A Harry Potter Fanfic
Pairing : DMHP
"DARE YOU"
CURANG.
TIDAK ADIL.
Selalu saja begitu.
Mengapa selalu pihak yang benar yang selalu dimenangkan?
Layaknya scenario film, novel ataupun komik-komik?
SHIT.
Memangnya tidak boleh kalau tokoh antagonis yang menikmati "Happy Ending"?
Memang di akui, 'Draco Malfoy', adalah tokoh antagonis. Musuh dalam cerita ini. Tapi, tidak berhak-kah jika tokoh antagonis mencintai tokoh protagonis?
Di setiap cerita SELALU ADA unsur percintaan, bukan?
Dan BIASANYA, pihak antagonis selalu dikalahkan oleh pihak Protagonis.
Tidak bisakah pemikiran itu kita balik-kan?
Setuju-kah kalian jika 'AKU' mencintai Harry Potter?!
Dapatkah kalian mendukungku, 'Draco Malfoy' untuk memenangkan perang ini sehingga 'Malaikat' itu jadi milikku?
Lihat saja, aku akan mengubah semua pemikiran itu!
Karena 'Harry Potter' hanya milikku seorang…
Dare You… Draco… *Tembak Author*
0o0IniAdalahFanfiction,SemuaKeanehanBisaTerjadiDisi ni…#WilayahBebasKarangAuthor#0o0
DUARR.
Ledakan besar terdengar di sekitar jalan Privet Drive. Ledakan jelas-jelas terdengar dari kediaman Dursley. Semua Muggles yang tinggal di sekitarnya tak ada yang berani untuk keluar rumah. Selain ledakan itu misterius, haripun masih tengah malam. Ditambah lagi, itu hanya ledakan sekilas tanpa meninggalkan bencana kebakaran. Bahkan untuk membuka tirai jendelapun, mereka tak cukup nyali…
"SIAL! SIAL! SIALAAN!" Seorang pemuda dengan postur bak pangeran yang disertai rambut platinum berwarna remang di tengah malam itu, mengumpat kesal sambil menendang sisa-sisa kayu rumah yang sudah tak berbentuk lagi itu.
Tiga sahabatnya masih tenang disisinya, sedangkan dua orang lain yang menemaninya, tampak terlihat mengambil jarak dari sang Dark Lord, yang satu ketakutan, dan satu laginya malas mendengarnya.
"KEMANA HARRY-KU PERGI?!" Teriak Draco garang. Dan tak segan-segan lagi menendang mayat gendut yang sekujur tubuhnya terlihat gosong hingga terpental kearah dua mayat yang juga mati mengenaskan. Dan saat ini, pikiran Draco tak terkendali hanya karena kakek tua bangka itu mengelabuinya.
Kedua tangannya bergemeretak hanya karena tak sabar ingin menangkap 'Harry Potter'nya dalam pelukan.
"Bersabarlah sedikit, Dray. Kita pasti akan menemukannya." Rajuk Pansy.
"Jangan buang waktu-waktu terakhir dengan emosi egoismu. Karena beberapa menit lagi kau harus mengganti darahmu." Terang Luna datar.
Ketika suara sang pangeran kegelapan tak terdengar lagi, Sirius mengendus-endus sekitarnya. Kemudian, ia menoleh kearah sang Dark Lord yang tengah naik darah itu.
"Aku mencium bau Snape. Sepertinya, tak lama mereka pergi dari sini. Arahnya menuju Leacky Cauldron." Terangnya datar.
Mendapat penjelasan itu, langsung saja Draco terbang meninggalkan yang lain.
"Ck. Dasar anak itu." Decak Blaise.
0o0
Sementara di Leacky Cauldron...
"Cepat-cepat, kita harus segera pergi ke tempat yang lebih aman." Snape menggiring trio Gryffindor dan Neville yang berjalan di depannya di koridor yang sempit ini. Sedangkan Lupin masih setia berjalan di belakang pria berjubah hitam itu yang terlihat panik.
"Proffessor! Apa yang sebenarnya terjadi?!" teriak Harry yang berjalan paling depan, ingin sekali menggapai proffessor pembawa informasi di belakang sana, namun ketiga teman di belakangnya terus melaju dengan arus arah yang berbeda darinya. Karena koridor yang sempit ini, mau tak mau, Harry pun tetap melangkah kedepan dengan kepala yang berputar kebelakang.
Tak ada sahutan dari Snape. Nampak terlihat Snape sibuk berdiskusi dengan Proffessor Lupin.
"Apa kau bilang? Ini bercanda kan?!" Ujar Lupin tak percaya. Jeritan Lupin membuat keempat anak yang di depan tersentak dan menghentikan langkah. Menoleh khawatir pada kedua guru yang ada di belakang. Sebenarnya apa yang tengah di ceritakan Snape pada Lupin?
"Proffessor, ceritakan pada kami, sebenarnya apa yang terjadi?" Kini, Hermione yang mulai gundah sudah tidak kuat dengan informasi yang di sembunyikan Snape ini.
"Sudahlah anak-anak. Aku harus mengamankan kalian, sebaiknya kalian cepat berjalan." Ungkap Snape. Wajahnya tetap dingin, namun terkesan panik terlihat. Lupin pun bungkam. Jika anak-anak itu mendengar apa yang baru saja Snape sampaikan, entah reaksi positif atau negatif yang akan di keluarkan.
Namun, melihat sikap Snape, membuat keempat murid Gryffindor itu miris dan melanjutkan langkahnya menuju ruang yang lebih luas dari pada koridor ini. Mereka takut akan berita buruk yang akan mereka ketahui nanti.
DUARR!
Ledakan terjadi tepat di belakang Lupin. Dinding batu yang kokoh langsung runtuh seketika. Snape dan Lupin siaga ketika mereka telah sampai di ruang yang luas. Nyaris saja mereka mati terjepit bebatuan yang runtuh dalam koridor yang sempit.
"HUAHAHA! KUTEMUKAN KAU, HARRY!" Tawa membahana terdengar dari arah asap yang di timbulkan akibat batu-batu runtuh yang saling menimbun. Perlahan, asap debu itu mulai menipis dan memperlihatkan sesosok yang HARUSNYA mereka hindari.
"Mustahil! Kenapa Dark Lord bisa sampai kemari!? Apa jangan-jangan, Proffesor Dumb—"
"Tenanglah, Ron! Kita masih belum tahu tentang itu!" Cegah Hermione tak ingin Ron meneruskan sesuatu yang tak mau ia percayai dan dengar.
Draco nampak semakin jelas. Dengan setelan yang masih rapi, mata ruby yang memikat, kekuatan maksimal dan Nagini yang melilit setia di dekat lehernya.
"Aku senang, Tuan Dark Lord memanggilku ketika kita sudah menemukan orang yang tuan cari." Ujar Nagini sambil melilit manja di dekat Draco. Ya, Draco hanya datang sendiri bersama ular yang cukup besar itu.
"Sial! Lupin, bawa pergi mereka sejauh mungkin, biar aku yang tangani disini." Pinta Snape. Lupin meragu untuk meninggalkannya. Karena terlihat, Snape dalam keadaan yang tidak baik.
"Oh ya, Nagini. Bagaimana keadaan di Hogwarts?" Tanya Draco tenang. Sengaja ingin memberitahu kebenaran pada mereka yang tersisa disini, siapakah pemenangnya.
"Kita menang telak, Dark Lord! Perang telah usai! Tinggal mengambil hakmu saja untuk kita bawa pulang."
Snape dan Harry mendelik. Ia mengerti bahasa ular itu, Harry tak percaya dengan pengakuan Nagini.
"REDUCTO!"
Buum. Cahaya melesat tepat mengenai sisi lantai kiri Draco. Nyaris saja Draco terkena karena serangan mendadak itu.
"Harry! Apa yang kau lakukan!" Seru Hermione waspada.
"Aduh-aduh, Harry-ku sayang... kenapa kau kasar sekali pada pangeran yang akan menjemputmu ini?" Draco kecewa sambil geleng-geleng.
"Apa dia sudah gila!" Umpat Ron.
"Dia...Dia berkata perang usai... dan kita kalah..." Geram Harry tertahan. Berkata pada sahabat-sahabatnya.
"Ini tidak mungkin." Gumam Neville.
"Itu mungkin, Long Bottom! Kalau kau tak percaya, kau lihat saja Hogwarts nanti." Jelas Draco sombong. "Nah, Harry datanglah ke pelukanku." Seringainya.
"Kau gila, Malfoy!" Ujar Harry sambil mulai berlari mendekat mencari strategi untuk menyerang Draco.
"HARRY!" Teriak yang lain khawatir dengan ambil tindakan dari Harry.
"Cih. Anak itu." Decak Snape sambil mengikuti langkah Harry.
BOOM! BOOM! BOOM!
Ledakan terus terlempar menuju Draco dan dengan sigap Draco menghindar. Karena kekuatan vampire-nya ia bisa bergerak dengan cepat.
Namun, ketika Harry terus terfokus pada Draco untuk menyerangnya, tiba-tiba sosok Draco menghilang dari pandangannya dan dengan cepat muncul di belakang Harry.
"Kudapatkan Kau!" Bisik Draco menyeringai ketika lengannya melilit leher Harry.
"SECTUSEMPRA!" Kilatan dari tongkat Snape berhasil mengenai bahu Draco sehingga Draco terpental jauh dari Harry. Dan saat itu, Nagini melepas diri dan melompat kearah Snape. Gigitannya berhasil mengenai bahu Snape. Tak terima tuannya di lukai.
"Proffessor! Kau tak apa?" Harry menghampiri Snape yang tersungkur. "Tadi kulihat, tongkat Dumbledore di genggamnya! Sebenarnya ada apa, Proffessor!?"
Snape menyentuh bahu Harry. "Kumohon Harry, pergilah bersama yang lain. Kau tak akan bisa mengalahkannya. Seperti yang kau lihat, dia Dark Lord, Vampire, dan memiliki tongkat Elder." Saran Snape.
"TIDAK! Aku tak akan membiarkannya!" Harry berlari, kembali akan menyerang.
Draco beranjak. Darah bercucur dari bahu kirinya. "Cih. Kau hebat bisa mengenaiku, aku lupa akan hadirnya dirimu disini, ayah baptis." Ungkap Draco pada Snape yang juga tengah beranjak untuk menghentikkan Harry. "Tapi maaf saja, mataku di gelapkan untuk mendapatkan Harry! AYO HARRY! DATANGLAH KEPELUKANKU!" Draco merentangkan kedua tangannya menunggu Harry yang berlari menuju kearahnya untuk menyerang. Ia tahu, saat ini ia mencapai batasnya. Ia harus menghisap darah. Setidaknya, ia bisa menghisap darah Harry ketika berada di pelukannya nanti.
"EXPELLIARMUS!" Harry mulai menyerang kedalam pertahanan Draco yang terbuka lebar.
BOOM!
Namun tiba-tiba, serangan Harry terpental dan terdengar ledakan lagi, ada orang yang lain datang. Ternyata, itu kawanan Draco. Luna dan Blaise langsung mengamankan Draco, Pansy mengambil Nagini dan Snape mengamankan Harry agar terhindar dari reruntuhan.
"Heh, kau lupa pada kami, Snape." Ungkap Sirius slengean.
"Kau ceroboh sekali, Draco. Cepat hisap!" Luna menggulung lengan kemejanya dan membiar taring Draco menancap di pergelangannya.
"A-apa itu?!" Gumam Ron jijik.
"Hermione, Ron, Neville, cepat bawa Harry pergi, keadaan sudah tak aman." Ungkap Lupin. Mereka mengerti kode itu dan langsung menuju Snape dan Harry.
Dengan segera Neville dan Ron menopang Harry yang sepertinya akan keras kepala untuk menyerang dan mereka melarikan diri, diikuti dengan Hermione.
"Cih! Kita harus kejar mereka!" Geram Draco sambil mengusap darah disekitar bibirnya, tak ingin melepas Harry lagi.
Lalu, Draco mengejar Harry diikuti Luna, Blaise dan Pansy. Namun, Snape dan Lupin menghalangi jalan mereka, namun mereka di serang oleh Sirius dan Petter.
"Serahkan yang disini pada kami, Dark Lord." Ujar Petter takut.
"Aku serahkan pada kalian. Jangan sampai ada yang menang dari mereka!" Perintah Draco dan lalu mereka berempat mengejar Harry.
Ketika semua anak-anak tak tampak, kini tinggal 4 orang yang ada di tempat itu.
"Lama tak berjumpa, Moony." Ungkap Sirius dengan mata yang amat lembut melihat sang kekasih yang masih terlihat manis itu.
"Cih" Decak Lupin lalu mengambil kesempatan untuk mengejar yang melarikan diri.
"Ckckck, masih liar saja dia. Petter, kuserahkan Snape padamu. Maaf Snape, aku tak bisa bertarung denganmu dulu. Ada masalah yang harus kuselesaikan." Seringai Sirius sambil mengejar Lupin.
0o0
Sementara itu, Harry yang terus berontak masih di amankan Ron dan Neville dalam cengkraman mereka dan Hermione juga masih setia mengikuti di belakang. Nampak ketiganya panik dan tergesa-gesa, berbeda dari Harry yang ingin sekali menonjok wajah tampan Draco Malfoy itu. Kebenciannya terasa makin pekat hingga tak sadar beberapa kali menyakiti kedua sahabat laki-lakinya.
"Mione, apakah mereka mengejar kita?! Apa yang harus kita lakukan?! Kita akan kemana?!" Ron yang nampak kacau pikirannya antara kondisi terancam mereka sekarang dan kabar keluarganya dalam perang.
"Aku tidak yakin, dan juga aku tidak tahu lebih baik kita kemana?!" Hermione yang cerdas itupula bisa panik layaknya tercekik. Iya tahu benar, keadaan mereka belum tentu bisa menyerang Dark Lord dan kawannya. Hanya bisa berharap Proffessor Snape maupun Lupin dapat menyusul mereka.
"Apa kita ke Hogwarts saja?" Gumam Neville benar-benar buntu.
"Tidak! Hindarkan Hogwarts saat ini! Aku butuh ketenangan untuk berpikir!" cegah Hermione. Setidaknya, ia harus bisa mendapat ruang tenang barang satu atau dua jam. Tapi dimana? Tak ada yang terlintas di pikiran Hermione selain kastil tua yang jalannya terhubung kearah pohon di dekat Hogwarts. "Aku ada ide, tapi, aku tak begitu yakin kalau kita tak terkejar, aku butuh penarik perhatian untuk mengulur waktu." Ungkap Hermione pasrah akan taktik terakhirnya. "Aku percaya dengan kekuatan Harry yang bisa saja mengalahkan Draco, tapi.."
"Biar aku saja yang mengalihkan perhatian mereka, Hermione." Saran Neville.
Mereka berhenti dari pelarian hanya untuk mendengar keseriusan teman yang dulunya ceroboh itu.
"Tapi aku tak yakin—" Cegah Hermione.
"Kau bicara apa!" Bentak Harry dan Ron bersamaan.
Neville tetap berdiri dalam pertahanannya hanya dengan wajah yang diam. Mereka bertiga kalut karena Neville benar-benar serius dengan ucapannya.
"Tidak apa, kalian pergilah kekastil itu, sebisa mungkin aku akan menahan mereka hingga butuh lama bagi mereka kembali ke dunia sihir. Aku percaya akan kekuatan Harry, aku juga yakin pada kepintaran Hermione, dan aku percaya dengan perlindungan Ron terhadap kalian semua padaku." Ungkap Neville yakin. Tak ingin kawannya itu mencemaskannya.
Wajah mereka bertiga meringis. "Kami percaya padamu, Neville." Ron, Harry dan Hermione menepuk pundak Neville, menguatkan.
Lalu ketika itu, Hermione menggunakan teleportasi untuk membawa dirinya dan kedua temannya ke kastil yang di tuju.
0o0
Di tempat awal mula keruntuhan Leacky Cauldron. Tersisa dua rival yang tak imbang. Seorang pria dengan tinggi normal beserta serba hitamnya, dengan seorang pria pendek gendut yang amat menyerupai tikus.
Wajah Snape tetap datar. Ia merasa saat ini ada yang lebih penting ketimbang melawan teman lamanya yang tak berguna itu. "Jangan main-main denganku Peter. Semenitpun aku bisa mengambil nyawamu. Jangan sia-siakan nyawa tak bergunamu yang sedikit itu."
Peter terkikik kecil seperti tikus. "Kau pikir selamanya aku akan menjadi pengecut dan memiliki kekuatan tak berguna, Severus? Aku juga merasa kasihan bahwa selama ini kau berpikir aku hidup dengan sia-sia."
"Aku tak meremehkan kehidupan tak bergunamu! Justru aku yang menyayangkan nyawamu!" Bantah Snape.
"Ya. Kau benar, Severus. Aku terlahir sebagai pengecut. Hidup di balik siapa saja yang paling kuat, dan aku tetap bisa menjaga nyawaku meski aku membunuhmu. Lihat saja ini." Peter mengeluarkan tongkat sihirnya dan mengarahkan kesamping bawahnya. Sambil menggumam, seketika, genangan air yang teratur terangkat dari sana sehingga berdiri lebih tinggi dari Peter maupun Snape.
Severus merasa heran dengan sihir yang tak pernah ia lihat itu. Ia terus memperhatikan dengan seksama. Sebenarnya apa yang dilakukan oleh Peter? Dan mengapa genangan air itu berubah menjadi bentuk sesosok manusia yang lebih tinggi darinya?
"Jangan kaget ketika melihat ini, Severus. Aku sudah tahu sejak awal dan dia akan menjadi budakku saat ini." Seringai Peter ketika perlahan-lahan genangan air berbentuk manusia itu perlahan-lahan menjadi sesosok manusia asli.
Mata hitam Snape melotot melihat genangan air tadi menjadi sosok lain yang sempurna.
"...James Potter..." Ucap Snape kaku.
Sosok berkulit pucat itu sadarkan diri dan melihat kawan lama berada di sampingnya. Dan mantan kekasih berada di hadapannya. "Oh! Apa ini!" James tersadar dengan keadaannya dan mendelik kearah Peter.
"Maafkan aku James." Ungkap Peter terkikik.
"Cih! Sial! Sihir yang ku kembangkan dan tak pernah kugunakan malah digunakan orang sepertimu!"
"Sudah kubilang aku minta maaf, bersenang-senanglah." Peter tau resiko menggunakan sihir terlarang itu. Perlahan tubuhnya berubah menjadi tikus dan dengan cepat pergi kearah lain. Ya, daripada mati, Peter lebih memilih menjadi seekor tikus untuk selamanya.
"Ah, payah! Aku harus melawanmu, deh." Decak James sambil tersenyum.
"James? Apa benar itu kau?" Severus tak yakin dengan sosok yang ada di hadapannya. James sudah meninggal bukan?
"Seperti yang kau lihat, aku hanya mayat hidup yang akan kembali kealam baka setelah memenangkan pertarungan ini. Baik kalah ataupun menang. Haa, padahal aku ingin melihat Harry."
"Lalu, kenapa kau tak berada di pihakku saja?" Severus bernegosiasi. Bukankah lebih baik ada dua orang ayah yang melindungi Harry?
"Tidak bisa Snape, aku di kehendaki di pertarungan ini oleh Peter. Bahkan Peter merelakan kehidupan manusianya." Ungkap James dingin. "Jadi, maafkan aku, Honey..." James mulai berlari menyerang Snape tanpa ragu.
0o0
Remus Lupin berlari secepat mungkin demi menyusul anak-anak. Apalagi di depan sana ada Dark Lord termuda yang mengincar Harry. Lupin percaya bahwa kemenangan di pegang oleh Draco, tapi apa yang menyebabkan Draco mengincar Harry? Apakah keberadaan Harry adalah ancaman baginya? Tapi kenapa keluar kata-kata sayang dari mulut Penjahat Brengsek itu? Apakah Draco telah jatuh pada Harry? Kalau memang begitu, bukankah Harry bisa memanfaatkan kelemahan itu?
Lupin was-was terhadap keadaan anak-anak, apalagi, Sirius tak menyerah untuk mengejarnya. Lupin tahu laki-laki itu adalah satu-satunya ras manusia serigala yang paling kuat.
Kebimbangan dalam hati Lupin semakin menyeruak, apakah ia bisa mengalahkan kekasihnya yang gelap mata itu?
"Catch You!" tanpa sadar, Lupin melotot sempurna ketika sebuah tangan memeluk erat tubuhnya dari belakang. Ah, sial! Lupin tahu laki-laki bernama Sirius itu memang lebih unggul segala-galanya daripadanya.
"Ck. Lepaskan aku, Brengsek!" Geram Lupin sambil berontak.
"Kau dingin sekali, Moony. Padahal sudah lama aku tak bertemu wajah indahmu." Sirius memejamkan mata, berpuas ria mengendus helaian rambut sang kekasih.
Dan seketika, Sirius menjauh dari Lupin ketika menyadari ada gerakan ancaman dimana Lupin berusaha mengeluarkan tongkat sihirnya untuk menyerangnya.
"Baiklah. Kalau kau tak membiarkanku pergi, aku akan serius melawanmu." Tongkat sihir Lupin mengacung menantang kearah kekasih yang sudah tak di anggapnya lagi karena pergi meninggalkannya.
Sirius terdiam dengan keseriusan sang kekasih tercintanya. Kemudian ia tertawa miris meresponnya. "Hehehe, Moony-ku sayang..."
0o0
"Cih, seberapa jauh jarak mereka pergi?" akibat baru menghisap darah lagi, kekuatan Draco belum stabil pulih benar untuk melacak keberadaan Harry. Benar kata nenek tua itu, Draco kalah pada ketergantungannya terhadap darah yang masih belum normal, apalagi, Luna sudah tak bisa di sesapnya lagi. Mau tak mau, Draco harus segera memiliki Harry dalam pelukannya sebelum dia kehabisan darah lagi.
"Aku tak bisa memprediksi dengan jelas, banyak bau-bauan aneh yang tak bisa di lacak, harusnya mereka tak jauh dari kita." Jelas Luna.
"Ini aneh, apakah kita kena jebakan? Lagipula, mereka hanya 3 kutu kecil selain Potter." Blaise menduga-duga, karena ia merasa sudah melangkah jauh, harusnya di depan sana sudah terlihat jarak Potter dan kawan-kawannya, kan?
Pansy yang berada dipaling belakang bersama Nagini nampaknya tak bersemangat. Rasanya, Nagini tak begitu bersahabat dengannya sehingga...
SRAKK.
Pansy dan Nagini masuk kedalam jebakan jaring yang sudah di berikan mantra sihir. "Dray! Blaise! Tolong aku!" Teriakan Pansy membuat ketiga yang berada di depan terhenti.
"Sial. Bisa-bisanya aku jadi tak berguna begini." Keluh Nagini.
"Ah diamlah! Semua gara-gara, kau, Nagini!" Rajuk Pansy yang tadi tak konsentrasi sehingga terkena jebakan.
"Oi, Pans. Kenapa kau bisa sampai terjebak?" Draco ikut menghampiri Pansy yang terjaring diatas sana.
"Sepertinya ini dimantrai oleh penggunanya, Draco. Tak bisa di hancurkan dan di potong." Jelas Blaise sambil menyelidiki jaring itu.
"Ck. Mereka ternyata merencakanan stategi, bukan perang." Decak Draco.
"Maaf, kawan-kawan telah mengganggu perjalanan kalian, lawan kalian adalah aku." Neville muncul dengan seringainya di tengah-tengah kesusahan Dark Lord.
"Hm. Menantangku, ya? Tikus umpan rupanya..." Draco balik menyeringai.
To Be Continued…
