A Harry Potter Fanfic

Pairing : DMHP

"DARE YOU"

"Kau ingin kemenangan dari ramalanku?" Bagshot melirik menyindir Draco yang begitu serius percaya padanya.

"Aku tahu ramalanmu tak pernah meleset, Nona." Ungkap Draco yakin. Lucius dan Narcissa hanya bisa saling memandang cemas dengan keyakinan putra semata wayang mereka.

"Oh ayolah, Dark Lord. Kau sudah tahu ramalan tua dari Paverell, dan temanmu Lovegood sudah memberikan bocoran kau akan menang." Tawa Bagshot melengkapi suasana keseriusan. Sirius masih duduk slengean dan Regulus setia berdiri di belakang kursinya. Mereka tak mengindahkan lelucon nenek tua pengurus mereka itu.

"Walau aku menang. Tentu ada perencanaan perang, kan? Aku masih belum berpengalaman untuk melakukan perang. Lawanku Dumbledore, penyihir terkuat abad ini. Masalah aku mengalahkan Voldy pun mungkin dari keberuntungan ramalan." Ungkap Draco pesimis. Wajar saja, untuk mendapatkan orang yang di cintai, memang beresiko nyawa karena harus menghadapi seorang Albus Dumbledore.

"Kau benar. Aku dengar juga, Hogwart di kawal beberapa Auror dan Dementor. Apalagi, Harry Potter pasti bersembunyi di belakang Albus Dumbledore. Walau nanti kita berhasil mengalahkan Dumbledore, justru targetmu, Potter itu juga bisa membunuhmu. Kau tahu bukan? Dia juga anak dalam ramalan seperti dirimu, Dark Lord. Apalagi, meski kau terlihat kuat dan sehat saat ini, itupun karena transfuse darah dari Potter, Luna dan bisa saja kau membutuhkan 'mudblood' itu. Aku yakin kau tidak bodoh Dark Lord, tapi mengambil tindakan perang dengan kondisi yang tak memungkinkan seperti itu, apa yang kau inginkan dari Potter?" Penjelasan panjang lebar dari Bagshot dan di akhiri pertanyaan serius, Draco menelan ludah.

Draco menegapkan posisi duduknya dan seketika matanya berubah menjadi Rubby, "Aku menginginkan Potter seutuhnya. Apapun yang terjadi padaku, aku harus memiliki Potter." Jawab Draco serius.

"Haha, Cinta rupanya." Tawa mengejek Bagshot.

0o0

Albus Dumbledore, Cornelius Fudge, Severus Snape, Minerva , Trelawney, Rubeus Hagrid, serta beberapa orang kementrian dan beberapa orang yang berkait dengan Hogwarts, tengah mengadakan pertemuan kecil di aula Hogwarts malam itu.

Pertemuan kecil tentang perencanaan perang.

Tak ada seorang muridpun tahu kalau ada pertemuan rahasia di Hogwarts ini. Dengan setia, Argus Filch dan beberapa Auror menjaga pintu besar aula dengan ketat. Seluruh siswa Hogwarts sudah waktunya tidur, tapi pasti ada saja murid Hogwarts yang berkeliaran. Maka dari itu, pertemuan mendadak ini harus di lakukan di Hogwarts karena beberapa factor.

"Perang akan terjadi. Tinggal menghitung hari." Ungkap wanita cerewet yang bernama Umbridge. Satu-satunya orang yang berhasil kabur ketika kementrian di serang oleh kawanan Pius dari pihak Draco Malfoy, The Younger Dark Lord.

"Aku sudah tahu, hentikan ocehanmu, Umbridge." Ujar Dumbledore. Ada wajah kesal padanya dan Fudge. Tentu saja, kenapa bisa mereka tak tahu ada gerakan tersembunyi di bawah kementrian sihir. Bahkan, kini kementrian sudah di duduki pihak Dark Lord, begitupun Gringgotts dan Knockturn Alley.

"Lalu apa yang harus kita lakukan? Bahkan Black bersaudara ada di pihak mereka." Tanya Minerva. Ia tak menyangka salah satu murid kesayangannya justru berjalan di jalan gelap.

BWOSSH.

"Maaf aku terlambat." Seseorang lelaki tinggi dengan rambut coklatnya muncul di tengah tengah meja-meja besar yang ada di sekeliling orang-orang yang mendudukinya. Kecemasan Minerva berubah menjadi senyum agak menenangkan ketika orang itu datang. "Kudengar ada yang menyebut Black di pembicaraan ini." Ujar lelaki itu.

"Oh. Remus Lupin. Akhirnya kau datang." Tukas Minerva melihat kemunculan salah satu murid tersayangnya juga.

"Selamat datang, . masuk ke pembicaraan ini, kau sudah tahu resiko dan rencananya." Ungkap Dumbledore meyakinkan.

"Iya Professor. Jika di antara mereka benar ada Sirius Black, aku yang akan menghadapinya. Dia kawan lamaku. Aku yang tahu kelemahannya. Sungguh aku juga tak sangka dia mengikut pada bocah itu." Tegas Remus.

"Baiklah, kita sudah punya seseorang untuk melawan Sirius Black yang melegenda itu. Sekarang, kita lanjutkan pembicaraan kita." Ujar Fudge.

"Tunggu-tunggu sebentar. Kita hanya menghadapi bocah kecil putra Malfoy itu, kan? Lalu, apa tujuan ia mengadakan perang dengan kita? Dan sebenarnya, kita maju juga hanya demi menyembunyikan Harry Potter, kan? Aku tidak suka dengan rencana ini, aku tak ingin membuang nyawa dengan peristiwa yang tidak perlu." Tolak Igor Karkarroff, kepala sekolah Drumstrang dan akan meninggalkan tempat pertemuan ini.

" , semua akan di jelaskan disini. Kumohon anda kembali ke tempat duduk anda. Kita masih belum menyelesaikan semuanya." Pinta Dumbledore. Tentu, disini, semua akan di jelaskan dari awal hingga akhir.

"Proffessor, jika ini memang benar menyangkut Harry Potter, kenapa kita tidak mengajak dia juga ke pertemuan ini? Aku rasa, dia juga berhak tahu." Masukan dari Remus, membuat Dumbledore dan Fudge saling berpandangan.

"Kita akan putuskan itu ketika rapat usai." Jawab Dumbledore.

0o0

Harry duduk termenung di depan perapian di ruang rekreasi Griffyndor. Ia benar-benar mencurigai keadaan akhir-akhir ini. Dengan laki-laki berambut pirang yang menyeramkan di setiap mimpinya, meski Severus Snape terus-menerus mengunci ingatannya, tapi mantra itu lemah dari mantra Pansy sehingga Harry sudah benar-benar ingat siapa laki-laki dalam mimpinya. 'Dia' laki-laki gila yang selalu menggoda dan mengejeknya, Draco Malfoy.

Tapi, apa keperluan Draco terhadapnya dan apapula sebenarnya kejadian yang membuat dia tidak menjadi murid di Hogwarts lagi? Harry benar-benar ingin mengetahui jawabannya, tapi setiap ia bertanya tak ada satupun yang mau menjawab tentang Draco Malfoy.

Ron dan Hermione menghampiri ruang rekreasi. Terlihat punggung Harry yang menyedihkan tengah berada dekat dengan perapian. Hermione menatap lirih begitupula kekasih di sampingnya, Ron Weasley.

"Oh, Please! Aku tidak tahan lagi!" Hermione menghampiri Harry dengan tatapan sedih. Ron mencoba mencegah Hermione untuk tidak membeberkan semuanya.

"Hermione, kau jangan lakukan itu!" Cegah Ron. Tapi Hermione tak menuruti perintah Ron dan tetap berjalan menghampiri Harry. Bagi Hermione, menyembunyikan semua ini justru sama saja menyiksa Harry lebih lama lagi. Apalagi, justru harus Harry lah yang harus mengetahui semuanya. Karena Harry terlahir untuk menjadi sebuah incaran untuk para Dark Lord.

"Harry, kau belum tidur?" Lirih Hermione sambil duduk agak jauh di belakang sahabatnya itu. Ron yang memang selalu merasa apa yang Hermione putuskan itu benar, ikut duduk di samping Hermione.

"Aku belum ingin tidur, Mione. Kalian tidur saja duluan." Jawab Harry dengan hanya menolehkan pandangannya ke belakang.

Dari kalimat terakhir itu, membuat Hermione tak tahu harus memulai dari mana dan justru diam. Suasana hening seketika dan yang terdengar hanya suara gemericik kayu yang terbakar di dalam perapian.

"Harry, Dengarlah. Kau mungkin ingin mengetahui kebenarannya. Aku akan menceritakan semuanya padamu malam ini." Hermione bertekad. Kalimat Hermione membuat Harry menolehkan semua anggota tubuhnya menghadap mereka berdua. Ya, ini yang Harry tunggu dan ia lamunkan saat ini. Harry ingin tahu kebenarannya. "Aku tidak tahu darimana harus kumulai, katakan apa yang membuatmu tak jelas dengan semua ini. Kau bertanyalah dan aku akan menjawabnya."

"Siapa Draco Malfoy?" Harry langsung menghujam pertanyaan pertama.

"Dia musuhmu selama di Hogwarts." Hermione menjawab. Harry mengangguk artinya ia sudah tahu itu, dan Harry ingin Hermione meneruskan kalimatnya. "Dia teman kita dari Slytherin. Kau tahu fakta-fakta tentang Slytherin? Semua penjahat-penjahat besar rata-rata adalah mantan murid Slytherin. Dan kejadian yang menimpa Slytherin ketika kau di beri sihir 'oblivate' dari , adalah, lenyapnya Blaise Zabini dan Draco Malfoy. Kejadiannya tragis, Harry. Di perkirakan Blaise meninggal dan jasadnya tak di temukan. Dan diduga, yang membunuhnya adalah Draco Malfoy." Terang Hermione.

Harry membulatkan mata di balik kacamata bulat itu. Mendengarnya, Harry amat kaget. Tentu, karena ia tak tahu kejadian aslinya. Dia sudah di amankan ingatannya oleh Dumbledore.

"Dan satu lagi, kau mungkin akan kaget dengan ini." Hermione menelan ludah. "Semua guru di Hogwarts mendapat kabar langsung dari Hagrid. Akupun tak sengaja mendengarnya. Aku dengar saat bersama Ron akan menuju ruang .Gonnagal, disana ada Madam Pomfrey dan Madam Sprout, kami mendengarnya dan ini bukan rahasia umum lagi Harry." Hermione memotong pembicaraannya lagi dan menarik nafas. Membuat Harry semakin penasaran dengan semua yang ia ceritakan. Ron yang ikut merasa cemas untuk apa menceritakan cerita yang akan membuat shock Harry nanti, mulai membenarkan posisi duduknya. "Voldemort sudah binasa Harry, dia tak akan memangsamu lagi."

"A-apa maksudmu, Mione?" Tanya Harry tak mengerti.

"Lihat. Tanda yang ia buat di dahimu menghilang. Artinya, dia sudah tiada, Harry. Dia sudah meninggal."

"Hei! Dumbledore berhasil membunuhnya?!" Tanya Harry Protes.

"Bukan Harry. Bukan Dumbledore. Yang membunuhnya adalah… Voldemort berhasil di kalahkan oleh Draco. Dan sekarang, Draco yang menduduki posisi Dark Lord." Ada perasaan menyesal dari Hermione ketika sudah menceritakan semua itu.

"Ke-Kenapa? Dia murid Hogwarts kan? Kenapa dia tidak kembali ke pihak kita?!" Harry semakin bingung. Kenapa si Draco Malfoy yang pengecut itu malah menjadi Dark Lord. Bukankah kalau menjadi Dark Lord adalah lawan dari Dumbledore?!

"Apapun alas an dia menjadi Dark Lord kamipun tak tahu, Harry. Tapi, jaman sudah bergulir, dan dia bukan Draco Malfoy yang kita kenal. Semua Death Eaters memujanya. Dan belum tentu pihak kita bisa mengalahkannya. Dan kenapa pula Auror, Dementor dan Fudge ada disini? Mereka mengamankanmu, Harry. Draco mengincar dirimu. Dan cepat atau lambat perang dengan pihaknya juga akan terjadi." Hermione mengusap bahu Harry.

Harry terdiam kaku. Tentu, kenapa ia begitu di inginkan oleh pihak kegelapan? Apa yang salah? Musuh Harry hanya Voldemort, bukan?

Hermione dan Ron yang tahu kecemasan Harry, memeluk sahabat mungil mereka itu. Malam ini malam kelabu bagi Hogwarts, tinggal menghitung hari perang besar akan terjadi.

0o0

Blaise terduduk lemah di dekat jendela. Luna yang datang bersama Cho menghela nafas. Luna tahu Blaise dalam keadaan kacau, bahkan laki-laki berkulit eksotik itu belum menanggalkan pakaian perangnya dari saat pulang tadi. Luna tahu kehadiran mereka justru mengganggu Blaise. Tapi, bagaimanapun juga, hal tragis yang terlihat di mata Blaise beberapa hari lalu, perlu Luna obati karena cepat atau lambat, Blaise juga akan menjadi pemimpin lagi dalam perang.

"Aku tak suka dengan kesepianmu ini, Boy." Luna menghampiri Blaise dan duduk tepat di hadapannya. Blaise hanya mendelik kecil pada Luna dan mulai memalingkan pandangannya lagi keluar Manor.

"Kau tak usah ikut campur dalam urusanku, gadis sok pintar." Ujar Blaise dingin. Luna tak merespon kata-kata Blaise dan mengambil kotak obat yang sedari tadi di pegang Cho. Luna menarik tangan Blaise paksa dan mengobatinya. Blaise mendecak kesal tapi ia membiarkan Luna berbuat sesukanya daripada dia harus bertarung dengan Lovegood dari Ravenclaw itu.

"Ingat Blaise, Draco dan nona Bagshot sudah mulai mengadakan perang dua hari lagi. Sebaiknya hentikan sikap kekanak-kanakanmu ini. Kita mati untuk Draco. Dan kami semua percaya pada kepemimpinanmu." Tegas Luna.

"Maka dari itu. Biarkan aku sendiri." Jawab Blaise dingin sambil menapik tangannya dari tangan Luna yang sudah mengobatinya.

Luna menghela nafas kesal. Dan iapun beranjak dan akan meninggalkan kamar itu.

"Jangan membuat Draco cemas. Kau yang memulai dari awal. Draco perlu bimbinganmu sebagai satu-satunya vampire yang tersisa." Ujar Luna sebelum pergi meninggalkan kamar Blaise.

" . kau tetap harus jaga kesehatanmu. Kau turunlah untuk makan malam." Tambah Cho cemas dan mengikuti Luna pergi keluar.

0o0

Draco, Lucius, Narcissa, Bathilda, Sirius, Regulus, Luna, Cho, Pansy, Crabbe dan Goyle tengah melaksanakan makan malam yang tak pernah di lakukan secara bersamaan di ruang makan ini. Bellatrix dan Peter sekarang sedang mengatur Gringgots, Pius tengah mengatur kementrian. Dan orang tua Pansy, Crabbe dan Goyle tengah menduduki Knockturn Alley.

Sebagian besar keluarga Luna dan Cho Chang, mulai mencari celah untuk bisa memyusup Hogwarts dan mengumpulkan pengikut dan para monster untuk ikut dalam perang. Di pihak Dark Lord, memang unggul dengan gerakan tersembunyi. Bahkan, Dumbledore dan Fudge takkan pernah tahu ada mata-mata dari pihak Draco dalam rapat penting mereka. Mereka adalah Umbridge, Evan Rosier dan Murphy Crouch. Anggota parlemen kementrian.

Saat makan malam akan di mulai, Blaise turun dari anak tangga. Membuat kecemasan Draco, Luna dan Pansy mulai mereda.

"Maaf, aku terlambat." Ucap Blaise yang sudah rapi itu dan mengambil bangku di antara Draco dan Luna tepat di hadapan Lucius. Dan mereka menjalankan makan malam yang cukup resmi mengenai ada penyihir senior dan bisa di bilang tamu Draco di Manor ini. Mereka adalah sang peramal Bathilda, dan kedua pelayannya, anjingnya bernama Sirius dan pelayan berdarah dinginnya bernama Regulus.

Selesai makan malam, setelah piring-piring yang ada di meja makan sudah di bereskan. Mereka mulai berbincang. Berbincang tentang detail peperangan.

"Kita sudah tahu mengenai strategi Dumbledore. Jadi aku rasa, apa yang nanti akan aku putuskan bisa berjalan sesuai rencana. Dan target kita adalah Potter. Ya, sebenarnya, dia yang paling berbahayan dalam peran ini—"

"Aku rasa Potter bisa di tundukkan oleh Draco." Potong Luna.

"Oh. Merlin, aku tahu ada darah Lovegood dalam perbincangan ini. Maafkan aku, ." tawa Bagshot pada gadis yang berhasil memotong pembicaraannya itu. "Benar kata gadis pintar ini. Aku juga yakin Dark Lord bisa menangani Potter. Tapi disini, aku ingin mengusulkan, aku ingin kau yang memimpin rapat perang ini, Lucius."

"Kenapa aku?" Tanya Lucius. Bahkan, Draco saja tersentak, bukankah dia Dark Lord saat ini?!

"Aku ingin tahu mengapa kau memutuskan seperti itu?" Tanya Draco sambil menggeleng. Terlihat dia protes.

"Oh ayolah, Dark Lord. Dumbledore memang tanggung jawabmu untuk membunuhnya. Tapi, jika kau terang-terangan menghadapinya, aku tak tahu kita benarkah akan menang. Kau Dark Lord yang bebas Draco. Kau harus membuka kamar rahasia untuk menundukan Basilisk. Aku tahu hanya darah Slytherin darimu yang bisa membuatnya patut. Kau yang mengalahkan Voldemort, benar?"

"Lalu, sebenarnya, bagaimana rencanamu?" Draco mulai menenangkan keegoisannya. Haus memang ingin mengalahkan penyihir hebat abad ini, tapi tujuan ia sebenarnya hanya mendapatkan Harry Potter.

"Tapi tunggu sebentar, Dark Lord. Mrs. Parkinson, apa benar Ginerva sudah ada di tanganmu?" Tanya Bagshot. Sepertinya wanita setengah baya itu mengetahui semuanya.

"Ya. Sudah ku mantrai dia dan tertidur di kamar mandi perempuan. Aku menyuruh Myrtle untuk menjaganya." Jelas Pansy dengan nada cemprengnya itu.

"Bagus. Bahkan sudah menyiapkannya untukmu Dark Lord. Ginerva Weasley yang akan di persembahkan untuk Basilisk saat itu nanti." Ungkap Bagshot sambil menautkan kedua jemarinya.

"Apa maksudmu, Pans? Ginerva Weasley—"

"Ya. Kekasih daripada Harry Potter, Dray." Jawab Pansy sambil memutar bola matanya. Ia tahu Draco senang akan ini. Terlihat jelas dari senyum menyeramkannya dan bola mata yang seketika berubah menjadi Rubby.

"Lucius. Aku mengandalkanmu. Kau ayah dari Dark Lord dan kau memiliki banyak pengalaman perang. Tenanglah, aku dan Regulus aka nada bersamamu dan Bellatrix untuk melumpuhkan Dumbledore."

"Baik. Ma'am." Patuh Lucius. Ya, senior Malfoy ini sudah berkali-kali menjadi pemimpin Death Eaters pada era Voldemort, dan Jenius Malfoy ini memang pengecut tapi ia pintar dalam hal taktik dan memimpin demi melindungi kaumnya.

"Sirius, setelah kau berhasil menyusup ke Hogwarts dan menaklukan Aragog di hutan terlarang. Lekas jemput Dark Lord bersama Peter Pettigrew dan segera cari Potter."

"Kau sengaja mepartnerkanku dengan tikus bodoh itu, nenek tua? Aku tidak sudi."

"Apa yang ingin kau bantah? Dark Lord tanggung jawabmu dan aku yakin Dumbledore tidak bodoh. Ia pasti akan menyerahkan Potter pada orang lain."

Semua strategi di lontarkan oleh Bathilda Bagshot. Tak ada satupun kaum yang tak berperang, semua sudah di atur Bagshot dan di bantu Luna dengan ramalan masing-masing. Besok, mereka akan mengadakan ancaman perang melewati Daily Prophet dari Kementrian langsung yang sudah di duduki Pius.

Para Goblin juga sudah berada di bawah pengawasan Bellatrix. Dan malam ini, Draco dan Luna segera menuju dimana Nagini berdiam. Nagini adalah ular yang begitu patuh terhadap Voldemort, akan sulit untuk menundukkannya, tapi Luna yakin bahwa Draco pasti bisa karena mengalir darah Dark Lord padanya. Luna akan selalu mengikuti Draco kemanapun karena Draco pasti membutuhkan Transfuse darah darinya.

0o0

Malam sudah berlalu. Draco dan Luna masih belum di ketahui kabarnya ketika setelah berbincang tentang rencana perang, mereka berdua langsung pergi ke tempat Nagini.

Matahari sudah mulai terbit. Pius melaksanakan perintah dari Manor untuk melaksanakan berita perang melalui media dan daily prophet. Bahkan kru dari daily prophet sudah berada di bawah kekuasaan Pius melalui mantra Imperio.

Mendengar berita perang itu. Semua penyihir yang siap berperang di bawah kepercayaan Dumbledore, menuju ke Hogwarts. Mereka menjadikan Hogwarts tempat paling aman. Sebagian murid Hogwarts yang tidak siap berperang di ungsikan ke tempat yang dirasa lebih aman.

Arthur dan Molly Weasley berada dalam kecemasan karena putrid semata wayang mereka berada di tangan pihak Dark Lord. Tapi mereka harus siap fisik mental untuk menghadapi perang.

Diagon Alley, Dufftown, dan Godriccs Hollows, semua sudah di sepikan. Musuh memang unggul sudah menduduki kementrian dan beberapa daerah lainnya.

Hogwarts sudah tidak lagi aman. Bahkan, semua sudah di persiapkan. Semua sudah tahu rencana perang Dumbledore dengan datangnya berita pagi ini. Semua bersiap. Bersiap menghadapi kenyataan pahit sekalipun. Mereka mempercayai Dumbledore dan bersiap mati untuk melindungi Harry Potter.

Harry Potter, The Boy Who Lived. Murid berbakat yang berjiwa besar.

Harry tak menginginkan semua pertaruhan nyawa teman-temannya. Tapi, iapun tak bisa menentang rencana Dumbledore. Semua penyihir hebat dan Auror dari Kementrian bermalam di Hogwarts demi menunggu hari esok. Hari dimana semua akan berakhir.

IT ALL ENDS…

'Potter. Aku akan mendapatkanmu…'

To Be Continued…

Baaah, Author ga sabar pengen cepat peraaaaanag ~~~ XD

Mian baru update readers :3

Aku harap kalian masih setia menunggu terusan ficku. Maaf ya, Author tak punya novel HarPot dan Cuma menonton filmnya saja hingga tamat. Maaf juga kalau Author kurang berpengalaman dengan dunia Harry Potter. Author berusaha sebisa mungkin untuk menghidupkan karakter di fic ini tak melenceng jauh dari aslinya. Dan kesalahan penulisan nama maupun tempat, author juga minta maaf sebesar-besarnya karena Author hanya mengharapkan cerita fic ini bisa mengena di hati readers semua :*

Disini Author memang hanya terpaku kepada DRARRY-nya saja. Jadi maaf kalau perang atau apapun kurang mengesankan.

Assh, ga sabar mau nulis bagian Draco sadistic to Harry-nya! X3

Mind To Repiu? Jadilah para Readers yang bisa selalu menyemangatiku dengan sebaris atau beberapa komentar di kotak Repiu :**