A Harry Potter Fanfic
Pairing : DMHP
"DARE YOU"
Dunia sihir terancam kedatangan suasana gelap gulita dari arah tenggara, tepatnya di sebuah wilayah yang di elu-elukan penghuni dunia sihir adalah tempat yang memiliki energy kejahatan paling kuat. Ada juga yang menfaktakan bahwa tanah di sekitar tenggara adalah tempat terlahirnya orang yang selalu menjadi penyihir jahat maupun penyihir kegelapan. Semua yang ada di sana hanyalah kejahatan. Dan dari sejarah, Malfoy Manor adalah bangunan perbatasan pintu gerbang wilayah tenggara itu. Darah murni seperti keluarga Malfoy, di percayakan dunia sihir untuk menjadi batas suci bahwa kegelapan takkan bisa melewati bangunan mereka…
Dari abad 28, tugas suci keluarga Malfoy terus berjalan lancar. Namun, roda bumi itu berputar, bahkan kekuatan Malfoy turun menurun menjadi lemah mengingat darah murni paling agung itu memiliki sifat haus kekuasaan batas suci Manor sehingga sempat terjadi perang saudara di abad 40. Darah murni Malfoy lama-kelamaan terbunuh oleh saudara sepupu sendiri hingga hanya menyisakan sang pengecut Lucius Malfoy yang membawa sang istri, Narcissa Malfoy, hingga terlahirlah Draco Malfoy yang merupakan pewaris tunggal darah Malfoy!
Di ujung barat nun jauh di sana. Di suatu pemukiman bernama Godricc Hollows, memasuki hutan belukar dan terlihat rumah kecil yang nampak kuno dan bobrok. Wanita baya yang renta terlihat tengah terpejam duduk di kursi goyangnya yang terletak paling dekat dengan jendela.
Tak berapa lama, mata kendurnya terbuka. Dan menatap serius kea rah luar.
"Ada apa nyonya, bagshot?" seorang pemuda tampan yang terlihat dingin terusik dari sikap sang wanita tua.
"Aku rasa, waktuku sudah datang, Regulus." Ucapnya sambil berusaha keras beranjak dari kursi goyangnya.
0o0
Sudah 3 hari Harry sudah mulai pulih dan bisa mengikuti pelajaran. Harry begitu senang, namun, tiba-tiba saja, sesuatu mengganjal di hati dan fikirannya. Harry terhenti dari langkahnya dan terpisah dari keramaian murid-murid Hogwarts yang akan menuju kelas biologi sehingga ia sendirian di koridor ini.
"Apakah ada yang aku lupakan?" tanyanya parau.
"Yo! Mate! Apa yang kau lakukan disini Harry?" Ron menepuk pundak Harry lumayan kencang. Membuat Harry terkejut saja.
"Ron, apa ada yang aneh dariku?" Tanya Harry serius memperlihatkan penampilannya.
Ron meneliti Harry dari atas hingga bawah. "Kau selalu terlihat aneh Harry, mungkin gips di tangan kananmu yang membuat kau tambah aneh." Jawab Ron juga, SERIUS.
"Oh ayolah. Tak ada gunanya aku menanyakan ini padamu." Ungkap Harry berbalik dan melangkah menuju ruang biologi meninggalkan Ron di belakangnya yang bengong.
…
Selama pelajaran, fikiran Harry entah menerawang kemana. Baru kali ini Harry merasa segundah ini. Sebegitu gundahnya hingga Harry tak sadar kalau Hermione yang ada di sampingnya terus menyenggol sikunya.
"Harry. Kau baik-baik saja? Kelas biologi sudah di mulai. Konsentrasi!" Bisik Hermione ketika akhirnya Harry menoleh ke arahnya.
Harry yang tersadar hanya mengangguk canggung. Untung saja madam Sprout tidak memperhatikannya. Tunggu dulu, ia baru sadar kalau hari ini Gryffindor sedang bersama kelas Slytherin…
Slytherin? Sepertinya Harry benar-benar melupakan sesuatu tentang Slytherin…
"Baiklah anak-anak. Ibu sudah bagikan tugas kalian, ibu akan izin sebentar sekitar 3-5 menit. Kalian yang tertib, ya." Madam Sprout melepas sarung tangannya dan mulai keluar dari rumah kaca ini. Dan suasana yang tadi hening mulai sedikit agak berisik semenjak peninggalannya.
"Ahhh, aku rindu Draco dan Blaise…" suara cempreng Pansy menginterupsi semua kegiatan siswa. Bisa Harry lihat ada reflex yang aneh dari orang di dalam sini ketika Pansy bergumam.
Semua siswa diam membeku, Harry kebingungan dan diam-diam, Pansy menyeringai.
"Ssst, Pans! Kau tidak dengar apa yang di perintahkan Dumbledore? Berhenti menyebut nama jahat itu." Tegur Hermione tegas. Ia khawatir akan keadaan Harry.
Hermione menoleh cemas pada Harry dan nampak Harry pun terdiam. Bingung, itu yang terlintas pada Harry. Namun, entah kenapa, debaran Harry terasa kencang ketika mendengar nama yang baru saja di sebut Pansy.
"Tapi,,,, hikks, mau bagaimana lagi, mereka dulu sahabatku." Kini Pansy terlihat mau menangis. Oh ayolah, Pansy memang sengaja berakting seperti ini.
"…Pa-Pans, kami mengerti perasaanmu, tapi, jangan menyebutnya di depan Harry—"
"Siapa Draco dan Blaise?" Ungkapan Hermione terpotong oleh rasa penasaran Harry.
"Ha-Harry jangan pedulikan itu—" Hermione berusaha untuk mengait lengan Harry namun segera di tepisnya.
"AKU TANYA SIAPA DRACO MALFOY!" Harry mulai marah. Ini yang para guru, dan anak-anak Gryffindor takutkan. Memang tak ada untungnya bersama kelas dengan Slytherin.
Melihat kemarahan Harry. Dalam hati Pansy tersenyum menang. "Blaise temanku yang sudah meninggal, sedangkan Draco, dia juga sahabatku yang tidak tahu menghilang." Ucap Pansy sambil sesegukan.
Harry terdiam geram. Benar, hanya nama itu saja yang dari tadi ia risaukan. Benar, Draco Malfoy! Nama itu yang ia lupakan, dan sebenarnya, DRACO MALFOY itu siapa?
Suasana yang hening itu tak bisa di ganggu gugat. Masing-masing anak yang ada di sana mulai risau dengan diamnya Harry namun tak ada yang berani mendekatinya kalau Hermione saja sudah di sangkal seperti itu. Lalu, Harry berlari keluar, membuat keadaan tabu itu mulai sedikit bising dengan apa yang akan di lakukan Harry.
…
"Draco… Draco… Draco Malfoy itu siapa?" Harry terus berlari di koridor entah kea rah mana. Namun, insting hatinya mengajak Harry untuk berlari kearah danau. Namun, tiba-tiba saja, Harry menabrak seseorang yang lebih besar dan tinggi darinya, hingga ia yang lemah yang terjatuh.
"Potter, apa yang kau lakukan?" Lelaki berjubah hitam itu heran melihat wajah Harry yang sepertinya sedang menangis.
"Proffessor! Prof. Snape!" Harry yang bingung itu tiba-tiba saja menarik jubah Snape dan membenamkan kepalanya di dada sang ayah baptis itu. "Katakan padaku, Proffesor! Jelaskan padaku! Siapa Draco Malfoy? Huhuhuhu…."
Mendengar itu, bola mata onyx sang professor langsung membelalak seketika. 'Mengapa Harry bisa ingat lagi tentangnya?" gumamnya dalam hati.
…
"…" Keheningan terasa dalam ruangan bernuansa hijau Slytherin ini. Draco hanya mampu menundukkan kepalanya dalam diam. Blaise juga mencoba menelaah kata demi kata yang Pansy luncurkan, semoga saja gadis cerewet itu tak berdusta. Sedangkan kedua Malfoy tua masih setia berada di sisi Young Dark Lord.
"Ternyata mantra dari ibu manjur! Tak kusangka akhirnya aku bisa mendobrak ruangan hati dan pikiran Harry yang memang sengaja di kunci oleh para guru. Kau harus berterima kasih padaku, Dray."
"Hahaha, Pans. Kau memang seperti anak kecil yang polos. Ternyata kau memang hebat juga." Blaise terkikik pelan. "Tapi bagaimanapun, kau harus bertindak sebagai murid biasa. Karena, cepat atau lambat, para guru maupun Gryffindor akan mencurigaimu." Sarannya tegas.
"Buuu. Dray! Katakan sesuatu padaku! Puji aku dong!" Pansy mengadu.
"Hm, thanks, Pans. Kau benar-benar gadis mengagumkan." Puji Draco dengan senyuman lemahnya namun itu sudah membuat hati Pansy berbunga-bunga. "Tapi, Blaise. Aku ingin menyarankan kalau Pansy, Grace maupun Goyle meninggalkan Hogwarts saja, aku tak ingin terjadi apa-apa pada mereka." Draco menoleh memohon pada Blaise.
"Huwaaa~ Dark Lord mengkhawatirkanku~" Pans menghilang dan muncul bergelayut di lengan Draco. Draco hanya tertegun. Meskipun tak suka, biarlah, toh untuk saat ini saja.
Blaise menghela nafas sambil mengusap tengkuknya. "Hmm, itu akan kupikirkan dulu, Dray. Karena masih ada misi yang harus di emban Pansy, Grace maupun Goyle." Ungkapnya kecewa. Namun, Draco tak bisa bicara apa-apa karena ia tahu banyak yang di rencanakan oleh sahabatnya itu. "Melihat kondisi mu sekarang, aku makin sedih saja, Dray. Kau kurus dan pucat seperti itu. Aku jadi tahu kenapa kau tak bisa menyingkirkan Pans saat ini." Seringainya.
"Heh, aku juga bosan hanya bisa terbaring disini Blaise, ingin melakukan sesuatu rasanya."
"Sabar, Dray. Aku akan mencarikan 'pendonor' untukmu. Dan, aunt Cissy, aku minta tolong, kemeja putih yang dikenakan tuan muda ini segera dig anti, bisakah?" Blaise manghampiri Narcissa dan menatapnya lembut.
"A-Ah, ya. Akan aku lakukan." Jawab Narcissa gugup.
"Oke. Baiklah, aku harus pergi dulu." Blaise beranjak dan membenahi dirinya dan mengambil tas kecil yang ada di bangku di sudut kamar.
"Tuan Zabini, kau hendak kemana?" Tanya Lucius hati-hati. Semenjak Draco melemah, pemuda jenius inilah yang menyusun semua rencana menggantikan Draco.
"Aku akan ke Godrics Hollows bersama ayah." Terang Blaise masih sibuk dengan berbenahannya.
"Kau? Jangan katakan kau ingin bertemu nenek tua itu!" Cegah Pansy.
"Mau bagaimana lagi, tanpa nyonya Bagshot, rencana yang kususun percuma saja."
"Tapi kau tahu kan! Sirius dan Regulus, kedua pembunuh berdarah dingin itu ada bersamanya! Kau cari mati!" Pansy tak setuju. Mendengar pernyataan Pansy, mata biru Draco membulat kaget. Bahkan ia tak tahu apa yang teman-temannya itu bicarakan.
"Maka dari itu. Untuk apa aku dan ayah yang jauh-jauh datang kesana. Kalau bukan karena Sirius dan Regulus, akupun tak mau bersusah-susah seperti ini." Ungkap Blaise dengan tenang.
"Tapi, Blaise. Kau bisa terbunuh. Aku tak mau itu terjadi padamu." Jelas Pansy parau.
"Apa yang kalian bicarakan? Benarkah apa yang di katakan Pans?" bentak Draco terhadap Blaise.
"Bukankah sudah aku bilang, aku sudah siap mati untukmu tuanku. Lagipula, yang bisa menjinakkan manusia serigala itu hanya kami para vampire. Kau tenang saja, aku tak akan mati sebelum kau mendapatkan Harry." Ucap Blaise percaya diri.
Melihat keyakinan Blaise. Semua tak bisa menjawabnya. Meski hati semua yang ada disana gundah, tapi mereka percaya pada Blaise.
"Oke. Aku sudah mengutus Pius dan Mundungus untuk menjajah kementrian yang saat ini kosong. Paman Lucius, teruslah amati gerak-gerik Bellatrix, aku masih belum mempercayai dia. Baiklah, aku pergi dulu."
…
"Kenapa ini bisa terjadi?" Tanya Dumbledore sambil memunggungi Snape yang masih berdiri disiplin di dekat pintu masuk ruangannya.
"Mungkin karena ramuanku yang melemah atau posisi Draco yang begitu kuat dalam hati Harry, Proffessor. Aku minta maaf." Terang Snape dengan muka yang seperti biasanya tak berekspresi.
"Kalau sudah begini, apa yang harus kita lakukan terhadap ?" Tanya Fudge menengahi.
"Segel lagi, Snape." Terang Dumbledore datar dan tetap memunggungi kedua pria yang ada di belakangnya.
"Tapi Proffessor, itu akan membuat Potter—"
"Aku berkata apa? Lakukan saja sesuai perkataanku." Bantah Dumbledore pelan namun Snape bisa mengetahui jelas keteguhan keputusannya.
"Baik, Proffessor." Jawab Snape pasrah.
"Lalu, dimana Harry sekarang?" Dumbledore membalik badan dan menuruni anak tangga kecil untuk menghampiri Snape dan Fudge.
"Aku menidurkan di kediamanku. Di ruang bawah tanah."
"Fudge, aku mohon bantuanmu. Kerahkan para Auror di sekitar Hogwarts. Aku mohon, perkuat penjagaan pada kami." Pinta Dumbledore. Dan Fudge yang tak bisa membantah hanya mengiyakan dan tak tahu ada apa dengan kawan mudanya itu.
…
Suasana sore mulai menyelimuti sekitar Hogwarts. Murid Hogwarts bisa beraktifitas seperti biasa meskipun banyak Auror di sana-sini di lingkungan Hogwarts. Semuanya bisa melakukan keseharian mereka tanpa beban, kecuali Harry Potter.
Di dalam hutan terlarang, nampak dua orang gadis belia tengah berjalan-jalan sambil member makan para Thestral. Satu gadis berparas seperti boneka Barbie dengan rambut pirangnya yang menjuntai lembut dan seorang lagi terlihat berparas layaknya orang-orang Skotlandia.
"Aku tidak tahu apa yang ada di pikiran si Bodoh Draco Malfoy itu mengajakku masuk kedalam timnya." Ungkap gadis berambut pirang sambil melempar seonggok daging kepada Thestral yang ada di depan mereka.
"Aku juga bingung dengan apa yang di tawarkan pihak Dark Lord yang baru." Ungkap gadis berambut hitam dengan nada yang amat lembut.
"Dia itu bodoh. Blaise, Draco dan semua yang ada bersama mereka bodoh!"
"Kau tidak boleh berkata begitu, Luna. Kita harus cepat mengambil keputusan."
"Aku tahu, Cho. Tapi, mengajak Ravenclaw seperti kita bergabung, apa tidak salah? Aku tahu Draco Malfoy temanku sejak kecil. Tapi untuk urusan seperti ini, aku tak ingin memihak siapapun." Ucap Luna tak peduli dengan topic yang sedang mereka bahas.
"Tapi, ayah dan ibuku sudah mengambil keputusan ikut di pihak mereka. Aku masih bingung member jawabannya. Mau tak mau, tentu pasti aku akan ikut bersama mereka. Aku tak tahu bagaimana Draco Malfoy, tapi, anak-anak Slytherin dulu bilang, dia adalah pangeran es. Pasti tampan."
"Kau itu, kau tidak setia dengan kepercayaannya. Sebenarnya aku tak mau ikut campur masalah dunia sihir, tentang apa itu Hogwarts, Dark Lord, Harry Potter atau apapun, aku hanya ingin hidup sendiri. Tapi, untuk menjaga nyawaku, mungkin aku akan ikut pada pihak mereka. Tapi, aku tak mau jadi pengikut setia Draco, malas sekali."
"Hihihi, kau itu lucu Luna, aku begitu mengagumimu." Kikik Cho Chang senang.
'Aku tahu yang di incar si kepala emas itu hanya Potter. Draco Malfoy bodoh.' Batin Luna.
…
'Harry'
Harry mengerutkan alisnya gelisah dalam kelelapan.
'Harry Potter'
Suara bass itu mengaung lagi. Harrypun mulai terbangun, namun ia sadar. Ia tak tahu sekarang ia ada di mana. Ia berada di ruang kosong berwaran putih. Kemanapun ia berlari, semua sama saja seperti itu.
'My Harry'
"KAU SIAPA! TUNJUKKAN DIRIMU!" Bentak Harry geram menengadah mencari arah suara. Keringat mulai menetes dari pelipisnya ketika ia mendengar suara tawa yang menyeringai dan menggema.
'Senang bertemu denganmu lagi, Harry.' Sesosok pria yang sepertinya sebaya dengan Harry menghampirinya perlahan. Rambut pirang dan mata aqua yang begitu cerah. Harry seperti mengenalnya, tapi siapa?
"Kau siapa?" Ancam Harry dan perlahan melangkah mundur ketika orang itu mulai mendekat.
'Nanti kau tak akan tahu, aku tak akan biarkan siapapun mengunci ingatanmu tentangku. Karena kau orang berarti, Potter.' Gaya cool pria itu tetap berjalan datar menghampiri Harry dengan kedua tangan dalam sakunya. Harry bisa tahu seragam yang di kenakan pemuda itu adalah seragam Slytherin, tapi, siapa?
Dalam ketakutan yang amat sangat, Harry bahkan bisa mendengar deru nafasnya sendiri yang tak beraturan di ruang kosong ini. Posisi Harry tetap memperhatikan gerak-gerik orang di depannya dan bersiaga. Namun dalam detik itu, pria itu terhenti dan menyeringai, Harry bisa lihat dari kejauhan, bola mata pria itu berubah menjadi ruby kepekatan. Dan dalam sekilas saja, pemuda itu menghilang..
Harry yang amat takutpun membeku. Kemana hilangnya dia? Siapa dia sebenarnya?
'Kau cari aku?' dalam sekejap saja, Harry bisa merasakan tubuhnya benar-benar tak bisa bergerak. Dan ia juga merasakan ada seseorang yang memeluknya dari belakang. Orang itu begitu berbanding daripada tubuh kecil Harry. Tanpa sadar, air mata Harry menetes, ia amat takut, dalam ruangan ini, siapa yang bisa menolongnya…?
Meski tak bisa melihat jelas orang yang ada di belakangnya, tapi Harry tahu orang itu adalah pemuda berambut pirang barusan. Dan juga Harry bisa merasakan gemetar ketakutannya ketika dagu pria itu bertengger di sisi pundaknya. Yang membuat lebih takut lagi adalah Harry bisa lihat jelas taring panjang miliknya dari arah sisi.
'Kau milikku, Harry Potter.' Bisik laki-laki itu parau sambil menjilat leher Harry.
"Aah!" Harry langsung merinding seketika dan air mata mulai membanjir. "TIDAK! AKU MOHON JANGAN!"
"Harry! Harry, ada apa?" Suara lain membangunkan Harry.
Harry yang mulai membuka mata bisa melihat Proffessor kesayangannya berada di hadapannya. Dengan segera ia memeluk sang Proffessor.
"Proffessor, aku takut…" Ungkapnya terengah-engah.
Snape hanya bermuka datar sambil mengelus punggung Harry yang memeluknya. 'Maafkan aku Harry sudah membuatmu segelisah ini.' Batinnya cemas.
…
Di pedalaman hutan di Godrics Hollow, Blaise, sang ayah, dan 3 orang yang juga bermarga Zabini telah sampai di kediaman Bathilda Bagshot. Dengan sangat hati-hati, mereka berlima bersembunyi di pepohonan.
"Kalian sudah siap? Hindari kontak mata dengan manusia serigala. Kita pertaruhkan nyawa untuk Dark Lord Draco Malfoy di tempat ini." Perintah Blaise.
Mendengar perintah itu, kelima Zabini mulai berpencar mengepung sudut rumah pondok kecil itu.
"Kami tahu kau ada di dalam nyonya Bagshot! Keluarlah!"
Bathilda, Regulus maupun Sirius yang ada di beda ruang dalam pondok itu mulai tekejut.
"Rupanya, sudah waktunya…" ungkap mereka bertiga bersamaan.
To Be Continued…
Aaah, Kacauu~~~
Ga bisa ngom apa-apa, keep silence =X
Mind to Review?
