A Harry Potter Fanfic

Pairing : DMHP

"DARE YOU"

"Aku juga tak ingin ini terjadi, tapi keluarga Malfoy harus menerima takdir ramalan ini." Kakek tua dengan kalung segitiga dan terdapat bulatan lingkaran di tengah kalung itu, berjalan pelan di sekitar kursi duduknya.

"Tapi, kenapa harus Malfoy?"

"Karena di akhir bulan ini, hanya bayi Narcissa dan Lucius yang akan lahir." Kakek tua itu sempat meneguk ludahnya sendiri. "Dan mau tak mau, bayi itu yang harus membunuh You-Know-Who sebelum Dumbledore membunuhnya. Kalau tidak, bayi itu tak akan pernah kuat dan akan rapuh dan pada akhirnya meninggal sia-sia."

0o0

Snape berjalan was-was hingga ke ruangan Dumbledore. Pikirannya kacau, bahkan ia tak pernah menganggap ini nyata karena You-Know-Who memang paling di takuti. Tapi, kenapa? Kenapa tanda kuasa pangeran kegelapan itu menghilang? Bahkan tanda berbahaya di dahi Harrypun lenyap? Apakah… apakah ternyata pemilik nama asli Tom Marvolo Riddle itu telah meninggal?

Snape membuka pintu ruang Dumbledore dengan tergesa, dan…

"SHIT! Kenapa takdir jadi kacau begini?" Dumbledore, kakek tua yang di agungi inipun bisa panic dan mengumpat. Mungkin, ia benar-benar depresi dengan ramalan lain yang di dengarnya akhir-akhir hari ini.

"Ini sungguh di luar dugaanku." Fudge menghela nafas pelan.

"Apa yang terjadi?" Snape bertanya bingung. Kenapa perdana menteri sihir itu ada di ruangan Dumbledore? Bahkan, selain lelaki tua pengendali kehidupan di dunia sihir ini, ada beberapa orang lain juga di sini.

Dumbledore menghampiri Snape dengan tatapan marah yang tak dapat di artikan dan segera mencengkram jubah di bagian lehernya dengan kasar. Kemudian, lelaki tua itu dengan paksa menyingkap lengan baju Snape. "Benar, tandanya hilang." Gumannya parau.

Snape menarik nafas yang sempat tertahan ketika Proffessor yang di agunginya itu mulai menjauh menuju Fudge. Snape kembali bertanya-tanya dalam fikirannya.

Dan sepertinya, salah seorang mengerti dengan pandangan lelaki dingin ini. "Pesan dari Death Eathers, mereka menyampaikan pagi ini kalau Voldemort sudah tiada. Dan yang mengambil alih sebagai Lord mereka adalah…" Rubeus Hagrid menjelaskan, ia sempat menelan ludah ketika akan meneruskan kalimatnya kepada Snape. "Draco. Draco Malfoy sang Vampire. Dia yang menduduki posisi Voldemort sekarang." Ungkapnya menyesal.

Snape terpaku. Sungguh. Ia tak menyangka, anak baptisnya yang selama ini ia jaga di Hogwarts, memiliki rahasia yang sebenarnya ia juga tak percaya. Anak dalam ramalan selain Harry Potter. Yang di takdirkan untuk membunuh Voldemort tanpa menunggu campur tangan Dumbledore. Dan pada akhirnya, ia harus menerima diri sebagai Raja Kegelapan ataukah jika tidak, ia mati.

Oh, Dare You Draco…

0o0

Sementara itu, di Malfoy Manor yang terlihat mencekam dengan aura gelap di sekitarnya. Bahkan, keadaan Manor itu lebih terlihat mengerikan daripada ketika Voldemort mendiaminya. Nampak semua gerbang dan pintu di sekitar Manor di jaga ketat oleh beberapa Death Eaters, penjagaan sengaja di lakukan mengingat sang Dark Lord dalam keadaan lemah.

Sementara di ruangan kamar Draco. Terlihat pemuda berkulit pucat dengan rambut platinum yang mulai berantakan terduduk di ranjangnya. Tak lupa selimut hijau menutupi sebagian tubuhnya. Dari kejauhanpun, nampak jelas taring yang bertengger di sela-sela giginya. Terlihat Dark Lord muda itu mengumpat-ngumpat kesakitan.

"Draco…" sang ibunda terlihat khawatir dengan kondisi putranya yang sesekali mengeluarkan darah dari dalam mulutnya.

"Aght! Sial! Sial! Kenapa aku harus terbaring seperti ini!" Ungkap Draco kesal.

"Lord muda. Jangan mengumpat begitu terus." Blaise Zabini, sahabat Draco tiba-tiba muncul di tepi pintu kamar. Narcissa yang duduk di samping Draco juga tersentak dengan kemunculan pemuda berkulit eksotik itu. Namun, tangan kirinya tetap mengelus pundak sang Dark Lord khawatir.

"Sial kau Blaise! Kau tidak bilang aku akan berkondisi seperti ini." Ujar Draco lagi-lagi menutup mulutnya dengan tangan yang lain sehingga darah mulai bercecer di telapak tangan itu.

"Aku memang tidak bilang. Kalau akau bilang, kau pasti tak kan mampu mengalahkan Voldy. Lagipula, kebencianmu padanya yang akan membunuh Potter, menjadi kekuatan tersendiri bagimu." Blaise mulai melangkah mendekati ibu dan anak itu.

"Lalu, kenapa kau tahu tentang ramalan-ramalan itu! Aku sungguh tak mengerti!" Tanya Draco geram. Narcissa dan Lucius yang memang ada di kamar itu mulai tersentak. Ya, mereka memang tak menceritakan detail tentang ramalan lain selain Potter.

"Kau lupa Paverrell, Dray. Kakek tua yang sebenarnya berjasa untukmu." Blaise menghentikan langkahnya tepat di mulut ranjang, tepatnya menghadap kaki-kaki Draco yang terbalut selimut. "Trelawney bukan satu-saatunya peramal di dunia sihir ini. Lagipula, Paverrell lebih bisa di andalkan ketimbang guru kita yang norak di Hogwarts itu. Keluargaku dan beberapa siswa yang sekolah di Hogwarts, memang banyak yang membelot dari Voldy." Terang Blaise penjang lebar, dan sesekali ia menjeda hanya untuk mengambil nafas dalam menceritakan perjuangan Zabini pada Draco.

"Dan sayangnya, Dumbledore tak mengakui kakek agung kita. Hingga akhirnya, Paverrell menghilang dari publik. Namun, kita mengetahuinya Draco. Keluargaku dan yang lain yang tak mendukung Voldy maupun Dumbledore, mencari Paverrell dan menengok masa depan. Haha, aku rasa sekarang Dumbledore sedang kewalahan."

"Dasar kau Blaise! Aku tak segan untuk membunuhmu." Dengus Draco mendengar cerita kenyataannya.

"Dan sayangnya aku menerima kau membunuhku, Dray. Karena sekarang, kau adalah tuanku." Jelas Blaise dengan sorot mata yang serius. Membuat Draco mau tak mau menelan ludah segan.

"Hah! Apa-apaan ini, aku masih tak percaya aku menjadi Dark Lord. Omong kosong! Aku harus segera ke Hogwarts." Ujar Draco sambil tengah beranjak dari balik selimut. Narcissa mencoba mencegah Draco namun dengan segera Blaise mendorong tubuh Draco dengan kasar hingga badan yang sekarang lebih kurus itu terjatuh ke kasur empuk itu.

"Jangan bodoh, Dray! Aku tahu apa maksudmu kembali ke Hogwarts. Tapi kau harus menstabilkan kondisimu dulu! Kau lupa, aku ini vampire! Mau tak mau kau harus menurutiku kalau kau tak mau sosok itu yang mengendalikanmu." Jelas Blaise gemas.

Draco menghela nafas pelan. "Tapi aku harus mengambil Potter!"

"Bersihkan semua darahmu. Cari mangsa yang cocok dengan darahmu untuk sementara! Baru kau pergi menjemput Potter! Astaga Dray, apa kau lupa kalau kau ingin mengambil Potter, kau harus melangkahi mayat Dumbledore dulu!"

"Maksudmu?" Draco menautkan alisnya.

"Meski Dumbledore membesarkan Potter layaknya babi jagal, tapi ia masih rela menukar nyawanya daripada seseorang mengambil Potter darinya. Kau harus mengumpulkan kekuatan dulu untuk melawannya, Dray." Terang Blaise khawatir.

Draco tertunduk, ia menginginkan Harry, sangat menginginkan. Tapi,,, apakah Harry tahu kalau ia adalah Dark Lord, dan apakah Harry mau mencintainya?

Semua pandang mata yang melihat Draco menatap cemas. "Aku ingin Potter." Gumam Draco parau namun semua yang ada di sana bisa mendengarnya. Namun, tak berapa lama ada sebuah tangan yang menyentuh pipi Draco yang pada saat itu Draco menunduk.

"Dray sayang~ apa bagusnya Potter itu." Suara cempreng Pansy terdengar jelas di samping telinga Draco. Narcissa yang ada di samping Draco lagi-lagi terkejut dengan kemunculan wanita berambut hitam panjang itu di hadapannya.

"Gah! Singkirkan tanganmu dari wajahku, Pans!" Geram Draco. Dengan segera, Pansy menjauhi diri dari Draco dengan mempoutkan bibirnya dan berdiri di samping Blaise yang terkikik pelan. Cepat-cepat Draco mengusap bekas tangan Pansy yang sempat berada di pipinya dengan baju mum-nya. Draco sama sekali TIDAK tertarik dengan wanita bahkan malas untuk di sentuh sekalipun itu Pansy, sahabatnya.

"Kenapa kau kemari, Pans?" Tanya Blaise sambil menahan tawanya. Namun, Pansy bisa melihat jelas pundak Blaise yang terus bergetar.

"Huh. Aku hanya ingin menyampaikan. Sebagaimana dirimu, Dray, Potter juga sekarang di jaga ketat. Bahkan Fudge juga mulai ikut campur. Aku sarankan, dengarkan kata Blaise, kau harus menguatkan dirimu,Dray." Ujar Pansy sambil berkacak pinggang.

Draco terdiam. Sepertinya, dia harus menurut saran sahabat-sahabatnya. Meski ia buru-buru ingin mengambil Harry.

"Satu lagi, Dray. Sepertinya, pihak sekolah tidak memberitahu kenyataan bahwa sekarang kau adalah Dark Lord. Dan aku rasa, Potter juga tak tahu apa-apa tentang semua ini." Ujar Pansy miris. Membuat Draco menggigit bibir bawahnya dengan miris.

Dare you, kakek tua sialan…

0o0

Malam mulai larut. Namun, seseorang masih menemani dengan setia kekasihnya yang terbaring di ranjang rumah sakit sekolah Hogwarts itu. Bahkan, mereka bukan hanya diam. Justru terlihat menikmati suasana sepi itu.

"Mmmhn… Gin~" Harry mulai melenguh ketika sang kekasih mulai mendominasi bibir tipisnya.

"Hmmhhn, Harry. Aku mencintaimu, hhh~" Ginny semakin brutal menciumi Harry dan menyentuh pundak, wajah, leher maupun rambut Harry beberapa kali.

Mereka rindu. Harry menyesal tak bisa menyerang dan mendominasi Ginny mengingat tangan-tangannya yang kaku terbalut perban. Harry menikmati semua itu. Ia mencintai gadis di depannya yang sekarang terlihat sexy dimatanya.

"Hhhh~fuaaah. Aku rasa kita harus mengakhiri ini, baby." Ujar Ginny sambil melepas ciuman rindu itu dan mulai merapikan pakaiannya yang agak sedikit berantakan.

"Ehem. Potter." Deheman Snape membuat Ginny dan Harry menoleh panik. Ginny yang benar-benar malu segera meninggalkan dua pria itu tanpa pamit.

"A-Ada apa, professor?" Ucap Harry mencoba tenang. Snape mendekati Harry dengan wajah serius, tapi di mata Harry wajah itu seperti ingin memarahinya.

"Katakan padaku, apa Draco pernah melakukan sesuatu padamu?" Tanya Snape selidik. Ia yakin, takkan ada yang mendengar pembicaraan ini selain mereka berdua. Mengingat penjagaan di perketat untuk mengamankan Harry, namun Harry tidak tahu bahwa ia sedang di amankan.

"Mal-Malfoy? Ada apa dengan dia? Kenapa bertanya padaku Proffessor? Kau tahu, kami bermusuhan dan kamin sering bertengkar bahkan di koridor sekalipun." Ungkap Harry malas. Kenapa dengan lelaki di hadapannya ini? Harry dan Draco bermusuhan, bukan? Wajar saja kalau Draco melakukan sesuatu untuk mencelakai Harry.

"Bukan, bukan itu maksudku. Apakah, ada suatu sikap Draco yang aneh menurutmu?" Tanya Snape lagi benar-benar khawatir.

Harry tertunduk pelan. Benar, meski tak mau mengakuinya, sikap Draco sepanjang natal hingga sekarang begitu berubah padanya. "… Malfoy itu… aku tidak tahu, tapi, kalau tidak ada dia, mungkin aku takkan berbaring disini sekarang…" ungkap Harry parau. Ya, Draco yang menyelamatkan dia ketika ia sekarat. Hanya itu yang ia ingat ketika sekujur tubuhnya ketika bangun begitu terasa pedih. "Dia mulai baik padaku, dan yang aku herankan, dia pernah bilang, dia gila karenaku dan begitu menginginkanku. Aku tidak tahu kenapa dia menginginkanku, mungkin dia akan membunuhku." Ungkap Harry mencoba berpikir rasional. Draco menginginkannya karena ingin membunuhnya, kan? Snape yang mendengar itu dengan baik hanya terdiam. Berpikir dan mencerna kata-kata Harry. Dan mencoba menyambungkan dengan segala tingkah laku Draco yang ia ketahui sepanjang Hogwarts ataupun ketika putra tunggal Malfoy itu bersamanya.

"Sudah malam. Tidurlah, Potter." Snape membaringkan Harry dengan hati-hati dan menyelimutinya. Harry hanya diam melihat sosok tegas itu. Kemudian sang ayah Slytherin itu berlalu meninggalkannya.

Harry merasa. Bola mata hitam legam itu tak melihat kearahnya ketika tadi membaringkannya. Tatapan itu kosong dan terasa mencemaskan sesuatu.

Professor Snape….

0o0

"Bagaimana ini Blaise? apa yang harus kita lakukan?" Ungkap Pansy panik.

Blaise terdiam di bangku di sudut meja panjang ini. Selain Pansy, ada orangtua Draco, Bellatrix, ayahnya, ayah Pansy, Peter, Pius dan Mundungus. Terlihat dari sorot bola mata Blaise yang menatap lurus Pius di sudut meja lain di hadapannya tanpa gentar, membuat Pansy menghela nafas dan tahu lelaki itu tengah berpikir keras.

"Boy…" ungkap tahu kalau sang putra telah menemukan jawaban dari pemikirannya.

Blaise menjentikkan jari dan menyunggingkan senyuman. "Aku punya ide, tapi ini gila."

"Oh ayolah, Blaise~ kau tidak sedang mempermainkan kami kan~" Ujar Pansy sambil memutar bola matanya.

"Pius. Kau akan mengambil alih kementrian." Tunjuk Blaise tegas.

"Tu-Tuan, Blaise. Itu tidak mungkin." Jawab Pius menolak.

"Pokoknya ikuti saja rencanaku! Tapi sebelum itu, kita harus menemukan Bathilda Bagshot…" Jelas pemuda berkulit coklat itu sambil tersenyum sinis. Membuat yang ada di sekitar meja itu hanya bisa diam tak membantah, mereka penasaran apa rencana Blaise Zabini ini, Vampire muda selain sang Dark Lord.

Sementara Draco masih menguras darah-darah dari dalam tubuhnya. Mata abu-abunya mulai terlihat sayu karena terus-terusan terbatuk-batuk secara mengerikan itu, mata dirinya yang hamper mulai dikuasai mata vampire itu menerawang kearah jendela yang awannya terlihat gelap gulita dan menggumam…

"Harry Potter…"

To Be Continued…

Maaf baru update~~~~~

Saya sempat terkena penyakit dan gagal pikiran *halah* maksudnya ga ad aide.

Terus banyak berdatangan komik-komik jadi ga sempat ngetik, hehe, maafff *bow*

Buat rayain Drarry Challenge, aku hanya bisa nyumbang fic ini *terusan fic ini maksudnya*

Buat teman-teman sayah di DRARRY INDONESIA~~~ Thumb lah buat ngadain challenge ini ^^b

AYO-AYO RAMEIN FANDOM DRARRY~~~ Jangan kalah ama Doraemon, *ups* DraMione gitu, hehehe….

Mind to Refiu? :3