Part 2: Laugh

"Byun Baekhyun, mahasiswa musik."

Baekhyun membalas senyum Chanyeol dengan senyumnya sendiri yang tak kalah manis.

'Kuharap senyumnya tidak menjadi terlalu berlebihan.' Ujar Baekhyun dalam hati.

"Oh, oh, tunggu dulu, kurasa aku pernah melihatmu!" Chanyeol tiba-tiba berseru dengan nada ceria dan suaranya yang dalam. Baekhyun dapat merasakan jantungnya saat ini menjadi semakin liar saja.

'Apakah Chanyeol menyadari keberadaanku di café tempatku bekerja?'

Baekhyun menatap wajah Chanyeol yang mengekspresikan bahwa ia sedang berusaha keras mengingat sesuatu dalam memorinya. Matanya terpejam dan alisnya saling bertaut. Baekhyun mempelajari setiap detail dari wajahnya, merekamnya dan menyimpannya dengan rapi di bagian khusus di suatu tempat didalam memori otaknya.

Andaikan saja tiap detik bisa bertahan lebih lama.

"Ah! Aku ingat!" Chanyeol membuka kedua kelopak matanya, menampakkan kedua bola matanya yang berseri-seri. Mulutnya seketika membentuk senyuman lebar yang tidak akan bisa ditiru oleh siapapun.

"Kau... bukankah kau pianis yang bermain piano di awal tahun saat acara pembukaan tahun ajaran baru? Iya, kan? Benarkah itu kau?"

Ya, ya. Itu aku.

"Um… bagaimana—"

Senyum Chanyeol semakin lebar, jika itu bahkan mungkin terjadi. "Permainan pianomu sangat mempesona. Aku mungkin bukan orang yang mengerti banyak tentang musik, tapi menurutku, permainan pianomu saat itu benar-benar brilian!"

Baekhyun dapat merasakan kata-kata Chanyeol terngiang di kepalanya, bagai sebuah mantra yang terus terulang-ulang.

Hatinya terasa begitu besar, sampai ia merasakan bahwa dadanya tidak lagi cukup untuk menampung hatinya. Kebahagiaan menjalari tiap-tiap inci tubuhnya, memberikan perasaan menyenangkan yang membuatnya merasa seperti pria paling bahagia di dunia.

Semua itu membuat Baekhyun menarik bibirnya kesamping, secara tidak sadar, membentuk sebuah senyuman manis.

"Segera ganti bajumu dan bereskan meja di depan. Kita memiliki banyak sekali pengunjung hari ini." Kyungsoo memberi instruksi pada Baekhyun yang baru saja memasuki pantry.

Baekhyun tidak menjawab. Ia terlalu tenggelam dalam pikirannya, pikiran yang sangat mengganggunya. Pikiran yang menyangkut seseorang dengan tinggi sekitar 185 cm dengan rambut curly berwarna kecokelatan.

"Yah, Baekhyun, kau mendengarku tidak?" Kyungsoo merasa kesal karena kata-katanya tidak mendapat respon.

Baekhyun terus berjalan tanpa mempedulikan Kyungsoo, matanya menatap kosong ke depan dan dari sudut pandang orang ketiga, ia terlihat seperti seseorang yang frustasi karena merasa hidupnya sudah tidak bermakna lagi.

"Byun Baekhyun!"

Baekhyun yang tetap tidak mempedulikan keadaan sekitarnya membuat Kyungsoo bertambah kesal karena kata-katanya tidak juga mendapat respon dan Kyungsoo benar-benar heran bagaimana caranya Baekhyun bisa sampai ke sini dengan selamat.

Namun rasa kesal Kyungsoo segera tergantikan oleh gelak tawa karena Baekhyun yang secara tidak sengaja terbentur salah satu kabinet, membuatnya segera kembali ke dunia nyata.

"Ow!"

Baekhyun mengusap kepalanya yang nyeri dan berdenyut-denyut. Kepalanya terbentur cukup keras, ditambah dengan permukaan kabinet yang terbuat dari kayu dan tidak bisa dibilang lembut.

"Itu akibatnya jika kau menghiraukan aku!" Kyungsoo berkata dengan nada penuh kemenangan, dan melanjutkan tawanya.

Baekhyun memajukan bibirnya membentuk pout dan memberi Kyungsoo death glare terbaiknya.

Dan sukses membuat tawa Kyungsoo berhenti seketika.

Kyungsoo menelan saliva yang terkumpul di tenggorokannya. Baekhyun mungkin memiliki visual yang menggemaskan dan eye-smile yang membuat laki-laki maupun perempuan menyukainya bahkan sejak pertama kali bertemu. Namun membuat seorang Byun Baekhyun marah adalah hal terakhir yang akan dilakukan dalam hidupnya.

Tidak ada yang tahu Byun Baekhyun, Byun Baekhyun mahasiswa musik yang manis itu dapat bertransformasi menjadi iblis saat ia sedang marah. Kecuali Kyungsoo, tentu saja.

"Y-yah!" Kyungsoo berusaha terlihat berani. "Jangan memandangku seperti itu!"

Baekhyun berjalan melewati Kyungsoo seolah ia tidak ada dan mulai membuka kausnya lalu menggantinya dengan seragam bekerjanya yang biasa.

"Tsk tsk. Aku lebih tua darimu. Tidak sepantasnya kau memperlakukan hyung-mu seperti itu." Ia menggelengkan kepalanya. Sebuah celemek berwarna cokelat melingkar di pinggan ramping Baekhyun.

"Aku seniormu!"

"Aku tidak peduli."

Baekhyun berjalan keluar dari pantry dan mulai membersihkan meja-meja kotor yang telah ditinggalkan. Hari ini café sangat ramai. Hampir tidak ada meja kosong tersisa.

Saat Baekhyun sedang melakukan tugasnya membersihkan meja, sebuah suara bass yang tidak familiar memanggil namanya diantara banyaknya pengunjung di café.

"Yo, Baekhyun!"

Baekhyun menengok kearah suara dan menemukan sosok yang tidak diduganya akan ia temui lagi hari ini.

Park Chanyeol.

Chanyeol melambaikan tangannya pada Baekhyun. Ekspresi terkejut yang ada di wajahnya segera ia hapus dan tergantikan oleh sebuah senyuman manis. Baekhyun balas melambaikan tangannya pada Chanyeol lalu berjalan menuju salah satu meja tempat Chanyeol dan pacarnya biasa duduk.

"Ah! Pantas saja aku merasa kalau aku pernah melihatmu! Ternyata kau bekerja disini!" Chanyeol berkata dengan nada riangnya saat Baekhyun telah sampai di hadapannya.

Baekhyun hanya menjawabnya dengan senyuman. Bukan kerena ia malas berbicara dengan Chanyeol, hal itu mungkin adalah hal terakhir yang akan terpikir oleh Baekhyun di hidupnya. Namun karena ia tidak tahu harus mengatakan apa saat ia sedang berhadapan dengan seorang Park Chanyeol. Mulutnya serasa terkunci rapat dan tenggorokannya tiba-tiba saja tidak dapat mengeluarkan suara.

"Apakah atasanmu tidak akan marah kalau kau mengobrol sebentar denganku?"

Dan mulut Baekhyun bergerak lebih cepat daripada otaknya.

"A-ah, tentu saja tidak! D-dia tidak akan marah."

'Aish, kenapa aku harus tergagap segala!'. Karena rasa gugupnya yang berlebihan, nada suaranya yang keluar hampir seperti teriakan. Dalam hati Baekhyun merutuki dirinya sendiri.

"Oh, kalau begitu duduklah! Aku sedang menunggu seseorang."

Senyum Baekhyun yang awalnya melekat di bibirnya, seketika menghilang saat ia mendengar kata-kata Chanyeol.

Wow.

Mood Baekhyun segera menurun drastis dan membuatnya ingin segera meninggalkan Chanyeol lalu membanting salah satu kursi atau meja.

Namun sisi lain dari hatinya mengingatkan, "Kapan lagi kau akan duduk bersama dengan Park Chanyeol?"

Maka tanpa memikirkan untuk yang kedua kalinya, Baekhyun menghempaskan berat badannya pada kursi yang baru saja ia lap, tepat berada di hadapan Park Chanyeol. Kursi yang seharusnya bukan diduduki olehnya.

Harusnya bukan dia yang duduk diatas kursi ini, seharusnya bukan ia yang berhadapan dengan Chanyeol.

Pikiran-pikiran tersebut membuat hatinya terasa sedikit sesak dan tanpa sadar ia menundukkan kepalanya, bibirnya membentuk pout yang menggemaskan.

"Hey… kau tidak apa-apa? Kau terlihat… down."

Baekhyun yang masih kehilangan kemampuan berbicaranya saat ia berhadapan dengan Chanyeol hanya mengangguk, dan orang yang paling bodoh pun pasti tahu bahwa ia sedang menyembunyikan perasaan yang senenarnya. Chanyeol memandang Baekhyun dengan heran dan cemas, namun dua detik kemudian senyum kembali mengambil alih wajahnya. Ia mulai mengaduk-aduk ransel cokelatnya.

Satu menit, dua menit, Chanyeol sepertinya tidak bisa menemukan benda yang diinginkannya. Ia hampir mengeluarkan seluruh isi ranselnya diatas meja, mengubah ekspresi sedih yang terpasang pada wajah Baekhyun sebelumnya kini tergantikan oleh ekspresi penasaran. Baekhyun terus memperhatikan Chanyeol yang telah mendekati keputusasaan sambil terus merogoh bagian-bagian terdalam ranselnya. Apakah benda tersebut begitu penting? Bagaimana kalau Chanyeol kehilangan benda itu?

Pertanyaan-pertanyaan yang ada dalam pikiran Baekhyun berhenti bermunculan saat Chanyeol, dengan "Nah!" yang cukup keras diiringi dengan senyum khasnya yang lebar memegang benda yang kecil berwarna peach. Jadi itu yang dari tadi ia cari-cari, pikir Baekhyun.

Sebuah permen?

"Ini untukmu."

Baekhyun memandang tangan Chanyeol yang menyodorkan permen tersebut, lalu memandang wajahnya. Ekspresi Baekhyun saat ini berada diantara heran dan tidak percaya.

"Untukku?"

"Yep. Ini bukan permen biasa. Ini adalah permen yang bisa membuatmu teringat dengan saat-saat paling membahagiakan dalam hidupmu dan menyingkirkan segala pikiran negatif. Ini adalah permen yang biasa kumakan saat aku merasa sedih." Chanyeol berkata dengan penuh percaya diri.

Baekhyun rasanya ingin tertawa.

"Permen macam apa itu." Candanya. Senyum kini telah kembali pada wajahnya.

Chanyeol menarik sudut bibirnya. "Kau tidak percaya?" dan Baekhyun dengan segera menggelengkan kepalanya.

"Itu hanya permen."

Chanyeol mendengus. Ia mengamat-amati permen tersebut dengan mata terpicing.

"Wahai penguasa segala sesuatu yang manis, berilah permen ini cukup kekuatan agar dia mampu mengangkat segala pikiran negatif yang ada pada Baekhyun dan membuatnya tertawa lagi." Chanyeol memejamkan matanya seolah ia sedang memantrai permen tersebut.

Baekhyun benar-benar ingin tertawa sekencang-kencangnya saat ini.

Chanyeol menyerahkan permen tersebut pada Baekhyun, dan Baekhyun menerimanya dengan rahang bergetar, berusaha menahan tawa. Namun usahanya gagal sesaat setelah permen tersebut berada dalam genggamannya. Dilepaskan tawa yang sedari tadi ditahannya, membuat beberapa pengunjung kafe melemparkan tatapan heran padanya.

"Kau ini lucu sekali."

Baekhyun tidak ingat kapan terakhir kali ia tertawa selepas ini. Hatinya benar-benar terasa sangat ringan seolah seluruh masalah kehidupannya tiba-tiba sirna.

"Lihat! Permen itu bekerja! Permen itu membuatmu tertawa lagi!" Chanyeol berseru dengan semangat terpancar dari wajahnya.

Bukan permen itu yang membuatku tertawa. Tetapi kau.

"Terima kasih."

Berbicara dengan Park Chanyeol sungguh menyenangkan. Baekhyun merasa ia bisa menceritakan seluruh rahasianya pada Chanyeol karena Chanyeol memiliki karisma yang membuat orang menyukainya walaupun mereka baru beberapa menit saling mengenal. Ia mendengarkan setiap perkataan Baekhyun sambil sesekali menganggukkan kepalanya. Chanyeol adalah tipe orang yang responsif, ia juga memiliki selera humor yang bagus, membuat Baekhyun merasa nyaman di dekatnya.

Namun kenyataan tidak membiarkan kebahagiaan Baekhyun bertahan lama. Bagaimanapun bukan ia yang seharusnya duduk di kursi itu, bukan ia yang seharusnya berada di hadapan Chanyeol.

Seorang gadis dengan paras yang cantik, paras yang sangat familiar bagi Baekhyun walaupun mungkin gadis itu tidak pernah mengenalnya. Ia berdiri disamping Chanyeol, Baekhyun bahkan tidak melihatnya memasuki kafe. Mungkin karena ia terlalu tenggelam dalam bola mata Chanyeol yang hangat dan suaranya yang dalam, sehingga ia tidak menyadarinya.

Tanpa senyum di wajahnya, gadis itu menepuk bahu Chanyeol. Chanyeol yang menyadari bahwa pacarnya telah dating melebarkan senyumannya pada gadis itu, namun gadis tersebut tidak membalas senyumannya.

Hati Baekhyun menyempit melihat adegan yang ada di hadapannya.

Baekhyun berdiri dari kursinya, bermaksud meninggalkan pasangan tersebut sesegera mungkin. Langkahnya terhenti saat tiba-tiba Chanyeol memanggil namanya.

"Baekhyun?"

Baekhyun menolehkan kepalanya. Senyumnya menghilang disebabkan oleh orang yang sama dengan orang yang mengukir senyum di wajahnya.

"Dua Thick Double Latte dan dua Raspberry Choco Cream Cake."

Baekhyun tersenyum pada Chanyeol. Senyum. Namun tidak setulus yang sebelumnya ia berikan.

Hi?

Um

Jadi…

MIANHAE !

Sobs setelah kucek ternyata hampir setahun aku telah meninggalkan cerita ini HIKS MIANHAE

Aku merasa bersalah jadi aku menulis chapter ini dengan kecepatan kilat (?) dan ini unbeta-ed karena aku ingin cepat-cepat mempublishnya jadi maaf jika ada kata-kata yang rancu atau gak sesuai. Dan AKU SUDAH BERBULAN-BULAN GAK NULIS LAGI jadi maaf kalo ceritanya membosankan. Looks like I've lost my writng ability /sobs in the corner

Sekali lagi maaf ;_;

Dan terima kasih, kalian reader terkeren di dunia :'D

-silverwook