A Harry Potter Fanfic

Pairing : DMHP

"DARE YOU"

"Ssst! Mister Potter!"

"Dobby? Kenapa kau ada disini?"

"Ikutlah denganku..."

"Pergi kemana?"

"Ketempat Tuanku, Draco Malfoy..."

...

"Selamat Tinggal, kawan-kawan..."

...

"Harry! Larilah!"

"Larilah Harry! Kami bergantung padamu!"

...

"Draco, paling tidak kau harus meminum darahnya! Ini demi kemenanganmu! Minum atau kau akan di kalahkan tujuanmu itu sendiri!"

...

"DRACO!"

"DIGGORY!"

...

"Catch You!"

..

"Kiss Me! Harry Potter!"

...

Dunia menggelap. Semua cahaya harapan musnah ketika cerita ternyata berakhir dengan Happy Ending dari pihak antagonis.

Harry Potter berakhir tidak sesuai ramalannya. Bahkan Anak ramalan lain yang di karunia pada Cedricc Diggory berhasil di taklukkan oleh anak ramalan dari si anak sulung.

Dan pada akhirnya, Draco tersenyum abadi dengan malaikat dalam pelukannya.

Sehingga pada akhirnya, Harry akan merasakan masuk kedalam dunia mengerikannya...

:End Chap?

0o0IniAdalahFanfiction,SemuaKeanehanBisaTerjadiDis ini0o0

Pria dengan badan jangkung itu masih berdiri dengan tegar menatap kearah lawan yang dulu pernah sempat menjadi kawan sesama Hogwarts.

"Maaf, kawan-kawan telah mengganggu perjalanan kalian, lawan kalian adalah aku." Ucap Neville dengan sedikit bangga jika ia harus mati melawan Dark Lord Termuda ini .

"Hm. Menantangku, ya? Tikus umpan rupanya..." Draco balik tak ragu untuk meladeni Neville. Ya, selain Ron, lelaki pertama yang masuk daftar urutan pembunuhannya adalah laki-laki jangkung yang juga selalu berada di sekitar Harry yang sekarang ada di hadapannya ini.

Melihat Draco menyeringai senang akan kesempatan untuk membunuh salah satu laki-laki yang selalu ada di sekeliling Potter-nya, membuat Luna menghela nafas.

"Jangan sombong, kau! Kau tahu kondisimu lebih tidak memungkinkan jika kita meladeni dia. Bisa saja pada akhirnya kau yang malah di kalahkan Harry." Ujar Luna sinis sambil memutar matanya.

Draco yang merasa tersindir dengan Luna yang selalu ikut campur dalam urusannyapun mendelik tajam kearah wanita berambut pirang yang ada di belakangnya ini. Namun, sahabat kecil sang Dark Lord itu tak akan pernah gentar dengan ancaman-ancaman Draco.

"Apa?" Luna malah balik mengancam, sedikit tak senang dengan mata Rubby yang sombong itu. "Kau hanya seonggok daging basi yang tidak akan kuat kalau tidak dilumuri darah untuk menjualnya."

Kata-kata pedas Luna membuat gigi Draco bergemeretak. "Cih." Desisnya. Ya, memang, Draco tanpa aliran darah Luna ataupun Harry hanyalah seonggok manusia biasa tanpa kekuatan fisik bahkan mengancam mentalnya.

"Tenanglah, Draco. Biar aku yang menghadapinya, kau tidak ada waktu lagi untuk mengejar Potter." Tukas Blaise sambil berjalan kedepan Draco.

Melihat keseriusan sobat karibnya, Draco terpaksa mengendalikan keegoisannya dan lalu pergi bersama Luna.

Neville yang merasa terancam kedua dari mereka akan pergi untuk mengejar Harry, terpaksa menyerang segenap tenaga, saat ia akan melayangkan mantra sihirnya terhadap Dark Lord yang sudah makin melemah itu, tiba-tiba serangannya terpental ketika ada Blaise balik menyerang dan berhasil melukai bahu Neville yang hanya terfokus pada Draco.

"Lawanmu, adalah aku." Ungkap Blaise yang saat itu Neville lihat bola mata yang tadinya coklat itu berubah menjadi biru muda cemerlang dan menampakkan gigi taring.

Nevillepun harus bersiap untuk melumpuhkan satu teman mereka ini. Dan dalam sekejap saja, pertarungan antara kedua jenius itupun tak terelakkan.

"Haa, setidaknya kau berusaha lepaskan aku dulu, Blaise. Siapa tahu aku bisa bantu." Dengus Pansy. Nagini yang merasa tak tertarik hanya bisa tidur di pangkuan gadis berambut hitam itu.

0o0

Tap. Tap. Tap.

Hermione, Harry dan Ron sudah sampai di ruangan tua yang ada di kastil yang terletak di daerah Hogsmade dan tak jauh dari Hogwarts.

Penampilan yang berantakkan menyertai mereka. Bahkan peluh dan nafas terpengal masih mereka rasakan betapa beberapa menit lalu mereka di landa ketakutan yang amat mencekam.

Bahkan untuk pertarunganpun mereka menunggu waktu untuk sang Dark Lord muda itu dalam keadaan lemah, Hermione tahu itu.

"Ohok! Ohok!" Saat lutut Hermione terjatuh di lantai kayu tua yang berdebu itu, Ron dengan segera mengkhawatirkan kekasihnya.

Ia tahu ini ambang batasnya.

Melihat keadaan kedua sahabatnya, Harry menatap miris. Bahkan untuk membunuh seorang Harry Potter seperti dirinya saja, mereka harus melindungi.

Harry benci itu!

Ia ingin melawan Draco Malfoy itu!

Tapi, kini ia sadar akan situasi tak menguntungkan jika dia bertarung tanpa persiapan.

"Mione, sebaiknya kau istirahat dulu." Harry mengusap bahu kawan wanitanya itu dan Hermione hanya mengangguk sambil masih terbatuk dan Ron pun membantunya untuk duduk dengan posisi nyaman.

Setidaknya, di kastil ini mereka masih diberi kesempatan untuk tenang.

Dan dengan hati yang gundah, Harry tak sadar menjauhi kedua temannya yang beristirahat di tengah ruangan yang luas ini dan dia mendekatkan diri pada jendela kecil di ujung sana. Tepatnya, jendela yang Harry tahu mengarahkan ke Hogwarts namun tak terlihat itu.

Langit malam mencekam. Suasana di dunia sihir begitu terdengar tenang.

"Sebenarnya, apa yang terjadi disana?" Gumamnya.

Dan tanpa pikir panjang, Harry menuruni tangga bawah sekedar mencari barang yang bisa berguna untukknya atau kedua sahabatnya itu.

Dan ketika ia sampai di ujung tangga, Harry mengerutkan alisnya ketika ada bayangan manusia kerdil di dekat pintu.

"Ssst! Mister Potter!"

Terdengar bayangan itu menyahutnya. Harry semakin penasaran dan tanpa ragu mendekatinya. Sepertinya, ia merasa tak asing dengan suara cempreng itu.

Dan semakin perlahan semakin mendekat, Harry mendapatkan sesosok peri rumah dengan senyum lebarnya yang imut.

"Dobby? Kenapa kau ada disini?" Entah kenapa Harry merasa senang melihat sosok lama yang lucu itu dan tak pernah ia lihat lagi.

"Ikutlah denganku..." Seketika saja kalimat itu keluar dari mulut peri rumah yang lucu tadi di sertai dengan muka lirih.

Pergi? Batin Harry merasa heran. Apakah Dobby tahu tempat teraman untuk mereka saat ini?

"Pergi kemana?" tanyanya selidik. Mungkin saja Harry bisa menemukan titik terang jika berdiskusi dengan peri rumah yang sudah hidup lebih lama daripada manusia ini.

"Ketempat Tuanku, Draco Malfoy..." Jelas Dobby dengan mata bulat mengharapkan Harry mendengarkannya.

Harry langsung menjauh dari Dobby dengan tatapan kejut. "Apa maksudmu?!"

"Aku sungguh-sungguh Mister Potter, semua akan aman jika sejak awal mister Potter ikut bersama tuan Draco." Dobby dengan langkah gontai menghampiri Harry.

"Jangan mendekat padaku! Apa kau juga sudah tercuci otaknya? Apa kau bekerja dengan Dark Lord sialan itu? kenapa Dobby!"

"Tidak Mister Potter! Dobby akan selamanya terikat dengan tradisi mereka. Dobby terlahir karena Dobby terlahir di Malfoy Manor!" Kini Tangan Dobby mulai menjangkau Harry berharap Harry mengikuti kata-katanya.

"Tetap diam disana!" Bentak Harry.

Dobby-pun meringkuk diam. "Aku berkata yang sesungguhnya mister Potter. Mungkin saja jika tuan Draco mendapatkanmu, dia tidak akan menyiksamu. Tapi jika kau terus lari seperti ini, kau bisa kehilangan semua."

"Bohong! Dia datang untuk membunuhku!"

"HARRY!" Saat jiwa Harry berguncang melawan pendapat Dobby. Ia tak sadar ketika kedua temannya menuruni tangga dengan terburu-buru dan menangkap kedua lengannya dan begitu saja, ketiga anak Gryffindor itu hilang dengan teleportasi lagi.

Bahkan, Dobby yang tahu akan apa yang terjadi nanti juga menghindar sejauh mungkin karena...

DUARR!

Ledakan baru saja terjadi seketika Harry, Hermione dan Ron menghilang dari tempat barusan Harry berbicara dengan Dobby.

"LUNA BODOH! Bagaimana kalau ledakan itu mengenai Harry Potter-ku yang berharga?!" Geram Draco pada Luna yang masih mengacungkan tongkat sihirnya kearah kastil tua yang di selimuti salju ini.

Luna diam dengan paras datar dan tak mengindahkan tetap pada posisi anggun itu. "Setidaknya dengan cara kasar ini kita bisa mendapatkan Harry Potter yang kau gilai itu."

"Cih." Draco menggumpalkan kedua tangannya. Ingin sekali menonjok wajah gadis itu. tapi Draco masih tahu rasa terima kasih karena tanpa Luna yang ada di pihaknya, dia takkan sampai sejauh ini.

Dan dalam asap dari reruntuhan kastil itu, Dobby datang menghampiri Tuannya.

"Bagaimana, Dobby?" Tanya Draco antusias, berharap ledakan maha dahsyat yang di timbulkan Luna itu hanya membakar si bodoh Wesel dan si Mudblood.

"Mereka berteleportasi ke Hogwarts." Terang Dobby takut-takut.

"Cih! Dasar tidak berguna!" tanpa ragu Draco menendang makhluk kecil itu dan dengan sangat terburu-buru mengejar idamannya.

"Tugasmu selesai sampai sini, Dobby." Ujar Luna sebelum pada akhirnya mengikuti lelaki keras kepala itu. meninggalkan Dobby kecil dengan kesedihannya.

Dobby menyukai Mister Harry Potter yang baik hati, tapi dia berada di pihak tuan yang jahat, Draco Malfoy. Ia berharap, sebelum ia mati, ia bisa menyelamatkan Harry lebih dari apapun.

0o0

Sementara itu, Snape yang merasa terpojok tetap menyerang dengan lemparan-lemparan mantranya. Tapi seperti sebelum-sebelumnya ia bertarung dengan mantan kekasihnya itu, James dengan lincah dapat menghindari lemparan mantra itu dengan tubuhnya yang lentur.

"Bisakah kau berhenti, Potter! Ini bukan saatnya aku meladenimu!" Masih dengan penyerangan-penyerangan, Snape mencoba menghentikkan mayat hidup itu.

"Oh tidak bisa, Honey. Sudah kubilang, badanku ini bergerak untuk mengalahkanmu." Dan tak segan-segan, kini Jamespun mulai membalas dengan melempar mantra.

Tak bisa menghindar, Snape yang kalut akan keadaan putra hasil laki-laki yang di hadapannya ini tak terasa sudah terluka di sekitar lehernya dan berhasil membuatnya tumbang dan sulit bernafas.

Duag!

Lantai batu mulai meretak ketika James menghantam tubuh Snape di atasnya.

Darah muncrat keluar dari mulut Snape ketika mendapar serangan telak di perutnya.

Kini, ia yang sudah tak sanggup hanya bisa menerima posisi sang kekasih yang berada diatasnya. Melihat wajah pucat itu dengan mata yang tiba-tiba seketika mulai merabun.

"Po-Potter..." Helanya dalam nafas yang mencekat dan dengan sekuat tenaga, menempatkan telapak tangannya di pipi dingin itu.

James masih tersenyum meski tubuhnya justru menyentak Snape sehingga sulit bernafas.

"Ja-James...ohok!" Bahkan kini air mata mulai mengalir di wajah guru yang terkenal dengan muka besi itu. begitu sedih karena ia tak bisa menyelamatkan siapapun di antara ayah dan anak itu.

"Tidurlah yang nyenyak, Severus." Senyum James dengan tenang. Berharap Severus bisa menemaninya di alamnya nanti. Dan entah kenapa, James sudah tak peduli apapun yang ada di duni ini, ia yang mati saja percaya bahwa duni sihir akan berada di kegelapan.

"Ja-Jam—" Seketika saja, tangan yang menyentuh pipi dingin itu lunglai. Snape sudah tak bernyawa.

James tersenyum dan memejamkan mata. Entah menangis atau senang, dia tak tahu perasaan itu. dan sebelum ia menjadi buih cahaya, ia mencium bibir orang mati itu sekejap...

0o0

Lupin tersengal-sengal karena kehabisan darah ketika ia berontak untuk lepas dari Sirius, laki-laki berumur berambut kecoklatan itu tak segan-segan menjadikan bahunya perisai untuk menyerang Sirius yang terus memeluknya dari belakang.

Bahkan setelah itu, Lupin tak bisa beristirahat meski sejenak karena ia tahu Sirius orang yang selalu terburu-buru untuk mendapatkannya.

Dan sekarang, Lupin hanya bisa bermain petak umpet dengan laki-laki gila yang sosok aslinya adalah Srigala itu. hanya sekedar untuk mengobati pendarahannya yang bisa berakibat fatal.

"Oh ayolah Moony~ Jangan takut padaku~" Suara Sirius menggema di ruangan yang cukup megah ini. Sedangkan Lupin yang terpojok hanya bisa memikirkan bagaimana ia bisa menghentikkan pendarahannya. Nyaris saja lima menit yang lalu ia akan terbunuh di tangan kekasihnya itu.

Di saat dengan tergesa-gesa Lupin mengikat kain untuk melilitkan bahunya ke bagian leher, ia tak sadar saat itu wajah Sirius tepat di hadapannya.

Bola mata Lupin membelalak dan seketika itu juga tubuhnya terhempas menerjang dinding batu yang kokoh dan terpental amat jauh ketika Sirius tak segan-segan membogemnya.

Bahkan ketika tubuhnya mendarat membentur dinding ketiga, Lupin bisa merasakan tulang punggungnya remuk. Ah ya, dia lupa kalau pacar srigalanya itu sangat kuat.

"Uhuk." Lupin memuncratkan darah dari dalam mulutnya.

"Oh, maafkan aku Moony. Aku tidak bermaksud kasar padamu." Seringai Sirius sambil berjalan santai menghampirinya.

Tak ada reaksi dari Lupin yang terus menunduk dan meringis. Namun, tiba-tiba langkah Sirius untuk menghampiri kekasih yang di rindunya itu terhenti saat ia dengar Lupin menggeram kecil.

"O-oi, Moony, tak usah begitu,,, aku janji tidak akan menyakitimu." Ada sedikit nada gentar dari Serigala terkuat itu.

"Grr...A-Aku tidak tahan lagi, uhuk. Paling tidak, dengan sosok ini, aku bisa menghancurkanmu." Geram Lupin dan dengan seksama, Sirius melotot melihat sang kekasih yang berubah menjadi sosok yang paling di bencinya.

"O-Oi, Moony!" Panggil Sirius mengisyaratkan Lupin apakah masih dalam keadaan sadar. Namun sosok kekasihnya yang tercinta itu terus berubah menjelma menjadi sosok yang bisa menyaingi semua ras manusia Srigala.

"Grr...AUUUUUMMM~" Lupin yang berubah menjadi sosok manusia Serigala mulai mengaum dan Sirius tahu kalau kekasihnya itu sudah hilang kesadarannya.

"Oke-Oke, baiklah, Moony sayang, aku juga akan serius." Tukas Sirius santai sambil membuka pakaian atasnya dan diapun perlahan menjelma menjadi Serigala.

0o0

Harry, Hermione, dan Ron sampai di tempat mereka berteleportasi. Bahkan dengan segera, Hermione kehilangan keseimbangannya karena terlalu lelah berfikir dan banyak bergerak dengan daya tahannya yang kurang cukup.

Saat itu, tanah luas berpasir hitam menghampar di sekitar mereka. Harry melangkah kedepan dengan tatapan tak percaya saat angin dingin berhembus kesekitar tempat ini...

"Ini..." Harry tercekat untuk berkata, Ron yang juga terkejut dengan keadaan yang menghampar di depannya pun mulai berlari kesana dan melewati Harry, Hermione yang terduduk di pasir itupun mengatupkan kedua tangannya di depan mulut dan saat itu air matanya tanpa sadar terjatuh. "Ini Hogwarts, kah?" Tanya Harry tak percaya.

"Aku... hiks, aku tak bisa berpikir apa-apa, yang selalu terlintas di fikiranku adalah Hogwartsm tapi ini—" Hermione sedikit meraung dalam tangisnya tak mau percaya dengan apa yang di lihatnya saat ini.

Nampak Hogwarts yang indah itu kini hanya tinggal reruntuhan bebatuan yang menyisakan bergelimang penyihir tak bernyawa dan juga alam sekitar Hogwarts yang dulu asri itu kini menjadi kering dan tandus.

"Kejam..." Desis Harry tak kuasa untuk menahan air matanya.

"Ayah! Ibuu! Ginny!" Ron terus berteriak berharap masih ada satu nyawa yang tertinggal, namun, ia yang gila itu tak menemukan satu keluarganya pun ketika... "FRED!" Ron dapat tahu jelas bahwa sosok mayat yang terjepit di antara pohon-pohon itu adalah kakaknya yang memiliki wajah kembar dengan George.

Ron, Harry dan Hermione yang tak henti-hentinya mengeluarkan banyak air mata tetap membantu mengeluarkan mayat sang senior itu dan saat Fred berhasil ada di pangkuan Ron, laki-laki itu sudah lama tak bernyawa.

Ron menjerit pilu.

Ron menangis tak tertahankan.

Bahkan Hermione tak kuasa untuk menahan tangis yang lebih pilu lagi dalam pelukan Harry.

Di saat kebencian Harry mulai bertambah, mereka bertiga mendengarnya.

Mendengar suara sang keparat itu...

"POTTEEEER!" Teriak Draco menyeringai tak karuan saat ia pada akhirnya menemukan kembali wajah kekasihnya yang berada jauh di sana. Tampak Luna Lovegood masih bersedia menemani disisi Dark Lord muda itu.

Melihat sang keji ada di depan mata mereka, tiga Gryffindor dengan tegar bersiap untuk menghadapinya. Tak ada lagi jalan kabur, semua yang mereka lakukan dengan sembunyi hanya sia-sia belaka. Bahkan, semua yang gugur disini meninggal atas nama melindungi Dumbledore, melindungi dunia sihir yang mereka cinta, terutama, melindungi laki-laki yang masih berdiri disini. Ya, melindungi Harry Potter.

Draco berdecak geram saat pertama kali ia menemui Harry memeluk darah lumpur itu. hah! Bahkan dirinya yang seorang Dark Lord dengan kekuatan hebat itu tak pernah mendapat pelukan hangat sang malaikat kecuali ia sendiri yang memaksanya.

"Hoi! Mudblood! Kau yang pertama kali akan kubunuh!" Terang Draco sedikit berteriak dari kejauhan sana. Ya, selain Neville, tangan Draco selalu memimpikan untuk membunuh kedua teman dekat Harry yang selalu ada di sekitarnya itu.

Ron mendecak dan langsung berdiri di depan Hermione. "Tidak akan kubiarkan kau menyentuhnya sedikitpun, Malfoy! Kau sudah mengambil seluruh keluargaku! Tidak dengan Hermione!" Bengis Ron. Ya, perasaan dendam dalam hatinya membeludak, ia yakin bahkan ia kini hanyalah seorang Weasley tunggal.

"Hoo..." Ron meremehkan. "Yakin kau bisa menang dariku? Weasel?" Goda Draco sombong. Harry dan Ron langsung mendecak. "Ya, tidak apa-apa sih, kau juga target yang ingin kubunuh." Terang Draco santai.

Saat itu, kaki Harry melangkah ke depan Ron. Membuat Draco sedikit membulatkan matanya dan terhenti dari gerakan angkuhnya yang sedang bertopang Dagu itu.

"Lawanmu aku, kan, Draco? Yang ingin kubunuh adalah aku, kan?" Tegas Harry.

Draco langsung melotot dan segera mengelak. "No! No! Bukan itu, Honey. Aku hanya tidak suka mereka di dekatmu!"

Harry, Ron dan Hermione langsung mengerutkan alisnya dengan muka heran. Apa yang tadi pria berambut platinum itu katakan? Honey? NOT Harry?

"Apa kau sudah gila?!" Terang Harry agak marah dan merasa jijik di panggil Honey oleh lelaki itu. ia bisa simpulkan setiap yang dulu Draco lakukan mungkin hanya menggodanya dan menjelekkan nama baiknya. Tapi menggodanya di saat suasana seperti ini? Apa itu bukannya sudah gila? "INI PERTARUNGAN SERIUS, Malfoy! Aku tidak akan terpengaruh dengan godaanmu! Cih!" Desis Harry. Masih terlihat jelas di hatinya ada Ginny yang ia cemaskan.

"Oh Come On, Honey. Aku tidak main-main, kemarilah." Ungkap Draco sedikit memelas sambil menengadahkan kedua tangannya berharap Harry akan naik di sana.

"Ini tidak Lucu! Riddicoulus!" Harry tanpa aba-aba mulai menyerang. Nyaris mengenai Draco kalau saja tidak ada Luna yang mementalkan serangan itu dan berdiri di depan menjadi perisai Sang Dark Lord.

"Ho-Honey..." Ucap Draco tak percaya lelaki mungil itu lagi-lagi tak memahami perasaannya dan malah menyerang tiba-tiba.

"Oh ayolah, Draco! Kalau kau masih tetap lembut seperti itu, itu malah akan menjadi peluang untuk dia menghancurkanmu. Bukankah sudah kubilang, kau bisa kapan saja terbunuh kalau terus seperti ini!" Geram Luna tak tahu entah kenapa masih saja mau berdiri di pihak lelaki yang sudah gila akan cinta itu.

"Tapi Luna! Aku tak ingin melukainya sedikitpun! Dia malaikatku!" Bentak Draco tak terima pendapat Luna. Dan ia SANGAT berharap Harry dapat mengerti betapa ia mencintainya dan ingin memperlakukannya dengan sangat lembut. Bahkan, ia ingin mengulang semua kekerasan yang ia berikan terhadap Harry dulu-dulu untuk menjadi lebih baik lagi.

Karena sekarang, Voldy sudah tak ada. Bahkan, Dumbledore yang menjadi penghalang utamanya menggapai Harry-pun, sudah tiada? Tapi kenapa?

"Sudah cukup! Aku bosan dengan pemikiranmu yang tidak logis itu! dia Harry Potter! Jangan kau malah membuka celah untuk dia menghancurkanmu!" Kini Luna malah yang semakin memanas. "Biar aku saja yang menyerangnya sampai kau kembali dengan jalan Dark Lord-mu! Bodoh sekali!" Dan saat Luna melontarkan kalimat kekesalan itu, ia mulai berlari menyerang ketiga orang di depan.

Pertarungan 3 lawan 1 pun terjadi, dan berlalu dengan kekuatan imbang. Oh, tentu. Tak ada yang boleh meremehkan seorang Luna Lovegood yang di percaya untuk menjadi asisten sang Dark Lord.

Draco yang membatu hanya bisa dia melihat sang Potter yang bertarung disana dengan merana. Kenapa? Kenapa lelaki mungil itu tak pernah memahami perasaannya yang dengan bodohnya Draco berjalan sampai sejauh ini demi mendapat dirinya?

Bahkan saat dunia sihir hancur. Bahkan saat semua orang mati. Bahkan saat takdir ramalan mereka berjalan sama. Kenapa tak bisa menggoyahkan hati Harry untuk menerima perasaannya? Walau hanya sedikit?

0o0

"Auuurrrrwwwwwwwwwgrrr~" Auman kencang dari manusia serigala menyebabkan angin kencang menerjang tubuh srigala besar bernama Sirius itu. bisa dilihat, banyak luka yang terlihat di punggung Srigala hitam ini.

Bahkan untuk menghadapi kekasihnya yang beringas itu saja, Sirius bisa jadi tergopoh-gopoh.

Namun, srigala jenius ini tak akan menyerah sampai ia bisa menghentikkan manusia srigala tanpa kesadaran itu. sirius terus menyerang tubuh besar meringkuk yang hanya terbalut kulit lunak dengan wajah Srigala itu dengan gigitan-gigitan mautnya sehingga lagi-lagi lawannya mengaum.

Saat dengan perjuangan gigih Sirius merobek kulit punggung itu dengan taringnya, darah mulai mengucur deras dari punggung sang kekasih bernama Lupin ini. Manusia srigala itupun terjatuh dari kekokohannya dan mengaum kecil meringis.

"Auu..." Ujar manusia serigala itu dengan tatapan menangis. Dan perlahan, tubuh itu kembali menjadi tubuh kekasih tercinta dengan telanjang dan menampakkan luka besar di sekitar punggungnya.

Mengetahui pertarungan berakhir dan meninggalkan seorang Proffesor yang meringkuk kesakitan dan bisa saja mati, Sirius langsung mengubah tubuhnya menjadi manusia normal dan mulai mengkhawatirkan keadaan kekasihnya.

"Sst, tenanglah, Moony." Ungkap Sirius Hati-hati sambil mengusap punggung penuh darah itu dan melafalkan mantra untuk sedikit menutup luka dengan pendarahan hebat itu.

"Agh.. S-Sirius, kau..." Bahkan dalam keadaan seperti inipun, Lupin masih tak menyerah untuk membencinya.

"Diamlah, Moony. Aku akan menyelamatkanmu. Bagaimana jadinya dunia sihir ini nanti. Hanya kau satu-satunya yang tak kubiarkan mati. Hanya kau, tak peduli sekalipun aku berjalan di belakang Draco Malfoy, aku tak akan membiarkanmu mati. Tidak akan lagi terpisah denganmu. Tidak akan." Ucap Sirius seduktif sambil mencium lembut punggung yang baru saja di robeknya.

Dan Lupin yang tak tahan lagi mengatasi kepedihan amat sangat, akhirnya mulai tak sadarkan diri.

0o0

Entah berapa lama perang terjadi dengan hebat hingga menghancurkan sebagian tempat ini ketika pertarungan kedua jenius itu dimulai.

Pansy dan Nagini masih menunggu dengan bosan karena mereka hanya bisa menonton di balik jebakan jaring ini.

Dan kini bisa di lihat dengan jelas, Blaise sudah berada di atas Neville Long Bottom yang tidur telentang dengan sekarat. Penampilan kedua lelaki yang habis bertarung ini terlihat sangat berantakan bahkan baru kali ini Pansy melihat Blaise yang tenang itu bisa bertarung seserius ini.

"Hosh... tidak kusangka, selain melawan kedua saudara Black, aku bahkan harus berubah menjadi sosok yang lebih jauh untuk melawanmu."

"Aku juga bahkan sudah tak sanggup lagi... Hah.." Ungkap Neville yang merasa tulang tengkorak belakangnya terasa sedikit remuk. Ini pengalaman pertamanya melawan ras vampire yang menjadi legenda didunia sihir itu.

"Sebelumnya, aku tak pernah ingin menggunakan mantra kematian, tapi melihat kondisimu yang sekarang, sepertinya aku jadi miris." Ungkap Blaise menyeringai. "Jadi, bisakah aku mengambil nyawamu?"

Neville yang ada dibawahnya mulai memejamkan mata. "As You Wish." Ungkapnya datar. Blaise lalu mengeluarkan tongkat sihirnya yang jarang sekali ia gunakan dan mengarahkannya tepat di dada Neville. "Selamat Tinggal, kawan-kawan..." Ungkap Neville sambil membuka mata melihat malaikat pencabut nyawa yang ada di atasnya dan kembali memejamkannya.

"Avada Kedrava!" Teriak Blaise lantang dan seketika cahaya hijau timbul dari ujung tongkatnya dan menghantam dada Neville. Tahu sang lawan sudah mati, Blaise yang sudah kehabisan tenagapun lalu terjatuh pingsan di sampingnya.

"Blaise!" Teriak Pansy sangat khawatir.

"Hoi-hoi! Apa yang terjadi disini?" Saat itu Sirius tercengang melihat arena pertarungan yang luar biasa nyaris seperti pertarungannya dengan Lupin.

"Sirius! Kebetulan sekali! Tolong kami!" Ujar Pansy antusias. Sirius yang tengah menggotong tubuh Lupin yang berselimut jubahnya itu menghampiri Pansy dan mengigit jaring-jaring itu dengan giginya. Ia tahu benar, jaring bermantra itu tak akan mempan pada gigitan seorang Srigala seperti dirinya.

Saat berhasil keluar dari perangkapnya. Pansy buru-buru menghampiri Blaise.

"Ada apa dengan Zabini itu? apa dia mati?" Tanya Sirius datar dan terkesan tak peduli.

"Tidak, sepertinya dia hanya pingsan." Ungkap Pansy disana.

"Hmm, lalu, dimana Dark Lord?" Tanya Sirius yang tak melihat batang hidung Draco, Luna, Potter bahkan kedua temannya.

"Sshhh, shhh." Nagini berusaha untuk mendesis memberi tahu.

"Oi-Oi, sudahlah ular bodoh. Aku tak mengerti bahasamu. Aku bukan Slytherin, kau ingat itu." Ungkap Sirius. Pansy bahkan tak menjawab pertanyaan pria berumur itu dan berusaha menutup luka-luka Blaise dengan mantranya.

Belum sempat Sirius menjawabnya, Tiba-tiba ia tahu kalau ada yang memanggilnya dari suara di kejauhan sana. "Sirius..." ia dapat dengan jelas mendengar suara tua renta yang hanya terhubung dengannya atau bahkan adiknya.

"Oh, Nona Bagshot. Ada apa?"

"Kau tidak usah mengkhawatirkan Draco. Kau bawa saja siapa yang tersisa kembali ke Manor. Perang sudah usai, biar Regulus yang akan menjemput kemenangan Dark Lord kita."

"Ah, baiklah." Lalu, suara renta itupun tak terdengar lagi. Sirius yakin sepertinya gurunya itu sudah melihat masa depan beberapa jam lagi. Setidaknya ia bisa menarik nafas lega karena ia juga tak kehilangan kekasihnya. Bahkan, ia merasa beruntung dia yang melawan sang kekasih.

"Oi, anak-anak. Sepertinya kita harus kembali ke Manor. Dark Lord kecil kita nanti akan menang." Terang Sirius. Mendengar itu, Nagini langsung menghilang untuk berisitirahat di Manor.

"Ya, kita juga harus menyelamatkan, Blaise." Terang Pansy sambil membawa Blaise dengan teleportasinya ke arah Manor. Dan Sirius juga meninggalkan tempat sambil membawa sang kekasih yang dirindunya di tangan.

0o0

Luna mengunggul dalam peperangan itu. sedangkan Draco masih terdiam di tempatnya. Benar apa yang di katakan Luna, Lelaki mungilnya itu gigih untuk mengelak.

Ya, Draco tak bisa bersikap lembut untuk mendapatkannya.

Ya dia lakukan untuk mendapat Harry adalah menjadi Draco yang biasanya, Draco yang Pemaksa. Draco yang agresif, bahkan bisa menjadi Draco yang kejam kalau Harry tak bisa memenuhinya.

"Heaaa!" Luna bersiap untuk menyerang secara brutal ketika ketiga Gryffindor melancarkan Strategi dan merasa beruntung karena Dark Lord tidak ikut berperang.

"Sectusempra!" Kilatan Hijau dari tongkat elder berhasil menyerempet kaki Hermione yang dalam sekejap langsung tumbang dan merasakan kepedihan menjalar di kaki kanannya.

"Mione'!" Teriak Harry dan Ron bersamaan.

Melihat Draco yang mulai menyerang, Luna menghentikkan aksinya.

"Tetap diam, Luna. Mereka adalah urusanku." Ujar Draco sambil menghampiri area perang.

"Ya, kuserahkan semua ini padamu. Hati-hati saja dengan kondisimu." Ujar Luna jutek sambil mengantongi tongkat sihirnya dan berdiri disisi area perang menggantikan Draco.

Hermione yang tak bisa menggunakan kakinya berjalan meringsut.

"Harry... Harry pergilah..." Isaknya tertahan.

"Apa kau bilang, Mione'? ini kesempatanku untuk menghajarnya!" Elak Harry.

"Aku tahu, tapi kondisi ini tidak memungkinkan, pergilah! Cepat pergi!"

Draco semakin berjalan mendekati ketiga tikus Gryffindor itu.

"Aku tidak akan—" Harry tetap mempertahankan namun...

"PERGILAH!" Melihat sirat mata Hermione yang tak tahu entah perasaan apa yang ada disana, Harry meragu untuk meninggalkan mereka.

"Harry! Kau sudah pergi saja, Mate!" Bahkan kini, ia mendengar teriakan dari arah lain.

Melihat kedua perintah dari sahabatnya. Harry dengan buliran air mata pergi dan masuk kedalam maze tanaman yang masih berdiri kokoh.

"Harry! Larilah!" Hermione terus menyemangati Harry yang perlu harus dilindungi ketimbang apapun.

"Larilah Harry! Kami bergantung padamu!" Ron juga sama, setidaknya, dengan Harry yang masih hidup, bisa melemahkan Draco yang akan dilawannya nanti.

Mendengar teriakan kedua temannya yang ada di kejauhan sana, Harry tak bisa berpikir apa-apa lagi dan tetap melaju kedalam Maze yang seketika saja hening.

"Cih. Dia kabur!" Luna berusaha akan mengejarnya, namun buru-buru Draco mencegahnya.

"Tidak tetaplah disini, Luna. Biar aku yang akan mengejarnya." Ungkap Draco dingin. "Pertama, biar kuhabisi muggle menjijikan ini! AVADA—"

Ketika melihat tongkat Elder Draco yang melayangkan di depan Hermione, buru-buru Ron menjadi perisai dan...

"KEDAVRA!" Seketika saja tubuh besar itu terpental dari hadapan Hermione.

"ROOOONNNN!" Jerit Hermione histeris ketika tubuh yang terjatuh di tanah itu tak lagi tergerak. "Ron! No! Tidak! Ronnn!" Kini Hermione hanya bisa meraung melihat apa saja yang baru terjadi di hadapannya. "KEPARAT KAU MALFOY!"

"Hem, apa kau juga mau bertarung dengan diriku dengan kondisimu yang tak bisa berjalan ini?" Terang Draco.

Hermione menatap benci kepadanya dengan linangan air mata yang tak henti-hentinya mengalir dari kelopak matanya. Dan dengan sekuat tenaga dia mengacungkan tongkat sihirnya kehadapan dan dengan tatapan murka Draco menginjak tangan yang tak sampai untuk menantangnya itu dan saat tongkat yang di pegang Hermione terlepas, Draco langsung menginjaknya dan menghancurkan tongkat kayu itu dengan hak sepatu pantopel hitamnya.

"Aght!" Hermione meringis lagi ketika sepatu itu kembali menginjak tangannya.

"BITCH! YOU BITCH!" Ungkap Draco geram sambil mengoyak pergelangan tangan itu dengan kakinya.

"Agh! Hentikan!" Hermione meringis meraung-raung kesakitan.

Namun, saat itu, tiba-tiba Draco kehilangan keseimbangan dan nyaris jatuh kalau saja Draco tidak bertahan.

"S-Sial..." Tukasnya. "Luna!"

"Sudah kubilang! Aku tidak bisa kau hisap lagi!" ungkap Luna dari kejauhan sana.

"Sial, aku harus mencari Potter segera!" Ujar Draco sambil berjalan menjauhi Hermione.

"Kenapa kau tidak minum saja darah wanita itu, lagipula masih bisa kau gunakan 3 kali."

"Aku tidak sudi!"

"Draco, paling tidak kau harus meminum darahnya! Ini demi kemenanganmu! Minum atau kau akan di kalahkan tujuanmu itu sendiri!"

"Sudah kubilang, aku tidak mau." Ungkap Draco keras kepala sambil berjalan gontai menuju maze. Luna tak bisa melawan lebih dari ini, lama-lama ia kesal juga dengan kekeras kepalaan Dark Lord itu.

Hampir mendekati Maze, tiba-tiba Draco yang tahu akan muncul serangan mulai meloncat kembali ketempat awal dia bersama gadis granger yang tak berdaya itu.

Tepat.

Saat ini, ada laki-laki yang berdiri di tempat yang baru saja Draco ada disana. Luna saja nyaris terkejut tak mengetahui keberadaan laki-laki itu.

"Kau tak akan bisa menyentuh Potter-ku sedikitpun." Tukas laki-laki tampan itu.

"Cih, Diggory. Saingan abadiku." Seringai Draco keji.

Cedricc Diggory, anak dalam ramalan lain akhirnya muncul. Kini, anak ramalan sudah berada di sekitar sini.

Harry Potter yang terus mencari jalan kabur dengan tergesa-gesa di dalam Maze.

Cedricc Diggory yang menjaga pintu masuk Maze.

Dan Draco Malfoy yang berada dalam kondisi kritis jika dia melawan Cedricc untuk mendapatkan Harrynya.

"Sudah kubilang, kau beruntung ada gadis itu di sekitarmu." Keluh Luna.

"Cih." Draco mendecih dan terpaksa mengisi darahnya dengan menggigit muggle yang sudah pingsan itu. "Baiklah, sekarang kita akan bertarung, siapa yang pantas untuk Harry Potter kita."

"DRACO!"

"DIGGORY!"

To Be Continued…

Hei! Sorry Guys kalau akhir chap ini terpaksa di jadikan dua chap!

Sekali lagi minta maaf, dan ini author sangat terburu-buru ngetiknya, pengen cepet apdet XP

Jadi mohon maaf kalau ada typo~

So Ripiu dulu untuk menunggu akhir di chap depan?

Thanks You~