak pergi. Agar gadis itu tidak menolak ciuman yang ia berikan.

Kyungsoo memejamkan matanya, dan membalas ciuman-ciuman dari Jongin.

Jongin tersenyum di dalam ciumannya. Ia senang, Kyungsoo mau membalas ciumannya. Ia merasa masih ada harapan untuk hubungannya dengan Kyungsoo yang hampir saja musnah.

Jongin terus mencium bibir Kyungsoo dengan sepenuh hatinya. Jongin mengeluarkan seluruh rasa di hatinya dalam ciuman-ciuman yang ia berikan. Berharap Kyungsoo dapat merasakan apa yang ia rasakan di hatinya. Berharap semua yang terlalu susah untuk dijadikan kata-kata dapat tercurah melalui ciuman manis ini.

Ketika Jongin mulai memasukkan lidahnya ke dalam mulut Kyungsoo, barulah Kyungsoo tersadar.

Kyungsoo sontak mendorong dada Jongin. Sebisa mungkin, ia ingin terlepas dari Jongin. Sebelum Jongin sadar apa yang terjadi, Kyungsoo sudah menghilang dari pandangannya. Seketika itu juga, Jongin merasa hampa.

Jongin bahkan belum sempat menjelaskan kesalahpahaman yang ada di antara mereka.

Masihkah ada kesempatan untuk hubungan mereka berdua?

0-0-0-0-0

Kyungsoo segera masuk ke ruang musik yang kosong dan menangis tersedu-sedu. Tangisan yang ditahannya sedari tadi, saat dia berlari dari taman menuju ruangan ini.

Jantungnya masih berdebar dengan cepat dan kencang, akibat ciumannya bersama Jongin tadi.

Sungguh, Kyungsoo juga amat sangat menyayangi Jongin. Tapi, ia juga tidak ingin dijadikan pelampiasan. Firasat Kyungsoo mengatakan bahwa Jongin masih memliki perhatian lebih pada Luhan. Walaupun firasat Kyungsoo sering kali salah, namun ia selalu yakin bahwa firasatnya benar. Sehingga sekarang, ia dilanda rasa galau yang berlebihan.

Kyungsoo bahkan belum tahu apa yang Luhan dan Jongin bicarakan waktu itu, tapi pikiran buruknya sudah memikirkan kemungkinan terburuk, yang bodohnya, ia percayai.

Jadilah, sekarang, Kyungsoo seperti sedang menyakiti dirinya sendiri karena pikirannya yang berlebihan. Seharusnya, ia bisa tahan sedikit lagi dan berusaha mendengarkan penjelasan dari Jongin, atau setidaknya, mengorek-orek informasi dari Luhan.

Luhan tidak akan mungkin membohonginya kan?

Tapi Kyungsoo takut. Kyungsoo takut kalau Luhan akan menjawab sesuatu yang dapat membuat hatinya hancur. Kyungsoo takut Luhan memberi tahunya bahwa Jongin waktu itu sedang mengutarakan rasa cintanya dan memohon-mohon Luhan untuk menjadi kekasihnya.

Oleh karena itu, Kyungsoo tidak pernah berani bertanya pada Luhan. Ia terlalu takut.

0-0-0-0-0

"Bagaimana ini, Sehun? Aku benar-benar merasa bersalah." Luhan sedang berkeluh kesah pada kekasihnya, Oh Sehun. Kali ini, mereka berdua sedang berada di sebuah cafe yang nyaman.

Sehun hanya mengelus-elus kepala Luhan yang sedang bersandar pada bahunya.

"Aku bodoh. Aku tidak memikirkan perasaan Jongin saat menyarankan Kyungsoo dan Daehyun untuk lebih dekat... Aku tidak tega melihat Jongin yang sangat sedih ketika memandang Kyungsoo dan Daehyun yang akhir-akhir ini terus bersama dari makan siang hingga pulang sekolah."

"Harus kuakui, kesedihan Jongin saat ini, memang kurang lebih salahmu, Lu. Tapi, semuanya juga tidak bisa disalahkan padamu. Kulihat, Daehyun memang sepertinya sedang tertarik pada Kyungsoo." Kata Sehun.

"Tapi... sebagian besar dari masalah antara Kyungsoo dan Jongin juga disebabkan olehku. Aku yang menyebabkan adanya kesalah pahaman pada pihak Jongin. Jongin memang seharusnya dari awal menyukai Kyungsoo, bukan aku. Ini salahku karena waktu itu aku pulang duluan dan meninggalkan Kyungsoo di ruang musik."

FLASHBACK

"So far... we are... so close~" Kyungsoo menyanyikan akhir dari lagu tersebut.

Luhan pun menutup lagu itu dengan alunan pianonya yang sempurna.

Kyungsoo tersenyum puas saat lagu itu berakhir. "Menyanyi dengan iringan pianomu memang selalu terasa menyenangkan, Lu."

Luhan membalas senyuman Kyungsoo. "Sama seperti yang kau rasakan, bermain piano untuk mengiringi suaramu juga terasa sangat menyenangkan."

Tiba-tiba, ponsel di saku Luhan berbunyi.

"Halo? Oh ya, tunggu. Sebentar lagi aku ke sana." Luhan berbicara dengan seseorang yang baru saja meneleponnya.

"Kyung, ehm... Sehun sudah mau pulang, aku dan Sehun sudah janjian untuk pulang bersama. Sepertinya aku harus pulang sekarang. Bagaimana denganmu?" kata Luhan ketika gadis itu telah menutup teleponnya.

"Oh, baiklah kalau begitu, kau pulang saja Lu. Aku masih harus menunggu ayahku untuk sampai. Mungkin tidak lama lagi ia tiba di sini."

"Benar tidak apa-apa aku meninggalkanmu sendirian di sini? Kau tidak takut?" Luhan menanyakan sekali lagi. Jika Kyungsoo butuh teman untuk menemaninya di ruang musik ini, Luhan bersedia. Luhan yakin Sehun pun tidak akan keberatan untuk menunggu sebentar lagi. Apalagi mengingat bahwa Sehun adalah salah satu sahabat Kyungsoo yang paling dekat.

"Tidak apa-apa Lu. Cepat pulang. Kasihan Sehun jika menunggu terlalu lama. Apalagi, Sehun baru saja selesai ekskul . Ia pasti kelelahan dan ingin cepat pulang." Jawab Kyungsoo.

"Benar ya tidak apa-apa?" Luhan memastikan.

"Tidak usah khawatir." Kata Kyungsoo dengan nada yang meyakinkan.

"Baiklah, aku pulang dulu ya, Kyung! Hati-hati di sini! Maafkan aku tidak menemanimu lebih lama." Kata Luhan sambil mengambil tasnya di dekat piano.

"Iya tidak apa-apa Lu... Kau juga hati-hati ya!" pesan Kyungsoo.

Luhan tersenyum dan mengacungkan kedua ibu jarinya, lalu keluar dari ruang musik.

Pada saat itulah, Jongin melihat Luhan yang baru saja keluar dari ruang musik, dan mengira bahwa Luhan adalah gadis yang memiliki suara yang dapat meluluhkan hatinya.

FLASHBACK END

"Kalau begitu, itu bukan hanya salahmu, Lu. Itu juga salahku karena aku selesai ekskul terlalu cepat." Sehun berusaha menenangkan Luhan agar kekasihnya itu tidak merasa bersalah.

"Tidak, Hun. Itu salahku... seharusnya aku menyuruhmu untuk menyusul saja ke ruang musik dan kita menemani Kyungsoo bersama-sama sampai ayahnya datang menjemput. Kalau saja kejadiannya seperti itu, Jongin pasti tidak akan salah sangka."

Sehun mengangguk. Tapi akhirnya ia berkata, "Sudahlah Lu, tidak penting untuk memikirkan siapa yang salah. Yang terpenting sekarang, adalah untuk menemukan jalan keluarnya." Katanya bijak.

Luhan mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah Sehun. Lalu tersenyum, "benar juga."

Mereka berdua terdiam. Berpikir untuk mencari solusi dari masalah ini.

"Lu! Aku baru ingat! Kau tidak perlu khawatir tentang masalah ini. Pada saat pekan kreatifitas nanti, ketika Daehyun dan Kyungsoo tampil, Jongin akan mendengar suara Kyungsoo saat bernyanyi. Ia pasti tidak akan ragu lagi soal hatinya. Dan, aku juga yakin, Jongin pasti akan segera menghampiri Kyungsoo dan menjelaskan semua kesalahpahaman di antara mereka, dan mereka akan hidup bahagia selamanya!" seru Sehun kesenangan.

Luhan yang tadinya lemas jadi langsung duduk tegak. "Benar juga! Ah, mengapa tidak terpikir olehku? Berarti, yang harus kita lakukan adalah, memastikan Jongin untuk menonton pekan kreatifitas!"

"Betul!"

"Sehunnie memang pintaaar!" kata Luhan seraya memeluk leher kekasihnya itu.

0-0-0-0-0

Sore itu adalah sehari sebelum pekan kreatifitas diadakan. Kyungsoo, Daehyun, dan Luhan telah berlatih keras selama seminggu ini. Termasuk, sore ini. Penampilan mereka sudah cukup sempurna.

"Ya. Kurasa, hari ini kita cukupkan sampai di sini. Kalian butuh istirahat untuk besok hari." Kata Luhan. Menutup latihan mereka.

"Baiklah. Luhan, kau juga harus istirahat ya. Jangan terlalu sering untuk berlatih di rumah. Pianomu sudah sempurna." Saran Daehyun.

"Sip!" Luhan tersenyum. "Omong-omong, supirku sudah menjemput. Aku pulang duluan ya! Jangan lupa istirahat yang cukup!" suruh Luhan pada Daehyun dan Kyungsoo.

"Oke!" jawab Kyungsoo.

Setelah Luhan hilang dari pandangan, Daehyun menoleh ke Kyungsoo dan bertanya, "Kyung, kalau setelah ini kita jalan-jalan dulu sebelum pulang, kira-kira kau mau tidak?"

Kyungsoo mengangguk-angguk. "Boleh. Lagipula, sekarang baru jam lima sore. Aku malas juga di rumah."

"Bagaimana kalau kita pergi karaoke? Tidak perlu menyanyi yang serius, hanya untuk bersenang-senang saja. Mau?" ajak Daehyun. Dalam hatinya, lelaki itu sangat berharap Kyungsoo mau menerima ajakannya. Pasti sangat asyik berkaraoke dengan Kyungsoo. Begitu pikirnya.

"Boleh juga! Ayo! Lebih baik kita pergi sekarang." Kyungsoo menjawab ajakan Daehyun dengan antusias.

Daehyun nyengir. Ia senang sekali Kyungsoo menerima ajakannya.

Karena sekolah mereka ada di tengah kota, tidak butuh waktu lama bagi mereka berdua untuk mencapai tempat karaoke yang mereka tuju. Kini, mereka sudah ada di ruang karaoke dan mulai memilih-milih lagu yang akan mereka nyanyikan.

Mereka menyanyikan banyak lagu. Mulai dari lagu SNSD, Big Bang, Wonders Girls, 2PM sampai Crayon Pop.

Walaupun tujuan mereka adalah untuk bersenang-senang, tetap saja mau bagaimanapun jeleknya suara mereka, tetap terdengar merdu.

Daehyun selalu membuat suasana menjadi cerah. Ia bergaya-gaya aneh pada setiap lagu. Apalagi saat menyanyikan lagu Gee. Daehyun dapat menarikannya dengan sempurna, membuat Kyungsoo terbahak-bahak.

"Aku curiga kau adalah anggota ke-sepuluh SNSD." Kata Kyungsoo ketika mereka sudah selesai karaoke dan sedang berjalan menyusuri jalan raya yang dipenuhi lampu-lampu.

Daehyun tersenyum geli, "memangnya kenapa? Aku kan tidak cantik Kyung. Aku tampan."

"Kau dapat menirukan tarian mereka dengan sangat sempurna, Dae. Benar-benar," Kyungsoo menggeleng-gelengkan kepalanya. "Selain pintar dalam hal pelajaran, ternyata kau pintar menirukan tarian girlband ya, terutama SNSD."

"Aku memang salah satu penggemar berat SNSD, Kyung." Kekeh Daehyun.

"Pantas saja. Sama seperti Baekhyun." Kyungsoo memaklumi keadaan Daehyun. Ya, sama seperti Daehyun, Baekhyun pun bisa menirukan seluruh dance lagu SNSD.

"Tidak dapat dielakkan lagi. Mereka memang sangat cantik dan berbakat. Bagaimana bisa aku menolak pesona mereka? Setiap kali melihat mereka di TV, rasanya mereka seperti memanggil-manggilku untuk menonton mereka. Lama kelamaan, aku jadi hafal lagu-lagu dan gerakan dance-nya." Jelas Daehyun panjang lebar.

"Ya... ya. Aku mengerti. Dasar lelaki." Kata Kyungsoo sambil tertawa kecil.

Berbicara tentang dance... Kyungsoo jadi teringat akan Jongin. Kenapa laki-laki itu tidak pernah kelihatan mencoba untuk berbicara dengannya lagi? Apakah Jongin sudah menyerah? Apakah hanya segitu saja perjuangan Jongin untuknya?

Kyungsoo semakin yakin bahwa dirinya hanyalah pelampiasan semata.

"Aduh!" Kyungsoo mengucek matanya. Sepertinya ada kotoran atau debu yang masuk ke dalam mata kirinya. Sekarang matanya terasa sangat perih.

"Jangan dikucek, Kyung! Bahaya!" Daehyun menarik tangan Kyungsoo yang sedang mengucek matanya sendiri. Lalu, Daehyun memegang mata Kyungsoo, memaksanya untuk terbuka, dan meniup-niup mata gadis itu. Berharap mata gadis itu tidak perih lagi.

Kini, mata Kyungsoo sudah tidak perih lagi. Matanya sudah dapat terbuka dengan lebar sekarang.

Kyungsoo segera membuka mulutnya untuk mengucapkan terima kasih. Tetapi, ia tersadar, wajah Daehyun masih berada sangat dekat dengannya. Mata lelaki itu masih terus memandangi wajahnya.

"Dae—"

"Kyung. Aku menyukaimu." Kata Daehyun sebelum Kyungsoo dapat berbicara apa-apa.

Mulut Kyungsoo terbuka lebar. Ia sangat kaget. Berarti, apa yang dikatakan Kris waktu itu benar? Daehyun tertarik padanya.

"A-aku..." Kyungsoo mencoba untuk menjawab. Tetapi, gadis itu bingung harus menjawab apa. Bagaimana ini? Kyungsoo hanya menganggap Daehyun sebagai teman. Teman yang baik dan menyenangkan. Ia sama sekali tidak menyukai Daehyun. Tidak seperti ia menyukai Jongin.

Daehyun tersenyum lembut. "Tidak perlu dijawab, Kyung. Aku hanya ingin memberi tahumu hal itu. Aku sama sekali tidak berharap apapun padamu. Aku tahu, kau menyukai Jongin kan?"

Kyungsoo terbelalak sekali lagi. Dari mana Daehyun tahu?

"Tidak perlu terkejut seperti itu, Kyung." Kata Daehyun sambil terkekeh. "Di kelas, kau memang sudah tidak duduk bersamanya lagi. Tapi, kau selalu menengok ke arahnya, berusaha memperhatikannya, berusaha mencari celah untuk memandanginya."

Kyungsoo termenung. Benarkah ia selalu melakukan hal itu?

"Kau mungkin tidak sadar. Tapi percayalah, kau selalu melakukannya. Aku selalu memperhatikanmu, dan memang hal itu sering kali kau lakukan." Daehyun berkata, masih dengan senyuman manisnya.

"Daehyun... Maafkan aku." Kyungsoo sungguh merasa tidak enak.

"Tidak perlu meminta maaf, Kyung. Kau tidak salah apa-apa." Daehyun mengacak rambut Kyungsoo.

"Tidak... bukan begitu. Aku tahu betul bagaimana rasanya menyukai orang yang menyukai orang lain. Hal itu sangat menyakitkan. Aku merasa bersalah, karena aku membuatmu merasakan sakit yang sema dengan apa yang kualami." Kyungsoo menjelaskannya sambil menunduk.

"Jongin tidak menyukaimu? Omong kosong Kyung..." Daehyun mengelus pundak Kyungsoo. "Jongin sangat menyayangimu Kyung. Bukan dalam skala 'suka' lagi. Ia menyayangimu. Itu berarti, ia menyukaimu, sangat sangat menyukaimu, lebih dari pada apa yang kurasakan terhadap dirimu."

Kyungsoo tertegun, lalu menatap wajah Daehyun. Senyuman tidak pernah lepas dari wajah Daehyun.

"Asal kau tahu, Kyung. Perasaan sukaku padamu sangat besar. Tapi aku yakin, perasaan Jongin padamu, lebih besar daripada apa yang kurasakan. Aku tak bisa membayangkan betapa besarnya perasaan Jongin padamu."

"Kau... tidak mengatakan ini hanya untuk semata-mata menghiburku kan?" tanya Kyungsoo tak yakin.

"Tentu saja tidak Kyung! Untuk apa aku mengada-ada?"

Kyungsoo tersenyum lemah, "bisa saja kan..."

Daehyun tertawa lagi, "Kyung, jika boleh kusarankan, jangan terlalu menganggap rendah dirimu."

"Maksudmu?"

"Kau selalu merasa dirimu tidak pantas dikagumi. Itu terlihat jelas. Padahal, kau memiliki beragam pesona yang dapat membuat semua orang menyayangimu." Jelas Daehyun. Berharap Kyungsoo mengerti maksudnya.

Kyungsoo sepertinya pernah mendengar kalimat ini.

"Aku sering mendengar hal itu..." gumam Kyungsoo.

"Ya, aku yakin kau pasti sering mendengar itu." Daehyun manggut-manggut. "Hargailah dirimu sendiri, Kyung." Ucapnya sekali lagi, lalu menatap Kyungsoo penuh arti.

Kyungsoo mengangguk, memberi tahu bahwa ia mengerti.

"Ayo, kita jalan lagi. Sudah semakin malam. Kita harus cepat sampai rumah dan beristirahat untuk penampilan kita besok." Daehyun menarik tangan Kyungsoo dan mengajaknya pergi.

Kyungsoo menggandeng tangan Daehyun. "Terima kasih ya, Daehyun."

"Untuk apa?"

"Karena telah memperhatikanku, dan... menyukaiku." Jawab Kyungsoo malu-malu.

Daehyun melihatnya dan seketika menjadi gemas. "Jangan malu-malu seperti itu, Kyung. Aku jadi ingin menjadikanmu sebagai pacarku." Kata Daehyun bercanda.

Kyungsoo hanya memukul-mukul tangan Daehyun.

Daehyun... baik sekali. Pikir Kyungsoo. Mulai saat itu, Kyungsoo akan menjadikan Daehyun sebagai sahabatnya. Dan mendoakan Daehyun agar lelaki itu mendapat perempuan cantik dan baik yang layak menjadi kekasih hatinya.

0-0-0-0-0

"Ya? Lalu apa lagi? Terigu? Merk yang mana?" Jongin sedang berada di salah satu supermarket. Ia sedang disuruh Yuri untuk berbelanja. Joonmyun sedang pergi dengan Yixing entah kemana, sementara ayahnya masih sibuk di kantor. Padahal hari sudah semakin malam.

"Hah telur juga? Bukankah telur masih banyak di rumah?" Jongin berteriak sendiri. Ia dan Yuri sedang berkomunikasi melalui telepon.

"Iya... Baiklah, eomma. Sudah ya, kututup teleponnya." Kata Jongin. Setelah itu, ia memasukkan handphone-nya ke dalam saku celananya. Sebenarnya, ia malas sekali beli telur. Telur sangat gampang pecah jika terbentur sedikit. Jika telur pecah, pasti ia yang kena marah.

Tapi, ia lumayan suka disuruh-suruh belanja seperti ini. Ia bisa sekalian membeli makanan ringan yang banyak tanpa ada yang melarangnya karena ia pergi sendirian. Untuk masalah bayar, tentu saja ia tidak perlu khawatir. Karena yang dipakai untuk membayar adalah kartu kredit ibunya yang isinya tak kalah banyak dengan kartu kredit ayahnya.

Setelah mengambil barang-barang yang dibutuhkan, Jongin bergegas menuju kasir untuk membayar. Karena belanjaannya sangat banyak, Jongin menunggu sang kasir yang sedang bekerja sambil menatap ke luar.

Pintu supermarket ini terbuat dari kaca, sehingga Jongin bisa dengan jelas melihat apa yang terjadi di luar.

Jongin membelalakkan matanya ketika ia melihat Kyungsoo dan Daehyun yang sedang berada di seberang jalan. Mereka berdua sedang mengobrol seru sekali.

Jongin benci mengakui ini, namun sepertinya... Kyungsoo senang bersama Daehyun.

Lalu, tiba-tiba wajah Daehyun dan Kyungsoo mendekat...

Astaga. Apakah mereka sedang berciuman?

Jongin mengepalkan tangannya kesal. Ingin sekali rasanya ia berlari ke luar dan menarik Kyungsoo untuk menjauh dari Daehyun. Tapi... ia berpikir lagi. Apa hak-nya? Kalau Kyungsoo memang menyukai Daehyun, apa hak Jongin untuk melarangnya?

Jongin hanya bisa menatap dua manusia itu dari kejauhan. Sambil menunggu si penjaga kasir selesai menghitung total belanjaannya.

Ia memberanikan diri untuk menatap Kyungsoo dan Daehyun lagi. Sekarang, Daehyun sedang mengacak rambut Kyungsoo.

"Cih dasar cari kesempatan." Gumam Jongin kesal. Ia benci keadaan seperti ini. Di mana ia berada begitu dekat, tetapi tidak bisa mencegah apa yang akan terjadi.

'Apa yang akan mereka lakukan saat penampilan mereka besok? Aku tidak berani melihatnya.' Pikir Jongin.

Jongin termenung, memikirkan sesuatu. Lalu, ia tersenyum miris.

Jongin telah memutuskan. Ia tidak akan menonton penampilan Kyungsoo dan Daehyun esok hari. Ia harus melindungi perasaannya sendiri. Hatinya sudah cukup sakit. Ia tidak mau menambah penderitaannya lagi.

0-0-0-0-0

Maaf banget buat yang udah nunggu lama.

Semoga puas sama chapter ini yaa! :)

Jangan lupa review! :D

-Tatiana12