A Harry Potter Fanfic
Pairing : DMHP
"DARE YOU"
"Aku paling tahu anakku, Draco bukan bagian dari mereka! Aku ibunya, aku tahu semua tentang Draco, aku mohon, jangan bunuh ia My Lord… aku yakin dia baik-baik saja. Tak ada yang berbeda."
"I-Iya. I-itu benar My Lord, kami bisa memastikan ramalan itu palsu… ka-kami akan tukar nyawa kami bila ramalan itu benar, Draco kecil kami tak melihatkan tanda-tanda bahwa dia, dia bu-bukan vampire."
"Lucius,,, anak kita tidak mungkin kan—?"
"Te-tenang saja, Cissi."
Draco menyeringai masam. "Hn, vampire katanya? Yang benar saja." Gumamnya pelan. Mata kelabunya lalu menerawang kearah langit biru yang luas. "Mom, Dad, semoga kau baik-baik saja. Maafkan aku, aku akan segera menyelamatkan kalian."
0o0
Harry mengerjapkan matanya berulang-ulang. Langit-langit ruangan berwarna putih yang pertama kali ia lihat. Lalu, ia melihat kebawahnya, Hermione dan Ron yang ia temukan.
"Mate, kau baik-baik saja?" ujar Ron pelan. Dan di sampingnya terlihat tatapan khwatir dari Hermione yang seakan-akan ingin memeluk Harry.
Harry mengangguk kecil. Ia masih merasakan nyeri di sekujur tubuhnya dan saat ini ia masih belum mampu menggerakkan tangan maupun kakinya.
"Syukurlah, kau benar-benar di temukan dalam keadaan tragis ketika sampai di sini. Kami begitu khawatir." kata Hermione sambil ingin menangis. "dan tak kusangka, yang menemukanmu justru dia."
"Hai, Potter." Draco yang sedari tadi berdiri di kejauhan bersama madam Pomfrey dan Dumbledore langsung berjalan pelan kearah Harry, Hermione dan Ron.
"Malfoy?" Harry mengguman pelan. Ia tak mengerti, sepertinya ada yang salah dengan Draco dan dirinya, tapi, ia sendiri tak tahu itu apa. Harry juga bisa merasakan sakit pada luka gores yang ada di dahinya. 'Oh Merlin, sebenarnya, apa penyebab aku berada di sini?'
"Aku senang kau sudah siuman, Potter." Nada bicara yang angkuh seperti biasanya.
"Aku kira, Harry terluka karenamu, Malfoy." Desis Ron pelan.
Draco melirik Ron dari sudut matanya. Hermione mencoba menghentikan kata pedas Ron. Ia juga pikir Draco yang melukai Harry, tapi, mana mungkin ia membawa Harry kemari kalau memang benar ia yang melukainya.
"HARRY?" Ginny baru datang. Wajahnya terlihat panik. Oh tentu saja, Ginny kekasih Harry. "Harry, syukurlah." Ginny menghampiri Harry hingga ia menyingkirkan Draco di sana. Draco hanya mendecak kesal. "Oh Harry, aku takut akan keadaanmu." Ginny mulai menangis dan memeluk Harry begitu saja.
Harry sempat meringis karena tubuhnya yang di peluk Ginny masih terluka. "Tidak apa, Honey. Jangan menangis." Senyum Harry menenangkan.
Draco yang sudah malas berada di antara Weasel-bee lalu pergi meninggalkan ruangan.
Dumbledore melihat punggung pewaris Malfoy itu yang berlalu begitu saja dengan seksama. "Tak salah lagi, Draco." Gumamnya pelan ketika Draco telah menghilang dari pandangannya.
0o0
Hari mulai malam, di ruangannya, Dumbledore terus saja bulak-balik dalam tempo cepat. Otak cerdasnya ia putar berulang-ulang untuk mengingat kejadian yang sediktpun tidak pernah ada yang ia lupa, hingga ia berkali-kali mencabut pikirannya dan menjelajah masa lalu dengan pensieve untuk mengetahui kebenarannya.
"Sir." Snape mencoba mengusik kepanikan Dumbledore yang sedari tadi tak menghiraukan dirinya dan seorang lagi di ruang ini.
"Tidak. Tidak, tidak ada!" geram kakek berusia lanjut pemilik kekuatan besar ini. "Katakan padaku! Kenapa ada ramalan lain?" menuruni tangga-tangga kecil untuk menghampiri sosok wanita yang berada di depan Snape.
"Ti-tidak ada, Sir. Tapi Draco memang kebenaran ramalan, ramalan la-lainnya." Jawab wanita bernama Trelawney itu.
"Kau tidak berguna. Semuanya melenceng dari perkiraan dan rencanaku." Dumbledore menggeleng berusaha mengelak apa saja hal yang akhir-akhir ini ia dengar beserta kebuktiannya.
"Tak ada cara lain selain merubah rencana awal, Sir." Snape kembali mengeluarkan pendapat.
"Mengubah? Dan aku terbunuh oleh anak kecil?" bentak Dumbledore marah. Snape berkpribadian baja itupun tak mau berbicara lagi. Apalagi Trelawney yang bahkan tak menduga sejak awal kalau ada ramalan lain.
Dumbledore mulai diam dari gerakannya tapi kedua orang bisa melihat kemarahannya semakin membuncah sehingga hanya bisa mematung takut di belakangnya. Dan pada saat ketegangan itu, Minerva masuk dan menghampiri Trelawney . mengusap bahu wanita berdandanan norak itu dan menghantarnya pelan hingga Trelawney keluar dari kantor Dumbledore tanpanya.
"Kau harus tenangkan dirimu, professor. Atau semua akan semakin kacau." Jelas Minerva membelakangi pintu ketika Trelawney benar-benar sudah meninggalkan tempat ini.
Dumbledore menghela nafas dan menghadapi dua orang di belakangnya. "Apa yang membawamu kemari, Minerva?"
"Ada keributan di Slytherin." Tegas Minerva. "dan, dan ini, parah." Ungkapnya ragu. Minerva meninggalkan ruangan berharap Dumbledore harus meluangkan waktunya untuk kejadian ini ketimbang ramalan lain yang mengancamnya.
"Snape. Tugasmu sudah tetap sejak dulu. Awasi Harry, akhir-akhir ini, aku sudah tak tahu apa-apa tentangnya." Ungkap lelaki berjanggut putih panjang itu miris.
"Baik, sir." Jawab Snape dingin seperti biasanya.
Dumbledore dan Snape lalu ikut meninggalkan ruangan untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi dari informasi Minerva tadi.
0o0
Semua anak-anak Slytherin ribut-ribut dan pani. Dan perfect class Slyhterin juga guru-guru mencoba menyatukan Slytherin dan mengamankannya. Tak berapa lama, Dumbledore beserta guru besar Slyhterin, , datang.
"Apa sebenarnya yang terjadi?" Tanya kakek tua itu dan menghampiri Minerva, memasuki kamar Draco.
"Astaga." Snape terkejut ketika melihat darah bersimbah di setiap sisi kamar Draco, Goyle, Grace dan Blaise itu.
"Ini darah . Sir." Terang Flich sambil menggendong kucingnya.
"Draco maupun hilang, Professor Dumbledore. Ini sangat mengkhawatirkan." Terang Minerva.
Dumbledore terdiam, dia tak menyangka buktinya sudah sejauh ini. Ia bahkan tidak percaya, kalau Draco bisa membunuh temannya sendiri bahkan menghilangkan jasdanya.
"Aku melihatnya." Seorang gadis berambut hitam menghampiri kumpulan professor dan menghancurkan lamunan Dumbledore.
"Apa maksudmu nona Parkinson?" Tanya Minerva kalut.
"Aku melihat Draco menyerang Blaise. Draco bertaring, hawanya dingin, dia bukan Draco yang kukenal. Matanya kemilau seperti… vampire." Ungkap Pansy bersedih.
Semua professor terdiam dengan cerita Pansy. Mereka bingung, terutama, Dumbledore. Ia tak tahu apa yang ia lakukan terhadap Draco mengingat lelaki Pureblood itu masih murid di Hogwarts, justru yang semakin ia khawatirkan adalah nyawanya dan keselamatan Harry. Selain Voldemort, ia memiliki musuh baru lagi, yakni, vampire yang sudah lama tidak di ketahui kehidupannya. Vampire yang pikirannya sangat egoism dan bisa menyakiti tanpa berpikir, Ia adalah seorang darah murni penyihir yang tak di sangkanya, Draco Malfoy, terkena kutukan itu.
0o0
Sementara itu, Draco berjalan angkuh di taman menuju Manor. Ia bahkan tidak ingat kalau suasana rumahnya sudah mencengkam seperti ini. Bahkan ia sadar, merak-merak putih di pekarangan rumahnya telah mati. Ia bisa merasakan hawa itu dari sini.
Draco berjalan marah hingga sanpai ke gerbang besar. "Sial kau, Voldy. Kau bertindak sejauh ini." Geramnya sambil terus membuka dasi bergaris hijau-putih itu dengan amat sangat kesal. Ketika sampai di gerbang, ia bisa lihat bibinya yang gila itu menunggunya dan dengan senyum tenang, ia membuka gerbang dan mempersilahkan keponakannya yang berumur 18 tahun itu dengan tangan kosong.
Draco curiga, tentu. Ia sudah yakin ada yang di rencanakan oleh orang-orang yang ada disini. Dengan wajah datarnya, Draco masuk kerumahnya yang telah di jajah pasukan hitam itu.
Sampai diruang tengah. Ia melihatnya, Mom and Dad nya yang tengah di tahan Peter dan ia juga bisa melihat jelas kepala botak yang duduk di dekat perapian.
"Kau bernyali, Tuan muda Malfoy." Suara berat Vodemort membuat ruangan ini semakin mencengkam.
Ada perasaan takut di balik keangkuhan Draco mendatangi rumahnya. Mau bagaimana lagi, Blaise sudah merencanakannya, dan dia juga harus menyelamatkan Mum dan Daddynya.
"Kau melanggar janjimu, lepaskan Mum dan Dad!"
"Khukhu. ." Voldemort tertawa dingin meremehkan keberanian Draco dan ia beranjak dari duduknya berjalan pelan menghampiri sang muda Malfoy.
Draco terdiam, takut. Pasti. Tapi, yang di katakan Pansy adalah benar. Ia harus menuruti semua rencana untuk menjadi terkuat, menyelamatkan orangtuanya dan memiliki Harry.
Voldemort memutarinya pelan dan berakhir di samping kanan Draco dengan menyentuhkan ujung tongkat sihirnya di pipi Draco. Draco mencoba terus bertahan pada pertahanannya. Kalau ia goyah sedikit saja, justru dia yang akan terbunuh.
"Kau vampire, Draco." Ungkap Voldemort dingin.
"Aku mohon jangan sakiti anakku! Agh!" Narcissa berteriak dan dengan segera Peter si wajah tikus itu menarik rambut pirangnya.
"Jangan sakiti my mum." Desis Draco menatap kesal Peter.
"My Lord, ini bisa di bicarakan. Kami dan Draco di pihakmu." Lucius yang juga sama nasibnya dengan sang istri, terikat di pillar ruangan, mencoba berdiskusi. Ia takut, takut apa yang akan menimpa terhadap keluarganya.
"DIAM KAU, Lucius! Kalian pendusta! Bahkan aku baru tahu Draco adalah sesuatu yang di takuti pada saat ia sudah sebesar ini! Aku bisa saja membunuh kalian berdua! Tapi aku harus membunuh anak sial ini sebelum Potter!" geram sang Dark Lord.
"Kau mau membunuhku?" Draco mencoba menahan tawanya. Voldemort melotot marah. "Haha, lucu sekali kau Voldy." Bahkan Draco bisa tertawa tanpa takut dengan ujung tongkat yang berada di pipinya.
"Kau selalu bersembunyi dengan cara pengecutmu ini? Bagaimana bisa kau melawan Harry kalau kau terus berdiam di rumah kami? Kau bahkan tahu, kan. Zaman sekarang sudah berubah, ini bukan masamu." Ujar Draco mengejek. Entah darimana keberanian itu datang padanya. Ia sudah muak melihat kakek tua yang meresahkan sekitar rumahnya ini.
Bahkan Narcissa dan Lucius terkejut melihat penantangan Draco. Narcissa berusaha mengisyaratkan Draco agar tetap diam kalau tak mau di bunuh.
"Anak keparat! Kau mau mati? Avada—"
"Lagi-lagi tanpa perlawanan?" Draco membeo menghentikan ucapan Voldemort. "Kalau kau laki-laki, hadapi aku dengan pertarungan. Siapa yang terbunuh, dia kalah."
"Draco…" desah Narcissa pelan. Ia takut, Draco adalah anak satu-satunya untuk mereka.
"Hahahaha. Baiklah. Aku akan bertarung denganmu. Tahu apa kau tentang pertarungan? Kau bahkan anak kecil yang tak kan bisa mengalahkan aku yang sudah pernah melawan Dumbledore." Ujar Voldemort bangga. Dan ia menjauhkan diri dari Draco. Bersiap di tempatnya untuk menghajar Draco.
Draco menyeringai dan mengeluarkan tongkatnya. Lalu, pertarungan pun di mulai. Dengan kepribadian Voldemort yang membabi buta jika berada dalam pertarungan, itu membuat Draco terjatuh dan terjatuh lagi, bahkan darah sudah banyak membasahi tubuh pucatnya.
Lucius dan Narcissa bahkan sudah menangis melihat keadaan tragis sang putra tercinta. Tapi apa daya, mereka walau terlepas tak bisa melawan kehebatan Dark Lord.
"Ugghh." Draco merintih kesakitan dan tersungkur lemah. Bahkan, ia sendiri tak mengenali di mana kulit pucatnya karena semua darahnya telah memandikan dirinya.
"Hahaha, kau mau lebih dari ini, Draco?" Voldemort menendang tubuh Draco dengan amat bahagia. Draco terus mengerang kesakitan. Semua pedih menyatu. Dan Voldemortpun berjalan menjauhinya. Voldemort yakin, Draco lama kelamaan akan mati dalam keadaan seperti itu.
Tanpa Voldemort sadari, justru erangan Draco adalah masanya. Masa dimana Draco akan berpikir egois dan bisa menyakiti tanpa ampun. Yaitu, benar apa yang dikatan sahabatnya, dia memang Vampire, dan sekarang ia tengah berevolusi menjadi sosok itu.
Mata Draco berubah menjadi kemilau keemasan dengan bola mata merah menggantikan kelabunya. Semua darah yang memolesnya mendidih dan menjadikan kulit Draco kembali memucat. Draco bisa merasakan darah dalam tubuhnya terisi penuh dan yang paling membuatnya menyakitkan adalah, tumbuhnya taring yang memanjang.
"UAAAAGGGGRRRRTHH!" Teriak Draco kesakitan. Voldemort menoleh kebelakang dan ia kaget. Ia terkejut melihat sosok Draco yang seperti baru di lahirkan namun dalam sosok vampire.
"Tidak, ini tidak mungkin, Av—" Sebelum merapalkan mantra kesayangannya. Tongkat Voldemort berhasil Draco bakar hanya dari tatapan matanya. "Dra-Draco, kita bisa membicarakan ini…" Dark Lord rupanya bisa ketakutan. Tentu, ini yang paling ia takutkan. Ia pernah mati karena membasmi semua vampire. Musuh yang begitu kuat dari manapun. Bahkan ia lebih memilih membunuh Dumbledore atau Potter ketimbang vampire. Namun setelah mampu membasmi semuanya tanpa ampun, ia masih mati meninggalkan Hocrucx, namun sekarang? Darimana ia bisa menemukan nyawa-nyawanya?
"Kau membutuhkan ini?" Ujar Draco menyeringai. Dan dua orang masuk. Grace dan Goyle membawa semua Hocrucx dimana nyawa-nyawa Voldemort bersemayam. Voldemort ketakutan dan mencari-cari pesuruhnya. Namun saying, Peter, Bellatrix, Pius, Mundungus, dan lainnya sudah ditangani sahabat-sahabat Slytherin Draco.
"Dare you, Draco." Ujar Voldemort tak mau memperlihatkan sisi ketakutannya.
"Kau tahu, Voldy. Tak boleh ada yang menyakiti Potter selain aku." Ungkap Draco dengan wajah Stoic. "Aku membencimu dari lubuk hatiku. Dan kau tahu, aku ingin mengganti masamu. Aku ingin menjadi yang di takuti semua orang. Aku haus kekuatan, Voldy." Draco mulai menyeringai. Membuat Voldemort meringkuk ketakutan.
"A-apa yang mau kau lakukan? Aku Dark Lord yang di takuti semua orang."
"Kau tidurlah dengan tenang, biar aku yang menggantikan tugasmu. Selamat tinggal, kakekku tercinta. Avada Kedavra!" sinar Hijau meluncur dari Hawthorn Draco dan semua terjadi begitu saja. Hocrucx di hancurkan Grace dan Goyle dan Voldemort tercabik-cabik menjadi serpihan kertas. Draco meraung kesakitan, kesakitan karena kekuatannya yang berubah menjadi drastis.
0o0
Draco dengan sosok barunya pergi keatas balkon di sertai Mum dan Daddy nya. "Semuanya! Beri hormat pada Dark Lord baru kita! Draco Malfoy sang vampire!" terang Goyle dan Grace bersamaan.
Semua Death Eaters yang berkumpul di halaman Malfoy Manor beberapa menit setelah kematian Voldemort langsung menyembah sosok Draco yang berada di atas balkon sana. Termasuk Bellatrix dan Peter yang tak percaya bahwa tuan mereka telah meninggal di tangan anak kecil berumur 18 tahun.
" Kami mati untukmu, Lord Draco."
"Kami pengikutmu, Lord Draco."
"Kau yang paling agung, Lord Draco."
Semua kata-kata sesembahan dan sumpah setia tercurah kepada Draco. Dark Lord muda yang pernah ada. Dan awan semakin mencekam, suasana gelap menyelimuti sekitar Manor. Draco tersenyum dalam rintihan perihnya dalam tubuhnya. Ia masih belum bisa beradaptasi dengan sosok perubahannya hingga ia harus bertopang pada mum tercinta.
'Sekarang, aku harus mendapatkanmu, Harry.'
0o0
"ARRGGHHT! UAGGGGGHHHHHT!" Harry berteriak kesakitan. Seperti sebagian jiwanya terpotong dari dalam tubuhnya. Snape yang hampir terlelap kembali terjaga mendengar jeritan Harry dan dia pun beranjak menghampiri ranjang Harry.
Harry masih terlelap dari jeritannya. Peluh membasahi semua tubuhnya. Snape yang tak ingin membangunkannya karena Harry sudah terlihat tenang hanya bisa mengusap dahi anak dari wanita yang di cintainya itu. Lalu, tiba-tiba mata hitamnya melotot tak percaya melihat tanda petir yang dimiliki Harry perlahan-lahan menghilang.
Snape menyingkap jubah yang menutupi lengannya. Tanda itu juga hilang. "Ini tidak mungkin…"
To Be Continued…
Haduuuh, akhirnya. Maaf ya saia ngetiknya jadi heboh kek gini,
Habis sebel sama film HP, kenapa Draco di bikin pengecut gitu, aku pengen buat Draco jadi di takuti semua orang dan di sini kesampean :p
Dan entah kenapa, vampire muncul di pikiran saya, bagi saya, vampire mungkin sosok yang keren buat Draco.
Dan maaf, saia ga suka Voldemort, jadi saya matiin di sini *di crucio*
Kenapa pas adegan Draco-Voldy jadi kek petarungan Saske-Oro ya? 0o0a
Hahh, sudahlah, minta repiu dooong~
