A Harry Potter Fanfic

Pairing : DMHP

"DARE YOU"

"Ingat Cedricc, Paverell bukan hanya seorang, mereka tiga bersaudara. Dalam perang nanti, aku tidak ingin jati dirimu di ketahui. Keluarga Diggory selalu berbohong dalam masa hidupnya hanya untuk menjagamu, jadi aku ingin kau yang bisa, bisa mempertaruhkan di akhir nanti. Kau tidak lemah seperti Potter dan kau tidak jahat seperti Malfoy… ingat Cedricc, satu nyawa dari mereke berdua yang kau pilih, itu akan menjadi tuntunanmu…"

"Biarkan aku pergi ke Hogwarts, Proffessor! Aku tidak ingin membuat teman-teman dan orang-orang disana bertaruh nyawa hanya untukku! Aku harus ikut berperang!"

"Harry, tenanglah! Ini rencana Dumbledore! Tetap diam disini atau kita semua akan terbunuh! Aku yakin, Dumbledore akan menang! Dumbledore pasti menang!"

"Draco, jangan lupa. Kita harus merebut tongkat Elder miliknya."

"PIERTOTUM LOCOMOTOR."

0o0

*Backsound Lily's Theme of Harry Potter Film*

Fajar sudah terbit. Hogwarts sudah bersiap. Semua pahlawan penyihir berkumpul didalam kastil, bahkan, sebagian murid Hogwarts yang siap berperang juga sudah memantapkan hatinya untuk akhir hari ini. Ya, akhir dari dunia sihir…

Dumbledore berjalan kearah lapangan depan Hogwarts. Dia menghela nafas dan memejamkan matanya. Dia sudah siap dengan takdir hari ini. Semua bergantung di tangannya. Dumbledore percaya, ramalan lain bukan akhir dari hidupnya. Ia masih berpegang teguh pada ramalan Trelawney yang ia tak pernah tahu bahwa itu bersumber dari ramalan Cadmus Peverell, saudara kedua dari ketiga bersaudara Peverell, Dumbledore tak pernah menyadari satu hal itu. Lelaki itu terlalu berambisi pada kekuatan dan kemenangannya untuk menghancurkan Voldemort. Tapi sayangnya, musuh bebuyutannya itu terkalahkan oleh anak dalam ramalan lain putra pertama Peverell, Antioch Peverell Dark Lord muda yang tak pernah ada, dia adalah si pangeran es dari Slytherin, mantan muridnya, lelaki tampan berhati keras, Draco Malfoy.

Nampak Minerva berada di depannya bersama guru asrama dari Hufflepuff dan Ravenclaw. Disisi timur, ada Severus Snape bersama Cedricc Diggory, murid Hufflepuff, dan Oliver Wood, Keeper Quidditch dari Gryffindor juga beberapa guru dari Durmstrang dan Beauxbatons. Disisi Barat, ada Alastor Moody, Murphy Crouch, Evan Rosier, Umbridge dan beberapa staff kementrian dan juga beberapa guru Hogwarts. Disisi belakang, ada Arthur, Molly, Fred, George, Charlie dan Percy Weasley. Mereka mengacungkan semua tongkat sihir mereka keatas, untuk membuat gelembung pertahanan pada Kastil dan sekitar Hogwarts.

Fudge, Igor, Maxime dan Dumbledore setia di pintu kastil Hogwarts. Mereka tokoh terkuat dalam perang ini, salah satu dari mereka yang bisa di jangkau oleh pihak Dark Lord, maka, perang berada dalam ketidak seimbangan.

Albus maju kedepan. Tepat kearah dekorasi patung-patung berbaju ksatria yang berada di dinding-dinding pintu masuk kastil. "Aku Albus Dumbledore, memerintahkan kepada kalian untuk menerima tugas sebagaimana kalian diciptakan untuk melindungi Hogwarts, PIERTOTUM LOCOMOTOR!"

BRUGG. BRUUG. BRUGG.

Satu persatu patung-patung itu bergerak dan turun dari kelelapannya. Sihir yang hanya bisa di gunakan sekali ini, sungguh memang terlihat mengagumkan. Tapi, ketika semua patung itu sudah ikut turun, Hogwarts sudah mulai tidak aman…

"Proffesor, apakah kita yakin akan—" Maxime terlalu khawatir, ya, bagaimana tidak, orang-orang yang bersama Dumbledore, amat sangat terhitung, bahkan, sebagian murid Hogwarts ada yang berada di pihak Dark Lord…

"Tenang saja, Madam. Kita orang-orang hebat…" Tegas Dumbledore. Dia memang sangat marah bahwa drama daripada anak-anak kecil Slytherin bisa membodohinya. Bahkan, golongan putih seperti Lovegood bisa dihasut oleh kegelapan sana. Dumbledore tidak mau mengakui cara licik Draco. Bahkan, ia juga tak bisa memasukkan mata-mata ke Manor yang gelap itu.

Ia tak tahu apa sebenarnya maksud dari perang ini.

Ia juga tak tahu apa tujuan Draco.

Ia tak tahu apa yang ada dipikiran laki-laki yang ia anggap hanya bocah ingusan itu.

Dare You… Draco…

IT ALL ENDS

Langit gelap dan suasana mencekam masih setia menemani Malfoy Manor. Draco yang sudah mengenakan Tuxedo hitam yang telah terbalut baju jirahnya, mulai berjalan kearah balkon ditemani kaki tangannya, Luna Lovegood, pemimpin perang, Sang Ayah, momnya dan sahabat terpercayanya, Blaise Zabini.

Draco tersenyum melihat lautan hitam yang ada di bawah sana. Lautan itu terdiri dari beberapa Death Eaters yang dulunya setia pada Voldemort, selebihnya, Death Eaters yang begitu setia kepadanya, lalu, keluarga kedua baginya yaitu semua mantan murid dan sahabat-sahabat Slytherinnya. Lalu, anggota-anggota parlemen ayahnya dan banyaknya anggota kementrian yang dikalahkan Pius yang kini patuh kepadanya. Bellatrix dan sisa-sisa saudaranya, para peri rumah, dan satu-satunya pendukung Draco dari Ravenclaw, yaitu keluarga Lovegood dan Cho Chang.

Draco menyeringai dan seketika taring dan mata rubynya terlihat. Nampaknya, Draco begitu bahagia. Bagaimana tidak? Pasukannya dua kali lipat lebih banyak daripada Dumbledore. Dan mereka terdiri dari orang-orang kuat dan juga sadis sepanjang masa. Itu membuat Draco yakin bahwa tak mungkin ia tak mendapatkan Harry-nya.

Ya, Harry yang selama 17 tahun dicintainya.

Harry Potter yang selalu ia goda dengan menyerang atau mengejeknya.

Harry Potter yang selalu terlihat manis dan tak sabar Draco untuk memilikinya.

SEPENUHNYA.

Lalu, saat itu, hewan besar melata mulai melilit kearah leher Draco. Membuat Draco tersadar dari kebahagiannya.

"Oh, Kau Nagini." Ucap Draco dengan bahasa parseltongue pada ular yang ditaklukannya tengah malam itu.

"Jangan terlalu berbahagia Dark Lord. Kau pasti menang." Ungkap Nagini agar Draco tak terlalu terhanyut dalam kemenangannya nanti.

Draco tersenyum. Ular besar ini hanya menurut padanya setelah Voldy. Bahkan, Nagini bilang, Voldy tak pernah melakukan hal baik padanya. Voldy selalu menyiksanya sehingga Nagini mengutuk jiwa Voldy yang berada didalamnya. Voldy yang marah, mengurungnya diatas gunung. Namun, itu membuat Nagini bisa memenuhi kekuatannya lagi hingga ia di jemput oleh Draco, Dark Lord yang baru, awalnya, Nagini tak mempercayai semua Dark Lord dan menyerang Draco berkali-kali hingga Draco tak pernah menyerah untuk mencari kesetiaan Nagini terhadapnya.

"Maafkan aku Dark Lord." Ungkap Nagini sambil menjilat luka di leher Draco akibat serangannya digunung.

"Tidak apa-apa, Nagini. Kesetianmu padaku sudah membuatku tenang." Ujar Draco sambil mengusap kepala ular jenis anaconda itu.

"Tidak Dark Lord, kau yang sudah membuat aku mempercayaimu." Ungkap Nagini senang. Nagini hanya sayang pada Dark Lord ini yang paling bisa memahami bahasa dan dirinya. "Omong-omong, mata dan gigi taringmu membuatku tak menyukainya."

"Ahaha. Maafkan aku, Nagini." Desis Draco dengan tawa simpulnya.

Sampai sejauh ini, Draco sudah bisa mengendalikan jiwanya yang lain, yaitu darah daripada vampire buatan yang diberikan Peverell kepadanya. Ia dapat menggunakan sosok berbahaya itu sesuai dengan keinginannya. Bahkan, Draco bisa menggunakan kekuatan vampirenya itu tanpa harus merubah sosoknya.

Ia tak sabar untuk membunuh semua orang yang berusaha menyembunyikan Harry Potter miliknya.

"DENGARLAH PASUKANKU! Hari ini adalah hari yang kita tunggu-tunggu! Hari ini sudah tiba! Apa kalian ingin PERANG?!" Seru Draco.

"KAMI MENGINGINKANNYA DARK LORD" Seru lautan hitam di bawah sana.

"APA KALIAN INGIN MEMBALAS DENDAM?!"

"KAMI MENGINGINKANNYA DARK LORD!"

"HARI INI ADALAH HARI DIMULAINYA KITA BERJAYA! TAK SEPENUHNYA YANG PUTIH ITU BENAR! KEGELAPANPUN PUNYA HAK UNTUK HIDUP! KEGELAPANPUN PUNYA HAK UNTUK MENGUASAI! KEGELAPAN DAN RAS KITA SEMUA, BUKAN TERLAHIR UNTUK DI RENGGUT NYAWANYA OLEH MEREKA YANG SOK SUCI ITU! MEREKA TAK PERNAH MEMAHAMI PENDERITAAN KITA! KALIAN SIAP UNTUK HARI INI!?" Tegur Draco. Ya, tujuan Draco memang Harry. Tapi tujuan Draco untuk pengikutnya adalah kebahagian. Hidup bahagia tanpa harus di kejar oleh orang-orang yang akan merenggut nyawa mereka.

"KAMI SIAP DARK LORD! KAMI HIDUP DAN MATI UNTUKMU!" Seru mereka semua bersemangat. Draco menyeringai senang. Dadanya berdebar mendengar kesetiaan banyaknya lautan hitam itu. Tentu saja, dia adalah Dark Lord termuda yang pernah ada. Pemuda cerdas yang bisa menduduki dan membunuh Voldemort, bukanlah pemuda yang dianggap enteng kekuatannya.

Draco amat terharu. Draco benar-benar bahagia atas semua balasan untuk masanya sekarang. Kalau saja bukan karena Paverell, ia tak akan mungkin bisa merasakan ini semua.

Padahal dahulu, Draco hidup dalam masa-masa yang menderita.

Pada umur lima tahun saja, Draco dikuasai rasa sakit akibat vampire yang ada didalam dirinya.

Pada umur sepuluh tahun, dia disembunyikan keberadannya oleh ayah dan ibunya karena ia adalah anak dalam ramalan.

Pada umur 12 tahun, dia sudah menjadi kaki tangan Voldemort. Tak sedikit siksaan yang ia dapatkan dari Voldemort. Ia masuk ke Hogwart hanya untuk melihat perkembangan Harry Potter, target yang amat diinginkan Voldemort ketika Harry dewasa nanti.

Draco membencinya. Draco melakukan semua yang diperintahkannya hanya untuk menyelamatkan mom dan dadnya yang berusaha mati-matian menyembunyikan jati dirinya.

Dan juga untuk menyelamatkan takdir cintanya. Harry Potter…

Draco lalu masuk kedalam bersama Luna, Nagini dan Momnya. Kemudian, ayahnya yang memang memimpin perang, mulai memberikan pengarahan-pengarahan tentang perang kepada lautan hitam dibawah sana.

"Hohoho, pemuda yang tampan ini benar-benar bisa diandalkan ya." Ujar Bagshot ketika Draco baru saja masuk keruangannya. Tak lupa, kedua saudara Black masih setia mendampinginya.

"Semua berkat bantuanmu juga, Nona." Jawab Draco sopan.

"Aku sudah tak ragu lagi untuk kemenangan kita. Aragog, para monster dan para Troll sudah bersiap dihutan terlarang bersama suku liar lainnya."

"Aku berterima kasih karena kau memberikan pengarahan terhadapku dan pasukanku."

"Ya. Ya, kau memang akan menang. Tapi kestabilanmulah yang harusnya di khawatirkan, Dark Lord." Sirius nyolot sambil mengorek-orek telinganya. Draco mengerutkan alisnya. Apa maksudnya?

"Aku tahu aku mungkin tak cukup untuk Draco. Secepatnya, kami akan mengejar Harry Potter." Tukas Luna.

"Oh, bukan begitu masalahnya, nyonya Lovegood." Potong Bathilda. "Potter tak mungkin bisa kita dapatkan semudah memetik apel. Untuk masuk Hogwarts saja, banyak pertahanan-pertahanan yang harus kita lewati. Kalau saja Umbridge, Evan dan Murphy tidak ada didalam sana, mungkin kita juga tak akan mungkin bisa menerobosnya. Kita hanya bisa mulai menyerang kalau memang mereka tak diketahui oleh pihak Dumbledore dan membuka pintu masuk untuk kita dari dalam. Mau tak mau, kita juga harus mencari nyonya Granger yang setidaknya lebih mudah untuk diambil."

"Aku tak ingin memakan darah mudblood itu." Ungkap Draco jijik.

"Sure, jika dia memang tak sesuai denganmu, hanya dengan satu cara, kau alihkan perhatian yang lain dengan mengeluarkan Basilisk dan kita bisa melumpuhkan Dumbledore. Jika kau punya tongkat eldernya, kita bisa memenangkannya dengan skor 1 sama. Karena ada kemungkinan, Potter bisa lebih kuat dari Dumbledore. Bagaimana?"

Draco melihat Hawthorn yang digenggamnya. Mengeluarkan Basilisk memang tugasnya… tapi, itu menghambat jalan untuk mencari Potter, kan? Ia tak ingin ada orang yang berhasil menangkap Potter selain dirinya. Dia ingin dia orang pertama yang bisa mengambil Potter dari kastil itu.

"Bagaimana, Draco?" Tanya Bathilda meyakinkan.

"Sepertinya kau bisa membaca semua pikiranku bahwa aku tak akan pergi ke kamar Rahasia, Nona Bagshot." Desis Draco. Ia tak bisa melakukan kebohongan lagi jika berada didepan wanita tua itu. "Baiklah, tapi siapa yang akan jadi korbannya?"

"Lalala, dia ada disini, Dray~" Pansy datang bersama Crabbe dan Goyle yang tengah menahan Ginny Weasley. "Untung saja aku sempat mengendap kekamar mandi Myrtle ketika kau pergi untuk menjemput Nagini. Ternyata, pagi ini Hogwarts sudah dibuat pertahanan, huft."

Draco menyeringai lagi. Ya, seringaian Draco tak terhitung untuk hari ini. Draco benar-benar senang.

"Apa yang sebenarnya kau rencanakan?! Lepaskan aku! Aku tak akan biarkan kau membunuh Harry yang kucintai! Argg!" ketika Ginny berontak dan bersikeras, ketika Ginny mengucap 'Harry yang dicintainya' tiba-tiba saja Draco hilang dari pandangan Ginny dan sekarang dia ada dibelakangnya sambil menarik rambut panjangnya.

"Akan kurobek mulutmu itu kalau kau masih ribut, Weasel! Dan jangan kau coba menyebut kata-kata Harry lagi dengan mulut busukmu itu!" Geram Draco begitu amat terlihat dengan keluarnya mata ruby-nya lagi. Sirius terkikik pelan melihat reaksi Dark Lord terhebat itu. Dia cemburu dengan gadis biasa seperti Ginny itu?

"Melihat keberaniannya. Biar kusarankan, aku agak ragu dengan kesetiaan Basilisk pada kita. Bagaimana, kalau kita berikan nyonya pemberani ini pada Basilisk setelah Basilisk melakukan tugasnya, hm?" Usul Bathilda dibelakang sana.

"Aku setuju denganmu." Seringai Draco tidak tahan untuk memperlihatkan pada Harry yang sudah berhasil ditangkapnya, bagaimana cara wanita yang dicintainya itu mati dengan mengenaskan.

Ginny yang merasakan aura aneh dari mereka semua mulai bergetar hebat. Tentu saja ia amat takut. Bahkan, ia berharap, akan benar-benar ada orang yang bisa menolongnya saat ini…

IT ALL ENDS

Ini hari Perang…

Ini hari akhir bagi dunia sihir…

Dan saat ini, kegelapan menguasai setiap wilayah dunia sihir. Bahkan, sekarang juga, langit-langit di atas Hogwarts, mulai menjadi gelap sebagaimana warna yang dicintai Draco…

Lucius, bersama beribu-ribu lautan hitam pengikut setia putranya, sudah sampai diatas tebing yang mana mereka semua bisa melihat sejelas mungkin keadaan Hogwarts di bawah sana.

Dark Lord, Luna Lovegood, Bathilda Bagshot, dan Narcissa, berdiri setia di belakang sang pemimpin perang.

Dari sisi hutan terlarang, dipimpin oleh Xenophilius Lovegood bersama Aragog, mempersiapkan para Troll dan hewan-hewan buas lainnya dan juga para suku liar. Disisi pintu masuk belakang Hogwarts, yang dipimpin oleh Blaise Zabini, mempersiapkan para Slytherin untuk menyerbu, dan disisi Barat haluan Hogwarts, Pius bersama pihak-pihak kementrian mulai bersiap.

"Sekarang, sudah tiba saatnya, kita menghirup udara baru untuk kehidupan kita." Ujar Lucius tenang. Lalu, ia mengambil nafas sebanyak-banyaknya ketika beberapa Death Eaters maju kedepan mendampinginya. "….BOMBARDA!" Seru Lucius dan para pendampingnya sambil mengarahkan tongkat sihir mereka kearah pertahanan Hogwarts.

BOOM! BOOM! BOOM! BOOM! BOOM! BOOM! BOOM! BOOM!

Semua yang berada di dalam Hogwarts melotot melihat pertahanan Hogwarts mulai menipis.

"SEMUANYA PADA POSISI MASING-MASING! LINDUNGI PARA KEPALA SEKOLAH DAN BAPAK KEMENTRIAN! PERANG DIMULAI!" Perintah Minerva.

Semua mulai bersiap di posisi masing-masing. Dumbledore, Fudge, Maxime dan Igor dihalau Hagrid, Severus dan beberapa rekan lain untuk menuju menara astronomi.

Bathilda dan Draco tersenyum menyeringai melihat keadaan luar biasa itu.

"SEMUANYA! SERAAANG!" Teriak lantang Lucius, Pius, Xenophilius dan Blaise.

"WHOAAA!" Seru para penyerang sambil berlari menuju arah Hogwarts.

BOOM! BOOM! BOOM!

Perang dimulai, para Dementors dan patung-patung ksatria bersiaga menjaga pintu depan Hogwarts.

"Expecto Patronum!" Teriak Luna dan Draco bersamaan untuk menghalau makhluk-makhluk menjijikkan itu. Ya, mereka harus segera pergi kekamar rahasia.

DUAARR! DUAARR!

"Proffessor Minerva! Pintu masuk barat sudah dihancurkan! Mereka sudah masuk Hogwarts!" Seru seorang auror. Minerva mendecak kesal, tak disangka ternyata ada orang dalam yang berada di pihak Dark Lord, rencana perang Dumbledore mulai kacau. Untung saja untuk berjaga, Harry sudah diamankan.

"Tetap pertahankan posisi kalian! Tetap menyerang! Berusaha melindungi diri dan lindungi pula yang lain! Keluarkan semua kemampuan kalian!" Tegas Minerva dengan lantang.

Draco menyeringai. Ia berjalan santai kedalam kastil dengan Luna yang setia mendampinginya. Sampai saat ini, keadaannya masih sehat-sehat saja, membuat Draco percaya diri akan dirinya yang sudah mengatasi vampire sialan itu.

Pasukan yang berada disisi-sisinya membuat pertahanan agar Draco tak terluka sedikitpun. Ya, Draco dikawal secara acak dan tersembunyi hingga ia menuju kamar rahasia.

Beberapa pihak Hogwarts yang mengetahui bahwa Sang Dark Lord berhasil memasuki Hogwarts, mereka berlomba-lomba menjauh dari kekuatan yang hebat itu, hanya dengan melihat sosok tampan dengan surai platinum, dagu yang lancip dan mata ruby itu, murid Hogwarts yang masih hijau pengalaman perangnya mulai gentar. Siapa sangka, murid yang sebaya dengan mereka menduduki posisi Dark Lord dan mereka merasakan kekuatan hebat itu hanya dengan melihat keangkuhan cara berjalan Draco.

"Sial." Gumam Dumbledore yang mengetahui Draco berhasil memasuki Hogwarts. "Aku harus turun untuk membunuh bocah itu!" Geramnya.

"Tunggu, Proffesor! Dia hanya mencari Potter, jangan sia-siakan nyawamu untuk setitik emosimu. Biarkan aku memancing dirinya pergi kemari." Cegah Snape. Ya, matanya melirih melihat sosok anak baptisnya selama di Slytherin ituyang sekarang tengah berjalan dibawah sana. Sosok Draco berubah begitu menyeramkan dimata Snape. Ia tahu semua masalah Draco, dia ia juga tahu apa tujuannya mengincar Potter. Snape tau ia mencintai pemuda bernama Harry Potter itu. Terlarang memang, tapi, Snape juga pernah merasakan perasaan menyiksa itu ketika hati kita tak sengaja mencintai seorang yang berjenis sama dengan kita.

Ya, James Potter…

Severus turun dari menara astronomi setelah dapat menenangkan emosi Albus Dumbledore.

Disisi lain, Cedricc tahu kemana tujuan Draco sekarang, Cedricc tahu kalau Draco akan membangunkan ular keparat itu!

Dengan amat bersusah-susah melawan beribu-ribu penjahat yang mengincarnya lagi dan lagi, Cedricc tetap berusaha untuk mengejar musuh bebuyutannya itu.

Siapa sangka, bahwa anak dalam ramalan lainPeverell ini menginginkan hal yang sama juga dengan Draco. Harry Potter memiliki kelebihan-kelebihan yang tidak mereka miliki.

Ya, Harry Potter memiliki aura kebaikan yang begitu suci.

Draco dan Cedricc, sama-sama ingin memilikinya…

Perang sudah terpecah belah di tempat menuntut ilmu ini. Tapi perang berjalan tidak seimbang. Pasukan Dark Lord beribu-ribu lebih banyak dari pasukan Dumbledore. Itu membuat satu-persatu nyawa yang suci melayang.

Bahkan, pasukan-pasukan terkuat dan tersadis berada di pihak Dark Lord memang tak bisa dianggap enteng keberadaannya. Membuat pahlawan dari pihak Dumbledore mulai pesimis bahwa Draco akan menang dan mengalahkan Dumbledore. Namun, seketika semangat mereka muncul ketika mereka mengingat, mereka memiliki pahlawan lain.

Ya, pahlawan yang sedang di sembunyikan sekarang…

IT ALL ENDS

Sementara itu, jauh di dunia muggle sana…

Harry sedang bersama Lupin, Hermione, Ron dan Neville. Dia masih bersembunyi di kediaman keluarga Dursley. Vernon, Petunia dan Dudley tak pernah menyadari bahwa Harry tidak sendiri di kamarnya. Bahkan, semua penduduk muggle tidak tahu bahwa dunia lain disana sedang berguncang.

Mereka juga tak menyadari keadaan buruk yang akan menimpa keadaan mereka nanti.

Harry terduduk dengan rasa yang amat bersalah. Kawan-kawannya memahami perasaannya itu.

"Harry, tenanglah." Ujar Hermione sambil mengusap bahu Harry.

"Bagaimana aku bisa tenang, Mione! Mereka semua tengah berperang sekarang sedangkan aku hanya bisa bersembunyi seperti ini!" Geram Harry kesal. Rasanya, ingin menangis saja. Bagi Harry, sudah cukup kalau dia kehilangan orang tua yang disayangnya. Ia tak mau kehilangan siapa-siapa lagi…

Ron menundukkan kepalanya. "Aku juga khawatir pada Ginny.. dan juga yang lainnya." Ungkapnya gelisah. Ucapan Ron, membuat Harry tambah terpukul dan benar-benar menyalahkan dirinya.

Mata hijau Harry mulai menajam. Ia marah, tentu, sangat marah. Bahkan, ia berharap bisa bertemu Draco Malfoy dan membunuhnya! Ia yakin, ia tak lemah. Harry kuat, dia yakin bisa mengalahkan Draco…

IT ALL ENDS

Draco sampai di kamar mandi milik Myrtle. Tapi saat itu, Draco menjatuhkan lututnya kelantai.

"Ukh.."

"Draco, kau baik-baik saja?!" Luna langsung menahan lengan Draco. Draco tak percaya kenapa badannya jadi lemah begini. Jiwa vampirenya tengah berguncang, dia merasakan ada hawa aneh di kejauhan sana yang berniat membunuhnya…

"Fufufu, Ohh The Dark Lord~~ Mau pergi ke kamar rahasia, hm?" Myrtle muncul dan mendekat pada Luna dan Draco.

"Khh… apa yang ingin kau katakan?!" Desis Draco. Luna berusaha menggulung lengan bajunya dan memberikan lengannya pada Draco.

"Kuberitahu saja… aku juga muak dengan kastil ini, aku juga berharap Basilisk cepat-cepat di keluarkan dari kastil… tapi aku rasa, satu orang tumbal saja yang akan kau berikan nanti, aku yakin dia takkan mau menuruti perintahmu, Dark Lord." Ujar Myrtle.

"Dray!" Pansy datang bersama Crabbe dan Goyle yang membawa Ginny. "Kau baik-baik saja?!"

"Tenang, Pans. Aku tak apa." jawab Draco ketika sudah menghisap darah Luna.

"Baguslah kau sudah menghisap darah duluan. Tapi aku menyarankan, dengan keadaanmu yang seperti itu, kau hanya bertahan di kamar rahasia satu jam saja, fufufu." Tambah Myrtle dan lalu ia menghilang di balik dinding.

Draco tahu hantu perempuan itu tidak main-main, ia lalu menyentuh keran yang bergambar ular itu dan kemudian berkata dengan bahasa Parseltongue.

"OPEN"

Seketika westafel berdiri yang berputar itu mulai bergerak dan membuka sebuah pintu masuk. Kemudian, Draco dan lain turun kesana. Mereka berhasil membuka pintu rumah Basilisk dan kemudian, kepala ular yang besar muncul ketika Draco baru saja menyuruh teman-teman dan gadis Weasel itu untuk menutup mata sebentar agar tidak ada siapapun yang terbunuh lebih dulu. Sedangkan Draco, dia menggunakan mata Ruby vampirenya untuk berbicara dengan ular keras kepala itu.

"Dare You… apa yang kau inginkan sehingga membangunkanku dari kelelapan, bocah?" Suara bernada besar dan menyeramkan dari ular raksasa itu, membuat semua yang memejamkan mata mulai merinding.

"Aku ingin kau menghancurkan Hogwarts." Perintah Draco.

"Heh, kau siapaku bocah sialan? Beraninya kau menyuruh peliharaan Salazar sepertiku." Ejek Basilisk, dia tahu, Draco tak memiliki kehebatan seperti tuannya terdahulu itu.

"Ini." Draco menyeret lengan Ginny yang masih terikat itu dan menunjukkannya pada Basilisk. "Aku akan memberi makanmu ketika kau berhasil mematuhi perintahku."

"Brengsek kau, Malfoy!" Umpat Ginny namun dengan segera Draco menjambak rambutnya. Membuat Ginny tak berhenti meringis.

Basilisk menatap kearah gadis berambut merah yang tengah memejamkan mata dan memberontak disamping Draco itu. "Aku bukan kelinci percobaan yang bisa kau manfaatkan, bocah." Geramnya.

"Oh ayolah, Basilisk. Apa kau tidak tahu, aku ini seorang Dark Lord, dan diluar sana terjadi perang yang besar! Apa kau tidak merasakannya?" Basilisk menatap tidak percaya. Tapi, ia membenarkan bahwa Draco memang Dark Lord pengganti Voldemort saat ini. Aura hitam yang memancar di sekitar pemuda tampan itu hebatnya bukan main.

"Baiklah kalau begitu, aku ingin semua mayat yang mati menjadi santapanku di akhir perang nanti. Tapi jika kau yang memenangkannya, jika kau kalah, aku akan mencari dirimu untuk makananku" Tawar Basilisk.

"Sure." Seringai Draco ketika dia melihat semua badan Basilisk mulai melata keluar dari kamar rahasia. Betapa Draco senang bisa memenangkan peperangan ini nanti justru kalau Basilisk berada di pihaknya.

Dan ketika Basilisk keluar, saat itu, ada tiga asap hitam yang terbang menghampiri Draco. Ketika ketiga asap itu berada dekatnya, mereka berubah menjadi sosok Blaise, Sirius dan Peter.

"?" Draco mengerutkan alisnya melihat kedatangan mereka yang tiba-tiba lebih cepat itu.

"Gawat Dark Lord, Tuan Lucius, Nona Narcissa dan Nona Bagshot berhasil meringkus Fudge, Igor dan Maxime. Mereka sekarang tengah memojokkan Dumbledore! Kita dibohongi, Dark Lord! Harry Potter tidak berada di Hogwarts!" Jelas Peter.

Mendengar kabar itu, Draco amat marah. Dia tidak menyangka ada rencana lain yang di persiapkan kakek tua sialan itu. Urat didahi Draco berkedut, gigi Draco bergemeretak dan mata Draco menjadi berwana Ruby yang amat pekat dan tajam.

"DARE YOU, DUMBLEDORE! I'LL KILL YOU! AKU AKAN MEMBUNUH SEMUA YANG MENYEMBUNYIKAN POTTER DARIKU!" Teriak Draco marah dan mulai menjadi asap hitam yang akan menuju menara astronomi.

IT ALL ENDS

Dumbledore tepat berada di ujung jendela menara astronomi. Ia bisa lihat dengan jelas, wanita tinggi bernama Maxime itu berada di genggaman Xenophilius, Igor Karkaroff sudah babak belur di tangan Pius, Fudge juga sudah tak berkutik lagi di tangan Lucius. Hagrid di tahan oleh Regulus dan Severus berhasil di tahan Bellatrix.

Dan saat ini, tangan kanan Dumbledore yang memegang tongkat Elder, berhasil dilumpuhkan Bathilda yang sekarang tengah memojokkannya.

"Aku tak sangka kau salah satu perencana perang di pihak Draco…" Gumam Albus datar. Tak terima memang ada pertahanan dan penyerangan yang begitu kuat dipihak lawannya. Bahkan, dengan kehadiran wanita langka itu saja sudah membuat perang Draco begitu sempurna.

"Kenapa? Kau pikir aku sudah mati?" Ujar Bathilda menyindir. "Aku amat membencimu Albus, karena kau telah membunuh semua Peverell tercintaku… asal kau tahu saja, ramalan Trelawneypun berjalan sesuai skenarioku…" Ungkapnya sambil memancarkan tatapan benci yang amat dalam pada Dumbledore.

Dumbledore melotot mendengar kebenarannya, bahwa sejak kelahiran Harry Potter dan kemunculan Voldemort, dia memang sudah dibodohi ramalan sialan itu.

"Ya, meski sesuai dengan skenarioku. Tapi, kemunculan Potter itu memang benar adanya." Ungkap wanita tua itu. Tentu saja, kehadiran Draco, Potter dan Cedricc adalah karena ketidak sempurnaannya ramalan Bathilda sehingga menghasilkan anak-anak yang malang itu.

"SIALAN KAU, KAKEK TUA BRENGSEK!" Draco muncul dari asap hitam tepat berada dihadapan Dumbledore. Semua yang ada di tempat maupun yang mengikutinya melotot melihat aksi terang-terangan Draco itu.

"DRACO!" Ujar Lucius dan Narcissa cemas mengingat Albus masih memiliki tongkat sakti itu. Baru saja di khawatirkan, Draco yang tengah mencekik leher Albus itu membuat Albus berkesempatan mengacungkan ujung tongkat eldernya kearah leher Draco.

"Catch you…" Seringai Dumbledore. "Stup—"

Krrk. Suara tulang remuk lengan Dumbledore terdengar ketika Draco menggenggam lengan yang mengancamnya dengan tongkat Elder itu. Draco amat marah, terlihat jelas di bola mata merahnya. Perlahan, Draco mengambil alih memegang tongkat tua itu.

"Ingat masamu, Dumbledore." Senyum Draco licik. "Katakan padaku, DIMANA POTTER?!"

Albus tetap menatap datar kemarahan pemuda dihadapannya ini. Dan saat itu, ia sempat melirik kearah kawan-kawan di menara astronominya itu. "—sampai matipun, aku akan menjaga Harry. Aku tak akan memberitahukannya padamu, Draco."

Kata-kata Dumbledore membuat Draco tambah naik pitam, semua yang ada disana mulai khawatir dengan keadaan selanjutnya. Sehingga…

"AVADA KEDRAVA!" Suara lantang Draco membuat tubuh gumpal Dumbledore jatuh kebawah sana. Semua tersenyum melihat keindahan suasana itu. Bahkan, mereka bangga melihat Dark Lord muda yang mereka puja.

"Expelliarmus!"

"Aw!" Bellatrix terpental dan membuat semua mata teralih. Namun pada saat itu, Severus berubah menjadi asap hitam dan pergi entah kemana.

Draco tercengang melihat kelonggaran pertahanan Bellatrix itu. Tapi ia mencurigai Snape akan pergi kesuatu tempat yang menunjukkannya kepada Potter.

Dengan segera, Draco merubah dirinya menjadi asap dan berusaha mengikuti jejak Severus. Dan dengan sengaja diikuti Blaise, Pansy, Luna, Sirius dan Peter Pettigrew.

Hari ini, Albus Dumbledore telah tiada.

Perang disini, menyatakan, pihak putih gugur dan pihak hitam berkuasa.

Perang berakhir disini, tapi misi Draco belum terlaksana.

Harry Potter-nya belum ia temukan, Harry Potter yang seharusnya menjadi ancaman untuk keselamatannya…

To Be Continued…

Huffft *heboh sendiri pas ngetik*

Sorry ya all, jadinya kek gini, osh, author gapuna ide buat bikin plot perang :3

Dan mian juga TBC dulu,,, osh, masih dipikirkan ide yang matang biar fic-nya tambah seru XO

Dan sebagai bocoran, author berusaha untuk mempublish ff Dare You pada hari Jumat *tidak ditentukan waktunya* karena author juga manusia yang punya urusan didunia nyata dan kewajiban menjalankan ff yang lain DX

Dan sepertinya, ff ini juga sebentar lagi mau tamat =,=

Yosh, daripada banyak cingcong author yang bikin OOC, di ripu aja dulu boleh? :*