Pintu supermarket ini terbuat dari kaca, sehingga Jongin bisa dengan jelas melihat apa yang terjadi di luar.
Jongin membelalakkan matanya ketika ia melihat Kyungsoo dan Daehyun yang sedang berada di seberang jalan. Mereka berdua sedang mengobrol seru sekali.
Jongin benci mengakui ini, namun sepertinya... Kyungsoo senang bersama Daehyun.
Lalu, tiba-tiba wajah Daehyun dan Kyungsoo mendekat...
Astaga. Apakah mereka sedang berciuman?
Jongin mengepalkan tangannya kesal. Ingin sekali rasanya ia berlari ke luar dan menarik Kyungsoo untuk menjauh dari Daehyun. Tapi... ia berpikir lagi. Apa hak-nya? Kalau Kyungsoo memang menyukai Daehyun, apa hak Jongin untuk melarangnya?
Jongin hanya bisa menatap dua manusia itu dari kejauhan. Sambil menunggu si penjaga kasir selesai menghitung total belanjaannya.
Ia memberanikan diri untuk menatap Kyungsoo dan Daehyun lagi. Sekarang, Daehyun sedang mengacak rambut Kyungsoo.
"Cih dasar cari kesempatan." Gumam Jongin kesal. Ia benci keadaan seperti ini. Di mana ia berada begitu dekat, tetapi tidak bisa mencegah apa yang akan terjadi.
'Apa yang akan mereka lakukan saat penampilan mereka besok? Aku tidak berani melihatnya.' Pikir Jongin.
Jongin termenung, memikirkan sesuatu. Lalu, ia tersenyum miris.
Jongin telah memutuskan. Ia tidak akan menonton penampilan Kyungsoo dan Daehyun esok hari. Ia harus melindungi perasaannya sendiri. Hatinya sudah cukup sakit. Ia tidak mau menambah penderitaannya lagi.
Your Smile.
I don't own anything but the storyline.
Genderswitch.
"Jongin! Hey! Bangun!" Joonmyun membangunkan Jongin yang masih terlelap. Padahal jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi.
"Tidak mau!" Jongin merengut dan menarik selimut yang barusan ditarik Joonmyun.
"Kau harus ke sekolah, Jongin. Hari ini kan ada penutupan pekan kreatifitas di sekolahmu. Kau tidak akan datang? Murid macam apa kau, tidak datang ke acara sekolah sendiri." Cibir Joonmyun.
"Aku tidak peduli. Aku tidak akan datang ke sana. Aku tidak mau mendengar Kyungsoo bernyanyi bersama si bodoh itu!" Jongin meracau yang aneh-aneh. Jongin, jika sedang mengantuk seperti ini memang ucapannya jujur sekali. Kadang bisa menyebalkan juga.
"Kyungsoo? Ooh, gadis yang kau sukai itu bukan? Yixing sering menceritakannya padaku." Ucap Joonmyun sambil senyum-senyum.
"Sekarang sudah tidak lagi. Pergi sana! Kau hanya mengganggu acara tidurku, Hyung." Jongin merajuk, matanya masih terpejam.
"Hmmm, jadi si Kyungsoo ini sudah punya pacar ya? Siapa pacarnya? Hebat sekali bisa mengalahkan adikku." Joonmyun menggoda Jongin lagi.
"Tidak! Tidak ada yang mengalahkanku. Aku tidak terkalahkan." Jongin tetap membela dirinya. Matanya masih terpejam. Anak ini, jika benar-benar ingin tidur, tidak ada yang bisa membangunkannya dan menyuruhnya macam-macam.
Joonmyun hanya diam dan mencibir.
"Lebih baik kau keluar sekarang, Hyung. Sebelum aku menendangmu." Kata Jongin dengan suara khas nya ketika ia mengantuk.
"Baiklah, terserah kau saja. Dasar pengecut. Melihat orang yang disukai jadian dengan orang lain saja langsung marah-marah tidak jelas begini." Gumam Joonmyun sambil berjalan ke luar kamar Jongin.
"Hei! Aku mendengarmu!" Teriakkan Jongin terdengar di telinga Joonmyun yang kini sudah sampai tangga.
0-0-0-0-0
"Sehunnie... bagaimana ini? Sudah jam setengah sebelas tetapi tidak ada tanda-tanda bahwa Jongin akan datang." Luhan menjadi resah.
Sehun sebenarnya sedang mengkhawatirkan hal yang sama.
"Kita harus menghubungi siapa jika sudah begini, Hunnie?" tanya Luhan.
"Entahlah. Haruskah kita mengajak Kris Hyung dan Baekhyun ke dalam misi kita? Agar kita bisa mendapat bantuan..." usul Sehun.
"Begitu lebih baik." Kata Luhan. Nada suaranya terdengar lebih senang.
"Sepertinya tadi aku mendengar namaku di sebut." Kata Baekhyun yang tiba-tiba saja sudah ada di samping Luhan.
"Memang kami berdua ingin meminta bantuanmu, Baek. Lebih tepatnya, meminta bantuanmu dan bantuan Kris Hyung." Kata Sehun.
"Memangnya ada apa?" Kris menyahut.
"Ini tentang Jongin, Hyung. Apakah kalian tahu di mana rumah Jongin?" tanya Sehun.
"Ya, aku tahu. Aku pernah mengantarnya pulang ke rumahnya. Kenapa memangnya?" kata Kris.
Sehun pun menjelaskan rencana yang ia dan Luhan telah buat.
Kris melirik jam tangan yang dikenakannya. "Sekarang sudah jam sepuluh lewat empat puluh lima menit. Jam berapa kau, Kyungsoo, dan Daehyun akan tampil?"
"Jam sebelas." Jawab Luhan.
"Apakah sempat jika kita menjemput Jongin? Perjalanan dari sini ke rumahnya saja membutuhkan waktu setengah jam. Belum lagi perjalanan dari rumahnya ke sini. Kita butuh waktu minimal satu jam, Sehun." Jelas Kris.
Mereka berempat mengerutkan dahi. Sama-sama mencoba untuk menemukan solusinya.
"Bagaimana kalau aku coba undur jadwal performance kami?" Luhan akhirnya memberi usul.
"Memangnya kau bisa?" tanya Kris.
"Tidak ada salahnya untuk dicoba kan?" Luhan seperti sedang bertanya pada dirinya sendiri.
"Bisa kau usahakan, kan, sayang?" Sehun menyentuh bahu kekasihnya.
"Akan kucoba. Lagipula, aku kan pianis mereka. Tanpa aku, mereka tidak akan tampil" Kata Luhan sambil menyunggingkan senyumannya.
0-0-0-0-0
Jongin terbangun dan melihat jam. Sudah pukul sebelas. Seharusnya sekarang Kyungsoo dan Daehyun sedang tampil.
"Aku telah melewatkannya." Jongin bergumam. Entah kenapa, nada suaranya menunjukkan kesedihan.
Jongin sangat sangat ingin mendengar suara Kyungsoo saat menyanyi. Tapi ia tidak ingin melihat gadis itu bernyanyi bersama Daehyun.
Tiba-tiba handphone lelaki itu berbunyi.
Kris meneleponnya.
"Ya, Hyung?" Jongin memutuskan untuk mengangkat telfon dari Kris.
"Kau sudah bangun, Jongin? Syukurlah. Cepat ganti baju! Aku dan Baekhyun akan segera menjemputmu. Kami berdua sudah di jalan menuju ke rumahmu." Suruh Kris.
"Untuk apa menjemputku?" Jongin menjawab malas.
"Tentu saja untuk menonton Kyungsoo tampil, bodoh." Kini Baekhyun telah mengambil alih handphone Kris.
"Siapa bilang aku mau menontonnya bernyanyi bersama si bodoh itu?" kata Jongin.
"Aku tidak peduli kau mau menontonnya atau tidak, dengan cara apapun aku dan Kris Oppa akan segera membawamu menuju sekolah untuk menonton penampilan Kyungsoo." Baekhyun tetap kukuh pada pendiriannya.
"Bukankah seharusnya Kyungsoo sudah tampil? Bukankah ia tampil pukul sebelas tepat?" Jongin bertanya-tanya kebingungan.
"Berterimakasihlah pada Luhan dan Sehun. Sekarang siap-siap! Mandi dan ganti bajumu! Aku tahu kau sebenarnya sangat ingin menonton Kyungsoo bernyanyi kan?"
"Siapa bilang?" Jongin tidur-tiduran lagi di kasurnya.
"CEPAT KIM JONGIN! ATAU AKU BOM RUMAHMU!" Baekhyun berteriak lalu mematikan sambungan telfon.
Jongin menatap ke langit-langit kamarnya. Menimbang-nimbang. Haruskah ia datang?
.
.
.
Kris tertawa melihat kelakuan Baekhyun yang berteriak-teriak mengancam akan meledakkan rumah Jongin.
"Menyebalkan sekali si hitam itu! Aku yakin ia ingin melihat pertunjukkan Kyungsoo. Dasar pengecut." Baekhyun jadi merengut sendiri.
"Sudah sudah, jangan cemberut dong." Kris mencubit-cubit pipi Baekhyun gemas.
Baekhyun tetap cemberut.
Kris menatap kekasihnya. Kenapa Baekhyun menggemaskan sekali sih?
"Kalau kau cemberut terus nanti ku cium." Kris menggoda Baekhyun.
Baekhyun menoleh, "selalu saja kau mengancam akan menciumku. Sepertinya tidak ada ancaman lain. Tidak kreatif."
"Habis itu cara yang paling asyik sih." Kris tertawa sendiri.
Baekhyun terdiam. Lalu mengerucutkan bibirnya lagi.
Kris mengambil kesempatan, dan mengecup pipinya secepat kilat.
"YAK!" Baekhyun memukul-mukul bahu lelaki itu.
Ya... biarkan saja kedua pasangan ini menikmati pertengkaran kecil mereka yang menyenangkan.
0-0-0-0-0
"Ehm... permisi, saya mau minta izin, Sunbae-nim." Kata Luhan pada si penanggung jawab acara, Kim Sunggyu.
"Ya, ada apa? Kau, bukannya harus tampil setelah ini?" tanya Sunggyu ketika melihat bahwa yang mengajaknya mengobrol adalah Luhan.
"Iya, ehm... tapi saya sakit perut, Sunbae." Luhan memegang perutnya dan berakting seolah ia sedang kesakitan.
"Ya ampun! Jadi kita harus bagaimana?" Sunggyu kepanikan sendiri, dan memanggil ketua acara, Nam Woohyun, yang sedang sibuk mengobrol bersama para staf.
"Woohyun! Pianis untuk penampilan selanjutnya sakit! Bagaimana ini?" Sunggyu bertanya pada Woohyun.
Woohyun meninggalkan kesibukannya dan menghampiri mereka.
"Kau sakit apa?" tanya Woohyun penuh perhatian pada Luhan.
"Sakit perut, Sunbae. Sakit sekali. Dari semalam aku memang sudah sakit perut, kata ibuku sepertinya aku sakit diare." Luhan lagi-lagi memegangi perutnya dan mulai berakting kesakitan.
"Ya ampun... ya sudah. Kira-kira, diaremu bisa tuntas kapan? Ada baiknya kau mengeluarkan isi perutmu itu. Kau siap untuk tampil berapa jam lagi?" tanya Woohyun bijak.
"Emm, tapi tidak apa-apa, Sunbae? Aku tidak mengacaukan acara, kan?" tanya Luhan khawatir.
"Tidak, tenang saja. Kau siap tampil kapan?"
"Ehm... bagaimana kalau jam satu siang? Sepertinya kondisiku akan lebih baik." Kata Luhan.
"Baiklah, jam satu siang. Cepat minum obat. Semoga kau lekas sembuh, Luhan-ssi." Kata Woohyun.
"Terima kasih, Sunbae." Kata Luhan.
Luhan bergegas pergi dari belakang panggung dan segera mencari Kyungsoo dan Daehyun untuk mengabari mereka.
.
.
.
"Apa? Jadi jam satu siang? Memangnya ada apa Lu?" tanya Kyungsoo ketika Luhan mengabari penundaan waktu pentas mereka.
"Aku sakit perut, Kyung. Dari kemarin malam aku sudah diare." Luhan lagi-lagi menampilkan akting sakit perutnya.
"Oh begitu... cepat minum obat, Lu! Semoga saja ketika kita tampil nanti kau sudah baikan ya." Kyungsoo menatapnya dengan pandangan khawatir. Membuat Luhan jadi merasa tidak enak telah membohonginya.
Tapi toh, ini untuk kebaikan Kyungsoo juga kan?
"Terima kasih Kyung. Jangan lupa beri tahu Daehyun ya." Kata Luhan sambil terus memegangi perutnya.
"Oke. Kau mau ke mana Lu?"
"Ke toilet!" ucap Luhan. Berbohong lagi. Padahal ia akan menghampiri Sehun.
0-0-0-0-0
"HYAAAAK!" Baekhyun mengerahkan segala usahanya untuk menarik Jongin dari kasur.
"YAK! Baekhyun! Jangan brutal begini!" Jongin berbicara dengan malas. Tadi ketika sedang menimbang-nimbang haruskah ia pergi atau tidak, ia malah tidur lagi. Sesuai dengan prinsip Kim Jongin, jika sedang bingung, lebih baik tidur.
"Bagaimana aku tidak brutal? Kyungsoo akan tampil dan kau malah malas-malasan begini?! Kau bahkan belum mandi!" Baekhyun memukul-mukul badan Jongin.
"SAKIT!" Jongin meringis.
"CEPAT BANGUN!" Baekhyun memukulinya lagi.
"Kalian tahu dari mana alamat rumahku?" Tanya Jongin setelah cukup sadar.
"Kris Oppa selalu punya sumber." Jawab Baekhyun.
"Pasti Yixing Noona…" gumam Jongin.
"Cepat bangun, Jongin!" Baekhyun terus memukul-mukul Jongin.
"Tidak mau!"
"OPPA BANTU AKU!" suruh Baekhyun ketika melihat Kris yang baru sampai di kamar Jongin. Lelaki itu baru saja selesai memarkir mobilnya.
"Okay." Jawab Kris yang langsung menurut dan berusaha menggendong Jongin.
"YAK! HYUNG! LEPASKAN!" Jongin meronta-ronta. Jongin jadi heran juga, Kris kuat sekali bisa menggendongnya seperti ini.
"Tidak mau."
Baekhyun tertawa melihat pemandangan yang ada di depannya.
"Hyung, aku janji tidak akan kabur! Setidaknya biarkan aku mandi dan pakai baju dulu!" seru Jongin.
"Kau belum mandi?!" Kris mendelik jijik dan segera melepaskan tangannya dari Jongin, membuat Jongin terjatuh ke lantai.
"AH APPO!"
Baekhyun tertawa semakin kencang.
.
.
.
Pada akhirnya, Jongin terpaksa (atau tidak terpaksa?), ikut bersama Kris dan Baekhyun untuk datang ke sekolah. Kini, mereka bertiga sedang dalam perjalanan menuju ke sana. Dan tentu saja Jongin sudah mandi.
"Baekhyun, mengapa penampilan Kyungsoo diundur?" Tanya Jongin bingung.
"Entahlah, aku juga tidak tahu."
"Bohong."
"Hei, bagaimana aku harus tau? Aku bukan koor acaranya. Jika acaranya diundur ya diundur saja, bukan tanggung jawabku." Elak Baekhyun.
Jongin hanya diam.
"Jongin, siapkan mentalmu." Kata Kris tiba-tiba.
"Untuk apa?" Jongin seketika heran.
"Karena sebentar lagi kau akan dikejutkan oleh sebuah fakta." Kris menyeringai sambil terus menyetir mobilnya.
"Fakta mengenai apa?" Jongin mengerutkan dahinya.
"Mengenai sesuatu yang penting bagimu." Jawab Baekhyun dengan nada meledek yang benar-benar mengesalkan.
Jongin tidak bertanya lebih lanjut, karena ia tahu Kris dan Baekhyun tidak akan menjawab pertanyaan apapun yang bersangkutan dengan hal ini.
0-0-0-0-0
"Hai, ternyata kau datang juga. Joonmyun Oppa bilang kau tidak akan datang." Yixing tersenyum puas. Sepertinya ia tahu sesuatu. Oh, tentu saja ia telah bersekongkol bersama Luhan, Sehun, Kris, dan Baekhyun.
"Terpaksa." Jongin membalas dengan ketus seraya duduk di samping Yixing. Mereka sedang berada di salah satu stan makanan yang lokasinya cukup dekat dari gedung teater yang menjadi tempat pementasan. Kris dan Baekhyun telah mempercayakan Yixing untuk mengawasi Jongin agar lelaki itu tidak kabur.
"Hei, kenapa jadi galak begitu?" Yixing menggodanya.
"Pasti kau yang memberitahu alamat rumahku pada Kris Hyung dan Baekhyun." Jongin menatap Yixing sinis.
"Yaaaah, habis, kalau tidak begitu kau tidak akan datang dan melihat Kyungsoo tampil."
"Memang lebih baik tidak usah." Katanya pelan, tapi Yixing masih bisa mendengarnya.
"Sebenarnya kenapa kau tidak mau menontonnya tampil sih?"
"Kemarin aku melihatnya berciuman dengan partner duetnya itu." Kata Jongin jengkel.
"Serius?!" Yixing tidak dapat menyembunyikan kekagetannya.
"Hmm… Makanya aku tidak mau datang ke sini, Noona. Melihatnya hanya membuatku tambah sakit hati."
"Tapi… barangkali Kyungsoo tidak sengaja? Maksudku, bisa saja lelaki itu, siapa namanya?"
"Daehyun."
"Ya, siapatahu saja Daehyun yang menciumnya secara sepihak. Bisa saja Kyungsoo tidak mau dicium tapi tidak memiliki waktu untuk mengelak?" Yixing mencari-cari celah, mencari-cari alasan yang logis agar Jongin tidak patah hati.
Semakin Jongin memikirkan hal itu, semakin terngiang-ngiang bayangan Kyungsoo dan Daehyun. Ia jadi berpikir, apakah ia harus menyerah pada Kyungsoo, dan mencari gadis misteriusnya saja?
"Tidak mungkin," gumam Jongin, "setelah itu, mereka tertawa-tawa seperti biasanya." Jelasnya.
Yixing berpikir sebentar, lalu berkata, "Tunggu di sini."
Jongin hanya mengangguk dan diam. Ia bingung harus melakukan apa lagi. Jadi ia menurut saja.
.
.
.
"Kris," Yixing menepuk bahu Kris ketika ia menemukan lelaki itu sedang membeli potato twist di salah satu stand makanan.
"Hei, Yixing, ada apa?" Kris mencari-cari seseorang di sekitar Yixing. "mana Jongin? Ia tidak kabur kan?" Tanya Kris mulai panik.
"Tidak kok, sepertinya ia tidak berniat kabur lagi, mukanya terlihat pasrah tadi." Jelas Yixing.
"Ooh, baguslah." Kata Kris. "Omong-omong ada apa kau menghampiriku?"
"Mmmm, Baekhyun di mana?" Tanya Yixing.
"Oh, Baekhyun sedang beli minuman di situ." Kris menunjuk stand minuman di seberang.
"Baiklah, terima kasih Kris."
Yixing cepat-cepat menghampiri Baekhyun yang sedang membayar dua botol minuman.
"Hai, Baekhyun." Sapa Yixing.
"Oh, halo Yixing Sunbae." Baekhyun menundukkan kepalanya sedikit lalu menatap Yixing dengan ramah. "Ada apa Sunbae? Jongin tidak kabur kan?"
"Tidak, ia sudah pasrah." Jawab Yixing lagi. "Baek, kali ini aku mau bertanya serius. Sebenarnya, Kyungsoo dan Daehyun itu ada hubungan apa?" Yixing bertanya.
"Mereka tidak ada hubungan apa-apa, Sunbae. Hanya sebatas teman duet."
"Yang benar? Kau yakin?"
"Aku yakin. Kyungsoo selalu memberitahuku semua yang terjadi padanya. Jadi, aku yakin sekali Kyungsoo tidak memiliki perasaan apa-apa terhadap Daehyun. Ia hanya menyukai Jongin." Baekhyun menjawab dengan keyakinan seratus persen.
"Tapi… Jongin bilang, alasan kenapa ia tidak mau menonton Kyungsoo adalah…." Yixing menggantung kalimatnya. Tidak yakin apakah ia harus menceritakannya pada Baekhyun? Tapi ia harus memastikan ini semua.
"Adalah apa, Sunbae?" Baekhyun dibuat penasaran.
"Jongin bilang, kemarin ia melihat Kyungsoo dan Daehyun berciuman." Yixing akhirnya memberitahu Baekhyun.
"APA?!" Baekhyun, secara alamiah, berteriakhisteris. Membuat Kris mendengarnya dan langsung menghampiri mereka berdua.
"Ada apa Baek?" Tanya Kris ketika melihat mulut Baekhyun yang menganga karena terlalu kaget.
"Jongin bilang pada Yixing Sunbae bahwa alasan yang menyebabkan ia tidak ingin menonton pertunjukkan Kyungsoo adalah karena ia melihat Kyungsoo dan Daehyun berciuman kemarin. Bagaimana ini Oppa?! Tapi aku yakin sekali Kyungsoo hanya menyukai Jongin, dan ia tidak akan mau dicium oleh lelaki lain selain Jongin." Kata Baekhyun.
Kris agak kaget juga ketika mendengar penjelasan Baekhyun.
"Baek, sebaiknya kita bertanya langsung pada Kyungsoo." kata Kris.
"Ya, kurasa sebaiknya kalian harus memastikan hal ini pada Kyungsoo." saran Yixing.
"Baiklah, Yixing Sunbae, aku pamit dulu mau mencari Kyungsoo." Baekhyun segera berjalan cepat dan berusaha menemukan Kyungsoo, disusul oleh Kris yang berusaha menjaganya dari belakang.
Yixing memandang mereka, lalu bergumam, "Semoga saja itu tidak benar. Aku tidak suka melihat Jongin sedih…"
.
.
.
"Kyungsoo!" Baekhyun menemukan Kyungsoo yang sedang duduk diam sambil menonton pertunjukkan yang ada di panggung. Kyungsoo berada di bangku penonton.
"Ada apa Baekhyun? Kenapa kau panik seperti ini?"
"Kyung jawab yang jujur," Baekhyun menghela nafasnya, "Apakah kemarin kau seharian bersama Daehyun?"
Kyungsoo terbelalak, "Iya, kau tahu darimana?"
Baekhyun semakin panik. "Apakah kau berciuman dengannya?"
Kyungsoo menganga, lebar. "Apa kau bilang?! Tentu saja tidak! Aku tidak menyukainya, Baek. Mana mungkin aku mau dicium olehnya?"
"Tapi… tapi…" Baekhyun bingung bagaimana harus menjelaskannya.
"Ada yang melihat kau dicium oleh Daehyun." Kris berusaha menjelaskannya pada Kyungsoo.
"Hah? Siapa yang melihat? Di mana?" Kyungsoo jadi kebingungan sendiri. Sudah jelas-jelas ia tidak melakukan apa-apa dengan Daehyun.
"Coba jawab aku, Kyungsoo. berapa sentimeter jarak terdekatmu dengan Daehyun pada saat kau berjalan-jalan dengannya kemarin?" Tanya Kris, nadanya serius.
"Mana aku tahu, Oppa," Kyungsoo berpikir sedikit, berusaha mengingat-ingat hal apa yang dilakukannya bersama Daehyun kemarin, sampai-sampai ada orang yang mengira mereka sedang berciuman.
"AH! AKU INGAT!" Kyungsoo tersenyum lebar ketika mengetahui jawabannya.
"Apa?"
"Kemarin, pada saat aku dan Daehyun sedang berjalan di perjalanan pulang, ada debu masuk ke mataku! Lalu Daehyun meniup-niup mataku agar tidak perih lagi. Pasti orang itu melihat kejadian itu! Ia salah paham, Oppa." Ucap Kyungsoo pada Kris.
Baekhyun dan Kris mendesah lega setelah mendengar jawaban Kyungsoo.
"Oh iya, memangnya, siapa yang melihatku dan Daehyun kemarin?" Tanya Kyungsoo ingin tahu.
"Tidak penting. Aku mau ke toilet dulu ya, Kyung." Baekhyun langsung kabur, ia ingin segera menghampiri Yixing dan menjelaskan semuanya agar Yixing pun yakin bahwa Kyungsoo hanya menyukai Jongin.
"Oppa, siapa yang melihatku kemarin? Jawablah…" Kyungsoo bertanya pada Kris yang memang masih di situ.
"Aku juga tidak tahu, Kyung." Sahut Kris berpura-pura.
"Yah, padahal aku penasaran siapa yang memperhatikanku. Jarang sekali ada yang memperhatikanku. Apalagi itu malam hari…" Kyungsoo bergumam.
Kris tertawa mendengar gumaman Kyungsoo. seandainya saja Kyungsoo tahu bahwa orang itu adalah Jongin. Tapi biarkanlah mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri.
"Kau masih menyukai Jongin kan, Kyung?" Tanya Kris out of the blue.
"Apa? Jongin? Kenapa jadi keluar dari pembicaraan begini?" Kyungsoo berusaha mengelak.
"Sudahlah… kau masih menyukainya atau tidak? Jawab saja."
"Yah… tentu saja tidak semudah itu melupakan seseorang, Oppa…" jawab Kyungsoo lirih.
Kris justru senang akan hal itu. Itu berarti, rencananya, Baekhyun, Sehun, dan Luhan akan berhasil.
.
.
.
"Jongin, aku punya kabar bagus untukmu." Kata Yixing riang gembira.
"Apa itu?" Tanya Jongin tanpa antusiasme.
"Kyungsoo dan Daehyun kemarin tidak berciuman. Kau salah lihat."
"Lalu apa yang sedang mereka lakukan jika tidak sedang berciuman?" Jongin menatap Yixing malas.
"Pada saat itu, Kyungsoo kelilipan, lalu Daehyun meniup matanya agar tidak perih lagi. Hanya itu saja yang terjadi, Jongin." Jelas Yixing.
"Dari mana kau tahu?" Tanya Jongin.
"Dari Kyungsoo." jawab Yixing.
"Noona, kau bahkan tidak kenal dekat dengan Kyungsoo. Bagaimana bisa Kyungsoo bercerita padamu?" Tanya Jongin tak yakin dengan penjelasan Yixing.
"Dia bercerita padaku." Sahut sebuah suara dari belakang tubuh Yixing.
Tampaklah Baekhyun dengan senyumannya. "Kyungsoo bercerita padaku, Jongin. Ia tidak melakukan apa-apa dengan Daehyun. Kyungsoo tidak menyukai Daehyun sama sekali. Yang ada di pikirannya hanya dirimu. Dirimu. Dirimu." Baekhyun mengulang kata terakhir berkali-kali.
Jongin termenung, pandangannya menerawang.
"Aku seratus persen yakin, Kyungsoo hanya menyayangimu, Jongin."
Jongin menatap Baekhyun sekali lagi.
Jongin memutuskan untuk mempercayainya.
0-0-0-0-0
"Ayo siap-siap, satu menit lagi kalian tampil. Stand by di sini." Kata Sunggyu pada Kyungsoo, Daehyun, dan Luhan.
"Baik, Sunbae." Mereka bertiga menurut dan duduk di kursi yang telah disediakan.
"Bagaimana Kyung, nervous?" goda Daehyun.
"Lumayan…" jawab Kyungsoo. Padahal sebenrnya ia benar-benar nervous sekarang.
"Santai saja, anggap saja tidak ada yang menonton." Hibur Luhan.
Kyungsoo hanya tersenyum.
Sebenarnya, sedari tadi, Kyungsoo hanya berharap satu. Ia ingin Jongin menontonnya. Ia ingin Jongin mendengar suaranya. Ia ingin Jongin tahu, bahwa dirinya tidak kalah dengan Luhan.
Kyungsoo selalu menepis pikiran-pikiran itu. Tapi mau bagaimana lagi? Hatinya berkata begtu. Hatinya masih menginginkan Jongin.
'Semoga saja Jongin mendengar suaraku, semoga ia melihat pertunjukkanku.' Doa Kyungsoo dalam hati. Sejujurnya, motivasinya untuk tampil hari ini adalah Jongin. Ia berlatih agar Jongin bisa melihat penampilan terbaiknya di atas panggung.
"Ayo naik panggung! Ini giliran kalian!" seru Sunggyu.
Kyungsoo mengepalkan tangannya, berdoa sekali lagi, dan mulai menaiki panggung.
.
.
.
Jongin sudah duduk di kursi penonton. Ia tadi diseret-seret oleh Yixing untuk duduk di sini. Di bangku paling depan. Entah bagaimana bangku itu bisa kosong. Padahal tempat ini ramai sekali, sampai banyak orang yang berdiri karena tidak kebagian tempat. Tapi, hal itu tidak terlalu penting untuk dipikirkan Jongin saat ini.
Karena, pada saat itu, Jongin melihat seorang gadis cantik, paling cantik yang pernah ia lihat, berdiri di atas panggung, sedang bersiap-siap untuk bernyanyi. Gadis itu memegang mic nya dan menepuk-nepuk bagian atas mic trsebut untuk memastikan apakah mic itu berfungsi.
Jongin terus memandanginya lekat, tanpa sadar, bibirnya tersenyum melihat Kyungsoo. Apapun yang dilakukan oleh gadis itu selalu terlihat lucu dan menggemaskan.
Setelah memastikan bahwa mic-nya baik-baik saja, gadis itu bersiap pada posisinya, dan melihat ke depan.
Lalu, pandangannya bertemu dengan Jongin.
Jongin tersenyum saat melihat Kyungsoo.
"Fighting!" bisik Jongin.
Kyungsoo tentu saja tidak dapat mendengarnya karena jarak mereka lumayan jauh. Tapi Kyungsoo bisa membaca gerakan di mulut Jongin.
Kyungsoo balas tersenyum dan mengepalkan tangannya kuat.
Jongin menonton penampilannya. Jongin hadir di sini. Ia harus menampilkan yang terbaik.
Sedetik kemudian, lampu di panggung mati. Gedung itu dipenuhi kegelapan.
Terdengar dentingan piano yang dimainkan oleh Luhan.
Lalu, lampo sorot mulai bersinar pada gadis itu. Gadis yang mulai membuka mulutnya, untuk menyanyikan bait pertama.
"Hanchameul kkumeul kkun geot gata…" Kyungsoo menyanyikan kalimat pertama di lagu itu.
Jongin tercengang. 'Bukankah ini…?'
"Handongan hemaego hemaeda…" Kyungsoo bernyanyi lagi.
Tubuh Jongin menegang.
Suara ini….
Machi yaksogirado han deut
Nae gyejeoreul geoseulleo geu nalcheoreom
Maju seoinneun uri
Kyungsoo terus bernyanyi. Matanya terpejam. Berusaha menampilkan lagu ini sebaik mungkin. Berusaha menghayati lagu ini sebaik mungkin.
Geu ttae uriga sseonaeryeogatdeon areumdawotdeon iyagi
Geu ttae uriga gidohaesseotdeon yeongwon hajadeon yaksokdeul
Hanassik tteoollida naui gaseumi
Gyeondiji mot halgeol algie~
Jongin menghela nafasnya ketika Kyungsoo mencapai nada tinggi pertamanya. Bukan hanya Jongin, tapi seluruh penonton di gedung ini, terkagum-kagum.
Kyungsoo menahan nada tinggi itu dengan sempurna, tanpa cacat sedikitpun. Matanya terpejam, menambah kesedihan yang Kyungsoo bawakan pada lagu itu semakin terasa. Ditambah lagi dengan wajahnya yang cantik, yang semakin bersinar diterangi lampu sorot panggung. Ditambah lagi dengan kenyataan bahwa… ternyata Kyungsoo-lah gadis yang Jongin cari selama ini.
Ne saenggage kkukkkuk chamasseo
Neoui il nyeoneun tto eottaesseonni
Kyungsoo membuka matanya kembali setelah menyelesaikan kalimat terakhirnya pada bagian reff tadi. Matanya otomatis mencari Jongin, yang langsung ia temukan.
Kyungsoo mendapati Jongin yang sedang menatapnya dengan pandangan memuja. Wajahnya memancarkan rasa kaget, kagum, dan… sesuatu yang Kyungsoo tidak dapat artikan.
Lalu, Daehyun mulai bernyanyi bagian selanjutnya. Suaranya tentu saja mencengangkan.
Tapi Jongin tidak peduli lagi dengan Daehyun.
Semua mata kini memandang kearah Daehyun yang berada di sisi kiri panggung- yang begitu jauh dari tempat Kyungsoo berada, karena Kyungsoo berada di sisi kanan.
Semua mata memandang ke arah Daehyun, kecuali Jongin. Jongin tidak sanggup memalingkan pandangannya dari Kyungsoo.
Kyungsoo. Do Kyungsoo. Gadis yang selama ini ia cintai, ternyata adalah gadis yang selama ini ia kagumi.
Gadis yang ia cintai karena kebaikannya, sifat perhatiannya, dan tingkah lucunya, ternyata adalah gadis yang sama dengan gadis yang suaranya bisa langsung menyihir Jongin.
Gadis itu. Gadis yang berdiri dengan sorotan cahaya putih di atas panggung. Membuatnya seperti malaikat yang baru saja datang ke bumi.
Klise memang, tetapi seperti itulah Jongin melihatnya.
Melihat Do Kyungsoo. Satu-satunya gadis yang pernah membuatnya merasakan cinta yang sedalam ini. Begitu dalam sampai-sampai ia tidak tahu harus berkata apa lagi untuk mendeskripsikan perasaannya.
[Kyungsoo] Hoksi neodo nae mam gateulkka
[Daehyun] Dasi han beonman gihoereul jugenni
[Both] Ijen ara jeoldaero urineun heeojil su eobseo
Saranghago tto saranghaneun hansaram
[Kyungsoo] Ooooh~
Kyungsoo mulai ikut bernyanyi lagi. Sekarang adalah bagian bridge, bagian ketika lagu mencapai klimaks.
Jongin menatapnya lagi dengan pandangan kagum. Suara Kyungsoo bahkan lebih bagus dari penyanyi apapun yang pernah ia dengar. Apalagi setelah mendengar teriakan Kyungsoo barusan.
Satu gedung hening ketika mendengar bagian klimaks dari lagu ini.
Suara Kyungsoo dan Daehyun bercampur dengan sempurna. Penuh dengan emosi.
[Daehyun] Uri johatdeon cheoeum geu ttaero
[Both] dasi doragasseumyeon hae
[Kyungsoo] Areumdawotgo haengbokhaesseotdeon sarangieotdeon naldeullo
[Daehyun] Gaseum apeun yaegideul heotdoen datumdeul
[Kyungsoo] Ijen modu da mudeo dugo
Dasin kkeonaeji malgiro hae
Gyejeori tto heulleo
[Daehyun]Myeot nyeoni jinado
[Kyungsoo] Oneul gateun mamman
[Both] dasin eopge
Lagu itu berakhir dengan permainan piano dari Luhan.
Tepat ketika nada terakhir didentingkan, orang-orang langsung berdiri dan bertepuk tangan kencang.
Semua orang terkagum-kagum dengan penampilan barusan.
Jongin tidak membuang waktu lagi, ia langsung berlari menuju back stage.
.
.
.
"Jongin?" panggil Kyungsoo ketika mendapati Jongin yang memasukki ruangan di belakang panggung.
Jongin kehilangan kata-kata saat melihat Kyungsoo ada di depannya. Begitu dekat. Apalagi sekarang Kyungsoo sedang tersenyum manis.
Jongin sangat merindukannya.
Jongin berlari dan merentangkan tangannya untuk merengkuh tubuh gadis itu.
Jongin bisa merasakannya lagi. Bisa menghirup aroma khas Kyungsoo yang menguar dari lehernya. Bisa merasakan betapa mungilnya tubuh Kyungsoo, betapa inginnya Jongin melindungi gadis itu.
"Aku merindukanmu. Sangat." Bisik Jongin di telinga Kyungsoo. Lelaki itu hampir menangis. Akhirnya ia bisa mendekap Kyungsoo lagi. Bisa berada sedekat ini lagi bersama gadis kesayangannya.
"Aku juga, Jongin. Aku juga." Jawab Kyungsoo. Entah ke mana amarahnya untuk lelaki ini. Kali ini memang sudah pada batasnya. Ia tidak bisa jauh dari Jongin. Ia membutuhkan lelaki itu untuk selalu ada di dekatnya.
"Tolong percaya aku." Jongin melepas pelukannya dan menatap Kyungsoo lurus-lurus.
Kyungsoo balas menatapnya. Menatap wajah Jongin yang ia rindukan.
"Aku hanya mencintaimu Kyungsoo. Hanya kau seorang. Tidak ada lagi perempuan yang bisa membuatku gila seperti ini. Hanya kau, Soo." Ucap Jongin sungguh-sungguh.
Kyungsoo tersenyum senang, penuh haru. "Aku percaya, Jongin."
Jongin tersenyum lega, lalu matanya terpejam, dan ia mulai mencium bibir Kyungsoo. Bibir yang telah lama tidak ia rasakan.
Kyungsoo menyambut ciuman Jongin dengan senyuman. Jongin menyalurkan rasa rindu dan cintanya lewat ciuman ini. Dan Kyungsoo dapat merasakannya.
.
.
.
TBC
Annyeong reader-deul! Hehehe. Maafin akuuu :( maaf lama banget dilanjutnya aaaa maaf bangeeeet :(
Semoga puas yaaa sama lanjutannya hehe.
chapter depan complete nih! review yang banyak yaaa. semakin banyak reviewnya semakin cepet aku updatenya. tapi janji kok, chapter depan gak akan lama-lama. bakalan fast update! :D
Makasih banyak untuk semuanya yang udah review dan dukung aku terus. Dan semuanya yang udah nagih-nagih cerita iniii hehe itu bikin aku semanat lho! makasih yaaa :)
Makasih banyak masih baca ceritaku ini. :)
-Tatiana12
