Krriiinngg... Krriinngg... Krriinngg
Bel pulang sekolah berbunyi, semua murid bersiap-siap untuk pulang namun ada juga yang mengambil peralatan kebersihan kelas untuk piket sebelum pulang.
"Tenten-chan, aku duluan ya?" kata Ino.
"Hati-hati di jalan Ino!"
"Iya."
Gadis berambut pirang berkuncir satu itu pun pulang sendiri berjalan kaki karena Tenten masih ada kegiatan di sekolah. Saat di perjalanan menuju pulang, Ino merasa ada yang mengikutinya. Sesekali ia menoleh.
'Seperti ada yang mengikutiku.' batin Ino.
Tapi Ino mengacuhkannya dan ia mempercepat laju langkahnya.
(Sesampainya di rumah)
"Tadaima!" kata Ino sambil membuka pintu.
"Okaeri." kata Inoichi, ayah Ino.
"Aduhh... Tadi Ino jalannya cepat sekali sih? Sepertinya dia sadar kalau ada orang yang mengikutinya makanya dia mempercepat langkahnya. Karena sekarang sudah sore sebaiknya pulang saja ah! Mungkin aku akan mencari tau rumah Ino lain kali saja." kata Sakura.
Dia pun pulang dan berjalan ke arah tempat ia mengikuti Ino sebelumnya, tapi...
"Eh iya, tadi kan lurus terus.. belok kiri.. eh bukan! belok kanan.. Eeehhh! Tadi itu belok kanan apa kiri ya?" kata Sakura sambil menggaruk garuk kepalanya.
"Ah iya! Aku ingat sekarang! Belok kanan."
(Sementara itu)
"Ino-chan, makan malamnya sudah siap!"
"Iya, Otou-san!"
Ino menuruni tangga rumahnya dan menuju meja makan yang ada di dapur. Ayah dan anak perempuannya terlihat sedang menyantap makan malam, sesekali mereka mengobrol.
"Oh iya, bagaimana hari pertama di kelas 2 SMP?"
"Biasa saja."
"Benarkah? Maksud ayah bagaimana dengan guru-guru nya, atau teman-temannya?"
"Wali kelas ku terlambat 3 jam dan kelas ku harus menunggu selama itu."
"Hah? Lama sekali, wali kelas macam apa yang membiarkan muridnya menunggu selama 3 jam. Hmm, lalu bagaimana dengan teman-temanmu yang lain?"
"Tidak ada yang berbeda, hanya saja tadi di kelasku ada anak baru."
"Oh begitu, dia laki-laki atau perempuan? Dia pindahan dari mana?"
"Dia perempuan dan dia pindahan dari Osaka."
"Oh begitu..."
"Aku sudah selesai makannya, aku mau mengerjakan PR dulu." kata Ino yang meninggalkan meja makan dan langsung menuju kamarnya.
"Ino-chan, ayah akan pergi ke supermarket untuk membeli bahan-bahan makanan tolong jaga rumah ya?"
"Iya.."
(Jam 9 malam)
"Aduuhh... Bagaimana ini? Sudah jam 9 malam dan aku masih berkeliling tidak jelas. Haahh~.. Aku benar-benar tersesat."
Sakura bingung dan tidak tau harus bagaimana, salahkan saja Sakura sendiri karena dia sangat penasaran dengan Ino sampai-sampai dia mengikuti Ino ke rumahnya, begitu akan pulang dia malah lupa jalan.
"Kau anak sekolah ya? Sedang apa malam-malam berkeliaran di daerah ini?"
"A-Ano... Iya aku masih sekolah, aku tersesat dan tidak tau jalan pulang ke rumah."
"Oh... Sebaiknya kau menelepon orang tua mu saja agar mereka menjemputmu."
"Orang tuaku pasti sedang tidak ada di rumah dan.."
#Krriiuukk~~... (Perut Sakura berbunyi)
"Kau lapar ya? Sekarang sudah malam bagaimana kalau kau makan malam di rumahku saja?"
"Eh? Ta-tapi aku..."
"Jangan khawatir aku bukan orang jahat, aku juga punya anak seumuran denganmu."
"B-Baiklah.."
.
.
.
"Tadaima!"
(tidak ada yang menjawab)
"Lho kok disahut? Mungkin dia sudah tidur."
"Oh iya, gadis kecil namamu siapa?"
"Namaku Haruno Sakura."
"Namaku Inoichi, taruh saja tas mu di lantai dan duduklah di meja makan, akan ku siapkan makanan untukmu."
"Maaf paman, jadi merepotkan."
"Hehe... Tidak apa-apa."
(Beberapa menit kemudian)
"Ini, makanlah!"
"Waahh.. Nasi kari ini kelihatannya enak. Itadakimasu!"
"Hmm~.. Nyam.. Nyam.. Wah! Enak sekali!"
"Baguslah kalau kau suka."
Tak sampai 10 menit Sakura menghabiskan makanannya.
"Kenyang sekali! Terimakasih atas makanannya paman."
"Iya sama-sama. Hm? Sudah jam setengah 10 malam, paman rasa tidak mungkin kalau gadis kecil sepertimu pulang sendirian sebaiknya kau menginap disini saja."
"Aduh bagaimana ya? Aku jadi tidak enak."
"Sudahlah, tidak apa-apa. Oh iya Sakura, kau bisa tidur di kamar yang ada di lantai 2 tapi karena kamar tamu nya sedang dalam perbaikan jadi terpaksa kau tidur di kamar anakku."
"Tidak usah paman, aku tidur di sofa yang ada di ruang tamu saja."
"Eh, jangan begitu! Sudahlah jangan sungkan, masuk saja ke kamar anakku. Ayo, paman antar."
(Mereka menuju lantai 2)
"Nah, ini kamar anakku. Kalau kau mau mandi pakai saja kamar mandi yang ada di dalamnya lalu untuk salinan baju ambil saja baju piyama yang ada di lemari anakku.".
"Domo arigatou gozaimasu." kata Ino membungkukkan badan
"Do ittashimashite, konbanwa Sakura."
"Konbanwa."
.
.
.
Sakura memasuki kamar itu perlahan-lahan supaya tidak membangunkan penghuni lain yang sedang tidur. Sakura memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri, selang beberapa menit kemudian dia memakai baju piyama yang diambilnya dari lemari sang pemilik kamar. Kini Sakura pun merasa tubuhnya bersih dan wangi, tapi ia penasaran siapa pemilik kamar ini, lampu tidur redup yang berwarna biru membuat penglihatan Sakura menjadi samar-samar. Karena rasa penasaran yang memuncak, Sakura mendekat ke arah ranjang tidur dan melihat siapa yang sedang tidur disitu. Alangkah terkejutnya dia karena mengetahui sang pemilik kamar sekaligus anak dari paman yang baik hati itu ternyata...
"Hah?! I-Ino?!"
Entah bagaimana bisa kaki Sakura tergelincir dan menindih tubuh Ino yang sedang tidur dalam posisi telentang, kini wajah Sakura dan Ino sangat dekat.
Sakura POV
Ya ampun! Aku tidak menyangka ternyata pemilik kamar ini adalah Ino! Padahal niatku hanya ingin tau rumahnya saja, disaat aku tersesat aku malah menemukan langsung tempat Ino tinggal. Tapi tunggu dulu...
Aku menginjak sesuatu yang licin
Kyyaaa..!
#grep
Aku terpeleset! Untung saja tubuhku tidak jatuh ke lantai, tapi posisiku sekarang..
Aku tidak sengaja menindih tubuh Ino yang sedang tidur, tanpa sadar seperti ada daya tarik yang membuatku tidak ingin lepas dari posisi ini. Saat ini wajahku dan Ino sangat dekat. Ternyata Kami-sama malah memberiku yang lebih dari ini, awalnya aku hanya ingin tau dimana rumah Ino tapi beruntung sekali aku langsung dipertemukan dengan ayahnya, dan sekarang aku berkesempatan untuk melihat wajah Ino yang sedang tertidur. Wajahnya terlihat damai sekali, rasanya berbeda dengan Ino yang selama ini ku lihat, yang memang dari SD selalu menampilkan ekspresi judesnya.
End of Sakura POV
.
.
Ino merasa ada sesuatu yang membebani tubuhnya, perlahan ia mulai menggerakkan tubuhnya dan membuka matanya. Melihat Ino yang sepertinya akan bangun, Sakura langsung bangkit dari posisinya.
"Ngghh~.."
'Ino mulai bangun, bagaimana ini?' batin Sakura.
"Hmmmh~.. EHH?! Siapa kau?!" kata Ino was-was.
"Kau pencuri ya?"
"Bu-Bukan Ino! Aku bukan pencuri, ini aku Sakura." kata Sakura yang menyalakan lampu kamar berwarna putih sehingga wajah Sakura terlihat jelas.
"Sa-Sakura? Sedang apa kau di kamarku?!"
"Begini ceritanya, tadi aku tersesat lalu aku bertemu ayahmu karena sudah malam ayahmu membawaku kesini."
"Oh.. Lalu kenapa kau bisa tersesat sampai disini? Jadi, yang mengikutiku itu kau ya?"
"Iya.. Hehehe.." kata Sakura terkekeh dan langsung mendapat tatapan dingin dari Ino.
"Kenapa kau masih disini? Aku mau tidur, keluar sana!"
"Ano.. Ino-chan, kata ayahmu aku disuruh tidur di kamarmu karena kamar tamu disini sedang rusak."
Mendengar hal itu Ino tidak bisa berbuat apa-apa dan akhirnya ia mengizinkan Sakura untuk tidur di kamarnya.
"Yasudah, tapi jangan berisik."
"Iya, aku tau kok. Tapi aku tidur dimana?"
"Tentu saja dilantai, memangnya kau ingin tidur satu ranjang denganku?"
"Kalau kau mengizinkan aku sih mau saja. Hehe.."
"Hahh~.. Ambilah karpet dan selimut yang ada di lemariku."
"Terimakasih."
Sakura menggelar karpet dan menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Oyasumi, Ino-chan."
"Oyasumi."
.
.
.
Keesokan harinya.
Krriinng... Krriingg.. Krriinng.. (alarm Ino berbunyi)
Suara yang dihasilkan dari bunyi jam beker membangunkan gadis pirang yang tidur itu, setelah bangun dia merenggangkan otot-ototnya. Setelah itu dia membuka buku dan membaca tiap tulisan di dalam halamannya satu persatu. Tak lama kemudian Sakura juga ikut bangun..
"Hoaaamm~~..."
"Hm? Ino-chan, kau sedang apa?"
"Baca buku."
"Sepagi ini? Ini kan masih jam setengah 5."
"Aku terbiasa membaca buku jam segini, kalau masih ngantuk tidur saja lagi, tidak usah mengangguku."
"Tidak ah, aku sudah tidak ngantuk lagi. Oh iya, hari ini ada PR gak?" tanya Sakura.
"Matematika Uji Kompetensi 1.2."
"Eh?! Oh iya aku lupaaa!"
"Ssstt... Jangan berisik!"
"Maaf.. Aduuhh bagaimana ini? Aku belum sama sekali!"
"Yasudah kerjakan saja, masih ada waktu."
Ino membaca buku dan Sakura sibuk mengerjakan PR, tapi Sakura mengalami kesulitan dalam menyelesaikan salah satu soal.
"Ino-chan, kalau yang ini caranya bagaimana? Aku tidak mengerti."
"Soal ini kau harus mencari model matematikanya dulu, jika sudah ketemu difaktorkan dan dicari nilainya."
"Tapi aku bingung, tolong ajari aku caranya ya?"
"Baiklah.."
...
"Seperti itu caranya, mengerti?"
"Iya, aku mengerti! Terimakasih penjelasannya."
"Iya. Ini sudah jam 6 kau mau mandi duluan?" tanya Ino.
"Kau duluan saja, kau kan si pemilik kamar. Aku bisa menunggu kok."
"Kau yakin?"
"Iya, sudah duluan saja."
10 menit
15 menit
20 menit
"Ino-chan, mandinya sudah belum?"
"Belum."
"Aduh, lama sekali." kata Sakura sambil melipat tangannya.
"Ino-chan tolong cepat sedikit aku ingin buang air kecil, kalau masih lama juga terpaksa aku akan menerobos pintunya!"
"Tunggu dulu! Dasar tidak sabar!" kata Ino dari dalam kamar mandi.
Setelah itu Ino keluar dari kamar mandi kemudian disusul Sakura yang langsung masuk ke dalam.
.
.
Ino sudah selesai bersiap-siap dan turun untuk sarapan pagi.
"Ohayou, Otou-san!"
"Ohayou. Oh iya, mana gadis berambut pink itu?"
"Oh, Sakura? Dia masih di atas sebentar lagi juga turun."
"Saat ayah bertemu dengannya kemarin dia memakai seragam sekolah yang sama denganmu, apa dia satu sekolah denganmu?"
"Iya, dia adalah si anak baru itu."
"Oh begitu..."
Tap.. Tap.. Tap..
Sakura menuruni tangga lalu..
#bruukk
Dia terjatuh..
"Sakura, kamu tidak apa-apa?"
"Iya, tidak apa-apa paman."
"Ayo sini, duduklah di samping Ino paman akan membuat sarapannya."
"Iya.."
Saat ayah Ino tengah menyiapkan sarapan pagi, Sakura menatap sekeliling rumah Ino, Ino yang melihat hal itu menatapnya dengan aneh.
"Kau kenapa?" tanya Ino.
"Ah.. Tidak, hanya saja rumahmu sepi sekali. Apa kau hanya tinggal berdua dengan ayahmu?"
"Iya."
"Kau tidak punya kakak?"
"Tidak."
"Oh.. Enak ya jadi anak tunggal, kalau aku setiap hari harus beradu mulut dengan kakak laki-laki ku terus. Dia menyebalkan.."
"Lalu ibumu mana Ino-chan?"
"Sarapannya sudah siap." kata ayah Ino sambil menaruh beberapa piring yang berisi hidangan.
"Wahh... Ada tamagoyaki, yakitori, dan yang paling ku suka nasi kari."
"Ahaha.. Sepertinya Sakura sangat suka nasi kari ya?"
"Iya paman, aku sangat suka. Saking sukanya aku pernah menghabiskan 4 piring nasi kari dan aku tidak pernah sakit perut sesudah memakannya meskipun rasa kari itu sangat pedas."
"Benarkah? Kalau begitu makanlah sebanyak yang kau suka."
"Terimakasih paman. Itadakimasu!"
Mereka bertiga pun sarapan bersama, setelah selesai Sakura dan Ino berangkat ke sekolah.
"Otou-san kami berangkat dulu!" kata Ino.
"Paman terimakasih atas semuanya, maaf merepotkan."
"Iya, tidak apa-apa."
Ino dan Sakura berangkat sekolah bersama-sama, sepanjang perjalanan tidak ada di antara mereka yang memecah kesunyian. Untuk mencairkan suasana Sakura mengajak Ino ngobrol.
"Ino-chan, ternyata jarak dari rumahmu ke sekolah dekat juga ya?"
"Ya begitulah."
"Hmm.. Beda sekali jika dibandingkan denganku, setiap hari aku harus naik bis atau kereta yang menuju ke sekolah kalau terlambat resikonya tidak boleh masuk ke kelas."
(Sampai di sekolah)
"Ohayou Ino-chan!"
"Ohayou Tenten."
"Oh iya, tadi kok aku melihat kau dan Sakura berangkat ke sekolah bersama? Apa rumah kalian searah?"
"Eh? I-Itu cuma kebetulan."
"Oh... Kukira rumah kalian berdekatan."
'Haaahh~... Jangan sampai Tenten tau tentang pertemuanku dengan Sakura semalam yang konyol itu.'
To be continued
.
.
A/N : Gimana readers? Udah kelihatan momen SakuIno nya belum? Masih kurang gak? Atau udah pas? #authorbacot Untuk chapter 2 segini dulu ya, nanti aku update lagi. See you.. ^^
