Catching Feelings

(Chap. 5 Only One)

.

.

.

Judul : Catching Feelings (Chap. 5 Only One)

Author : Sam

Genre : Yaoi, Romance, Brothership.

Cast : Byun Baekhyun, Park Chanyeol, Oh Sehun, Xi Luhan (Byun Luhan) (EXO Members)

Pairing : ChanBaek, HunHan, HanYeol, BaekHun.

.

.

.

HAPPY READING!

.

.

.

-START-

.

.

.

-Author's Pov-

.

Malam telah larut, cahaya lampu yang menerangi dalam rumah hampir semuanya padam. Hampir semua orangpun telah terlelap dan melayang ke alam mimpi. Dan ada beberapa yang enggan atau malah tak mampu hanya untuk sekedar memejamkan matanya.

Seorang namja dengan tubuh rampingnya tengah berbaring ditempat tidur dalam posisi miring menghadap tembok. Memejamkan matanya namun tak ada niatan atau bisa dibilang tak mampu benar-benar terlelap. Sesekali ia gigit pelan bibir bawahnya dan sesekali ia raba bibir lembutnya sendiri, memikirkan sesuatu yang sempat terjadi sebelum ini.

Disisi lain atau bisa dibilang di kamar lain masih dalam satu rumah. Seorang namja yang tak kalah ramping namun berukuran lebih kecil juga mengalami hal yang sama, masih terjaga ditengah malam. Matanya malah tak sanggup ia pejamkan sama sekali, ia berbaring terlentang menghadap atap kamarnya. Tangan mungilnya sesekali meremas selimut tebal yang ia pakai dan sesekali meraba kearah dadanya sendiri. Mencoba merasakan detak jantungnya yang berdetak tak seperti biasanya. Pikirannyapun melayang, sama, mengingat kejadian sebelum ini.

Kejadian itu benar-benar tak bisa membuat nyenyak kedua remaja yang terlihat sama itu, atau dengan kata lain remaja kembar. Benar, Luhan dan Baekhyun. Ada perasaan aneh yang menjalar di tubuh dan pikiran mereka. Apalagi penyebabnya, tentu saja kejadian itu, kejadian di malam ulang tahun sekolah mereka, kejadian yang membuat beberapa orang tercengang, kejadian dimana terlihat seorang Park Chanyeol melakukan aksinya. Park Chanyeol yang sedang mencium namja yang menarik perhatiannya, namja bernama Byun Luhan.

.

-Auhtor's Pov End-

.

.

-Luhan's Pov-

.

"Apa yang terjadi padaku?"

"Kenapa aku diam saja?"

"Aku cukup terkejut tapi... kenapa... aku tidak memberontak?"

"Dadaku masih bergemuruh..."

"Masih... terasa... hangatnya masih terasa..."

"Bibirnya... Chanyeol... masih terasa..."

"Ada apa denganku?"

.

-Luhan's Pov End-

.

.

-Baekhyun's Pov-

.

"Sakit..."

"...Kau iri. Kau iri pada kakakmu sendiri. Kau iri karena Luhan lebih populer daripada kau. Kau iri karena Luhan lebih sempurna, lebih cantik dan lebih berbakat..."

"...Selama ini bukan kau yang melindunginya. Tapi Luhan, Luhan yang melindungimu..."

"Aku tidak iri dengan hyung, aku menyayangi hyung, aku hanya takut hyung akan terluka, tapi sepertinya aku hanya parasit... kau mungkin benar Park Chanyeol…."

"Tapi kenapa aku merasakan hal yang lebih menyakitkan dari kata-katamu itu…."

"Dadaku kenapa seperti ini? Bergemuruh?"

"Aku merasa... aneh..."

"Aku merasa tak suka melihat itu..."

"Apa maksudnya? Kenapa dia melakukannya?"

"Jika ingin melakukannya kenapa ia lakukan di depan... kami..."

.

-Baekhyun's Pov End-

.

.

.

SKIP TIME

.

.

-Author's Pov-

.

Matahari telah menempati tempat eharusnya ia berada, memberikan cahaya hangatnya, namun sepertinya tak akan cukup untuk menghangatkan kota Seoul hari ini dan untuk beberapa hari kedepan, ya karena dari seminggu yang lalu memang musim dingin telah datang. Tapi tetap saja itu tak seharusnya menjadi penghalang untuk segala aktivitas rutin yang wajib dilakukan. Seperti sekolah salah satunya.

Meski cuaca terasa sedikit dingin dan meski tidur merekapun tak cukup nyenyak tadi malam, namun hari ini Luhan dan Baekhyun harus tetap berangkat ke sekolahnya. Dan meski rasa canggung nantinya akan menyambut mereka saat di sekolah. Namun tak usah menunggu sampai di sekolah, sepertinya rasa canggung itu telah tercipta dengan sendirinya diantara mereka berdua, diantara Luhan dan Baekhyun.

Keheningan mengantarkan mereka sampai ke sekolah, meski ada beberapa percakapan kecil, namu tetap tak menghilangkan rasa canggung diantara mereka. Sebenarnya apa yang membuat mereka canggung seperti ini. Tentu saja kejadian malam itu. Tapi pertanyaannnya kenapa? Kenapa harus canggung?

Pertama Chanyeol mencium Luhan tepat di depan mata Baekhyun dan Sehun. Kedua, ini tentang apa yang dibicarakan mereka berdua sebelum pentas dilakukan, bahwa Baekhyun tertarik kepada Chanyeol, tapi bukankah itu hanya tertarik. Namun sepertinya ada indikasi lain, yaitu suka? Dan bukankah Luhan yang yang menyadarinya,bahwa Baekhyun menyukai Chanyeol, bahkan sebelum Baekhyun menyadari dan mengakuinya. Dan ketiga, dan ini yang menjadi masalahnya, bahwa Luhan tidak begitu terganggu dengan ciuman itu.

Keheningan itu masih berlanjut di dalam kelas. Sebenarnya mereka berdua tidak tahan, namun juga bingung harus membahas apa? Dan saat jam istirahat tiba, inilah waktunya mereka harus berbicara dan berlaku seperti biasanya. Mereka berdua menuju kearah taman.

"Baekkie~" Luhan yang mengawalinya, karena dia merasa menjadi tokoh utam dalam kejadian tadi malam.

"Ne hyung"

"Eum tentang malam itu-"

"Apa kau menerimanya?"

"Eh?"

"Bukankah dia juga memintamu untuk menjadi kekasihnya?"

.

.

-Flashback-

.

CHU~

Chanyeol menempelkan bibirnya di bibir lembut Luhan. Luhan sangat terkejut dengan tindakan tiba-tiba yang dilakukan Chanyeol, menariknya lalu membawanya kedalam ciuman hangat seperti ini... hangat... memang benar hangat... ciuman Chanyeol hangat dan lembut membuat Luhan bingung untuk melakukan apa. Ia harusnya melepaskan diri dari genggaman dan ciuman Chanyeol namun serasa kehangatan itu mengekangnya, mencegahnya untuk lari dari bibir itu. Perlakuan itu... Luhan... menyukainya.

Setelah beberapa saat berdiam dalam posisi itu, akhirnya Chanyeol melepaskan ciuman mereka, menatap lembut Luhan. Luhan pun membalas tatapan itu meski rona merah mewarnai pipinya. Dan begitu sadar dengan dua pasang mata yang melihatnya, Luhan akhirnya berusaha sedikit menjauh dari tubuh Chanyeol. Namun sepertinya tangan Chanyeol masih enggan untuk melepaskan lengan ramping Luhan.

Sementara dua pasang mata yang melihat hanya bisa termangu, kaget dan seakan tak percaya. Dan entah disadari atau tidak dengan berat hati mereka melangkah pergi dari tempat tersebut. Pergi dengan pikiran dan kekecewaan dalam hati.

"Luhan"

Chanyeol menyebut nama Luhan dengan suara beratnya dan mendekat, membuat Luhan mampu merasakan nafas hangat Chanyeol diwajahnya, dan membuat tubuh Luhan seakan tersengat listrik.

"Ch-Chanyeol..."

Ingin Luhan bilang 'tolong lepaskan' tapi sayang tak mampu terucap, malah balas memanggil Chanyeol..

"Maukah kau menjadi kekasihku?"

.

-Flashback End-

.

.

"Aku belum memberikan jawaban..." Luhan menundukkan wajahnya.

"Kenapa?"

"Aku... belum yakin"

"Belum yakin kalau hyung juga menyukai Chanyeol?"

"Bakkie-ah... entahlah aku tidak yakin... Lagipula kau juga tertarik pada Chanyeol kan? Jadi aku-"

"Tertarik bukan berarti suka atau cinta hyung, kau sendiri yang bilang"

"Mungkin sekarang kau sudah sadar hyung, kalau kau menyukai Chanyeol, tadi malam buktinya kan?"

Baekhyun ingat saat Luhan dicium Chanyeol, Luhan tak memberi perlawanan. Itu bukan tertarik lagi, tapi sudah tahap menyukai dan bisa berakhir dengan mencintai.

"Jangan mengkhawatirkan perasaanku hyung, lagipula rasa kesalku masih lebih besar dari pada rasa tertarikku pada Chanyeol hehehe"

Baekhyun mencoba untuk kembali, Baekhyun yang suka bercanda telah kembali, ia berikan senyuman terbaiknya untuk hyungnya. Agar Luhan percaya bahwa Baekhyun hanya tertarik tidak lebih.

"Mian Baekkie-ah..."

"Tak apa hyung, mungkin Chanyeol juga tak seburuk yang aku pikirkan, jika kau menyukainya pun tak apa dan aku rasa Chanyeolpun benar-benar menyukaimu"

"Ne..." Luhan masih terlihat ragu-ragu dengan keputusan apa yang harus ia berikan kepada Chanyeol nantinya, karena masih ada sesuatu yang mengganjal dihatinya. Itu karena...

"Karena Sehun?" seolah mereka memang terikat, Baekhyun bisa membaca apa yang dipikirkan kembarannya itu.

"Kau masih bingung dengan perasaanmu dengan Sehun, hyung? Tapi disisi lain kau juga mulai ada perasaan dengan Chanyeol?"

"Sepertinya.."

"Jadi sebenarnya siapa yang kau sukai? Siapa yang lebih mengisi hatimu?"

Pertanyaan Baekhyun membuat Luhan menunduk, memikirkan kembali seperti apa sebenarnya perasaannya.

"Sehun, aku mengenalnya lebih lama. Aku menyukainya, beberapa waktu lalu aku sedikit yakin dia menyukaiku. Tapi karena terlalu lama aku menunggu, keyakinanku jadi sedikit berkurang..."

"Sedangkan Chanyeol, meski baru mengenalnya untuk waktu yang singkat, dan baru aku sadari malam itu. Ternyata aku juga menyukainya aku rasa..."

"Apa aku terdengar seperti serakah Baekkie?"

Luhan menatap Baekhyun setelah mengutarakan pendapatnya. Ia merasa egois dan serakah, tapi itu yang benar-benar ia rasakan. Dan dengan berterus terang dengan belahan jiwanya, ia harap akan ada sedikit kelegaan.

"Tidak hyung, tidak ada yang namanya serakah dalam mencintai seseorang, selama tak ada yang merasa rugi atau dirugikan. Kau hanya bingung hyung, mana yang lebih dominan diantara mereka berdua di hatimu..."

"Tapi yang aku tahu mereka berdua sama-sama menyukaimu, dan masalahnya mana yang lebih kau sukai"

Baekhyun tersenyum manis, semoga saja ini bisa membuat puas Luhan, semoga pernyataanya tidak membebani belahan jiwanya yang sedang bingung kini.

Memang benar yang dikatakan Baekhyun, saat ini tergantung pada perasaannya, siapa yang lebih menguasai hatinya. Tidak salah Luhan memilih Baekhyun sebagai tempat berbaginya, karena Baekhyun orang yang paling mengerti dirinya.

Tapi pertanyaannya, apakah Luhan begitu juga sebaliknya? Mengerti apa yang dirasakan Baekhyun saat ini?

.

-Auhtor's Pov End-

.

.

-Baekhyun's Pov-

.

Aku mengikuti kemana langkah kakiku membawaku setelah aku meninggalkan Luhan hyung sendirian untuk memikirkan perasaannya.

Perasaan... lalu seperti apa perasaanku sendiri? Aku tidak mengerti... ada perasaan aneh sejak malam itu. Aku akui aku tidak menyukainya... tidak menyukai saat Chanyeol mencium Luhan hyung. Tapi kenapa aku tidak suka, bukan... bukan hanya tak suka tapi sedikit aneh, dadaku seperti tersengat rasanya sakit.

Aku hanya tertarik dengannya... hanya tertarik. Dan Luhan hyung lebih dari itu... Luhan hyung menyukai Chanyeol. Iya aku yakin itu, buktinya hyung tidak menolak saat Chanyeol menciumnya meski dia belum memberikan jawabannya. Tapi aku tahu hyung menyukainya, menyukai Park Chanyeol, menyukai perlakuan Chanyeol terhadapnya, menyukai saat Chanyeol menciumnya... saat itu di depan kami... di depan aku dan... Sehun.

Oh Tuhan, aku baru ingat Sehun, benar Sehun. Bagaimana perasaannya saat ini? Pasti lebih sakit dari siapapun, sakit melihat orang yang dicintainya dicumbu oleh orang lain... ah ani oleh sepupunya.

Tap

Tanpa sadar aku berhenti disini, bukankah ini ruang latihan klub dance? Kenapa aku disini? Apa karena aku memikirkan Sehun?

Dan ternyata ada Sehun disana...

Sehun sedang menari indah sekali, tapi kenapa dengan musik ini? Musiknya tak sepertinya yang Sehun gunakan untuk menari, ini bukankah Usher – Moving Mountains? Dance ballad, Sehun menari dengan diiringi lagu ballad? Indah tapi kenapa terdengar dan terlihat... menyedihkan?

Sehun seorang dancer hebat, ia mengekspresikan perasaannya dengan menari, setiap liukan tubuhnya seperti berekspresi. Kalau begitu apa yang dirasakannya saat ini adalah kesedihan? Tapi tetap saja indah... gerakannya sangat indah. Aku seperti terhanyut ke dalam perasaannya... atau memang akupun merasakan apa yang dirasakan Sehun saat ini... kesedihan...

Prok Prok Prok

Kuberikan tepukan tanganku sekeras mungkin untuk Sehun karena memang tariannya sangat mempesona. Ia berbalik dan sadar ada aku yang melihatnya, segera ia matikan musik yang masih menggema dan menghampiriku dengan senyuman hangatnya seperti biasanya.

"Kau hebat Sehun-ah, tarianmu sangat indah, aku jadi ingin belajar menari"

"Ah kau melihatku dari tadi?"

"Huum"

"Ah tidak, aku tadi hanya iseng menari saja, tidak benar-benar bagus"

"Tidak, itu tadi sangat bagus meski kau bilang itu iseng"

Kuberikan dua acungan jempolku padanya dan dia hanya mengusap-usap tengkuknya, sepertinya ia malu. Akhirnya kami duduk dilantai bersandar pada tembok, aku rasa kami butuh waktu berbincang sebentar.

"Kenapa kita selalu bertemu seperti ini? Memperhatikan dalam diam saat yang satunya sedang berlatih" aku memulai perbincangan.

"Ah iya benar, saat itu aku yang melihatmu sedang bernyanyi, kejadiannya sama seperti ini hahaha ah apa kau sengaja Baekhyun-ah?"

"Hahaha tidak hanya kebetulan, aku kebetulan lewat sini dan melihatmu menari, dan ternyata tarianmu memang saat indah. Dan eum kenapa kau memakai lagu ini?"

"Ah tidak apa, hanya ingin mencoba"

"Apa perasaanmu sama seperti lagu itu?" tanyaku sedikit penasaran, bukannya aku ingin Sehun mengingat kesedihannya, tapi aku hanya ingin tahu saja.

"Mungkin juga.."

"Apa karena malam itu?"

Oh tidak Baekhyun, kenapa mulutmu tidak bisa dijaga. Lihat ekspresi wajah Sehun berubah, kau bodoh.

"Mian Sehun-ah"

"Ah gwaenchana"

Hening suasana menjadi hening, sedikit canggung. Karena kami tahu kami sama-sama menyaksikan hal itu. Aku tidak suka suasana seperti ini.

"Sehun-ah boleh aku bilang sesuatu?"

"Hmmm"

"Lebih baik kau kau cepat katakan perasaanmu saja"

"..."

"Kenapa? Apa kau masih ragu?"

"Setelah kejadian tadi malam aku rasa begitu"

"Luhan hyung belum memberikan jawabannya, jadi tenang saja dan katakan. Karena Luhan hyung sedang bimbang..."

"Bimbang?"

"Huum antara kau dan Chanyeol, yang artinya diapun mempunyai perasaan terhadap Chanyeol, jadi cepatlah"

Aku ingin Sehun cepat mengatakan perasaan cintanya kepada Luhan hyung, karena dia sudah menyimpannya terlalu lama. Dan karena Luhan hyungpun sudah mulai meragukannya. Dan sebelum Chanyeol merebutnya, mengingat dia orang yang nekat juga.

Atau karena aku tidak suka jika Chanyeol benar-benar menjadi kekasih Luhan hyung? Mollayo... mungkin juga begitu. Tapi jauh lebih tidak suka lagi Sehun, melihat orang yang dicintainya sekian lama bersama Chanyeol.

"Aku rasa dia sudah tak bimbang..."

"Eh?"

"Aku rasa Luhan lebih menyukai Chanyeol, entahlah bagaimana aku bisa menyimpulkannya, tapi aku rasa seperti itu..."

Sehun menerawang entah kemana, tatapannya sendu. Aku tak mau Sehun sahabatku ini juga bersedih. Kenapa banyak sekali yang bersedih hari ini. Kugapai tangannya, dan kugenggam erat tangan Sehun, mencoba mengisyaratkan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Semoga ini bisa sedikit menenangkannya.

"Seperti yang kubilang dulu Baekhyun-ah, Chanyeol tak seburuk kelihatannya..."

"Hmm"

"Meski aku tak tahu bagaimana akhirnya. Aku rasa aku masih memilikimu Baekhyun-ah, kau memang sahabatku. Gomawo..."

Sehunpun membalas genggaman tanganku, aku rasa dia sudah cukup tenang, semoga. Kami saling bertukar senyum meski tak secerah biasanya.

"Sehun-ah..."

"Hmmm?"

"Boleh aku mengatakan sesuatu?"

"Katakanlah. Apa kau punya masalah? Tak biasanya kau menceritakannya pada orang lain"

"A-aku tidak tahu ini benar atau tidak. Dan aku-"

"Katakan saja ne..."

"A-aku rasa... aku juga merasakan hal yang sama denganmu?"

"Sama? Denganku?"

Sehun mengernyitkan dahinya, tak mengerti dengan yang kumaksudkan. Aku sedikit tidak yakin ingin mengatakan ini, dan seperti yang dikatakannya aku jarang membicarakan masalahku dengan orang lain. Tapi aku belum pernah merasa seperti ini sebelumnya. Dan Sehun aku rasa pilihan yang tepat untuk jadi pendengarku.

"Aku... aku juga merasa... entah apa namanya aku tidak begitu yakin..."

Sehun sekarang menghadapkan dirinya tepat didepanku, sedikit penasaran dengan apa yang hendak aku sampaikan. Masih menungguku untuk melanjutkannya.

"Aku saat melihat itu... aku merasa tak suka. Ada dentuman keras didadaku saat melihat itu. Dan saat malam harinya, aku tak mampu tidur. Terus terbayang hal itu. Dan entah kenapa dadaku juga merasa sesak Sehun-ah"

Kutatap Sehun yang masih diam, aku harapkan penjelasan darinya. Aku harap jawabannya tak lebih dari kata 'tertarik'.

"Kau merasakan itu? Maksudku merasakannya saat melihat Luhan dan Chanyeol? Ah tidak aku salah maksudku, Chanyeol?"

Sehun sedikit menegaskan 'Chanyeol' padaku, raut mukanya kembali berubah, aku tak yakin dengan yang satu ini.

"N-ne.."

"Kau... menyukainya Baekhyun-ah... Kau menyukai Chanyeol"

Mataku membulat karena perkataan Sehun, namun akupun tidak mengelaknya. Sehun kembali menyandarkan punggungnya. Ia menghembuskan nafas panjangnya.

"Sejak kapan?"

"Aku tidak tahu..."

"Benarkan yang aku katakan, Chanyeol memang tak seburuk yang orang pikirkan. Mungkin bukan dia yang mengejar orang tapi orang-orang-orang yang mengejarnya jadi dia terlihat seperti namja brengsek. Chanyeol beruntung... Buktinya sepasang saudara kembar seperti kalian bisa sama-sama menyukainya..."

Kata Sehun sambil tersenyum miris, lalu ku lihat dia mengotak-atik ponselnya, dan aku hanya memperhatikannya.

"Luhan mengetahuinya?"

"Hanya tahu bahwa aku sebatas tertarik"

"Seperti yang kuduga, kau terlalu menyayangi Luhanmu"

"Hmmm, mau bagaimana lagi, dia itu belahan jiwaku, aku menyayanginya. Apapun untuknya..."

"Kau terlalu baik"

Aku hanya bisa tersenyum menanggapi Sehun, entah aku terlalu baik atau aku hanya pengecut. Tapi apapun untuk hyungku.

"Sepertinya kita mempunyai hal yang sama lagi Baekhyun-ah"

"Selain suka memperhatikan latihan orang, kita juga sama-sama lebih suka memendam perasaan kita. Dan satu lagi... orang yang kita suka pun ternyata menyukai orang lain"

"Huum. Mungkinkah kita jodoh?"

"Mungkin"

"Hahahahaha"

Kami berdua hanya bisa tertawa seperti ini, menertawakan kebodohan kami mungkin. Dan mungkin setelah ini kami akan menyesal, siapa yang tahu.

"Tapi yang membedakannya adalah Chanyeol membenciku..."

"Membenci wajahku, membenci sifatku dan membenci keberadaanku..."

"Apa Chanyeol mengatakan sesuatu?"

Sehun nampak khawatir, namun sebisa mungkin kuberikan senyumanku yang mengisyaratkan 'tak ada masalah'.

"Tak ada yang membencimu Baekhyun-ah"

"Hmmm"

"Aku tidak membencimu"

"Gomawo"

Sehun mengacak pelan rambutku, mungkin ia hanya ingin menenangkan. Tapi itu benar membuatku sedikit tenang.

"Sudahlah, aku tahu kau belum bisa banyak bercerita padaku. Mungkin lain kali kau berubah pikiran dan aku akan siap mendengarkannya"

"Gomawo"

Sekali lagi hanya ucapan terima kasih yang mampu kuberikan kepada Sehun. Aku berterima kasih juga karena kau mau menemaniku saat ini.

"Ini dengarkan..."

Sehun memberikan sebelah headsetnya kepadaku, sepertinya ia ingin menunjukkan sebuah lagu padaku. Jadi dia tadi mencari-cari lagu. Memangnya lagu apa yang hendak ia perdengarkan padaku... lagu ini...

Meoreojyeoman ganeun geudae You're the only one

.

You're only getting farther You're the only one

Naega saranghaetdeon geot mankeum You're the only one

As much as I loved you, You're the only one

Apeugo apeujiman babo gatjiman Good bye

It hurts and hurts and it's foolish but Good bye

Dashi neol mot bonda haedo You're the only one

Only one

Though I may never see you again, you're the only one

Only one

...

...

...

Nae meorit sogeun eonje jjeum neoreul jiulkka? (I will let you go)

When will my head erase you? (I will let you go)

Haru iteul handal, meol geneun ama myeot nyeon jjeum (My baby can't forget)

One day, two days, one month, if long term then a few years (My baby can't forget)

Geurigo eonjenga neoui gieok sogeneun

And someday in your memories

Naran sarameun deo isang salji anketji jiugetji

I won't live in it, you will erase me

Only one only one

You're the only one, only one

.

Saat kutahu lagu apa ini, kupejamkan mataku, mungkin Sehun melakukan hal yang sama. Mencoba meresapi arti lagu ini, senyuman pahit terukir diwajahku setiap lirik lagu ini terucap. Seperti inikah rasanya saat kehilangan orang yang dicintai? Seperti inikah Sehun? Jika Luhan menjadi satu-satunya yang kau cintai, kenapa merelakannya? Apa kau benar-benar membiarkan Luhan memilih Chanyeol? Dan apakah akupun merelakan Chanyeol pergi? Tapi memangnya siapa aku baginya, aku bukan siapa-siapa. Hanya orang yang dibencinya...

.

-Baekhyun's Pov End-

.

.

.

-TBC-

.

.

.

Mind to review? Gomawo ^^