Scorpius Malfoy, tingkat lima, prefek Slytherin, calon pemegang tahta kerajaan Malfoy, tiba-tiba mengejutkan Hogwarts dengan menjadi adiktif parah pada… Twitter. "Follow gue di et prince Malfoy, itu disambung, terus mention aja buat folbek." [Entah AU entah Canon]

Harry Potter JK Rowling

Twi-dah esjerukdingin

WARNING; OOC parah, bahasa non-baku,

humor garing maksimal, masih belum jelas ini AU atau Canon #krik

baca timeline Twitternya dari bawah yak

TIDAK MENGIKUTI PLOT ASLI DARI JK ROWLING

semua yang mati telah dibangkitkan (?) kembali

.

.

.

Scorpius terbangun keesokan harinya dengan wajah sayu, kantung matanya hitam tebal dan dia merasa pusing disetiap lima langkah dia berjalan. Dia tidak bisa tidur sampai jam tiga pagi, setidaknya sampai dia memanggil Peri Rumah dan meminta ramuan tidur.

"Mimpi apaan sih lo semalem?" tanya Al.

Scorpius yang tengah berjalan sempoyongan, susah payah mencapai bangku dimeja Slyhterin, menatap Al dengan kedua alis terangkat tinggi-tinggi.

"Emang kenapa?"

"Lo teriak-teriak," kata Al, "dan gak biasanya gigi-gigi lo bunyi waktu lo tidur."

Seingat Scorpius, dia memang bermimpi sesuatu, tapi pagi ini dia tidak mengingat secara detail keseluruhan mimpinya. Dia hanya ingat tentang Rose yang merapal mantra padanya, lalu cahaya kebiruan menabrak dadanya dan tiba-tiba dia sudah berada disebuah ruangan gelap dengan burung-burung kecil berwarna biru yang meneriakkan 'Folbek gue dong folbek gue dong'. Scorpius menelan ludah dengan susah payah.

"Gak inget gue," kata Scorpius pelan, tidak ingin memberikan kesempatan pada Al untuk mengejeknya, walaupun dia yakin Al tidak akan melakukan itu, tapi sahabatnya ini sangat polos, dan mempunyai saudara seperti James adalah kutukan. "Gue mau bolos hari ini."

Al tidak meresposnya. Alih-alih, dia sedang bertukar senyum pada eorang anak perempuan Ravenclaw kelas empat yang seingat Scorpius namanya adalah Lucy something-something. Al telah mengincarnya sejak mereka kelas tiga, tapi dia belum berani keluar dari step 'pandang-senyum-angguk-angguk' karena takut James meledeknya.

"Earth to Al," kata Scorpius, melambaikan tangan didepan mata Al.

"Kenapa?" tanya Scorpius, masih menatap Lucy dengan senyum dari telinga ke telinga.

"Elah tembak aja sono, keburu disikat orang."

"Gak berani gue bro," kata Al pelan.

Scorpius menghela napas pelan. Al terlalu takut pada James, dalam artian takut mendapat ejekan dari kakaknya itu. James tidak pernah tanggung-tanggung jika jahilnya keluar, Lily bahkan pernah mengutuknya dengan pertific totalus ketika James mengejeknya berpacaran dengan bocah kelas satu.

Tak mau menganggu acara pribadi sahatabynya, Scorpius lantas mengeluarkan ponsel dengan aksen bendera Inggris kecil dibagian belakang sebelah kanannya. Dia mengabaikan Al yang mulutnya menganga melihat benda kecil itu.

"Apaan tuh?" tanya Al, sepenuhnya melupakan Lucy something-something.

"Hape," kata Scorpius. "Dikasih Rose waktu gue kerumahnya."

Al dengan segera berpindah tempat. Dia duduk disamping Scorpius, sambil menjulurkan lehernya untuk melihat benda dengan banyak tulisan dan gambar didalamnya itu.

"Kayaknya pernah liat deh," kata Al, tampaknya berpikir dan seketika dia melonjak keras. "Mirip punyanya si uncle Dudley, tapi punya dia lumayan hebring, gantungannya macem-macem. Mata mum sampe berair liatnya."

Scorpius mengabaikannya. Alih-alih, dia membuka aplikasi Twitter yang berikonik burung biru kecil. Al nyengir.

"Burungnya unyu," katanya, lalu kembali pada Lucy dan senyum-seyum lagi.

Scorpius mengamati baik-baik layar terang dihadapannya. Ibu jarinya sibuk menggeser layar hapenya naik turun keata, sibuk memantau timeline sang kekasih. Tapi tidak ada yang aneh disana. Tweet terakhir dari Rose terpantau kemarin, sesaat sebelum mereka naik Hogwarts Express.

Scorpius mendesah dalam-dalam.

Dia baru berniat mengajak Al untuk kembali ke asrama karena selepas sarapan mereka tidak memiliki pelajaran apapun, tapi bunyi ringtone yang dari ponsel serta getaran kerasnya melonjakkan Scorpius. Begitupun sebagian siswa Slytherin yang duduk dijangkauan bunyi ponsel itu.

Baby I love you, love you, love you so much. And I need you, need you, and you're gone…

Scorpius tidak memperdulikan pandangan tanya dari teman-temannya, bahkan tidak Al yang mulutnya menganga lebar dan apel ditangannya lolos jatuh kelantai. Dengan cepat Scorpius beralih pada ponselnya, hatinya menggebu-gebu penasaran, berharap bahwa itu adalah pesan singkat dari Rose—karena tidak ada seorangpun selain Rose yang tahu nomor ponselnya.

+63471937397 (Kantor)

160 / 1dari6

Sy ibu RITA SKEETER di papua menang angka TOGEL 4D (0834) ingin menang sperti sya Hub:MUNDUNGUS 08123456789 angka bocoran bs anda dptkan dijamin 100% tembus

Kampret.

.

.

.

"Rose," panggil Scorpius, berusaha mengimbangi langkah cepat Rose dikoridor kastil.

Rose mengabaikannya. Dia semakin memperlaju langkah kedua tungkainya dan bahkan mengabaikan Peeves yang bergantung dilangit-langit; menyanyikan lagu dengan lirik kotor untuk menghina Filch.

"Aku minta maaf soal yang kemarin. Oke?" lanjut Al, kini berbelok keselatan melewati perpustakaan. "Aku tahu aku salah kemarin. Aku mau lakuin apa aja asal kamu maafin aku. Please, Rose."

Secara tiba-tiba Rose berhenti. Dia berbalik dengan adegan slow-motion dan menatap Scorpius dengan api berpijar dikedua binernya.

"Apa saja?" tanyanya, matanya menyipit mencurigakan dan untuk sedetik Scorpius menyesal telah mengatakan apa yang dikatakan barusan.

"Scorpius!" seru Rose. "Apa saja? Kamu bilang tadi apa saja?"

Takut-takut Scorpius mengangguk. Ini adalah Rose, darah konyol Weasley mengalir dipembuluh nadinya, ditambah darah Granger yang begitu ambisius. Scorpius belum mau berspekulasi apa yang Rose ingin katakan.

"Oke," lanjut Rose. "Kalo gitu aku mau followers di Twitterku nambah. Kalo perlu jadi ribuan. Gimana caranya terserah. Pokoknya aku mau followersku jadi banyak."