A Harry Potter Fanfic

Pairing : DMHP

"DARE YOU"

"Ssst! Mister Potter!"

"Dobby? Kenapa kau ada disini?"

"Ikutlah denganku..."

"Pergi kemana?"

"Ketempat Tuanku, Draco Malfoy..."

...

"Selamat Tinggal, kawan-kawan..."

...

"Harry! Larilah!"

"Larilah Harry! Kami bergantung padamu!"

...

"Draco, paling tidak kau harus meminum darahnya! Ini demi kemenanganmu! Minum atau kau akan di kalahkan tujuanmu itu sendiri!"

...

"DRACO!"

"DIGGORY!"

...

"Catch You!"

..

"Kiss Me! Harry Potter!"

...

Dunia menggelap. Semua cahaya harapan musnah ketika cerita ternyata berakhir dengan Happy Ending dari pihak antagonis.

Harry Potter berakhir tidak sesuai ramalannya. Bahkan Anak ramalan lain yang di karunia pada Cedricc Diggory berhasil di taklukkan oleh anak ramalan dari si anak sulung.

Dan pada akhirnya, Draco tersenyum abadi dengan malaikat dalam pelukannya.

Sehingga pada akhirnya, Harry akan merasakan masuk kedalam dunia mengerikannya...

:End Chap?

0o0IniAdalahFanfiction,SemuaKeanehanBisaTerjadiDis ini0o0

"Hosh...Hosh..." Harry terus berlari dan berlari di sekitar rimbunan semak-semak pembuat Maze ini. Tubuh mungilnya terus berlari sejauh mungkin masuk ke dalam maze. Mata kecoklatannya yang di sertai air mengalir membuat kacamata bundarnya buram dan dengan cepat, dia terjatuh menyentuh tanah dingin maze yang kelam ini.

Harry tahu jatuhnya itu sangat menyakitkan mengingat wajahnya membentur tepat kearah tanah, namun, Harry sudah tak ingin berdiri lagi, nampak terlihat bahunya naik-turun, Harry tak bisa menahannya lagi.

Ia tersedu-sedu. Ia menangis. Ia amat takut. Ia begitu menyesal dengan apa yang terjadi selama ini.

"Huaa... Mione, Ron... Aku tak bisa meninggalkan kalian!" Teriaknya lirih. Hanya merasa tanpa ada perbuatan apa-apa.

Apa ia lemah?

Apa yang ia bisa hanya berlari?

Apa ia terlalu pengecut atau takut jika ia sudah tak punya siapa-siapa lagi dan akan terbunuh di tangan Draco Malfoy?

Harry yang malang hanya bisa terisak di tempat sunyi maze yang dingin, kelam dan mencekam itu...

0o0

Cedricc terpukul mundur.

Ini tak sesuai dengan prediksinya. Ia sudah sedikit kewalahan. Ia tak percaya harusnya Draco sudah lebih lemah darinya sekarang.

"Sial..." Ringisnya sambil tetap menggenggam tongkat yang sudah berubah menjadi pedang sejak awal pertempurannya dengan sang Dark Lord Muda.

"Hee? Aku malas untuk mengatakannya, tapi aku merasa hebat sekali." Ungkap Draco Amazing sambil menatap bangga dirinya sendiri. "Tidak menyangka darah Mudblood itu bisa menyelamatkanku!"

"Sudah kubilang, kau terlalu naif untuk memisah-misahkan ras orang lain! Jujur saja, sebenarnya, bisa saja gadis itu lebih hebat darimu." Tukas Luna dari kejauhan sana. Masih dengan wajah datar dan tak bergairah dengan segala yang terjadi di dunia sihir.

"Diam kau, Luna! Aku benar-benar jijik dengan Mudblood! Aku hanya akan meminumnya saat aku belum mendapatkan Harry! Jadi jaga gadis itu untukku! Jangan biarkan dia mati!" Timpal Draco agak marah dengan nasehat-nasehat Luna yang membuat telinganya panas.

"Ah, Baiklah-baiklah! Tukang perintah." Ujar Luna sambil mengamankan Hermione dan berusaha untuk mengobati sedikit saraf-saraf yang bisa mengambil nyawanya.

"Heh, menjijikan sekali ternyata asal kekuatanmu hanyalah menjadi parasit. Aku merasa bodoh mengungkapkan bahwa kau lebih kuat dariku." Decak Cedricc.

"Diam kau, Diggory brengsek! Aku baru sadar, kau adalah daftar pria paling atas yang kubunuh dengan tanganku sendiri! Aku benci saat-saat Potter dekat denganmu! Rival abadiku sialan!" Geram Draco seperti anak kecil.

"Asal kau tahu saja, Harry suka pria sepertiku, dia suka pria baik hati." Ungkap Cedricc bangga. Menjudge Harry begitu memilihnya ketimbang Draco.

"Apa kau bilang? Aku yakin Harry suka pria kuat yang memenangkan segalanya! Aku Dark Lord yang memenangkan segalanya!" Draco tak mau kalah, sangat yakin Harry akan tunduk di depannya yang begitu hebat.

Cedricc dan Draco saling bertatap sengit dan mendecak. Sangat meyakinkan untuk mereka berduel karena saling membenci satu sama lain.

"Hei kalian berdua! Harry itu dikenal dengan pria paling baik hati dan bisa saja dia lebih kuat darimu, Draco. Asal tau saja, Harry itu mencintai perempuan! Apa kau lupa dengan Ginny Weasley?!" Luna menyahut memperkeruh suasana diantara kedua pria tampan yang gila akan Harry Potter itu.

"Berisik kau, Luna! Kau itu berpihak pada siapa, sih?! Kau itu seperti ingin aku mati di tangan Harry?!" Geram Draco.

"Hem, mungkin." Ungkap Luna angkat bahu dan tetap mengobati Hermione.

Draco naik darah. Dia sudah tak tahan lagi. Tapi, di banding menghajar Luna, laki-laki di depannya yang membuat matanya sakit hanya melihat ujung rambut Diggory tunggal itu.

"Sudah ku tetapkan, ini pertarungan terakhir kita Diggory, aku sudah muak melihatmu. Aku akan membereskanmu secepatnya disini." Ungkap Draco sambil menyiratkan mata Rubby-nya yang indah itu.

Cedricc mendesis kecil. Bulir keringat mengalir di dahinya. Ini situasi yang tak menguntungkan untuknya. Tenaganya habis dan Draco masih bisa mengisi tenaganya dengan darah Hermione. Jika ia membunuh Hermione, dia bisa jadi yang akan lebih kejam, dan dia juga tak bisa meremehkan Luna yang ada disana.

Tujuannya adalah menyelamatkan Harry, iya tahu cukup sulit untuk mencarinya di maze yang ada di belakangnya ini. Tapi jika ia meladeni Draco, ia tak yakin bisa menang hidup-hidup.

Lalu, Cedricc melirik Draco. Terlihat Draco ingin sekali melanjutkan duel dengannya dan tak segan-segan ingin membunuhnya. Cedricc terpojok, tidak ada cara lain selain mencari Harry dan langsung melakukan teleportasi menuju persembunyian yang digunakannya selama ini bersama keluarga Diggory.

Dan dengan segera, Cedricc melesat masuk ke Maze. Agak shock melihat lawan malah melarikan diri, membuat Draco tambah geram dan berencana menyusul.

"Draco! Jangan bertindak bodoh! Dia berusaha menjebakmu!" Teriak Luna mencegah Draco untuk masuk maze, Luna tak yakin bisa mendampingi Dark Lord dalam maze apalagi harus menopang si Granger.

"Kau tunggu saja disana, Luna!" Perintah Draco dan mulai menghilang di dalam maze. Luna menghela nafas, tak habis pikir harus bersama dengan pria keras kepala itu. Paling tidak, tugasnya sudah selesai disini,lagipula, dia juga sudah merasa agak lelah. Jadi, diapun menurut menunggu di tempatnya saat ini bersama Hermione yang masih tak sadarkan diri.

0o0

Cedricc berlari secepat mungkin meski dinding rimbunan daun hidup selalu berusaha menghimpitnya. Laki-laki tampan ini juga berusaha agar tak buyar konsentrasinya agar bisa melacak Harry meski dia juga sedikit takut akan terkejar oleh Draco.

Setelah berusaha tenang sambil terus berlari, ia dapat merasakan energi sihir Harry terdiam dan tak berapa jauh dari lokasinya sekarang. Cedricc begitu lega kalau Harry sedang tidak mondar-mandir di maze yang sulit ini, tapi, dia juga khawatir kalau Harry mungilnya sedang kenapa-kenapa. Dengan merapal sedikit sihir, Cedricc berusaha meminimalkan rimbunan daun yang mengejarnya dengan serangannya yang tak memakan banyak tenaga dan terus berlari menuju Harry.

Cedricc akhirnya sampai di ruang maze dimana Harry berada, dia agak kaget saat Harry sedang terguncang melawan akar-akar yang melilitnya.

"Reducto!" Cedricc buru-buru menghancurkan akar yang tersambung pada salah satu rimbunan maze dan langsung berlari kearah Harry dan langsung menyingkirkan sisa akar-akar yang melilit tubuh mungil yang penampilannya berantakan ini.

Harry agak terkejut dikiranya Draco yang melempar sihir itu, namun saat Cedricc begitu saja sudah ada di hadapannya, Harry langsung memeluk tubuh pria yang lebih tinggi darinya ini. Harry begitu mirip seperti wanita yang sedang ketakutan.

"Cedricc! Cedricc! Syukurlah! Syukurlah!" Gumamnya sambil terisak di dadad bidang laki-laki yang mencintainya sepihak itu. Cedricc merasa kasihan dengan laki-laki korban penyimpangan cintanya ini dan tanpa ragu tangan Cedricc mengelus punggungnya.

"Tidak apa-apa, Potter. Kau akan baik-baik saja, aku akan melindungimu." Terang laki-laki ini sambil perlahan memeluk Harry yang sudah meledak dalam tangis, takut dan ketidak berdayaannya.

"Aku sungguh bingung. Aku sudah kehilangan Ginny, aku juga tak yakin baik-baik saja, aku juga melihat banyak mayat dan Hogwarts yang hancur, bahkan aku meninggalkan Ron dan Mione, aku tak punya siapa-siapa lagi... aku menyerah, aku begitu takut, aku takut..." Keluh Harry sambil mempererat cengkraman tangan bergetar itu di jubah Hufflepuff Cedricc.

Rasanya Cedricc juga ingin meneteskan air mata mengingat ia juga kehilangan seluruh keluarganya. Tapi sebenarnya, Cedricc tak peduli, ia hanya menginginkan Potter yang ada dalam pelukannya saat ini.

Ia tak tahan lagi...

Ia benar-benar tak tahan lagi untuk mengungkapkan segalanya...

Mata Harry melotot ketika Cedricc mendorong bahunya untuk menjauh. Saat Harry ingin bertanya apa ada yang salah, ia malah mendapati mata coklat yang bening itu menatapnya penuh makna, bahkan ia bisa lihat bibir Cedricc yang kemerahan di tempat segelap ini juga wajah tampannya.

"A-Ada apa?" Tanya Harry takut-takut dengan ketidak mengertiannya terhadap sikap laki-laki kawan seperjuangan dari asrama lain itu selama masih berada di Hogwarts yang damai.

Cedricc hilang akal melihat wajah Harry yang begitu basah akibat terlalu banyak menangis dan meratapi, bukannya berpikir untuk segera berteleportasi, jari-jari Cedricc dengan perlahan mengusap sisa-sisa air mata di wajah kemerahan yang dalam pandangan Cedricc tetap imut.

"Jangan menangis, Potter. Aku akan selalu mengikutimu kemanapun, kalau kubisa, aku juga akan selalu mendampingimu..." Ucapnya dengan wajah dan suara yang lembut. Tulus dari dalam hatinya.

Harry agak canggung dan berusaha menghindar sedikit. Beberapa jam lalu, ia merasa aneh dengan Draco yang memanggilnya 'Honey', bahkan, Cedricc sekarang yang terlihat agak aneh. "Ke-kenapa kau.." Gumam Harry malah tak ingat kemana ratapannya yang barusan itu.

"Harry..." Cedricc tanpa ragu mendekatkan wajahnya, terutama mendekati bibirnya untuk memberi salam pada bibir mungil Harry. Dan entah kenapa, karena terlalu shock dan sedikit berdebar, Harry malah sulit untuk bergerak. Iapun buru-buru memejamkan mata berusaha mengelak ketika Cedricc serius ingin memciumnya, "Aku menyukaimu..."

"CRUCIO!"

"UAGGGHHT!'

Mata Harry terbuka saat ia mendengar lengkingan kencang di depannya dan ia merasa Cedricc sudah jauh darinya, ia kaget juga saat mendapati Cedricc menggeliat sangat kesakitan. Ketika Harry yakin ini perbuatan akibat rapalan sihir, Harry melihat sumber pembuatnya dan mata dibalik bingkai bulat itu melotot sempurna begitu mendapati sosok yang tak pernah ia lihat...

Ia mendapati sosok setinggi Cedricc dengan rambut pucat panjang sebahu, mata yang seram dengan iris rubby, taring yang mencuat, kulit putih pucat pasi dan sayap hitam di punggungnya yang tak cukup besar tak beralas kaki dengan kuku-kuku kaki dan tangan yang memanjang berwarna hitam.

Ya, sosok vampire Draco yang Harry tak ketahui.

"Hahaha! Rasakan! Rasakan itu, Diggory brengsek!"Tawanya dengan suara yang berat masih menikmati kesakitan Cedricc dengan rapalan mantranya. Begitu sangat kesal ketika ia mendapati sosok pria busuk itu memaksa mencium Harry-nya!

"Uagghtt!" Teriakan Cedricc terus melengking, membuat Draco tak tahan untuk membenturkan badan jangkung itu ketanah berkali-kali dengan sihirnya. Tak segan-segan memberi penyiksaan sebelum Diggory menjemput ajalnya.

Harry yang tak tahu sosok apa itu, tetap tahu situasinya sekarang, ia harus menyelamatkan Cedricc! Saat Harry akan menggapai tongkat sihirnya yang tergeletak di tanah yang tak jauh dari tangannya, ketika sebentar lagi menggapainya,

Draco mengetahuinya dan mementalkan tongkat sihir Harry dengan pancaran sihir tongkat eldernya yang sejenak menghentikkan penyiksaan Cedricc.

"Aku tak akan membiarkanmu menyelamatkannya, Potter~" gumam Draco Vampire. Nampak di hadapannya terbaring tubuh Cedricc dengan dahi yang mengucur darah banyak. Cedricc tak bohong merasa seluruh tulangnya remuk akibat bantingannya berkali-kali dengan tanah dingin maze ini.

Harry terdiam untuk mengamankan suasana, saat sosok aneh itu mulai kembali akan menyiksa Cedricc, Harry langsung berlari untuk menggapai tongkat yang tepental tadi.

"SECTUSEMPRA!"

"Agh!" Harry tersungkur saat itu juga dan kedua pergelangan kakinya mengucurkan darah. Harry menggeliat kesakitan begitu merasakan mata kaki keduanya terasa hampa. Draco yang kesal langsung membakar tongkat sihir Harry masih dengan mengandalkan kilatan tongkat eldernya. Draco yang tahu Cedricc mulai tak berdaya perlahan menghampiri Harry yang hanya bisa meringsut pelan dengan kedua tangannya itu.

"K-K...Kumohon, jangan sakiti Potter..." Ringis Cedricc cemas ketika tanpa Ragu Draco melukai kedua kaki Harry.

Harry amat takut saat sosok menyeramkan itu berjalan mendekatinya. Ketika sosok itu mendekat, Harry meringsut secepat mungkin.

Draco tambah kesal dengan tingkah orang yang amat di cintainya itu. Dan perlahan mengubah sosoknya menjadi Draco Malfoy pada umumnya dan dengan selembut mungkin menghampiri Harry.

Harry yang baru sadar sosok itu adalah sang Dark Lord, tetap merasa ketakutan tatkala ia sudah kehilangan tongkat sihirnya dan tak bisa melakukan penyerangan sekecil apapun.

"J-Jangan dekati aku..." Pinta Harry meringsrut menjauh dari sang Dark Lord.

Draco terhenti dan mendecak.

Kenapa?

Kenapa?

Kenapa Harry masih tetap menjauhinya?!

Kesal!

Bukan itu saja! Draco merasa kesal ketika mata yang indah yang ditutupi bingkai bulat itu mulai berair ketika ia yang tampan ini mendekatinya!

Draco mengeluarkan tongkat eldernya dan tanpa segan mengkilatkan cahaya dari ujung tongkat itu dan melukai kedua pergelangan Harry.

"POTTER!" Teriak Cedricc.

"Aghh!" Harry menjerit dan tubuhnya tertidur begitu saja di atas tanah dingin itu, sudah tak bisa bergerak lagi, kaki dan tangannya terasa begitu amat menyakitkan untuk sedikit saja di gerakkan. Mendapati tubuh mungil Harry terkapar telentang tanpa penjagaan,

Draco dengan santainya menapakkan kedua kakinya dan lututnya di antara pinggang Harry dan tepat berada dihadapannya. Tanpa sadar, Harry mulai terisak, ia baru sadar ia begitu di hantui oleh laki-laki ini, ia sadar, baik Draco maupun Cedricc punya cinta abnormal dan ia tahu mereka berdua sampai seperti ini karena menginginkannya.

Bahkan, Kini Harry benar-benar mengalirkan air matanya melihat wajah tampan dihadapannya yang begitu dekat dan tengah mencengkram dagunya ini begitu terlihat menyeramkan.

"Catch You!" Ungkap Draco. "Benar kata Luna, kau tak akan bisa kudapatkan kalau aku tidak menyakitimu, Potter!" Decak Draco dengan tekanan nada yang terdengar kesal sambil mencengkram pipi itu dengan semakin erat.

"MALFOY BRENGSEK! KAU BOLEH MENYAKITIKU DAN MEMBUNUHKU, TAPI AKU TAK TERIMA KAU MENYAKITI HARRY POTTER KITA YANG BERHARGA!"

Draco mendelik kearah tubuh yang terkapar itu. "Hah? Apa? Milik kita? Kau sedang bercanda ya, Diggory? Tak usah kau suruhpun, nanti juga aku akan membunuhmu, tapi asal kau tahu saja ya, aku yang susah payah mendapatkan Potter, jadi dia 'hanya' milikku."

"Sialan..."

"Biar aku tunjukkan padamu langsung, Diggory!" Seringai Draco. "Kiss Me! Harry Potter!"

SRET!

Harry kaget ketika Draco merobek bajunya. "A-Apa yang—mmnhh...hh." Harry belum menyelesaikan kalimatnya namun Draco memaksa menciumnya dengan ganas.

'Akhirnya, kudapatkan.' Batin Draco tak bohong ia begitu merasa enak ketika mendapatkan segala awal yang diinginkannya saat ini.

Harry Potter miliknya.

"Mhhnn,,hhhgggg." Harry meringis saat tangan Draco memelintir nipelnya dan menciumnya ganas tanpa jeda bahkan saat Harry berontak, Draco malah menggigit lidah Harry dengan taringnya.

Pemandangan itu sukses membuat Hati Cedricc hancur dan matanya terasa sakit.

Ya, Harry yang selalu di impikannya menggeliat dalam pelukkannya, mendesah di telinganya, bahkan meratap tatapan memohon untuk menghangatkannya...

Rival itu sudah mengambil segalanya dengan cara paksa meski dia hanya mencium dan merasakan dada mungil itu. Cedricc tetap merasa terpukul.

Setelah dirasanya Harry sudah kewalahan, Draco meninggalkan sang pujaan yang terkapar dengan begitu banyak liur dan sedikit darah di bibir dan dadanya hanya sekedar untuk menamatkan riwayat sang Rival.

Duak. Draco dengan murkanya menendang tubuh jangkung yang tak berdaya itu. "Aku benci kau, Diggory! Kau brengsek! Brengsek! Sialan!" Geram Draco masih merasa muak melihat wajah sang rival yang masih bernyawa. Kemudian, Draco mengeluarkan tongkat sihir pertamanya, ya, tongkat sihir hitam bernama Hawthorn, ia tak sudi kalau membunuh seekor Diggory saja dengan tongkat Elder-nya. Draco mengacungkan tongkat itu tepat dihadapan wajah Cedricc. "Nah, Good-Bye, Diggory..."

WUSSH~

Belum sempat merapalkan mantra kesayangannya, baik Draco, Cedricc dan Harry bisa merasakan angin kencang berhembus dan seperti membuka jalan keluar dalam maze ini. Tak berapa lama, Draco bisa melihat sosok tampan dengan rambut hitam dan jubah hitamnya dan tentu saja dengan wajah datar.

"Maafkan kelancanganku, My Lord. Nona Bagshot menyuruhku untuk menjemput Anda dan Tuan Harry Potter kembali ke Manor, dan aku sangat minta maaf, kami meminta Anda untuk tidak membunuh Cedricc Diggory." Ungkap Pria tampan itu datar namun terkesan sopan, ya, Regulus Black.

"Apa maksudmu!? Aku harus membunuh bajingan ini!" Elak Draco dan menginjakkan salah satu kakinya di perut Cedricc.

"Sekali lagi aku minta maaf, Nona Bagshot bilang anak dalam ramalan tak boleh dibunuh karena akan mengganggu keseimbangan atas kemenangan kita. Untuk masalah Cedricc Diggory, aku dan kakakku yang akan bertanggung jawab."

"Cih." Decak Draco dan menuju Harry yang nampak tak juga berdaya. Tanpa ragu, Draco menggotongnya bak seorang putri. Draco cukup kesal karena banyak targetnya yang gagal terbunuh, tapi Draco tetap senang karena sudah mendapatkan permatanya. "Baiklah, kita pulang." Perintah Dark Lord muda itu dan berteleportasi menuju Manor tercintanya. Ia juga yakin Luna pasti sudah lebih dulu berada disana bersama si Granger.

Regulus membungkuk patuh dan membopong tubuh Cedricc sebelum ia juga menghilang dari maze itu.

0o0

Harry tersadar dari kekacauannya dan merasakan hawa dingin mencekam menyentuh kulitnya. Saat bola mata shappirenya terbuka, dia sadar dia tengah di gendong oleh seseorang, saat ia menatap lurus keatas melihat dagu orang itu, Harry menemukannya, ya, senyum kemenangan beserta seringai terkuat laki-laki peleceh tubuhnya itu, Draco Malfoy sang Dark Lord yang sudah resmi menjadi penguasa termuda Dunia sihir ini.

Nampaknya, Laki-laki tampan yang menggendongnya ini tak menyadari Harry telah sadar dan masih menatap dan bercengkrama kearah depannya.

"Hssh.." Harry meringis kecil saat mencoba bergerak sedikit, namun luka-luka lebam yang ia dapat tak berapa lama dari Lelaki yang paling dekat dengannya ini cukup mengganggunya dan membuat Malfoy terhenti dari celotehnya.

"Harry, kau sudah sadar?" Tanya laki-laki berambut pirang itu ramah, juga iris mata Rubby itupun menatapnya lembut. Membuat Harry hanya terdiam bingung. Masih sedikit takut juga menatap iris berwarna merah itu.

"Harry..." Suara kecil yang agak jauh membuat Harry reflek menoleh. Harry melotot ketika melihat Hermione yang cederanya sudah diobati itu berdiri di kawal Pansy, Crabe dan Goyle. Dan tak jauh dari mereka ada Cedricc yang nampak bersyukur saat tahu Harry tersadar yang berdiri di antara Sirius dan Regulus.

Harry juga melihat Lucius, Narcissa, seorang nenek tua dan para petinggi penyerang ada di ruang ini tepat duduk di meja bersama Draco.

"Draco, biar aku urus Potter dulu." Seorang wanita berambut pirang mendekati Draco dan meminta mengambil alih atas dirinya.

"Ah, tidak usah, Luna. Biar aku yang membawanya keruang perawatan." Ungkap Draco masih dengan senyum bahagia dan beranjak dengan masih membawa Harry dalam pelukannya. "Maaf semuanya, aku tinggal sebentar."

"Yes, My Lord." Ucap semua yang ada di ruang itu serempak.

0o0

Draco, Luna dan Harry sampai di ruangan yang lebih hangat dan lebih nyaman daripada ruang sebelumnya. Saat Harry tengah di baringkan di salah satu ranjang, Harry melihat orang yang di kenalnya tengah terbaring di ranjang sebelahnya.

'Proffesor Lupin?' Tanyanya dalam hati. Ia jadi penasaran, siapa lagi yang di selamatkan oleh karakter-karakter jahat ini?!

"Honey, kau beristirahatlah. Dan kau jangan pernah berniat meninggalkanku, hm?" Harry cukup kaget ketika jidat Draco menyentuh keningnya. Bahkan Harry melihat dekat corak Rubby itu dengan mata birunya. "Aku mencintaimu." Draco mengecup kening Harry sebelum ia meninggalkannya bersama Luna. Luna tahu laki-laki itu sekarang akan sangat sibuk membentangka segala pengikutnya merayakan kemenangan. Ya, dia adalah Dark Lord yang punya peran besar di Era baru ini.

Harry mengerti semua. Ya, Harry tidak tahu ia pernah berbuat salah apa pada laki-laki yang menurutnya gila itu namun di sembah banyak pengikut. Yang jelas, Harry tahu laki-laki itu begitu mencintainya dan bisa berlaku kejam jika tak mendapatkan dirinya.

Tapi, kenapa harus begini?

Kenapa dia harus mengumunkan perang dan mengambil banyak nyawa untuk orang seperti dirinya?

Harry! Apa yang harus kau lakukan?!

"Lebih baik kau urungkan niatmu jika kau ingin melakukan kudeta, Potter." Sahutan Luna yang masih sibuk meramu obat-obatan membuat Harry sedikit shock kenapa perempuan itu mengetahui pikirannya. "Ada banyak alasan kami menyelamatkan teman-temanmu. Sirius sangat menyayangi laki-laki itu, Grangerpun punya banyak peran untuk kami, dan Cedricc adalah anak dalam ramalan lain yang di butuhkan Nona Bagshot dan kedua saudara Black. Aku tak menjamin mereka akan di bunuh paksa oleh Draco jika kau berulah. Selain nyawa temanmu hilang, mungkin kau juga akan diburu oleh yang lain selain Draco." Ujar Luna panjang lebar.

Mengetahui semua yang dikatakan Luna banyak benarnya, juga dengan pikiran Harry yang buntu, Harry akhirnya diam. Luna mendekatinya dan mulai mengusap seluruh lukanya.

"Sebaiknya kau turuti saja laki-laki keras kepala itu untuk mencapai kebahagiaanya." Luna menyarankan namun Harry tahu Luna mengerti keadaannya. "Sebenarnya aku tak memihak siapapun, aku hanya berlindung dibalik punggung orang paling kuat. Sejujurnya, Draco bisa mengamuk atau mungkin akan benar-benar gila dan melemah jika dia tak mendapatkanmu. Kumohon, maklumi saja dia, sekarang dunia sedang ada di tangannya. Ini masa-masa kejayaannya. Beruntung kau yang berada di nomor satu yang akan di lindunginya."

Mendengar celoteh Luna, Harry masih tetap terdiam. Sakit hati atas kematian teman-temannya. Tapi Harry sadar, ia masih lemah menghadapi Draco...

0o0

Seminggu berlalu Harry berada di Manor ini. Semenjak hari itu, dia tak bertemu Hermione, Cedricc dan Lupin lagi. Lebih tepatnya, Harry tetap terdiam dan mengurung diri di kamar yang mewah yang Draco persiapkan khusus untuknya. Sesekali, Dark Lord muda itu suka bermalam bersamanya.

Harry semakin patah semangat melihat saat kegelapan semakin mencekam, semakin mendominasi, bahkan laki-laki berambut pirang dengan mata yang tadinya dahulu shappire itu yang duduk dekat di hadapannya tak lagi memiliki cela untuk Harry kalahkan.

"Permaisuriku, kenapa kau masih dingin kepadaku?" Tanya pangeran bermata ruby itu sambil mengecup pelan tangan Harry yang di genggamnya.

Laki-laki dengan kacamata bulat yang sudah di dandani sedemikian rupa tetap bisu. Tak pernah sedikitpun melontarkan kata di setiap godaannya Draco meski ia tahu ia akan mendapatkan balasan yang lebih menyakitkan.

Draco memiringkan kepalanya. Masih berlaku lembut dan memanjakan permasuiri hatinya itu. "Ada apa? Kau pucat, kau lapar, Honey?" Tanyanya tetap pura-pura tak tahu apa mau Harry.

Harry hanya ingin keluar dari sini dan bersembunyi bersama temannya yang tersisa. Tapi ia tahu, Draco tetap tak akan mengabulkannya.

Saat itu, Harry terhentak ketika Draco menghembuskan nafas seperti merasa percuma saja.

"Baiklah, Honey. Aku tak akan berbaik hati padamu. Aku tak tahan kalau kau tak bisa memuaskanku, aku tak tahan jika kau terus bisu seperti ini." Ujarnya sambil beranjak menjauhi Harry dan berdiri di pintu masuk kamar.

Mata Harry mengikuti pergerakannya. Harry merasakan firasat buruk.

"Bagaimana jika aku membuatkan pilihan?" tanya Draco angkuh sambil menyandarkan punggungnya di tembok dan melipat kedua tangannya di depan dada. Tak di pungkiri kalau laki-laki itu tampan. "Kau berbicara dan menerimaku atau..."

Perkataan Draco sengaja di gantung ketika mata biru Harry melotot melihat Hermione yang di pasung kepala dan tangan kakinya yang dibawa oleh Pansy dengan menggunakan tiang dorong.

"Ha-Harry..." Ringis Hermione merasa nafasnya tercekat.

"Atau kau ingin dia mati, Potter?" Seringai Draco. "Jujur saja, dia sudah seminggu berada dalam keadaan seperti itu tanpa kau ketahui, Harry. Aku tak butuh-butuh dia karena darahnya sudah tak berguna lagi untukku disaat aku memilikimu. Nah, bagaimana?" Tawar Draco dan dengan tak segan Pansy menggores pipi Hermione.

"AAAAAA!" Dan seketika teriakan Hermione menggema dan membuat mental Harry berguncang.

'CUKUP! KEPARAT KAU, MALFOY!" Teriak Harry tak karuan sambil berusaha berlari mendekati Hermione namun langsung di cegah oleh Draco dengan memeluknya paksa.

"Ow ow ow, kekasihku ini memang kasar sekali..." Tawa Draco saat Harry terus berontak darinya. "Syukurlah kau mau bicara~"

Namun, Pansy tetap menggoreskan pisau belatinya di sekitar kulit Hermione tanpa henti membuat Harry tak kuasa menahan air matanya melihat langsung kejadiaan penyiksaan tak terduga pada sahabatnya.

"Cukup... kumohon cukup Draco... aku akan mengabulkan segala yang kau mau, tapi kumohon, beri dia kebebasan yang layak, jangan kau siksa teman-temanku..." Isak Harry. Harry begitu lemah di hadapan Laki-laki brengsek itu. Ia begitu lemah ketika ia berusaha sekuat apapun untuk menolong temannya namun tak bisa.

"Hm, baiklah. Pansy, sudah cukup main-mainnya. Lepaskan pasung mudblood itu dan obati sebisanya lukanya. Tetap awasi dia." Seringai Draco sambil menahan senyum kemenangan melihat wajah Harry yang mengampun padanya..

"Roger, Dray~" Ungkap Pansy sebelum pergi dan menutup pintu kamar khusus ini.

Dan ketika merasa sudah di tinggal berdua, Draco menjatuhkan pelan tubuh Harry. "Nah~ waktunya, Potter. Kau harus melayaniku..." Ungkapnya dengan mata dan senyum yang selalu membuat Harry bergidik.

Dengan menahan isakannya. Harry mulai bergerak pelan melepas baju-baju yang di kenakannya dengan Draco yang terus diam memperhatikannya dan setia menunggu.

"B-Bagaimana? Bagaimana dengan Cedricc dan Prof. Lupin?" Tanya Harry tanpa menghentikan gerakan keraguannya.

"Aku tidak tahu, sepertinya Lupin baik-baik saja sejak ia bersama Sirius, aku yakin Sirius akan bersikap berbalik daripadaku terhadap kekasihnya. Dan si Diggory brengsek itu begitu di jaga ketat dan mengikuti pelatihan bersama Regulus. Sayangnya, mudblood itu tak berarti buat kami dan dia pantas mendapatkan perlakuan itu, tapi karena kau meminta memberinya kehidupan layak, aku akan menurutinya, Honey~" Ucap Draco panjang lebar hingga Harry usai menelanjangi dirinya.

Draco menjatuhkan tubuhnya di atas Harry...

Harry benar-benar merasa gelisah dengan keadaan ini, namun demi kebaikan Hermione, ia menerima segala kesakitan demi sahabatnya yang tertinggal itu.

"Kita mulai malam yang panjang, Honey. Aku mohon kerjasamanya..." Bisik Draco seduktif di balik telinga Harry. Dan malam yang mengesankan untuk Dark Lord inipun setelah sekian lama berjuang akhirnya akan di mulai dari sekarang...

E.N.D

Howaaaaa~ NC? LEMON? YAOI? DRARRY?

AAAA~ Silahkan reader pikirkan NC-nya ya X3

Ne~ gomenne bila endingnya ndak sempurna :3 Author mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya untuk reader yang setia mengikuti FF "Dare You" ini, author pun minta maaf sebesar-besarnya jika ff ini memiliki banyak kekurangan begitupun authornya yang banyak kekurangan di dunia per-FF-an.

Namun, yang namanya belajar yang bertahap :3

Auhor hanya berusaha meramaikan FFN dan menghibur DrarryLova dengan sumbangan FF saya ini. Ne! Jika ada kemungkinan, dan FF sudah banyak yang tamat, semoga author di beri kesempatan untuk mengetik FF lagi~

Ne~ gomenne, author di dunia nyata memang menyusahkan, dan minta dukungannya buat reader tercinta karena author akan di pinang awal tahun nanti, semoga ketika sudah jadi istri orang masih diberi kesempatan buat meramaikan FFN ^^

Na, Semuanya~ See Ya~ :* ^3^/