A Harry Potter Fanfic
Pairing : DMHP
"DARE YOU"
"Kau ingin mengatakan sesuatu, Blaise?" Draco mengerutkan alisnya.
"Apapun yang terjadi, meski aku harus menukar nyawaku. Aku akan membawakan Nyonya Bagshot dan dua bersaudara Black untukmu, Dark Lord."
Blaise beranjak dari bungkukan kehormatannya. Draco menatap punggung sahabatnya yang entah mengapa menjadi seperti orang lain baginya yang jauh di sana ketika ia mulai mendapat julukan Dark Lord.
0o0
DUARR!
"Krssskk…tuan Zabini, mereka sudah menyerang…krrssk." Suara remang-remang radio yang menjadi alat komunikasi pendeteksi dari pihak Dark Lord dengan bentuk yang mirip headset satuan terdengar mulai mengusik. Apalagi, ledakan besar tadi berasal dari arah dimana sang ayah berada.
"Shit, sepertinya Sirius keluar!" Umpat Blaise. "Segera kirim beberapa orang kea rah ledakan." Perintahnya. Ini merupakan perang besar. Melawan dua bersaudara Black berdarah dingin itu sudah seperti masuk neraka saja. Penyihir yang menjadi targetnya kali ini, mungkin sangat sukar untuk di taklukan. Karena ada dua serigala penjaga yang terus menjaganya, Sirius dan Regulus. Rival paling berat dari turun temurun bagi ras vampire.
DUAR! DUARR!
Ledakan terdengar lagi dari arah yang sama. Ini begitu mengusik konsentrasi Blaise. Ia harus segera mengganti strategi penyerangan. Tak disangka Sirius sudah mulai keluar lebih dulu!
"…RRrrrrssk,, Tuan, disini, ada dua penyerang sekaligus…!" informasi sekarat itu, membuat Blaise terguncang, tentu saja! Padahal, ia kira mereka takkan menyerang berkelompok! Tak salah lagi, pasti di wilayah ayahnya ada Sirius dan Regulus sekaligus!
"Semua kuperintahkan menuju kearah ledakan! Kita terkepung! Kita terjebak! Gunakan kekuatan maksimal dan kombinasi! Aku akan segera kesana!" Ujar Blaise panik. Ia pun akan beranjak ke tempat ledakan. Tapi, ketika baru meloncat selangkah ke dahan pohon di depannya. Seseorang mencegahnya.
"Sudah mau pergi?" Senyum wanita tua itu.
"KAU! Apa yang kau rencanakan!? Penyerangan macam apa ini?!" Blaise bersiaga.
"Harusnya aku yang menanyakan itu, anak muda. Tentang apa? Draco Malfoy? Untuk apa aku harus bekerja sama dengan Dark Lord yang masih kencur itu!" Terangnya sambil terkikik geli. Blaise terkejut. Ah! Ia lupa! Wanita ini peramal yang sedatar dengan Paverrell dan Trelawney! Rencana kedatangannya kesini pun pasti sudah di ketahui detail oleh Bathilda Bagshot!
"Dark Lord yang sekarang punya kekuatan yang hebat!" Ungkap Blaise.
"Ya-ya, terserah kau saja. Tapi sepertinya, Regulus dan Sirius sedang mengamuk. Aku tak menjamin rekanmu akan selamat. Sudah lama kami tidak kedatangan tamu yang lancang begini."
"SHIT!"
0o0
Kebodohan dan kekhawatiran perorangan dari Albus Dumbledore dan pemerintahan, membuat mereka merugi sendiri. Tak biasanya mereka sepanik ini menghadapi seorang Dark Lord, padahal ketika masih era Voldemort, mereka masih bisa berpikir untuk menyusun rencana. Ah, ia lupa. Ada penjahat-penjahat muda di luar sana, Dark Lord yang sekarangpun memiliki darah Khusus Malfoy yang haus akan kekuasaan dan keinginan itu! Albus baru sadar, eranya dan Voldemort sudah tertinggal. Dan karena kelalaiannya, ia tak bisa menumbuhkan bibit pahlawan baru karena terlalu memanja Harry Potter.
Karena ketakutannya sekarang inipula-lah, Albus dan Fudge lupa akan satu hal… Saat ini, Pius dan bawahannya bergerak bersembunyi menuju pemerintahan. Sedangkan Mundungus, bergerak bersama Bellatrix, menuju kearah Gringgots. Untuk menetralisir kemungkinan Blaise jika tidak membawa pulang Bagshot dan gugur dalam medan perang, penyerangan kecil memang sudah ia rencanakan.
Demi Draco… demi masa kejayaan para penyihir yang tersesat di jalan gelap…
Demi menghancurkan niat busuk dan keserakahan Dumbledore…
Blaise bersumpah akan nyawanya dan ras vampire, Draco adalah titik terang untuk dunia sihir yang baru…
"Kumohon…. Kumohon jangan…" Isak Blaise yang sudah tak berdaya ketika melihat dua bersaudara Black itu menawan sang ayah. Nyonya Bagshot masih berdiri di sisi medan perang. Blaise benar-benar tak bisa menggerakkan tubuhnya. Ia sedih… ia pilu melihat rekannya yang sudah bernyawa bergelimang di sekitarnya. Hanya satu nyawa yang masih hidup yang ia lihat, sang ayah yang tengah di cekik Regulus dan Serigala Sirius yang ada di sekitar Regulus begitu terlihat kelaparan.
"Kau masih belum mau bicara?" Tanya Regulus dingin. Blaise masih bersikeras untuk menutup mulutnya agar tidak mengatakan rencana yang sudah beberapa tahun disusun oleh ras vampire. "Baiklah kalau begitu…" Regulus melempar tuan Zabini dan segera saja Sirius mencabik-cabik tubuh ayahnya dengan sadis.
"TIDAK! Ayah… hikks… keparat kalian… ayah…huwaaaa." Dalam medan perang ini, Blaise tak bisa menyembunyikan sifat daripada umurnya yang masih muda ini. Ia menangis meraung-raung seperti anak kecil yang di tinggalkan ayahnya…
Sekarang, tak ada vampire yang tersisa lagi selain dirinya dan vampire buatan, yaitu, Draco.
Habis sudah… rencana Blaise gagal dan ras-nya musnah. Ia juga bisa kapan saja mati di tempat ini. Blaise begitu tertekan, menyesal dan pilu.
"Sekarang balas dendam Sirius dan Regulus tersampaikan, bocah… kau akan mengerti penderitaan mereka jika aku membiarkanmu hidup…" Nyonya Bagshot melangkah kearah Blaise. "Sekarang, kau bisa membawa aku pada tuanmu.."
0o0
Harry berlari-lari di koridor yang ramai ini sengaja untuk mengejar Hermione dan Ron yang berjalan jauh di depannya. Harry menyahut dua sahabatnya sejak tadi, mungkin sahabatnya itu tak mendengar karena banyaknya suara siswa yang ada di koridor ini.
Brukk.
"Ah! Maafkan aku." Harry buru-buru membantu wanita yang ia tabrak barusan.
"Ah. Iya. Tak masalah." Ujar gadis berambut hitam gelap dari Ravenclaw itu.
Gadis berambut pirang yang ada bersama gadis berambut hitam itu menetralisir wajah Harry dengan tatapan mata bulatnya yang seperti boneka.
"Aku benar-benar minta maaf. Aku permisi, aku sedang buru-buru," Lalu punggung Harrypun menghilang dari tatapan kedua gadis itu.
"Kau tidak usah senyum-senyum begitu, Cho. Aku sudah merekam semua data Harry."
"Ah. Dia baik sekali sih padahal di tempat seramai ini dan dia seburu-buru itu, dia masih menyempatkan menolongku, Luna." Ujar Cho sambil mengikuti Luna yang sudah berjalan duluan.
"Cih. Si kepala emas itu benar-benar merepotkan." Decak Luna kesal. Kemudian, Cho dan Luna menghilang di ujung Koridor.
"Hei! Hosh…hosh.." Harry berhasil menepuk pundak Ron.
"Harry, ada apa denganmu?"Tanya Hermione khawatir. "Kau lelah?"
"Aku tidak apa-apa." Ujar Harry sambil mengatur nafasnya.
"Kau kenapa sih, Mate?!" Tanya Ron yang kesal dengan ucapan Harry yang terpotong dengan nafas terpengal-pengal itu.
"Aku menyahut kalian dari tadi! Aku ingin menanyakan sesuatu."
"Tanya apa?" Ujar RoMione berbarengan.
"Apa kalian tidak curiga dengan ini semua?" Tunjuk Harry pada Auror yang berjaga di setiap sisi Koridor. "Bahkan tadi, aku juga melihat banyak Auror di pintu gerbang."
"Ahaha, itu hanya perasaanmu saja Harry." Ungkap Hermione menepis.
"Iya, Mate! Tahun ini kan aka nada ujian OWL, wajar saja ada Auror di sini." Ron menambahi.
Harry mengernyitkan alisnya. Memang benar ada ujian OWL, tapi, Harry tak yakin ujian OWL tahun lalu, ada Auror sebanyak ini.
Semenjak kejadian dia di temukan terluka parah yang katanya dokter Snape yang menemukannya, banyak hal aneh yang mengganjal pikiran Harry. Ada apa sebenarnya?
"Omong-omong, mana Ginny? Kau tidak bersamanya lagi?" Tanya Ron mengganti topic kecurigaan Harry. "Kubunuh kau mate kalau sampai memutuskannya tanpa alasan!"
"Tunggu dulu. Dia sedang ada test ilmu hitam katanya." Cegah Harry yang menahan tinju yang akan di layangkan Ron Cuma-Cuma itu hanya karena ia bengong hingga lama untuk menjawab pertanyaannya.
Aneh. Ada yang aneh. Hanya kata itu yang bisa terekam jelas dalam pikiran Harry.
0o0
"Cough! Cough! Uhuuk!" Muntah-muntah Darah Draco semakin parah. Narcissa sang Bunda semakin panik. Sedangkan ayahnya, Lucius berusaha mati-matian untuk menyambung kontak dengan Blaise, mereka tidak tahu apa yang harus di lakukan pada Draco yang berada dalam sekritis ini.
BWOSSH!
Dalam kepanikan kedua Senior Malfoy, mereka merasa tercengang melihat dua gadis muda datang dari kabut hijau yang tiba-tiba berada di kamar ini. Dan gadis yang berambut pirang berjalan datar dengan nada buru-buru menuju ranjang Draco.
"Cepatlah! Kau benar-benar merepotkan!" Gerutu Luna sambil menyingkap lengan kaos seragamnya dan menyodorkan kulit lengannya itu dihadapan wajah Draco. Draco yang mulutnya bersimbah darah mendelik kearah wajah Luna dengan lelah. "Ini darah Harry. Aku sudah merekamnya dan mengganti darahku dengan darahnya! Cepatlah! Ini hanya bertahan 20 menit lagi.
Draco yang terlihat menyedihkan dan kurus kerontang itu mulai menggapai lengan Luna dengan antusias. "Darah Harry!? Ini darah Harry!?" Ujar Draco sendirian dengan nada gila. Buru-buru ia menancapkan taring nya yang masih segar ke lengan Luna. Luna memejamkan matanya dalam-dalam dengan meringis pelan.
Beberapa menit setelah itu…
Luna mengusap bekas darah yang ada di tangannya dengan tisu. Kondisi Draco sudah lebih segar dan postur tubuhnya pun sudah kembali.
"Kenapa kau bisa kemari, Luna? Cho? Kau musuh, kan?" Tanya Draco hati-hati.
"Kita teman Draco. Pansy sudah menjelaskan detailnya. Kami ikut di pihakmu." Jelas Cho Chang tenang.
"Tapi, kenapa kau bisa mendapat darah Harry?"
"Aku ini Lovegood Draco. Aku bahkan bisa tahu kelemahan dan masa depan orang dengan hanya menatapnya. Masa depanmu belum terang, tapi ada titik cahaya kau akan sukses." Terang Luna masih sibuk dengan pembersihan darahnya. "Aku bisa menukar apapun yang ada pada diriku dengan orang lain dan banyak definisi waktu tertentu aku menggunakan milik orang lain." Terang wanita berparas Barbie ini. "Dari sekian yang orang aku lihat, darah yang benar-benar bagus untukkmu adalah aku dan Potter. Huh, pantas saja kau begitu mengincar orang itu."
Draco menautkan alisnya. Ia tak menyangka Harry berkait dengan takdir vampirenya. Senang juga sih, tapi tujuan Draco mengincar Harry karena ia menginginkannya. Tapi, akhirnya ada alas an lain juga.
"Aku juga sudah memeriksa berulang beberapa kali. Kau pasti akan terkejut dan tidak suka, ada satu orang lain lagi yang cocok dengan darahmu. Dia Hermione Granger." Luna menambahkan.
"HAH? Wanita berdarah lumpur itu cocok denganku? Apa tidak salah?"Draco mengejek.
"Maka dari itu aku sudah bilang kalau aku memeriksanya berulang kali. Memang dia cocok mungkin karena kepintaran kalian yang setara. Kau harus terima itu, Draco. Kau hanya bisa menggunakan darahku dan Hermione 3 kali, sedangkan darah Harry bisa kau hisap berulang. Kalian memiliki kesamaan yang tak bisa di katakan. Mungkin itu sudah takdir ramalan." Terang Luna panjang lebar.
"Bagus." Kata itu yang berhasil mengungkapkan kegembiraan Draco akan definisi Luna. Mendengar kalau Harry begitu menyamainya, rasanya, Draco ingin menikahi Harry secepatnya juga.
"Aku sudah memberikan transfuse darah Harry langsung padamu. Sampai kapan kau akan berbaring di tempat ini?" Kini Luna melipat kedua tangannya dan berdiri angkuh di depan Draco yang masih duduk di ranjang.
"Iya, tuan Dark Lord. Kita tak bisa mengandalkan dan menunggu Blaise terus. Sepertinya gerakan Pius dan Mundungus juga berhasil tak di ketahui public." Jelas Cho Chang.
"Pius dan Mundungus?" Tanya Draco Heran.
"Kau ini banyak Tanya terus. Kau Dark Lord yang di puja-puja itu bukan, sih?! Pius sudah mengambil alih markas pemerintahan 2 hari kedepan dan Mundungus juga bibimu itu,, sudah berhasil menempati dan membobol Gringgots jam 4 nanti." Tambah Luna geram.
Mendengar penjelasan Luna lagi, Draco jadi tahu semua detail rencana yang Blaise susun. Ah, sahabatnya itu memang sudah merencanakan perang ini dengan baik.
"Apalagi yang kau tunggu. Pakailah baju yang keren dan memimpinlah! Aku malas bekerja sama dengan Dark Lord yang bodoh sepertimu!" Timpal Luna.
Meski ketus. Draco tersenyum. Luna, teman kecilnya ini memang tak mau bekerja sama ataupun menjadi bawahan orang lemah. Ia tahu Luna ingin menyemangati dirinya yang terpuruk hanya dengan sebaris kalimat. 'Membawa Harry Potter dari tangan Albus Dumbledore.'
0o0
"Sstt! Cepat pergi keujung lorong." Isyarat Pansy pada Grace dan Goyle. Grace dan Goyle yang tahu dengan perintah Pansy mulai bergerak ketepi lorong dan memisah diri.
Orang yang mereka tunggu sudah datang. Gadis belia berambut merah yang tengah memeluk buku dan sepertinya dia orang terakhir yang keluar dari ruang praktek ilmu hitam berjalan sendirian mendekati lorong di mana Pansy, Grace dan Goyle tengah bersembunyi.
Semua ini sudah masuk dari scenario Pansy. Membuat gadis itu keluar paling akhir juga sudah termasuk dalam scenenya.
"Sekarang!" Bisik Pansy dan Buru-buru Goyle melompat membekap wajah gadis itu dan Grace melompat memeluk badan gadis itu agar tak bergerak. Pansy langsung menghampiri.
"Selamat tidur, putri weasley~" ungkap Pansy sambil meniup wajah Ginny Weasley.
0o0
Draco berjalan angkuh keluar balkon di iringi Luna, Cho Chang, juga kedua Malfoy senior. Suasana gelap masih menyelimuti sekitar Malfoy Manor.
"Itu Dark Lord! Semua ucapkan salam!" Perintah pimpinan Death Eaters yang meneriaki para Death Eaters di bawah sana ketika melihat Draco keluar.
Semua orang berjubah hitam dengan mengenakan topeng serempak bersujud menyembah orang yang ada di balkon sana.
"Kami hidup dan mati untukmu, DarkLord…" Puja-puji mereka.
Draco menyeringai melihat keajaiban dimatanya itu. Tak lupa gigi taring yang mencuat dalam seringaian senangnya. Ia tak sangka ia menjadi Dark Lord muda dan memiliki pengikut sebanyak ini. Luna hanya mendesah pelan ketika menoleh pada Draco, sahabat kecilnya itu.
"Dengarlah pengikutku! Era Voldemort telah musnah dan akulah pemimpin baru kalian! Aku sudah sehat dan aku sudah mulai merasakan kekuatan yang hebat! Aku akan mengalahkan Dumbledore dan merebut dunia sihir ini untuk kejayaan kita!" Teriak Draco dengan senyum keyakinan.
"Uwooo! Tuan Draco! The younger Dark Lord!" teriak para Death Eaters menimpali.
"Cepat atau lambat! Peperangan akan berlangsung! Siapkan kekuatan kalian para pengikutku!" Kini Draco benar-benar tengah bersemangat. Mendengar teriakan para pengikutnya yang menyahut kekuasaannya sebagai pemimpin besar. Draco benar-benar menyeringai senang. Bahkan, bola matanya yang reflek berubah Rubby ketika melihat lautan hitam di bawah sana, membuat Luna begitu meyakinkan Draco memang memiliki kekuatan besar sebagai vampire buatan itu.
"Dark lord!" Seseorang penjaga pintu gerbang yang juga death eaters, menghampiri Draco dari belakang dan buru-buru menunduk hormat ketika sang Dark Lord muda yang tampan itu menoleh padanya.
"Ada apa?" Suara baritone Draco membuat pemuda penjaga pintu itu gemetar seketika.
"A-anu, itu… tuan Zabini, pulang membawa Nyonya Bathilda dan kedua saudara Black…" Ucap Lelaki itu gentar. "Mereka sudah sampai di pavilion manor…"
Mendengar itu. Draco, Luna, Cho dan Orangtua Draco langsung melangkah ketempat yang di beberkan. Mereka tak menyangka ras Zabini bisa berhasil pulang membawa nenek tua bahkan pembunuh berdarah dingin itu.
Ketika baru sampai pintu ruang pavilion, nampak Blaise berjalan tertatih-tatih keluar dari ruang itu dengan Draco yang akan memasuki ruangan.
"Bla-Blaise, kau tak apa?" Draco yang baru datang kaget dengan kondisi sahabatnya yang cukup mengenaskan itu. Keempat orang yangberada di belakang Draco pun bereaksi sama.
"…Cough.. aku sudah membawa mereka, Draco." Jawab Blaise parau sambil tetap melangkah keluar. Draco yang merasa Blaise tengah aneh itupun berbicara lagi.
"Hei Blaise! Kau kenapa?!" geram Draco mendengar jawaban yang menurutnya simple itu sambil membalik badan melihat punggung Blaise yang menjauh itu.
"Aku tidak apa-apa. Senang kau sudah sehat, Dark Lord. Biarkan aku beristirahat dulu." Jawab Blaise hanya dengan mengayunkan tangan dan tanpa menoleh kearah Tuannya sekaligus sahabatnya ini.
Draco menggertakan giginya kesal dan mengerutkan alisnya bingung. Ada yang tidak beres dengan sahabatnya itu. Terlihat seperti ingin menangis?
Tunggu, Draco lihat tak ada pengikutnya yang lain dan hanya ada 3 orang yang duduk di ruang ini dengan santai. Apakah…
"Biar aku saja yang menemani, Blaise, Draco. Kau berbincanglah dengan nenek itu sesuai tujuanmu. Luka Blaise parah sekali." Gumam Luna sambil menahan Draco yang akan bergerak untuk menuju Blaise. "Cho, ikut aku." Ungkap Luna. Dan kedua gadis itupun keluar dari ruang ini.
Draco mengerti kekhawatirannya terhadap Blaise… tapi sebagai Dark Lord, hatinya tak boleh lemah dan ia mulai duduk di hadapan nyonya Bagshot yang setia menunggu dengan minum teh yang di sediakan oleh pelayan di dalam Malfoy Manor ini.
"Aku tak sangka kalau ramalan Paverell benar sampai sejauh ini.." ungkap Bagshot sambil menaruh cangkir yg tadi di pegangnya di meja yang menjadi batas antara dirinya dan pemuda tampan penyandang Dark Lord.
"Apa yang kau pikirkan sehingga mau bergabung denganku, Nona Bagshot?" Tanya Draco serius namun, nenek tua itu malah tertawa.
"Kau bocah. Mau meledekku dengan memanggil, nona?" Tawa nenek itu dengan mata sipit.
Alis Draco mengerut tak merasa dia mengejek Bagshot dengan sebutan nona. Ia merasa justru dia sangat sopan menyebutnya dengan begitu.
"Kau itu memang bocah menarik sesuai yang kuperkirakan. Sahabatmu itu juga pemberani sekali."
"Maksudmu? Kemana para Zabini yang lain?" Tanya Draco akhirnya melirik tajam pada bola mata Ruby milik Sirius dan Regulus yang berdiri di samping Bathilda Bagshot.
"Sesuai ketakutanmu. Semua Zabini gugur dalam pertarungan melawan Sirius dan regulus milikku. Bahkan bocah Zabini itu juga hampir mati."
Dalam hati Draco menelan ludah. Dia yakin wanita tua ini tidak bemain-main dalam bergabungnya ketiganya bersama Draco.
"Baiklah, apa yang kau inginkan dariku sehingga membuat ras Zabini musnah kecuali bocah itu, hm?"
Draco mulai berlaku rasionalis lagi menghadapi peramal legenda di wilayah tenggara ini sejak dulu. "Aku ingin kau meramalkanku tentang pertarunganku nanti dengan Dumbledore!"
To Be Continued…
Asikk. Akhirnya sudah muncul mau perang…
*author setress sendiri pengen buat scene Drarry secepatnya!*
Terima kasih untuk readers yang tak bisa saya sebutkan namanya dengan reviewnya yang menyenangkan dan selalu membuat saya semangat untuk terus melanjutkan fic ini ^^
Boleh tuh, di review lagi? :3
