The Cupid of YunJae

Cast:Kim Jaejoong (25 years old)

Jung Yunho (25 years old)

Jessica Jung as Jessica Lee (23 years old)

Leeteuk as Leader of Angel (28 years old)

Shim Changmin as Cupid of Yunho (20 years old)

Kim Junsu as Cupid of Jaejoong (23 years old)

Author: Kim Fabia/Kinomoto Fabia

Genre:Humor, Fantasy, Romance

Summary:Dua malaikat cinta (cupid) putus asa, Junsu dan Changmin tak sengaja bertemu untuk menyatukan YunJae yang sudah lama terpisah. Bagaimana usaha kedua malaikat ini untuk menyatukan YunJae sementara Yunho akan menikah 1 hari lagi?

Warning:no edit, typo(s) everywhere, yaoi ^^

Story Copyright ©Kim Fabia/Kinomoto Fabia

THE CUPID OF YUNJAE

"Yunho-ah, eomma harap kau bahagia dengan yeoja pilihanmu kelak" ujar Jung Jihye atau yang akrab disapa Mrs. Jung pada putranya yang tengah berdiri disampingnya. Sementara matanya tak lepas mengawasi para pelayan yang lalu lalang membawa bermacam-macam barang untuk keperluan pesta pernikahan putranya yang akan dilakukan besok.

Yunho mengangguk pasti dan tersenyum menenangkan ibunya. "Nde, eomma. Terima kasih atas doamu" ujarnya.

Mrs. Jung kemudian mendorong punggung Yunho. "Jja! Lebih baik sekarang kau istirahat, arrachi? Eomma tak mau melihatmu kelelahan di upacara pernikahan besok" ujar .

Mau tak mau, Yunho menuruti ibunya dan melangkahkan kakinya menaiki tangga, melewati beberapa maid yang tengah membawa dua kardus besar berisi karangan bunga untuk pesta yang akan diadakan besok disini setelah upacara pernikahan.

Dilepaskannya kemeja yang sedari tadi menempel di tubuhnya dan melemparkannya asal. Dihempaskannya tubuhnya ke kasurnya. Lelah. Itulah satu kata yang pas untuk menggambarkan keadaannya sekarang. Matanya beralih menatap meja nakas, tempat beberapa kertas undangan tak bernama yang tersisa untuk teman-temannya tertumpuk rapi. Sepertinya Yunho sudah mengundang semua teman-teman yang ia kenal.

Sepertinya….

Dan secara otomatis, begitu mendengar kata-kata teman, ingatan Yunho pun kembali ke 10 tahun yang lalu, masa dimana ia pernah tinggal di suatu daerah Jinan sejak kelas 1 SD dan bersahabat dengan seorang namja cantik bernama Kim Jaejoong, sebelum akhirnya ia sendiri pindah ke Seoul. Namja cantik yang selalu menemani hari-harinya, mengajaknya bermain kesana kemari hingga tak jarang beberapa orang mengira mereka pacaran.

Ah, ngomong-ngomong dengan Kim Jaejoong, bagaimana yah kabarnya? Masihkah ia cerewet dan suka seenaknya sendiri seperti dulu atau sudah berubah? Masih ingatkah ia pada Yunho atau jangan-jangan ia sudah lupa sama sekali? Mengingat terakhir mereka bertemu adalah sehari setelah pengumuman kelulusan SMP dimana Yunho pindah dan terakhir kali Yunho mengiriminya surat ketika ia kelas 2 SMA. Dan itu adalah surat terakhir Yunho untuk Jaejoong karena setelahnya Jaejoong tak membalas suratnya lagi. Kabar yang terakhir Yunho dengar dari orang tuanya, saat ini Jaejoong menjadi seorang arsitek terkenal dan tinggal di Jepang. Dan mungkin ini adalah suatu keberuntungan dimana Yunho dapat mengundang Jaejoong ke acara pernikahannya karena secara kebetulan namja cantik itu tengah berada di Seoul untuk 1 minggu ke depan.

Ah….10 tahun tak bertemu dengan Jaejoong, Yunho jadi penasaran bagaimana wajah sahabatnya itu. Ia juga ingin tau bagaimana kelakuan Jaejoong sekarang. Mungkinkah Jaejoong sudah berubah dan menjadi seorang pria dewasa yang anggun? Atau tak jauh beda dengan yang dulu, masih seenaknya sendiri?

Yunho pun meletakkan kepalanya di bantal. Matanya yang terasa berat ditambah lagi dengan tubuhnya yang kelelahan memaksanya untuk memejamkan mata dan menjemput mimpi. Namun disaat ia memejamkan matanya, sosok cantik Jaejoong dimasa lalu, 10 tahun yang lalu, muncul begitu saja. Dan saat itu juga sebuah perasaan aneh muncul jauh di dalam lubuk hati Yunho. Sebuah perasaan rindu teramat sangat ketika wajah cantik itu terlintas di benaknya. Sebuah perasaan yang Yunho tak mengerti, yang mungkin saja, lebih dari sekedar rasa rindu semata.

XoXoXoXo

Sementara itu, di sisi lain kota Seoul, terlihat seorang namja cantik yang baru saja turun dari mobil Porsche hitam milik kakaknya. Namja cantik itu menyeret sebuah koper berukuran besar memasuki sebuah pelataran rumah bergaya eropa kuno.

"Aku pulang!" teriaknya begitu memasuki ruang tamu yang langsung disambut hangat pelukan sang ibu.

"Kyaaaa! Jongieku pulang!" teriak seorang yeoja berusia 43 tahun dengan nada girang ketika melihat anak keduanya menginjakkan kakinya di rumahnya.

"Eomma! Jangan berlebihan. Joongie tidak bisa nafas nih" rengek namja yang dipanggil Joongi itu sembari berusaha melepaskan diri dari pelukan ibunya.

"Heechul-ah, biarkan anak kita bernafas dulu" tegur seorang namja berwajah China yang tak lain adalah Kim Hankyung atau yang akrab disapa Gege.

Kim Heechul yang merupakan istri Kim Hankyung sekaligus ibu dari Kim Jaejoong dan Kim Siwon, langsung mendeath glare suaminya. "Biarkan saja. Aku kan kangen dengan putraku" ujarnya masih dengan posisi memeluk Jaejoong.

Baik Jaejoong mau pun Hankyung hanya bisa memutar mata mereka melihat kelakuan Heechul yang dirasa sedikit berlebihan. Yah, mengingat hampir setiap 3 bulan sekali Jaejoong pasti selalu pulang menjenguk kedua orang tuanya meski ia hanya tinggal 3-4 hari di Seoul.

"Jja! Joongie, sekarang kau makan, nde? Eomma sudah memasakkan sup rumput laut kesukaanmu. Ayo, ayo!" ujarnya dengan semangat menggiring Jaejoong menuju ruang makan.

Jaejoong melangkahkan kakinya ke ruang makan dan diam saja menuruti kemauan ibunya meski sebenarnya ia lelah dan ingin istirahat terlebih dahulu, tapi sepertinya percuma ia membantah karena nanti ibunya pasti akan menghampirinya dan menyeretnya makan. Jadi yah, lebih baik ia makan saja dulu agar setelah itu ia bisa beristirahat dengan tenang.

Suasana makan malam yang memang pada dasarnya sudah ramai, kini bertambah ramai dan hangat mengingat Jaejoong yang tak kalah cerewet dari ibunya pulang dan bergabung bersama. Sesekali mereka tertawa ketika mendengar hal lucu yang terlontar dari salah satu anggota keluarga, sesekali pula Jaejoong terlihat adu mulut dengan ibunya karena ibunya terus menerus menggodanya dan menyuruhnya untuk menikah.

"Ah, Jae! Ngomong-ngomong soal pernikahan, eomma punya sesuatu untukmu. Tunggu sebentar" ujar Heechul ketika ia tengah membereskan meja makan bersama Jaejoong setelah makan malam. Ia pun beranjak sebentar dari ruang makan dan setelah itu ia kembali membawa sebuah kertas tebal berwarna merah yang didesain sedemikian rupa menyerupai buku dengan tulisan sewarna emas tercetak rapi diatasnya. Disana tertulis jelas nama Jaejoong di bagian penerima alamat.

"Undangan? Untukku?" ujar Jaejoong sembari membolak-balikkan surat undangan yang masih tersegel rapi.

Heechul mengangguk. "Nde. Dari Jung Yunho, sahabatmu. Tadi Yoochun yang mengantarkannya kemari. Sepertinya Yunho tak tau kalau kita sudah pindah kesini. Lihat saja, alamatmu ditulis Jinan" ujar Heechul menunjuk bagian alamat penerima dengan tangannya yang penuh busa sabun. Beberapa busa sabunnya jatuh tercecer di sekitar wastafel.

Jaejoong mengangguk menyetujui kata-kata ibunya. Dapat ia lihat dibawah namanya tertulis nama kota Jinan, bukannya Seoul. Sepertinya dugaan ibunya memang benar. Ia kemudian meletakkan surat undangan itu ke meja makan dan menghampiri ibunya dan bersiap mengelap piring-piring yang sudah bersih. Namun Heechul mencegahnya dan malah mengusirnya.

"Sana, sana. Pergi saja ke kamarmu dan istirahat. Besok kau harus bangun pagi untuk ke acara pernikahan Yunho. Eomma tak mau kau terlambat" ujar Heechul.

Jaejoong melangkahkan kakinya menuju kamarnya yang berada di lantai dua dengan surat undangan Yunho berada ditangannya dan tak terlalu memerhatikan kata-kata ibunya. Karena yang ia pikirkan saat ini hanyalah tidur dan tidur.

XoXoXoXo

Jam menunjukkan pukul sembilan waktu setempat ketika Jaejoong selesai mandi dan tengah duduk di samping kasurnya sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Matanya beralih menatap surat undangan Yunho yang tergeletak di meja belajarnya.

Dia mendudukkan dirinya di jendela kamar yang sengaja ia buka lebar-lebar agar dapat menikmati indahnya purnama diluar sana sembari membuka surat undangan dari Yunho. Entah kenapa, tangannya terasa berat sekali hanya sekedar untuk membuka selembar kertas saja.

"Mwo? Besok?! Jam 9 pagi?!" Jaejoong terpekik begitu melihat tanggal dan juga jam yang tertera di dalam undangan tersebut ketika ia berhasil membukanya.

Dibanding kaget, mungkin tepatnya saat ini perasaannya lebih mengarah ke tidak percaya. Yap! Tidak percaya kalau yang akan menikah besok itu adalah Jung Yunho, sahabatnya sendiri sekaligus….cinta pertamanya.

Yah….bisa dibilang sudah sejak lama Jaejoong dan Yunho bersahabat, sudah sejak kecil saat mereka masih kelas satu SD. Kala itu, keluarga Yunho yang merupakan orang baru di daerah Jinan, sangat akrab dengan keluarga Jaejoong sebagai tetangga. Dan hal itu mau tak mau membuat kedua putra mereka, Yunho dan Jaejoong pun ikut akrab. Hampir setiap hari kedua anak itu selalu bersama dari pagi hingga malam. Tak jarang, Yunho pasang badan dan membela Jaejoong ketika banyak anak laki-laki yang menggoda Jaejoong. Dan tak jarang pula Jaejoong menemani Yunho berlatih basket atau pun sebaliknya ketika Jaejoong tengah berlatih bermain piano di ruang music. Hingga tak jarang teman-teman dan tetangga mereka menganggap mereka berdua pacaran.

Cherry lips itu melengkung membentuk senyuman indah sekaligus menyedihkan ketika Jaejoong mengingat masa-masa indahnya bersama Yunho, yang mungkin setelah ini hanyalah kenangan semata.

Doe eyes itu menatap kea rah rembulan yang tengah menyembunyikan dirinya dibalik awan kelabu tipis yang menyelimuti dinginnya malam, sedetik kemudian matanya terpejam tatkala angin malam bertiup lembut. "Yunho…." ujarnya pelan, masih dengan mata yang terpejam sembari membayangkan wajah Jung Yunho 10 tahun yang lalu. Wajah tampan dengan mata musang yang menatap tajam kepada siapa pun yang berniat menyakiti Jaejoong. Wajah yang selama 10 tahun ini selalu terbayang-bayang dalam benak Jaejoong tanpa ia bisa lupakan sedetik pun. Wajah yang selalu ia rindukan, tubuh yang selalu ingin ia peluk dan tak akan pernah ia biarkan pergi lagi. Namun sayangnya…..itu hanyalah angannya semata karena sebentar lagi wajah tampan itu akan menjadi milik orang lain.

Huft….andai saja Jaejoong menyadari lebih awal jika perasaannya itu bukanlah sekedar perasaan suka sesama sahabat, melainkan rasa cinta kepada sahabatnya, mungkin semuanya tak akan begini. Mungkin saja Yunho juga memiliki perasaan yang sama padanya, meski itu dulu.

Tapi sayang, semuanya sudah terlambat dan Jaejoong tak dapat mencegah pernikahan Yunho yang akan dilangsungkan beberapa jam lagi dari sekarang. Jaejoong hanya dapat menghela nafas, menahan rasa sakit dan penyesalan yang memenuhi dadanya.

Dilangkahkannya kakinya menuju tempat tidur setelah sebelumnya menutup jendela kamarnya tanpa menutup gordennya, membiarkan cahaya rembulan memasuki ruang kamarnya yang telah gelap. Dibaringkannya tubuhnya di kasur sembari menatap kea rah rembulan yang berada diluar sana. Satu hal yang disadarinya ketika menatap rembulan itu. Ia dan sang rembulan memang sama-sama cantik, namun sayang, ia dan sang rembulan juga sama-sama kesepian, selalu sendiri.

Kembali Jaejoong menghembuskan nafasnya sembari meresapi arti kata-kata 'kesepian'. Diumurnya yang sekarang telah menginjak 25 tahun, harusnya ia sudah memiliki kekasih, seharusnya. Tapi sayang, semua itu hanya angannya belaka karena orang yang selama ini ia impikan menjadi kekasihnya, cinta pertamanya, Jung Yunho, sebentar lagi akan menjadi orang lain. Dan Jaejoong tak dapat melakukan apa pun untuk mencegahnya. Yah, kecuali jika ada sebuah keajaiban yang datang menghampirinya esok. Dan itulah yang Jaejoong butuhkan sekarang, sebuah keajaiban.

XoXoXoXo

Di tempat lain, di langit sana, terlihat seorang namja tampan berlesung pipi yang berpakaian serba putih dengan syal putih sewarna yang membalut rapi lehernya tengah mondar-mandir didepan taman istana, menunggu dua orang hoobaenya yang ia tugaskan untuk melihat keadaan target mereka di bumi.

"Aish! Mereka lama sekali sih!" omel pemuda bernama Leeteuk itu yang tak lain adalah pemimpin malaikat cinta alias leader dari para cupid disini. Wajahnya terlihat khawatir ketika dua dongsaengnya itu belum juga pulang dari lima jam yang lalu. Sayap indah nan halusnya sesekali mengepak pelan, senada dengan suasana hatinya.

DUAGH

"Awww!" teriak seorang cupid lain yang tak sengaja terjatuh ketika ia lewat dibelakang Leeteuk akibat terkena hantaman sayap sang leader.

"Ah, mianhe, Onew. Aku tak melihatmu. Jeongmal mianhe" ujar Leeteuk sembari membungkuk untuk membantu Onew.

"Hati-hati kalau jalan dong, hyung" sungut cupid bernama Onew itu sembari memegangi jidatnya yang bentol akibat hantaman sayap Leeteuk.

"Hehehe….aku kan sudah minta maaf, Onew-ah. Lagi pula, apa yang kau lakukan malam-malam begini?" tanya Leeteuk sembari tersenyum.

"Aku baru selesai menjemput Taemin yang tersesat" ujar Onew yang masih memegangi jidatnya. Taemin adalah salah satu cupid baru yang baru bertugas 1 bulan disini. Dan dia tersesat sampai ke China padahal targetnya di Busan. "Kau sendiri? Apa yang kau lakukan disini?" Onew balik bertanya.

"Aku sudah menunggu Junsu dan Changmin. Apa kau melihatnya?" tanya Leeteuk.

Onew menjetikkan jarinya. "Ah! Junsu hyung yang suaranya mirip lumba-lumba dan Changmin yang tinggi itu?" tanyanya memastikan. Leeteuk mengangguk cepat. "Tadi aku melihat mereka di langit terbawah. Aku tak tau apa yang mereka lakukan tapi wajah mereka terlihat muram" jelasnya.

Leeteuk mengepalkan tangannya menahan emosi. Dia heran apa yang dilakukan dua dongsaengnya yang paling hobi bertengkar itu dibawah sana. Bukannya pulang malah keluyuran tak jelas. Tak tahukah mereka kalau Leeteuk tengah menunggu laporan tentang target mereka? "Ah. Gomawo infonya, Onew. Kalau begitu aku pergi dulu" ujarnya yang langsung terbang saat itu juga, menjemput dua dongsaengnya.

XoXoXoXo

Sementara Leeteuk tengah dalam perjalanan menjemput MinSu, kedua cupid ini malah tengah duduk santai di atas awan yang membatasi daerah langit dan bumi sembari bersiap menghadapi nasib.

"Huft…..apa yang harus kita lakukan saat ini, hyung? Kalau Leeteuk hyung sampai tau hal ini, matilah kita" ujar Changmin dengan pandangan kosong dan nada sedih.

"Entahlah, Changmin. Mungkin kita akan dibuang ke Bumi" jawab Junsu dengan nada polos, tak sadar kalau sudah membuat dongsaengnya itu jantungan.

"Andwaeyo! Aku lebih baik menjadi malaikat pembersih Pegasus dari pada harus dibuang ke Bumi" teriaknya histeris. Yang benar saja! Dibuang ke Bumi sama saja tidak ada kesempatan untuk menjadi malaikat lagi. Dan tentu saja Changmin sangat menolak hal itu.

"Lalu bagaimana?! Haruskah kita menembakkan panah cinta ke mereka berdua sekali lagi?! Lagian aku tidak tau kenapa targetmu malah lari dan menghindar dari benang merah yang telah digariskan untuknya! Kerjamu selama ini ngapain saja sih?! Apa kerjamu cuma makan saja sampai targetmu salah jodoh begitu?!" repet Junsu panjang lebar, mengungkapkan uneg-unegnya pada Shim Changmin yang dianggapnya lalai mengerjakan tugas karena membiarkan Jung Yunho yang merupakan target Shim Changmin sekaligus pasangan jodoh dari Kim Jaejoong menemukan jodoh lain dan parahnya besok mereka akan menikah! Padahal sejak YunJae dilahirkan kembali di dunia ini, hampir semua malaikat langit menanti mereka bersatu kembali. Mengingat mereka dikehidupan sebelumnya merupakan pasangan legendaris yang harus terpisah karena Yunho yang notabenenya jenderal harus meninggal dalam perang, meninggalkan istrinya, Kim Jaejoong. Dan sekarang saat Yunho dan Jaejoong dipertemukan kembali malah entah bagaimana ceritanya Changmin membiarkan Yunho menemukan orang lain padahal Jaejoong selalu setia menantinya. Oh Gosh! Ingin rasanya Junsu membunuh Changmin saja! Dia tak tau apa jadinya jika Leeteuk yang merupakan pemimpin para cupid tau hal ini. Belum lagi jika malaikat lainnya tau hal ini juga! Bisa-bisa Junsu mati dibunuh seisi kerajaan karena gagal memersatukan Yunho dan Jaejoong.

"Hyung, apa kau merasa ada sesuatu yang akan datang? Entah kenapa aku merasa sedikit merinding" ujar Changmin sembari mengedarkan pandangannya kesana kemari, mencari tau siapa yang mungkin menghampiri mereka karena tiba-tiba bulu kuduknya berdiri semua. Dan saat matanya menangkap sesuatu berwarna putih yang terbang kea rah mereka, ia langsung menggenggam lengan Junsu erat-erat. "Huwaaaa! Apa yang harus kita lakukan, hyung?! Omo! Teukie hyung datang! Andweeeeeyo! Tamatlah riwayat kita, hyung! Mati kita, mati! Hyung aku mau pergi saja!" Changmin berteriak-teriak histeris di lengan Junsu. Baru saja ia hendak terbang dan melarikan diri, namun Junsu sudah memegangi sayapnya erat-erat. Enak saja Changmin mau kabur dan meninggalkannya diomeli Leeteuk begitu saja, eoh? "Hyuuunggg! Lepaskan aku!" pinta Changmin yang sudah menangis saat itu juga sementara sosok Leeteuk semakin lama terlihat semakin jelas.

"Enak saja! Aku tak akan membiarkanmu kabur dan meninggalkanku disini! Ini kan 70% salahmu! Jadi kau juga yang harus menanggungnya!" omel Junsu dengan tangan yang memegangi sayap Changmin erat-erat. Terlihat beberapa helai bulu berwarna abu-abu jatuh ke awan tempat mereka duduk akibat cengkeraman Junsu.

WHUSSSS….

Angin berhembus cukup kencang ketika seorang malaikat senior sekaligus pemimpin para cupid alias malaikat cinta, Leeteuk, mendaratkan kakinya di awan tempat MinSu berada. Sayap putih Leeteuk yang terlihat kontras dengan kedua dongsaengnya mengepak pelan. Ditatapnya dua dongsaengnya dengan tatapan membunuh.

"Anyeong, leadernim" sapa Junsu sembari tersenyum ramah. Berbanding terbalik dengan Changmin yang sudah keringat dingin dan terus menekuk wajahnya tanpa berani memandang Leeteuk.

"Cepat katakan bagaimana perkembangan Yunho dan Jaejoong! Jangan bilang kalau kali ini kalian gagal lagi memertemukan mereka" bentak Leeteuk. Sudah hampir 5 tahun ia menungu sejak kedua dongsaengnya ini berjanji memertemukan kembali YunJae lima tahun yang lalu yang jelas-jelas hasilnya adalah gagal total dan tentunya saat ini ia tak ingin kedua dongsaengnya kembali gagal.

"Tentu saja mereka berhasil bertemu, hyung! Kali ini kupastikan tidak gagal! Mereka besok akan bertemu jam 9 pagi! Aku yakin itu!" ujar Junsu ceria, seolah tak terjadi apa-apa. Sementara Changmin yang sudah ketakutan setengah mati memilih bungkam seribu bahasa.

"Benarkah?" ujar Leeteuk sembari memasang seringai tajamnya.

Junsu dan Changmin mengangguk serempak. "N-nde, hyung" cicit mereka.

Leeteuk tak lantas percaya begitu saja dengan perkataan Junsu. Butuh bukti lebih untuk meyakinkannya dan dia dapat melihatnya dari catatan perkembangan cinta sang target yang berada di tangan cupid. Sebuah catatan otomatis yang akan menulis dengan sendirinya setiap perkembangan atau kisah cinta yang dialami sang target. Setiap tulisan dalam catatan itu berwarna berbeda-beda. Pink dan pink terang menandakan kebahagiaan antara sang target dengan pasangan yang telah menjadi garis hidupnya, yang memiliki benang merah dengannya, hijau menandakan jika hubungan mereka tenang meski dalam hal lain hijau tua berarti tak ada kemajuan, biru menandakan hubungan mereka tetap segar dan memiliki hal-hal baru yang positif, kuning menandakan hubungan mereka diambang perpisahan atau tengah diuji, merah menyala menandakan jika hubungan mereka ada yang salah dan menyimpang dari jodoh seharusnya seperti melakukan perselingkuhan atau bertemu jodoh yang salah, hitam menandakan hubungan mereka mati dan tak ada harapan lagi.

TRING!

Leeteuk melambaikan tongkatnya yang terbuat dari kayu mapel dengan inti dari nadi burung phoenix ke udara, membuat gerakan memutar sederhana. Dan tak lama setelahnya, dua buah gulungan perkamen yang merupakan catatan kisah cinta Yunho dan Jaejoong, keluar dari balik tubuh Junsu dan Changmin. Kedua gulungan perkamen itu terbuka otomatis. Leeteuk pun mulai membacanya. Awalnya ia masih tenang-tenang saja saat melihat catatan milik Jaejoong yang berwarna hijau muda, namun perlahan, alisnya terangkat saat melihat catatan Jaejoong yang hari ini mendadak berubah derastis menjadi kuning gelap. Secepat kilat matanya beralih ke catatan cinta Yunho yang berwarna….merah menyala dan nyaris mendekati hitam?! Ditatapnya Changmin dengan pandangan tajam seolah mengatakan 'apa yang kau lakukan selama ini, bodoh?!' sebelum kemudian beralih ke catatan paling bawah yang berwarna orange muda yang menandakan jika Yunho tengah bimbang dengan keputusannya untuk menikahi Ahra yang jelas-jelas bukan jodohnya.

"Ya! Kau! Apa saja yang kau lakukan selama ini, Shim Changmin?! Kau sudah gila apa bagaimana?! Bagaimana bisa kau membiarkan Yunho berjodoh dengan orang yang salah?! Kau mau aku adukan ke Putri BoA?! Atau kau mau aku buang ke dasar Bumi sekalian?! Dan….apa-apaan ini?! KAU MEMBIARKANNYA SALAH JODOH SELAMA 3 TAHUN DAN KAU DIAM SAJA?!" teriak Leeteuk emosi setengah mati! Saking kesalnya ia sampai tak sadar jika tongkatnya sedari tadi terus menunjuk ke langit dan sekarang tongkat itu memercikkan api kemerahan yang berhasil menyambar 3 burung hantu malang yang tak sengaja lewat.

"Hyung! Tongkatmu!" pekik Junsu yang langsung mencabut tongkatnya dan menyingkirkan tongkat Leeteuk sebelum tongkat itu menyemburkan api yang lebih besar dan memancing perhatian malaikat lain.

Dia hanya tersenyum menatap Junsu seolah berkata 'Gomawo, Junsu-ah' sebelum akhirnya kembali menatap kedua dongsaengnya dengan pandangan iba. "Hah! Oh, Tuhan! Apa yang sebenarnya aku lakukan di kehidupan sebelumnya hingga mendapatkan dua cupid bodoh ini? Malangnya nasibku" ujar Leeteuk dengan nada dramatis. Junsu dan Changmin sweatdrop seketika melihatnya. Dan sebelum martabatnya sebagai pemimpin cupid runtuh, cepat-cepat Leeteuk memasang tampang tenangnya. "Oke. Sekarang ceritakan padaku apa yang terjadi. Bagaimana bisa Yunho dan Ahra berjodoh dan besok akan menikah?! Gosh! Yang benar saja! Apa kalian mau membuat kisah cinta legendaris YunJae hanya tinggal nama?!" repet Leeteuk berapi-api.

"Yang jelas ini bukan salahku, hyung" ujar Junsu. Secara tidak langsung ia menyalahkan Changmin.

"Yeee?! Yang benar saja! Ini juga bukan salahku! Kalau ada yang harus disalahkan ini salah Jessica yang seenaknya mencuri panah cinta Yunho hyung. Dia yang menembakkan panah cinta Yunho hyung ke Ahra, begitu juga sebaliknya!" jelas Changmin kilat. Dia mendeathglare Junsu.

Leeteuk mengerutkan keningnya. "Mwo? Jessica? Jessica yang centil itu?" tanyanya memastikan.

Changmin mengangguk. "Nde. Dia malaikat cinta Ahra. Aku sudah mencegahnya. Tapi terlambat. Dia sudah menembakkan panah cinta milik Yunho ke Ahra dan milik Ahra ke Yunho. Katanya dia melakukan itu agar YunJae tak berjodoh dan ia bisa mendapatkan Jaejoong" ujar Changmin enteng.

"What?! Bagaimana bisa seorang malaikat mengincar manusia?!" pekik Leeteuk kaget setengah mati mendengar anak buahnya ada yang menyimpang. Malaikat dilarang jatuh cinta pada manusia meski itu targetnya sendiri. Tentu saja hal ini akan sangat memalukan jika sampai malaikat dari bagian lain mengetahuinya. "Oke! Aku mulai berpikir ada yang tak beres disini! Tapi yang jelas, aku tak mau tau! Pokoknya bagaimana pun caranya kalian besok harus membatalkan pernikahan Yunho dan Ahra! Atau kalian akan kulempar ke Bumi!" ancam Leeteuk yang setelah itu langsung melesat pergi kembali ke taman istana tempat para cupid berada, meninggalkan Junsu dan Changmin yang berdiri mematung menandangi kepergian pemimpin mereka.

"Changmin, apa yang harus kita lakukan?" tanya Junsu dengan pandangan hampa. "Tidak mungkin kita mencabut panah cinta Yunho dan Ahra begitu saja. Yang ada kita bisa mati digantung" ujar Junsu dengan nada sangat pelan, nyaris berbisik.

"Entahlah, hyung" jawab Changmin dengan kondisi tak jauh beda dengan Junsu. Baru saja ia sedetik kemudian akan menyerah namun sebuah ide cemerlang tiba-tiba muncul dalam benaknya. "Ah! Aku tau, hyung! Ayo kita temui seseorang!" ujarnya sembari menyeret tangan Junsu untuk terbang.

"Siapa?" tanya Junsu yang masih diam ditempatnya.

"Cho Kyuhyun, iblis neraka"

TBC

Maaf kalo mungkin kependekkan dan nanti updatenya agak lama, karena sekarang saya jarang menulis ff. Jadi mohon pengertiannya. Tapi jika kalian suka dengan cerita ini dan mau baik hati mereview atau menyampaikan saran, saya terima dengan senang hati sebagai penyemangat ^^

Sunday, 27 October, 2013 at 10.27 pm